RSS Feed

MENGENAI KATA "METRONA"

Posted by Teguh Hindarto


Dalam artikelnya berjudul, "Bahasa Arab Bukan Warisan Peradaban Kristen: Inskripsi Yahudi Sephardi di Marocco (Maghrib)" (http://yeshivainstitute.net/bahasa-arab-bukan-warisan-peradaban-kristen/0), Menahem Eli atau Muhamad Ali membuat tafsiran terhadap sebuah kertas bertuliskan penggalan bahasa Ibrani dan Arab. Saya kutipkan pernyataannya sbb:

"Tulisan berbahasa Arab yg bergaris itu maksudnya: “ini adalah beberapa bukti tentang adanya kaum Yahudi yang berasal dari Palestina.” Komunitas Yahudi Palestina ini migrasi ke wilayah Marocco sejak era kolonialisasi kekuasaan Romawi di Timur Tengah. Ini merupakan indikasi kuat bahwa migrasi besar-besaran kaum Yahudi Pelestina ke wilayah-wilayah Afrika, hingga ke kawasan Marocco di barat Afrika, justru didorong oleh faktor politik, sosial dan ekonomi. Sayangnya, tulisan Ibrani tersebut kurang teliti cara menyalinnya, karena antarkata tidak ada spasi, dan kayaknya penulisan Ibrani-nya ada yang hilang/korup, terutama huruf2nya di bagian terakhir. Kalau bacaan saya seharusnya dibaca: Metrona bat Rabi Yehudah Nach(…..).

Inskripsi yang huruf2nya hilang tersebut sebenarnya bisa dibaca Nach(man), bisa dibaca Nach(um), bisa dibaca Neche(miyah), bisa dibaca Noach, atau bisa dibaca versi lain, atau bisa dibaca Nech(….). Ini yang harus dikonfirmasi berdasar data-data lain. Bila inskripsi tersebut dibaca Metrona bat Ravi Yehudah Noach, artinya: Ibunda kami Sang Putri dari Rav Yehudah Noach.

Anehnya pada inskripsi tersebut tertulis istilah מתרונה Metrona (Bunda kami) yang sebenarnya merupakan istilah Yunani yg di-Arab-kan dan menggunakan bentuk gramatika Arab – yakni ” isim dhamir ” נה (na) sebagai bukti adanya eksistensi penggunaan bahasa Judeo-Arabic di masa kekuasaan Romawi. Atau istilah tersebut merupakan dialek Ibrani khas Marocco yang berkembang di kawasan Afirika, yang perlu kajian lebih lanjut. Fakta ini juga dapat dibenarkan karena Talmud Yerushalmi/Jerusalem Talmud juga ditulis dng banyak menggunakan/mengadopsi istilah-istilah Yunani yang di-Ibrani-kan. Inilah karakter bahasa Mishnaic Hebrew. Namun demikian, istilah yang tertulis dalam bhs ibrani pada inskripsi tersebut membuktikan bahwa seseorang yang dimaksud itu adalah seorang royal/orang terpandang, karena bhs Yunani adalah ekspresi bahasa sebagai penanda identitas komunitas kelas tinggi pada zamannya, yang menggunakan campuran bhs Yunani.

Inskripsi yang menggunakan istilah Judeo-Arabic מתרונה tersebut membuktikan bahwa bahasa Judeo-Arabic justru telah eksis sejak era pra-Islam, dan eksistensi bahasa Arab telah mapan sebelum Kristen ada, bahkan sebelum Jesus dilahirkan. Jadi sangat tidak tepat bila dikatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa warisan kaum Kristen yang kemudian diwarisi oleh kaum Muslim".

Saya tidak tertarik untuk membahas sangkalan bahwa bahasa Arab bukan bersumber dari Kekristenan melainkan pernyataan Menahem Ali yang menafsirkan sebuah inskripsi yang anehnya tidak diperlihatkan inskripsinya melainkan hanya selembar kertas bertuliskan מתרונהבתרבייהודהנה yang kemudian dibaca oleh Ali menjadi מתרונה בת רבי יהודה נח Padahal yang disebut inskripsi lazimnya ya tulisan yang terpahat dalam batu seperti inskripsi Ummul Jimmal, Inskripsi Nammarah, dll. Lebih menggelikan lagi menuding bahwa kalimat dalam bahasa Ibrani tersebut “ada yang hilang/korup, terutama huruf-hurufnya di bagian akhir” padahal jika membaca tulisan Ibrani tanpa spasi dalam kertas dan bukan inskripsi tersebut jelas-jelas ada tanda koma yang dilanjutkan dalam bahasa Arab. Tuduhan Ali terlalu jauh jika dikatakan itu “bahasa Ibrani yang hilang/korup”.

Saya tidak habis fikir dengan interpretasi Ali yang menerjemahkan מתרונה בת רבי יהודה נח menjadi “Metrona bat Rabi Yehudah Nach” yng diterjemahkan “Ibunda kami Sang Putri dari Rav Yehudah Noach”. Bahkan dengan ceroboh menerjemahkan “Metrona” sebagai “Ibunda kami” yang sembrononya ditafsirkan, “istilah Yunani yg di-Arab-kan dan menggunakan bentuk gramatika Arab - yakni " isim dhamir " נה (na)” sehingga disimpulkanlah, “sebagai bukti adanya eksistensi penggunaan bahasa Judeo-Arabic di masa kekuasaan Romawi”.

Helenisme memang berpengaruh terhadap pemikiran Yahudi sehingga melahirkan kelompok bernama Misyavnim (orang-orang Yahudi Helenis) namun tidak ada bukti bahwa ada pengaruh bahasa Yunani dalam bahasa penulisan Talmud. Sebaliknya pengaruh Aramaik sangat kuat dalam bahasa penulisan Talmud. Selama periode Aram Tengah (sekitar 200 SM-200 M), bahasa Aram mulai terbagi menjadi dua kelompok utama dialek, bahasa Aramik Timur dan Barat. Bahasa Aramik Barat digunakan sebagian besar di wilayah yang berada di bawah kekuasaan Romawi (dan kemudian Bizantium). Talmud Yerusalem (Talmud Yerushalmi), yang disusun di Israel, ditulis dalam dialek Aram Barat. Bahasa Aram Timur berkembang di Kekaisaran Persia, dan sebagai hasilnya Talmud Babilonia (Talmud Bavli), yang ditulis dalam Babel yang didominasi Persia, berada dalam dialek Aram Timur. 

Selama era Mishnaik, terjemahan TaNaKh (Torah-Neviim-Ketuvim) yang dikenal sebagai Targum Onkelos dan Targum Jonathan ditulis dalam bahasa Aram Barat. Menurut beberapa orang, terjemahan bahasa Aram dari Taurat (targumim) ini pada awalnya merupakan bagian dari tradisi lisan yang sampai ke Musa di Gunung Sinai.

Ketika orang-orang Yahudi kembali ke Israel dari pembuangan Babel dan membangun kembali Bait Suci Kedua, mereka berbicara kebanyakan bahasa Aram. Bahasa Ibrani, sebagai “lashon haqodesh” (bahasa suci) diperuntukkan bagi hal-hal suci, seperti doa, dan tidak digunakan untuk aktivitas sosial dan komersial biasa. Talmud ditulis dalam bahasa Aram, bahasa massa, sehingga dapat diakses semua. 

Salah satu contoh pengaruh Aramaik misalkan dalam petikkan Doa Kadish ada frasa, “Yehei shmemey raba mevorakh le alam ulalmey almaya” yang merupakan pengaruh Aramaik karena dalam bahasa Ibrani seharusnya dibaca “Yehi shem rav mevorakh le olmi olamim”. Dengan demikian pernyataan bahwa bahasa penulisan Talmud dipengaruhi bahasa Yunani adalah kekeliruan yang fatal dan ahistoris.

Mengenai terjemahan מתרונה בת רבי יהודה נח – sangat ganjil sebelum kata “bat Yehuda” (anak perempuan Yehuda) ada kalimat yang ditafsirkan dan diterjemahkan “Ibunda kami”. Saya lebih memilih “Metronah” adalah nama seorang perempuan karena ditambahi “bat Yehudah” sehingga frasa מתרונה בת רבי יהודה נח seharusnya diterjemahkan “Metrona anak perempuan Yehudah Noakh”. Jadi bukan seperti khayalan Ali yang mengatakan, “istilah מתרונה Metrona (Bunda kami) yang sebenarnya merupakan istilah Yunani yg di-Arab-kan dan menggunakan bentuk gramatika Arab - yakni " isim dhamir " נה (na) sebagai bukti adanya eksistensi penggunaan bahasa Judeo-Arabic di masa kekuasaan Romawi”. 

Kecerobohan menerjemahkan/menafsirkan kata Ibrani מתרונה Metrona mengingatkan saya pada kecerobohan yang pernah dilakukan Ali saat menafsirkan kata Ibrani הַקֶּֽדֶם (ha qedem) dalam Kejadian 10:30 artinya adalah "timur" dan dalam bahasa Aramaik yang diterjemahkan oleh Targum Onkelos menjadi מדינחא (madinkha) namun diklaim oleh Ali sebagai "Medinta" alias “Mekah”. Padahal kata מדינחא (madinkha) ini muncul beberapa kali dalam TaNaKh untuk menerjemahkan dimana kata הַקֶּֽדֶם (ha qedem) muncul seperti dalam Kejadian 29:21, Bilangan 10:5, Yehezkiel 47:18, Mazmur 89:1, Ayub 1:3, Pengkhotbah 1:5,6. Tidak ada yang istimewa dengan kata Aramaik מדינחא (madinkha) selain bentuk terjemahan untuk kata הַקֶּֽדֶם (ha qedem) yang artinya "timur". Silahkan membaca penjelasan  A Dictionary of Jewish Palestinian Aramaic karya Michael Sokoloff, Bar Ilan University Press, 2002, p. 292 dimana kata "madnah" atau "madinkhah" artinya "east" atau "timur".

Pernyataan Ali yang menghubungkan tulisan Ibrani (yang secara keliru disebut inskripsi) sebagai berkarakter Judeo-Arabi jelas keliru. Ali mengatakan, “Inskripsi yang menggunakan istilah Judeo-Arabic מתרונה tersebut membuktikan bahwa bahasa Judeo-Arabic justru telah eksis sejak era pra-Islam, dan eksistensi bahasa Arab telah mapan sebelum Kristen ada, bahkan sebelum Jesus of Nazareth dilahirkan”. 

Kehadiran bahasa Judeo-Arabic merupakan cara komunitas Yahudi beradaptasi terhadap pengaruh dan dominasi pemerintahan Islam. Sebagaimana bahasa Yiddish merupakan cara orang Yahudi beradaptasi dengan bahasa dan budaya Eropa dan penggunaan bahasa Ladino sebagai bentuk adaptasi orang Yahudi di wilayah Turki, demikianpula dengan penggunaan bahasa Judeo-Arabic. Sebagaimana orang-orang Yahudi dilarang menggunakan bahasa Ibrani dan Aramic sebagai bahasa percakapan pada masa awal pemerintahan Islam dan hanya bertahan dalam penggunaan liturgi ibadah, karya ilmiah dan kata-kata asing, kasus serupa dialami oleh Kekristenan.
Semua subyek dalam pemerintahan baru Islam, entahkah mereka berpindah kepercayaan pada Islam atau tidak, tetap diharuskan mengadopsi bahasa dan budaya Arab. Leonard C. Epafras mengulas dua proses Arabisasi Islam yaitu melalui migrasi orang-orang Arab dan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi sebagai pengganti bahasa Yunani dan Syriak sebagaimana dikatakan, “The process of Arabization was come in two ways, i.e. through the intensification of Arab migration, notably from Yemen, to fill up the foreign lands to the farthest corner of Islamic civilization such as al Andalus. Secondly, the process achieved through the replacement of other administratives language, such as Greek and Syriac with Arabic” (Judeo-Arabic: Cultural Symbiosis of the Jews in the Islamicate Context, INSANIYAT: Journal of Islam and Humanities Vol 1 Nov 2016:8). Selanjutnya, dengan mengutip pandangan Bernard Lewis dalam artikelnya Egypt and Syria dalam buku The Cambridge History of Islam, Leonard Epafras menegaskan penggunaan bahasa Arab oleh komunitas Yahudi bukan bermakna mengadopsi Islam melainkan bentuk asimilasi dan akulturasi sebagaimana dikatakan, “not the adoption of the Islamic religion but assimiliation to Islamic modes of thought and patterns of behaviour” (Ibid.,).
Norman A. Stillman dalam artikelnya, The Judeo Arabic Heritage menjelaskan, “Judeo-Arabic may be considered the premier Diaspora language. For most of the last 1400 years, Arabic, in its Jewish form, was spoken by more Jews than any other language..Furthermore, Arabic was spoken or used as a cultural language by Jews across a greater geographical expanse than any other language was”(Sephardic And Mizrahic Jewry: From The Golden Age of Spain to Modern Times, edited by Zion Zohar, 2005:41-42). Geoffrey Khan mendeskripsikan Judeo Arabic dalam artikelnya Judaeo-Arabic and Judaeo-Persian sebagai, “Term Judaeo-Arabic refers to type of Arabic that was used by Jews and was distinct in some way from other types of Arabic” (The Oxford Handbook of Jewish Studies, ed. Martin Goodman, 2002:601). Menurut J. Blau, fenomena bahasa Judeo-Arabic menunjukkan adanya rintangan yang memisahkan sebagian besar populasi Yahudi dari budaya Aran dan Islam. Orang Yahudi baru akan menuliskan dalam bahasa Arab formal jika mereka berhadapan dengan Muslim dan orang Arab dalam sebuah penulisan dokumen. Tindakkan ini merupakan bentuk dan upaya untuk “crossing the barrier” (melintasi halangan) kepada orang Arab dan Muslim (Rommy Vollandt, The Transmission of Judaeo-Arabic Pentateuch Translation of Rav Saadiah Gaon in Arabic Letters: A Case of Textual Diffusion – Thesis, 2007:36).

0 komentar:

Posting Komentar