RSS Feed

SELFIE, SELF, KNOW SELF

Posted by Teguh Hindarto


Beberapa hari lalu, saat di Yogyakarta. Seperti biasa jika mampir ke kota di mana saya pernah menimba ilmu untuk memperoleh gelar sarjana, saya selalu menyempatkan diri mampir ke sebuah warung steak kegemaran saya. Saat menunggu pesanan tiba, saya memperhatikan sekelompok anak-anak muda penuh tawa ria bercanda sambil menunggu pesanan yang sama dengan saya. Saat pesanan mereka tiba, ada sebuah pemandangan yang menarik dan untuk pertama kali saya lihat dengan mata kepala tanpa gambar perantara. Dengan memasang pose masing-masing di hadapan hidangan yang tersedia, berlangsunglah ritual modern menjelang makan di kalangan anak muda. Ya..."Selfie" namanya.

Sejak tahun 2002, istilah "Selfie" mulai dikenal dalam media sosial semacam facebook, instagram, whatsap dll. Istilah ini pertama kali muncul dalam sebuah forum internet Australia (ABC Online) pada tanggal 13 September 2002. Istilah Selfie berasal dari kata Self (diri) dan bermakna bermakna foto diri sendiri yang diambil oleh diri sendiri melalui penggunaan kamera digital atau hand phone yang memiliki fasilitas kamera digital di dalamnya. Dalam dunia industri hiburan Korea dinama "Selca" (self camera). 

BUKAN UNTUK MENJADI TUAS DAN SEKRUP: PANGGILAN UNTUK PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN

Posted by Teguh Hindarto



Bulan Agustus ini kita bukan hanya dihadapkan pada ritualitas tahunan untuk memelihara kesadaran kebangsaan melalui perayaan kemerdekaan yang jatuh pada tiap tanggal 17 Agustus, namun juga menjadi bulan kesibukkan orang tua murid atau calon mahasiswa mempersiapkan jenjang pendidikkan di perguruan tinggi. Pendidikkan formal tetap akan menjadi idaman bagi setiap orang tua dan orang muda karena melalui pendidikkan formal yang dijalani, seseorang akan dapat menjalani – dalam Sosiologi diistilahkan – Social Mobility (mobilitas sosial) khususnya Social Climbing (pendakian status sosial).

Berbicara perihal istilah pendidikan, J. Drost, SJ seorang tokoh pendidikan Katolik paling tidak sepakat dengan penyamarataan perihal pendidikan dan pembelajaran atau pengajaran dan memilahkannya dengan tegas sebagai dua substansi yang berbeda. Bahkan istilah pendidikan formal-non formal pun beliau tidak menyepakatinya. Baginya pendidikkan formal adalah istilah yang tidak tepat. Menurutnya, “Hampir semua orang kita akan mengatakan: kedua-duanya sama. Itulah malapetaka atau musibah yang melanda dunia persekolahan kita. Karena yang diadakan di sekolah terutama pengajaran bukan pendidikan. Dengan kegiatan pendidikkan dimaksud menanamkan nilai-nilai ke dalam budi orang. …Jadi, kesimpulan yang paling mendasar ialah bahwa lembaga pertama dan utama pembentukkan dan pendidikan adalah keluarga. Yang pertama-tama mengajarkan kepada anak pengetahuan akan (Tuhan), pengalaman tentang pergaulan manusia dan kewajiban memperkembangkan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain adalah orang tua” (Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikkan, 1999:1-2). Jika keluarga adalah pusat pendidikkan dan penanaman nilai-nilai baik religius maupun moral maka menurut J. Drost, SJ maka sekolah adalah lembaga formal yang dipercayakan pada masyarakat dan pemerintah untuk proses pembelajaran dengan tujuan membangun kecakapan intelektual sebagaimana dikatakan, “Salah satu bantuan yang diberikan kepada orang tua oleh masyarakat adalah pembentukkan manusia muda pada bidang intelektual. Dan proses pembentukkan ini berlangsung dalam lembaga yang disebut sekolah. Dan proses itu disebut proses mengajar-belajar atau proses pembelajaran, yang berarti usaha menjadi orang lain belajar…Jadi tujuan utama pengajaran ialah usaha agar intelek setiap pelajar berkembang sepenuhnya seukuran talenta” (Ibid.,).

BERI AKU SEBUAH PERSPEKTIF

Posted by Teguh Hindarto

Dalam sebuah petikkan film animasi berjudul Ratatouille (2007) yang mengisahkan obsesi seekor tikus bernama Remy yang berkolaborasi dengan seorang anak Chef terkenal Auguste Gusteau yang bernama Linguini Gusteau, ada percakapan menarik dan menggelikan dari pelayan yang gemetar ketakutan saat mendatangi meja Anton Ego, seorang kritikus masakan restoran. Berikut penggalan percakapannya,

Pelayan: “Sudah tahu apa yang Anda pesan malam ini pak?”

Anton Ego: “Ya, sudah. Setelah membaca tulisan berlebihan tentang juru masak barumu, tahu apa yang aku inginkan?....Sedikit perspektif…Itu dia, aku butuh perspektif yang segar, jernih dan mendalam. Bisa sertakan anggur enak untuk menemaninya?

Pelayan: (sambil terbelalak dan menelan ludah) “Teman apa pak?”

Anton Ego: Perspektif. Sudah habis ya?

Pelayan: “Aku…”

Anton Ego: (seraya bangkit dari kursi dan mendekatkan wajah cekungnya pada pelayan) “Mengingat kau kehabisan perspektif dan tidak ada yang punya itu di kota ini, aku akan buat kesepakatan ini denganmu. Kau sediakan makanan, akan kusediakan perspektif itu yang enak jika ditemani sebotol anggul Drival Blanc 1947!”

Apakah maksud istilah perspektif dalam penggalan adegan tersebut? Dalam konteks alur film animasi dan peran tokoh Anton Ego, dia menginginkan sebuah sajian masakan yang khas dan orisinil dari restoran yang akan dia kritisi namun jika restoran yang dia kritisi tidak bisa menyajikannya maka dia sendiri yang akan memberikan tinjauan kritis atau perspektif dirinya yang akan menentukan kelangsungan dan masa depan restoran tersebut.

KESALEHAN DAN KEKERASAN: BENARKAH AGAMA BERWAJAH GANDA?

Posted by Teguh Hindarto


Agama, sejatinya berisikan aturan-aturan dan pedoman-pedoman bagaimana seseorang berinteraksi secara vertikal dengan “Keberadaan Yang Maha Tinggi” dan bagaimana berinteraksi secara horisontal dengan sesama manusia dalam kehidupan sosial. Muara akhir yang diharapkan dari pemahaman dan praktek beragama tentu saja sebuah kesalehan baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial. Namun anehnya, agama yang selalu menjadi simbol nilai-nilai kesalehan dan kebaikkan, sumber pandangan hidup, jawaban bagi persoalan-persoalan metafisika di sisi lain kerap tampil ke permukaan sebagai sebuah bentuk perilaku yang penuh kekerasan dan kemarahan yang diperlihatkan oleh segolongan orang atau beberapa kelompok masyarakat yang melakukan sejumlah kekerasan dengan mengatasnamakan agama. 

Akhir-akhir ini terjadi insiden dan kekerasan atas nama agama yang bersifat komunal berupa pembakaran vihara Budha di Tanjung Balai, Sumatra Utara (29/7/2016) yang diawali teguran seorang wanita etnis Tionghoa yang menegur volume azan mesjid telah memicu tindakan kekerasan dan pembakaran dan perusakan sarana ibadah di sejumlah vihara. Kejadian ini adalah kejadian kesekian dari kesekian kasus-kasus yang mengatasnamakan agama dimana sekelompok penganut agama merasa dirugikan kebebasan ekspresi keagamaannya atau merasa terusik saat perilaku agamanya ditegur oleh orang yang berbeda keyakinan atau adanya sebuah tudingan pelanggaran regulasi oleh salah satu penganut agama hingga kekerasan dan konflik atas nama agama bermuara. Kita masih ingat peristiwa insiden pembakaran mesjid di Tolikara, Papua beberapa waktu lalu (17/7/2015) yang dipicu pula oleh persoalan penggunaan speaker. Sebelumnya terjadi peristiwa pembakaran sejumlah gereja di Aceh Singkil (13/10/2015) yang ditengarai tidak berizin dan sekiranya akan dibongkar oleh Pemda Aceh justru telah didahului dengan peristiwa pembakaran oleh masyarakat.