RSS Feed

SEMBILAN KEKEJIAN DI HADAPAN YAHWEH

Posted by Teguh Hindarto




Midrash Ulangan 18:9-21

Lingkungan di mana kita tinggal sangat berpengaruh terhadap perilaku kita dan anggota-anggota keluarga kita. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan akan berpengaruh besar terhadap tindakan-tindakan yang kita lakukan.

YHWH Tuhan Yisrael memberikan peringatan saat bangsa Yisrael kelak memasuki Tanah Perjanjian yaitu negeri Kanaan. Peringatan YHWH terkait kebiasaan penduduk Kanaan yang kerap melakukan praktek kehidupan yang dipandang oleh YHWH sebagai kekejian di hadapan-Nya. Bangsa Yisrael diminta untuk לא־תלמד לעשׂות כתועבת הגוים ההם (lo tilmad laasyot ketoavot hagoyim hahem) yaitu “tidak belajar melakukan kekejian bangsa-bangsa itu)

Ada sembilan kekejian (toevah) di hadapan YHWH yang harus dihindari oleh orang-orang Yisrael. Kekejian Pertama מעביר בנו־ובתו באש (ma’avir beno uvitto ba esh) yang artinya “melempar anak lelaki dan perempuan ke dalam api”. Ini menunjuk praktek persembahan kepada dewa Molek sebagaimana dikatakan dalam Imamat 18:21 sbb: “Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Tuhanmu; Akulah YHWH”. Lembaga Alkitab Indonesia menuliskan dengan kata Molok. Yang tepat adalah Molek.

Menurut Fausset’s Bible Dictionaries dikatakan sbb: “Ammon's god, related to Moab's god Chemosh. The fire god, worshipped with human sacrifices, purifications, and ordeals by fire, habitually, as other idols were occasionally; also with mutilation, vows of celibacy and virginity, and devotion of the firstborn. The old Canaanite "Moloch" is always written with the article the Moloch; to him children were sacrificed in Topher in the valley of the children of Hinnom” (Molek atau Molok artinya, Dewa orang Ammon yang berkaitan dengan dewa orang Moab bernama Kamosh. Dewa api disembah bersamaan dengan korban-korban manusia, berbagai penyucian dan berbagai siksaan dengan api, kebiasaan sebagaimana dilakukan kepada dewa-dewa lainnya, juga dengan mutilasi, sumpah terhadap selibat dan keperawanan serta pemujaan terhadap anak sulung. Dewa Kanaan kuno Molok selalu dituliskan dengan kata sandang Molok, baginya seorang anak dipersembahkan di Topher di lembah anak dari Hinnom).

MEMBEDAKAN KUASA TERANG DAN KUASA KEGELAPAN

Posted by Teguh Hindarto



Midrash Kisah Rasul 8:1-25

Perikop ini dibuka dengan sebuah kisah mengenai wafatnya Stefanus, martir pertama[1]. Akibat penganiayaan yang hebat terhadap jemaat Yerusalem oleh kalangan imam Yahudi maka banyak yang tersebar ke Yudea dan Samaria. Dan jemaat yang tersebar sampai di Samaria memberitakan Injil di wilayah tersebut. 

Keberadaan orang-orang Samaria merupakan hasil perkawinan campur antara orang-orang Yahudi yang tetap tinggal di Palestina dengan orang Asyur yang menaklukan Yerusalem pada tahun 722 SM. Orang Yahudi memandang rendah keberadaan orang Samaria dan memisahkan diri dari pergaulan dengan mereka. Dalam Ecclesiaticus Historiae 50:25-26 disebutkan bahwa orang Samaria adalah “orang bodoh dari Sikhem”[2]. Orang Samaria memiliki Bait Suci sendiri di Gunung Gerizim namun pada tahun 128 Ms dihancurkan oleh Raja Hyrcanus[3].

STEFANUS SANG MARTYR:MENUMBUHKAN JIWA KEMARTYRAN

Posted by Teguh Hindarto




Midrash Kisah Rasul 7:54-8:1A

Kata Martir berasal dari bahasa Inggris Martyr dan berasal dari bahasa Yunani Martureo yang artinya “Saksi”. Istilah Martir menunjuk pada orang-orang yang mengalami aniaya dan meninggal karena mempertahankan keimanannya terhadap Yesus Sang Mesias. Dalam Abad-abad penganiayaan Gereja oleh pemerintah Romawi sebelum Kaisar Konstantin naik tahta tahun 313, banyak sekali martir-martir Kristen, sehingga muncul semboyan yang diproklamirkan Tertulianus, “Darah para Martir adalah Benih Gereja”.

Istilah Martir berbeda dengan Shuhada dalam Islam. Istilah Shuhada berasal dari kata Jahada yang artinya “Berjuang”. Orang yang mati karena membela agama atau mati sahid disebut Shuhada. Sementara istilah Martir menunjuk orang yang mengalami aniaya dan mati karena mempertahankan keimanan bukan membela keimanan.

KEBANGKITAN YESUS DARI ALAM MAUT SEBAGAI JANTUNG IMAN KRISTEN Midrash 1 Korintus 15:12-34

Posted by Teguh Hindarto



Jantung adalah organ dalam dari mahluk manusia dan hewan yang memompa darah agar mengalir dan bersirkulasi dengan benar sehingga terjadi keseimbangan dalam metabolisme tubuh. Jika jantung berhenti berdetak maka berhentilah setiap aktivitas kehidupan alias mati.

Iman Kristen dilandaskan pada kebangkitan Yesus Sang Mesias dari alam maut. Jika Yesus Sang Mesias tidak bangkit maka sia-sialah iman Kristen. Rasul Paul berkata: “Tetapi andaikata Mesias tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:14). Ayat ini menegaskan pada kita bahwa kebangkitan Yesus dari alam maut adalah kemutlakan. Jika Yesus hanya lahir dan mati, maka Dia tidak lebih dari para nabi dan tokoh pendiri agama besar di dunia ini. Jika Yesus hanya lahir dan mati, maka Dia hanya mengukir sejarah sebagai orang bijaksana dari salah sekian orang bijaksana yang pernah hadir mewarnai dunia yang pekat dengan kejahatan dan kerusakan moral. Namun ada yang berbeda dengan Yesus Sang Mesias. Dia lahir dan mati sebagaimana dinubuatkan dalam Kitab Torah dan Dia bangkit dari kematian sebagaimana dinubuatkan pula dalam Torah sebagaimana Rasul Paul menegaskan dalam ayat sebelumnya sbb: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1 Kor 15:3-5). Seorang penulis dan apologet Kristen bernama C. Marvin Pate dan Shery L. Pate menuliskan sbb: “Kekristenan berdiri kokoh atau runtuh berdasarkan kebangkitan Yesus. Dan buktinya, bertentangan dengan para pendiri agama-agama lainnya yang masih tergeletak di dalam kubur mereka, kekristenan adalah satu-satunya iman yang pendirinya mengalami jalan hidup yang sama sekali berbeda. Seperti yang dikatakan oleh malaikat, ‘Dia tidak berada di sini; Dia telah bangkit’. Ini adalah sebuah pemikiran yang mengagumkan, pemikiran yang dijunjung tinggi oleh orang-orang Kristemn dan yang memberikan harapan pasti untuk masa depan”[1]

TUJUH HARI RAYA YHWH (SHEVA MOEDIM) SEBAGAI BAYANGAN KARYA MESIAS

Posted by Teguh Hindarto



Di Sinai YHWH memberikan Torah. Dalam Torah, YHWH menetapkan Tujuh Hari Raya (sheva moedim). Ketujuh perayaan tersebut adalah (Imamat 23:1-44) sbb: (waktu-waktu yang tetap) atau hari-hari raya yang berjumlah tujuh
  1. Pesakh (14 Nisan)
  2. Ha Matsah (15 Nisan)
  3. Sfirat ha Omer (menghitung omer setelah shabat moedim)
  4. Shavuot (hari kelimapuluh setelah menghitung omer)
  5. Yom Truah /Rosh ha Shanah (1 Tishri)
  6. Yom Kippur (10 Tishri)
  7. Sukkot (15-21 Tishri)


Rasul Paul berkata dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”. Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang ditetapkan oleh YHWH di Sinai namun perihal larangan agar jemaat Mesias non Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan sbb: “But here it appears that Gentile Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian”[1] (Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana makan dan minum agar menjadikan... tawanan).

MEWASPADAI RAGI ORANG FARISI DAN SADUKI

Posted by Teguh Hindarto


Midrash Matius 16:5-16
Nats Matius 16:6

Ada beberapa sekte Yahudi di zaman Yesus Sang Mesias melayani yaitu Farisi, Saduki, Esseni, Zelot serta Herodian. Yesus berkata, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki." Apakah yang dimaksudkan dengan “ragi?” (Yun: ζυμης – Zumes) dan Siapakah orang Farisi dan orang Saduki itu sehingga Yesus memperingatkan sedemikian?

Ragi dipergunakan untuk membusukkan makanan atau mengembangkan sebuah adonan untuk dimasak menjadi roti. Ragi kerap menjadi simbol dosa karena sifatnya yang membusukkan seperti dikatakan:

Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:8)

Ragi menjadi simbol pengaruh yang tidak baik karena sifatnya yang dapat mengubah suatu bentuk kepada bentuk yang lain sebagaimana dikatakan:

Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan” (Gal 5:9)

Namun demikian dalam salah satu kesempatan dimana Yesus memberikan gambaran mengenai Kerajaan Sorga, Dia menggunakan perumpamaan ragi untuk menjelaskan sifat ragi yang membuat pengaruh yang cepat dan kuat sebagaimana dikatakan:

APAKAH YESUS MAKAN ROTI BERAGI? TANGGAPAN UNTUK YUHANA DEMASYQI ARYA

Posted by Teguh Hindarto




Dalam artikelnya yang berjudul:

"Tradisi Rasuliah Penggunaan Roti Beragi (Artos/Prosfora) dalam Perjamuan Kudus Gereja Orthodox Catholic dan Bukan Hosti”

 Yuhana Demasqi Arya menuliskan sbb:

..............Adalah suatu fakta bahwa Yesus tidak menggunakan Roti tidak beragi yang dalam bahasa Yunani disebut dengan άζυμος (azumos)

Seperti dalam Injil Lukas 22 : 1

Lukas 22 : 1

Hari raya Roti Tidak Beragi (άζυμος, azumos), yang disebut Paskah, sudah dekat. Dan ketika berbicara bagaimana seharusnya kita mengadakan Perjamuan Kudus? Yesus pernah bersabda

Lukas 22 : 19

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."

BENARKAH YAHWEH ADALAH NAMA DEWA BULAN?

Posted by Teguh Hindarto



Saat saya hendak menyampaikan kotbah di Madiun, seorang rekan hamba Tuhan memberikan informasi mengejutkan pada saya bahwa terjadi perdebatan ramai di forum diskusi dunia maya baik melalui facebook maupun milis-milis diskusi lainnya, yaitu anggapan/tuduhan bahwa YHWH yang dieja dengan Yahweh adalah nama dari dewa bulan bangsa Mesir kuno. Kemudian teman saya memberikan beberapa referensi situs internet yang menuliskan pembahasan tersebut dan dia meminta saya untuk memberikan tanggapan serius terkait tuduhan tersebut.

Sepulang saya dari Madiun, saya kembali melakukan penggalian data dan mencari bahan-bahan yang lebih banyak lagi karena saya belum puas mengenai literatur yang diberikan oleh teman saya. Dan berikut hasil kajian yang saya lakukan beberapa minggu ini terkait tuduhan bahwa YHWH adalah nama dewa bulan.

Untuk pertama kalinya saya menemukan kajian yang menghubungkan bahwa nama Yah terkait dengan nama dewa bulan Mesir Ya dalam artikel berjudul Yah – Another Moon Godhttp://www.allegyptiangods.com/gods/yah/). Berikut saya ringkaskan pokok pikiran dalam artikel tersebut sbb: (
  1. Leluhur Israel telah mencampuradukkan (intermingled) antara Tuhan yang mereka sembah dengan tuhan Mesir
  2. Sumber rujukan untuk menyimpulkan bahwa Yah adalah nama dewa Mesir yang diadopsi orang Yahudi adalah Papirus Ani di mana disebutkan nama Yah 2 kali yaitu dalam pasal 2 dan pasal 18 yang berbunyi sbb:

“A spell to come forth by day and live after dying. Words spoken by the Osiris Ani: O One, bright as the moon-god Iah; O One, shining as Iah; This Osiris Ani comes forth among these your multitudes outside, bringing himself back as a shining one. He has opened the netherworld. Lo, the Osiris Osiris [sic] Ani comes forth by day, and does as he desires on earth among the living.”

“[A spell to] cross over into the land of Amentet by day. Words spoken by the Osiris Ani: Hermopolis is open; my head is sealed [by] Thoth. The eye of Horus is perfect; I have delivered the eye of Horus, and my ornament is glorious on the forehead of Ra, the father of the gods. Osiris is the one who is in Amentet. Indeed, Osiris knows who is not there; I am not there. I am the moon-god Iah among the gods; I do not fail. Indeed, Horus stands; he reckons you among the gods.”

YESUS SANG MESIAS ANAK DOMBA PASKAH KITA Membuang Ragi Lama dan Berpesta Dalam Roti Tanpa Ragi

Posted by Teguh Hindarto



Midrash Pesakh 1 Korintus 5:1-13
Nats 1 Korintus 5:7


Rasul Paul mengawali suratnya dengan sebuah teguran kepada jemaat Korintus sbb: “Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya”(ay 1). Ada percabulan πορνεια (porneia) yang merusak kehidupan jemaat Mesias di Korintus. Bahkan percabulan jenis ini sangat keterlaluan dan belum didapati oleh Rasul Paul dalam perjalanannya ke daerah-daerah yang belum mengenal Tuhan yang benar. Dan percabulan itu berupa “ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya”. Dalam ilmu psikologi modern dikenal istilah Oediphus Complexs. Istilah Oediphus Complexs diambil dari kisah karya Sophocles dengan judul Oedipus Rex. Dikisahkan ada seorang pahlawan bernama Oediphus yang membunuh ayahnya yang adalah seorang raja, karena Oediphus cemburu kepada ayahnya yang menjadi suami ibunya bernama Jocasta. Kisah ini kemudian dipakai sebagai sebuah penamaan terhadap gejala penyakit psikologis seorang anak yang jatuh cinta pada ibunya.

PERCAKAPAN TEGUH HINDARTO VS BUDI ASALI MENGENAI BAHASA PERCAKAPAN YESUS & BAHASA PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU (5)

Posted by Teguh Hindarto



Catatan:

Bermula dari pengiriman artikel Teguh Hindarto kepada Budi Asali dengan judul YESUS, YAHUDI, YUDAISME yang dimuat di teguhhindarto.blogspot.com, kemudian Budi Asali memberikan komentar yang menimbulkan tanggapan Teguh Hindarto. Percakapan bergeser ke dalam topik “bahasa percakapan Yesus” dan “bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru”.

Percakapan berlangsung beberapa minggu dari Tgl 24 Maret 2011 hingga berakhir pada Tgl 16 April 2011  dengan pernyataan Budi Asali sbb: “Saya sdh katakan, kalau anda tidak menjawab serangan utama saya ttg pengutipan ayat2 PL yg menggunakan nama YHWH oleh PB, maka saya tak akan jawab email sampah anda. Anda tidak mampu menjawab, tetapi dg tidak tahu malu, terus nyerocos ttg hal2 yg bukan hal utama. Silahkan masukkan semua bahan ini ke dlm web / blog anda, saya sdh masukkan ke web / blog dr Pdt Esra. Dan kalau memasukkan, jgn secara pengecut meng-edit kata2 saya, ya? Termasuk 'makian' saya, jgn dibuang! Saya ingin org tahu anda memang sesat, tolol, penipu, dsb!”.

Penilaian diserahkan kepada siding pembaca dan peminat diskusi dan perdebatan teologi. Selamat membaca.

SERI V

Budi Asali (31 Maret): Anda yg bodoh, Inti seluruh pembicaraan adalah bahasa asli PB, bukan bahasa apa yg Yesus gunakan. Tak jadi soal Yesus bicara bahasa apa, yg kita persoalkan adalah bahasa asli PB. Seandainya Yesus bicara dlm bahasa Ibrani, tetapi tetap dituliskan ke dlm PB dlm bahasa Yunani. Ini tetap membuat anda tak bisa lari dr argumentasi saya yg menunjukkan bahwa pd waktu PB mengutip ayat2 PL yg menggunakan YHWH, PB mengubahnya menjadi KURIOS atau THEOS. Jadi, perubahan YHWH menjadi TUHAN adalah sah!

Juga siapa bilang Eli2 lama sabakhtani adalah bahasa Ibrani? Coba bandingkan dg bahasa Ibrani dr Maz 22:2, dr mana ayat itu dikutip. Mengapa beda? bahasa Ibraninya adalah AZAVTANI! Dan asal tahu saja, dulunya saya juga tak pernah memperhatikan hal ini, dan yg memberitahu saya adalah seorang Yahudi tulen (bukan Yahudi-Yahudian spt anda!). Ia mengatakan bahwa dlm bahasa Ibrani tidak ada kata sabakhtani! Yg ada adalah AZAVTANI! Saya cek, dan ternyata ia memang benar!

PERCAKAPAN TEGUH HINDARTO VS BUDI ASALI MENGENAI BAHASA PERCAKAPAN YESUS & BAHASA PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU (4)

Posted by Teguh Hindarto



Catatan:

Bermula dari pengiriman artikel Teguh Hindarto kepada Budi Asali dengan judul YESUS, YAHUDI, YUDAISME yang dimuat di teguhhindarto.blogspot.com, kemudian Budi Asali memberikan komentar yang menimbulkan tanggapan Teguh Hindarto. Percakapan bergeser ke dalam topik “bahasa percakapan Yesus” dan “bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru”.

Percakapan berlangsung beberapa minggu dari Tgl 24 Maret 2011 hingga berakhir pada Tgl 16 April 2011  dengan pernyataan Budi Asali sbb: “Saya sdh katakan, kalau anda tidak menjawab serangan utama saya ttg pengutipan ayat2 PL yg menggunakan nama YHWH oleh PB, maka saya tak akan jawab email sampah anda. Anda tidak mampu menjawab, tetapi dg tidak tahu malu, terus nyerocos ttg hal2 yg bukan hal utama. Silahkan masukkan semua bahan ini ke dlm web / blog anda, saya sdh masukkan ke web / blog dr Pdt Esra. Dan kalau memasukkan, jgn secara pengecut meng-edit kata2 saya, ya? Termasuk 'makian' saya, jgn dibuang! Saya ingin org tahu anda memang sesat, tolol, penipu, dsb!”.

Penilaian diserahkan kepada siding pembaca dan peminat diskusi dan perdebatan teologi. Selamat membaca.

SERI IV

Budi Asali: (Tgl 31 Maret) Anda memang bodoh! JUSTRU adanya kata2 Ibrani / Aramaic yg digunakan hanya kadang2 dlm PB, menunjukkan kalau PB tidak ditulis dlm bahasa Ibrani / Aramaic! Kalau memang ditulis dlm bahasa Ibrani, dan lalu diterjemahkan ke bahasa Yunani, lalu mengapa kata2 itu tidak ikut diterjemahkan ke dlm Yunani? Sekarang coba lihat Yoh 1:38,41. Kalau aslinya dlm bahasa Ibrani, lalu diterjemahkan ke Yunani, mengapa ada kata2 'Rabi (artinya Guru)' dan 'Mesias (artinya Kristus)'? Coba, saya tanya: dlm bahasa Ibrani kalimat ini bunyinya bagaimana? 

Tanggapan Teguh Hindarto: (Tgl 31 Maret) Nah, apa saya bilang. Kelakuan Anda yang suka membodoh-bodohkan orang lain dan menganggap enteng argumentasi orang lain, telah menjerumuskan diri Anda sendiri.

PERCAKAPAN TEGUH HINDARTO VS BUDI ASALI MENGENAI BAHASA PERCAKAPAN YESUS & BAHASA PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU (3)

Posted by Teguh Hindarto



Catatan:

Bermula dari pengiriman artikel Teguh Hindarto kepada Budi Asali dengan judul YESUS, YAHUDI, YUDAISME yang dimuat di teguhhindarto.blogspot.com, kemudian Budi Asali memberikan komentar yang menimbulkan tanggapan Teguh Hindarto. Percakapan bergeser ke dalam topik “bahasa percakapan Yesus” dan “bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru”.
Percakapan berlangsung beberapa minggu dari Tgl 24 Maret 2011 hingga berakhir pada Tgl 16 April 2011  dengan pernyataan Budi Asali sbb: “Saya sdh katakan, kalau anda tidak menjawab serangan utama saya ttg pengutipan ayat2 PL yg menggunakan nama YHWH oleh PB, maka saya tak akan jawab email sampah anda. Anda tidak mampu menjawab, tetapi dg tidak tahu malu, terus nyerocos ttg hal2 yg bukan hal utama. Silahkan masukkan semua bahan ini ke dlm web / blog anda, saya sdh masukkan ke web / blog dr Pdt Esra. Dan kalau memasukkan, jgn secara pengecut meng-edit kata2 saya, ya? Termasuk 'makian' saya, jgn dibuang! Saya ingin org tahu anda memang sesat, tolol, penipu, dsb!”.

Penilaian diserahkan kepada siding pembaca dan peminat diskusi dan perdebatan teologi. Selamat membaca.


SERI III

Budi Asali: (Tgl 29 Maret) Anda yg tidak membaca dg baik. Saya tidak bicarakan Yesus bisa bicara Ibrani atau tidak. Saya bicarakan saat itu mrk dijajah Romawi shg semua org bisa bicara bahasa Yunani. Yesus juga! Rasul2 yg tidak terpelajar juga bisa. Penulis2 PB juga bisa, dan krn itu mrk menulis dlm bahasa Yunani! Ayo bantah hal ini! 

Tanggapan Teguh Hindarto: (Tgl 30 Maret) Hemm, Anda terlalu bersemangat juga ya? Baiklah, kita uji semangat dan asumsi Anda tersebut. Anda mengatakan, “Saya bicarakan saat itu mrk dijajah Romawi shg semua org bisa bicara bahasa Yunani. Yesus juga! Rasul2 yg tidak terpelajar juga bisa. Penulis2 PB juga bisa, dan krn itu mrk menulis dlm bahasa Yunani”. 

Yesus dan Para Rasul Berbicara Bahasa Yunani?

Jika Mesias berbicara dalam bahasa Yunani, mengapa justru kata dan kalimat yang terekam dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani justru menampilkan kata-kata Yahudi seperti Efata (terbukalah, Mrk 7:34) Talita kumi (anak gadis, bangunlah, Mrk 5:41), Eli-Eli lama sabakhtani (El-ku,El-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mat 27:46)? Mengapa Mesias tidak langsung berbicara dalam bahasa Yunani sebagaimana Anda sangkakan?

PERCAKAPAN TEGUH HINDARTO VS BUDI ASALI MENGENAI BAHASA PERCAKAPAN YESUS & BAHASA PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU (2)

Posted by Teguh Hindarto



Catatan:

Bermula dari pengiriman artikel Teguh Hindarto kepada Budi Asali dengan judul YESUS, YAHUDI, YUDAISME yang dimuat di teguhhindarto.blogspot.com, kemudian Budi Asali memberikan komentar yang menimbulkan tanggapan Teguh Hindarto. Percakapan bergeser ke dalam topik “bahasa percakapan Yesus” dan “bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru”.

Percakapan berlangsung beberapa minggu dari Tgl 24 Maret 2011 hingga berakhir pada Tgl 16 April 2011  dengan pernyataan Budi Asali sbb: “Saya sdh katakan, kalau anda tidak menjawab serangan utama saya ttg pengutipan ayat2 PL yg menggunakan nama YHWH oleh PB, maka saya tak akan jawab email sampah anda. Anda tidak mampu menjawab, tetapi dg tidak tahu malu, terus nyerocos ttg hal2 yg bukan hal utama. Silahkan masukkan semua bahan ini ke dlm web / blog anda, saya sdh masukkan ke web / blog dr Pdt Esra. Dan kalau memasukkan, jgn secara pengecut meng-edit kata2 saya, ya? Termasuk 'makian' saya, jgn dibuang! Saya ingin org tahu anda memang sesat, tolol, penipu, dsb!”.

Penilaian diserahkan kepada sidang pembaca dan peminat diskusi dan perdebatan teologi. Selamat membaca.

SERI II

Tanggapan Budi Asali: (26 Maret 2011) Mengapa tak ada komentar / jawaban berkenaan dg kata2 saya ttg Israel yg pd saat itu dijajah Romawi shg ada bahasa Yunani dan kultur Yunani? Jgn lari dr pertanyaan spt pengecut. Ayo jawab ini? Anda mau menyangkal sejarah?

Tanggapan Teguh Hindarto: (28 Maret 2011) Lho, Anda ini lucu dan suka berkelit. Pernyataan Anda sudah saya jawab. Tuduhan Anda (Anda rupanya tidak membaca artikel tersebut dengan baik) bahwa saya mengatakan bahwa “Yesus hanya untuk orang Yahudi” saja, sama sekali tidak terbukti. Adapun pernyataan Anda “Juga Ia lahir di Israel, yg pd saat itu dijajah Romawi, yg menggunakan bahasa Yunani” tidak membawa pengaruh apapun terhadap keyahudian Yesus. Dia tetap orang Yahudi (Ibr 7:14) yang berbicara dalam bahasa Yahudi (raca, efata, talita kumi, dll). Apa yang hendak Anda buktikan dengan pernyataan tersebut?

Budi Asali: Pake nanya? Tentu saja anda yg gila. Anda yg menggunakan istilah tanpa menjelaskan, lalu menyalahkan org yg tidak mengertinya? Kalau tidak becus menulis, jgn menulis!

PERCAKAPAN TEGUH HINDARTO VS BUDI ASALI MENGENAI BAHASA PERCAKAPAN YESUS & BAHASA PENULISAN KITAB PERJANJIAN BARU (1)

Posted by Teguh Hindarto



Catatan:

Bermula dari pengiriman artikel Teguh Hindarto kepada Budi Asali dengan judul YESUS, YAHUDI, YUDAISME yang dimuat di teguhhindarto.blogspot.com, kemudian Budi Asali memberikan komentar yang menimbulkan tanggapan Teguh Hindarto. Percakapan bergeser ke dalam topik “bahasa percakapan Yesus” dan “bahasa penulisan Kitab Perjanjian Baru”.

Percakapan berlangsung beberapa minggu dari Tgl 24 Maret 2011 hingga berakhir pada Tgl 16 April 2011  dengan pernyataan Budi Asali sbb: “Saya sdh katakan, kalau anda tidak menjawab serangan utama saya ttg pengutipan ayat2 PL yg menggunakan nama YHWH oleh PB, maka saya tak akan jawab email sampah anda. Anda tidak mampu menjawab, tetapi dg tidak tahu malu, terus nyerocos ttg hal2 yg bukan hal utama. Silahkan masukkan semua bahan ini ke dlm web / blog anda, saya sdh masukkan ke web / blog dr Pdt Esra. Dan kalau memasukkan, jgn secara pengecut meng-edit kata2 saya, ya? Termasuk 'makian' saya, jgn dibuang! Saya ingin org tahu anda memang sesat, tolol, penipu, dsb!”.

Penilaian diserahkan kepada sidang pembaca dan peminat diskusi dan perdebatan teologi. Selamat membaca.

SERI I

Budi Azali: Yesus lahir sbg org Yahudi, tetapi Ia bukan hanya utk org Yahudi. Dia Penebus dunia. Itu sdh dijanjikan sejak jaman Abraham (Kej 12:3)! Juga Ia lahir di Israel, yg pd saat itu dijajah Romawi, yg menggunakan bahasa Yunani. Dr semua hal itu tidak aneh kalau berbagai expresi penghayatan yg sifatnya non Yahudi ada dlm banyak bangsa-bangsa lain di dunia ini! Kalau hrs selalu bersifat Yahudi, anda maunya semua bgs di dunia hrs belajar bahasa Ibrani dulu? Itu gila, dan tak pernah ada dlm alkitab! 

TANGGAPAN ATAS PEMIKIRAN DR. IOANES RAHMAT DALAM BUKUNYA ”MENGUAK KEKRISTENAN YAHUDI PERDANA“

Posted by Teguh Hindarto


INTRODUKSI


Secara pribadi saya mengucapkan selamat kepada DR. Ioanes Rahmat dengan segala kemampuan dan pengusaannya yang brilian terhadap teks-teks ekstrakanonik Perjanjian Baru telah membuka cakrawala dan wawasan mengenai pemahaman doktrinal dan devosional yang heterogen dalam Kekristenan mula-mula. Lebih jauh dari itu kita merasa lebih dekat dengan sumber-sumber ekstrakanonik yang dalam saat-saat tertentu pandangan teologisnya sejalan dengan Kitab Kanonik namun pada sisi lain memperlihatkan perbedaan yang tajam, khususnya dalam memandang hakikat Yesus, relevansi Torah, kerasulan Paulus. Demikian pula saya ucapkan terimakasih kepada Jusufroni Center (JRC) yang berani mengangkat gagasan dan pandangan teologis dalam kitab-kitab ekstrakanonik demi dan untuk mewacanakan pemahaman dan penyebarluasan visi Judeo-Christianity yang diusung oleh Abuna DR. Jusufroni.

Nampaknya ini buku pertama yang secara khusus mengulas kitab-kitab ekstrakanonik setelah buku yang ditulis Desy Ramadhani dengan judul ”Menguak Injil-Injil Rahasia“1. Perbedaannya, kajian Desy Ramadhani dalam bukunya lebih kearah deskriptif mengenai sumber-sumber ekstrakanonik yang harus diketahui oleh umat Kristen di Indonesia, terkait dengan maraknya publikasi penemuan-penemuan kitab yang bercorak heretik, gnostik, ekstrakanonik yang akhir-akhir ini dikonsumsi oleh publik baik Kekristenan maupun non Kristen seperti penerjemahan penemuan ”Gospel of Judas“ (Injil Yudas), penerbitan novel ”Davinci Code“, penerjemahan buku, ”Misquoting of Jesus“, penemuan ”Makam Talpiot“ yang dihubung-hubungkan dengan makam Yesus dan keluarganya. Sementara DR. Ioanes Rahmat melakukan lebih jauh lagi dengan deskripsi yang dilakukan dalam bukunya. Setelah melakukan sinopsis terkait sumber-sumber ekstrakanonik yang secara khusus membicarakan pemahaman-pemahaman yang dianggap olehnya sebagai sumber-sumber tertua mengenai Kekristenan Yahudi yang bersebrangan dengan Rasul Paul yang dianggapnya sebagai penganjur Kekristenan Helenis, maka DR. Ioanes Rahmat mengajak kepada para pembacanya untuk menjadikan sumber-sumber ekstrakanonik tersebut sebagai dasar untuk mengembangkan prinsip-prinsip Judeo Christianity di Indonesia. Hal ini tersirat dari pernyataannya bagian pendahuluan, ”Pendek kata, bagi siapapun di Indonesia yang memandang iman Abraham dan iman komunitas-komunitas Yahudi Kristen perdana sebagai iman yang autoritatif dan tetap relevan untuk dikaji dan dihayati kembali pada masa kini di dalam negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, buku ini dapat menjadi suatu pemandu awal bagi suatu penjelajahan yang lebih luas, lebih dalam dan lebih menyeluruh lagi, yang didalamnya saya tentu ke depannya akan mau ikut ambil bagian kembali dengan proaktif“ (hal xix)

Namun demikian ada bagian-bagian dalam buku ini yang harus secara serius dikritisi. (1) Kajian kritis ini dilakukan untuk menjawab permintaan beliau dalam bagian akhir bukunya sbb: ”Akhir kata, saya ingin menyatakan bahwa buku ini sungguh-sungguh adalah sebuah buku pertama dalam bahasa Indonesia yang menguak kekristenan Yahudi perdana; karena itu, kuasailah isinya dan perdebatkanlah supaya penelitian terhadap kekristenan Yahudi awal dapat terus dilanjutkan untuk memasuki kawasan-kawasan yang belum dijelajahi buku ini...“ (hal 172-173). Saya akan memperdebatkan seluruh asumsi-asumsi yang dibangun dalam tulisan DR. Ioanes Rahmat agar pembaca memiliki perimbangan pemahaman. (2) Mengritisi dorongan yang diberikan terhadap mereka yang concern melakukan pengkajian dan penerapan Kekristenan yang berakar pada kesemitikan atau akar Ibrani. Dalam bagian pendahuluan buku ini, DR. Ioanes Rahmat berkata, ”Bahkan buku ini juga dapat diharapkan akan menjadi sebutir mutiara berharga bagi sejumlah kalangan di Indonesia yang sedang berupaya untuk mendirikan, menghadirkan, memelihara dan mengembangkan sinagog-sinagog di kawasan Indonesia yang luas. Di dalam sinagog-sinagog ini mereka dapat merayakan ibadah-ibadah Yahudi yang semarak dan mencerahkan dan melakukan pengkajian-pengkajian atau midrashim terhadap iman akbar Abraham dan relevansinya bagi pengembangan kehidupan bersama yng akur dan produktif antar umat Yahudi, umat Kristen dan umat Islam di Indonesia pada masa kini“ (hal xix). Pernyataan di atas membesarkan hati berbagai komunitas kembali ke akar Ibrani di Indonesia yang akhir-akhir ini bermunculan. Namun sejumlah rujukan literatur yang dipilih sebagai dasar membangun teologi Kristen Yahudi (Judeo Christianity) – yang didasarkan pada teks-teks ekstrakanonik- mengandung sejumlah masalah serius terkait dengan validitas dan nilai historisnya dengan ajaran Yesus. Kita tidak akan mendirikan sebuah mazhab berpikir atau suatu perspektif teologi yang didasarkan pada pemahaman-pemahaman heretik yang diwakili oleh naskah-naskah ekstrakanonik. Kita menghargai pemahaman heterodok yang berkembang saat kekristenan awal yang berakar pada nilai-nilai Yudaisme yang bersentuhan dengan pemahaman gnostik dan helenistik. Namun menjadikan sumber-sumber literatur dalam situasi yang dipengaruhi pemahaman gnostik dan helenistik tersebut sangat membahayakan bangunan apa yang akan kita dirikan. Sejauhmana bahaya-bahaya tersebut terdeteksi akan kita kaji dalam pembahasan berikutnya.

PEMAHAMANTERHADAP CARA PANDANG SEMITIK HEBRAIK & IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBACAAN TEKS KITAB SUCI

Posted by Teguh Hindarto




PENDAHULUAN 1

Cara pandang seseorang sangat menentukan sikap dan keputusan yang diambilnya. Cara pandang seseorang turut pula mempengaruhi cara pandangnya dalam memahami teks Kitab Suci (baik TaNaKh2 dan Kitab Perjanjian Baru). Cara pandang Kekristenan Barat (Eropa, Amerika) secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh cara pandang Helenistik (Yunani). Cara pandang itu mengimbas pula ke dalam cara berpikir Kekristenan di Asia termasuk Indonesia dan belahan dunia lainnya. Cara pandang Helenistik ini diterima sebagai konsekwensi logis penerjemahan kisah-kisah kehidupan Yesus dan tulisan-tulisan rasuli dalam bahasa Yunani3. Cara pandang Helenistik ini semakin menguat ketika “Kabar Baik” (Ibr, Besorah/Arb, Injil/Yun, Euanggelion) diberitakan keluar Yerusalem. Rasul Paul telah berhadapan dengan filsuf-filsuf Yunani (Kis 17) dan para Bapa Gereja (Church Fathers) pun hampir keseluruhannya berlatarbelakang filsuf-filsuf yang mengadopsi cara pandang Yunani untuk memahami Kitab Suci dan memberikan pertanggungjawaban terhadap serangan-serangan terhadap Iman Kristen dari para filsuf Yunani.

Cara pandang Helenistik dalam membaca Kitab Suci, menimbulkan sejumlah dampak serius bagi pemahaman teologi, pemahaman ibadah, pemahaman terhadap doktrin, pemahaman terhadap sejumlah peristiwa yang tertulis dalam Kitab Suci. Faktanya, Kitab Suci (baik TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru) mengisahkan kehidupan tokoh-tokoh yang terkait langsung dengan kebudayaan Semitik Hebraik dan dituliskan oleh orang-orang dengan latar belakang Semitik Hebraik. Selayaknya teks Kitab Suci dibaca, dipahami dan ditafsirkan berdasarkan cara pandang Semitik Hebraik, dengan berpikir Ibrani. Anda tidak akan memahami secara baik sastra keagamaan Hindu India yang berjudul Mahabharata, Bharatayuda, Bhagawadgita, tanpa Anda menyertakan penguasaan bahasa sumber dan latar belakang kebudayaan Kitab tersebut dituliskan, sekalipun kitab-kitab tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Anda tidak akan memahami dengan baik naskah sastra keagamaan Jawa Hindu Negarakertagama, Pararaton dll jika hanya sebatas mengandalkan terjemahan berbahasa Indonesia.
 
Definisi Cara Pandang Ibrani

Apa dan bagaimanakah “cara pandang Ibrani” itu? Tim Hegg menjelaskan sbb: “To think Hebraically means to think like a Hebrew did in ancients times. Why would this be important? Because the Scriptures, for the most part, were written by Hebrews (Jews). In fact, only Luke of all the writers of Scriptures was not a Jew by birth (at least by modern scholarly opinion). Thus, if we’re going to understand the manner of speech, the way words are used, and the way important issues of life are described by someone in the Hebrew culture, we must understand, in general terms, how the Hebrew people thought-how they looked at life-their world view” (Berpikir secara Ibrani berarti berpikir sebagaimana orang Ibrani berpikir pada zaman lampau. Mengapa hal ini demikian penting? Karena sebagain besar isi Kitab Suci, dituliskan oleh orang-orang Ibrani. Sebenarnya, hanya Lukas dari keseluruhan penulis Kitab Suci yang bukan seorang Yahudi berdasarkan kelahirannya (setidaknya menurut pendapat sarjana modern). Agar kita dapat memahami yaitu cara berbicara, mengenai kata-kata yang dipergunakan serta pentingnya persoalan-persoalan kehidupan yang digambarkan oleh seseorang dalam kebudayaan Ibrani, maka kita harus memahami dengan istilah umum, mengenai bagaimana orang Ibrani berpikir, bagaimana mereka melihat kehidupan - pandangan dunia yang mereka miliki)4. Cara pandang Ibrani yang khas meliputi:5

Down to earth-action oriented (prinsip berorientasi pada tindakan)

Kebenaran:
Bukan sekumpulan gagasan (ide) melainkan pengalaman. Saya menjelaskan kepadamu mengenai kebenaran melalui apa yang telah terjadi dalam sejarah

Nilai :
Jangan katakan pada saya apa yang akan kamu kerjakan namun tunjukkan pada saya apa yang telah kamu kerjakan

Konsep :
Berorientasi pada tindakan, kongkrit bukan abstrak. Dalam bahasa Ibrani, kata kerja muncul mendahului dalam struktrur kalimat. Banyak konsep diekspresikan dengan istilah-istilah yang tegas al;

    וישׂא (wayyissa): “menggangkat mata” (Kej 22:4)
    ויחר־אף (wayyikharaf af): “hidung terbakar/murka” (Kel 4:14)
    אגלה (egleh): “tidak menutup telinga” (Rut 4:4)
    תכבדו את־לבבכם (tekabdu et levavkem): “memiliki hati yang keras” (1 Sam 6:6)

Tuhan:
“Yang tidak nampak” namun digambarkan secara nampak dengan istilah-istilah kongkrit al, Tuhan bertelinga, bertangan, berkaki. Para teolog mengistilahkan dengan “anthropomorphisme”

Teologi :
Teologi bukan dipahami sebagai suatu kepercayaan terhadap sejumlah daftar kepercayaan, rumusan dogma melaikan pada suatu hubungan atau relasi. Hal ini ditunjukkan dengan mengekspresikan proses berpikir yang dilakukan dalam hati, dimana seseorang “mengasihi Tuhan” (Ul 6:5), dimana seseorang “merasa takut akan Tuhan”(Ul 28:65), dimana seseorang “merasa berdosa. Bagian dalam tubuh adalah wilayah dimana muncul rasa takut (Yer 4:19) dan hati dimana terletak rasa tertekan (Rat 2:11) dan juga sukacita (Ams 23:16). Kepala bukan dipahami sebagai pusat berpikir melainkan sebagai tempat bagi sesuatu yang halus yaitu kekuatan kehidupan yang mengalir menuju tubuh.

Manusia:
Manusia dipahami sebagai kombinasi utuh dan integral antara bagian yang nampak (material part) dan tidak nampak (immaterial part). Tidak ada yang lebih utama dan penting di antara keduanya

Truth is in the ‘both-and’, not ‘either-or (prinsip harmonisasi)

Cara pandang Ibrani lebih menekankan prinsip keselarasan dan mempertahankan ketegangan daripada berusaha menyelesaikan ketegangan dan mengkontradiksikan ketegangan. Ada banyak persoalan yang kontradiktif namun seluruhnya dipahami sebagai satu kesatuan dan bukan dikontradiksikan. Cara pandang ini disebut “Box Logic” dan pandangan yang berkebalikan dengan itu adalah “Linear Logic” sebagaimana cara pandang Yunani. Contoh-contoh berikut akan dikontradiksikan jika mengikuti cara pandang Yunani namun dalam pemikiran Ibrani ketegangan tersebut diakomodir. Contoh : Tidak ada satu orangpun yang pernah melihat Tuhan (Yoh 1:18, 1 Tim 1:17) namun dibagian lain dikatakan Moshe, Akharon melihat Tuhan (Kel 24:9-10) bahkan Yesus sendiri mengatakan bahwa barangsiapa murni hatinya dia akan melihat Tuhan (Mat 5:8). Prinsip harmonisasi terangkum dalam Yesaya 45:7, “YHWH menjadikan terang dan gelap, yang menjadikan (nasib) beruntung dan menciptakan (nasib) yang buruk” (yotser or ubore khoshek, osheh shalom ubore ra, YHWH oshe kol elleh). Cara pandang mengkontradiskikan segala sesuatu nampak dalam cara pandang beberapa kelompok Islam dalam membaca teks Kitab Suci TaNaKh dan Perjanjian Baru.

Everything in life relates to God (prinsip seluruh kehidupan berhubungan dengan Tuhan)

Tidak ada perbedaan antara yang sekular dan spiritual. Semua ciptaan Tuhan baik (Kej 1:31). Segala sesuatu diterima dengan ucapan syukur (1 Tes 5:17). Dunia adalah arena untuk berkarya (Ul 26:5-10). Kata “ibadah” dan “bekerja” diturunkan dari akar kata yang sama Davar. Bekerja adalah melayani, beribadah adalah melayani. Baik bekerja maupun beribadah adalah pelayanan. Yang satu melayani manusia dan manusia serta yang satu melayani Tuhan.

Religion as a way of life (prinsip agama sebagai gaya hidup)

Agama tidak dipahami sebagai seperangkat sistem kepercayaan dan norma-norma belaka melainkan suatu gaya hidup dan ringkasan pengalaman hidup. Tidak mengherankan kata “berjalan bersama YHWH” (wwayithalek Khanok et ha Elohim) atau “berjalan di jalan-Nya” (haholek biderakaiw) sebagaimana dinyatakan beberapa ayat seperti (Kej 5:24, Mzm 128:1).

Time and History are in God’s hand (prinsip waktu dan sejarah dalam genggaman Tuhan)

Sejarah dipahami sebagai sejarah Tuhan berinteraksi dengan umat manusia. Dalam sudut pandang Ibrani, seseorang harus mengenal sejarah karena dengan mengenal sejarah seseorang dapat mengetahui siapa dirinya. Jika dia tidak mengetahui darimana dia datang maka dia tidak mengetahui kemana dia akan pergi. Hubungan dengan Tuhan didasarkan atas peristiwa sejarah. Ini menuntun pada pemahaman tentang “perjanjian” dengan Tuhan. Seorang yang menjadi anggota suatu perjanjian hany berlaku saat mana dia menjadi anggota masyarakat yang mengikat perjanjian dengan Tuhan. Di luar ikatan perjanjian, dia terlepas dari masyarakat tersebut. Oleh karenanya penanggala dalam sistem kalender Ibrani berkaitan dengan peristiwa-peristiwa historis YHWH terhadap umatnya yang direfleksikan dalam perayaan-perayaan. Pentingnya sejarah terekam dalam Mazmur 78:1-71.
 
Perbedaan Cara Pandang Ibrani dan Cara Pandang Yunani

Pemahaman terhadap cara pandang Semitik Hebraik menuntut kita memahami pula secara ringkas cara pandang Helenistik (Yunani). Tim Hegg mengatakan, “In our western culture, the worldview ‘glasses’ we wear derive primarly from the Greek philosophies of ancient times. Even if we are entirely unaware of the Greek thinkers, such as Plato and Aristotle, their philospohical pressupositions have shaped and molded the way we interpret reality and particulary how we think about God and His activity within the scipe of human history. When we read the Bible woth our Greek mindset, we inevitably misinterpret it because the human authors of the Scriptures were Hebrew, not Greeks. The eternal, inspired words of the Almighty are clothed in a Semitic worldview, not the garb of the Greek philosophers. Granted, there are areas of commonality between the two both there are also stark contrast. In many ways, the two worldviews are worlds apart”6 (dalam kebudayaan kita – Barat – ‘kaca mata’ sudut pandang yang kita gunakan berasal dari sumber filsafat Yunani kuno. Sekalipun kita tidak menyadari sepenuhnya pemikir-pemikir Yunani seperti Plato dan Socrates namun presuposisi filsafat mereka telah mempertajam dan membentuk cara kita menafsirkan realitas dan secara khusus mengenai bagaimana kita berpikir mengenai Tuhan dan karya-Nya dalam sejarah manusia. Ketika kita membaca Kitab Suci dengan cara pandang Yunani, maka kita sama sekali akan menafsirkan secara keliru pesan-pesan di dalamnya karena penulis Kitab Suci adalah orang Ibrani bukan Yunani. Firman kekal yang diilhamkan Yang Maha Kuasa dibungkus dalam pakaian cara pandang Semitik bukan berpakaian para filsuf Yunani. Sesungguhnya ada wilayah yang sama di antara keduanya namun juga perbedaan yang menyolok. Dalam banyak hal, cara pandang keduannya terpisah).

Tim Hegg meringkaskan perbedaan cara pandang Ibrani dan Yunani sbb:7

Dunia Materi versus Dunia Ide

Pandangan Helenis (Yunani) didominasi terutama oleh karya-karya Plato (428 SM). Pemahaman Plato terhadap realitas adalah “Dualism”. Dia mengajarkan bahwa ada dua realita yaitu realita Ide dan realita Materi. Keduanya saling berkontradiksi. Realitas sejati adalah dunia Ide. Manusia terpenjara dalam realita dunia Materi oleh karenanya untuk mencapai kebenaran di dunia Ide, seseorang harus mengembangkan intelektualitasnya melalui proses berfilsafat yang benar. Konsekwensi logis dunia Ide adalah yang utama maka dunia Materi yang hanyalah dunia bayangan, semu menjadi lebih rendah. Dunia Materi selalu dijadikan sumber segala sumber kejahatan. Pemikiran demikian mengimbas dalam tradisi penafsiran Kristen yang bersifat alegoris. Dengan penafsiran alegoris dikontraskan antara nilai-nilai yang historis dengan yang spiritual. Torah mengenai makanan tahor dan tame dalam Imamat 11 dipahami secara spiritual sebagai pengendalian hidup, menjauhi hal-hal yang najis namun mengabaikan aspek literal dari perintah tersebut. Dualisme bukanlah cara pandang Ibrani.

Logika Linear versus Logika Kotak Tertutup

Dalam pemikiran Helenis, kebenaran berdiri sendiri di luar sana dan menunggu untuk ditemukan. Penemuan kebenaran adalah melalui kegiata intelektualitas termasuk filsafat. Kebenaran yang berada di luar sana bersifat keterkaitan logis satu sama lain. Jika diibaratkan seperti efek domina. Kebenaran yang ditemukan akan berefek pada kebenaran yang lain dan tidak ada jalan tengah. Cara berpikir demikian dinamakan “linear logic” (logika linear). Berkebalikan dengan cara berpikir demikian, cara pandang Ibrani justru bersifat menampung seluruh kenyataan yang sekalipun nampak kontradiktif. Penulis Kitab Suci tidak pernah berupaya untuk menjelaskan berbagai aspek yang nampaknya rumit untuk dirumuskan, contohnya mengenai relasi ontologis Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun penulis Kitab Suci termasuk Rasul Paul tetap menyebutkan istilah-istilah tersebut tanpa harus memberikan penjelasan apapun kepada para pembaca surat-suratnya. Cara pandang demikian adalah cara pandang yang dinamakan “box logic” (logika kotak tertutup). Tim Hegg merumuskan kenyataan tersebut dengan mengatakan, “The Hebrew epistemology, then begins by admiting that man’s knowledge will always fall short of producing an entirelly coherent system of truth. Rather than forcing all facts into a linear sequence of logic, the biblical writers affirms the tension of living with truths that appear contradictory…the Hebrew recognized that reality perceived from God’s point of view (and revealed in Scriptures) might appear as contradictory to that same reality viewed from mankind’s limited perpective” (epistemologi Ibrani dimulai dengan sebuah pengakuan bahwa pengetahuan manusia akan selalu gagal menghasilkan seluruh sistem kebenaran yang lengkap. Daripada memaksakan fakta-fakta yang da ke dalam rangkaian logika linear, para penulis Kitab Suci mengakui ketegangan hidup dalam mana bersamaan dengan kebenaran yang kontradiktif…orang Ibrani mengakui bahwa kenyataan yang diterima dari sudut pandang Tuhan (dan disingkapkan dalam Kitab Suci) nampak seperti kontradiktif jika dipandang dari sudut pandang manusia yang terbatas).

Pengakuan Iman versus Melakukan Torah

Ketika Gereja non Yahudi dituntut untuk mempertanggungjawabkan imannnya terhadap berbagai serangan dari pemikiran filsuf-filsuf Yunani, maka Gereja pun memakai instrumen yang sama. Berbagai rumusan pengakuan iman yang dilegalisasi melalui keputusan-keputusan konsili, sarat dengan perdebatan teologis dan filsafat. Rumusan-rumusan pengakuan iman akhirnya bukan hanya sebagai pertanggungjawaban Gereja terhadap kekafiran namun bergerak semakin jauh menjadi suatu pengakuan yang bersifat doktrinal dan dogmatis. Tim Hegg memberikan komentar, “In contrast, we find no such doctrinal creeds in the Judaism of the early centuries. It was not until the middle ages when Rambam, wanting to provide the Jewish community with an answer for Christian apologist, composed the Thiteen Principles as a Jewish ‘confession of faith” (sebaliknya, kita tidak menemukan pengakuan iman sedemikian dalam Yudaisme awal. Hal itu tidak ada sampai pada akhirnya muncul pada Abad Pertengahan ketika Rambam, berusaha untuk menyediakan komunitas Yudaisme agar dapat menjawab para apologet Kristen kemudian menyusun Tiga Belas Prinsip yang dianggap sebagai pengakuam Iman Yahudi). Kitab Suci merekam bagaimana Yesus mengajarkan bahwa seseorang dapat dikategorikan beriman atau tidak bukan dalam hal apa yang mereka percayai melainkan buah apa yang mereka hasilkan, alias perbuatan yang dapat dinilai (Mat 7:16).

Teologi yang sistematik

Cara berpikir linear logic menimbulkan konsekwensi logis menciptakan susunan teologi yang sistematis dalam Kekristenan. Kecenderungan untuk melakukan sistematisasi kebenaran bukan ciri khas dalam literatur-literatur rabinik. Menurut Tim Hegg, “for the rabbis, contradictions provided the necessary ‘push/pull’ energy required for seeing any given subject from every vantage point” (bagi para rabbi, kontradiksi menyediakan perlunya suatu tekanan terhadap kekuatan yang ingin melihat suatu pokok persoalan dari sudut pandang yang menguntungkan). Oleh karenanya diskusi dan perdebatan rabinik dalam Talmud tidak pernah disimpulkan melainkan dibiarkan agar pembaca mengambil kesimpulan sendiri. Tim Hegg melanjutkan, “From a rabbinic perpective, the circle of truth was large enough to include conradictory viewpoints” (dari sudut pandang rabinik, lingkaran kebenaran terlalu luas untuk dimasukkan dalam sudut pandang saling mengkontradiksikan).

Mental Kathedral

Tim Hegg menjelaskan, “Having accepted the Platonic dualism in which the material world is considered evil, the Church focused its attention on hope of escaping the world for a heavenly existence” (Dengan menerima dualisme Platonik yang mana dunia material dianggap sebagai jahat, maka Gereja lebih memfokuskan pada harapan terluput dari dunia menuju keberadaan yang bersifat surgawi). Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus mengatakan, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di Surga”, merefleksikan suatu cara pandang Ibrani bahwa bumi adalah ajang dan arena untuk memanifestasikan kehendak Tuhan melalui karya umat-Nya. Gereja bukan semata-mata mengumpulkan orang berdosa untuk bertobat dan masuk dalam ruangan ibadah dan bergulat dengan konsep-konsep religius belaka melainkan dituntut hadir ditengah-tengah dunia.

Cara pandang Yunani, Haruskah Dibuang?

Saya tidak sependapat bahwa cara pandang Yunani dibuang begitu saja. Yang harus dibuang adalah paradigma dan kecenderungan untuk menggunakan cara pandang Helenis (Yunani) untuk memahami pikiran Kitab Suci yang ditulis oleh orang Ibrani dengan struktur khas Ibrani, karena jika paradigma ini tetap dilestarikan maka akan semakin mendistorsi pemahaman kita terhadap sejumlah teks dan peristiwa historis dalam Kitab Suci. Kita cukup mengetahui cara pandang Yunani itu apa (sebaik kita mengetahui cara pandang suatu kebudayaan yang menjadi latar belakang kita) dan mencari celah untuk mewartakan Kabar Baik itu dalam bingkai apapun termasuk kebudayaan Yunani (termasuk kebudayaan Indonesia) tanpa menghilangkan essensi dan akar berita yang kita bawa. Karena Rasul Paul telah memberikan teladan, bagaimana dia mempelajari sastra dan filsafat Yunani sehingga dalam beberapa suratnya dia mengutip tulisan-tulisan filsuf Yunani untuk menemukan celah mewartakan Kabar Baik.

Mengutip Sajak Epimenides: αγνωστω θεω (Agnostho Theo, Kis 17:23)

Mengutip Sajak Aratus/Cleanthes: του γαρ και γενος εσμεν (Tou gar kai henos esmen,Kis 17:28)

Mengutip Sajak Menander: φθειρουσιν ηθη χρηστα χρησθ ομιλιαι κακαι (Phtheirousin hethe chresth homiliai kakai, 1 Kor 15:33)

Mengutip Sajak Epimenides dari Kreta: κρητες αει ψευσται κακα θηρια γαστερες αργαι (Kretes aei pseustai kaka theria gasteres argai, Tit 1:12)
 
Aplikasi Pemahaman Cara Pandang Ibrani Terhadap Pembacaan Kitab Suci

Pengertian istilah Klao (memecah roti) dalam Matius 26:26

Dalam Kitab Perjanjian Baru, ada beberapa kali kalimat “memecah roti” muncul. Saat Yesus memberi makan 4000 orang (Mat 14:19), saat Yesus melakukan perjamuanYesus ke Sorga. Para rasul dan murid-murid Yesus bertekun dalam persekutuan, doa, pengajaran dan memecah roti dirumah-rumah (Kis 2:42, 46, Kis 20:7). Namun demikian, makna “memecah roti” dalam beberapa peristiwa diatas, memiliki makna yang berbeda. Memecah roti dalam Matius 14:19, menunjuk pada pengucapan syukur yang ditandai dengan mengucap Berakhah dengan kalimat Barukh Atta YHWH Eloheinu Melekh ha Olam ha Motsi Lehem min ha Arets (diberkatilah Engkau YHWH Tuhan Raja Alam Semesta yang telah memberikan kami roti dari bumi). Memecah roti dalam Kisah Rasul 2:42,46, Kis 20:7, menunjuk pada tata cara makan dan pengucapan syukur Ibrani setiap hari atau pada hari-hari khusus seperti Sabat atau pada waktu hari raya. Kisah 20:7 merupakan kegiatan Havdalah atau penutupan Sabat yang ditandai dengan makan khallah (Roti Beragi) dengan anggur. Kisah Rasul 2:42,46 dapat juga dimaknai sebagai “perluasan” Seder Pesakh secara praktis untuk mengingat Mesias (1 Kor 11:25-26). Memecah roti dalam Matius 26:26 merupakan bagian dari Seder Pesakh. Kata ‘Seder’ bermakna ‘Tata Cara’. Seder Pesakh merupakan tradisi merayakan Paskah secara Hebraic yang ditandai dengan makan roti tidak beragi (Matsah) dan minum anggur (Tirosh)dengan liturgi khusus. Unsur-unsur dalam Seder Pesakh adalah 4 cawan anggur (Kiddush: Cawan Berkat, Makkot: Cawan Tulah, ha Geulah: Cawan Penebusan, Hallel: Cawan Pujian) dan 1 Cawan untuk Elia. Selain 4 Cawan anggur ada Roti Tidak Beragi (Matzo), Selada (Karpa), Rempah Pahit (Maror), Campuran (Kharoset), Air garam. Apa yang dipahami oleh orang Kristen pada umumnya (Orthodox. Katholik, Protestan) sebagai Ekaristi atau Perjamuan Kudus sebenarnya adalah pelaksanaan Seder Pesakh. Ketika Yesus mengambil roti dan mengucap berkat serta memecah roti, Dia sedang mengambil Afikomen (Matsah yang dipecah dan disembunyikan dengan kain putih) dan menjadikan Afikomen sebagai lambang dari tubuh-Nya yang dipecah dan dikorbankan untuk penebusan umat manusia dari kutuk dosa. Matsah adalah Roti Tidak Beragi, sebagai lambang kemurnian dan tanpa dosa. Dalam salah satu terjemahan Kitab Suci versi Orthodox Brit Khadsha, nuansa Seder dapat dirasakan dalam istilah-istilah khas sbb : “And at the Seudah, Rebbe, Melech HaMoshiach, having taken matzah, having made ha-Motzi, he broke the middle matzah, giving the afikomen to the talmidim, and said, Take and eat, this is my basar. And having taken the Cup of Redemption and having made the bracha, he gave it to them, saying, Drink from it, all of you” (Dan saat Seudah, Rabbi, Raja Mesias, mengambil matsah, melakukan ha Motsi lalu Dia memotong matsah yang ditengah, memberikan afikomen kepada para muridNya dan berkata, ambil dan makanlah, inilah tubuhKu. Dan mengambil Cawan Penebusan dan mengucapkan Brakha, memberikannya pada mereka sambil berkata, Minumlah dari cawan ini, bagi kamu semua). Ketika Yesus mengangkat cawan berisi anggur, Dia sedang meminum Cawan Penebusan (ha Geulah) Berakhah yang diucapkan, Barukh Atta YHWH Eloheinu Melekh ha Olam borei pri ha gofen” (Diberkatilah Engkau YHWH Tuhan kami, Raja Alam Semesta yang menciptakan buah anggur). Sinyalemen bahwa Yesus sedang melaksanakan Seder Pesakh dapat ditelaah dari perkataan Yesus, “Dia yang mencelupkan tangannya kedalam qeraah (mangkok/pinggan), dialah yang akan menyerahkan Aku” (Mat 26:23). Mencelup tangan disini bisa bermakna “membasuh tangan”, namun dapat juga bermakna “mencelupkan karpas dan maror dalam kharoset” dan dapat juga bermakna, “mencelupkan karpas ke dalam air garam”. Sinyalemen lain adalah laporan Matius, “Sesudah menyanyi nyanyian pujian (Hallel), pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun” (Mat 26:30). Pujian dalam penututpan Seder, biasanya diambil dari mazmur 113-118, 136.

Pengertian istilah “nomos” (torah) dalam seluruh Kitab Perjanjian Baru

Kata “Torah” muncul sebanyak 221 kali dalam TaNaKh. American Standard Version selalu menerjemahkan dengan “hukum” (law) sementara Revised Standard Version terkadang menerjemah dengan istilah “ajaran” (teaching), “petunjuk” (intstruction), “keputusan” (decision). Hampir selalu kata “torah” dalam terjemahan Septuaginta diterjemahkan “Nomos” dan dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan “law” (hukum). Padahal essensi kata “torah” adalah “ajaran”. Dalam Torah ada hukum namun Torah bukan hukum belaka. Torah lebih kepada ajaran yang disampaikan YHWH kepada Musa dan Israel yang berisikan pedoman hidup, pedoman ibadah, pedoman perilaku, pedoman berinteraksi dengan sesama dll. Pengertian hukum selalu mengandaikan adanya unsur hukuman, sehingga mendistorsi essensi Torah dan YHWH yang menurunkan Torah.

Pengertian kata “kataluo” (membatalkan) dan “pleroo” (menggenapkan) dalam Matius 5:17

DR. David Bivin dan Roy Blizard memberikan perspektif lain mengenai makna pernyataan “Aku datang bukan untuk meniadakan Torah” sebagai suatu ungkapan khas Ibrani dalam diskusi Rabinik. Ungkapan ini bermakna bahwa “seseorang telah menafsirkan secara keliru tentang Torah”. Jika ada seseorang menafsirkan Torah secara keliru, maka para rabbi yang lain akan mengatakan, “engkau membatalkan Torah”. Dalam konteks makna literal ini, maka Yahshua sedang membantah kepada para pendengarnya, bahwa diri-Nya bukan datang untuk menyimpangkan atau menafsirkan secara keliru terhadap Torah dan Kitab Para Nabi8. Kata yang digunakan untuk “menggenapi” dalam teks Yunani, adalah Pleroo. Kitab Perjanjian Baru menuliskan sebanyak 86 kali dalam arti, “memenuhi”, “menggenapi”, “habis”, “lewat”, “menyatakan dengan penuh”, “memberitakan kemana-mana”, “menyelesaikan”, “melakukan”9. Sebagaimana komentar sebelumnya, David Bivin dan Roy Blizard menyatakan bahwa pengertian “membatalkan” dan “menggenapi” bermakna “tafsir yang menyimpang” dan “tafsir yang tepat”. Selengkapnya, beliau menjelaskan : “Kata ‘membatalkan’ dan ‘menggenapi’, merupakan istilah teknis yang digunakan dalam diskusi rabinik. Ketika seorang bijak merasa bahwa temannya menafsirkan secara keliru bagian dari Kitab Suci, dia akan mengatakan ‘anda telah membatalkan Torah!’, singkatnya, dalam banyak kasus, temannya menunjukkan ketidaksepahaman yang keras. Bagi orang bijak, yang dimaksud dengan ‘melenyapkan Torah” maka kebalikannya, ‘menggenapi Torah’ atau menafsirkan Kitab Suci dengan tepat” 4

Pernyataan diatas diperkuat dengan frasa “kamu telah mendengar” tetapi “Aku berkata kepadamu”. Tanggapan Yesus terhadap tafsiran para rabbi sebelumnya terhadap Torah, ditegaskan kembali secara tepat oleh Yesus dengan penekanan kalimat, “Tetapi Aku berkata kepadamu”. (tafsir) Torah mengatakan, janganlah membunuh karena barangsiapa yang membunuh akan mendapatkan hukuman namun Yesus menegaskan secara tepay makna Torah bahwa yang harus dihukum bukan hanya mengenai kasus yang berat namun yang kelihatannya ringan, seperti kemarahan yang luar biasa dengan mengeluarkan umpatan kasar seperti raka (Mat 5:21-22). (tafsir) Torah mengatakan jangan berzinah. Yesus memberikan pemahaman yang tepat mengenai zinah, bahwa seseorang yang berzinah bukan semata-mata yang memiliki hubungan dengan wanita lain selain istrinya, namun memandang wanita yang bukan istrinya dan mengingininya, sudah dikategorikan perzinahan (Mat 5:27-28). (tafsir) Torah mengijinkan suatu perceraian namun Yesus memberikan pemahaman bahwa jika bukan karena alasan yang kuat, yaitu perzinahan, maka janganlah sampai terjadi perceraian. Dengan melakukan perceraian, kita telah menjadikan diri kita dan pasangan kita sebagai seorang yang berzinah (Mat 5:31-32). (tafsir) Torah mengajarkan agar jangan bersumpah palsu. Yesus memberikan pemahaman yang tepat bahwa hendaklah seseorang tidak bersumpah demi apapun juga, karena sumpah mengandung risiko. Tidak jarang kita melakukan dalih dalam sumpah yang kita ucapkan dihadapan Tuhan dan sesama (Mat 5:38-42). (tafsir) Torah mengajarkan untuk mengasihi dan membenci musuh. Ayat ini sering dijadikan alasan untuk membenci dan tidak memaafkan orang-orang yang bersalah pada diri kita. Yesus memberikan pemahaman yang tepat dengan mengatakan untuk mengasihi musuh dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal (Mat 5:43-48).

Eksposisi penegasan Yesus diatas membuktikan bahwa Yesus bukan “membatalkan Torah” (menyimpangkan makna Torah) melainkan “menggenapi Torah” (memberikan pemahaman yang benar). Senada dengan ulasan David Bivin dan Roy Blizard, DR. David Stern dalam ulasannya mengenai kata “membatalkan” dan “menggenapi”, mengatakan sbb: “Adalah tepat bahwa Yeshua memelihara Torah secara sempurna dan menggenapi berbagai nubuatan dalam Kitab Para Nabi. Namun bukan ini pokok persoalannya. Yeshua tidak datang untuk membuat tidak berlaku Torah namun membuat ‘maknanya menjadi penuh’ mengenai apa yang dituntut dalam Torah dan Kitab Para Nabi. Selanjutnya Dia melengkapi pemahaman kita terhadap Torah dan Kitab Para Nabi…Pasal 5 yang tersisa, menjelaskan enam kasus khusus dimana Yesus memberikan penjelasan makna rohani secara penuh mengenai pokok-pokok dalam hukum Yahudi”10.

Pengertian kata “logos” (firman) dalam Yohanes 1:1

Yohanes 1:1 dibuka dengan kalimat, εν αρχη ην ο λογος και ο λογος (en arkhe en ho Logos). Apa arti pernyataan tersebut? Logos, dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yokhanan, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo11. Heraklitus (500 SM) mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. Daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal Anaxagoras (400 SM) beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Elohim dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia. Philo (20 SM-20 Ms) seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal tuhan yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia.

Pendapat beberapa ahli mengenai penggunaan kata “Logos” dalam Kitab Perjanjian Baru sbb:“Rasul Yohanes tanpa ragu-ragu memakai kata Logos sebagai sarana untuk memperkenalkan Tuhan Yesus. Tetapi Logos yang di maksudkan oleh Yohanes tidak sama dengan Logos yang di artikan oleh orang lain”. Selanjutnya Purnawan menambahkan, “Rasul Yohanes telah menyimak suasana pikiran zamannya, mengambil istilah yang umum di pakai dan tumpuan harapan orang sesamanya, serta memberi arti baru yang lebih dalam sesuai dengan ilham Roh Kudus kepadanya”12. Injil Yohanes di karenakan istilah itu sudah di kenal dalam lingkungan Yahudi dan Yunani, namun penggunaan Logos harus di mengerti latar belakangnya dalam penyataan Elohim dalam Perjanjian Lama13

Jika ditinjau dari sudut pandang Hebraik atau akar Semitik naskah Greek, maka kata Logos memiliki akar Semitiknya yang berasal dari penggunaan kata Davar. DR. David Stern mengulas sbb: “The language echoes the first sentence of Genesis…thus the TaNaKh lays the groundwork for Yochanan’s statement that the Word was with God and was God’s (bahasa tersebut menggemakan kalimat pertama dari Kitab Kejadian…sehingga TaNaKh meletakkan dasar bagi pernyataan Yohanes bahwa Sang Firman bersama Tuhan dan Firman adalah Tuhan)14.

Pengertian kata horan tes proseuches (waktu sembahyang) dalam Kisah Rasul 3:1

Dalam Yudaisme, dikenal istilah Tefilah. Tefilah bermakna berdoa. Namun pengertian tefilah dalam Yudaisme bukan hanya sekedar ucapan spontan kepada Tuhan yang berisikan permohonan. Tefilah meliputi waktu-waktu tertentu dalam menghadap Tuhan dan dengan diiringi sikap tubuh yang tertentu. Kitab Suci memberi petunjuk mengenai tefilah yang meliputi:

Waktu-waktu yang tertentu

Waktu doa harian Yudaisme terdiri dari Shakharit, Minha dan Maariv. Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb : Daud (Mzm 55:17), Daniel (Dan 6:11), Ezra (Ezr 9:5), Yesus Sang Kristus (Luk 6:12), Petrus dan Yohanes (Kis 3:1), Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)

Sikap tubuh yang tertentu

Beberapa petunjuk mengenai berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu al., Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8), Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39), Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36), Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)


End Note

1 Disampaikan pada Retreat Gereja Kemah Abraham di Mount Hermont, Kec. Pacet Cipanas Cianjur, Jawa Barat, 29 Juni – 1 Juli 2009.

2 Akronim untuk Torah, Kethuvim, Neviim. Kekristenan pada umumnya menyebut dengan istilah “Perjanjian Lama”, sebuah istilah yang tidak biblikal dan bias pemahaman

3 Saya menggunakan kalimat, “penerjemahan kisah-kisah kehidupan Yesus dan tulisan-tulisan rasuli dalam bahasa Yunani”, karena saya termasuk yang meyakini teori-teori dan tradisi yang menyatakan bahwa Kitab Perjanjian Baru baik Injil Sinoptis maupun surat-surat rasuli ditulis dalam bahasa sumber baik Ibrani dan Aramaik kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani (Band. Christopher Lancaster, “Was The New Testament Really Written in Greek? A Concise Compendium of the Many Internal and External Evidences of Aramaic Peshitta Primacy” www.watch.pair.com/peshitta.html, dan kajian Michael D. Marlowe dalam artikelnya, “The Semitic Style of the New Testament, www.bible-researcher.com, Brian Knowles, dalam “Which Language did Jesus Speak Aramaic or Hebrew? http://www.godward.org/Hebrew%20Roots/did%20jesus%20speak%20hebrew.htm, serta kajian D. Bivin dan R. Blizzard , Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001)

4 Interpreting the Bible: An Introduction to Hermeneutics, TorahResources.com Distance Learning Yeshiva, 2000, p. 20

5 Ibid., p.20-23

6 My Big Fat Greek Mindset (Part 1 & 2) 2006 on www.torahresources.com

7 Ibid

8 Understanding the Difficult Words of Jesus, Destiny Image Publishers, 2001, p. 114

9 Op.Cit., Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, hal 648

4 Ibid., Understanding the Difficult Words of Jesus

10 Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.25-26

11 Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 363

12 Apologetika Abad Pertama (Buletin “Sahabat Gembala”, Bandung, 1992, h.58)

13 STT I-3, Batu, Malang, Jatim, 1993, hal 13

14 DR. David Stern., Jewish New Testament Commentary, JNTP 1992, p.153