RSS Feed

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 1

Posted by Teguh Hindarto


TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO

AJARAN ALKITAB MENGENAI HARI SABBAT


https://www.facebook.com/notes/komunitas-orthodox-indonesia-gregorius-palamas/ajaran-alkitab-mengenai-hari-sabbat/463163017051314


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Perikop di atas merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dilepaskan, sehingga ketentuan tentang hari Sabbat jelas merupakan kesatuan dengan ketentuan Tahun Sabbat. Tiga hari raya dan korban-korban yang menyertainya. Merayakan Sabbat berarti bukan hanya “Hari” Sabbat, namun juga “Tahun” Sabbat, dan beserta itu merayakan perayaan-perayaan tiga lainnya yang diserta dengan pranata korban menyertainya.  Maka mengambil Sabbatnya saja, melupakan konteks kesatuan perikop sebagai yang sama-sama diberikan oleh Allah adalah merupakan pemerkosaan kebenaran. Penjelasan lebih rinci bagaimana seharusnya Sabbat itu harus dirayakan dan dalam konteks apa Sabbat itu dirayakan dapat kita lihat dalam Imamat 23.

Imamat 23:2 : “… hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN yang harus kamu maklumkan… adalah yang berikut. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada Sabbat…” Selanjutnya perikop pasal ini memberikan rincian dari hari-hari raya dengan tata cara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya adalah apa yang sudah disebut dalam Keluaran 23 di atas, hari Raya Roti tak beragi, dimana syarat pelaksanaannya sama dengan Sabbat yaitu “janganlah kamu melakukan sessuatu pekerjaan berat” (Im.23:8), yang ini menunjukkan perluasan makna Sabbat dalam kehidupan sosial keagamaan Israel. Demikian juga hari raya Pengumpulan hasil dan hari raya Buah Bungaran, dihitung dalam kaitannya dengan Sabbat (Imamat 23:11,15) dan juga dalam kaitannya untuk tidak melakukan pekerjaan berat (Im 23:25. Semuanya ini menunjukkan bahwa Sabbat itu menjadi dasar dari semua hari raya Israel dan sistim kehidupan bangsa itu. Serta Sabbat itu tidak dibatasi pada hari ketujuh secara terisolasi namun juga terkait dengan perayaan-perayaan Israel lainnya yang disertai syarat korban yang harus dipenuhi, dimana setiap perayaan hari raya itu memiliki cirri Sabbat: Tahun Sabat, Tujuh Sabat (Minggu Sabat), serta Ini Sabat (tidak bekerja).

Demikianlah Alkitab telah memberikan peraturannya sendiri bagaimana Sabbat itu harus dilaksanakan dan dalam konteks yang bagaimana itu harus dilaksanakan. Jika dalam Hukum Sepuluh hanya disebut mengenai “Hari Sabat” saja, itu disebabkan hukum sepuluh hanya menunjukkan garis pokok ketentuan hukumnya saja, sedangkan rinciannya disebut ditempat lain seperti yang telah kita bahas di atas, sama seperti menghormati bapa-ibu itu diperluas dengan menghormati semua otoritas yang ada di atas kita: pemimpin, guru, tua-tua, pemerintah dan sebagainya. Jadi sungguh tak masuk akal jika kita hanya mengambil hukum menghormati ayah-ibu lalu menolak ketetapan mentaati pemerintah sebagai perluasan makna hukum dasar tadi.

Demikian pula dengan Sabat ini. Mengambil hari Sabtunya saja, lalu mengabaikan segenap rincian ketentuannya dengan segala konteks dan kaitannya seperti yang jelaskan oleh Kitab Suci sendiri, adalah merupakan tindak sewenang-wenang terhadap nats kitab suci. Jika Sabbat harus diikuti maka semua ketentuannya harus tidak boleh diabaikan. Melakukan ini berarti kita harus menjalankan seluruh hukum Perjanjian lama tanpa pilih-pilih, yang berarti ita harus jadi Yahudi. Itulah konsekwensinya jika kita mau taat terhadap ketentuan Sabbat yang utuh, konsekwen dan sempurna.
----------------
Judeochristian:

Sebagaimana Yesus dan rasulnya tetap beribadah pada hari Sabat (Luk 4:16, Kis 13:14,27,42,44) demikianlah seharusnya umat Kristen yang memelihara ajaran lisan Yesus dan ajaran lisan dan tertulis dari rasul-rasul (2 Tes 2:15) seharusnya tetap memelihara Sabat.

Namun demikian, kita merujuk pada tulisan Rasul Paul dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”. Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang ditetapkan oleh YHWH di Sinai (Sabat) namun perihal larangan agar jemaat Mesias non Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan sbb: “But here it appears that Gentile Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian” (Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana makan dan minum agar menjadikan... tawanan, Jewish New Testament Commentary, Clarksville: JNTP 1992, P.610)

Umat Kristen tidak terikat untuk mematuhi fatwa rabinik dalam Yudaisme yang dikompilasikan dalam Talmud terkait bagaimana merayakan Sabat. Sepanjang tradisi itu bernilai (seperti penyalaan lilin, birkat Sabat, makan roti dan anggur Sabat, tidak menjadi masalah). Namun ketentuan mengikat dan membebani seperti tidak boleh berjalan sekian kilometer, tidak boleh membawa jarum dll tentu saja tidak perlu menjadi ketentuan yang mengikat.

Kita tidak bisa melepaskan Sabat hanya memfokuskan pada perluasan maknanya belaka. Makna Sabat hanya dapat dimengerti dengan baik dengan cara meletakannya dalam kedudukannya dalam pilar ibadah Perjanjian Baru dan pilar ibadah orang Kristen. Dengan kata lain, makna Sabat hanya dapat dihayati dengan cara kita beribadah pada hari Sabat. 

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Masih berbicara masalah sikap Yesus, thesis Taurat bahwa Sabat itu dilakukan karena Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh (Kejadian 2:2-3, Keluaran 20:11) itu ditolak oleh Yesus dan dijungkirbalikkan dengan pernyataannya: “BapakKu bekerja sampai sekarang” (Yohanes 5:17) sebagai koreksi atas pernyataan “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan” (Kejadian 2:2-3). Pernyataan Kejadian 2:2-3 itu hanya boleh dimengerti berdasarkan ajaran Yesus, bahwa bukanlah Allah yang berhenti bekerja, namun alam semesta ini telah selesai diciptakan, Allah sendiri tak henti-hentinya sampai sekarang, memelihara, menghidupi, menopang, membimbing, mencipta manusia baru yaitu bayi-bayi dan lain-lain. Jadi memang tidak pernah ada saatnya Allah itu berhenti bekerja, dahulupun tidak, sekarangpun tidak, pada hari ketujuhpun tidak. Maka Sabat itu diperintahkan bukan karena memang betul ada perhentian pada Allah seolah-olah Dia itu manusia yang perlu istirahat. Mahasuci Allah dari sifat-sifat kelemahan seperti itu. Maka jika para pengikut faham Sabbatisme atau hari ketujuhisme ini hendak merujuk pada “perhentian” kerja Allah, harap diingat bahwa Allah tak pernah berhenti bekerja, yang berhenti adalah selesainya pekerjaan penciptaan.
---------------
Frasa, “thesis Torat” yang dikonfrontirkan dengan frasa “ditolak Yesus” memberikan kesan dan pemahaman bias yang selama ini masih diterima oleh mayoritas Kekristenan bahwa Yesus merevisi Torah, mengoreksi Torah.
Bagaimana Yesus memandang keberadaan Torah? Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, kita akan melakukan eksposisi teks dan konteks dari Matius 5:17-48. Yesus membuka dengan kalimat, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah dan Kitab Para Nabi” (Mat 5:17). Kata yang diterjemahkan dengan “meniadakan”, dalam naskah Yunani adalah kataluo. Dalam Perjanjian Baru kata kataluo digunakan sebanyak tujuh belas kali dengan pengertian : “meruntuhkan”, “membinasakan”, “membatalkan”, “melenyapkan”, “mencari penginapan” (Pdt. Hasan Sutanto, MTh. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, Jil II, Jakarta : LAI 2003, hal 435) 


DR. David Bivin dan Roy Blizard memberikan perspektif lain mengenai makna pernyataan “Aku datang bukan untuk meniadakan Torah” sebagai suatu ungkapan khas Ibrani dalam diskusi Rabinik. Ungkapan ini bermakna bahwa “seseorang telah menafsirkan secara keliru tentang Torah”. Jika ada seseorang menafsirkan Torah secara keliru, maka para rabbi yang lain akan mengatakan, “engkau membatalkan Torah”. Dalam konteks makna literal ini, maka Yesus sedang membantah kepada para pendengarnya, bahwa diri-Nya bukan datang untuk menyimpangkan atau menafsirkan secara keliru terhadap Torah dan Kitab Para Nabi (Understanding the Difficult Words of Jesus, Destiny Image Publishers, 2001, p. 114)


Kata yang digunakan untuk “menggenapi” dalam teks Yunani, adalah pleroo. Kitab Perjanjian Baru menuliskan sebanyak 86 kali dalam arti, “memenuhi”, “menggenapi”, “habis”, “lewat”, “menyatakan dengan penuh”, “memberitakan kemana-mana”, “menyelesaikan”, “melakukan” (Op.Cit., Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, hal 648)


Sebagaimana komentar sebelumnya, David Bivin dan Roy Blizard menyatakan bahwa pengertian “membatalkan” dan “menggenapi” bermakna “tafsir yang menyimpang” dan “tafsir yang tepat”. Selengkapnya, beliau menjelaskan : “Kata ‘membatalkan’ dan ‘menggenapi’, merupakan istilah teknis yang digunakan dalam diskusi rabinik. Ketika seorang bijak merasa bahwa temannya menafsirkan secara keliru bagian dari Kitab Suci, dia akan mengatakan ‘anda telah membatalkan Torah!’, singkatnya, dalam banyak kasus, temannya menunjukkan ketidaksepahaman yang keras. Bagi orang bijak, yang dimaksud dengan ‘melenyapkan Torah” maka kebalikannya,  ‘menggenapi Torah’ atau menafsirkan Kitab Suci dengan tepat (Ibid., Understanding the Difficult Words of Jesus) 

Pernyataan diatas diperkuat dengan frasa “kamu telah mendengar” dan “tetapi Aku berkata kepadamu”. Tanggapan Yesus terhadap tafsiran para rabbi sebelumnya terhadap Torah, ditegaskan kembali secara tepat oleh Yesus dengan penekanan kalimat, “Tetapi Aku berkata kepadamu”.

(tafsir) Torah mengatakan, janganlah membunuh karena barangsiapa yang membunuh akan mendapatkan hukuman namun Yahshua menegaskan secara tepay makna Torah bahwa yang harus dihukum bukan hanya mengenai kasus yang berat namun yang kelihatannya ringan, seperti kemarahan yang luar biasa dengan mengeluarkan umpatan kasar seperti raka yang artinya “bodoh” (Mat 5:21-22).
    
(tafsir) Torah mengatakan jangan berzinah. Yesus memberikan pemahaman yang tepat mengenai zinah, bahwa seseorang yang berzinah bukan semata-mata yang memiliki hubungan dengan wanita lain selain istrinya, namun memandang wanita yang bukan istrinya dan mengingininya, sudah dikategorikan perzinahan (Mat 5:27-28). 

(tafsir) Torah mengijinkan suatu perceraian namun Yesus memberikan pemahaman bahwa jika bukan karena alasan yang kuat, yaitu perzinahan, maka janganlah sampai terjadi perceraian. Dengan melakukan perceraian, kita telah menjadikan diri kita dan pasangan kita sebagai seorang yang berzinah (Mat 5:31-32).

(tafsir) Torah mengajarkan agar jangan bersumpah palsu. Yesus memberikan pemahaman yang tepat bahwa hendaklah seseorang tidak bersumpah demi apapun juga, karena sumpah mengandung risiko. Tidak jarang kita melakukan dalih dalam sumpah yang kita ucapkan dihadapan Tuhan dan sesama (Mat 5:38-42).

(tafsir) Torah mengajarkan untuk mengasihi dan membenci musuh. Ayat ini sering dijadikan alasan untuk membenci dan tidak memaafkan orang-orang yang bersalah pada diri kita. Yesus memberikan pemahaman yang tepat dengan mengatakan untuk mengasihi musuh dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal (Mat 5:43-48).

Penegasan Yesus diatas membuktikan bahwa kedatangannya bukan “membatalkan Torah” (menyimpangkan makna Torah) melainkan “menggenapi Torah” (memberikan pemahaman yang benar). Hampir senada dengan ulasan David Bivin dan Roy Blizard, DR. David Stern dalam ulasannya mengenai kata “membatalkan” dan “menggenapi”, mengatakan :“Adalah tepat bahwa Yesus memelihara Torah secara sempurna dan menggenapi berbagai nubuatan dalam Kitab Para Nabi. Namun bukan ini pokok persoalannya. Yesus tidak datang untuk membuat tidak berlaku Torah namun membuat ‘maknanya menjadi penuh’ mengenai apa yang dituntut dalam Torah dan Kitab Para Nabi. Selanjutnya Dia melengkapi pemahaman kita terhadap Torah dan Kitab Para Nabi…Pasal 5 yang tersisa, menjelaskan enam kasus khusus dimana Yahshua memberikan penjelasan makna rohani secara penuh mengenai pokok-pokok dalam hukum Yahudi (Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.25-26) 

Penjelasan David Bivin dan Roy Blizard serta DR. David Stern, bukan satu-satunya penjelasan yang dapat diterima dalam memahami perkataan Yesus mengenai arti “membatalkan Torah” dan “menggenapi Torah”.

EKSISTENSI GEREJA ORTHODOX SYRIA SERTA RELEVANSINYA DALAM MENEMUKAN KEMBALI EKSPRESI KEKRISTENAN SEMITIK

Posted by Teguh Hindarto




Di Suriah, pertempuran antara pasukan perlawanan oposisi dan militer rezim Assad masih berlanjut di Allepo dan beberapa kota lain, termasuk Damaskus. Saling klaim terjadi diantara keduanya bahwa mereka masing-masing telah menguasai Allepo dan lawannya tersingkir”, demikian petikan surat kabar Kompas tanggal 3 Agustus 2012. Tiga kata penting yang akhir-akhir ini kita dengar di media televisi dan surat kabar serta media on line yaitu Suriah, Damaskus (ibukota Suriah) dan Allepo (wilayah di Damaskus). Tiga kata ini memiliki peran penting dalam perkembangan Kekristenan, sebelum Islam menguasai Suriah pada Abad VII Ms.

Sebagaimana kita ketahui bahwa akhir 2011 lalu terjadi pemberontakan pasukan bersenjata terhadap rezim Bashar al Assad dan memuncak pada tanggal 15 Juli 2012. Menurut laporan PBB, sudah sekitar 9000-11.000 orang yang tewas dalam konflik bersenjata ini. Assad memerintah sebagai presiden sejak tahun 2000 menggantikan ayahnya Hafez al-Assad[1].

Suriah atau Syria yang resminya bernama Republik Arab Syria adalah negara Arab di wilayah Asia Barat, yang berbatasan dengan Lebanon dan Laut Tengah di Barat, berbatasan dengan Turki di Utara dan berbatasan dengan Irak di Timur dan berbatasan dengan Yordania di Selatan, serta berbatasan dengan Israel di Barat Daya. Dalam bahasa Inggris, nama Suriah sebelumnya identik dengan Levant, yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Sham, sementara negara Suriah modern kini meliputi situs-situs kerajaan kuno beberapa dan kerajaan, termasuk peradaban Eblan dari milenium ketiga SM.

Suriah (Syria) jatuh ke tangan pemerintahan Muslim pada tahun 640 Ms oleh tentara para khalifah pimpinan Khalid bin al-Walid, sehingga bagian daerah itu menjadi kerajaan Islam. Kemudnianpada pertengahan abad VII Ms, dinasti Umayyah menempatkan ibukota kekaisaran di Damaskus. Lalu Suriah dibagi menjadi empat kabupaten: Damaskus, Homs, Palestina dan Yordania. Kerajaan Islam membentang dari Spanyol dan Maroko ke India dan bagian Asia Tengah, dan Suriah yang makmur secara ekonomi kemudian menjadi ibukota kekaisaran. Penguasa Ummayad awal seperti Abd al-Malik dan Al-Walid banyak membangun istana megah dan beberapa masjid di seluruh Suriah, terutama di Damaskus, Aleppo, dan Homs.

Populasi Suriah adalah Sunni 74% (sebagian besar Arab Sunni, tapi juga orang Kurdi, Circassians dan Turkomans), Alawi 12% dan Syiah (kebanyakan orang Arab), 10% Kristen (Arab Kristen, Asiria dan Armenia) dan Druze 3% (kadang-kadang dianggap bagian dari Syiah Islam). Dikombinasikan, 87% dari populasi Suriah adalah Muslim. Mayoritas penduduk Suriah adalah Arab. Suriah menerima kemerdekaan tahun 1946 berdasarkan mandat Prancis[2].

Jumlah orang Kristen di Syria meliputi sekitar 10% dari jumlah penduduk Syria. Denominasi Kristen terbesar adalah Gereja Ortodoks Yunani dari Antiokhia, diikuti oleh Gereja Katolik Melkite Yunani, dan kemudian Gereja Ortodoks Syria, ada juga sebagian kecil Protestan[3]. Dampak konflik dan krisis politik di Syria mengimbas kepada nasib ribuan orang Kristen di Syria. Keberadaan orang Kristen di Suriah kerap dihubungkan dengan keberadaan dan kepanjangan tangan Barat sehingga merugikan nasib orang-orang Kristen di Suriah saat ini[4]. Bahkan orang-orang Kristen di Syria sendiri tidak menginginkan intervensi Barat yang hendak menggulingkan pemerintahan Assad karena dikuatirkan akan menjadi korban balas dendam oleh kelompok radikalis dan fundamentalis[5]

Artikel ini bukan hendak mengulas aspek politik dari krisis Suriah melainkan hendak menyoroti eksistensi gereja Orthodox di Suriah yang memiliki eksistensi historis yang dapat ditarik sampai pada zaman para rasul dan implikasinya bagi Kekristenan masa kini khususnya di Indonesia.

Damaskus

Nama Damaskus (Damsyik) sudah dikenal dalam Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) yaitu Kejadian 14:15, “Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik”. Nama Damaskus juga telah disinggung dalam karya sejarawan Yahudi bernama Yosephus dalam Antiquites of the Jews menghubungkan nama Uz sebagai anak Abraham yang mendirikan kota Damaskus[6]. Kerajaan Mesir kuno dan Yunani kuno pernah berkuasa di Damaskus.

Tercatat dalam Kitab Perjanjian Baru bahwa Rasul Paul mengalami pertobatan dan perjumpaan dengan Yesus Sang Mesias di Damaskus (Damsyik) dan melakukan karya apostolik (kerasulan) dengan mendirikan jemaat-jemaat Mesias, sebagaimana dilaporkan dalam Kisah Rasul pasal 9.

dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia” (Kis 9:3)

Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik” (Kis 9:8)

Di Damsyik ada seorang murid Tuan bernama Ananias. Firman Tuan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuan!" (Kis 9:10)

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik” (Kis 9:19b)

Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias” (Kis 9:22)

Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuan di tengah jalan dan bahwa Tuan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus” (Kis 9:27)

Bisa dibayangkan sekarang bagaimana kondisi Damaskus kini yang porak poranda dan kacau diakibatkan oleh konflik bersenjatan antara tentara pemerintah dengan tentara pemberontak.

Aleppo

Kota ini menjadi salah satu tempat komunitas Yahudi penganut Yudaisme berkumpul di zaman lampau. Sejumlah tempat seperti Al-Jamiliyah and Bab Al-Faraj serta Sinagog besar dimana ditemukannya Kodek Allepo yang berisikan salinan TaNaKh dari Abad X Ms yang dianggap salinan terbaik dari naskah Masoretik[7].

Pada tahun 1992, pemerintah Suriah mencabut larangan perjalanan terhadap 4.500 warganya yang berasal dari Yahudi. Kebanyakan tujuan perjalanan ke Amerika Serikat, di mana sejumlah besar orang Yahudi Syria saat ini tinggal di Brooklyn, New York. Hari ini, tidak ada keluarga Yahudi tinggal di Aleppo, dan banyak bangunan seperti sinagog dan sekolah Yahudi tetap kosong, hanya akan digunakan untuk acara khusus dan upacara keagamaan[8].

Gereja Orthodox

Sebagaimana telah diulas bahwa jumlah orang Kristen di Syria meliputi sekitar 10% dari jumlah penduduk Syria. Denominasi Kristen terbesar adalah Gereja Ortodoks Yunani dari Antiokhia, diikuti oleh Gereja Katolik Melkite Yunani, dan kemudian Gereja Ortodoks Syria, ada juga sebagian kecil Protestan.

Apakah Gereja Orthodox itu? Marc Dunaway menjelaskan, “Gereja Orthodox adalah Gereja yang tertua dalam Kekristenan, dengan penyembahan yang Alkitabiah, dengan cara hidupnya yang menyejarah dan merupakan suatu kelanjutan yang terkait erat dengan Gereja mula-mula yang disebutkan dalam kitab Kisah Para Rasul. Kekristenan Orthodox bukan hanya cabang dari pohon Gereja tetapi adalah merupakan batang pohon utama dari Gereja, yaitu Gereja Kristen yang sebenarnya”[9]. Arkhimandrit Daniel Byantoro mendefinisikan Orthodox sbb, “Istilah ‘Orthodox’ bukanlah nama aliran Gereja, karena sebenarnya Gereja Orthodox tak mempunyai nama. Orthodox berasal dua kata Yunani orthos = lurus, benar” dan doxa = pengajaran, pendapat, kemuliaan. Jadi “orthodoxa” artinya adalah “ajaran yang lurus.”[10]

Bermula dari tahun-tahun awal (abad pertama) ke-Kristen-an, dimana para Rasul memulai mendirikan 5 Kota sebagai Pusat Gereja (kemudian disebut sebagai Pentarkhi), yang antara lain adalah:
  1. Antiokhia (Turki), didirikan oleh Rasul Petrus pada tahun 37 AD.
  2. Konstantinopel (Yunani/Byzantium), didirikan oleh Rasul Andreas pada tahun 38 AD.
  3. Roma (Latin), didirikan oleh Rasul Petrus & Rasul Paulus pada tahun 42 AD.
  4. Yerusalem (Israel), didirikan oleh Rasul Yakobus pada tahun 43 AD.
  5. Alexandria (Mesir), didirikan oleh Rasul Markus pada tahun 68 AD[11].
Kota Pentarkhi tersebut masing-masing dikepalai oleh seorang Patriakh. Gereja Orthodox membagi Sistem Yuridiksinya sebagai berikut:[12]
  1. Tahkta Kepatriarkhan Apostolik Utama
Kepatriarkhan Konstantinopel yang berpusat di Turki (Patriakh Ekumenikal). Tahun 2010 oleh Patriakh Bartholomew I.

Kepatriarkhan Alexandria yang berpusat di Mesir. Tahun 2010 oleh Patriakh Theodoros II.

Kepatriarkhan Antiokhia yang berpusat di Suriah. Tahun 2010 oleh Patriakh Agnatius IV Hazim

Kepatriarkhan Yerusalem yang berpusat di Israel. Tahun 2010 oleh Patriakh Theophilus III.
  1. Tahkta Kepatriarkhan Wilayah
Kepatriarkhan Rusia. Tahun 2010 oleh Patriakh Kirill I.

Kepatriarkhan Serbia.

Kepatriarkhan Romania.

Kepatriarkhan Georgia.

Kepatriarkhan Bulgaria.
  1. Gereja-Gereja Autochepalus
Gereja yang mendapatkan kemandirian secara sepenuh. Pemimpin dari gereja-gereja ini walaupun bukan merupakan Patriarkh, para pemimpin gereja-gereja ini (para Uskup Agung/Metropolitan) mempunyai kedudukan istimewa dan sejajar dengan para Patriarkh.

Gereja Orthodox Yunani.

Gereja Orthodox Polandia.

Gereja Orthodox Albania.

Gereja Orthodox Ceko dan Slovakia.

Gereja Orthodox Siprus.

Biara Agung St. Katarina dari Gunung Sinai.
  1. Gereja-Gereja Otonomi
Gereja-Gereja ini diakui kemandiriannya namun belum mendapatkan kemandirian secara penuh dari Kepatriarkhan Konstantinopel.

Gereja Orthodox di Finlandia.

Gereja Orthodox di Jepang.

Gereja Orthodox di Cina.
  1. Gereja Diaspora
Walaupun mempunyai kemandirian secara utuh, tetapi diberikan wewenang untuk memerintah secara mandiri, dan diakui apostolitasnya oleh seluruh Gereja Orthodox.
Gereja ini adalah Gereja Orthodox Amerika.

Oriental Orthodox

Ini termasuk Gereja Orthodox di wilayah Timur yang menolak keputusan Konsili Chalcedon (451 Ms) dan hanya mengakui tiga Konsili Ekumenis di Nicea, Konstantinopel, Efesus. Kadang dijuluki dengan Monophysite. Yang termasuk dalam golongan Oriental Orthodox adalah Orthodox Coptic, Orthodox Ethiophia, Orthodox Erites, Orthodox Syria, Orthodox Syria Malankara India, Armenia Apostolik[13]

Eastern Orthodox

Terkadang disebut dengan Catholic Orthodox Church. Diperkirakan ada 300 juta pengikut di dunia dan tersebar di wilayah Rusia, Georgia, Belarusia, Ukraina, Rumania, Serbia, Montenegro, Bosnia, Herzegovina, Macedonia, Bulgaria, Yunani, Cyprus[14]. Tujuan Eastern Orthodox adalah mengalami Theosis (Pengilahian) melalui meneladan perilaku Mesias (Imitatio Christi) dan Hesykiasme yaitu suatu metode doa yang bersifat esoteris.

Assyrian Orthodox

Gereja ini berasal dari orang-orang Kristen di Assyria dari propinsi Asuristan di wilayah kerajaan Parthian dan menyebar dari Mesopotamia sampai China dan India. Tahun 1552 terjadi skisma sehingga menimbulkan 2 kepemimpinan yaitu Assyrian Church of the East dan Chaldean Cathilic Church. Keberadaan Assyrian Church meneruskan kepemimpinan Patrialh Seleuka Ctesipon. Pemimpinnya sekarang adalah Mar Dinha IV yang memerintah di Chichago[15].

Syrian Orthodox di Suriah

Sebagaimana telah dikatakan bahwa Gereja Orthodox Syria merupakan bagian dari Oriental Orthodox yang menolak Konsili Chalcedon 451 Ms dan hanya menerima 3 konsili ekumenis di Nicea, Kontantinopel dan Efesus. Patrriakh yang memimpin saat ini adalah Ignatius Zakka I Iwas yang merupakan Patriakh ke 122. Dalam sejarah panjangnya, Gereja Orthodox Syria meyakini bahwa Rasul Petrus yang mendirikan jemaat di Anthiokhia. Dan setelah Petrus meninggalkan Anthiokia, mengangkat Evodius dan Ignatius[16]. Liturgi peribadatan menggunakan bahasa Syriak dan Arab.

Gereja Orthodox Syria giat dalam mengembangkan pekerjaan misi hingga ke Cina bahkan ke Indonesia pada Abad VII Ms. Bahkan orang-orang Gereja Orthodox Syria berperanan dalam menerjemahkan karya-karya sastra dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab di masa pemerintahan Harun al Rashid pada Abad VIII ms. Sejumlah penerjemah Kristen Syria al., Hunain ibn Ishaq al Abadi, Yusuf al Khuri al Qas, Qusta ibn Luka al Ba’lbakki, Abus Bishr Matta ibn Runus al Qanna’i dll[17]. Mar Ignatius Yakub III, Patriakh Gereja Anthiokia sebelum digantikan Patriakh Ignatius Zakka I Iwas, dalam bukunya menuliskan, “Para penguasa Arab Muslim memanfaatkan keahlian mereka untuk mengajar dan menerjemahkan dalam bahasa-bahasa Arab berbagai topik literatur-literatur Yunani, disamping karya-karya besar mereka sendiri dalam bahasa Aramaic/Syriac”[18]

Sebagaimana Gereja Orthodox lainnya, selain melestarikan garis kepemimpinan rasuli (suksesi rasuliah) serta doktrin Kristologis, Gereja Orthodox Syria memiliki tata peribadatan harian tujuh kali sehari (Mzm 119) sebagai warisan Yudaisme yang dilestarikan dengan cara baru yang tertuju pada peristiwa yang di alami Mesias saat sengsaranya hingga berakhir di kayu salib. Dalam bahasa Arab disebut dengan Ashabush Sholawat dan dalam Gereja Katolik dikenal dengan sebutan Liturgia Horarum. Ketujuh pola doa harian tersebut adalah:
  1. Ramsho (Vesper) – Doa Siang
  2. Sootoro (Compline) – Doa Malam
  3. Lilyo (Matin) – Doa Tengah Malam
  4. Saphro (Laudes) – Doa Pagi (jam 6 pagi)
  5. Tloth Sho’in (Terce, jam 9 pagi)
  6. Sheth Sho’in (Sezta, tengah siang)
  7. Tsha Sho’in (Nones, jam 15 sore)
Arah kiblat ibadah mereka adalah Timur dengan dalil dari Matius 24:27, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”. Kitab yang mereka pergunakan adalah Peshitta dalam bahasa Aramaik. Perayaan Ekaristi dinamai dengan Qadisha Qurbana.

Nilai Kehadiran Gereja Orthodox Khususnya Orthodox Syria di Indonesia

Sebelum tahun 2000, hampir-hampir kita tidak mengenal eksistensi Gereja Orthodox dalam literatur sejarah gereja di sekolah-sekolah Teologi. Namun sejak tahun 2000-an khususnya 2006 kita mulai mendengar keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia melalui diresmikannya Gereja Orthodox Indonesia (GOI) yang dipimpin oleh Archimandrit Daniel Subaintoro dengan SK Dirjen Bimas Kristen Depag R.I. no: DJ.III/Kep/HK.00.5/190/3212/2006.

BERPUASA YANG BENAR

Posted by Teguh Hindarto



Yesus bersabda mengenai berpuasa sbb: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:13-18).

Berpuasa adalah bagian dari ibadah Kristen sebagaimana Yesus Sang Mesias memerintahkannya bagi kita. Sabda Yesus mengajarkan pada kita bagaimana puasa yang benar dan berkenan di hadapan YHWH Tuhan dan Bapa Surgawi.

Sebelum kita mengupas perihal bagaimana berpuasa yang benar  dan berkenan di hadapan Tuhan, kita akan melihat secara singkat apa yang dimaksudkan dengan berpuasa dan kapan kita harus berpuasa serta manfaa apa yang kita dapatkan dari berpuasa.

Makna Puasa

Dalam bahasa Ibrani, kata “berpuasa” dipergunakan kata צום (tsom) yang artinya “mengurangi asupan makanan bagi tubuh sebagai bentuk dukacita atau penyesalan” (Theological Words of Old Testament Lexicon, Bible Work 6).

Berpuasa dalam Kitab TaNaKh – Perjanjian Lama

Kitab Suci TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) atau yang lazim disebut oleh Kekristenan dengan sebutan Perjanjian Lama, mengatur perihal kapan dan dengan tujuan apa puasa dilaksanakan. 

Perayaan Yom Kippur  

Saat dilaksanakan Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur) ditandai dengan berpuasa sebagaimana dikatakan, "Akan tetapi pada tanggal sepuluh bulan yang ketujuh itu ada hari Pendamaian  kamu harus mengadakan pertemuan kudus  dan harus merendahkan diri dan mempersembahkan korban api-apian kepada YHWH (Imamat 23:27) 

Perkabungan atau dukacita

Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat YHWH dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang” (2 Samuel 1:12)

Permohonan kesembuhan atas orang lain

Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan YHWH menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. Lalu Daud memohon kepada Tuhan oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah” (2 Samuel 12:16)

Permohonan perlindungan

Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Tuhankami dan memohon kepada-Nya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami” (Ezra 8:21)

Permohonan kesembuhan bagi diri sendiri

Tetapi aku, ketika mereka sakit, aku memakai pakaian kabung; aku menyiksa diriku dengan berpuasa, dan doaku kembali timbul dalam dadaku” (Mazmur 35:13)

Pengakuan dosa bangsa

Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala. Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing, lalu berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka” (Nehemia 9:1-2)

Memohon petunjuk dan jawaban Tuhan

Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim.Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari YHWH. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa (2 Tawarik 20:1-3)

Memohon dukungan dan kekuatan untuk melaksanakan tugas

"Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." (Ester 4:16)

Dari pembacaan teks di atas nampak kepada kita bahwa berpuasa memiliki suatu nilai yang berharga dan menggerakkan suatu perubahan dalam kehidupan. Berpuasa bukan sekedar bentuk perendahan diri di hadapan Tuhan namun penyerta agar doa-doa kita didengarkan oleh Tuhan.

Berpuasa dalam Kitab TaNaKh – Perjanjian Lama

Demikian pula dengan Kitab Perjanjian Baru yang memberikan petunjuk serupa bahwa berpuasa adalah perilaku orang-orang saleh dan juga dilakukan baik oleh Yesus dan para rasulnya serta orang-orang kudus.

Berpuasa sebagai ibadah dan akhlaq (halakah) Yesus

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus” (Mat 4:2)


Ibadah seorang janda di Bait Tuhan

Dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Tuhan dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa” (Luk 2:37)

Murid-murid Yohanes berpuasa

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum” (Luk 5:33)

Berpuasa sebagai bagian dari ibadah jemaat mula-mula

Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada YHWH dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’” (Kis 13;1-2)

Berpuasa sebagai akhlaq (halakah) Rasul

Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.  Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Tuhan, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa” (2 Kor 6:5)

Bagaimanakah berpuasa yang benar dikehendaki oleh Tuhan itu?

Kembali kepada sabda Yesus. Yesus memberikan pengajaran kepada kita perihal cara atau laku berpuasa yang benar. Yesus terlebih dahulu mengontraskan dengan laku dan cara berpuasa orang munafik yaitu, “Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa”. Orang munafik berpuasa ingin mendapat perhatian dan pujian. Orang munafik berpuasa ingin mendapatkan penghormatan dari orang lain.

Dalam perumpamaan lainnya Yesus menggambarkan perihal orang yang dianggap benar di hadapan Tuhan dan yang dianggap membenarkan dirinya. Orang yang menganggap dirinya benar selalu membanggakan ibadahnya. Ibadahnya tidak tulus dan bukan lahir dari cinta kasih dan melayani Tuhan melainkan untuk membenarkan dirinya sebagaimana dikisahkan berikut ini:

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Tuhan, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Tuhan dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:9-14).

Puasa orang munafik sudah menerima upahnya di dunia. Puasa orang munafik diberikan oleh manusia yaitu pujian sebagaimana sabda Yesus, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”. namun puasa orang munafik tidak mendapatkan upah dari Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi. Bahkan ibadah dan puasanya tidak berkenan di hadapan Tuhan YHWH.

Kerendahan hati saat berpuasa

Yesus mengontraskan sikap berpuasa orang munafik dan memberikan petunjuk mengenai cara dan laku puasa yang benar dengan bersabda, “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi”.Yesus mengajarkan kerendahan hati sebagai bentuk dan cara atau laku berpuasa yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi.

JUDEOCHRISTIANITY, DIMANA KITA BERDIRI DALAM SEJARAH GEREJA

Posted by Teguh Hindarto



Jika berbicara mengenai Kekristenan, ada tiga kelompok besar yang berpengaruh yaitu Roma Katolik, Protestan, Orthodox. Kelompok Protestan sendiri memiliki ribuan denominasi dan sekte serta pecahan-pecahannya seperti Baptis, Methodis, Advent, Presbiterian, Anglikan, Pentakosta, Kharismatik. Fr Marc Dunaway dalam catatan kakinya menjelaskan, “Mendefinisikan apakah Gereja Protestan itu adalah sama rumitnya dengan ketika kita diharuskan mendefinisikan apakah itu hutan Kalimantan?! Ketika kita mengetahui bahwa di dalam hutan Kalimantan terdapat banyak sekali jenis-jenis tumbuhan berbeda yang ada di sana, begitu juga halnya dengan Protestanisme, karena di dalam Protestanisme Anda akan menemukan aliran-aliran Kekristenan yang telah berjumlah 33.800 buah yang saling berbeda untuk didefinisikan”[1].

Penulis lainnya memberikan jumlah angka yang berbeda. Michael Keene memberikan ulasan, “Sekarang ini agama Kristen merupakan agama terbesar di dunia dengan perkiraan jumlah penganutnya sebanyak 2 miliar orang, walaupun jumlah itu terbagi-bagi ke dalam lebih dari 20.000 sekte atau Gereja. Sekte yang paling besar adalah Gereja Katolik Roma dengan jumlah 1,2 miliar umat, diikuti oleh banyak Gereja Protestan dengan jumlah seluruhnya 360 juta umat dan Gereja Orthodox dengan jumlah 170 umat”[2].

Bagaimana dengan keanekaragaman Kekristenan di Indonesia? Pdt. DR. Jan S. Aritonang menjelaskan, “Pada buku Data dan Statistik Keagamaan Kristen Protestan tahun 1992 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Kristen) Protestan – Departemen Agama RI pada tahun 1993, kita menemukan 275 organisasi gereja Kristen Protestan. Disamping itu ada pula sekitar 400-an yayasan Kristen Protestan atau yang bersifat gerejawi, baik yang sudah memperoleh Surat Keputusan Pendaftaran sesuai dengan UU No 8/1985 maupun yang belum. Jadi seluruhnya ada sekitar 700 organisasi Kristen Protestan, yang berkegiatan dan melayani di lingkungan masyarakat Kristen Protestan Indonesia yang jumlahnya sekitar 15 juta jiwa maupun di lingkungan masyarakat indonesia umumnya yang menurut sensus 1990 berjumlah sekitar 180 juta jiwa”[3]

Gereja perdana terdiri dari komunitas Yahudi dan Yudaisme dan komunitas non Yahudi baik dari Yunani dan bangsa-bangsa lainnya yang menerima Yesus (Yahshua) sebagai Mesias dan Putra Tuhan. Mereka yang berasal dari golongan Yahudi dijuluki dengan Sekte Nazarene (Kis Ras 24:5). Kemudian di Anthiokhia komunitas pengikut Yesus Sang Mesias dari kalangan non Yahudi dijuluki sebagai Christianoi (Kis Ras 11:24). Dari kata Christianoi yang artinya pengikutChristos (Kristus/Mesias) lahirlah sebutan Kristen.

Sekte Nazarene yang berakar dari kultur Yahudi dan agama Yudaisme pada awalnya menjadi bagian dari Yudaisme. Sama-sama beribadah di Bait Suci dan Sinagoga sampai akhirnya mereka terpisah dari Yudaisme karena dua alasan.

Perisiwa pertama, tahun 66-70 Ms, ketika pasukan Romawi dibawah pimpinan Jendral Titus hendak memusnahkan Yerusalem, maka kaum Nazarene harus mengungsi ke Pella di Transyordan dan melanjutkan keimanan dan pola hidup Yahudi. Alasan mereka untuk mengungsi ke Pella karena mengikuti nasihat Mesias, jika melihat ‘pembinasa keji’ berdiri di Bait Suci, maka mereka harus lari kegunung-gunung yang tinggi (Luk 21:20-24)[4]. Sikap kaum Nazarene melarikan diri ke Pella menyebabkan mereka dijuluki Meshummed (penghancur) oleh para Rabbi. Setelah tahun 70 Ms., kaum Nazarenedan Yahudi secara umum, kembali menetap di Yerusalem sampai masa Revolusi Bar Khokba.

Peristiwa kedua, tahun 70-132 Ms merupakan terbentuknya Yudaisme Rabinik, dimana golongan yang berpengaruh pada waktu kaum Farisi. Disebabkan golongan Saduki yang berkuasa terhadap Bait Suci telah kehilangan pengaruh karena hancurnya Bait Suci, maka Sinagog memainkan peranan penting. Berbagai tradisi lisan dibukukan menjadi Talmud yang terdiri dari Misnah dan Gemara. Dimasa ini terjadi perselisihan yang semakin tajam antara kaum Nazarene dengan Yahudi Rabbinik. Perselisihan tersebut disebabkan karena kaum Nazarene menolak berbagai tradisi lisan yang disusun oleh kaum Farisi tersebut dan disebabkan penolakkan mereka bergabung dalam Revolusi Bar Khokba. Nazarene menolak bergabung dalam revolusi dikarenakan Bar Kokhba menyebut dirinya Mesias, padahal kaum Nazarene hanya mengakui satu-satunya Mesias, yaitu Yesus (Yahshua). Akibatnya dalam struktur doa kuno yang disebut Shemone Esrei (18 doa berkat) ditambahkanlah satu doa kutukan terhadap keberadaan ha Minim (Bidat), yaitu kaum Nazarene karena tidak turut dalam Revolusi Bar Khokba[5].

Sekte Yudaisme ini terekam dalam berbagai tulisan Kristiani sejak abad 2 M sampai 11 Ms. Sebut saja Irreneus[6], Eusebeius[7], Epiphanius[8].

Apakah yang membedakan sekte Nazarena ini dengan sekte-sekte Yahudi lainnya? Perbedaan Sekte Nazarene dengan sekte-sekte Yahudi lainnya adalah dalam hal memandang siapa Yahshua ben Yosef. Dia bukan sekadar putra Yusuf namun juga Mesias yang dijanjikan, Putra Tuhan Yang Hidup. Mereka tetap beribadah di Sinagog dan berinteraksi dengan sekte-sekte Yahudi lainnya dalam peribadahan di Bait Suci. Selain itu, sekte Netsarim menolak  tradisi lisan kaum Farisi yang kelak dinamai dengan Misnah dan Gemara atau Talmud

Tidak semua penulis sependapat, kapan keberadaan sekte Nazarene ini kehilangan pengaruh dalam sejarah. Harry R. Boer memperkirakan bahwa mereka telah kehilangan pengaruh sejak tahun 62-70 Ms[9]. DR. Michael Schiffman memastikan lenyapnya pengaruh Nazarene pada Abad IV-V Ms[10]. Sementara Robert dan Remy Koch memastikan lenyapnya pengaruh Nazarene mulai Abad XI Ms[11].

Sementara Gereja yang terdiri dari umat Yahudi lenyap dalam sejarah maka tidak dengan gereja non Yahudi yang kelak disebut dengan Kristen. Gereja non Yahudi berkembang baik di Timur (Yunani, Asia Kecil, Timur Tengah) dan Barat (Eropa). Namun pada tahun 1054 Ms terjadi skisma (perpecahan besar) dalam tubuh gereja non Yahudi baik di Barat dan di Timur. Penyebab perpecahan adalah berkaitan soal pengaruh kekuasaan gereja Roma dan soal doktrin tentang Roh Kudus. Gereja di Timur menamakan dirinya Orthodox dengan bahasa Yunani dan juga bahasa Aram/Syria dan Gereja Barat menamakan dirinya Katholik dengan bahasa Latin.

Untuk memudahkan memetakan dan melihat secara singkat perkembangan dan perpecahan dalam tubuh gereja Kristen, kita dapat menyimak bagan di bawah ini. Bagan di bawah ini dikutip dari buku Fr. Marc Dunaway[12]. Sekalipun dalam bagan tertulis “Gereja Orthodox tetap satu gereja yang utuh...” toch fakta sejarah memperlihatkan bahwa Orthodox pernah diguncang oleh perpecahan sehingga muncul aliran-aliran Nestorianisme, Cyrilianisme, Yakobit dll.



Dan Gereja Katolik Roma pada akhirnya harus mengalami guncangan besar saat Luther menyerukan Reformasi pada tahun 1517 Ms. Gerakan Reformasi Luther kelak menjadikan Protestanisme sebagai corak Kekristenan Reformasi yang melepaskan diri dari kekuatan Roma Katolik.

Namun sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam tulisan ini bahwa Kekristenan Reformasi atau Protestanisme tidak dapat menahan dirinya dari berpuluh bahkan beribu kali perpecahan sehingga muncullah berbagai denominasi Kristen seperti Baptis, Methodis, Advent, Presbiterian, Anglikan, Pentakosta, Kharismatik.
Dari pemetaan sejarah perkembangan dan perpecahan gereja di atas, lalu dimanakah kedudukan Judeochristianity yang saat ini menjadi visi gereja dan organisasi yang dinamakan Indonesian Judeochristianity Institute?

Sebelum menjawab hal tersebut kita perlu memahami ada dua gerakan (movement) yang saat ini berkembang di dunia yang berasal dari denominasi Protestan yaitu Sacred Name Movement dan dari lingkungan Yahudi dan Yudaisme yaitu Messianic Judaism.

Sacred Name Movement, merupakan suatu pergerakan dikalangan Eropa dan Amerika yang memfokuskan pada pemulihan nama YHWH (Yahweh) dalam terjemahan Kitab Suci. Organisasi Yahweh New Covenant Assemblies (YNCA) sebagai salah satu komunitas penggerak pemulihan nama Yahweh, dalam salah satu artikelnya, menjelaskan sbb: “Gerakan Pemulihan Nama Kudus, dimulai pada tahun 1930-an dikalangan anggota Church of G-d 7th Day, {Gereja Tuhan Hari Ketujuh} yang merenungkan pernyataan dalam Amsal 30:4, “Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu!” Church of G-d 7th Day, {Gereja Tuhan Hari Ketujuh} adalah orang-orang yang memelihara dengan setia ibadat Sabat, yang bermula dari gerakan Millerite di tahun 1844, sebagaimana yang juga dilakukan oleh 7th Day Adventists {Adven Hari Ketujuh}. Pada waktu itu, hanya sedikit orang yang membicarakan mengenai kembalinya Sang Mesias. Pemahaman umum pada waktu hanya menjelaskan, bahwa jika seseorang meninggal, mereka akan masuk Sorga atau Neraka, atau pada umumnya di Gereja Katholik, masuk api  penyucian. Mereka yang dikenal sebagai kaum Millerites, berasal dari berbagai denominasi termasuk 7th Day Adventists {Adven Hari Ketujuh}. Kebanyakan gereja sepakat mengajarkan bahwa nama Putra-Nya adalah Yesus. Namun siapakah nama Bapa-Nya? Bukankah Sang Putra telah mengatakan bahwa diri-Nya datang atas nama Bapa-Nya? Dan apakah mungkin nama-Nya tetap sama atau sangat sama?” [13]

Pergerakan Messianic Judaism  modern di awali oleh munculnya organisasi The Hebrew Christian Alliance of Great Britain, yang didirikan pada tahun 1866. Kemudian pada tahun 1915 didirikanlah The American Hebrew Christian Alliance. Dilanjutkan pada tahun 1925 didirikanlah the International Hebrew Christian Alliance. Penggerak awal dari Mesianik Yudaisme adalah Joseph Rabinowitz[14].

A.E. Thomson dalam bukunya, A Century of Jewish Missions, pada tahun 1902 melaporkan berbagai komunitas Mesianik Yudaisme dengan istilah Hebrew Christian di Eropa, Inggris, Eropa. Thomson melaporkan mengenai aktivitas The Hebrew Christian Assembly yang terbentuk pada tahun 1898. Kemudian Abraham Levi pada tahun 1894 mendirikan komunitas Mesianik[15]. Dalam deskripsi Schiffman, dilaporkan bahwa berturut-turut tumbuh komunitas Mesianik Yudaisme diberbagai tempat[16] al. Pada tahun 1905 didirikanlah komunitas Hebrew Christians di Baltimore, Maryland di bawah bantuan Gereja Presbyterian. Komunitas ini kelak berganti nama menjadi Emmanuel Messianic Conggregation.

Pada tahun 1930, berdiri sebuah komunitas Mesianik di Chicago dan telah berganti nama menjadi Adat Hatikvah. Kemudian tahun 1940-an dan 1950-an, seorang bernama Lawrence Duff-Forbes membuka Messianic Conggregation di Los Angeles. Mereka beribadat pada hari sabat, merayakan tujuh hari raya dengan liturgi Yahudi. Pada tahun 1950-an denominasi Presbyterian mengembangkan komunitas Mesianik keempat di Los Anggeles, setelah sebelumnya yaitu Adat HaTikvah di Chicago, Emmanuel Messianic Conggregation di Baltimore dan Beth Messiah di Philadhelphia. Namun komunitas di Los Anggeles ini tidak bertahan lama. Terjadi perkembangan luar biasa pada tahun 1970.

Shiffman mensinyalir ada sekitar seratus lima puluh jemaat Mesianik diseluruh dunia[17] dan ada tiga organisasi penting yang berkaitan bersama, yaitu: the Union of Messianic Jewish Congregations (UMJC), the Fellowship of Messianic Congregations (FMC), the International Alliance of Messianic Congregations and Synagogues (IAMCS). Meskipun ada beberapa perbedaan antara Hebrew Christians dan Messianic Jewish, namun menurut Sciffman itu hanya dalam halrespect of affiliation (kebergabungan)[18]. Jika Hebrew Christians bergabung dibawah gereja-gereja Protestan atau Presbyterian, maka Mesianik Yudaisme terlepas dari ketergantungannya terhadap gereja Protestan atau Presbyterian, dan mereka tetap memelihara gaya hidup sebagai orang Yahudi.

Tiba saatnya sekarang menjawab dimana letak Judeochristianity dalam panggung sejarah gereja. Dengan istilahJudeochristianity atau Yudeo Kristen saya maksudkan sebagai bentuk respon dan refleksi kritis atas kehadiran Messianic Judaism yaitu gerakan diantara orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus (dengan sebutan Yeshua atau Yahshua atau Yehoshua serta Yahushua) sebagai Mesias Ibrani dan tetap mempertahankan budaya Ibrani[19].

Karena Messianic Judaism adalah sebuah gerakan yang tumbuh dilingkungan Yudaisme dan Yahudi, maka saya merasa bahwa saya tidak harus menyebutkan diri saya dengan sebutan Messianic Judaism sekalipun saya banyak mengadopsi dan belajar pokok-pokok pikiran dalam teologi Messianic Judaism. Saya bukan berasal dari Yudaisme dan bukan pula seorang Yahudi. Saya seorang Kristen. Saya membuat jembatan peristilahan untuk mengekspresikan sebuah keyakinan dan kajian teologi serta devosi (ibadah) yang berakar dari warisan budaya Semitik Yudaik dengan sebutanJudeochristianity atau Yudeo Kristian. Dalam beberapa tulisan terkadang saya menggunakan istilah Kristen Semitik atauKristen Rekonstruksi.[20]