RSS Feed

PERJAMUAN MALAM TERAKHIR DAN SEDER PESAKH IBRANI

Posted by Teguh Hindarto



Latar Belakang Historis

Membaca perikop Lukas 22:14-23, tanpa memahami latar belakang sejarah dan keagamaan serta kebudayaan Yahudi Abad 1 Ms akan membuat kita kehilangan akar historis dan essensi dibalik peristiwa tersebut. Kekristenan Barat menyebut peristiwa tersebut dengan Last Supper (Perjamuan Terakhir). Seolah-olah Yesus Sang Mesias makan malam terakhir sebelum Dia ditangkap oleh prajurit Romawi untuk dihukum, disiksa dan disalibkan.

APAKAH YESUS WAFAT PADA HARI JUM’AT?

Posted by Teguh Hindarto

Kita sudah cukup mengenal Perayaan Jum’at Agung di hampir semua kalangan Gereja Kristen. Perayaan yang diyakini sebagai hari dimana Yesus  wafat di kayu salib Golghota. Persoalannya adalah, benarkah Yesus wafat pada hari jum’at sore?? Padahal Yesus pernah berkata demikian:

Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40)

 Jika Yesus wafat pada hari jum’at, apakah lama waktu Yesus dikubur didalam bumi ada tiga hari tiga malam, jika Dia bangkit pada hari minggu? Waktu dari jum’at sore sampai minggu pagi adalah 1 hari 2 malam, benar bukan?

YESUS, YAHUDI, YUDAISME

Posted by Teguh Hindarto


Dalam Ibrani 7:14 dikatakan sbb: “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa (Junjungan Agung) kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”. Secara antropologis (aspek kemanusiaan) Yesus adalah manusia yang terlahir dalam bingkai budaya Semitik Yudaik. Dia adalah Mesias Yahudi. Namun mengapa jika Yesus adalah Mesias Yahudi, kita tidak menemukan jejak atau ekspresi Keyahudian dalam ekspresi ibadah maupun ungkapan pokok-pokok iman kita? Sebaliknya, justru kita melihat berbagai ekspresi penghayatan yang bersifat Eropa, Amerika, Yunani tentang Yesus dalam komunitas-komunitas Kristen. Ekspresi-ekspresi ibadah dan ungkapaan iman tersebut nampak dalam hal-hal berikut: Perayaan Christmass yang sarat dengan konsumerisme, perayaan Easter yang sarat dengan kegiatan pernak-pernik mewarnai telur, Ibadah hari Minggu sebagai pertemuan ibadah kekristenan, kontroversi penggunaan istilah Trinitas dalam konsep Ketuhanan, ketiadaan syariah agama, yang terekspresi dalam berbagai bentuk kebebasan dalam memakan segala makanan, kebebasan dalam menggunakan pakaian, ketiadaan tertib tertentu dalam berdoa dan menghadap Tuhan, dll.

ASPEK ESOTERISME DALAM BERAGAMA DAN BERTEOLOGIA

Posted by Teguh Hindarto


HAKIKAT ESOTERISME

Esoterisme berasal dari kata esoteric yang bermakna, “Teaching within a religion or philosophy that are not made known to everyone, but only to an inner circle, are called esoteric. Esoteric teaching are usually difficult to understand; that is why they are only revealed to the small number who are sincere enough, or have developed far enough spiritually, to really understand them1 (ajaran di kalangan agama atau filsafat, yang tidak diperuntukkan bagi setiap orang namun hanya bagi lingkungan yang terbatas yang disebut dengan esoterik. Pengajaran esoterik biasanya sulit dimengerti, itulah sebabnya ajaran ini hanya disingkapkan pada sejumlah kecil orang yang cukup memahami atau telah mengembangkan kerohanian yang memadai, untuk memahami ajaran tersebut). Dari definisi di atas, kita mendapatkan fakta bahwa esoterisme berada di wilayah agama dan filsafat. Esoterisme tidak bisa dilepaskan oleh para penganut agama manapun. Boleh dikatakan, esoterisme adalah suatu penggalian yang berkaitan dengan kedalaman jiwa dan batin untuk memperoleh suatu pencerahan spiritual. Esoterisme berkaitan dengan suatu pendalamanhubungan pribadi dengan Tuhan yang dilakukan dengan cara-cara yang bersifat metafisik dan kontemplatif.

TALMUD SEBAGAI LITERATUR RABINIK & PERANNYA DALAM MEMAHAMI LATAR BELAKANG DUNIA KEAGAMAAN PRA KRISTEN

Posted by Teguh Hindarto



Talmud didefinisikan sebagai: is a record of rabbinic discussions pertaining to Jewish law, ethics, customs and history. The Talmud has two components: the Mishnah (c. 200 CE), the first written compendium of Judaism's Oral Law; and the Gemara (c. 500 CE), a discussion of the Mishnah and related Tannaitic writings that often ventures onto other subjects and expounds broadly on the Tanakh. The terms Talmud and Gemara are often used interchangeably. The Gemara is the basis for all codes of rabbinic law and is much quoted in other rabbinic literature. The whole Talmud is also traditionally referred to as Shas (a Hebrew abbreviation of shisha sedarim, the "six orders" of the Mishnah)”[1]. Artinya, “Talmud merupakan kumpulan diskusi-diskusi rabinik yang menyinggung mengenai hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah. Talmud terdiri dari dua susunan: Misnah (200 Ms) kumpulan tulisan pertama dari Hukum Lisan Yahudi dan Gemara (500 Ms) sebuah diskusi mengenai Mishnah dan berhubungan dengan tulisan-tulisan Tannaitik yang terkadang melibatkan suatu spekulasi mengenai topik lain dan memperluas kajian dalam TaNaKh. Istilah Talmud dan Gemara dapat dipakai secara bergantian. Gemara adalah dasar bagi keseluruhan pemecahan masalah hukum Yahudi dan banyak dikutip dalam literatur rabinik. Keseluruhan Talmud terkadang disebut dengan Shas (singkatan Ibrani dari shisha sedarim “enam urutan” dari Mishnah).

SHABAT: IBADAH PEKANAN KEKRISTENAN SEMITIK

Posted by Teguh Hindarto



SHABAT ADALAH SUATU PERINTAH

Dalam Kitab Keluaran 20:8 dikatakan, "Zakor et yom ha shabat le qadsho". Frasa tersebut lebih tepat diterjemahkan, "Ingatlah hari Shabat untuk menguduskannya". Tidak ada kata "dan", sehingga terjemahan LAI kurang tepat. The Scriptures menerjemahkannya sbb ,"Remember the Shabat day, to set it apart"1 . Orang beriman diperintahkan bukan hanya untuk mengingat namun dilanjutkan dengan menguduskan Shabat. Kata "menguduskan" bermakna "dipisahkan".

KARAKTERISTIK SHABAT

Kemudian dalam Keluaran 20:9 dikatakan pula, "Sheshet yamiym taavod we asyita kal melakteka, we yom ha sheviya, shabat le Yahweh Eloheika". Ada tiga kata yang berhubungan dengan suatu pekerjaan, "avad", "Ashah", "malak".

URGENSI PENGKAJIAN AKAR SEMITISME KEKRISTENAN

Posted by Teguh Hindarto

 
Refleksi Percakapan Dengan Bambang Noorsena  &  Apresiasi Terhadap Buku Karya Bambang Noorsena  Togog Madeg Panditha dan Jangan Sebut Sesamamu Kafir
 
Pukul 12.40 saya dan Sdr. Dede Wiyaya – salah satu mahasiswa UGM dan juga penulis Kristen di dunia maya – ditemani beberapa orang ISCS (Institute Syriac Christian Studies), Bpk Beny Gunawan dan Bpk Iriyanto tiba di kediaman Mas Bambang Noorsena di Malang. Perjalanan yang cukup melelahkan dimulai sejak pk 13.30 dari Kebumen, Jawa Tengah. Beberapa saat kemudian muncul mobil di belakang kami yang tidak lain berisikan Mas Bambang yang baru saja pulang pelayanan di Surabaya.

UNBORN: ANATOMI KEBERADAAN ROH JAHAT YANG MERASUK DAN EXORCISME ALA YUDAISME

Posted by Teguh Hindarto


The Unborn (2009) adalah film horor supranatural Amerika  - thriller film yang ditulis dan disutradarai oleh David S. Goyer . Film ini dibintangi Odette Yustman sebagai wanita muda yang tersiksa oleh hantu (a dybbuk ) dan mencari bantuan dari seorang rabbi (Gary Oldman). Dybbuk (roh jahat yang bergentayangan) berusaha untuk menggunakan kematiannya sebagai pintu gerbang ke eksistensi fisik. Film ini diproduksi oleh Michael Bay dan Platinum Dunes . Hal ini dirilis di bioskop Amerika pada tanggal 9 Januari 2009, oleh Rogue Pictures .

Kisah dimulai saat Casey Beldon (Gary Oldman) memiliki mimpi buruk halusinasi dimana saat dia sedang lari pagi, dia menemukan sarung tangan dan seorang anak lelaki bermata biru berdiri di belakang dia agak menjauh dan tiba-tiba anak itu berubah wujud menjadi anjing dengan topeng putih wajah anak tadi. Dan anjing itu membawanya kepada segunduk tanah dengan topeng putih tadi di atas gundukan tersebut. Ketika Casey menggali, dia terkejut karena ada janin bayi dalam formalin dan tiba-tiba mata bayi tadi membelalak mengejutkan Casey.

ADAKAH KONSEP “TAKDIR” DALAM KEKRISTENAN?

Posted by Teguh Hindarto

 
Kajian Mazmur 139: 13-16

Pemazmur mengatakan “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Ayat ini memberikan pengertian bahwa Tuhan memiliki sebuah rencana atas kehidupan manusia sebelum lahir ke dunia. Rencana Tuhan tersebut ditetapkan dalam kekekalan. Dalam terminologi Islam, penetapan tersebut dinamai Takdir.

Telinga kita kerap mendengar istilah “Takdir”. Saat kita menonton tayangan film atau sinetron di televisi. Saat laporan berita di televisi mengenai musibah, kriminal dan peristiwa sehari-hari. Apakah Kekristenan mengenal konsep tentang “takdir?” Sebelumnya kita mengkaji terlebih dahulu pengertian tentang “takdir”. Kata “takdir” merupakan terminologi dalam Islam. Kata “takdir” berkaitan dengan kata “nasib”.

GEMA GNOSTISISME DALAM AL QUR’AN SURAH 4 (AN NISAA): 157-158

Posted by Teguh Hindarto

Islam menyangkal mengenai historitas dan makna kematian Yesus Sang Mesias dikayu salib didasarkan pada dua ayat dalam Qur’an yang berbunyi demikian: “…dan karena ucapan mereka : Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putera Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang Yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak punya keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, Mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat Isa KepadaNya dan adalah Allah Maha perkasa Lagi Maha Bijaksana”. Jika kita menyusun menjadi suatu struktur yang sistematis, maka pernyataan Qur’an tersebut terbagi sebagai berikut :

DEREK YAHWEH

Posted by Teguh Hindarto

Midrash Shabat: Yeremia 6:1-26
Nats: Yeremia 6:16; 5:4-5, Amsal 2:20

Yeremia pasal 6:1-26 memberikan gambaran perihal kondisi yang akan dialami oleh Bangsa Israel yaitu “malapetaka” (ay 1) dan “hukuman” (ay 6) serta “penyerbuan” dari musuh” (ay 11, Band. Ay 22-26). Apa yang menyebabkan hal-hal di atas? Karena “telinga mereka tidak bersunat dan Firman Tuhan menjadi bahan cemoohan” (ay 10) dan dikatakan “baik nabi maupun umat mengejar untung” (ay 13-15), “tidak mau menempuh jalan orang terdahulu” (ay 16), “tidak memperhatikan para penjaga” (ay 17), “tidak memperhatikan Torah” (ay 19).

Pada ayat 16 dikatakan bahwa orang Israel tidak mau menempuh “jalan orang terdahulu” atau “jalan yang baik”, dimana mereka seharusnya mendapat ketentraman. Apakah jalan yang dimaksudkan itu? Dalam Amsal 2:20 digemakan kembali sbb, “Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar” (Ibr: lema’an telek bederek tovim, wearkhot ha tsadiqim tishmor).

MERANTAU: UPAYA MENGANGKAT SENI BELA DIRI WARISAN BANGSA KE RANAH GLOBAL

Posted by Teguh Hindarto

Saya penggemar seni bela diri, mulai dari Kungfu, Pencak Silat, Kempo, Karate, Jiu Jit Su dll. Sekalipun saya bukan seorang ahli. Konsekwensinya berbagai film yang menampilkan kombinasi action atau laga, sangat menarik minat saya.
Berbicara mengenai film laga di Indonesia, sejak saya masih remaja, kerap ada ketidakpuasan bahwa setiap aksi laga yang ditampilkan dalam berbagai film Indonesia – baik dalam bentuk kisah klasik dengan latar belakang sejarah maupun kisah-kisah imajinatif belaka – lebih banyak menampilkan teknik beladiri bukan khas Indonesia. Ambil contoh saja, salah satu film kegemaran saya di tahun 1980-an adalah sertial Jaka Sembung yang mengambil setting masa penjajahan kompeni. Aksi-aksi heroik Jaka Sembung yang diperankan Barry Prima lebih banyak memperlihatkan teknik bela diri bukan asli Indonesia. Jaka Sembung lebih banyak memainkan kaki sebagai senjata dan ini adalah ciri khas Tae Kwon Do, dimana pemeran aslinya memang memiliki latar belakang teknik beladiri tersebut. 

THE EXORCISM OF ANNELIESE MICHAEL

Posted by Teguh Hindarto



Pendahuluan

Pada bagian akhir posting ini anda dapat men-download audio dalam format Mp3. Sebelum men-download sangat disarankan anda membaca terlebih dahulu posting ini dari awal sampai habis dan memastikan diri anda memiliki keberanian untuk mendengarkannya. Sangat tidak disarankan bagi anak-anak dan bagi yang memiliki ketakutan terhadap hal-hal gaib.


The Exorcism of Emily Rose


Banyak film yang diambil dari kisah nyata dan menjadi box office di Amerika. Tapi dari semua kisah nyata yang diangkat ke layar lebar, ada satu film yang menjadi box office nomor satu sepanjang masa di Amerika, judulnya "The Exorcism Of Emily Rose". Film tersebut mengalahkan film-film kisah nyata lainnya termasuk film-film karya Spielberg sekalipun. Film tersebut, walaupun merupakan box office nomor satu sepanjang masa di Amerika, mendapatkan kritik tajam dari berbagai kalangan. Ada yang melihat bahwa film tersebut hanyalah sebuah dramatisasi berlebihan dari kejadian sesungguhnya, ada yang bilang terlalu mengekspliotasi nama keluarga asli tokoh utama film tersebut, dan masih banyak lagi kritikan tajam lainnya. Tapi di akui atau tidak, selain memang menjadi box office nomer satu sepanjang masa di Amerika, film ini juga mendapat pujian yang cukup banyak. Terlepas dari masalah anda menyukai atau tidak film tersebut, yang pasti saya sangat merekomendasikan film ini sebagai bahan tontonan bermutu dan sangat pantas untuk dijadikan koleksi teratas film-film anda. Tapi, bukan masalah filmnya yang akan saya bahas, tapi kisah nyata dibalik dahsyatnya film tersebut.


SUROTO, TRIKORA, REALITA HIDUP, AKU

Posted by Teguh Hindarto

Pak Suroto, itulah namanya. Kami berkenalan di atas kereta Pramek (Prambanan Express) jurusan Solo-Kutoarjo. Tgl 1 Februari 2010, kereta tidak terlalu padat namun semua orang telah memadati setiap kursi yang tersedia. Seorang tua berpakaian tentara dan berjaket mendekatiku.

Dalam pembicaraan saya mengetahui bahwa beliau adalah salah satu anggota veteran Trikora . Operasi Trikora, juga disebut Pembebasan Irian Barat, adalah konflik dua tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah West New Guinea. Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Indonesia Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua Barat dengan Indonesia(http://fadli25.blogspot.com/2009/05/operasi-trikora-pembebasan-irian-barat.html#comment-form)

PEREMPUAN BERKALUNG SURBAN: MENALAR KEBERAGAMAAN KITA

Posted by Teguh Hindarto




Tanggal 26 Februari 2010. Saat letih badan usai pulang dari Yogyakarta pk 12 malam. Niatnya berbaring karena esok pagi harus ke Cilacap. Namun ada tayangan film di salah satu televisi swasta yang membuat kantuk saya lenyap dan mencambuk minat dalam hatiku. Kebetulan aku penggemar film baik Barat maupun Timur dari genre misteri, politik, dokumenter, kritik sosial, religi dll. Tulisan ini nampaknya tidak relevan diangkat saat orang-orang tidak lagi memperbicangkan peredaran film ini yang menuai kontroversi pada tahun 2009 silam. Saya hanya ingin menyampaikan kesan yang menyentuh perasaan saya, bukan memberi penilaian normatif.

Film ini hampir saja saya abaikan karena letih dan kantuk. Namun isi cerita dan hentakan emosi dan gemuruh cinta serta gairah pembebasan intelektual yang dikemas dalam film yang disutradarai Hanung Bramantyo membuat saya mulai larut dalam kisah di dalamnya. Film tersebut berjudul “Perempuan Berkalung Sorban”.

Berikut sinopsisnya: Film ini berkisah mengenai pengorbanan seorang wanita Muslim, Anissa (diperankan oleh Revalina S. Temat), seorang wanita berpendirian kuat, cantik, dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga Kyai di sebuah pesantren Salafiah putri al-Huda, di Jawa Timur, Indonesia, yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah al-Qur’an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang.

Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang. Tapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (diperankan oleh Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Anissa. Diam-diam Anissa menaruh hati pada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (diperankan oleh Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo, Mesir. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Yogyakarta, Indonesia, dan diterima. Namun Kyai Hanan tidak mengizinkannya dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Namun Anissa bersikeras dan protes kepada ayahnya.

Akhirnya Anissa malah dinikahkan dengan Samsudin (diperankan oleh Reza Rahadian), seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataannya Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (diperankan oleh Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh. Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai ( www.wikipedia.com/Perempuan_Berkalung_Sorban.htm).

Film yang sempat menuai kritik dan kecaman dari Majelis Ulama Indonesia nampak berbeda dengan film-film bertemakan religi lainnya. Jika film-film religi Islam lainnya lebih mengedepankan sikap hegemonik dan superioritas seperti “Ayat-ayat Cinta” (sutradara yang sama dari novel karya Habiburahman) yang berujung pada isue poligami dan jatuh cintanya seorang wanita Kristen Koptik Mesir kepada seorang lelaki Muslim Indonesia bernama Fakhri, yang studi di Al Ahzar Mesir yang sudah memperistri seorang muslim sebelumnya, maka film “Perempuan Berkalung Sorban” (diadaptasi dari novel karya Abidah Al Khalieqy ) lebih mengedepankan sikap-sikap kritis terhadap fanatisme dalam keberagamaan. Bukan hanya itu, film ini hendak menyampaikan pesan tentang realita sosial dan keagamaan dimana terjadinya tarik menarik antara modernisme dan konservatifisme, antara dinamika tafsir terhadap teks Kitab Suci dan sikap stagnan menerima tafsir yang telah diterima selama berabad-abad tanpa melihat konteks zaman yang berubah.



Terkait kontroversi film tersebut, beberapa pandangan negatif muncul dari beberapa institusi religius yang diwakili oleh Ali Mustafa Yakub. Sebagaimana dikutip Suaramedia.com, “Bagi Ali Mustafa Yakub yang juga menjadi Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), ada dua hal yang menyakitkan umat Islam dalam film itu. Pertama, pencitraan Islam yang sangat buruk. Seolah-olah Islam mengajarkan yang tidak sesuai perkembangan zaman, misalnya, seorang perempuan tidak boleh keluar rumah untuk belajar dan sebagainya sesuai dengan mahromnya dan sebagainya itu. Kedua, penggambaran salah tentang pesantren. "Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu," kata pemimpin Pondok Pesantren Daarus Sunna tersebut. Tidak hanya memboikot, Ali Mustafa juga meminta film yang diangkat dari novel karya Abidah El Khaleiqy itu ditarik sementara dari peredaran untuk diperbaiki” ( http://www.suaramedia.com/berita-nasional/13/4046-imam-besar-istiqlal-serukan-boikot-film perempuan-berkalung-sorban.html).

Pandangan di atas menuai tanggapan pula dari masyarakat. Saya mengutip dari salah satu blog sbb: “Alih-alih menangkap kesimpulan besarnya, tetapi justru MUI membuat pencitraan sendiri kepada suatu karya. Film sama seperti buku, ada tema dan garis besar yang hendak diwacanakan. Untuk menilai suatu karya, kita harus melihat itu semua. Jelas-jelas film Perempuan Berkalung Sorban ingin mengemukakan suatu permasalahan yang semestinya segera diselesaikan dalam konteks sosial umat Islam, bahwa masih ada saja segelintir orang atau oknum dari kaum muslimin yang mempraktikkan budaya-budaya feodalisme, seperti melarang perempuan untuk menuntut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Seharusnya MUI bisa melihat tema besarnya, tidak semua tokoh dalam film itu menyatakan bahwa perempuan itu sebagai kelas dua, itu namanya pernyataan generalisasi belaka. Justru maksudnya jelas bahwa di satu sisi ada tokoh yang menentang pandangan konservatif seorang muslim yang melarang anak perempuannya keluar rumah. Dan ini yang sebenarnya arah yang dituju, bahwa sikap melarang perempuan keluar rumah untuk menuntut ilmu dan bekerja adalah salah dalam Islam, bukan penyesatan dogma teologis” ( http://kupretist.blogspot.com/2009/02/perempuan-berkalung-sorban-bukan-film.html)
Bagi saya sendiri, film ini setidaknya menarik perhatian saya dikarenakan tiga hal :

1. Otokritik. Pergulatan seorang wanita Islam untuk melawan otoritarianisme yang masih begitu kuat mendominasi masyarakat patriakhi dan semangat untuk meraih ilmu tanpa harus dibayang-bayangi oleh berbagai ketakutan yang dibungkus dengan ungkapan-ungkapan religius. Sementara film-film berdimensi religius Islami lainnya mengedepankan hegemoni religius dan dakwah maka film ini lebih berani menyoroti realita keberagamaan masyarakat kita. Saya tidak melihat bahwa novel maupun film ini hendak melecehkan Islam dan memberikan stigma negatif tentang Islam sebagai agama yang anti kemajuan. Justru saya melihat bahwa film ini hendak melakukan kritik internal atas cara beragama yang didominasi tafsir-tafsir konservatif yang tentu saya merugikan Islam dan membuat Islam mendapat stigma negatif. Bahkan reaksi berlebihan terhadap film ini dapat memperkuat stigma negatif tersebut. Saya senang bisa melihat tayangan film ini di stasiun televisi swasta walaupun cukup larut dan tidak banyak yang menontonnya. Setidaknya televisi swasta tidak terintimidasi oleh berbagai kontroversi dan kritik atas substansi film tersebut.

Saya jadi teringat perkataan Asghar Ali Engineer dalam bukunya “Liberalisasi Teologi Islam: Membangun Teologi Damai dalam Islam” sbb: “Orang beriman seharusnya berpikir bahwa iman bukan berarti pengkopian buta tradisi-tradisi lampau. Iman harus terikat dalam nilai, bukan pada tradisi lama. Seperti halnya sekularisme mutlak dapat menghantarkan kepada kehidupan yang hampa makna dan hampa tanggungjawab terhadap insan yang lain, iman mutlak juga dapat membawa ke penyerahan buta pada otoritas-otoritas yang menjalankan praktik pencerahan semaunya” (Yogyakarta: Alenia 2004, hal 29).

2. Adegan yang tidak munafik. Dalam adegan film tersebut pada akhirnya Annisa menerima cinta dan pinangan Khudori walaupun Annisa harus melewati berbagai kepahitan hidup akibat menerima perjodohan yang dilakukan orang tuannya dengan seorang lelaki yang tidak dicintainya. Dalam adegan tersebut, ada hal yang tidak pernah saya lihat dalam film-film religi lainnya, dimana seorang perempuan berjilbab saat melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri kepada suaminya, mulai melepaskan satu persatu kancing baju suaminya...dan adegan inipun diakhiri dengan adegan lain (mungkin juga disensor). Bagi saya adegan ini bukan sesuatu yang menjijikkan dan melecehkan nilai-nilai religius, melainkan menampilkan realita apa adanya sebagai konsekwensi cinta kasih akan bermuara dalam hubungan yang intim antara suami dan istri (yang tentu saja adegan selanjutnya tidak perlu diperlihatkan, sebagaimana beberapa film Barat atau film Indonesia bergenre mistik yang kerap mengumbar sensualitas).

Adegan lainnya yang mencerminkan kegelisahan Annisa dan pemberontakan Annisa terhadap kemunafikan saat dia menihilkan pemahaman Khudori yang mengatasnamakan Tuhan dan memberikan nasihat atas penderitaan-penderitaan dan kesabaran Annisa selama ini menerima perlakuan yang tidak wajar dari suaminya dan lingkungannya.

3. Ajaran Yesus Sang Mesias. Entah penulis novel dan penggarap film ini menyadari atau tidak, namun saya sebagai orang non Islam lebih tersentuh saat salah satu adegan mencerminkan salah satu ucapan Yesus Sang Mesias dalam Injil Yohanes 8:1-11 sbb:

Tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait (Tuhan), dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuan (dalam teks Ibrani, “oudeis Kurie/dalam teks Aramaik, “la anash Mar-Ya”/dalam teks Ibrani, “ein gam ekhad Adoni”)." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Penggalan kisah yang saya senangi di atas muncul dalam adegan film “Perempuan Berkalung Surban” dimana saat Khudori dan Annisa dituduh melakukan perzinahan saat mereka secara diam-diam menceritakan persoalan mereka berdua di salah satu kandang hewan. Saat para santri lain melempari batu atas hasutan suami Annisa yaitu Samsudin (Reza Rahadian),ibu Annisa berteriak histeris menghentikan aksi rajam tersebut. Dengan kalimat yang menghipnotis para pelempar batu itu, ibu Annisa mengambil salah batu yang dilemparkan dan berkata satu persatu kepada para santri lainnya, “siapakah diantara kalian yang tidak berdosa, silahkan melempar batu ini?” dan satu persatu menggelengkan kepala dan meninggalkan Khudori dan Annisa.

Dengan melihat film ini, saya berharap siapapun dapat mengambil nilai dan manfaatnya bagi keberagamaan kita selama ini. Agama seharusnya menjadi rahmat dan menjadi alat pembebasan dari ketertindasan serta pencerahan spiritual-intelektual. Sikap-sikap fanatik buta dan anti perubahan, anti pembaruan, anti eksistensi agama lain, anti eksistensi peradaban bangsa lain, sesungguhnya memerosotkan hakikat agama menjadi penjara jiwa dan semacam candu buat para penganutnya (mengutip istilah Karl Marx). Yesus berkata, “Apabila kamu mengetahui kebenaran maka kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). Merdeka dari apa? Merdeka dari penjara pemahaman atas perilaku keberagamaan kita yang fanatik buta, anti pengetahuan, anti perubahan, anti pembaruan, lebih mengedepankan sikap-sikap emosional dan bertindak berdasarkan irrasionalitas.