RSS Feed

EPISTEMOLOGI KIRI DI ERA PASKA REFORMASI

Posted by Teguh Hindarto


Paska keruntuhan rezim Orde Baru, pemikiran kiri berbasis analisis Marxis mengalami kebangkitan kembali. Beberapa indikator kemunculan pemikiran kiri berbasis pemikiran Marxis ditandai dengan hal-hal berikut:

1. Munculnya situs-situs internet yang berisikan kajian analisis sosial, politik, ekonomi berdasarkan perspektif Marxisme[1]

2. Munculnya penerbit yang menerbitkan buku-buku karya Marx al., Das Kapital[2], atau buku-buku hasil karya Partai Komunis yang belum sempat diterbitkan dengan judul, Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965) karya Busjarie Latif[3], serta buku Antropologi Marx: Karl Marx tentang Masyarakat dan Kebudayaan karya Dede Mulyanto [4]

3. Penerbitan buku-buku oleh korban dan anak-anak partai komunis oleh Orde Baru seperti karya dr. Ribka Ciptaning, Aku Bangga Jadi Anak PKI[5]

4. Penerjemahan buku-buku berbasis analisis Marxis seperti Selections from the Prison Notebooks karya Antonio Gramsci judul, Prison Notesbooks: Catatan dari Dalam Penjara[6]

5. Penerbitan buku-buku kritik sosial berbasis analisis Marxis seperti , Epistemologi Kiri karya Listiyono Santoso[7] atau Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial karya DR. Mansour Fakih[8] Muhammad dan Karl Marx Tentang Masyarakat Tanpa Kelas karya  Munir Che Anam[9]

Pemikiran kiri berbasis analisis Marxis mewarnai berbagai kelompok-kelompok kajian atau analisis sosial politik yang mencoba mengritisi arah pembangunan yang cenderung berpihak pada kepentingan kapitalisme global maupun kapitalisme nasional dan pisau bedah mereka adalah teori-teori Marxis yang bersifat kritis atau teori-teori Marxis yang sudah mengalami revitalisasi dalam konteks Reformasi. Sebut saja buku-buku karya Mansour Fakih  yang diterbitkan oleh Pustaka Pelajar kerap menggunakan analisis Marxis khususnya Antonio Gramsci yang telah mengritisi konsepsi Karl Marx dan membuat konsep-konsep yang lebih relevan untuk mengritisi ketimpangan sosial dalam pembangunan. Beberapa buku Fakih al., Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial[10], Analisis Gender dan Transformasi Sosial[11], Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik[12], Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi[13]. Demikian pula buku-buku karya Eko Prasetyo pun sarat dengan pisau analisis Marxis seperti, Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal dari Wacana Menuju Gerakan[14], Saatnya Tan Malaka Memimpin[15], Orang Miskin Dilarang Sakit[16] Orang Miskin Dilarang Sekolah [17].

Daripada menyebut pemikiran kiri sebagai “bahaya laten komunis” – istilah yang dikontruksi oleh rezim Orde Baru - saya lebih melihat bahwa elemen-elemen masyarakat yang melakukan kritik sosial pembangunan melalui pisau bedah Marxis sebagai “kekuatan opini” yang berusaha mengisi celah kelemahan pembangunan yang berbasis kapitalisme global yang kerap menimbulkan kemiskinan struktural bagi kelompok-kelompok masyarakat. Mereka tidak bersenjata, mereka tidak memiliki pasukan terlatih secara militer, mereka tidak melakukan tindakan-tindakan intoleransi yang mengganggu kerukunan umat beragama. Menghubung-hubungkan kebangkitan pemikiran kiri dengan “bahaya laten komunis”, hanyalah sebentuk upaya untuk melanggengkan pemahaman stigmatis warisan rezim Orde Baru dan memberangus analisis kritis berbasis pemikiran Marxist.

Kita harus mengubah mindset kita dalam menyikapi kebangkitan pemikiran kiri paska Reformasi dengan melepaskan diri dari warisan pemikiran Orde Baru yang kerap melanggengkan paranoia “hantu komunis” tempat segala stigma dan kambing hitam terhadap berbagai peristiwa sosial politik yang mengarah pada tindakan anarkis, perpecahan, konflik vertikal dan horisontal sebagaimana dikatakan Peter Kasenda, “Sampai penghujung rezim Soeharto pada 1998, pemerintah dan pejabat militer Indonesia menggunakan ‘hantu’ PKI untuk menanggapi setiap masalah kerusuhan atau gejala pembangkangan. Kata-kata kunci dalam wacan rezim itu adalah bahaya laten komunisme”[18]

Relevansi Pemikiran Kiri Paska Reformasi

Kebangkitan pemikiran kiri yang nyata di depan mata sebaiknya disikapi dengan cara-cara yang berbeda dengan saat rezim Orde Baru yang membuat stigmatisasi sistemik, represif dan militerisme yang menimbulkan korban-korban di pihak Komunis yang luar biasa bahkan orang-orang non Komunis yang di-PKI-kan. Banyak buku yang diterbitkan yang memberikan deskripsi aksi balas dendam yang mengerikan terhadap orang-orang Komunis seperti, Kekerasan Budaya Pasca 1965 : Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film karya Wijaya Herlambang[19], GERWANI: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan karya Amurwani Dwi Lestariningsih[20], Neraka Rezim Soeharto: Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru karya Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto[21], Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966) karya Hermawan Sulistyo[22] , Di-PKI-kan: Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur karya R.A.F. Paul Webb & Steven Farram[23],  Memecah Pembisuan: Tuturan Penyintas Tragedi ’65-66, editor Putu Oka Sukanta[24],  dll.

Diperlukan pendekatan baru terhadap kebangkitan pemikiran kiri yang berlandaskan analisis Marxis dengan melakukan beberapa upaya berikut: Pertama, memberikan kesempatan masyarakat khususnya mahasiswa untuk melakukan interaksi dengan konsepsi-konsepsi Marxis melalui studi literatur yang ditulis oleh Karl Marx maupun penerus-penerusnya di masa untuk kemudian dilakukan perbandingan serta dianalisis dimana letak kelemahan dan kekurangan konsepsi-konsepsi Marxis. Selama ini yang terjadi kita justru dijauhkan dari literatur-literatur dan hanya dicekoki dengan paranoia sosial mengenai hantu Komunis yang menimbulkan ancaman ideologis dan keamanan nasional. Akibatnya kita gagal memberikan penilaian obyektif terhadap konsepsi-konsepsi yang diusung oleh ideologi komunis.

Kedua, memisahkan atau membedakan antara “Marxisme” dan “Komunisme”. Pembedaan ini penting dan diperlukan mengingat kedua istilah tersebut memiliki implikasi yang berbeda secara historis. Franz Magnis Suseno memberikan deskripsi mengenai perbedaan kedua istilah tersebut sbb: “Marxisme tidak sama dengan Komunisme. Komunisme yang juga disebut komunisme internasional adalah nama gerakan kaum komunis. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik parta-partai komunis yang sejak Revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan W.I. Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah komunisme juga dipakai untuk ajaran komunisme atau Marxisme-Leninisme yang merupakan ajaran atau ideologi resmi komunisme. Jadi Marxisme menjadi salah satu komponen dalam sistem ideologis komunisme..Istilah Marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx yang terutama dilakukan oleh temannya Friedrich Engels (1820-1895) dan oleh tokoh teori Marxis Karl Kautsky (1854-1938). Dalam pembakuan ini ajaran Marx yang sebenarnya sering ruwet dan sulit dimengerti disederhanakan agar cocok sebagai ideologi perjuangan kaum buruh. Georg Lukacs menegaskan bahwa ‘Marxisme klasik’ adukan Engels dan Kautsky itu menyimpang dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Marx. Ajaran Marx itu sendiri – yang pertama ditemuakn dalam The German Ideology – tidak memuat segala apa yang dipikirkan oleh Marx, melainkan hanya apa yang oleh Marx dianggap betul dan definitif….Karena itu, apabila kita ingin mengenali apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Marx, kita tidak boleh berfokus pada ‘Marxisme’ melainkan harus menelusuri proses perkembangannya”[25] Dengan Marxisme, kita mempelajari konsepsi-konsepsi Karl Marx dan perkembangan-perkembangannya sampai nanti dikonstruksi ulang oleh Friedrich Engels dan Karl Kautsky menjadi ideologi Marxisme. Dengan istilah Komunisme, kita mempelajari sejarah perkembangan dan partai-partai komunis di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia.

Ketiga, melakukan refleksi kritis dan obyektif terhadap pemikiran Karl Marx dan mengakui dengan jujur berbagai kontribusinya di bidang ilmu sosial dan pendidikan. Teori Mark mengenai ketimpangan-ketimpangan yang ditinggalkan sistem Kapitalisme baik Kapitalisme Klasik maupun Kapitalisme Global masih relevan menjadi pisau analisis dan inilah yang membuatnya tetap dapat bertahan sampai hari ini, sebagaimana dikatakan Franz Magnis Suseno, “Tetapi, meskipun kekuatan komunisme sudah pudar dan pancaran tantangan intelektual pemikiran Marx telah redup, pemikiran yang pernah sedemikian terasa di sebagian besar dunia ini tetap menuntut perhatian..Pemiran Marx juga menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi dan filsafat kritis. Yang terakhir, filsafat kritis, berinspirasi dari pemikiran Karl Marx, mejadi salah satu aliran utama dalam filsafat Abad 20”[26]. Selanjutnya Franz Magnis Suseno menambahkan, “Ada satu unsur yang khas bagi pemikiran Karl Marx;pemikirannya tidak tinggal dalam wilayah teori, melainkan, sebagai ideologi Marxisme dan komunisme, menjadi sebuah kekuatan sosial dan bahkan politik. Marx dan hanya Marx, mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasarnya filosofis namun kemudian menjadi teori perjuangan sekian banyak generasi pelbagai gerakan pembebasan”[27]

Tidak mengherankan bahwa berbagai buku yang berisikan analisis kritis terhadap sistem kapitalisme global kerap menggunakan analisis kritis Mark atau pemikiran Karl Marx yang telah direkonstruksi ulang sebagaimana dilakukan oleh Antonio Gramsci. Sebutlah karya Mansour Fakih dalam buku, Masyarakat Sipil Untuk Tranformasi Sosial mengatakan, “Tujuan utama buku ini bukanlah menemukan satu teori yang benar untuk mengganti teori yang salah, tetapi membangun suatu teori yang akan memberikan pedoman yang lebih luas bagi proses transformasi sosial…Teori baru ini sangat dipengaruhi oleh dua pemikir: Pertama, seperti telah diungkapkan terdahulu, oleh Antonio Gramsci, terutama kritiknya atas determinisme ekonomi dan konsep hegemoninya; kedua, oleh seorang pemikir Prancis yaitu Louis Althusser, khususnya konsep overdeterminismenya sebagai teori antisensialisme, antireduksionisme dan anti determinisme”[28].

Dalam kritiknya terhadap konsep dan dampak pembangunan Dunia Ketiga melalui prinsip Developmentalismenya, Muhadi Sugiono menulis buku, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga sbb: “Perspektif Gramscian merupakan sebuah perkembangan baru dalam studi hubungan internasional (HI) dan ekonomi politik internasional (EPI). Dirintis oleh Robert Cox sebagai sebuah ‘undangan untuk angkat kaki dari tatanan dunia yang berlaku saat ini dan mempertanyakan apa jadinya tatanan itu’(1981), perspektif ini banyak menggugah minat mahasiswa Marxis maupun non Marxis, utamanya ‘mazhab analisis’, “pulau teori’ tersendiri (Drainville, 1994, 106). Perspektif ini mendapatkan arti pentingnya dalam menjelaskan krisis hegemoni pasca perang dan transformasinya menuju tatanan pasca perang, manakala perpektif-perspektif yang lain, entah itu realisme, liberalisme maupun marxisme klasik, gagal menawarkan penjelasan yang memuaskan”[29]. Demikian pula Ulrich Duchrow melihat, “Pada saat yang sama, proses pemiskinan dalam skala besar dua per tiga bagian dunia lainnya ini telah mencapai titik yang amat menyedihkan”[30] dan ini adalah sebuah ironi dari tata ekonomi dunia Barat yang menggunakan sistem Bretton Woods yang hanya memberikan keuntungan bagi pemilik modal besar namun memiskinan masyarakat di belahan dunia lainnya sehingga, “Secara keseluruhan, kenyataan yang kita lihat adalah lawan dari pembangunan – kata yang masih terus dikumandangkan dalam pidato-pidato untuk mencoba membangkitkan kejernihan kita”[31]

Teori analisis Marxis tidak hanya mengalami rekonstruksi dan kritik internal dan dipergunakan sebagai pisau analisis terhadap sistem ekonomi kapitalis namun juga banyak menginspirasi ahli-ahli pendidikan seperti Paulo Freire yang banyak mengritisi sistem pendidikan yang hanya menggunakan “sistem bank” (hafalan) dan merumuskan teori “hadap masalah”. Freire hidup di Amerika Latin dimana kondisi sosial ekonomi mengalami kesenjangan yang tinggi, “Menurut Freire, kondisi semacam ini disebabkan oleh sebuah sistem yang menguasai hampir seluruh institusi yang berlaku dalam tatanan sosial, termasuk institusi pendidikan. Lebih dari itu, pendidikanlah yang menyebabkan manusia terbelenggu dalam kesadaran palsu”[32]

Keempat, menghapus anggapan bahwa Komunisme identik dengan Ateisme. Pada bagian ini, pelekatan dan penisbatan Komunisme dan Ateisme sudah menjadi pengetahuan umum dan kolektif masyarakat baik dari kalangan agamawan maupun militer. Tidak disangkal bahwa kelompok-kelompok Komunis di era pemerintahan Sukarno kerap berselisih dan bentrok dengan kelompok-kelompok agama khususnya dengan Islam khususnya dengan Masyumi. Tidak disangkal bahwa ideologi komunis kerap menyerang konsepsi Ketuhanan yang diajarkan agama-agama  sebagaimana tahun 1964. Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat), organisasi onderbouw PKI membuat lakon ketoprak yang mengolok-ngolok eksistensi Tuhan dengan mementaskan drama berjudul, Matine Gusti Allah (Allah sudah mati); Gusti Allah Ngunduh Mantu (Allah mengambil menantu). Tidak disangkal bahwa di negara-negara komunis, kebebasan beragama dibatasi dan tidak sebebas di negara-negara yang menganut demokrasi. Namun demikian pernah ada waktu bahwa kelompok-kelompok keagamaan berjalan mesra dan menganut ideologi Komunis berbasis Marxis di Indonesia baik untuk melakukan perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda. Partai Sarekat Islam yang didirikan H.O.S. Cokroaminoto terbuka dan merangkul Henk Snevliet seorang Sosialis anggota Partai Sosial Demokrat yang kelak menjadi Partai Komunis Belanda yang kelak menanamkan konsepsi-konsepsi Marxis dalam tubuh Sarekat Islam melalui Semaoen. Bonie Triyana menyebut Snevliet, “Dia adalah aktor intelektual yang berada dibalik radikalisme Sarekat Islam Semarang di bawah Semaoen”[33]. Cokroaminoto sendiri mengawinkan pemikiran Sosialisme dengan Islam dalam bukunya “Islam dan Sosialisme”. Bahkan para pengikut Sarekat Islam seperti Haji Hasan di Leles, Garut pun melakukan perlawanan terhadap Belanda terkait pembayaran pajak padi didasarkan pada konsep-konsep Marxis yang diyakininya. Demikian pula Haji Misbach yang taat beribadah menggunakan pisau analisis Marxis dan ayat-ayat Qur’an untuk membela yang tertindas. Bonei Triyana mendeskripsikan, “Pandangan kemasyarakatan Haji Misbach bersandar pada nilai-nilai ajaran Islam yang berpihak kepada kaum tertindas. Inilah titik temunya Marxisme yang diperkenalkan pertama kali oleh Henk Snevliet”[34]

Bahkan di era Reformasi ini, kelompok-kelompok Islam tertentu masih menggunakan pisau analisis Marxis untuk membaca situasi sosial dan politik serta menemukan jalan keluarnya. Sebut saja Muhammad dan Karl Marx Tentang Masyarakat Tanpa Kelas karya Munir Che Anam (Pustaka Pelajar), Muhammad, Marx, Marhaen: Akar Sosialisme Indonesia karya Jeanne S. Mintz (Pustaka Pelajar). Pemikiran-pemikiran Marx – meminjam istilah Franz Magnis Suseno – “tetap menantang”. Terbukti berbagai pemikir sosial tetap menggunakan analisis Marxis bahkan mengawinkannya dengan konsep-konsep keagamaan baik Islam dan Kristen.

Kelima, memberikan wawasan historis bahwa para pendiri bangsa adalah para pembaca buku Karl Marx dan menjadikannya sebagai pisau analisis sosial politik untuk melawan kapitalisme dan kolonialisme. Peter Kasenda menjelaskan, “Revolusi Indonesia diperjuangkan di atas dasar prinsip-prinsip nasionalisme yang diwarnai sosialisme. Baik pemimpin maupun organisasi-organisasi sosial politik di masa revolusi pada umumnya adalah kelompok sayap kiri. Filsafat yang mendominasi pada masa itu adalah sintesis dari tiga ketengangan yaitu: (1) prinsip-prinsip nasionalis revolusioner dalam tradisi yang ada pada tahun 1927, yang diprakarsai oleh PNI dan terhimpun begitu fasihnya dalam Indonesia Menggugat (2) sosialisme elektis yang disodorkan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir (3) sosialisme religius yang berakar tahunan sejak SI”[35]

Ketertarikan Sukarno terhadap pemikiran Marx diungkapkan dalam harian Fikiran Ra’yat sbb: “Dari muda sampai wafatnya, manusia yang hebat ini tiada henti-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara, dan bagaimana jalannya mereka itu akan mendapat kemenangan: tiada kesal dan capeknya ia bekerja dan berusaha untuk pembelaan itu: selagi duduk di atas kursinya, di muka meja tulisnya, begitulah ia pada 14 Maret 1883…melepaskan nafasnya yang penghabisan”[36]. Suatu ketika pernah terucap dari mulut Sukarno, “Di malam terang bulan yang penuh gairah, aku bahkan lebih memikirkan isme daripada memikirkan Inggit (Istri Bung Karno). Pada waktu muda-mudi yang lain menemukan kasihnya satu sama lain, aku mendekam dengan Das Capital. Aku menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi”[37]. Dalam buku autobiografinya, Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno menuliskan: “Aliran politikku tidak sama dengan aliran orang lain. Tapi disamping itu latar belakangku tidak bersamaan dengan siapapun juga. Nenekku memberikan kebudayaan Jawa dan mistik. Dari Bapak, datang teosofisme dan Islamisme. Dari Ibu Hinduisme dan Budhisme. Sarinah memberiku Humanisme. Dari Pak Cokro datang Sosialisme. Dari kawan-kawannya datang nasionalisme”[38]. Tidak mengherankan, Nurani Soyomukti menyimpulkan, “Bung Karno adalah ia yang mengambil semua hal yang dirasanya baik bagi persatuan Indonesia agar kesatuan bangsa yang terdiri dari pulau-pulau itu tetap bertahan”[39].

Begitu pula Hatta adalah pembaca Das Capital-nya Karl Marx. Untuk menjadi seorang ekonom yang baik, Bung Hatta pernah menganjurkan agar setidaknya harus mampu menguasai tiga buku: The Wealth of Nation dari Adam Smith; Das Kapital dari Karl Marx; dan General Theory of Employment dari J.M. Keynes. Beliau pun pernah menulis buku dengan judul Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia. Berikut kutipan pernyataan Hatta, “Apabila didjalankan sungguh-sungguh, tudjuan sosialisme jang terdekat akan tentjapai, jaitu rakjat Indonesia terlepas dari kesengsaraan hidup dan tiap-tiap orang terdjamin penghidupannia”[40]

Jika kita menggunakan pendekatan baru (new approach) dan menjauhkan diri dari pendekatan-pendekatan lama (old approach) yang menimbulkan “paranoia sosial” melalui istilah “hantu komunis”, maka kita bisa menempatkan studi pemikiran Marxis dan kedudukan partai yang berbasis pemikiran Marxis dalam hal ini partai komunis, dengan lebih obyektif dan meletakkan kontribusinya dalam bingkai historis dan dinamika sosiologis dalam konteks kekinian. Epistemologi kiri berbasis analisis Marxist harus diletakkan setara dengan analisis para sosiolog dan ekonom klasik atau kontemporer. Sebagaimana tradisi pemikiran Talcot Parson melahirkan mazhab Parsonian atau tradisi berfikir Weber melahirkan mazhab Weberian, demikian pula Marxisme harus diletakkan dalam kedudukan tradisi berfikir dan analisis sosial politik serta ekonomi.
 
 Beberapa hari lalu muncul pernyataan kontroversial penulis novel terkenal bernama Tere Liye, di media sosial Facebook, yang memicu kontroversi luas. Beberapa novel terkenal dan menjadi Best Seller al., Negeri Para Bedebah, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dll. Dalam status yang dibuatnya, Tere Liye berkata: “…Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama. Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari. Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan…”. Pernyataan di atas hendak mempertanyakan kontribusi pemikiran kiri di masa revolusi dan pembentukan Indonesia muda. Pernyataan Tere Liye bisa dilihat sebagai representasi pemikiran hasil kontruksi Orde Baru dalam menilai eksistensi pemikiran kiri. Sudah terlalu banyak kritik yang dipublikasikan untuk mendekonstruksi pemikiran a-historis tersebut oleh beberapa orang yang telah menuliskan kontribusi pemikiran kiri dalam pembentukan nasion Indonesia muda mulai dari Tjokroaminoto hingga Sukarno, Hatta, Syahrir hingga terartikulasi oleh elemen-elemen Partai Komunis Indonesia yang berjuang melalui jalur parlementer. Dan saya pun pernah menuliskan artikel berjudul, Pengaruh Pemikiran Karl Marx dan Ideologi Sosialisme Terhadap Para Pendiri Bangsa Dan Partai-Partai Politik [41] . Jika dalam artikel di atas saya menguraikan fakta historis peran dan pengaruh pemikiran kiri berbasis Marxis menjadi dasar ideologi pembebasan para bapak bangsa, maka melalui tulisan yang saya beri judul, Epistemologi Kiri Di Era Paska Reformasi, lebih memperlihatkan relevansi pemikiran kiri dalam mengritisi sejumlah paradox kebijakkan Liberal dan Neo Liberal dalam berbagai bidang khususnya ekonomi. Artikel ini sekaligus memberikan jawaban pada pernyataan Tere Liye bahwa epistemologi kiri bukan hanya memiliki peran historis dalam membentuk konsepsi Indonesia merdeka yang berdaulat dan bersifat anti kolonialisme namun epistemologi kiri masih tetap memiliki relevansi di era paska Reformasi.

Jika otak manusia terdiri dari otak kiri dan otak kanan dimana otak kiri menjalankan fungsi analitis dan rasional sementara otak kanan menjalankan fungsi intuitif dan emosional, demikianlah pemikiran kanan memerlukan penyeimbang pemikiran kiri. Epistemologi kiri akan tetap menemukan relevansinya di era paska Reformasi. Selama ditemukan ketidakadilan sosial dalam sistem ekonomi Liberal dan Neo Liberalisme yang saat ini menjadi narasi besar ekonomi dunia, maka epistemologi kiri menemukan relevansinya untuk mendekonstruksi berbagai anomali dan penyimpangan serta sejumlah paradox ekonomi Liberal/Neo Liberal.


End Notes:

[1] Beberapa situs internet perspektif Marxis sbb:

a.       http://militanindonesia.org/

b.       http://www.marxists.org/indonesia/indones/index.htm

c.        http://sosialkomunisindonesiaorg.wordpress.com/

d.       http://tikusmerah.com


[2] Karl Marx, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik Buku II (Proses Sirkulasi Kapital), Hasta Mitra, 2006

[3] Busjarie Latif, Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965), Bandung  Ultimus 2014

[4] Dede Mulyanto, Karl Marx Tentang Masyarakat dan Kebudayaan, Bandung  Ultimus 2011

[5] Dr. Ribka Ciptaning, Aku Bangga Jadi Anak PKI, Jakarta: Cipta Lestari 2002

[6] Antonio Gramsci, Prison Notesbooks: Catatan dari Dalam Penjara, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2013

[7] Listiyono Santoso, Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media 2003

[8] Mansour Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Tranformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008

[9] Munir Che Anam, Muhammad dan Karl Marx Tentang Masyarakat Tanpa Kelas,Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008

[10] Mansour Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Tranformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008

[11] ____________, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan INSISTPress 1998

[12] ____________, Jalan Lain: Manifesto Intelektual Organik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2002

[13] ____________,Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Yogyakarta: InsistPress 2009

[14] Eko Prasetyo, Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal dari Wacana Menuju Gerakan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan INSISTPress 2002

[15] __________, Saatnya Tan Malaka Memimpin, Yogyakarta: Resist Book 2012

[16] __________,Orang Miskin Dilarang Sakit, Yogyakarta: Resist Book 2004

[17] __________,Orang Miskin Dilarang Sekolah, Yogyakarta: Resist Book 2005

[18] Op.Cit., Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia , hal 219-220

[19] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965 : Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film, Jakarta: Marjin Kiri 2013

[20] Amurwani Dwi Lestariningsih, GERWANI: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan, Jakarta: Penerbit Kompas 2011

[21] Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Neraka Rezim Soeharto: Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru, Jakarta:Spasi dan VHR Book  2007

[22] Hermawan Sulistyo, Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia 2000

[23] R.A.F. Paul Webb & Steven Farram, Di-PKI-kan: Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur, Yogyakarta: Syarikat Indonesia 2005

[24] Memecah Pembisuan: Tuturan Penyintas Tragedi ’65-66 editor Putu Oka Sukanta, Jakarta: Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan 2011

[25] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisonisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Tama, 2001 hal 5-6

[26] Ibid., hal 5

[27] Ibid., hal 6

[28] Mansour Fakih, Masyarakat Sipil Untuk Tranformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2008, hal 55

[29] Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2006, hal 17-18

[30] Ulrich Duchrow, Mengubah Kapitalisme Dunia: Tinjauan Sejarah-Alkitabiah Bagi Aksi Politis, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2000, hal 2

[31] Ibid., hal 3

[32] Siti Murtiningsih, Pendidikan Alat Perlawanan: Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire, Yogyakarta: Resist Book 2004, hal 33

[33] Bonie Triyana , Palu Arit dan Bulan Sabit Pada Suatu Masa, dalam Historia No 17 Tahun II 2014, hal 70

[34] Ibid., hal 73

[35] Op.Cit., Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia , hal 24

[36] Nasionalisme, Islamisme, Marxisme dalam Di Bawah Bendera Revolusi, Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi 1964, hal 14

[37] Soekarno Dan Marxisme

http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20120312/soekarno-seorang-marxis.html

[38] Nurani Soyomukti, Soekarno dan Nasakom, Yogyakarta: Garasi 2008, hal 166

[39] Ibid., hal 169

[40] Mohammad Hatta, Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia, Djambatan, hal 24
 
[41] Teguh Hindarto, Pengaruh Pemikiran Karl Marx dan Ideologi Sosialisme Terhadap Para Pendiri Bangsa Dan Partai-Partai Politik
http://teguhhindarto.blogspot.co.id/2015/04/pengaruh-pemikiran-karl-marx-dan.html

0 komentar:

Posting Komentar