RSS Feed

SIAPAKAH AZAZEL ITU?

Posted by Teguh Hindarto


Nama Azazel muncul dalam Kitab Imamat 16 sebanyak 3 kali yaitu dalam Imamat 16:8, 10, 26 sbb:

“dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi YHWH dan sebuah bagi Azazel

“Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan YHWH untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun”

“Maka orang yang melepaskan kambing jantan bagi Azazel itu harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan sesudah itu barulah boleh masuk ke perkemahan”

Siapakah sebenarnya Azazel itu? Jika kita membuka referensi tafsir baik tafsir Yudaisme dan Kristen serta berbagai literatur kuno seperti kitab-kitab Apokripha yang tidak termasuk dalam daftar kanon, ada beraneka ragam tafsir mengenai siapa dan bagaimana Azazel tersebut.

Azazel dalam Literatur Talmudik

Menurut tafsir rabi-rabi Yahudi dalam Talmud (Talmud adalah kumpulan tafsir, debat, pendapat para rabbi yang dikumpulkan dalam dua tahap yaitu pada tahun 200 Ms yang dinamai Mishnah dan pada tahun 500 Ms yang dinamai Gemara), Azazel dihubungkan dengan kata Azaz (kasar, curam) dan El (kuat) yang menunjuk pada pegunungan curam yang kasar dan terjal kemana kambing hitam akan dibuang pada Yom Kippur sejak zaman Bait Suci dibangun (Yoma 67b; Sifra Ahare ii.2; Targum Yerusalem Lev xiv.10)

Azazel dalam Tafsir Rabinik Abad Pertengahan

Menurut tafsir para rabi Yahudi di Abad Pertengahan seperti Nachmanides (1194-1270) menyamakan Azazel sebagai nama roh jahat yaitu Samael. Menurut Nachmanines, korban Azazel bukan diperuntukkan bagi Azazael sebagai dewa namun sebagai simbol yang menampilkan gagasan bahwa dosa dan kejahatan umat di buang ke dalam tempat penghancuran sebagai lambang ketidaksucian atau kenajisan. Terbukti dengan dibuangnyua salah satu kambing ke padang gurun menunjukkan bahwa  Azazael tidak setara dengan Tuhan. Sebaliknya kambing Azazael dikontraskan dengan kekudusan Tuhan.

Demikian pula dengan Maimonides (1134-1204) menyatakan, bahwa ritual ini merupakan simbolisasi karakter dan pengabdian untuk menekankan pada manusia sebuah pemikiran yang jelas dan menuntunya pada pertobatan seolah-olah mengatakan, “Kami telah membebaskan diri kami dari perbuatan-perbuatan-perbuatan sebelumnya. Buanglah ke belakang kami dan halaukan mereka dari kami sejauh mungkin”.

Azazael Dalam Literatur Apokrifa

Dalam referensi non Kanonik yaitu Kitab Apokripa khususnya Kitab Henok (ditulis sekitar tahun 300-200 sM dalam bahasa Aramaik, Ibrani. Salah satu pasal dari Kitab Henok yaitu Ps 1:9 dikutip dalam Kitab Yudas 1:14-15) dilaporkan mengenai nama malaikat yang jatuh bernama Azazel. Nama Azazael disebut beberapa kali dalam Kitab Henok yaitu 1 Henok 10:8 (melaporkan bahwa dunia yang telah rusak jatuh dalam kekuasaan Azazel), 1 Henok 2:8 (melaporkan penghukuman terhadap Azazel di api neraka oleh Tuhan), 1 Henok 8:1-3 (melaporkan bahwa Azazel mengajarkan pada manusia berbagai kepandaian membuat pedang, pisau, strategi perang, merias wajah dll. Namun kemudian Azazel mengakibatkan banyak kerusakan di bumi sehingga membuat para mailat seperti Raphael mengikat Azazel dan membuat lupang di padang Gurun Dudael (Bet ha Dudo) serta melemparkannya ke dalam tempat paling gelap)

Dalam naskah non Kanonik lainnya yaitu Wahyu Abraham (Apocalypse of Abraham) melaporkan mengenai Azazael yang dihubungkan dengan nama burung najis yang mendekati Abraham saat mempersembahkan korban. Burung tersebut berkata pada Abraham, “Apa yang sedang kamu lakukan di tempat tinggi ini Abraham? Di sini tidak ada minuman dan makanan bagi manusia? Semua akan dimakan oleh api dan membubung ke atas dan api itu akan melahapmu juga”. Kemudian saat Abraham melihat burung tersebut maka Abraham bertanya pada malaikat, “Apakah ini Tuan?” dan malaikat itu menjawab, “Ini adalah keaiban – inilah Azazel!”. Malaikat itu menghardik demikian, “Sungguh tidak tahu malu kamu, Azazel! Bagian Abraham adalah di Surga dan bagianmu adalah di bumi karena kamu telah memilih berada di sini dan terpikat pada tempat cemar di bumi. Oleh karenanya sang Pengatur Yang Kekal telah memberikan tempat bagimu di bumi. Melaluimu, semua roh-roh jahat adalah pendusta dan melaluimu datang kemarahan dan penggoidaan terhadap keturunan manusia yang hidupnya tidak saleh” (Abr 13:4-9). Dalam pasal-pasal berikutnya nama Azazel dihubungkan dengan penghukuman Tuhan bersama pengikut Azazael yaitu orang fasik (Abr 31:5 dan Abr 14:5-6)

Azazel Dalam Tafsir Kekristenan

Cyrilius dari Alexandria menggambarkan kata Yunani Apompaios dalam Septuaginta (Kitab TaNaKh dalam terjemahan Yunani) yang menerjemahkan kata Ibrani Azazel sebagai lambang Mesias yang akan dikorbankan. Origenes menghubungkan Azazel dengan Satan
Dari berbagai uraian sejarah dan lintas literatur kita menemukan aneka ragam pemahaman mengenai siapakah Azazel tersebut. Apakah dia nama dewa?, nama roh jahat? atau sebuah simbolisasi berbagai perbuatan jahat dan berdosa?

Dalam penafsiran saya, istilah Azazel bukan menunjuk nama dewa atau nama satan. Berbagai tafsir mengenai Azazel adalah nama dewa dan nama satan adalah tulisan belakangan setelah Kitab Kanonik dituliskan. Maka orisinalitas pendapatnya perlu diragukan. Azazel lebih menunjukkan pada simbolisasi berbagai karakter dan tindakan jahat umat manusia (dalam konteks ini adalah Israel sebagai bangsa) yang harus dikumpulkan dalam satu wadah dan itu dibuang ke tempat yang jauh (dalam konteks ini adalah padang gurun). Kesimpulan ini didukung melalui analisis Imamat 16: 21-22 sbb: “dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun”.

KEMATIAN DAN PERLAKUAN YANG BENAR TERHADAP ORANG MATI

Posted by Teguh Hindarto



Introduksi

Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Yesus Sang Mesias yang menyatakan bahwa barangsiapa yang percaya kepada-Nya sebagai Juruslamat dan Putra Tuhan serta memelihara perintah-perintah-Nya akan mendapatkan kehidupan kekal (Yoh 5:24-26; 11:25).

Persoalannya masih banyak orang Kristen yang belum memahami bagaimana memperlakukan orang yang sudah meninggal khususnya saat perawatan sampai dimakamkan serta bagaimana tata cara ketika kita datang ke makam orang tua atau saudara yang telah meninggal di dalam Tuhan.

Saya masih banyak menjumpai beberapa ketidaktepatan perihal perawatan hingga penguburan bahkan saat mengunjungi makam orang-orang yang sudah meninggal. Masih kerap dijumpai sejumlah orang Kristen memandikan mayat secara tidak tepat. Selayaknya dimandikan namun masih saja ada yang hanya membersihkan dengan mengelap badan orang yang sudah mati. Ada pula yang menempatkan Kitab Suci dalam gengaman tangan orang yang sudah meninggal, padahal Firman Tuhan diperlukan bagi orang yang masih hidup. Saat hendak menguburkan orang yang sudah meninggal tidak diadakan upacara pelepasan dan langsung dikuburkan. Masih pula dijumpai orang-orang Kristen yang tidak peduli dengan anggota keluarga  yang sudah terbaring di bumi, padahal kita memiliki kewajiban mengingat hubungan dengan mereka atau jasa-jasa mereka jika mereka orang yang berpengaruh. Masih banyak dijumpai bagaimana jenasah terbaring di rumah duka tanpa pendampingan keluarga dll.

Membicarakan kematian tidak dapat dilepaskan dengan pemahaman terhadap adanya manusia dan kehidupan. Kematian adalah kelanjutan dari sebuah kehidupan. Namun kematian muncul karena suatu sebab.

Hakikat Manusia

Pertama, ciptaan YHWH yang memiliki status “Gambar” (Ibr: Demut) dan “Keserupaan” (Ibr: Tselem) dengan YHWH (Kej 1:26-27). Kedua, ciptaan yang diambil dari bahan “debu tanah” (Ibr: Afar) yang dibentuk dan mendapatkan “nafas Tuhan” (Ibr: Nishmat) (Kej 2:7). Manusia adalah mahluk yang memiliki kesadaran baik intelektual maupun spiritual dalam tubuhnya dikarenakan ada “nafas Tuhan” dalam dirinya (Ayb 32:8 ; 33:3)

Hakikat Kematian

Kitab Suci mengatakan, buah dosa adalah maut (Rm 6:3). Manusia pertama melanggar perintah YHWH untuk tidak memakan Buah Pengetahuan Baik dan Buruk (Kej 3), sehingga menyebabkan mereka terkutuk dan berujung pada kefanaan. Kefanaan, kematian secara teologis adalah buah dosa. Manusia yang berdosa berpotensi dan mewarisi maut dalam dirinya. Secara lahiriah, kematian adalah terpisahnya roh atau nafas Tuhan dalam tubuh manusia. Penyebabnya bisa dikarenakan sakit, usia tua, kecelakaan, pembunuhan, dll. Secara spiritual, kematian adalah kembalinya manusia ke hadirat Tuhan yang telah menciptakannya.

Tempat Tinggal Orang Mati

Tempat tinggal manusia yang telah mengalami kematian di bumi dinamai dengan beraneka ragam istilah al., “kuburan” (haqever), “tempat kebinasaan” (avadon), “kegelapan” (khosyek), “negeri lupa” (erets neshiya), “dunia orang mati” (she’ol) (Mzm 88: 11-13)


Keadaan Manusia Yang Sudah Meninggal

Manusia yang mengalami kematian “tidak memiliki kekuatan” (lo yekhelash), “tidak bangkit dari kematian” (lo yaqum), “tidak terjaga” (lo yaqishu), “tidak bangun dari tidurnya” (lo ye’oru) (Ayb 14:10-12, 14)

Dua jenis Orang Mati

Ada dua jenis orang mati. Orang Benar (Tsadik) dan Orang Jahat (Reshaim). Kitab TaNaKh tidak banyak memberi informasi apa yang terjadi atas Orang Benar dan Orang Jahat setelah kematian mereka. TaNaKh lebih menekankan kematian sebagai ketidakberdayaan dan keterpisahan. TaNaKh lebih menekankan pada kehidupan dan bagaimana mengisi kehidupan dengan Torah sebagai penuntun dan pengajar. Hanya dalam beberapa Kitab seperti Yesaya memberikan gambaran mengenai “Pengadilan atas bumi” (Yes 24:21-23) dan “Hari Kebangkitan Orang Mati” dimana Orang Benar maupun Orang Jahat akan menerima upah (Dan 12:2-3).

Apakah Orang Mati
Dapat Berkomunikasi Dengan Orang Yang Hidup?

Apakah orang yang sudah mati dapat “berkomunikasi dengan orang yang hidup?”, “mengganggu orang yang hidup?” Pembacaan Mazmur 88:11, menyatakan, “im refaim yaqumu yoduka?” (apakah roh orang mati dapat bangkit bersyukur). Ini bermakna bahwa orang yang telah terpisah rohnya dengan tubuhnya tidak dapat berhubungan, berkomunikasi, mengganggu dengan orang-orang yang masih hidup. Menurut Pengkhotbah 12:7, “weyashav he’afar al haarets keshehaya, weharuakh tashuv el ha Elohim asher netanah” (dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Tuhan yang mengaruniakannya)”. Mereka yang telah meninggal, rohnya (arwahnya) telah kembali pada Tuhan. Lalu bagaimana menjelaskan berbagai fenomena tentang hantu, orang-orang mati yang berkomunikasi dan mengganggu orang yang hidup? Mereka adalah shatan yang menyamar. Shatan dapat menyamar menjadi Malaikat terang. Kitab Injil (Besorah) memberikan penegasan mengenai “jurang yang memisahkan” (Yun: “chasma mega “) antara orang mati yang satu dengan yang lain (Luk 16:26). Kitab Injil (Besorah) membedakan antara “Surga” (Ibr: Malkut haShamayim/Yun: Basilea Ouranoi) dan “Neraka” (Ibr: Gehinom/Yun: Gehena). Neraka adalah tempat penuh dengan api dan ratapan kesakitan serta kertakan gigi (Luk 16: 24, Why 20:15; 21:8). Surga adalah tempat yang indah dan penuh dengan kemuliaan Tuhan (Why 21-22).

Namun kita tidak menolak pengalaman rohani tertentu dimana dari banyak kesaksian yang kami kumpulkan dan sering kami alami bahwa orang-orang beriman yang sudah meninggal dapat memperlihatkan diri sekalipun tidak dapat berkomunikasi atau kalaupun berkomunikasi dengan seijin malaikat yang mengiringi mereka (ini adalah pengalaman  pribadi bukan doktrin).

Apa Yang Kita Bawa Saat Meninggal?

Ada satu hal yang diabaikan oleh orang Kristen perihal apa yang akan dibawa saat orang Kristen meninggal dan menghadap Tuhan? Ada banyak perilaku tidak biblikal dari orang-orang Kristen dimana saat jenasah dimasukkan peti diberi Kitab Suci di tangannya. Bukankah Kita Suci seharusnya dibaca dan direnungkan oleh orang-orang yang hidup?

Kitab Suci baik TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru mengajarkan perihal fungsi dan kedudukan serta nilai perbuatan baik dalam kekelalan. Kita akan mengkajinya secara singkat.

Fungsi Dan Kedudukan Perbuatan Baik

Sebelum kita mengupas nilai dari perbuatan baik hendaklah kita memahami fungsi dan kedudukan perbuatan baik dalam kehidupan pengikut Mesias.

Rasul Yakobus (Ya’aqov) mengatakan sbb: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:14-17).

Fungsi perbuatan adalah MENYEMPURNAKAN dan MEMBUKTIKAN bahwa seseorang memiliki iman sebagaimana dikatakan: “Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18) dan “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2:22).

Rasul Paul mengatakan dalam suratnya bahwa Kitab Suci dapat melengkapi kita dengan pedoman-pedoman berbuat baik. Muara akhir pembacaan dan pemahaman atas Kitab Suci adalah berbuat baik sebagaimana dikatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim 3:16-17). Perbuatan baik adalah PENGAMALAN seseorang akan perintah-perintah Tuhan.

Nilai Dan Upah Perbuatan Baik

Setelah kita mengulas fungsi dan kedudukan perbuatan baik marilah kita menggali nilai dan upah dari perbuatan baik.

Rasul Paul mengatakan sbb: “Jangan sesat! Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:7-9).

Dalam suratnya yang lain Rasul Paul mengingatkan sbb: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:6-8)

Dua kutipan surat di atas memberikan penegasan pada kita bahwa seberapa banyak yang kita perbuat entah menolong orang atau memberikan tsedaqah kita dalam bentuk harta kepada yang memerlukannya, akan BERDAMPAK dalam kehidupan kita. Seberapa banyak kita berbuat, demikianlah yang akan kita terima dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, janganlah jemu dalam berbuat kebajikan agar kita memperoleh kebajikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan di dunia ini.

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 3

Posted by Teguh Hindarto


AJARAN ALKITAB MENGENAI SABAT


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Dan hari Sabbat sebagai peringatan hari perhentian (penguburan) Kristus itu dirayakan dengan menjalankan ibadah sembahayang senja, yang lambang-lambang ibadah itu secara detail menggambarkan keberadaan Kristus dalam kuburan tadi. Dengan demikian hari Sabtu tak dilanggar, ketetapan-ketetapan Tauratpun tak dilanggar, karena sekarang kita bebas dari ketentuan Sabbat dalam Taurat, namun terikat dengan Kristus dalam peringatan deritanya tadi. Namun karena hari Tuhan itu adalah hari Pertama tadi, yaitu pada hari Minggu, dimana pada hari Tuhan ini kita dipersatukan dengan Tubuh Tuhan yang bangkit itu melalui perayaan Perjamuan Kudus yang dirayakan setiap kali kita bertemu pada hari Tuhan ini. Jadi jelas Minggu itu bukan Hari Sabbat, namun hari Tuhan. Ini bukan perayaan hari perhentian namun perayaan hari Kebangkitan. Sedangkan Sabtu itulah Sabbat, namun bukan sebagai tanda Perjanjian Keluaran dari Mesir, justru sebagai peringatan hari Perhentian Kristus dalam kuburan. Dengan demikian Sabtu itu bukan hari terpuncak, namun harus dimeteraikan oleh Hari Kebangkitan ( Hari Ahad = Hari Pertama).
---------------
Pernyataan Romo Daniel Byantoro di atas cukup menggembirakan saya, dimana dalam Gereja Orthodox, Sabat tidak ditiadakan dan digantikan dengan hari Minggu dan tetap dirayakan dengan ibadah senja. Namun disayangkan, bahwa sejumlah tesis yang dibangun dalam menguraikan Sabat (sebagaimana sudah saya tanggapi di atas), mendudukan Sabat dalam posisi vis a vis dengan Yesus dan memberikan kesan kuat bahwa Yesus memberikan petunjuk secara langsung dan tidak langsung bahwa Yesus mengubah fungsi dan makna Sabat melalui kematian dan kebangkitan dirinya.

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Adalah suatu kekeliruan besar jika kita mengatakan bahwa Sabbat itu sudah diganti hari Minggu. Dalam kalender resmi Orthodox yang juga kelender nasional negara Yunani hari Sabtu itu disebut “Sabbato”. Jelas Sabbat itu hari Sabtu. Dan juga suatu kekeliruan besar mengatakan bahwa hari Minggu atau “Hari Tuhan” itu berasal dari perayaan kafir. Sabbat tetap Sabtu, seperti yang sudah kita katakan, namun itu harus dimeteraikan oleh perayaan hari kebangkitan yaitu Hari Minggu. Bagaimana suatu peringatan dari peristiwa maha penting ini dianggap sebagai perayaan agama kafir, adalah suatu yang merupakan teka-teki besar?
------------
Sejak Abad ke-2 Ms, muncul suatu kesadaran baru bahwa Yesus yang bangkit dari kematian, pada hari pertama minggu itu, dimaknai sebagai suatu bentuk hari beribadah Kekristenan non Yahudi, yang setara dengan sabat Yahudi. Gejala ini semakin memuncak saat Kekristenan menjadi agama negara dibawah pengaruh kaisar Konstantin. Pada tahun 321, dia mengeluarkan ketetapan yang disebut Edik Milano sbb: "pada saat hari Matahari yang diagungkan, biarlah para pegawai pemerintah dan rakyat beristirahat di kota-kota dan hendaklah semua toko-toko ditutup. Namun demikian, di kota dimana masyarakat sibuk dalam pertanian, dibebaskan dan diijinkan untuk melanjutkan kegiatannya; sebab hal itu hanya dapat dilaksanakan pada hari itu dan tidak dapat pada hari lain untuk menebar benih atau menanam anggur. Dengan mengabaikan waktu yang tepat untuk bekerja, maka rahmaat surgawi akan hilang" (Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p. 143).
Harry R. Boer memberi komentar terhdap keputusan dalam Edik Milano sbb: It is noteworthy that Constantine did not relate his legiaslation to Christian practice or to the Fourth Commandement. He designated Sunday by its traditional pagan name, the Day of the Sun, not the Shabath or the Day of the Lord. Pagans could therefore accept it. Christians gave the natural sun a new meaning by thinking of Christ the Sun of Rigteousness" (Patut dicatat baahwasanya Konstantin menghubungkan ketetapannya, tidak berhubungan dengan ibadah Kristen atau Hukum yang keempat dari Sepuluh Hukum. Dia menghubungkan hari Minggu melalui nama kekafiran yang secara tradisional disebut Hari Matahari, bukan Hari Sabat atau Hari Tu(h)an. Orang-orang kafir selanjutnya dapat menerima hari itu. Orang-orang Kristen memberikan tabiat matahari dengan makna baru dengan menghubungkan Mesias sebagai Matahari Kebenaran, ibid). 
Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Bahwa pertemuan hari minggu itu akhirnya menjadi kebiasaan umat Kristen; dapat kita lihat dari Kisah 20:7 “ pada hari pertama dalam Minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti” juga dalam tulisan Paulus” pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing… menyisihkan sesuatu “( 1Kor 16:2).
--------------
Kisah Rasul 20:7, diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, sbb : "Pada hari pertama minggu itu,...". terjemahan ini mengesankan bahwa sakramen Perjamuan Kudus dilaksanakan tiap-tiap hari minggu. Dalam naskah Yunani dituliskan, "en de te mia ton sabbaton sunegmenon hemon klasai arton Paulos dielegeto hautois". Dalam naskah Yunani saja tertulis kata 'sabat', mengapa dalam terjemahan Indonesia tidak tertulis? Teks diatas selayaknya diterjemahkan “Pada hari pertama usai Sabat itu…”. Kata “en de te mia” , menurut DR. David Stern, menunjuk pada “Motsaei Shabat” atau “Departure of the Shabat” (Sabat sore/ sabtu sore) (Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.299)

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 2

Posted by Teguh Hindarto


AJARAN ALKITAB TENTANG SABAT


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Patut diperhatikan bahwa Perjanjian Baru keseluruhannya tak pernah memberitakan sedikitpun mengenai sentralitas dan pentingnya Sabbat ini. Jika Sabbat itu disinggung hanya karena konflik yang muncul antara para murid Yesus dengan orang-orang Yahudi mengenai masalah perayaan Hari Sabbat itu saja dan juga karena lingkup sejarah penulisan Perjanjian Baru itu adalah diantara bangsa Yahudi sehingga dalam menghitung waktu dan hari tak mungkin lepas begitu saja tanpa menyebutkan Hari Sabbat. Tetapi Sabbat itu sendiri tidak pernah menjadi inti berita Perjanjian Baru. Kristus dan karyaNyalah focus berita Perjanjian Baru. Bukan Hukum Sepuluh dan jelas bukan Sabbat.
-----------
Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:
1.      Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3)
2.      Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44)
3.      Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17)
4.      Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8)

Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb:  

 “Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi (Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16)

Rashid Rahman mengatakan, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme” (Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5). Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian” (Ibid., hal 36)

Dengan mengatakan, “Perjanjian Baru keseluruhannya tak pernah memberitakan sedikitpun mengenai sentralitas dan pentingnya Sabbat ini” tentu saja merupakan bentuk kegagalan memahami kedudukan Sabat sebagai bagian dari 4 pilar ibadah Yudaisme yang juga diteruskan oleh Yesus dan rasul-rasulnya. Bagaimana mungkin mereka akan memfokuskan pada ibadah Sabat sebagai fokus pemberitaan Perjanjian Baru jika Sabat adalah gaya hidup dan ibadah mereka selama ini? Tentu saja mereka hanya akan memberitakan apa yang dinubuatkan yaitu Mesias yang dalam hal ini tersublimasi dalam tokoh dan karakter Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Agung Yang Ilahi.

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Memang setiap hari Sabbat “menurut kebiasaanNya… ia masuk ke rumah Ibadat (Luk 4:16), namun dia melakukanNya bukan karena Sabbat dan segala ketentuannya itu berkuasa “atas” dia, justru sebaliknya dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbat itu untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbat yang harus menjadi tanda perjanjian justru DiriNyalah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari sabbat, sehingga manusia hidup buakan lagi untuk hari Sabbat artinya tujuan hidup manusia bukan digunakan untuk mengabdi pada sabbat, namun sebaliknya “hari Sabbat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabbat” (Markus 2:27). Sabbat menjadi pada kepentingan manusia.

Itulah sebabnya tak pernah sekalipun Yesus dalam pengajaranNya meninggikan atau menyanjung Sabbat, Dia membicarakan tentang sabbat hanyalah dalam konteks konfrontasi perjumpaanNya dengan pemimpin agama Yahudi yang menentang sikapnya terhadap Sabbat yang justru oleh mereka dilihat sebagai hujatan dan bertentangan dengan ketetapan dari Kitab Suci perjanjian Lama.
-------------
Tidak ada pernyataan Yesus setelah membaca petikan Yesaya 61 kemudian berkata, “sejak saat ini akulah yang harus menjadi fokus perhatian kalian dan Sabat tidak memiliki relevansi yang mengikat lagi bagi kehidupan ibadah kalian”. Sama sekali tidak ada! Fokus pengutipan Yesaya 61 bukan mengenai hari Sabat melainkan pemenuhan nubuat mengenai Mesias.

Terkait pembacaan Yesaya 61 oleh Yesus Sang Mesias, beberapa literatur rabinik mempercayai bahwa saat Mesias datang, Mesias akan mengucapkan perkataan dalam Yesaya 61 (Lexicon oleh Rabbi David Kimchi sebagaimana dikutip dari buku A Manual of Christian Evidences for Jewish People, Vol 2, p.76). Kenyataan ini mendorong pada kesimpulan bahwa Mesias akan datang pada saat perayaan Yom Kippur dalam Tahun Yobel yang terakhir untuk memberikan pembebasan pada orang-orang Yahudi sebagaimana dikatakan dalam Talmud Sanhedrin 97b sbb: “Dunia akan berakhir tidak kurang dari 85 Yobel dan diakhir Yobel, Mesias Putra Dawid akan datang”. Unsur penting lainnya adalah bahwa dalam sinagoge Abad Pertama Masehi, Yesaya 61 tidak dibaca di sinagog selama Yom Kippur melainkan berhenti sampai di Yesaya 58 karena orang Yahudi memiliki pola pembacaan tiga lapis setiap tahunnya. Maka ketika Mesias membaca Yesaya 61 di sinagog dia hendak menegaskan kemesiasan dirinya. Bukan hanya itu, Yesus pun hendak menyatakan bahwa peristiwa pembacaan Yesaya 61 terjadi saat perayaan Yom Kippur. Yesus menggunakan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat untuk menyatakan siapa diri-Nya. 

Membuat kesimpulan “dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbat itu untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbat yang harus menjadi tanda perjanjian justru DiriNyalah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari sabbat” adalah sebuah LOMPATAN yang MENGABAIKAN teks dari konteksnya. Meminjam julukan yang diberikan Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro kepada umat Kristen yang memelihara Sabat dengan sebutan “pemerkosaan kebenaran” dan “tindak sewenang-wenang terhadap nats kitab suci” (Lihat pernyataan pertama yang saya tanggapi)

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Matius menerangkan saat dan hari ketika Yesus mengalami derita akhir dari hidupNya itu demikian, sesudah membicarakan saat malam Yesus diolok dan dicemooh dan paginya (hari Jumat) dibawa menghadap Pilatus (Matius 27:1-2), dan disalibkan pada hari itu juga.:”keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus (Matius 27:62). Jadi menurut ayat ini hari ketika Yesus disalibkan dan dikuburkan dalam ayat-ayat sebelumnya, Matius 27 ini disebut oleh Matius (perhatikan: bukan oleh Yesus) sebagai ”Hari Persiapan” (parskevee), yaitu hari Jumat sebagai “Hari Persiapan” bagi orang Yahudi untuk merayakan hari Sabbat. Sedangkan dalam Matius 28:1, ketika para murid wanita mengunjungi kuburan pada saat kebangkitan Yesus disebut demikian:” setelah hari Sabbat lewat… pada hari pertama Minggu itu”, yang menunjukkan bahwa Yesus tidak melakukan apapun secara fisik diantara hari persiapan sampai dengan hari Pertama minggu itu, yaitu selama hari sabbat itu Yesus berada di kuburan pasif tergeletak seolah-olah beristirahat dari semua karyaNya selama enam hari bagi penciptaan baru atas dunia ini, sejak Minggu Palem (Matius 21:1-23), Senin Kudus (Matius 24:3-35), Selasa Kudus (Matius 24:36-26:2), Rabu Kudus (Matius 26:2-16) “dua hari lagi akan dirayakan paskah”(ayat 2) menunjukan saat itu hari Rabu, karena Paskah terjadi hari Sabtu ), Kamis Kudus (Matius 26:7-75), dan Jumat Agung (Matius 27:1-61) dan pada hari Sabtu yaitu hari ketujuh Yesus berhenti atau beristirahat dari segala karya penciptaan baru yang dilakukanNya selama enam hari di dalam kuburan menanti penggenapannya yang dimeteraikannya segala karya tadi oleh kebangkitan, pada hari sesudah Sabbat lewat, yaitu hari pertama Minggu itu hari Pertama atau hari Satu itulah hari Ahad dalam bahasa Arab. Dan karena hari ahad (satu) itu adalah hari Kebangkitan Tuhan sebagai puncak dari karyaNya selam enam hari dan beristirahat selama hari ketujuh dalam kuburan, maka hari pertama itu disebut hari Tuhan (Kuriakee/Kyriaki) yang sampai sekarang masih disebut demikian dalam kalender Gereja Orthodox dan kalender nasional negara Yunani, yang kata kuriakee (kyriaki dari kata kyrios-Tuhan) itu disebut dalam bahasa Portugis “dominggos” (Hari Tuhan) dan menjadi bahasa Indonesia Minggu.

Demikianlah dalam penciptaan baru Allah melalui sabdaNya yang menjelma, berkarya selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh di dalam tergeletaknya Sang Sabda menjelma ini di dalam kuburan. Namun berbeda dengan perciptaan lama dimana padahari ketujuh itu sudah lengkap selesai penciptaan itu, dalam penciptaan baru ini, selesai dan puncak karya selama enam hari bagi penebusan sejak Minggu Palem itu bukan pada hari terkuburnya atau beristirahatNya Kristus dalam kuburan, namun kebangkitanNya pada ahad atau hari pertama, karena jika “Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”( 1 Kor 15:17).

Itulah sebabnya jika hari ketujuh sebagai hari perhentian itu harus dirayakanpun maknanya sudah berbeda dari Sabbat dalam Perjanjian lama. Ini harus berpusat pada karya penciptaan baru yang dilakukan Kristus selama seminggu kesengsaraanNya atau Pekan Sengsara itu. Dengan demikian hari Sabbat sekarang mengingat saat penguburan atau perhentian Kristus dari segala karyaNya untuk menunggu penggenapannya dalam hari kebangkitanNya yang terjadi pada hari Pertama (Hari Ahad = hari Minggu) tadi. Itulah sebabnya dalam Gereja Purba yang tetap dilakukan oleh gereja Orthodox sampai sekarang, Sabbat itu tetap hari Sabtu, bukan Minggu, namun makna Sabbat itu berbeda dari makna yang diberikan oleh Perjanjian Lama. Bukan lagi itu tanda Perjanjian pelepasan dari Mesir, namun sebagai peringatan akan perhentian karya Kristus di dalam kuburan, dengan demikian meskipun kita merayakan hari Sabtu sebagai hari Sabbat kita tak terikat lagi pada ketentuan-ketentuan Sabbat seperti yang digariskan oleh Kristus sendiri.
--------------
Benarkah Yesus wafat pada hari Jumat? Persoalannya adalah, benarkah Yesus wafat pada hari jum’at sore?? Padahal Yesus pernah berkata demikian: “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40)

Jika Yesus wafat pada hari jum’at, apakah lama waktu Yesus dikubur didalam bumi ada tiga hari tiga malam, jika Dia bangkit pada hari minggu? Waktu dari jum’at sore sampai minggu pagi adalah 1 hari 2 malam, benar bukan? 

Banyak pakar teologia dan sarjana keagamaan mencoba untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan berpendapat bahwa beberapa bagian siang atau malam dihitung seperti satu hari atau satu malam. Selanjutnya, beberapa menit terakhir dari jum’at sore dihitung sebagai satu hari dan keseluruhan hari sabtu, dihitung hari kedua, dan beberapa menit minggu pagi dihitung sebagai hari ketiga. Apakah alasan tersebut terdengar masuk akal?

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 1

Posted by Teguh Hindarto


TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO

AJARAN ALKITAB MENGENAI HARI SABBAT


https://www.facebook.com/notes/komunitas-orthodox-indonesia-gregorius-palamas/ajaran-alkitab-mengenai-hari-sabbat/463163017051314


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Perikop di atas merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dilepaskan, sehingga ketentuan tentang hari Sabbat jelas merupakan kesatuan dengan ketentuan Tahun Sabbat. Tiga hari raya dan korban-korban yang menyertainya. Merayakan Sabbat berarti bukan hanya “Hari” Sabbat, namun juga “Tahun” Sabbat, dan beserta itu merayakan perayaan-perayaan tiga lainnya yang diserta dengan pranata korban menyertainya.  Maka mengambil Sabbatnya saja, melupakan konteks kesatuan perikop sebagai yang sama-sama diberikan oleh Allah adalah merupakan pemerkosaan kebenaran. Penjelasan lebih rinci bagaimana seharusnya Sabbat itu harus dirayakan dan dalam konteks apa Sabbat itu dirayakan dapat kita lihat dalam Imamat 23.

Imamat 23:2 : “… hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN yang harus kamu maklumkan… adalah yang berikut. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada Sabbat…” Selanjutnya perikop pasal ini memberikan rincian dari hari-hari raya dengan tata cara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya adalah apa yang sudah disebut dalam Keluaran 23 di atas, hari Raya Roti tak beragi, dimana syarat pelaksanaannya sama dengan Sabbat yaitu “janganlah kamu melakukan sessuatu pekerjaan berat” (Im.23:8), yang ini menunjukkan perluasan makna Sabbat dalam kehidupan sosial keagamaan Israel. Demikian juga hari raya Pengumpulan hasil dan hari raya Buah Bungaran, dihitung dalam kaitannya dengan Sabbat (Imamat 23:11,15) dan juga dalam kaitannya untuk tidak melakukan pekerjaan berat (Im 23:25. Semuanya ini menunjukkan bahwa Sabbat itu menjadi dasar dari semua hari raya Israel dan sistim kehidupan bangsa itu. Serta Sabbat itu tidak dibatasi pada hari ketujuh secara terisolasi namun juga terkait dengan perayaan-perayaan Israel lainnya yang disertai syarat korban yang harus dipenuhi, dimana setiap perayaan hari raya itu memiliki cirri Sabbat: Tahun Sabat, Tujuh Sabat (Minggu Sabat), serta Ini Sabat (tidak bekerja).

Demikianlah Alkitab telah memberikan peraturannya sendiri bagaimana Sabbat itu harus dilaksanakan dan dalam konteks yang bagaimana itu harus dilaksanakan. Jika dalam Hukum Sepuluh hanya disebut mengenai “Hari Sabat” saja, itu disebabkan hukum sepuluh hanya menunjukkan garis pokok ketentuan hukumnya saja, sedangkan rinciannya disebut ditempat lain seperti yang telah kita bahas di atas, sama seperti menghormati bapa-ibu itu diperluas dengan menghormati semua otoritas yang ada di atas kita: pemimpin, guru, tua-tua, pemerintah dan sebagainya. Jadi sungguh tak masuk akal jika kita hanya mengambil hukum menghormati ayah-ibu lalu menolak ketetapan mentaati pemerintah sebagai perluasan makna hukum dasar tadi.

Demikian pula dengan Sabat ini. Mengambil hari Sabtunya saja, lalu mengabaikan segenap rincian ketentuannya dengan segala konteks dan kaitannya seperti yang jelaskan oleh Kitab Suci sendiri, adalah merupakan tindak sewenang-wenang terhadap nats kitab suci. Jika Sabbat harus diikuti maka semua ketentuannya harus tidak boleh diabaikan. Melakukan ini berarti kita harus menjalankan seluruh hukum Perjanjian lama tanpa pilih-pilih, yang berarti ita harus jadi Yahudi. Itulah konsekwensinya jika kita mau taat terhadap ketentuan Sabbat yang utuh, konsekwen dan sempurna.
----------------
Judeochristian:

Sebagaimana Yesus dan rasulnya tetap beribadah pada hari Sabat (Luk 4:16, Kis 13:14,27,42,44) demikianlah seharusnya umat Kristen yang memelihara ajaran lisan Yesus dan ajaran lisan dan tertulis dari rasul-rasul (2 Tes 2:15) seharusnya tetap memelihara Sabat.

Namun demikian, kita merujuk pada tulisan Rasul Paul dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”. Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang ditetapkan oleh YHWH di Sinai (Sabat) namun perihal larangan agar jemaat Mesias non Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan sbb: “But here it appears that Gentile Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian” (Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana makan dan minum agar menjadikan... tawanan, Jewish New Testament Commentary, Clarksville: JNTP 1992, P.610)

Umat Kristen tidak terikat untuk mematuhi fatwa rabinik dalam Yudaisme yang dikompilasikan dalam Talmud terkait bagaimana merayakan Sabat. Sepanjang tradisi itu bernilai (seperti penyalaan lilin, birkat Sabat, makan roti dan anggur Sabat, tidak menjadi masalah). Namun ketentuan mengikat dan membebani seperti tidak boleh berjalan sekian kilometer, tidak boleh membawa jarum dll tentu saja tidak perlu menjadi ketentuan yang mengikat.

Kita tidak bisa melepaskan Sabat hanya memfokuskan pada perluasan maknanya belaka. Makna Sabat hanya dapat dimengerti dengan baik dengan cara meletakannya dalam kedudukannya dalam pilar ibadah Perjanjian Baru dan pilar ibadah orang Kristen. Dengan kata lain, makna Sabat hanya dapat dihayati dengan cara kita beribadah pada hari Sabat. 

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Masih berbicara masalah sikap Yesus, thesis Taurat bahwa Sabat itu dilakukan karena Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh (Kejadian 2:2-3, Keluaran 20:11) itu ditolak oleh Yesus dan dijungkirbalikkan dengan pernyataannya: “BapakKu bekerja sampai sekarang” (Yohanes 5:17) sebagai koreksi atas pernyataan “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan” (Kejadian 2:2-3). Pernyataan Kejadian 2:2-3 itu hanya boleh dimengerti berdasarkan ajaran Yesus, bahwa bukanlah Allah yang berhenti bekerja, namun alam semesta ini telah selesai diciptakan, Allah sendiri tak henti-hentinya sampai sekarang, memelihara, menghidupi, menopang, membimbing, mencipta manusia baru yaitu bayi-bayi dan lain-lain. Jadi memang tidak pernah ada saatnya Allah itu berhenti bekerja, dahulupun tidak, sekarangpun tidak, pada hari ketujuhpun tidak. Maka Sabat itu diperintahkan bukan karena memang betul ada perhentian pada Allah seolah-olah Dia itu manusia yang perlu istirahat. Mahasuci Allah dari sifat-sifat kelemahan seperti itu. Maka jika para pengikut faham Sabbatisme atau hari ketujuhisme ini hendak merujuk pada “perhentian” kerja Allah, harap diingat bahwa Allah tak pernah berhenti bekerja, yang berhenti adalah selesainya pekerjaan penciptaan.
---------------
Frasa, “thesis Torat” yang dikonfrontirkan dengan frasa “ditolak Yesus” memberikan kesan dan pemahaman bias yang selama ini masih diterima oleh mayoritas Kekristenan bahwa Yesus merevisi Torah, mengoreksi Torah.
Bagaimana Yesus memandang keberadaan Torah? Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, kita akan melakukan eksposisi teks dan konteks dari Matius 5:17-48. Yesus membuka dengan kalimat, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah dan Kitab Para Nabi” (Mat 5:17). Kata yang diterjemahkan dengan “meniadakan”, dalam naskah Yunani adalah kataluo. Dalam Perjanjian Baru kata kataluo digunakan sebanyak tujuh belas kali dengan pengertian : “meruntuhkan”, “membinasakan”, “membatalkan”, “melenyapkan”, “mencari penginapan” (Pdt. Hasan Sutanto, MTh. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, Jil II, Jakarta : LAI 2003, hal 435) 


DR. David Bivin dan Roy Blizard memberikan perspektif lain mengenai makna pernyataan “Aku datang bukan untuk meniadakan Torah” sebagai suatu ungkapan khas Ibrani dalam diskusi Rabinik. Ungkapan ini bermakna bahwa “seseorang telah menafsirkan secara keliru tentang Torah”. Jika ada seseorang menafsirkan Torah secara keliru, maka para rabbi yang lain akan mengatakan, “engkau membatalkan Torah”. Dalam konteks makna literal ini, maka Yesus sedang membantah kepada para pendengarnya, bahwa diri-Nya bukan datang untuk menyimpangkan atau menafsirkan secara keliru terhadap Torah dan Kitab Para Nabi (Understanding the Difficult Words of Jesus, Destiny Image Publishers, 2001, p. 114)


Kata yang digunakan untuk “menggenapi” dalam teks Yunani, adalah pleroo. Kitab Perjanjian Baru menuliskan sebanyak 86 kali dalam arti, “memenuhi”, “menggenapi”, “habis”, “lewat”, “menyatakan dengan penuh”, “memberitakan kemana-mana”, “menyelesaikan”, “melakukan” (Op.Cit., Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, hal 648)


Sebagaimana komentar sebelumnya, David Bivin dan Roy Blizard menyatakan bahwa pengertian “membatalkan” dan “menggenapi” bermakna “tafsir yang menyimpang” dan “tafsir yang tepat”. Selengkapnya, beliau menjelaskan : “Kata ‘membatalkan’ dan ‘menggenapi’, merupakan istilah teknis yang digunakan dalam diskusi rabinik. Ketika seorang bijak merasa bahwa temannya menafsirkan secara keliru bagian dari Kitab Suci, dia akan mengatakan ‘anda telah membatalkan Torah!’, singkatnya, dalam banyak kasus, temannya menunjukkan ketidaksepahaman yang keras. Bagi orang bijak, yang dimaksud dengan ‘melenyapkan Torah” maka kebalikannya,  ‘menggenapi Torah’ atau menafsirkan Kitab Suci dengan tepat (Ibid., Understanding the Difficult Words of Jesus) 

Pernyataan diatas diperkuat dengan frasa “kamu telah mendengar” dan “tetapi Aku berkata kepadamu”. Tanggapan Yesus terhadap tafsiran para rabbi sebelumnya terhadap Torah, ditegaskan kembali secara tepat oleh Yesus dengan penekanan kalimat, “Tetapi Aku berkata kepadamu”.

(tafsir) Torah mengatakan, janganlah membunuh karena barangsiapa yang membunuh akan mendapatkan hukuman namun Yahshua menegaskan secara tepay makna Torah bahwa yang harus dihukum bukan hanya mengenai kasus yang berat namun yang kelihatannya ringan, seperti kemarahan yang luar biasa dengan mengeluarkan umpatan kasar seperti raka yang artinya “bodoh” (Mat 5:21-22).
    
(tafsir) Torah mengatakan jangan berzinah. Yesus memberikan pemahaman yang tepat mengenai zinah, bahwa seseorang yang berzinah bukan semata-mata yang memiliki hubungan dengan wanita lain selain istrinya, namun memandang wanita yang bukan istrinya dan mengingininya, sudah dikategorikan perzinahan (Mat 5:27-28). 

(tafsir) Torah mengijinkan suatu perceraian namun Yesus memberikan pemahaman bahwa jika bukan karena alasan yang kuat, yaitu perzinahan, maka janganlah sampai terjadi perceraian. Dengan melakukan perceraian, kita telah menjadikan diri kita dan pasangan kita sebagai seorang yang berzinah (Mat 5:31-32).

(tafsir) Torah mengajarkan agar jangan bersumpah palsu. Yesus memberikan pemahaman yang tepat bahwa hendaklah seseorang tidak bersumpah demi apapun juga, karena sumpah mengandung risiko. Tidak jarang kita melakukan dalih dalam sumpah yang kita ucapkan dihadapan Tuhan dan sesama (Mat 5:38-42).

(tafsir) Torah mengajarkan untuk mengasihi dan membenci musuh. Ayat ini sering dijadikan alasan untuk membenci dan tidak memaafkan orang-orang yang bersalah pada diri kita. Yesus memberikan pemahaman yang tepat dengan mengatakan untuk mengasihi musuh dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal (Mat 5:43-48).

Penegasan Yesus diatas membuktikan bahwa kedatangannya bukan “membatalkan Torah” (menyimpangkan makna Torah) melainkan “menggenapi Torah” (memberikan pemahaman yang benar). Hampir senada dengan ulasan David Bivin dan Roy Blizard, DR. David Stern dalam ulasannya mengenai kata “membatalkan” dan “menggenapi”, mengatakan :“Adalah tepat bahwa Yesus memelihara Torah secara sempurna dan menggenapi berbagai nubuatan dalam Kitab Para Nabi. Namun bukan ini pokok persoalannya. Yesus tidak datang untuk membuat tidak berlaku Torah namun membuat ‘maknanya menjadi penuh’ mengenai apa yang dituntut dalam Torah dan Kitab Para Nabi. Selanjutnya Dia melengkapi pemahaman kita terhadap Torah dan Kitab Para Nabi…Pasal 5 yang tersisa, menjelaskan enam kasus khusus dimana Yahshua memberikan penjelasan makna rohani secara penuh mengenai pokok-pokok dalam hukum Yahudi (Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.25-26) 

Penjelasan David Bivin dan Roy Blizard serta DR. David Stern, bukan satu-satunya penjelasan yang dapat diterima dalam memahami perkataan Yesus mengenai arti “membatalkan Torah” dan “menggenapi Torah”.