RSS Feed

IPA=CERDAS, IPS=TIDAK CERDAS? MENINJAU ULANG DAN MEMPERLUAS MAKNA KECERDASAN

Posted by Teguh Hindarto




Saat saya masuk Sekolah Menengah Atas (akhir Tahun 80-an), saya pernah mengalami keputusasaan yang luar biasa. Bukan karena gagal mendapatkan wanita yang diidam-idamkan atau gagal naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Pokok persoalannya adalah dikarena saya terkejut dan tidak bisa menerima hasil Tes Psikologi di kelas I sebagai pemetaan kecerdasan untuk mempersiapkan diri ke penjurusan di kelas berikutnya. Dalam Tes Psikologi tersebut disebutkan bahwa kemampuan “daya bayang ruang” saya kurang namun kemampuan “verbal dan bahasa” menonjol.

Saya tidak bisa menerima hasil tes tersebut dikarenakan sejak Sekolah Menengah Pertama, saya memiliki kegemaran pada Ilmu Fisika (meski Ilmu Matematika dan Ilmu Kimia saya lemah) dan selalu mendapatkan nilai-nilai yang bagus untuk mata pelajaran tersebut. Dan saya memiliki banyak harapan dengan minat di bidang Fisika tersebut, setelah saya menanjak pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Tentu saja hasil Tes Psikologi tersebut meruntuhkan seluruh harapan saya dan membuat saya putus asa serta merasa diri bodoh.

Mengapa? Itu bermakna bahwa saya tidak bisa masuk penjurusan A1 (Fisika) dan A2 (Kimia) dan hanya bisa masuk penjurusan A3 (Sosiologi) dan A4 (Bahasa). Dan saya berpandangan sebagaimana pandangan pada umum masyarakat pada waktu itu dan masih terwarisi sebagian besar pada masyarakat kita bahwa Mata Pelajaran IPA adalah representasi anak yang cerdas dan Mata Pelajaran IPS serta Bahasa adalah representasi anak yang tidak cerdas.

Pandangan stereotype di atas masih berkembang biak dalam struktur masyarakat kebanyakan, sekalipun telah terjadi perpindahan rezim (dari Orde Baru ke Orde Reformasi) dan telah menghasilkan banyak regulasi dan reformasi di bidang pendidikan di Indonesia.


Saya masih kerap menemui, baik peserta didik, orang tua peserta didik bahkan guru selaku pendidik masih memiliki pandangan stereotype sedemikian di atas. Dalam sebuah percakapan, istri saya mendengar keluhan dan pendapat seorang pegawai perempuan yang bekerja di sebuah salon kecantikan mengatakan, “Saya khan bodoh bu, wong dulu sekolahnya saja di IPS?”. Dalam kesempatan lain saya kerap mendengar dan melihat respon orang tua murid yang kecewa jika anaknya tidak masuk dalam kelas Ilmu Alam.

Benarkah anggapan sebagian besar masyarakat bahwa anak yang menguasai Ilmu Pengetahuan Alam bermakna pintar dan anak yang menguasai Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kebahasaan bermakna tidak pintar alias bodoh? Anggapan tersebut merupakan bentuk sesat fikir yang masih berkembang dalam struktur masyakarat kita. Darimana sumber sesat fikir tersebut?

Jika kita meminjam perspektif  Teori Labeling yang diperkenalkan Sosiolog Mazhab Chichago pada Tahun 1960-1970-an yaitu George Herbert Mead, dalam bukunya yang berjudul, “Labeling theory: Social constructionism, Social stigma, Deinstitutionalisation” dijelaskan bahwa sebuah perilaku dan identitas diri individu ditentukan atau dipengaruhi oleh struktur masyarakat dimana individu tersebut berada. Penyimpangan perilaku individu belum tentu inheren dalam diri individu tersebut melainkan didefinisikan atau diberi label secara sosial oleh masyarakatnya. Dengan meminjam pendekatan Labeling di atas, maka munculnya anggapan bahwa Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam merepresentasikan anak yang cerdas dan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial merepresentasikan anak yang tidak cerdas bersumber dari pemberian labeling baik oleh para pendidik pada zamannya, para orang tua murid pada zamannya yang diterima begitu saja oleh anak didik pada zamannya dan masih berpengaruh hingga mereka tumbuh menjadi dewasa dan menjadi orang tua dan memiliki sejumlah profesi tertentu. Dari sinilah sesat fikir ini berkembang hingga hari ini.

Kembali kepada pertanyaan di atas. Benarkah anggapan sebagian besar masyarakat bahwa anak yang menguasai Ilmu Pengetahuan Alam bermakna pintar dan anak yang menguasai Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kebahasaan bermakna tidak pintar alias bodoh? Jawaban atas pertanyaan di atas adalah tidak!

Para pakar pendidikan akhir-akhir ini menganut Teori “Multiple Intelligences” (Teori Kecerdasan Ganda). Teori kecerdasan ganda merupakan model yang membedakan kecerdasan menjadi “modalitas” yang spesifik (terutama sensorik) daripada melihat kecerdasan sebagai didominasi oleh kemampuan umum yang bersifat tunggal. Sederhananya, Teori Kecerdasan Ganda, menyangkal bahwa kemampuan matematis dan rasional sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan melainkan memandang bahwa ada berbagai jenis kecerdasan yang berdiri sendiri-sendiri.

Pencetus Teori “Multiple Intelegences” adalah seorang psikolog bernama Howard Gardner melalui bukunya yang diterbitkan pada Tahun 1983 dengan judul, “Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences”. Menurut Gardner, manusia itu memiliki Tujuh Kecerdasan (Seven Intelegent). Sandy Mc Gregor memberikan deskripsi mengenai Tujuh Kecerdasan tersebut sbb: (1) Matematika/Logika (2) Visual/Spasial (3) Inter Personal (4) Musikal (5) Intra Personal (6) Kinestetik (7) Linguistik (Piece of Mind: Mengaktifkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar Untuk Mencapai Tujuan,2003:212-217).




Kecerdasan Matematis berkaitan dengan kecakapan dan kompetensi di bidang logika dan matematika (Contoh: Albert Einstein). Kecerdasan Visual berkaitan dengan kecakapan dan kompetensi di bidang seni rupa (Contoh: Leonardo Da Vinci). Kecerdasan Interpersonal berkaitan dengan kemampuan komunikasi verbal mempengaruhi orang lain (Contoh: Marthin Luther King). Kecerdasan Musikal berkaitan dengan kemampuan dan kompetensi di bidang musik (Contoh: Mozart dan Bethoven). Kecerdasan Intra Personal berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri kelak oleh Daniel Goleman disebut dengan “Emotional Quotient” atau “EQ” (Kecerdasan Emosi). Slogan yang membangkitkan gairah dan mensugesti, berkaitan dengan potensi EQ adalah, “EQ menentukan 80% kesuksesan, sementara IQ hanya 20%” (Pengantar pada buku karya Maurice J. Elias, “Cara-cara Efektif Mengasuh Anak Dengan EQ”, 2001). Kecerdasan Kinestetik berkaitan dengan kecakapan dan kompetensi dalam bidang olah raga (Contoh: David Beckham). Kecerdasan Linguistik berkaitan dengan kecakapan verbal dan berkomunikasi (Contoh: Soekarno).

Dari penjelasan di atas, nampaklah pada kita bahwa setiap individu memiliki jenis kecerdasan yang berbeda-beda. Jika ada seorang anak yang mahir di bidang matematika dan logika, kita menyebut anak tersebut memiliki kepandaian matematis. Jika ada seorang anak yang mahir di bidang olah raga, maka anak tersebut memiliki kecerdasan kinestetis. Jika ada ada yng mahir dan selalu juara di bidang seni lukis, maka anak tersebut memiliki kepandaian visual.

Adalah keliru mengatakan bahwa anak yang mahir ilmu matematis dikategorikan pandai, sementara anak yang mahir seni lukis dan olah raga dikatakan anak yang tidak pandai. Sebuah perbandingan yang tidak sepadan.

Dalam setiap kategori kecerdasan tersebut, masing-masing kategori tentu memiliki jenjang dan tingkatan kecerdasannya masing-masing. Contoh. Bagi seorang anak yang memiliki kecerdasan matematis ada jenjang sangat cerdas, cerdas, kurang cerdas. Demikian pula bagi seorang anak yang memiliki kecerdasan musikal, interpersonal, visual ada jenjang sangat cerdas, cerdas, kurang cerdas. Namun mendefinisikan atau memberikan labeling bahwa mereka yang memiliki kemampuan matematis dan logika sebagai orang yang cerdas dan mereka yang memiliki kemampuan di luar matematis dan logika sebagai tidak cerdas merupakan sebuah perbandingan yang tidak sepadan dan sesat fikir. Analogi sesat fikir di atas dapat diibaratkan membandingkan apel dengan mangga lalu membuat kesimpulan bahwa apel lebih enak rasanya dibandingkan mangga. Pernyataan ini tidak tepat karena membuat perbandingan yang tidak sepadan. Perbandingan yang sepadan seharusnya adalah apel malang lebih manis dibandingkan apel daerah di luar malang.

Kembali kepada persoalan mengenai stigma dan labeling yang masih berkembang di tengah masyarakat kita khususnya orang tua murid dan peserta didik mengenai keilmuan tertentu. Sudah saatnya kita melakukan redefinisi dan memperluas makna kecerdasan bukan hanya pada ranah logika dan matematika. Seto Mulyadi, Psikolog dan sekaligus Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, pada Tahun 2002 pernah menyampaikan pandangannya pada forum pertemuan pers di Yogyakarta. Pada kesempatan itu, Seto Mulyadi mengatakan, “Sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik semata-mata pada kemampuan logika (matematis) dan bahasa perlu direvisi. Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter itu, tetapi juga bisa dilihat dari aspek kinetis, musikal, visual spasial, interpersonal, intrapersonal serta naturalis. Akibat kerancuan yang dianut selama ini, anak didik cenderung berpikir seperti robot, apalagi jika kondisi sekolahnya tidak menyenangkan bagi anak untuk bermain. Anak cenderung menjadi pemikir pasif, yakni berpikir dengan pola menghafal. Pola berpikir ini tingkatannya tergolong paling rendah karena tidak kritis” (Kecerdasan Intelektual Tak Cuma Logika dan Bahasa, Kompas, 6 Agustus 2002).

Darimana proses pemaknaan ulang kecerdasan ini? Pertama, dari institusi pendidikan dalam hal ini sekolah melalui para pendidik. Para pendidik harus banyak membaca buku-buku pendidikan terbaru dan meng-update teori-teori pendidikan dan berbagai metode baru yang aktual serta mengaplikasikannya di ruang pembelajaran.Kedua, melalui orang tua yang harus menghentikan proses stigmatisasi dan labeling yang keliru mengenai makna cerdas dan tidak cerdas dikaitkan dengan keilmuan tertentu.

Baik guru dan orang tua murid mulai memberikan apresiasi terhadap bentuk “Kecerdasan Berganda” dan mulai melihat minat, bakat serta kecenderungan anak didik dan anak biologisnya untuk mengembangkan diri dalam bentuk-bentuk kecerdasan baik matematis, spasial, kinestetis, linguistik, interpesonal, intrapersonal, musikal. Bukan hanya apresiasi melainkan memberikan ruang kebebasan kepada anak didik dan anak biologis untuk mengekspresikan dan mengembangkan minat, bakat dan kecerdasannya masing-masing dan jangan memaksakan untuk menguasai bidang kecerdasan lain yang bukan kecerdasan yang inheren dalam dirinya.


2 komentar:

  1. buckmethe

    salam kenal pak Teguh,..
    wah sama pak, sy juga dulu berpandangan spt itu, tapi nyata2 nya sekarang saya pikir gak juga tuh. saya dulu tidak suka dgn A3(IPS) krn kebanyakan yg milih gol.itu adalah anak2 yg ga serius belajar. tapi ada juga setelah sy msk di A2(biologi) ada juga anak2 yg digolongan A2 ga semuanya pinter. kesimpulan saya adalah pemilihan penjurusan letak penting nya adalah pada minat pada diri masing2. nah.. akhir2 ini sy sedang belajar seluk beluk dgn perbankan, bisnis, istilah2 tentang ekonomi, hal2 tsb sangat tidak kalah penting nya dgn Gol A1/A2. lebih penting lagi saya mau belajar bagaimana caranya me-manage keangan. memilih kebutuhan, bukan keinginan. terimakasih.

  1. Teguh Hindarto

    Senang membaca komentar dan apresiasi Anda. Apapun sekolah seseorang baik STM, SMA, SMEA, SMK dll dan apapun pembidangannya serta kemampuan yang menonjol seseorang (baik logika, komunikasi, seni, kinestetik atau tujuh kecerdasan di atas), maka mereka adalah orang-orang cerdas di bidangnya. Mereka yang mahir dan menonjol dalam olah raga, maka mereka memiliki kecerdasan kinestetik. Mereka yang menonjol di bidang retorika dan bahasa maka mereka adalah orang yang cerdas dalam persoalan Verbal/Linguistik. Mereka yang mahir matematika dan sains berarti memiliki kecerdasan logika. Jadi stigmatisasi alias labeling bahwa mereka yang sekolah dengan mengambil pemnidangan IPA adalah orang yang cerdas, ibarat mengukur jarak Jakarta Yogyakarta dengan menggunakan satuan kilogram bukan kilometer.

Posting Komentar