RSS Feed

PERAN GEREJA SEBAGAI AGEN MORALITAS DALAM PUSARAN ARUS KEKUASAAN POLITIK DAN KEKUASAAN EKONOMI

Posted by Teguh Hindarto




Seseorang mengirimkan pesan kepada saya melalui aplikasi Whatsap yang intinye hendak mengatakan bahwa “Yesus dan para rasul-nya A-politik”. Saya mengamini pernyataan tersebut namun dengan catatan bahwa misi Yesus datang ke dunia memang bukan untuk memecahkan persoalan-persoalan politik. Rasul-rasul Yesus hanya meneruskan apa yang telah disabdakan, diajarkan dan dilakukan Yesus melalui kitab-kitab dan surat-surat yang ditulis yang kita kenal sebagai Kitab Perjanjian Baru (Injil dan surat-surat rasuli). 

Namun demikian, sabda, ajaran serta tindakan Yesus Sang Mesias baik secara langsung maupun tidak langsung akan berhadapan dengan kekuatan politik bahkan berimplikasi terhadap konstelasi politik. Pewartaan para rasul tentang sabda, ajaran serta teladan Yesus Sang Mesias-pun kerap berhadapan dengan kekuatan politik.

Ketika Yesus diadili sebelum dieksekusi di palang salib, Yesus ditanya oleh Pilatus yang mewakili kekuasaan politik Galilea dan Perea, "Engkaukah raja orang Yahudi?" Dan Yesus menjawab, "Engkau sendiri mengatakannya” (Luk 23:3). Yesus tidak menyangkal dirinya “Raja Yahudi” dengan menggunakan permainan kalimat, “Engkau sendiri mengatakannya” kepada Herodes. Pernyataan Yesus berimplikasi kepada kekuasaan politik Herodes. Bahkan ketika Yesus hendak dijebak dan dibenturkan dengan kekuatan politik Herodes oleh orang-orang Farisi – salah satu mazhab dalam Yudaisme – dengan menanyakan pada Yesus, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (Mat 22:17), Yesus memberikan jawaban cerdas, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan” (Mat 22:21). Seluruh kisah di atas memberikan benang merah pada kita bahwa ajaran dan teladan Yesus Sang Mesias kerap bersinggungan dengan kekuasaan politik bahkan bisa berdampak terhadap kekuasaan politik tertentu, sekalipun Yesus tidak berpolitik.

Demikian pula rasul-rasul Yesus khususnya rasul Paul pernah pada suatu peristiwa harus berhadapan dengan kekuasaan politik mengenai misi yang diberitakannya tentang Yesus. Rasul Paul harus berhadapan dengan Feliks, Festus dan Agripa (Kis Ras 24-26). Saat Paul mengajukan pembelaan kepada Agripa secara panjang lebar perihal misi pemberitaan Injil, dengan berani Paulus mengeluarkan kalimat ajakan secara tidak langsung kepada Agripa untuk menganut keyakinan yang sama dengan dirinya dengan berkata: "Aku mau berdoa kepada Tuhan, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini” (Kis 26:29). 


Bahkan sebelum Yesus menjalankan karya Mesianisnya dan para rasul mewartakan Yesus sebagai Mesias yang dinubuatkan dalam Torah, Yohanes Pembaptis sang pembuka jalan bagi kedatangan Mesias harus berhadapan dengan kekuasaan politik saat tegurannya terhadap perilaku amoral anggota keluarga pemegang kekuasaan politik yaitu Herodias telah menyinggung perasaan Herodes hingga berakhir dengan pemenjaraan Yohanes Pembaptis sebagaimana dikatakan: “Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara” (Luk 3:18-20).

Berkaca dari sabda dan ajaran serta teladan Yesus, para rasul Yesus serta keberanian Yohanes Pembaptis, maka Gereja di mana di dalamnya terdiri dari pendeta, pastor dan umat Tuhan harus menyuarakan nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keadilan sosial yang bersumber dari sabda dan ajaran Yesus Sang Mesias. Jika nilai-nilai tersebut diwartakan dengan benar, maka secara tidak langsung pasti akan bersentuhan dengan kekuasaan politik dan konstelasi politik sebagaimana dikatakan DR. J. Verkuyl (alm) sbb: “Di dunia ini gereja adalah nabi (Tuhan). Gereja telah ditugaskan untuk memberitakan Hukum (Tuhan) dan Injil kepada jemaat Kristus dan dunia. Jika hal ini dilakukannya dengan setia dan sunguh-sunguh, maka itu berarti bahwa kehidupan masyarakat dan tata negara dihadapmukakan dengan perintah-perintah Tuhan. Gereja Yesus Kristus tidak menerima panggilan untuk melakukan pemberitaan politik. Tetapi jika gereja sungguh-sungguh memberitakan Firman Tuhan tanpa dikurangi sedikitpun, maka pemberitaannya itu akan menyinggung juga kehidupan politik dan juga menyinggung juga para pemerintah”(Etika Kristen: Ras, Bangsa, Gereja dan Negara, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1982, hal 256).

Mengapa Gereja harus terlibat mewartakan nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keadilan sosial? Pertama, karena nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keadilan sosial adalah isi dari Kerajaan Tuhan sebagaimana dikatakan, “Sebab Kerajaan Tuhan bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17). Jika Gereja mewartakan nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keadilan sosial maka Gereja telah menghadirkan Kerajaan Tuhan di bumi. Kedua, Gereja memiliki peran sosial sebagaimana teladan Yesus Sang Mesias saat berkata: “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh YHWH ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku. untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat YHWH telah datang” (Luk 4:16-19). Peran sosial Gereja tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai moralitas, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keadilan sosial karena kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat kerap menerima perlakuan tidak adil, tidak bermoral, tidak manusiawi yaitu orang-orang miskin, orang-orang tawanan, orang-orang tertindas, dimana Yesus Sang Mesias telah datang untuk mereka. Ketiga, Karena dalam banyak kasus, kekuasaan politik yang berkolaborasi dengan kekuasaan ekonomi kerap menampilkan perilaku tidak bermoral dan menodai nilai-nilai keadilan sosial dalam berbagai regulasi atau kebijakkan yang dikeluarkannya. Regulasi atau kebijakkan yang menimbulkan kerugian atau bahkan kemiskinan bagi kelompok sosial dan ekonomi lemah inilah yang kerap disebut dengan “kemiskinan struktural”. Kemiskinan struktural dihasilkan dari sejumlah regulasi yang menodai nilai-nilai keadilan sosial, nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan.

Ketika para petani kehilangan lahan dan mata pencahariannya atau kerusakan ekologis yang dialami sekelompok penduduk dikarenakan sejumlah regulasi yang memberikan keleluasaan perusahaan tertentu untuk membangun kegiatan usaha baik di bidang pertambangan (karst, timah, emas dll), proyek bendungan, perumahan modern, pusat perbelanjaan modern, pusat hiburan modern di lahan di mana mereka mempertahankan kehidupan bahkan dengan ganti rugi yang tidak memadai, bukankah di sana sudah terjadi kebijakkan-kebijakkan yang menodai nilai moralitas, menodai nilai keadilan sosial serta menodai nilai kemanusiaan?

Sebagaimana Yohanes Pembaptis yang berani dan tegas menentang pelanggaran perilaku moral Herodias, istri saudara Herodes, maka Gereja sudah seharusnya menyuarakan teguran dan kritik sosial terhadap pelanggaran moral dan pelanggaran keadilan sosial serta pelanggaran kemanusiaan yang terkandung dalam sejumlah regulasi dan kebijakkan yang dibuat baik oleh kekuasaan politik maupun kekuasaan ekonomi. Meminjam istilah Max Regus dalam kata pengantar buku karya Beny Denar, Mengapa Gereja (Harus) Tolak Tambang?, bahwa, “Gereja harus berani melakukan institutional adjustment untuk menjadi pemain penting dalam ruang sosial, ekonomi dan politik” (Ledalero 2015:16). George Aditjondro menggunakan istilah “Diakonia Palang Pintu” sebagai lawan “Diakonia Palang Marah”. Yang dimaksudkan “Diakonia Palang Pintu” adalah, “diakonia yang melayani semua pihak dan mencegah terjadinya korban” (Frans Angal, Diakonia Palang Pintu, http://frans-anggal.blogspot.co.id/2009/04/diakonia-palang-pintu.html)

Bagaimana cara Gereja melakukan teguran dan kritik sosial sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai penampakkan Tubuh Yesus di bumi? Pertama, para teolog atau aktivis Kristen yang concern dengan persoalan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dapat menuangkan kritik sosialnya ke ruang publik baik melalui artikel atau buku yang dimuat di media cetak maupun media on line. Kedua, melakukan pendampingan dan advokasi terhadap mereka yang menjadi korban regulasi kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi sehingga memarjinalkan mereka dari pemenuhan kebutuhan ekonomi. Ketiga, memberikan pendidikan kritis kepada kelompok-kelompok masyarakat yang mengalami dampak regulasi yang merugikan kehidupan ekonomi mereka. Pendidikan kritis ini dimaksudkan sebagai bentuk penyadaran dan penyingkapan bahwa dibalik berbagai regulasi yang kelihatan rasional secara ekonomi, terkandung sejumlah dampak sosial ekonomi yang merugikan kelompok masyarakat tertentu sehingga dengan pendidikan kritis, masyarakat dapat menilai dengan kritis setiap regulasi dan memiliki posisi tawar ketika berhadapan dengan kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi.

Karena Gereja harus terlibat dalam mewartakan nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai keadilan sosial sehingga secara langsung dan tidak langsung akan berhadapan dengan kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi, maka Gereja bukan hanya memiliki basis pemahaman teologis yang kokoh namun juga penguasaan terhadap sejumlah ilmu penunjang dalam hal ini ilmu Sosiologi, Politik dan Ekonomi. Tanpa perlengkapan keilmuan tersebut, Gereja hanya berkutat pada dalil-dalil teologis tanpa memahami struktur sosial masyarakat, kekerasan struktural dibalik sejumlah regulasi, peta persoalan yang kompleks saat terjadi konflik sosial dll. Tanpa perlengkapan keilmuan sosial yang memadai, berbagai persoalan sosial, ekonomi dan politik hanya akan dipahami secara sederhana oleh Gereja khususnya para teolog atau rohaniawan Kristen sebagai sebuah penyakit yang dapat diusir hanya dengan berdoa. Kesadaran palsu ini dapat terbaca melalui slogan dan iklan-iklan dalam kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani dengan kalimat-kalimat bombastis sbb:  “KKR Mukjizat dan Akhir Zaman, Tuhan Yesus Penyembuh, Sembuh Dari Penyakit, Hubungan Keluarga, Kemiskinan dan Usaha”. Lalu di tempat lain ditulis, “KKR Kuasa dan Mujizat di Singgapura. Kesembuhan dan dan Pelepasan Resesi Ekonomi”, dll. Apa yang salah dengan pernyataan-pernyataan publikasi yang bombastis di atas? Bukan hanya tidak memiliki dasar teologis yang kuat dengan menyetarakan resesi ekonomi dan kemiskinansebagai penyakit yang dapat sembuh dengan didoakan oleh sang penyembuh namun juga memperlihatkan kebutaan pengetahuan mengenai penyebab persoalan-persoalan sosial baik resesi ekonomi maupun kemiskinan dimana persoalan-persoalan tersebut dapat dipahami jika para teolog atau pendeta mengembangkan wawasan keilmuannya dengan membaca ilmu-ilmu sosial, ekonomi, politik sehingga melahirkan pemikiran teologis yang kaya karena melibatkan keilmuan lain. Menarik membaca pernyataan Robert Bellah dalam bukunya, Beyond Belief: Essays on Religion in a Post-Traditional World sbb: "The absolute separation of social science and theology is imposible. Every theology implies a sociology and a psychology and so on. And every sociology implies a theology, or, at least any definite theological position limits the variety of sociological positions compatible with it and vice versa"(1970:206).

Kiranya tulisan pendek ini mendorong Gereja khususnya para teolog, pendeta bahkan aktifis gereja untuk lebih mempertajam pemahaman teologis dan melakukan peran sosialnya untuk menghadirkan Kerajaan Tuhan yaitu kebenaran dan keadilan di bumi dengan melibatkan diri untuk melakukan kritik sosial ditengah arus kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi yang menimbulkan dampak sosial negatif bagi kelompok masyarakat.


8 komentar:

  1. Rinto Pangaribuan

    Saya izin komentar yah...

    Apakah betul Yesus datang kedunia tidak untuk memecahkan persoalan-persoalan politik? Saya kira ini tidak sepenuhnya bisa disetujui, kecuali oleh kalangan fundamentalisme Injili.

    Albert Nolan, teolog Dominikan, tidak begitu setuju dengan pandangan ini. Dia malah bilang bahwa gerakan Yesus adalah gerakan politik.

    Tentang buku Nolan, Jesus Before Christianity, bisa dibaca http://tongthink.blogspot.co.id/2015/11/jesus-before-christianity-partisipasi.html
    dan
    http://tongthink.blogspot.co.id/2015/08/harapan-ditengah-kesesakan-masa-kini.html

    Saya rasa, Kristen dan politik adalah dua hal yang saling mempengaruhi satu sama lain http://tongthink.blogspot.co.id/2014/06/kristen-dan-politik-sebuah-pandangan.html

    terimakasih yah :)

  1. Teguh Hindarto

    Jika gerakan Yesus adalah gerakan politik, mengapa Yesus menolak dirinya didaulat sebagai raja dan kerap mengundurkan diri saat orang-orang menaruh harap bahwa Yesus melakukan peran politik sebagai raja yang menentang pemerintahan resmi kala itu sebgaimana dikatakan, "“Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri” (Yoh 6:15)?

  1. Rinto Pangaribuan

    Diskusi ini menarik jadinya :)
    1. Yesus sebenarnya tidak menolak diri 100% sebagai Raja. Itu terbukti ketika Pilatus bertanya kepada Dia, "Apakah Engkau Raja Yahudi?" Jawaban Yesus kan menarik tuh, Bang. Dia bilang, "Engkau sendiri yang mengatakannya."

    2. Kebiasaan Yesus yang menarik diri itu. Ada penjelasan menarik dari Albert Nolan dan mungkin beberapa Yesus Historian lainnya. Aku gak tau gmn membuktikan pendapat mereka ini benar atau tidak. Mereka bilang, Yesus sering menarik diri dari keramaian karena saat itu, Dia adalah pelarian politik karena insiden Bait Allah itu. Yah, Yesus itu DPO lah.

    3. Yesus melakukan gerakan politik karena secara sadar Dia pun mencari pengikut dengan mengatakan, "Ikutlah Aku." Itu ajakan untuk mencari massa dan pengikut. Tapi dalam teologi Injili kan itu dibilang mencari murid.

    4. Ada kesenjangan cara berpikir antara zaman Yesus dan kita sekarang dimana politik dan agama dipisahkan secara dikotomis. Nah, kalau dulu, antara politik dan agama dan realitas kehidupan yang lain, dipandang sebagai satu kesatuan. Jadi gerakan Yesus adalah gerakan agama sekaligus gerakan politik.

    :)

  1. Teguh Hindarto

    Teologi Rakyat:
    1. Yesus sebenarnya tidak menolak diri 100% sebagai Raja. Itu terbukti ketika Pilatus bertanya kepada Dia, "Apakah Engkau Raja Yahudi?" Jawaban Yesus kan menarik tuh, Bang. Dia bilang, "Engkau sendiri yang mengatakannya."
    --------
    Jika Anda mengutip narasi percakapan Yesus saat ditanyai Pilatus menjelang eksekusinya, dengan bertanya: “Apakah Engkau Raja Orang Yahudi?” (Yoh 18:33) namun tidak mampu menjawab narasi sebelumnya dimana Yesus menolak dirinya didaulat sebagai raja (Yoh 6:15), maka Anda sedang mengonfrontasikan kedua ayat tersebut sehingga mengakibatkan ayat-ayat Injil terkesan kontradiktif dalam memberikan kesaksian dan pengakuan Yesus. Justru yang seharusnya Anda renungkan dan jawab adalah, mengapa di Yohanes 6:15, Yesus menolak permintaan orang-orang agar dirinya menjadi raja namun di Yohanes 18:33 Yesus justru membenarkan pertanyaan Pilatus?

    Bagi saya, sudah jelas, bahwa dua narasi di atas memperlihatkan pada kita bahwa Yesus bukan seorang raja dalam pengertian politis, oleh karenanya ketika Yesus dipaksa agar menjadi raja bagi orang-orang Yahudi, Yesus menolaknya (Yoh 6:15), sementara ketika Yesus membenarkan bahwa dirinya raja, sebagaimana ditanyakan Pilatus (Yoh 18:33), bukan bermakna politis melainkan religius. Bahkan Yesus menegaskan perbedaan makna istilah “raja” yang diklaimnya dan sekaligus ditolaknya dengan berkata kepada Pilatus, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh 18:36).

    Yesus memang raja, namun bukan raja dalam pengertian politis melainkan eskatologis dan dihubungkan dengan peran Mesianisnya yang telah dinubuatkan dalam kitab-kitab para nabi sebelumnya sebagaimana dikatakan, "Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Zakh 9:9). Dan para murid serta masyarakat Yahudi memang terbelah dalam memahami Yesus, sebagian memahami beliau datang sebagai raja dalam pengertian politis (Yoh 6:15) dan lainnya memahami kedatangan Yesus sebagai Raja dan Mesias dalam pengertian religius (Yoh 1:49-50; Yoh 12:13)

  1. Teguh Hindarto

    Teologi Rakyat:
    2. Kebiasaan Yesus yang menarik diri itu. Ada penjelasan menarik dari Albert Nolan dan mungkin beberapa Yesus Historian lainnya. Aku gak tau gmn membuktikan pendapat mereka ini benar atau tidak. Mereka bilang, Yesus sering menarik diri dari keramaian karena saat itu, Dia adalah pelarian politik karena insiden Bait Allah itu. Yah, Yesus itu DPO lah.
    ---------
    Itulah jika menafsirkan narasi Injil dari perspektif non Teologi, sehingga memaksakan peristiwa yang dialami Yesus adalah peristiwa politis. Justru jika Yesus adalah pelarian politik, seperti khayalan Anda, lalu bagaimana Anda menjelaskan sikap berwibawa Yesus yang tidak gentar menjawab pertanyaan Pilatus “apakah Engkau Raja orang Yahudi?” (Yoh 18:33) dan dijawab oleh Yesus, “Engkau telah mengatakannya?” (Yoh 18:37). Masakan kepada orang-orang banyak yang menghendaki dirinya agar menjadi raja, Yesus harus melarikan diri karena dirinya adalah seorang DPO, namun dihadapan seorang penguasa politik, Yesus justru membenarkan klaim yang ditujukkan bagi dirinya?

  1. Teguh Hindarto

    Teologi Rakyat:
    3. Yesus melakukan gerakan politik karena secara sadar Dia pun mencari pengikut dengan mengatakan, "Ikutlah Aku." Itu ajakan untuk mencari massa dan pengikut. Tapi dalam teologi Injili kan itu dibilang mencari murid.
    ------
    Lho? Ajakan Yesus agar “ikutlah Aku” memang selalu dihubungankan dengan relasi guru (rabi) dan murid (talmid)? Jika Yesus disebut “rabi” atau “guru” (Mat 23:7,8, Mrk 9:5, Yoh 3:2, dll), itu menandakan peran sosial beliau sebagai guru Torah. Maka setiap ajakan apapun yang dilakukan beliau harus dipandang sebagai ajakan seorang guru pada seorang murid dan bukan seorang pemberontak politik untuk mengumpulkan masa dan melakukan perlawanan fisik demi tujuan politik. Memangnya Anda bisa membuktikan bahwa Yesus berhasil melakukan radikalisasi massa dan melakukan berbagai aksi-aksi perusakkan dan perebutan kekuasaan yang terekam dalam Injil?

    Mengenai istilah dan julukkan Rabi bagi Yesus, silahkan Anda membaca artikel saya sbb:
    YESUS SANG RABI
    https://www.academia.edu/9207449/YESUS_SANG_RABBI

    Jangankan melakukan radikalisasi massa, bahkan Yesus pun tidak memperlihatkan ciri-ciri seorang pemimpin politik dan pemberontak saat beliau ditangkap (Mrk 14:46-47). Bahkan dengan lantang beliau berkata kepada para prajurit yang menangkapnya sbb: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu mengajar di Bait Tuhan, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci” (Mrk 14:48-49). Jadi, ciri mana yang Anda maksudkan bahwa Yesus adalah seorang pemimpin politik itu?

  1. Teguh Hindarto


    Teologi Rakyat:
    4. Ada kesenjangan cara berpikir antara zaman Yesus dan kita sekarang dimana politik dan agama dipisahkan secara dikotomis. Nah, kalau dulu, antara politik dan agama dan realitas kehidupan yang lain, dipandang sebagai satu kesatuan. Jadi gerakan Yesus adalah gerakan agama sekaligus gerakan politik.
    ---------
    Boeng…di zaman Yesus, dibedakan mana faksi-faksi politik dan mana faksi-faksi keagamaan. Faksi politik diwakili oleh kelompok Zelotes dan faksi keagamaan diwakili oleh Farisi dan Saduki. Mengenai faksi politik Zelotes, disitir dalam Kisah Rasul 5:37, “Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya”. SejarawanYosephus berkata bahwa pemberontakkan itu adalah awal dari konflik-konflik Yahudi dengan Kerajaan Romawi, yang berakhir dengan penghancuran Bait Suci pada tahun 70 Ms (Antiquities, Book VIII, Chap viii). Pada masa Feliks menjadi prokurator atas Yudea (52-60 Ms), orang-orang Zelot membentuk suatu kelompok radikal yang terkenal dengan nama “Sicarii” (manusia belati). Pada waktu diadakan upacara-upacara perayaan, para Sicarii disebarkan di tengah massa. Di sana mereka membunuh para simpatisasn Roma dengan belati yang diselipkan di balik baju mereka” (J.I. Packer dkk, Dunia Perjanjian Baru”, 1993: hal 110-111). So, gerakan Yesus adalah kegerakan keagamaan yang bersentuhan dan bergesekan dengan kekuatan politik namun bukan gerakan politik!

  1. Teguh Hindarto

    Saya membaca dan menggunakan analisis Marxis sebagai alat bantu untuk menganalisis persoalan sosial khususnya yang diakibatkan oleh Kapitalisme Global dan rezim Neo Liberalisme. Namun bukan berarti kita harus mengorbankan nilai-nilai religius dan memaksakan narasi keagamaan untuk membenarkan teori ekonomi dan politik, seperti membuat teori khayalan bahwa Yesus adalah pemimpin politik macam dugaan Dominic Croscan yang mungkin Anda kutip melalui penulis lainnya.

    Silahkan Anda membaca kajian saya mengenai partisipasi orang Kristen dalam persoalan politik:

    TANGGUNG JAWAB POLITIK & PARTISIPASI POLITIK UMAT KRISTEN DALAM HAJATAN POLITIK

    http://teguhhindarto.blogspot.co.id/2014/02/tanggung-jawab-politik-partisipasi.html

    TEOLOGI KEADILAN SOSIAL

    https://www.academia.edu/8137976/TEOLOGI_KEADILAN_SOSIAL

Posting Komentar