RSS Feed

KEBANGKITAN ORANG MATI SEBAGAI PENGHARAPAN IMAN BERSAMA

Posted by Teguh Hindarto




Midrash Rosh ha Shanah 1 Tishri 5772


Rosh ha Shanah adalah hari raya ke-5 dari tujuh rangkaian hari raya yang ditetapkan YHWH dengan sebutan sheva moedim


Makna Rosh ha Shanah[1]


Rosh Hashanah secara harfiah berarti "Kepala Tahun" dalam bahasa Ibrani. Ini jatuh di bulan Tishrei, yang merupakan bulan ketujuh dalam kalender Ibrani. Alasan untuk ini adalah karena kalender Ibrani dimulai dengan bulan Nissan (ketika itu diyakini orang-orang Yahudi dibebaskan dari perbudakan di Mesir) tapi bulan Tishrei diyakini menjadi bulan di mana Tuhan menciptakan dunia. Oleh karena itu, cara lain untuk berpikir tentang Rosh Hashanah adalah sebagai hari kelahiran dunia.


Rosh Hashanah dikerjakan pada dua hari pertama Tishrei. Tradisi Yahudi mengajarkan bahwa selama Hari Suci Yang Agung Tuhan memutuskan yang akan hidup dan siapa yang akan mati selama tahun mendatang. Akibatnya, selama Rosh Hashanah dan Yom Kippur (dan pada hari-hari menjelang perayaan tersebut) orang-orang Yahudi mengawali dengan tugas serius memeriksa kehidupan mereka dan bertobat untuk setiap kesalahan yang telah mereka lakukan selama tahun sebelumnya. Proses pertobatan ini disebut Teshuvah. Orang-orang Yahudi didorong untuk menebus kesalahan dengan siapa mereka telah dirugikan dan membuat rencana untuk memperbaiki selama tahun mendatang. Dengan cara ini, Rosh Hashanah adalah semua tentang membuat perdamaian di masyarakat dan perjuangan untuk menjadi orang yang lebih baik.


Meskipun tema Rosh Hashanah adalah hidup dan mati, itu adalah hari libur yang penuh dengan harapan untuk Tahun Baru. Orang-orang Yahudi percaya bahwa Tuhan adalah pengasih dan adil, dan bahwa Tuhan akan menerima doa mereka untuk pengampunan.

Liturgi Rosh HaShanah[2]

Ibadah Rosh Hashanah adalah salah satu ibadah yang terpanjang . Hanya ibadah Yom Kippur yang lebih lama. Ibadah Rosh Hashanah biasanya berlangsung dari pagi sampai sore hari dan sangat unik yang memiliki doa sendiri buku yang disebut Makhzor. Dua dari doa-doa yang paling terkenal dari liturgi Rosh Hashanah adalah:
  • Unetaneh Tohkef - Doa ini adalah tentang hidup dan mati. Bagian dari doa tersebut  berbunyi: "di perayaan Rosh Hashanah hal ini dituliskan, dan pada perayaan Yom Kippur hal itu disegel, berapa banyak orang akan meninggalkan dunia ini dan berapa banyak yang akan dilahirkan ke dalamnya, yang akan hidup dan siapa yang akan mati ... namun pertobatan, doa dan perbuatan baik dapat membatalkan kerasnya keputusan "
  • Avienu Malkeinu - doa lain yang terkenal adalah Avienu Malkeinu, yang berarti "Bapa kami Raja kami" dalam bahasa Ibrani. Biasanya seluruh jemaat akan menyanyikan bait terakhir dari doa ini bersama-sama, yang mengatakan: ". “Bapa kami, Raja kami, jawablah kami seolah-olah kita tidak memiliki perbuatan untuk membela perkara kami, selamatkan kami dengan rahmat dan cinta kasih"

Berbagai Kebiasaan dan Simbol[3]

Pada perayaan Rosh Hashanah adalah sebuah kebiasaan untuk menyapa orang dengan "L'Shanah Tovah," bahasa Ibrani yang biasanya diterjemahkan sebagai "Untuk Tahun yang Baik" atau "Semoga Anda memiliki tahun yang baik." Beberapa orang juga mengatakan "L'shana Tovah tikatev v'etahetem," yang berarti "Semoga Anda akan tertulis dan disegel untuk tahun yang baik." (Jika diucapkan pada seorang wanita ucapannya akan menjadi: "L'shanah Tovah tikatevi v'tahetemi"). Ucapan ini mengacu pada keyakinan bahwa nasib seseorang untuk tahun mendatang adalah memutuskan selama Hari Kudus Tinggi.

Shofar merupakan simbol penting dari Rosh Hashanah. Ini adalah instrumen yang terbuat dari tanduk seekor domba jantan dan ditiup seratus kali selama masing-masing dari dua hari Rosh Hashanah. Suara ledakan shofar mengingatkan orang tentang pentingnya refleksi selama liburan penting

Tashlich adalah upacara yang biasanya berlangsung selama hari pertama Rosh Hashanah. Tashlich secara harfiah berarti "membuang" dan termasuk melambangkan pembuangan dari dosa-dosa tahun sebelumnya dengan melempar potongan roti atau makanan lain ke dalam tubuh air yang mengalir


Simbol penting lainnya dari Rosh Hashanah termasuk apel, madu dan bundaran roti khallah. Irisan apel yang dicelupkan ke dalam madu mewakili harapan kami untuk tahun baru secara tradisional manis dan disertai dengan doa singkat sebelum makan yang berlangsung: "Semoga dengan kehendak-Mu, ya YHWH Tuhan kami, untuk memberikan kita setahun yang baik dan manis". Khallah, yang biasanya dipanggang menjadi kepang, dibentuk menjadi roti bundar di perayaan Rosh Hashanah. Bentuk melingkar melambangkan kelangsungan hidup

Pada malam kedua Rosh Hashanah adalah kebiasaan untuk memakan buah yang baru bagi kita untuk musim ini, mengatakan berkat Shehechiyanu seperti yang kita makan untuk bersyukur kepada Tuhan karena telah membawa kita memasuki musim ini. Delima adalah pilihan populer karena Israel sering dipuji karena buah delima dan karena, menurut legenda, delima mengandung 613 biji - satu untuk masing-masing 613 mitzvot. Alasan lain untuk makan buah delima di Rosh Hashanah ada hubungannya dengan harapan simbolik bahwa perbuatan baik kita di tahun mendatang akan sebanyak biji buah.

Sebagian orang memilih untuk mengirim kartu ucapan Tahun Baru di Rosh Hashanah. Sebelum munculnya komputer modern digunakan kartu tulisan tangan yang dikirimkan minggu sebelum jatuh perayaan, namun saat ini dapat dilakukan dengan mengirim e-card (kartu elektronik) Rosh Hashanah beberapa hari sebelum liburan.

Kebangkitan Orang Mati: Pengharapan Iman Orang Benar

Yesus Sang Mesias bersabda: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11:25-26). Siapakah Yesus sehingga mampu memberikan kehidupan kekal? Yesus Sang Mesias adalah Sang Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:14). 

Siapakah Sang Firman itu? Oleh Firman, segala sesuatu diciptakan sebagaimana dikatakan: “Oleh firman YHWH langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya” (Mzm 33:6). Yohanes memberikan kesaksian: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman itu adalah Tuhan. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Tuhan. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:1-3). Rasul Paul memberikan kesaksian: “Namun bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Junjungan Agung saja, yaitu Yesus Sang Mesias, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Kor 8:6).

Apakah Sang Firman itu adalah YHWH? Firman itu bukan yang sama dengan YHWH namun bukan pula yang berbeda dengan YHWH. Yohanes menggunakan frasa “Firman itu bersama-sama dengan Tuhan” dimaksudkan bahwa Sang Firman bukan YHWH itu sendiri. Sementara frasa “Firman itu adalah Tuhan” bermakna Firman itu bukan mahluk melainkan daya cipta yang melekat dan setara serta sehakikat dengan YHWH Tuhan Pencipta langit dan bumi. Tuhan YHWH menciptakan langit dan bumi dengan perantaraan Firman-Nya.

Dengan pemahaman di atas kita dapat memahami hakikat Yesus Sang Mesias dan makna perkataan-Nya. Dia bukan hanya sepenuhnya manusia namun Dia sepenuhnya Firman Tuhan. Oleh karenanya tidak mengherankan apabila Yesus memberikan janji yang pasti perihal kebangkitan orang mati bagi siapapun yang percaya pada-Nya.

Yesus memberikan janji (1) barangsiapa percaya pada-Nya akan hidup setelah mati (2) barangsiapa percaya pada-Nya tidak akan mati selama-lamanya. Apa arti mati selama-lamanya? Kitab Wahyu memberikan dua kategori kematian yaitu kematian pertama dan kematian kedua. Kematian pertama adalah terpisahnya roh dari raga atau terpisahnya nyawa dari badan. Sementara kematian kedua adalah kematian kekal berupa penghukuman setelah melewati pengadilan Tuhan.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua." (Why 2:11)

Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Tuhan dan Mesias, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya” (Why 20:6)

Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api” (Why 20:12-14)

Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua” (Why 21:8).

Yesus Sang Mesias mengajak semua orang untuk percaya pada-Nya sebagai Mesias Anak Tuhan. Dan barangsiapa yang percaya mereka akan terbebas dari kematian kedua yaitu maut kekal dan mengalami kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal bersama YHWH Sang Bapa Surgawi.

Tawaran Yesus Sang Mesias harus direspon dengan PERCAYA/BERIMAN sebagaimana Yesus mengatakan: “man damahaymen bi” (Arm), “ha maamin bi” (Ibr), “ho pisteuoon eis eme”, “barangsiapa percaya kepada-Ku”. Jadi letak kunci untuk terbebas dari kematian kedua atau kematian kekal berupa penghukuman, maka kita harus percaya atau beriman kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Tuhan.

Sebelumnya Yesus Sang Mesias bersabda: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Tuhan, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri” (Yoh 5:24-26).

Semua orang yang percaya/beriman kepada sabda Yesus Sang Mesias (Yahudi dan non Yahudi) maka mereka akan beroleh bagian dalam dunia yang akan datang. Terbebas dari kematian kedua yaitu kematian kekal karena penghukuman. Mereka akan memperoleh kebangkitan dari orang mati.

Madzhab Yahudi Abad Pertama terbagi dalam dua kelompok yaitu yang meyakini kebangkitan orang mati dan yang menolaknya. Madzhab Farisi meyakini kebangkitan orang mati sementara madzhab Saduki tidak meyakini kebangkitan orang mati.

Orang Farisi berasal dari kalangan Hasidim pada masa pemerintahan Yohanes Hirkanus. Orang Farisi adalah para ahli tafsir tradisi dari mulut ke mulut yang berasal dari para rabi. Mereka berlatar belakangkan ekonomi menengah seperti tukang dan pedagang. Menurut sejarawah Yahudi bernama Yosephus dalam bukunya Antiquites XII.x.5) kebanyakan orang Yahudi akan meminta nasihat dan pertimbangan untuk kasus-kasus pelik dalam hidup mereka kepada orang-orang Farisi daripada kepada raja ataupun imam besar. Karena kepercayaan masyarakat besar terhadap mereka, maka mereka menempati kedudukan penting dalam masyarakat yaitu sebagai Sanhedrin atau majelis agama[4]. Orang Farisi percaya kepada kebangkitan orang mati. Rasul Paul adalah seorang Yahudi mazhab Farisi sebagaimana dia katakan:

Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu” (Kis 23:6-7).

Orang Saduki merupakan para aristokrat (bangsawan) dan dipengaruhi filsafat-filsafat Yunani yang rasional. Ketika Yahuda Makabe pahlawan Yahudi berhasil mengusir pasukan penjajah Syria yang berkebudayaan Yunani dari tanah Yerusalem, maka keberadaan orang Yahudi yang mengadopsi gagasan Yunani tidak berani terang-terangan muncul ke permukaan. Namun sebagiannya ada yang tetap memelihara tradisi demikian yang kelak disebut dengan orang Saduki. Tidak jelas darimana asal usul Saduki. Mungkin dari kata Tsadiq yang artinya “benar” atau dari nama imam Tsadoq. Orang-orang Saduki menolak tradisi para rabbi yang diturunkan dari mulut ke mulut. Mereka hanya menerima kelima Torah Musa sebagai Firman Tuhan yang tertulis. Pandangan Saduki sejalan dengan pemikir Yunani bernama Epikuros yang mengatakan bahwa jiwa seseorang turut mati saat tubuhnya mati (Yosephus, Antiquites, XIII.ii.4)[5]. Orang Saduki tidak percaya malaikat dan kebangkitan dari antara orang mati sebagaimana dikatakan:

Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia” (Mat 22:23-28).

Kitab TaNaKh memberikan keterangan kepada kita perihal kebangkitan orang mati dalam Daniel 12:13 sbb: “Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman".

Kebangkitan orang mati adalah pengharapan semua orang beriman dari Adam sampai akhir zaman. Barangsiapa ingin mengalami kebangkitan orang mati dan beroleh kehidupan kekal serta terbebas dari kematian kedua yaitu kematian kekal, maka kita harus percaya/beriman kepada Yesus Sang Mesias.

Apa arti percaya/beriman pada Yesus Sang Mesias? Banyak orang menyalahartikan iman atau percaya adalah sebuah ungkapan kata-kata belaka tanpa pemenuhan atau pelaksanakan hukum-hukum Tuhan. Yesus Sang Mesias memberikan penjelasan perihal percaya sbb:

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;...”(Yoh 14:12)
Ketika Yesus menjabarkan pengertian mengenai Kasih, Yesus tidak mengartikan Kasih sebagai tindakan pasif melainkan aktif melakukan perintah Tuhan sbb:

“Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

Percaya yang benar atau beriman dengan benar adalah mewujudkan sikap percaya tersebut dengan mematuhi dan melakukan perintah, hukum, ketetapan, aturan Tuhan dalam Kitab Suci. Sikap percaya yang terlepas dari melakukan perintah-Nya, ibarat rantai yang putus. Sekuat dan seberat apapun rantai itu namun jika terputus dari rangkaiannya maka tidak memiliki kekuatan yang mengikat. Demikianlah iman tanpa perbuatan adalah kesia-siaan. Yakobus 2:7 menggambarkan sinergi yang harmonis antara iman dan perbuatan sbb:  “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”.

Marilah Hari Raya Rosh ha Shanah 1 Tishri 5772 (28 September 2011) kita jadikan momentum untuk (1) Mereklamasi (memproklamirkan kembali) sabda Yesus Sang Mesias yang berkuasa mengaruniakan kehidupan kekal. (2) Memperbarui iman dan kesetiaan kita kepada Sang Juruslamat dengan cara meningkatkan pelayanan dan perbuatan baik kita sebagai pengejawantahan perintah-perintah-Nya (3) Mempersatukan pengharapan antara kita yang masih hidup dengan mereka yang sudah berbaring dalam rahim bumi, bahwa kita bersama-sama menunggu dan mengharapkan kebangkitan orang mati untuk menerima kehidupan kekal sebagaimana janji Sang Juruslamat. Kita bersama-sama menantikan dalam pengharapan dimana Tuhan akan mengubah kita dari keadaan binasa menjadi hidup dalam kekekalan sebagaimana dikatakan dalam Roma 8:22-23 sbb: “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita”.

Khag Shameakh Rosh ha Shanah 1 Tishri 5772, Le Shana Tova u Metuqah...




[1] What Is Rosh HaShanah? The Jewish New Year of Rosh HaShanah (http://judaism.about.com/od/holidays/a/roshhashanah.htm)
[2] Ibid.,

[3] Ibid.,
[4] J.I. Packer dkk, Dunia Perjanjian Baru, Surabaya: YAKIN 1993, hal 104

[5] Ibid., hal 105-106

0 komentar:

Posting Komentar