MENJAWAB BERBAGAI DAKWAAN NOVEL “THE JACATRA SECRET”
TERHADAP KEKRISTENAN
Ada sejumlah pernyataan tendensius terkait Kekristenan yang memerlukan beberapa tanggapan serius agar tidak menimbulkan bias pemahaman terhadap eksistensi Kekristenan. Kebanyakan tuduhan yang dialamatkan kepada Kekristenan dalam novel ini, banyak mengadaptasi dari gagasan novel Da Vinci Code selain sumber-sumber lainnya. Ada beberapa dari dakwaan tersebut yang benar namun banyak pula yang tidak akurat. Kita akan memeriksa satu persatu dalam kajian berikut ini.
Apakah Kekristenan Merupakan Bentuk Lain Ritual Pagan Dewa Matahari?
“Kedua mata Grant sekarang menatap lurus bagai menusuk ke dalam bola mata gadis di depannya. Dia terdiam sesaat. Dengan suara rendah, lelaki itu berkata serius, ‘Dan ingat Angelina...banyak peneliti agama yakin jika kekristenan sekarang merupakan bentuk lain dari ritus pagan Dewa Matahari ini’.
“Apa? Maksudnya Yesus sebagai Anak Dewa Matahari? Anggelina Dimitrea memekik tidak percaya. Untung kedai tidak begitu ramai. Tak ayal, beberapa pengunjung sempat mengerling ke arah mereka”[1]
Tidak dapat disangkal bahwa banyak pengaruh paganisme merusak wajah Kekristenan yang berakar pada budaya Semitik Yudaik sehingga sedikit banyak mendistorsi historitas dan pesan Kristiani yang sejati. Namun kekeliruan yang fatal jika semua ekspresi Kekristenan masa kini merupakan adopsi berbagai ritual pagan atau kekafiran. Sebelum kita mengkaji berbagai unsur pagan mana saja yang merusak Kekristenan, kita harus melihat secara utuh sejarah dan kepercayaan serta peribadatan Kristen yang berakar pada budaya Semitik Yudaik. Kenyataan ini pun tidak banyak diketahui oleh masyarakat Kristen di Indonesia.
Kekristenan Sebagai Anak Kandung Yudaisme
Hans Ucko mengulas secara kritis mengenai akar dan sumber Kekristenan sbb: “Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya ‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut mencerminkan sebentuk rasa sulit [bagi orang Kristen atas hubungannya yang terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini. Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu”[2].
TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) dan Kitab Perjanjian Baru, tidak pernah memberikan penamaan terhadap perilaku religius umat Yahweh dan umat Mesias dengan sebutan “Mesianik” atau “Kristen”. TaNaKh maupun Brit ha Khadasha justru memberikan identifikasi dengan sebutan “DEREK/DARKEY YAHWEH” (דרכי יהוה band. 2 Sam 22:22, Yer 5:4, Ul 8:6, Mat 22:16, Kis 9:2, Kis 13:10).
“Sebab aku tetap mengikuti jalan Yahweh (דרכי יהוה) dan tidak menjauhkan diri dari Tuhanku sebagai orang fasik” (2 Sam 22:22).
Dalam perkembangannya, sebutan “Yudaisme” lebih kerap ditujukan pada religiusitas Bangsa Yishrael yang menyembah Yahweh dan berpusat pada ibadah di Bait Suci. Istilah “Yudaisme” pertama kali muncul dalam Kitab 2 Makabe 2:21 dan 2 Makabe 8:1 serta 2 Makabe 14:38 dengan sebutan “tou Iaudaisemou” dan “toi Iaudaismoi” sbb:
“tentang penampakan-penampakan dari sorga guna orang-orang berani yang bertindak dengan gagah perkasa untu k kepentingan penganut agama Yahudi (τοῦ Ιουδαϊμοῦ) sehingga mereka, meskipun hanya sedikit jumlahnya, berhasil merebut kembali seluruh wilayah serta mengusir gerombolan orang asing”
“Adapun Yudas yang disebut juga Makabe serta para pengikutnya pergi menyusupi kampung-kampung. Dipanggilnyalah kaum kerabatnya dan dengan menggabungkan dengan mereka semua orang yang tetap teguh dalam agama Yahudi (τῷ Ιουδαϊμῷ), maka dikumpulkannya lebih kurang enam ribu orang”
“Oleh karena Nikanor ingin membuat permusuhan yang ditaruhnya kepada penganut agama Yahudi (Ιουδαϊμοῦ) menjadi nyata, maka disuruhnya lima ratus lebih prajurit menangkap Razis”
Bahkan Rasul Paul mengidentifikasi bahwa dia pun seorang penganut agama Yahudi yang taat sebagaimana dikatakan dalam Galatia 1:13 sbb: “Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: (τω ιουδαισμω/) tanpa batas aku menganiaya jemaat (Tuhan) dan berusaha membinasakannya”
Ketika Yesus memberitakan Kerajaan Tuhan dan Injil dan setiap orang mulai mempercayai bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim), maka terbentuklah dua golongan orang yang menerima Dia sebagai Mesias. Golongan pertama adalah golongan Yahudi dari berbagai sekte dan kelas sosial yang berbeda dan kedua golongan non Yahudi dari berbagai kelas sosial yang berbeda. Sebutan Christianoi muncul di Anthiokhia (Kis 11:26), yaitu julukan bagi Pengikut Mesias dari kalangan non Yahudi. Sementara sebutan Nazoraios atau Netsarim merupakan julukan bagi Pengikut Mesias dari kalangan Yahudi (Kis 24:5). Sebutan-sebutan seperti Christianoi atau Nazoraios, tidak memberikan suatu pemahaman pada waktu bahwa mereka aalah orang-orang yang terlepas dari Yudaisme. Mereka berada dan beraktivitas dalam bingkai Yudaisme. Kekristenan pada waktu itu adalah salah satu sekte dari Yudaisme.
Yesus Dan Para Rasul Mengajar Dalam Konteks Yudaisme
Anton Wessel mengatakan sbb: “Yesus bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi! Ucapan Jullius Wellhausen ini menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwa orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan-betapa mungkin secara mengejutkan-betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi-Nya. Mereka lupa bahwa ‘keselamatan datang dari bangsa Yahudi’, sebagaimana terungkap dalam percakapan Yesus di sumur dengan perempuan Samaria itu (Yoh 4:22)”[3]
Robert dan Remy Koch menguatkan kembali ulasan Wessel sbb: “To recap what we have spoken of earlier, Yeshua (Jesus) was from the tribe of Judah, the direct line of David, fulfilling prophetic Tanakh (OT) Scriptures regarding the promised Messiah. He observed the Torah (Law) perfectly, celebrated all the Feasts of the Lord and the Sabbath and was respected as Rabbi who spoke with authority even by those who did not believe His Message. During His lifetime, His teachings were considered well within Judaic tradition and his followers were regarded as a sect of Judiasm by the Jewish community. This sect, called the Nazarenes,…[4]
Bukti-bukti bahwa Yesus seorang Yahudi dan melakukan karya mesianik dalam bingkai kebudayaan Yahudi dan Yudaisme, nampak dalam beberapa hal berikut:[5]
Apakah bukti-bukti yang menguatkan bahwa Yesus adalah Ish Yehudi (seorang Yahudi)? Pertama, garis silsilah Yesus (Mat 1:1-17, Luk 3:23-28). Silsilah yang dilaporkan oleh Matius mengambil garis Yesus dari Salomo anak Daud, Raja Israel (Mat 1:6) dan jika ditarik terus ke atas, sampailah pada leluhur Mesias, yaitu Yahuda yang merupakan anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, sebagai anak pewaris perjanjian kekal Yahweh dengan keturunan Abraham. Sementara silsilah yang dilaporkan Lukas mengambil garis dari Natan anak Daud yang lain (Luk 3:32), hingga sampai Avraham dan terus sampai kepada Adam. Asal-usul kesukuan Yesus ditegaskan kembali dalam Ibrani 7:14, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa (Junjungan Agung) kita berasal dari suku Yahuda dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”.

















