RSS Feed

BERPUASA YANG BENAR

Posted by Teguh Hindarto



Yesus bersabda mengenai berpuasa sbb: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:13-18).

Berpuasa adalah bagian dari ibadah Kristen sebagaimana Yesus Sang Mesias memerintahkannya bagi kita. Sabda Yesus mengajarkan pada kita bagaimana puasa yang benar dan berkenan di hadapan YHWH Tuhan dan Bapa Surgawi.

Sebelum kita mengupas perihal bagaimana berpuasa yang benar  dan berkenan di hadapan Tuhan, kita akan melihat secara singkat apa yang dimaksudkan dengan berpuasa dan kapan kita harus berpuasa serta manfaa apa yang kita dapatkan dari berpuasa.

Makna Puasa

Dalam bahasa Ibrani, kata “berpuasa” dipergunakan kata צום (tsom) yang artinya “mengurangi asupan makanan bagi tubuh sebagai bentuk dukacita atau penyesalan” (Theological Words of Old Testament Lexicon, Bible Work 6).

Berpuasa dalam Kitab TaNaKh – Perjanjian Lama

Kitab Suci TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) atau yang lazim disebut oleh Kekristenan dengan sebutan Perjanjian Lama, mengatur perihal kapan dan dengan tujuan apa puasa dilaksanakan. 

Perayaan Yom Kippur  

Saat dilaksanakan Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) ditandai dengan berpuasa sebagaimana dikatakan, "Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian  kamu harus mengadakan pertemuan kudus  dan harus merendahkan diri dan mempersembahkan korban api-apian kepada YHWH (Imamat 23:27) 

Perkabungan atau dukacita

Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat YHWH dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang” (2 Samuel 1:12)

Permohonan kesembuhan atas orang lain

Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan YHWH menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. Lalu Daud memohon kepada Tuhan oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah” (2 Samuel 12:16)

Permohonan perlindungan

Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Tuhankami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami” (Ezra 8:21)

Permohonan kesembuhan bagi diri sendiri

Tetapi aku, ketika mereka sakit, aku memakai pakaian kabung; aku menyiksa diriku dengan berpuasa, dan doaku kembali timbul dalam dadaku” (Mazmur 35:13)

Pengakuan dosa bangsa

Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala. Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing, lalu berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka” (Nehemia 9:1-2)

Memohon petunjuk dan jawaban Tuhan

Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari YHWH. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa (2 Tawarik 20:1-3)

Memohon dukungan dan kekuatan untuk melaksanakan tugas

"Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Ester 4:16)

Dari pembacaan teks di atas nampak kepada kita bahwa berpuasa memiliki suatu nilai yang berharga dan menggerakkan suatu perubahan dalam kehidupan. Berpuasa bukan sekedar bentuk perendahan diri di hadapan Tuhan namun penyerta agar doa-doa kita didengarkan oleh Tuhan.

Berpuasa dalam Kitab TaNaKh – Perjanjian Lama

Demikian pula dengan Kitab Perjanjian Baru yang memberikan petunjuk serupa bahwa berpuasa adalah perilaku orang-orang saleh dan juga dilakukan baik oleh Yesus dan para rasulnya serta orang-orang kudus.

Berpuasa sebagai ibadah dan akhlaq (halakah) Yesus

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus” (Mat 4:2)


Ibadah seorang janda di Bait Tuhan

Dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Tuhan dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa” (Luk 2:37)

Murid-murid Yohanes berpuasa

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum” (Luk 5:33)

Berpuasa sebagai bagian dari ibadah jemaat mula-mula

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada YHWH dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’” (Kis 13;1-2)

Berpuasa sebagai akhlaq (halakah) Rasul

Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.  Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Tuhan, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa” (2 Kor 6:5)

Bagaimanakah berpuasa yang benar dikehendaki oleh Tuhan itu?

Kembali kepada sabda Yesus. Yesus memberikan pengajaran kepada kita perihal cara atau laku berpuasa yang benar. Yesus terlebih dahulu mengontraskan dengan laku dan cara berpuasa orang munafik yaitu, “Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa”. Orang munafik berpuasa ingin mendapat perhatian dan pujian. Orang munafik berpuasa ingin mendapatkan penghormatan dari orang lain.

Dalam perumpamaan lainnya Yesus menggambarkan perihal orang yang dianggap benar di hadapan Tuhan dan yang dianggap membenarkan dirinya. Orang yang menganggap dirinya benar selalu membanggakan ibadahnya. Ibadahnya tidak tulus dan bukan lahir dari cinta kasih dan melayani Tuhan melainkan untuk membenarkan dirinya sebagaimana dikisahkan berikut ini:

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Tuhan, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Tuhan dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:9-14).

Puasa orang munafik sudah menerima upahnya di dunia. Puasa orang munafik diberikan oleh manusia yaitu pujian sebagaimana sabda Yesus, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”. namun puasa orang munafik tidak mendapatkan upah dari Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi. Bahkan ibadah dan puasanya tidak berkenan di hadapan Tuhan YHWH.

Kerendahan hati saat berpuasa

Yesus mengontraskan sikap berpuasa orang munafik dan memberikan petunjuk mengenai cara dan laku puasa yang benar dengan bersabda, “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi”.Yesus mengajarkan kerendahan hati sebagai bentuk dan cara atau laku berpuasa yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi.

JUDEOCHRISTIANITY, DIMANA KITA BERDIRI DALAM SEJARAH GEREJA

Posted by Teguh Hindarto



Jika berbicara mengenai Kekristenan, ada tiga kelompok besar yang berpengaruh yaitu Roma Katolik, Protestan, Orthodox. Kelompok Protestan sendiri memiliki ribuan denominasi dan sekte serta pecahan-pecahannya seperti Baptis, Methodis, Advent, Presbiterian, Anglikan, Pentakosta, Kharismatik. Fr Marc Dunaway dalam catatan kakinya menjelaskan, “Mendefinisikan apakah Gereja Protestan itu adalah sama rumitnya dengan ketika kita diharuskan mendefinisikan apakah itu hutan Kalimantan?! Ketika kita mengetahui bahwa di dalam hutan Kalimantan terdapat banyak sekali jenis-jenis tumbuhan berbeda yang ada di sana, begitu juga halnya dengan Protestanisme, karena di dalam Protestanisme Anda akan menemukan aliran-aliran Kekristenan yang telah berjumlah 33.800 buah yang saling berbeda untuk didefinisikan”[1].

Penulis lainnya memberikan jumlah angka yang berbeda. Michael Keene memberikan ulasan, “Sekarang ini agama Kristen merupakan agama terbesar di dunia dengan perkiraan jumlah penganutnya sebanyak 2 miliar orang, walaupun jumlah itu terbagi-bagi ke dalam lebih dari 20.000 sekte atau Gereja. Sekte yang paling besar adalah Gereja Katolik Roma dengan jumlah 1,2 miliar umat, diikuti oleh banyak Gereja Protestan dengan jumlah seluruhnya 360 juta umat dan Gereja Orthodox dengan jumlah 170 umat”[2].

Bagaimana dengan keanekaragaman Kekristenan di Indonesia? Pdt. DR. Jan S. Aritonang menjelaskan, “Pada buku Data dan Statistik Keagamaan Kristen Protestan tahun 1992 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Kristen) Protestan – Departemen Agama RI pada tahun 1993, kita menemukan 275 organisasi gereja Kristen Protestan. Disamping itu ada pula sekitar 400-an yayasan Kristen Protestan atau yang bersifat gerejawi, baik yang sudah memperoleh Surat Keputusan Pendaftaran sesuai dengan UU No 8/1985 maupun yang belum. Jadi seluruhnya ada sekitar 700 organisasi Kristen Protestan, yang berkegiatan dan melayani di lingkungan masyarakat Kristen Protestan Indonesia yang jumlahnya sekitar 15 juta jiwa maupun di lingkungan masyarakat indonesia umumnya yang menurut sensus 1990 berjumlah sekitar 180 juta jiwa”[3]

Gereja perdana terdiri dari komunitas Yahudi dan Yudaisme dan komunitas non Yahudi baik dari Yunani dan bangsa-bangsa lainnya yang menerima Yesus (Yahshua) sebagai Mesias dan Putra Tuhan. Mereka yang berasal dari golongan Yahudi dijuluki dengan Sekte Nazarene (Kis Ras 24:5). Kemudian di Anthiokhia komunitas pengikut Yesus Sang Mesias dari kalangan non Yahudi dijuluki sebagai Christianoi (Kis Ras 11:24). Dari kata Christianoi yang artinya pengikutChristos (Kristus/Mesias) lahirlah sebutan Kristen.

Sekte Nazarene yang berakar dari kultur Yahudi dan agama Yudaisme pada awalnya menjadi bagian dari Yudaisme. Sama-sama beribadah di Bait Suci dan Sinagoga sampai akhirnya mereka terpisah dari Yudaisme karena dua alasan.

Perisiwa pertama, tahun 66-70 Ms, ketika pasukan Romawi dibawah pimpinan Jendral Titus hendak memusnahkan Yerusalem, maka kaum Nazarene harus mengungsi ke Pella di Transyordan dan melanjutkan keimanan dan pola hidup Yahudi. Alasan mereka untuk mengungsi ke Pella karena mengikuti nasihat Mesias, jika melihat ‘pembinasa keji’ berdiri di Bait Suci, maka mereka harus lari kegunung-gunung yang tinggi (Luk 21:20-24)[4]. Sikap kaum Nazarene melarikan diri ke Pella menyebabkan mereka dijuluki Meshummed (penghancur) oleh para Rabbi. Setelah tahun 70 Ms., kaum Nazarenedan Yahudi secara umum, kembali menetap di Yerusalem sampai masa Revolusi Bar Khokba.

Peristiwa kedua, tahun 70-132 Ms merupakan terbentuknya Yudaisme Rabinik, dimana golongan yang berpengaruh pada waktu kaum Farisi. Disebabkan golongan Saduki yang berkuasa terhadap Bait Suci telah kehilangan pengaruh karena hancurnya Bait Suci, maka Sinagog memainkan peranan penting. Berbagai tradisi lisan dibukukan menjadi Talmud yang terdiri dari Misnah dan Gemara. Dimasa ini terjadi perselisihan yang semakin tajam antara kaum Nazarene dengan Yahudi Rabbinik. Perselisihan tersebut disebabkan karena kaum Nazarene menolak berbagai tradisi lisan yang disusun oleh kaum Farisi tersebut dan disebabkan penolakkan mereka bergabung dalam Revolusi Bar Khokba. Nazarene menolak bergabung dalam revolusi dikarenakan Bar Kokhba menyebut dirinya Mesias, padahal kaum Nazarene hanya mengakui satu-satunya Mesias, yaitu Yesus (Yahshua). Akibatnya dalam struktur doa kuno yang disebut Shemone Esrei (18 doa berkat) ditambahkanlah satu doa kutukan terhadap keberadaan ha Minim (Bidat), yaitu kaum Nazarene karena tidak turut dalam Revolusi Bar Khokba[5].

Sekte Yudaisme ini terekam dalam berbagai tulisan Kristiani sejak abad 2 M sampai 11 Ms. Sebut saja Irreneus[6], Eusebeius[7], Epiphanius[8].

Apakah yang membedakan sekte Nazarena ini dengan sekte-sekte Yahudi lainnya? Perbedaan Sekte Nazarene dengan sekte-sekte Yahudi lainnya adalah dalam hal memandang siapa Yahshua ben Yosef. Dia bukan sekadar putra Yusuf namun juga Mesias yang dijanjikan, Putra Tuhan Yang Hidup. Mereka tetap beribadah di Sinagog dan berinteraksi dengan sekte-sekte Yahudi lainnya dalam peribadahan di Bait Suci. Selain itu, sekte Netsarim menolak  tradisi lisan kaum Farisi yang kelak dinamai dengan Misnah dan Gemara atau Talmud

Tidak semua penulis sependapat, kapan keberadaan sekte Nazarene ini kehilangan pengaruh dalam sejarah. Harry R. Boer memperkirakan bahwa mereka telah kehilangan pengaruh sejak tahun 62-70 Ms[9]. DR. Michael Schiffman memastikan lenyapnya pengaruh Nazarene pada Abad IV-V Ms[10]. Sementara Robert dan Remy Koch memastikan lenyapnya pengaruh Nazarene mulai Abad XI Ms[11].

Sementara Gereja yang terdiri dari umat Yahudi lenyap dalam sejarah maka tidak dengan gereja non Yahudi yang kelak disebut dengan Kristen. Gereja non Yahudi berkembang baik di Timur (Yunani, Asia Kecil, Timur Tengah) dan Barat (Eropa). Namun pada tahun 1054 Ms terjadi skisma (perpecahan besar) dalam tubuh gereja non Yahudi baik di Barat dan di Timur. Penyebab perpecahan adalah berkaitan soal pengaruh kekuasaan gereja Roma dan soal doktrin tentang Roh Kudus. Gereja di Timur menamakan dirinya Orthodox dengan bahasa Yunani dan juga bahasa Aram/Syria dan Gereja Barat menamakan dirinya Katholik dengan bahasa Latin.

Untuk memudahkan memetakan dan melihat secara singkat perkembangan dan perpecahan dalam tubuh gereja Kristen, kita dapat menyimak bagan di bawah ini. Bagan di bawah ini dikutip dari buku Fr. Marc Dunaway[12]. Sekalipun dalam bagan tertulis “Gereja Orthodox tetap satu gereja yang utuh...” toch fakta sejarah memperlihatkan bahwa Orthodox pernah diguncang oleh perpecahan sehingga muncul aliran-aliran Nestorianisme, Cyrilianisme, Yakobit dll.



Dan Gereja Katolik Roma pada akhirnya harus mengalami guncangan besar saat Luther menyerukan Reformasi pada tahun 1517 Ms. Gerakan Reformasi Luther kelak menjadikan Protestanisme sebagai corak Kekristenan Reformasi yang melepaskan diri dari kekuatan Roma Katolik.

Namun sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam tulisan ini bahwa Kekristenan Reformasi atau Protestanisme tidak dapat menahan dirinya dari berpuluh bahkan beribu kali perpecahan sehingga muncullah berbagai denominasi Kristen seperti Baptis, Methodis, Advent, Presbiterian, Anglikan, Pentakosta, Kharismatik.
Dari pemetaan sejarah perkembangan dan perpecahan gereja di atas, lalu dimanakah kedudukan Judeochristianity yang saat ini menjadi visi gereja dan organisasi yang dinamakan Indonesian Judeochristianity Institute?

Sebelum menjawab hal tersebut kita perlu memahami ada dua gerakan (movement) yang saat ini berkembang di dunia yang berasal dari denominasi Protestan yaitu Sacred Name Movement dan dari lingkungan Yahudi dan Yudaisme yaitu Messianic Judaism.

Sacred Name Movement, merupakan suatu pergerakan dikalangan Eropa dan Amerika yang memfokuskan pada pemulihan nama YHWH (Yahweh) dalam terjemahan Kitab Suci. Organisasi Yahweh New Covenant Assemblies (YNCA) sebagai salah satu komunitas penggerak pemulihan nama Yahweh, dalam salah satu artikelnya, menjelaskan sbb: “Gerakan Pemulihan Nama Kudus, dimulai pada tahun 1930-an dikalangan anggota Church of G-d 7th Day, {Gereja Tuhan Hari Ketujuh} yang merenungkan pernyataan dalam Amsal 30:4, “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Church of G-d 7th Day, {Gereja Tuhan Hari Ketujuh} adalah orang-orang yang memelihara dengan setia ibadat Sabat, yang bermula dari gerakan Millerite di tahun 1844, sebagaimana yang juga dilakukan oleh 7th Day Adventists {Adven Hari Ketujuh}. Pada waktu itu, hanya sedikit orang yang membicarakan mengenai kembalinya Sang Mesias. Pemahaman umum pada waktu hanya menjelaskan, bahwa jika seseorang meninggal, mereka akan masuk Sorga atau Neraka, atau pada umumnya di Gereja Katholik, masuk api  penyucian. Mereka yang dikenal sebagai kaum Millerites, berasal dari berbagai denominasi termasuk 7th Day Adventists {Adven Hari Ketujuh}. Kebanyakan gereja sepakat mengajarkan bahwa nama Putra-Nya adalah Yesus. Namun siapakah nama Bapa-Nya? Bukankah Sang Putra telah mengatakan bahwa diri-Nya datang atas nama Bapa-Nya? Dan apakah mungkin nama-Nya tetap sama atau sangat sama?” [13]

Pergerakan Messianic Judaism  modern di awali oleh munculnya organisasi The Hebrew Christian Alliance of Great Britain, yang didirikan pada tahun 1866. Kemudian pada tahun 1915 didirikanlah The American Hebrew Christian Alliance. Dilanjutkan pada tahun 1925 didirikanlah the International Hebrew Christian Alliance. Penggerak awal dari Mesianik Yudaisme adalah Joseph Rabinowitz[14].

A.E. Thomson dalam bukunya, A Century of Jewish Missions, pada tahun 1902 melaporkan berbagai komunitas Mesianik Yudaisme dengan istilah Hebrew Christian di Eropa, Inggris, Eropa. Thomson melaporkan mengenai aktivitas The Hebrew Christian Assembly yang terbentuk pada tahun 1898. Kemudian Abraham Levi pada tahun 1894 mendirikan komunitas Mesianik[15]. Dalam deskripsi Schiffman, dilaporkan bahwa berturut-turut tumbuh komunitas Mesianik Yudaisme diberbagai tempat[16] al. Pada tahun 1905 didirikanlah komunitas Hebrew Christians di Baltimore, Maryland di bawah bantuan Gereja Presbyterian. Komunitas ini kelak berganti nama menjadi Emmanuel Messianic Conggregation.

Pada tahun 1930, berdiri sebuah komunitas Mesianik di Chicago dan telah berganti nama menjadi Adat Hatikvah. Kemudian tahun 1940-an dan 1950-an, seorang bernama Lawrence Duff-Forbes membuka Messianic Conggregation di Los Angeles. Mereka beribadat pada hari sabat, merayakan tujuh hari raya dengan liturgi Yahudi. Pada tahun 1950-an denominasi Presbyterian mengembangkan komunitas Mesianik keempat di Los Anggeles, setelah sebelumnya yaitu Adat HaTikvah di Chicago, Emmanuel Messianic Conggregation di Baltimore dan Beth Messiah di Philadhelphia. Namun komunitas di Los Anggeles ini tidak bertahan lama. Terjadi perkembangan luar biasa pada tahun 1970.

Shiffman mensinyalir ada sekitar seratus lima puluh jemaat Mesianik diseluruh dunia[17] dan ada tiga organisasi penting yang berkaitan bersama, yaitu: the Union of Messianic Jewish Congregations (UMJC), the Fellowship of Messianic Congregations (FMC), the International Alliance of Messianic Congregations and Synagogues (IAMCS). Meskipun ada beberapa perbedaan antara Hebrew Christians dan Messianic Jewish, namun menurut Sciffman itu hanya dalam halrespect of affiliation (kebergabungan)[18]. Jika Hebrew Christians bergabung dibawah gereja-gereja Protestan atau Presbyterian, maka Mesianik Yudaisme terlepas dari ketergantungannya terhadap gereja Protestan atau Presbyterian, dan mereka tetap memelihara gaya hidup sebagai orang Yahudi.

Tiba saatnya sekarang menjawab dimana letak Judeochristianity dalam panggung sejarah gereja. Dengan istilahJudeochristianity atau Yudeo Kristen saya maksudkan sebagai bentuk respon dan refleksi kritis atas kehadiran Messianic Judaism yaitu gerakan diantara orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus (dengan sebutan Yeshua atau Yahshua atau Yehoshua serta Yahushua) sebagai Mesias Ibrani dan tetap mempertahankan budaya Ibrani[19].

Karena Messianic Judaism adalah sebuah gerakan yang tumbuh dilingkungan Yudaisme dan Yahudi, maka saya merasa bahwa saya tidak harus menyebutkan diri saya dengan sebutan Messianic Judaism sekalipun saya banyak mengadopsi dan belajar pokok-pokok pikiran dalam teologi Messianic Judaism. Saya bukan berasal dari Yudaisme dan bukan pula seorang Yahudi. Saya seorang Kristen. Saya membuat jembatan peristilahan untuk mengekspresikan sebuah keyakinan dan kajian teologi serta devosi (ibadah) yang berakar dari warisan budaya Semitik Yudaik dengan sebutanJudeochristianity atau Yudeo Kristian. Dalam beberapa tulisan terkadang saya menggunakan istilah Kristen Semitik atauKristen Rekonstruksi.[20]