RSS Feed

YESUS SANG FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA:

Posted by Teguh Hindarto


Pemahaman Mengenai Hakikat Yesus 
Dan Implikasi Teologis dan Sosiologisnya

Tiap-tiap jatuh bulan Desember, bagi dunia Kristen pada umumnya, baik di Eropa, Amerika dan Asia khususnya di Indonesia toko-toko Kristen dan umat Kristen mulai sibuk menyiapkan Christmass atau Natal yaitu kelahiran Yesus Sang Mesias. Sekalipun saya tidak mengakui kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember[1] namun saya tetap memberikan apresiasi dan ruang bagi semua denominasi Kristen untuk merayakan apa yang mereka yakini dengan sedikit memberikan kritik dan masukkan secara terbatas[2]. Terlepas dari semua perbedaan tersebut, namun masing-masing pihak yang berbeda tentu mengimani teks yang sama yang menjadi sumber perayaan selain Matius 1:21 tentunya Yohanes 1:14.

Saya akan mengupas aspek lain dari Yohanes 1:14 perihal Yesus sebagai perwujudan Sang Firman yang menjadi manusia dan segala implikasinya baik di ranah teologis maupun ranah sosiologis.

Firman Yang Menjadi Manusia: Implikasi Teologis

Yohanes 1: 1 dibuka dengan kalimat, εν αρχη ην ο λογος (en arkhe en ho Logos – Greek New Testament)  Apa arti pernyataan tersebut? Istilah Logos dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yohanes, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo[3].

Heraklitus (500 SM) mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal. Anaxagoras (400 SM) beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia. Philo (20 SM-20 Ms) seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal Tuhan yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia. 

BONEKA ANNABELLE DAN KEWASPADAAN TERHADAP AKTIFITAS ROH JAHAT

Posted by Teguh Hindarto

 
Resensi Film “Annabelle” dan Tinjauan Kritis


Awal Oktober ini, dunia film diramaikan oleh tayangan film luar negeri bertemakan “something horrible” (sesuatu yang menakutkan) dengan judul, “Annabelle”. Film yang disutradarai oleh James Wan dan diproduksi oleh direktur utamanya John R. Leonetti merupakan “spin off” (penggalan atau sub seri) dari film horor sebelumnya yang meraih sukses yaitu “The Conjuring” (2013).

Jika penikmat film telah melihat film “The Conjuring” maka ada adegan awal dimana tokoh yang akan terlibat dalam penanganan kasus demonik yaitu Edward "Ed" Warren Miney  dan Lorraine Rita Warren yang berprofesi sebagai demonologist dan investigator gejala-gejala paranormal sedang mewawancarai sekumpulan muda-mudi yang dihantui oleh kehadiran boneka “Annabelle” di apartemen mereka. Nah, film “Annabelle” merupakan prekuel atau bagian dari film sebelumnya yang kemudian dikembangkan menjadi kisah utama film yang saat ini beredar.

Bagi saya sebagai penikmat film bertemakan petualangan, sains, sejarah, detektif serta horor, mengulas film-film bertemakan “something horrible” khususnya film-film Barat sangat mengasyikkan tinimbang mengulas film-film horor lokal. Selain dikarenakan faktor efek visual yang sempurna juga dikarenakan alur penceritaan yang tidak mudah ditebak serta melibatkan berbagai kegiatan investigasi latar belakang berbagai peristiwa seram yang muncul.

Di Indonesia dimana masyarakatnya masih memiliki kecenderungan “mystic society”[1], film-film bertemakan hororisme, gaib, misteri tentu saja akan dengan mudah dan cepat diminati para penontonnya. Dan film-film sejenis ini akan menginspirasi sejumlah film-film horor lokal dengan mengombinasikan dari kisah-kisah “urban legend” setempat.

Memberikan ulasan sejumlah film bertemakan aktifitas roh-roh jahat khususnya film Barat, bukan semata-mata ketertarikan namun sekaligus keterlibatan saya sebagai praktisi demonologi sejak akhir-akhir masa kuliah hingga sekarang ini ditengah-tengah aktifitas pekerjaan keagamaan. Film “Annabelle” yang diangkat dari kisah nyata boneka yang dirasuki kekuatan jahat pada tahun 1970-an mengingatkan saya untuk pertama kalinya menangani sebuah kasus pada tahun 90-an di Yogyakarta, menjelang akhir kuliah saya. Bedanya yang saya hadapi bersama rekan-rekan saya bukan boneka melainkan seorang anak yang berasal dari Nias yang diangkat menjadi bagian anggota keluarga. Anak yang tidak jelas latar belakangnya ini kerap membuat masalah-masalah yang bersifat demonik al., menghilangkan tas, uang namun beberapa hari kemudian tas dan uang akan ditemukan di tempat terpisah. Pada kesempatan lainnya dia akan meneror saya dengan mimpi buruk seolah-olah dia hendak mencekik saya padahal secara fisik dia tidur di lantai persis di bawah kaki saya. Pernah dia menghilang berhari-hari dan tiba-tiba ditemukan di ruang antara genting dan atap plafon rumah dengan tangan seperti simbol “baphomet”. Puncaknya saat kami mendoakan dan menanggai kasus anak tersebut dia menghilang entah kemana. Sampai hari ini saya tidak pernah mendengar atau bertemu dengan anak tersebut.

Baiklah, kita akan memulai melakukan sinopsis dan mengulas film dan kisah nyata dibalik film tersebut.

Sinopsis

Film “Annabelle” dimulai dengan adegan yang sama dengan pembuka dari film “The Conjuring yang berlatar belakang tahun 1970-an, di mana dua wanita muda dan seorang pemuda memberitahu Ed dan Lorraine Warren tentang pengalaman mereka mengenai boneka bernama Annabelle yang mereka percayai berhantu

Pada tahun 1969, John (Ward Horton) dan Mia Gordon (Annabelle Wallis) sedang hamil anak pertama mereka. John memberinya boneka yang Mia telah berusaha untuk menemukannya. Mia menyukainya dan meletakkannya dengan seluruh koleksi boneka yang ada padanya. Pada malam hari, Mia mendengar pembunuhan yang terjadi pada tetangga sebelah rumah mereka yaitu keluarga Higgins dan diserang oleh seorang wanita yang memegang boneka dan teman laki-lakinya. John dan polisi tiba dan membunuh lelaki yang hendak menyerang Mia sementara wanita pembunuh yang masuk ke rumah John dan Mia membunuh dirinya sendiri. Perempuan yang bunuh diri tersebut meninggalkan simbol berdarah yang tergambar di dinding dan setetes darahnya jatuh pada wajah boneka dalam pelukannya. Sebuah laporan berita keesokkan harinya menunjukkan bahwa para penyerang adalah Annabelle Higgins dan pacarnya. Mereka telah membunuh orang tuanya dan dikatakan telah menjadi bagian dari sebuah sekte pemuja Setan

SUKKOT (Pondok Daun) DAN SHEKINAH (Kemuliaan YHWH)

Posted by Teguh Hindarto


Sukot (Pondok Daun) adalah perayaan puncak dari Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim) yang ditetapkan YHWH di Sinai (Im 23: 39-43) untuk memperingati penyertaan Tuhan YHWH terhadap leluhur Israel selama berada di padang gurun sebagaimana diamarkan:

"Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh. Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan YHWH Tuhanmu, tujuh hari lamanya. Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya. Di dalam pondok-pondok daun (be sukkot - בסכת) kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun (be sukkot - בסכת), supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah YHWH Tuhanmu"


Sukot merupakan perayaan yang bermakna profetik karena dihubungkan dengan pemerintahan YHWH di akhir zaman sebagaimana dinubuatkan dalam Zakaria 14:16 sbb:

"Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, YHWH semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun"

Mengapa kita merayakan Sukkot? Pertama, karena Yesus Sang Mesias pun merayakan Tujuh Hari Raya demikian pula dengan Sukkot (Yoh 7:1-2, 37-38). Kedua, karena Tujuh Hari adalah bayangan yang menunjuk pada karya Mesianis Yesus (Kol 2:16)

MALAM JAHANAM 30 SEPTEMBER 1965: SIAPA MENGKUDETA SIAPA?

Posted by Teguh Hindarto




Tanggal 30 September 1965 pk 03.00 di bawah komando Letkol Untung Samsuri, Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa (pasukan kawal presiden) akan dilaksanakan penculikan tujuh pimpinan TNI Angkatan Darat yang disebut-sebut sebagai Dewan Jenderal. Ketujuh perwira Angkatan Darat tersebut adalah Jenderal Nasution (Menko Hankam/KSAB), Letjen Ahmad Yani (Men/Pangad), Mayjen Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen A. Sukendro, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen D.I. Panjaitan. Dari kedelapan jenderal hanya tujuh yang dipastikan ada di Jakarta dan Brigjen A. Sukendro sedang berada di RRC.

Operasi penculikan Dewan Jendral dinamai "Operasi Takari" yang terdiri dari tiga kesatuan pasukan yaitu Pasukan Pasopati, Pasukan Bimasakti, Pasukan Gatotkaca. Pasukan Pasopati dipimpin oleh Letkol Dul Arief dari Resimen Cakrabirawa dengan tugas menculik ketujuh jendral dalam keadaan hidup atau mati. Pasukan Bimasakti dipimpin oleh Kapten Suradi Prawirohardjo dari Brigif-1 Jayasakti/Jakarta dengan tugas menguasai Jakarta Raya dan sarana vital seperti Radio Republik Indonesia (RRI). Pasukan Gatotkaca dipimpin oleh Mayor Gatot Sukrisno yang akan menggunakan kawasan Lubang Buaya sebagai basis kekuatan sekaligus tempat menampung tujuh jenderal yang mereka sebut Dewan Jenderal. Sebagai lawan dari Dewan Jenderal, pasukan penculik ini menamakan dirinya Dewan Revolusi.

Selebihnya kita semua mengetahui apa yang selanjutnya terjadi sebagaimana digambarkan dalam film berjudul G 30 S/PKI karya Arifin C. Noer pada tahun 1980-an. Kesadisan dan kekerasan yang dipertontonkan dalam aksi penculikkan yang berujung pembantaian ketujuh jenderal Angkatan Darat yang memilukan hati dan mengharu biru perasaan kebangsan kita. Film ini rutin menghiasi layar kaca satu-satunya televisi di Indonesia kala itu yaitu TVRI (Televisi Republik Indonesia) sejak tahun 1987 hingga 1997.

Aksi petualangan pasukan penculik berakhir Tanggal 1-5 Oktober 1965 dimulai dengan penguasaan kembali Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi oleh kesatuan RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328 Siliwangi, dan dibantu pasukan kavaleri. Dilanjutkan Tanggal 2 Oktober penguasaan Bandara Halim Perdana Kusuma oleh kesatuan RPKAD. Berlanjut Tanggal 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai daerah Lubang Buaya dan dalam beberapa jam kemudian menindaklanjuti informasi proses eksekusi para jenderal di sekitar Lubang Buaya, maka pasukan RPKAD berhasil menemukan mayat ketujuh jenderal tersebut yang ditanam dalam satu lubang dengan kedalaman 12 meter bergaris tengah 3/4 meter. Pengangkatan jenasah dilakukan tanggal 4 Oktober dan tanggal 5 Oktober dilaksanakan penguburan jenasah para tujuh jenderal yang kemudian disebut Pahlawan Revolusi.

Sebelum Reformasi, tafsir tunggal dalang peristiwa penculikkan tujuh jenderal adalah Partai Komunis Indonesia yang hendak menggulingkan pemerintahan yang sah melalui kudeta. Bahkan lebih jauh dalam buku berjudul Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai:  G30S-PKI Dan Peran Bung Karno, karya jurnalis Soegiarso Soerojo disebutkan keterlibatan Presiden Soekarno dikarenakan mengetahui dan merestui aksi penculikkan tersebut (1988:259-268).

TELADAN DAN JEJAK YESUS SEBAGAI SUMBER GAYA HIDUP KRISTIANI

Posted by Teguh Hindarto




Dalam kajian Sosiologi Kesehatan dikenal sebuah penelitian mengenai dua karakteristik dua buah negara bagian di Amerika Serikat yaitu Utah dan Nevada oleh Victor Fuch dalam karyanya, “A Tale of Two States” dan Frederic Welinsky dalam karya yang berjudul, “The Sociology of Health: Principles, Proffesions and Issues”.

Penelitian mereka menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sama mengenai persamaan dan perbedaan kedua negara bagian tersebut. Persamaan yang muncul di negara bagian tersebut adalah mengenai pendapatan per kapita, prosentase penduduk yang tinggal di wilayah kota, jumlah dokter per 100.000 penduduk, rata-rata tingkat pendidikan formal penduduk, struktur usia penduduk, komposisi ras, perbandingan laki-laki dan perempuan, lingkungan fisik negara.

Adapun perbedaan yang disimpulkan dalam kedua penelitian tersebut memberikan sejumlah fakta mengenai perbedaan harapan hidup, mortalitas (angka kematian), konsumsi alkohol, rokok. Angka mortalitas penduduk dari berbagai golongan usia berkisar 16% dan 54% untuk laki-laki dan 6% dan 69% untuk perempuan. Angka mortalitas karena faktor sirosis hati dan kanker saluran nafas antara tahun 1966-1968 berkisar 111% dan 590% untuk laki-laki dan 205% dan 443% untuk perempuan.

Apa yang menjadi akar perbedaan yang menyolok di kedua negara tersebut sebagaimana hasil kesimpulan kedua penelitian tersebut? Pertama, Mayoritas penduduk Utah memeluk agama Mormon yang melarang pemeluknya untuk mengonsumsi minuman keras, sementara penduduk Nevada yang beragama Kristen angka minuman keras dan merokok sangat tinggi. Kedua, perbedaan mobilitas geografis. Penduduk Utah lebih stabil dan mayoritas lahir di Utah sementara penduduk Nevada adalah kaum migran yang lahir di luar Nevada. Ketiga, perbedaan kestabilan rumah tangga. Kestabilan rumah tangga di Utah lebih tinggi daripada di Nevada. Di Nevada lebih banyak orang berstatus lajang, duda, bercerai yang cukup tinggi.

MERENUNGKAN KEMBALI KEMERDEKAAN KITA

Posted by Teguh Hindarto




Indonesia, adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam baik di lautan maupun di daratan. Indonesia memiliki 17.840 buah pulau dengan luas lautan 5,9 juta (75,32%). Tiap 1 km lautan Indonesia terkandung 35 juta ton garam, 66.000 ton bromium, 2000 ton lithium, 50 ton yodium, 1 ton titanium, uranium, perak serta emas. Di dasar laut terdapat bongkahan-bongkahan berbentuk kentang yang mengandung mangan (30-50%), besi (15%), nikel (1-3%), tembaga, kobalt, titanium, vanadium[1]. Di daratan terdapat kekayaan emas di Tembagapura Papua, timah di Bangka Belitung, minyak bumi di Cepu, batu bara di Bukit Asam Tanjung Enim, Palembang dll.


Negara dengan kekayaan alam berlimpah ini telah menarik Imperialisme dan Kolonialisme Abad 16 untuk mengeruk dan memindahkan kekayaan alam Indonesia ke negara mereka. Bermula dari kebutuhan akan rempah-rempah seperti, pala, cengkih, cokelat, kenari dll. Lalu berurutan bangsa-bangsa asing masuk ke Indonesia yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris. Setelah Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Muhamad II menaklukan Konstantinopel tahun 1453 maka jalur perdagangan di Laut Tengah tertutup untuk bangsa Eropa. Melalui jalur Laut Tengah inilah bangsa Eropa memperoleh kebutuhan rempah-rempah melalui negara Islam yang memperoleh rempah-rempah dari kerajaan-kerajaan di Indonesia.

MEMBANGUN KEJAYAAN MARITIM NUSANTARA BERBASIS KEKUATAN HISTORIS DAN GEOGRAFIS

Posted by Teguh Hindarto






Koran Kompas pada kolom “Fokus” menguraikan tentang keluhan seorang pelaku usaha kargo bernama Ridwan yang mengeluarkan biaya distribusi 16 ton jeruk dari Palopo ke Makasar (320 km) dengan dua truk angkut menelan biaya 8 juta. Lalu pengiriman dari Makasar ke Jakarta menelan biaya 1,5 juta per kontainer. Itu belum memperhitungkan biaya bongkar muat di Pelabuhan Makasar dan Tanjung Priok yang menghabiskan biaya 1,3 juta. Biaya 8 juta tesebut lebih mahal daripada biaya pengiriman jeruk dari Shanghai ke Jakarta yaitu 5 juta[1]. Keluhan yang sama disampaikan Hengky Pratoko, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Jawa Timur. Menurutnya, biaya pengiriman peti kemas antar pula di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan biaya pengiriman barang di sejumlah negara. Sebagai contoh, pengiriman dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke Makasar mencapai 4,5 juta hingga 7 juta dan Surabaya ke Sorong mencapai 13 juta hingga 17 juta. Padahal biaya pengiriman dari Surabaya memakan biaya 3,4 juta dan Surabaya ke Beijing hanya 3,8 juta hingga 4,85 juta[2].

Akar persoalan tersebut bukan tidak diketahui oleh pejabat yang berwenang. Harry Sutanto, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia menjelaskan bahwa mahalnya biaya tersebut disebabkan “Lemahnya interkoneksi pelabuhan di wilayah Indonesia timur. Pengiriman dari Makasar ke Kendari dan Jaya pura harus dilakukan melalui Surabaya karena ketiadaan kapal yang langsung melayani rute itu”[3]

Berbagai keluhan terkait mahalnya ongkos kirim berbagai produk melalui perairan Indonesia memang memprihatinkan jika mengingat basis historis Indonesia sebagai kerajaan besar bernama Nusantara merupakan negara dengan kekuatan berbasiskan kemaritiman. Dan akar persoalan yang sudah ditemukan yaitu “lemahnya interkoneksi antar pelabuhan” telah menemukan momentumnya saat pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang pemilihan presiden 2014 menguraikan visi dan misi mengenai Politik Luar Negeri pada debat sesi 3 (tgl 22 Juni 2014) memberikan tekanan pada pembangunan maritim serta mengusung konsep Tol Laut sebagai solusi untuk mengatasi biaya tinggi saat pengantaran komoditi dalam dan ke luar negeri melalui perairan Indonesia.

Sebagaimana beberapa pemerhati persoalan kemaritiman di Indonesia, kita bukan hanya memiliki sejumlah kelemahan manajemen pengelolaan pelabuhan, persoalan lainnya adalah mengelola dan memproteksi kekayaan alam serta pemanfaatan kekayaan alam di lautan, sebagaimana ditegaskan Andreas Pereira[4]. Maka konsepsi membangun poros maritim dan segala aspek yang terkait di dalamnya yang dilakukan pasangan presiden terpilih 2014-2018 dinilai oleh Guspiabri Sumowigeno, Direktur Kajian Politik Center for Indonesian National Policy Studies, “Terobosan pemikiran yang gemilang”[5]

BUKAN SEKEDAR MEMBUKA HUBUNGAN DIPLOMATIK

Posted by Teguh Hindarto


Menarik membaca pernyataan dalam sebuah artikel berikut ini:

“Bagi Indonesia sendiri, sebetulnya, membuka hubungan diplomatik dengan Israel membuka peluang untuk memosisikan Indonesia lebih aktif dalam proses rekonsiliasi konflik. Indonesia sudah terlebih dulu punya hubungan diplomatik dengan Palestina, dan Dubes Palestina sudah bercokol lama di Jakarta. Dengan demikian, Indonesia akan punya peluang lebih besar dalam memediasi Israel dan Palestina tanpa ada hambatan politik yang berarti.

Di sinilah ‘cerdas’-nya Gus Dur. Membuka hubungan diplomatik bukan berarti ‘mendukung’ Israel. Ini soal siasat. Jika Indonesia tidak membuka relasi pertemanan yang lebih baik, bagaimana mungkin Indonesia bisa tampil dalam proses perdamaian?

Artinya, membuka hubungan diplomatik dengan Israel bukan berarti ‘mendukung penjajahan Israel atas Palestina’ seperti banyak dituduhkan selama ini, tetapi justru ‘turut serta menjaga ketertiban dunia’ sebagaimana diamanatkan Konstitusi.

Inilah ‘ijtihad’ yang coba diambil Gus Dur. ‘Ijtihad’ ini bukannya tidak berisiko. Risiko terbesar adalah ditolak warganya sendiri. Inilah yang menghampiri Gus Dur ketika ia menjadi presiden. Hambatan lainnya, tentu saja, soal yang remeh-temeh dalam politik internasional –keamanan regional, posisi Indonesia dalam pergaulan di negara-negara mayoritas Islam, spionase dan intelijen, hingga mobilitas orang dan keamanan nasional.

Namun, jika risiko tersebut tidak diambil, apa arti dari sebuah kebijakan politik? Plus dan minus dari suatu kebijakan pasti ada. Yang perlu dimiliki oleh seorang kepala negara adalah keberanian. Inilah yang dipunyai dan diajarkan oleh seorang Gus Dur ketika ingin membuka hubungan diplomatik dengan Israel”.

GUS DUR, ERDOGAN, DAN ISRAEL

Berbicara mengenai konflik Israel dan Palestina, opini publik di Indonesia sudah dapat terpetakkan antara yang mendukung Israel, mendukung Palestina, mendukung kemanusiaan dan perdamaian dan tidak mendukung konflik keduanya sampai yang apatis dan tidak memperdulikan konflik kedua wilayah yang jauh dari teritori Indonesia.

Para pemimpin negeri ini dan juga segenap masyarakatnya bukan sekedar membela dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina untuk bisa berdaulat menjadi sebuah negeri dengan mengatasnamakan Hak Asasi dan Konstitusi namun memerlukan sebuah keberanian baru untuk membangun hubungan diplomatik dengan Israel dengan tujuan dapat menjalankan peran dan partisipasi aktif dalam memediasi konflik di antara keduanya sekaligus memberikan kontribusi konstruktif untuk menghadirkan dua buah entitas yang dapat hidup berdampingan tanpa saling menihilisasi satu sama lain.

Membangun hubungan diplomatik dengan Israel, memerlukan sebuah keberanian. Keberanian bukanlah semata-mata tindakan yang dihubungkan dengan kekerasan, peperangan, perkelahian. Keberanian adalah sebuah tindakan yang memerlukan segenap kekuatan baik pikiran dan perkataan serta tindakan untuk memberikan respon terhadap berbagai ancaman ataupun situasi yang menghimpit. Mengeluarkan sebuah keputusan yang tidak populer namun telah menimbang manfaat dan kerugiannya adalah juga sebuah keberanian. Sebagaimana konsepsi kekuatan bukan hanya diletakkan pada kemampuan fisik yang luar biasa. Yesus Sang Mesias telah mengajar mengenai konsepsi kekuatan dan keberanian ketika di atas kayu salib dan penderitaannya mengatakan: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Hanya orang yang kuat dan berani yang mampu mengeluarkan kata-kata pengampunan terhadap musuhnya yang telah menganiaya dan mengakhiri kehidupannya dengan mengeksekusinya di atas salib yang hina. 

Alm. Gus Dur telah menjadikan keputusannya dan tindakannya sebagai referensi historis dengan melakukan terobosan baru melalui membangun komunikasi, interaksi dengan pemerintahan Israel untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Palestina.

Namun demikian, ada tindakan lain yang memerlukan keberanian dari sekedar membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Apakah itu? Memahami dan memiliki pengetahuan yang proporsional serta obyektif mengenai Israel baik mengenai struktur sosial, struktur budaya serta struktur agamanya dengan mendekonstruksi semua negatif labeling yang selama ini dilekatkan padanya. Mengapa demikian? Selama ini, kita hanya dijejali dan menjejali diri dengan informasi yang bias mengenai Israel atau Yahudi. 

MENYIKAPI KONFLIK ISRAEL - PALESTINA/ IDF – HAMAS

Posted by Teguh Hindarto



שׁאלו שׁלום ירושׁלם ישׁליו אהביך

Sha’alu shelom Yerusalayim, yishlau ohavayik (TaNaKh, Sefer Tehilim 122:6)

ερωτησατε δη τα εις ειρηνην την ιερουσαλημ και ευθηνια τοις αγαπωσιν σε

Erootesate de ta eis eirenen ten Ierousalem kai euthenia tais agapoosin se (Septuaginta, Psalmoi  122:6)

“Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa” (Mazmur 122:6)

 
Kalimat doa inilah yang sebaiknya kita panjatkan kepada Tuhan agar perdamaian dan ketentraman terjadi terhadap Yerusalem,baik bagi penduduknya maupun yang mendoakannya. Konflik Israel-Palestina lebih merepresentasikan konflik IDF dan Hamas yang merugikan baik warga sipil Israel dan warga sipil Palestina. Konflik yang sama selalu akan mendapatkan respon yang sama, baik itu kecaman, kutukan maupun pembelaan serta bentuk keprihatinan, baik dari pejabat politik, pengamat sosial politik sampai masyarakat awam. Oleh karenanya tidak ada salahnya saya membagikan artikel yang pernah saya tulis pada bulan November 2012 silam saat pecah konflik Israel dengan Palestina khususnya Gaza


Berdoalah Untuk Kedamaian Yerusalem
http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/11/berdoalah-untuk-kedamaian-yerusalem.html

Saudara-saudaraku,agar kita tidak terjebak pada euforia dan klaim-klaim yang berupaya menarik isyu konflik Israel-Palestina sebagai konflik keagamaan (Yahudi-Islam, Kristen-Islam), selayaknya kita merenungkan sejumlah data-data berikut yang dapat berfungsi sebagai peta jalan (road map) agar kita memiliki cara berfikir yang lebih luas dan tidak terpolarisasi oleh berbagai sentimen keagamaan. Silahkan data-data berikut dicermati dan mulailah membuat keputusan bijaksana menyikapi konflik Israel-Palestina.

MENCARI DAN MEMILIH PEMIMPIN: PERAN DAN PARTISIPASI ORANG KRISTEN DALAM PILPRES

Posted by Teguh Hindarto



Pada tanggal 9 Juli 20014, bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi besar bernama Pilihan Presiden (Pilpres). Masing-masing kubu kedua kandidat telah bekerja keras menggerakkan mesin-mesin partai pengusung untuk memobilisasi massa pendukungnya menyukseskan kandidat yang mereka pilih. Suasana sosial semakin panas dengan interaksi yang bersifat disasosiatif (persaingan – lawannya interaksi asosiatif atau kerjasama). Berbagai black campaign (kamanye hitam) bertebaran dimana-mana baik di media sosial (facebook, tweeter, website) maupun media cetak (Koran, majalah, tabloid, dll).

Umat Kristen sebagai bagian dari kehidupan sosial politik di Negara Indonesia harus pula terlibat dalam proses pemilihan pemimpin atau presiden. Tindakan Golput (golongan putih) alias tidak menentukan sikap dan pilihan merupakan bentuk ketidakpedulian terhadap nasib bangsa dan negara. Khususnya mereka yang melakukan Golput Ideologis.

Direktur Research Director Charta Politika, Yunarto Wijaya, menyatakan ada tiga jenis Golput yaitu yang pertama adalah Golput Administratif. Ini adalah masyarakat yang tidak memilih karena masalah administrasi kependudukan yang tidak jelas, seperti tidak terdaftar dan sebagainya.Yang kedua adalah Golput Teknis. Ini adalah orang-orang yang tidak memilih karena pada hari pemilihan mereka berhalangan. Ia  menjelaskan bahwa banyak pemilih yang lebih memilih melakukan kegiatan lain, seperti berlibur, daripada mengunjungi tempat pemungutan suara (TPS). Yang ketiga adalah Golput Ideologis atau politis. Ini adalah golongan orang-orang yang tidak memilih karena alasan apatisme dan skeptisme (1).

Berkaitan dengan pemilihan presiden 2014 ini, bagaimana orang Kristen mendasari tindakannya untuk terlibat dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam proses pemilihan pemimpinnya untuk 5 tahun ke depan? Ada tiga pembahasan yang dapat menjadi pedoman bagi setiap orang Kristen sebelum menentukan pilihan mengenai pemimpin yang akan dipilihnya.

REVOLUSI BELUM SELESAI, REVOLUSI MENTAL

Posted by Teguh Hindarto

 

Beberapa hari setelah Jokowi dan Romo Benny menuliskan artikel “Revolusi Mental”[1], muncul tanggapan dari Munir As. Dalam artikelnya di media on line Kompasiana dan membuat tudingan bahwa artikel tersebut saling kait mengait atau hasil dari plagiasi diantara keduanya sebagaimana dikatakan: “Tulisan Jokowi “Revolusi Mental” di Kompas bikin geger dan memalukan. Pasalnya, berbarengan dengan tulisan Jokowi, Tulisan dengan judul yang sama “Revolusi Mental” oleh Romo Benny Susetyo muncul di harian Sindo (Edisi 10 Mei 2014). Patut dicurigai, dua tulisan ini saling mengekor. Atau dua tulisan ini mempecundangi Koran sekelas Kompas dan Sindo. Rasanya tak mungkin Romo Menjiplak tulisan Jokowi. Yang paling mungkin Jokowi menjiplak Romo Benny. Jokowi tak pernah punya record sebagai penulis, apalagi kolumnis. Tapi sekali lagi, yang kotor tetaplah kotor. Dari paragraph awal tulisan Romo Benny, sudah terendus, bahwa tulisan Romo dan Jokowi saling memintal”[2].

Istilah “Revolusi Mental”, Siapa Memplagiat Siapa?

Benarkah keduanya saling memplagiasi satu sama lain? Atau keduanya merujuk pada sebuah satu sumber gagasan yang sama untuk kemudian direaktualisasikan dalam konteks kekinian?

Jika kita sedikit menarik ke belakang dan belajar dari sejarah, istilah “Revolusi Mental” bukanlah barang baru dan bukan karya orisinil baik Romo Benny maupun Jokowi. Kedua tokoh masyarakat dan salah satunya adalah calon presiden hanya menggemakan dan menghidupkan kembali istilah dan roh di dalam istilah yang pernah dikemukakan oleh Presiden Soekarno.

Pada tanggal 17 Agustus 1962 silam, Presiden Soekarno menyampaikan pidato pada Hari Proklamasi dengan tema, “Tahun Kemenangan”. Pada saat itulah muncul pernyataan “revolusi belum selesai” dan “revolusi mental”. Saya kutipkan pidato tersebut sbb:

Kita juga dapat menamakan tahun 1949-1950 satu Tahun Kemenangan. Kita juga tidak dapat menyangkalnya dan tidak seorangpun mau menyangkalnya. Akan tetapi dapat segera saya tambahkan di sini, bahwa kemenangan tahun 1949 itu adalah satu kemenangan dari Revolusi phisik semata-mata, dan satu kemenangan yang kita peroleh dengan babak-belur, dédél-duwél, babak-bundas.

Revolusi kita pada waktu itu belum meliputi Revolusi Mental. Belum berpijak kepada Manipol-USDEK! Revolusi kita pada waktu itu belum merupakan benar-benar satu Revolusi Multicomplex, yang meliputi Revolusi phisik, Revolusi mental, Revolusi sosial-ekonomis, Revolusi kebudayaan. Revolusi kita pada waktu itu boleh dikatakan semata-mata ditujukan kepada mengusir kekuasaan Belanda dari Indonesia. Maka sesudah kekuasaan Belanda terusir, sesudah khususnya kekuasaan politik Belanda lenyap dari bumi Indonesia, menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang tidak mempunyai pegangan yang tertentu. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang oleh seorang fihak Belanda dinamakan "Een Revolutie op drift". Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang tanpa arah. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang penuh dengan dualisme. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang tubuhnya bolong-bolong dan dimasuki kompromis-kompromis dan penyeléwéngan-penyeléwéngan. Hampir-hampir saja kemenangan 1949 itu merupakan satu Kemenangan Bohong, satu Pyrrhus-overwinning, satu kemenangan sementara, satu kemenangan satu hari yang merupakan satu permulaan daripada Keruntuhan Total!”[3]

Dari kutipan pidato Presiden Soekarno nampaklah pada kita sekalian bahwa beliaulah penggagas ide mengenai “Revolusi Mental”. Istilah Revolusi Mental merupakan kelanjutan dari revolusi sebelumnya yaitu Revolusi Fisik dan merupakan bentuk-bentuk revolusi yang beraneka ragam untuk meneruskan perjuangan di zaman Revolusi Fisik (beliau mengistilahkan dengan, Revolusi Multicomplex, yang meliputi Revolusi phisik, Revolusi mental, Revolusi sosial-ekonomis, Revolusi kebudayaan).

KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DAN PENODAAN NILAI-NILAI PANCASILA

Posted by Teguh Hindarto



Pada tanggal 1 Juni 1945, dihadapan peserta sidang BPUPKI Soekarno menyampaikan pidato yang dikenal dengan lahirnya Pancasila. Bukan hanya Soekarno namun Muh Yamin pun mengemukakan rumusan mengenai dasar negara sebanyak lima perkara namun pidato dan istilah yang dikemukakan Soekarno akhirnya diterima sebagai Philosofisch grondslag. Apa itu Philosofisch grondslag itu? Soekarno mendefinisikan, “Philosofisch grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnja, djiwa, hasrat jang sedalam-dalamnja untuk diatasnja didirikan gedung Indonesia Merdeka jang kekal dan abadi”[1}

Rumusan Pancasila dalam perkembangannya mengalami perubahan urutan dan penataan istilah hingga rumusan yang berlaku saat ini, mulai dari rumusan Pancasila menurut Piagam Jakarta, Hasil BPUPKI, Hasil PPKI, Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), rumusan MPR 1966, hingga rumusan Populer[2].

Rumusan Pancasila yang dikenal saat ini menempatkan prinsip “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam urutan pertama sekalipun Soekarno saat merumuskan Pancasila menempatkannya pada urutan paling terakhir yaitu urutan kelima. Berbicara mengenai urutan pertama atau sila pertama dari Pancasila yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, menarik mendengar pidato dan penjelasan Soekarno sebagai penggali dan pencetus Pancasila. Selengkapnya beliau berkata:

Saudara-saudara, apakah prinsip kelima? Saja telah mengemukakan 4 prinsip:
  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan
  3. Mufakat,-atau demokrasi
  4. Kesejahteraan sosial
Prinsip jang kelima hendaknya: Menjusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan jang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan sadja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannja sendiri. Jang Kristen menjembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, jang Islam bertuhan menurut petundjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Budha mendjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab jang ada padanja. Tetapi marilah kita semuanja ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara jang tiap-tiap orangnja dapat menjembah Tuhannja dengan tjara yang leluasa. Segenap rakjat hendaknja ber-Tuhan setjara kebudayaan, ja’ni dengan tiada ‘egoisme-agama’, Dan hndaknja Negara Indonesia satu Negara jang bertuhan[3].

MENGUJI GUGATAN HERMENEUTIS TOKOH ISMAEL DALAM KITAB TANAKH VERSI MASORETIK

Posted by Teguh Hindarto



MENGUJI GUGATAN HERMENEUTIS TOKOH ISMAEL 
DALAM KITAB TANAKH VERSI MASORETIK

Resensi dan Tanggapan Kritis Terhadap Buku Karya Menahem Eli 
(Dosen Filologi Islam Asia Tenggara dan Studi Semitik, UNAIR)

"Ishmael Dalam Mushaf Masorah Ben Asher dan Naskah Khirbet Qumran" 

Harga Rp. 60.000 (sudah dengan ongkir). Edisi E-Book Rp. 20.000
Pemesanan: 081327274269

 
DAFTAR ISI

PENGANTAR…………………………………………………………….............................3

BAB I
Resensi dan Pandangan Umum……………………………………………...................8
 
BAB II
Apakah Agama Islam Merupakan Warisan Agama Abraham?....................13
 
BAB III
Benarkah Ishak dan Ishmael Berkedudukan Sejajar?...................................28
 

Benarkah Otentisitas Naskah Masoretik Bermasalah Dalam Melaporkan Status Ishmael 
Dibandingkan Naskah Laut Mati?.....................................................................36

BAB V
Keturunan Ishmael Berjasa Sebagai Penemu Naskah Qumran,
So What?................................................................................................................73
 
BAB VI
Mempertanyakan Logika Taman Eden Sebagai Tanah Perjanjian 

Bagi Keturunan Ishmael………………………………………………………..................92


PENGANTAR



Umat Muslim berusaha untuk meyakinkan umat Yudaisme dan Kristen jika agama Islam yang diwartakan oleh Muhamad memiliki rujukannya dalam Taurat dan Injil, maka beraneka ragam buku diterbitkan untuk meyakinkan pembaca Yudaisme dan Kristen. Buku “Muhammad in The Bible” karya Prof. Abdul Ahad Dawud (nama aslinya, David Benjamin Keldani)”[1] (2008) adalah upaya terkini untuk menebarkan keyakinan tersebut melalui kajian yang nampaknya ilmiah teologis dengan melakukan sejumlah analisis bahasa Ibrani, Aram, Arab dari seorang yang mengaku mantan petinggi gereja dan seorang intelektual Katolik ritus Kaldea


Buku dengan judul, “Israel Dalam Mushaf Masorah Ben Asher dan Naskah Khirbet Qumran[2] adalah buku yang memiliki gema yang sama namun dengan pendekatan yang lebih sofistik dan bertujuan membangun sebuah pengakuan terhadap keberadaan Ishmael sebagai keturunan Abraham yang setara dengan Ishak sebagaimana dinyatakan oleh penulisnya, “Terbitnya buku ‘Israel Dalam Mushaf Masorah Ben Asher dan Naskah Khirbet Qumran: Tafsir Rashi dan Rabi Saadia Gaon’ ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada semua komunitas lintas iman yang berada pada naungan rumpun agama-agama  Semitik, terutama kaum Kristiani agar juga mulai merefleksi diri dan menelaah ulang atas penggambaran karakter Ishmael yang selalu disalahpersepsikan. Kekeliruan pencitraan yang amat negatif terhadap karakter sosok Ishmael dalam Alkitab justru dapat memanipulasi pesan nubuatan kenabian Ishmael sebagaimana yang dikehendaki oleh nas kitab suci itu sendiri. Oleh karena itu, penerbitan buku ini dipandang penting dalam mendedah ketidaktahuan dan prasangka umat beriman akibat kesalahpahaman mengenai Ishmael, anak Abraham berdasarkan kajian filologi, linguistik dan arkeologi” (hal xxiii).


Buku ini memiliki nilai lebih dan nampak berbeda dibandingkan penulis-penulis Islam lainnya khususnya di Indonesia dikarenakan penulisnya menguasai bahasa-bahasa Semitik baik itu Ibrani, Aram, Arab dan dihampir setiap pembahasan masing-masing bab menyertakan kajian teknis berupa analisis filologis sebagaimana dia jelaskan dalam tujuan penulisan buku ini. Bukan hanya menguasai bahasa-bahasa Semitik dan menerapkan metode filologi tersebut dalam pembahasan bukunya namun yang menarik adalah akses Menahem Eli selaku penulis buku kepada karya-karya rabinik Abad Pertengahan seperti Saadia Gaon al Fayyumiy (892-942 Ms), Rabi Shlomo ben Yitzhaq – Rashi (1040-1105 Ms) dan menjadikan bahan rujukan tafsir untuk melengkapi analis teks dalam buku yang ditulisnya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat latar belakang genetis penulis yang mewarisi darah Yahudi dan seorang dosen bidang Filologi Islam Asia Tenggara yang memiliki kecakapan akademis dibidang bahasa-bahasa Semitik baik Ibrani, Aram, Arab. 


Metodologi pengkajian sedemikian masih terbilang jarang dilakukan oleh para penulis Muslim khususnya di Indonesia selain disebabkan kekurangan akses kepada karya-karya Rabinik dan selain itu bias pemahaman terhadap Yahudi dan Yudaisme yang masih mendominasi dan menghegemoni pemahaman banyak penulis Muslim di Indonesia sehingga menjauhkan mereka untuk melakukan studi dan penelaahan dengan melibatkan sumber-sumber literatur Yudaisme. Setidaknya belum muncul intelektual Muslim sekelas Mohamed Hawary[3], seorang profesor kajian bahasa Ibrani dan pemikiran Yahudi di Universitas Ain Syams, Kairo yang melibatkan kajian Yahudi dan Yudaisme sebagai bagian dari kajian akademik di Indonesia.

HARUSKAH GELAR KURIOS (ADON) BAGI YESUS DITERJEMAHKAN TUHAN?

Posted by Teguh Hindarto

Dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani dikenal sejumlah terminologi (peristilahan) baik yang dihubungkan dengan Ketuhanan maupun jabatan kemanusiaan. Istilah “Theos” dan “Kurios” adalah sejumlah istilah yang kerap muncul dan dipergunakan dalam penulisan dibanding sejumlah istilah lainnya seperti: Pantokrator, Despotes dll. Dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Aramaik seperti Peshitta kedua gelar tersebut diterjemahkan “Alaha” dan “Maran”. Sekalipun kita tidak memiliki naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Ibrani dari periode Abad 1-3 Ms namun kita memiliki sejumlah naskah Injil Matius dalam bahasa Ibrani yang ditulis pada Abad XV Ms seperti Shem Tov, Munster, Du Tillet, Crawford, dimana istilah “Theos” dan “Kurios” dipadankan dengan “Elohim” dan “Adon”. Sementara di Abad XX Ms tersedia Kitab Perjanjian Baru versi terjemahan bahasa Ibrani Salkinson dan Ginsburgh (New Testament) dan Franz Delitsch (Hebrew Gospel) yang menerjemahkan kedua istilah Yunani di atas dengan “Elohim” dan “Adon”.

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) telah menerjemahkan kedua istilah di atas yaitu “Theos” dan “Kurios” dengan “Allah” dan “Tuhan”. Dalam artikel berjudul, “Meninjau Ulang Penggunaan Nama Allah Dalam Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia”[1] saya telah mengulas kekeliruan penggunaan nama Allah untuk menerjemahkan istilah “Theos” atau “Elohim” yang berujung pada berbagai kerancuan terminologis. Dan saya mengusulkan opsi istilah “Tuhan” dan “Sesembahan” sebagai pengganti istilah Allah. Dan dalam artikel berjudul, “Pemahaman Mengenai Sebutan Kurios Bagi Yesus Sang Mesias”[2] saya pun meredefinisi istilah “Tuhan” bagi Yesus menjadi beberapa opsi yaitu “Tuan” dan “Junjungan Agung” serta “Junjungan Agung Yang Ilahi”.

Artikel berikut hendak memperdalam dan mempertajam sebuah upaya kritis dan “gugatan kebahasaan” terhadap penerjemahan kata “Kurios” bagi Yesus yang diterjemahkan “Tuhan” oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Makna Kata “Theos” dan “Kurios”

“The Theological Wordbook of The Old Testament” memberikan penjelasan mengenai kata Yunani “Theos” dan “Kurios” serta kata Ibrani “Elohim” dan “Adon” sbb:

“Theos[3]:  as the supreme divine being, the true, living, and personal God”[4]

Kurios : one having legal power lord, master.  

Adon. Lord, Lord, LORD, master, owner….Adon usually refers to men[5]

Elohim : is the assumed root of El, Eloah, and Elohim, which mean "god" or "God[6]
 
Dari analisis tekstual diatas, istilah Yunani “Theos” dan “Kurios”, setara dengan sebutan “Elohim” dan “Adon” dalam bahasa Ibrani. Sebutan “Kurios”, “Adon”, “Mar” serta “Maran”, dapat dikenakan kepada manusia, orang terhormat, raja, tuan tanah, orang kaya, bangsawan, dll namun juga dapat dikenakan untuk menyapa Sang Pencipta. Sementara sebutan “Theos”, “Elohim”, “Alaha”, “Elah”, hanya patut ditujukan bagi yang “dipertuhan”. Dalam konteks paganisme, tentunya petung dewa-dewa dapat disebut elohim atau theos. Sementara dalam konsep monoteistik Yudaisme dan Kekristenan, sebutan “Theos” atau “Elohim”, menunjuk kepada Bapa Surgawi, yaitu YHWH sebagai Tuhan Pencipta.