RSS Feed

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 2

Posted by Teguh Hindarto


AJARAN ALKITAB TENTANG SABAT


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Patut diperhatikan bahwa Perjanjian Baru keseluruhannya tak pernah memberitakan sedikitpun mengenai sentralitas dan pentingnya Sabbat ini. Jika Sabbat itu disinggung hanya karena konflik yang muncul antara para murid Yesus dengan orang-orang Yahudi mengenai masalah perayaan Hari Sabbat itu saja dan juga karena lingkup sejarah penulisan Perjanjian Baru itu adalah diantara bangsa Yahudi sehingga dalam menghitung waktu dan hari tak mungkin lepas begitu saja tanpa menyebutkan Hari Sabbat. Tetapi Sabbat itu sendiri tidak pernah menjadi inti berita Perjanjian Baru. Kristus dan karyaNyalah focus berita Perjanjian Baru. Bukan Hukum Sepuluh dan jelas bukan Sabbat.
-----------
Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:
1.      Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3)
2.      Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44)
3.      Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17)
4.      Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8)

Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb:  

 “Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi (Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16)

Rashid Rahman mengatakan, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme” (Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5). Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian” (Ibid., hal 36)

Dengan mengatakan, “Perjanjian Baru keseluruhannya tak pernah memberitakan sedikitpun mengenai sentralitas dan pentingnya Sabbat ini” tentu saja merupakan bentuk kegagalan memahami kedudukan Sabat sebagai bagian dari 4 pilar ibadah Yudaisme yang juga diteruskan oleh Yesus dan rasul-rasulnya. Bagaimana mungkin mereka akan memfokuskan pada ibadah Sabat sebagai fokus pemberitaan Perjanjian Baru jika Sabat adalah gaya hidup dan ibadah mereka selama ini? Tentu saja mereka hanya akan memberitakan apa yang dinubuatkan yaitu Mesias yang dalam hal ini tersublimasi dalam tokoh dan karakter Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Agung Yang Ilahi.

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Memang setiap hari Sabbat “menurut kebiasaanNya… ia masuk ke rumah Ibadat (Luk 4:16), namun dia melakukanNya bukan karena Sabbat dan segala ketentuannya itu berkuasa “atas” dia, justru sebaliknya dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbat itu untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbat yang harus menjadi tanda perjanjian justru DiriNyalah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari sabbat, sehingga manusia hidup buakan lagi untuk hari Sabbat artinya tujuan hidup manusia bukan digunakan untuk mengabdi pada sabbat, namun sebaliknya “hari Sabbat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabbat” (Markus 2:27). Sabbat menjadi pada kepentingan manusia.

Itulah sebabnya tak pernah sekalipun Yesus dalam pengajaranNya meninggikan atau menyanjung Sabbat, Dia membicarakan tentang sabbat hanyalah dalam konteks konfrontasi perjumpaanNya dengan pemimpin agama Yahudi yang menentang sikapnya terhadap Sabbat yang justru oleh mereka dilihat sebagai hujatan dan bertentangan dengan ketetapan dari Kitab Suci perjanjian Lama.
-------------
Tidak ada pernyataan Yesus setelah membaca petikan Yesaya 61 kemudian berkata, “sejak saat ini akulah yang harus menjadi fokus perhatian kalian dan Sabat tidak memiliki relevansi yang mengikat lagi bagi kehidupan ibadah kalian”. Sama sekali tidak ada! Fokus pengutipan Yesaya 61 bukan mengenai hari Sabat melainkan pemenuhan nubuat mengenai Mesias.

Terkait pembacaan Yesaya 61 oleh Yesus Sang Mesias, beberapa literatur rabinik mempercayai bahwa saat Mesias datang, Mesias akan mengucapkan perkataan dalam Yesaya 61 (Lexicon oleh Rabbi David Kimchi sebagaimana dikutip dari buku A Manual of Christian Evidences for Jewish People, Vol 2, p.76). Kenyataan ini mendorong pada kesimpulan bahwa Mesias akan datang pada saat perayaan Yom Kippur dalam Tahun Yobel yang terakhir untuk memberikan pembebasan pada orang-orang Yahudi sebagaimana dikatakan dalam Talmud Sanhedrin 97b sbb: “Dunia akan berakhir tidak kurang dari 85 Yobel dan diakhir Yobel, Mesias Putra Dawid akan datang”. Unsur penting lainnya adalah bahwa dalam sinagoge Abad Pertama Masehi, Yesaya 61 tidak dibaca di sinagog selama Yom Kippur melainkan berhenti sampai di Yesaya 58 karena orang Yahudi memiliki pola pembacaan tiga lapis setiap tahunnya. Maka ketika Mesias membaca Yesaya 61 di sinagog dia hendak menegaskan kemesiasan dirinya. Bukan hanya itu, Yesus pun hendak menyatakan bahwa peristiwa pembacaan Yesaya 61 terjadi saat perayaan Yom Kippur. Yesus menggunakan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat untuk menyatakan siapa diri-Nya. 

Membuat kesimpulan “dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbat itu untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbat yang harus menjadi tanda perjanjian justru DiriNyalah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari sabbat” adalah sebuah LOMPATAN yang MENGABAIKAN teks dari konteksnya. Meminjam julukan yang diberikan Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro kepada umat Kristen yang memelihara Sabat dengan sebutan “pemerkosaan kebenaran” dan “tindak sewenang-wenang terhadap nats kitab suci” (Lihat pernyataan pertama yang saya tanggapi)

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Matius menerangkan saat dan hari ketika Yesus mengalami derita akhir dari hidupNya itu demikian, sesudah membicarakan saat malam Yesus diolok dan dicemooh dan paginya (hari Jumat) dibawa menghadap Pilatus (Matius 27:1-2), dan disalibkan pada hari itu juga.:”keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus (Matius 27:62). Jadi menurut ayat ini hari ketika Yesus disalibkan dan dikuburkan dalam ayat-ayat sebelumnya, Matius 27 ini disebut oleh Matius (perhatikan: bukan oleh Yesus) sebagai ”Hari Persiapan” (parskevee), yaitu hari Jumat sebagai “Hari Persiapan” bagi orang Yahudi untuk merayakan hari Sabbat. Sedangkan dalam Matius 28:1, ketika para murid wanita mengunjungi kuburan pada saat kebangkitan Yesus disebut demikian:” setelah hari Sabbat lewat… pada hari pertama Minggu itu”, yang menunjukkan bahwa Yesus tidak melakukan apapun secara fisik diantara hari persiapan sampai dengan hari Pertama minggu itu, yaitu selama hari sabbat itu Yesus berada di kuburan pasif tergeletak seolah-olah beristirahat dari semua karyaNya selama enam hari bagi penciptaan baru atas dunia ini, sejak Minggu Palem (Matius 21:1-23), Senin Kudus (Matius 24:3-35), Selasa Kudus (Matius 24:36-26:2), Rabu Kudus (Matius 26:2-16) “dua hari lagi akan dirayakan paskah”(ayat 2) menunjukan saat itu hari Rabu, karena Paskah terjadi hari Sabtu ), Kamis Kudus (Matius 26:7-75), dan Jumat Agung (Matius 27:1-61) dan pada hari Sabtu yaitu hari ketujuh Yesus berhenti atau beristirahat dari segala karya penciptaan baru yang dilakukanNya selama enam hari di dalam kuburan menanti penggenapannya yang dimeteraikannya segala karya tadi oleh kebangkitan, pada hari sesudah Sabbat lewat, yaitu hari pertama Minggu itu hari Pertama atau hari Satu itulah hari Ahad dalam bahasa Arab. Dan karena hari ahad (satu) itu adalah hari Kebangkitan Tuhan sebagai puncak dari karyaNya selam enam hari dan beristirahat selama hari ketujuh dalam kuburan, maka hari pertama itu disebut hari Tuhan (Kuriakee/Kyriaki) yang sampai sekarang masih disebut demikian dalam kalender Gereja Orthodox dan kalender nasional negara Yunani, yang kata kuriakee (kyriaki dari kata kyrios-Tuhan) itu disebut dalam bahasa Portugis “dominggos” (Hari Tuhan) dan menjadi bahasa Indonesia Minggu.

Demikianlah dalam penciptaan baru Allah melalui sabdaNya yang menjelma, berkarya selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh di dalam tergeletaknya Sang Sabda menjelma ini di dalam kuburan. Namun berbeda dengan perciptaan lama dimana padahari ketujuh itu sudah lengkap selesai penciptaan itu, dalam penciptaan baru ini, selesai dan puncak karya selama enam hari bagi penebusan sejak Minggu Palem itu bukan pada hari terkuburnya atau beristirahatNya Kristus dalam kuburan, namun kebangkitanNya pada ahad atau hari pertama, karena jika “Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”( 1 Kor 15:17).

Itulah sebabnya jika hari ketujuh sebagai hari perhentian itu harus dirayakanpun maknanya sudah berbeda dari Sabbat dalam Perjanjian lama. Ini harus berpusat pada karya penciptaan baru yang dilakukan Kristus selama seminggu kesengsaraanNya atau Pekan Sengsara itu. Dengan demikian hari Sabbat sekarang mengingat saat penguburan atau perhentian Kristus dari segala karyaNya untuk menunggu penggenapannya dalam hari kebangkitanNya yang terjadi pada hari Pertama (Hari Ahad = hari Minggu) tadi. Itulah sebabnya dalam Gereja Purba yang tetap dilakukan oleh gereja Orthodox sampai sekarang, Sabbat itu tetap hari Sabtu, bukan Minggu, namun makna Sabbat itu berbeda dari makna yang diberikan oleh Perjanjian Lama. Bukan lagi itu tanda Perjanjian pelepasan dari Mesir, namun sebagai peringatan akan perhentian karya Kristus di dalam kuburan, dengan demikian meskipun kita merayakan hari Sabtu sebagai hari Sabbat kita tak terikat lagi pada ketentuan-ketentuan Sabbat seperti yang digariskan oleh Kristus sendiri.
--------------
Benarkah Yesus wafat pada hari Jumat? Persoalannya adalah, benarkah Yesus wafat pada hari jum’at sore?? Padahal Yesus pernah berkata demikian: “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40)

Jika Yesus wafat pada hari jum’at, apakah lama waktu Yesus dikubur didalam bumi ada tiga hari tiga malam, jika Dia bangkit pada hari minggu? Waktu dari jum’at sore sampai minggu pagi adalah 1 hari 2 malam, benar bukan? 

Banyak pakar teologia dan sarjana keagamaan mencoba untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan berpendapat bahwa beberapa bagian siang atau malam dihitung seperti satu hari atau satu malam. Selanjutnya, beberapa menit terakhir dari jum’at sore dihitung sebagai satu hari dan keseluruhan hari sabtu, dihitung hari kedua, dan beberapa menit minggu pagi dihitung sebagai hari ketiga. Apakah alasan tersebut terdengar masuk akal?

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 1

Posted by Teguh Hindarto


TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO

AJARAN ALKITAB MENGENAI HARI SABBAT


https://www.facebook.com/notes/komunitas-orthodox-indonesia-gregorius-palamas/ajaran-alkitab-mengenai-hari-sabbat/463163017051314


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Perikop di atas merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dilepaskan, sehingga ketentuan tentang hari Sabbat jelas merupakan kesatuan dengan ketentuan Tahun Sabbat. Tiga hari raya dan korban-korban yang menyertainya. Merayakan Sabbat berarti bukan hanya “Hari” Sabbat, namun juga “Tahun” Sabbat, dan beserta itu merayakan perayaan-perayaan tiga lainnya yang diserta dengan pranata korban menyertainya.  Maka mengambil Sabbatnya saja, melupakan konteks kesatuan perikop sebagai yang sama-sama diberikan oleh Allah adalah merupakan pemerkosaan kebenaran. Penjelasan lebih rinci bagaimana seharusnya Sabbat itu harus dirayakan dan dalam konteks apa Sabbat itu dirayakan dapat kita lihat dalam Imamat 23.

Imamat 23:2 : “… hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN yang harus kamu maklumkan… adalah yang berikut. Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada Sabbat…” Selanjutnya perikop pasal ini memberikan rincian dari hari-hari raya dengan tata cara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya adalah apa yang sudah disebut dalam Keluaran 23 di atas, hari Raya Roti tak beragi, dimana syarat pelaksanaannya sama dengan Sabbat yaitu “janganlah kamu melakukan sessuatu pekerjaan berat” (Im.23:8), yang ini menunjukkan perluasan makna Sabbat dalam kehidupan sosial keagamaan Israel. Demikian juga hari raya Pengumpulan hasil dan hari raya Buah Bungaran, dihitung dalam kaitannya dengan Sabbat (Imamat 23:11,15) dan juga dalam kaitannya untuk tidak melakukan pekerjaan berat (Im 23:25. Semuanya ini menunjukkan bahwa Sabbat itu menjadi dasar dari semua hari raya Israel dan sistim kehidupan bangsa itu. Serta Sabbat itu tidak dibatasi pada hari ketujuh secara terisolasi namun juga terkait dengan perayaan-perayaan Israel lainnya yang disertai syarat korban yang harus dipenuhi, dimana setiap perayaan hari raya itu memiliki cirri Sabbat: Tahun Sabat, Tujuh Sabat (Minggu Sabat), serta Ini Sabat (tidak bekerja).

Demikianlah Alkitab telah memberikan peraturannya sendiri bagaimana Sabbat itu harus dilaksanakan dan dalam konteks yang bagaimana itu harus dilaksanakan. Jika dalam Hukum Sepuluh hanya disebut mengenai “Hari Sabat” saja, itu disebabkan hukum sepuluh hanya menunjukkan garis pokok ketentuan hukumnya saja, sedangkan rinciannya disebut ditempat lain seperti yang telah kita bahas di atas, sama seperti menghormati bapa-ibu itu diperluas dengan menghormati semua otoritas yang ada di atas kita: pemimpin, guru, tua-tua, pemerintah dan sebagainya. Jadi sungguh tak masuk akal jika kita hanya mengambil hukum menghormati ayah-ibu lalu menolak ketetapan mentaati pemerintah sebagai perluasan makna hukum dasar tadi.

Demikian pula dengan Sabat ini. Mengambil hari Sabtunya saja, lalu mengabaikan segenap rincian ketentuannya dengan segala konteks dan kaitannya seperti yang jelaskan oleh Kitab Suci sendiri, adalah merupakan tindak sewenang-wenang terhadap nats kitab suci. Jika Sabbat harus diikuti maka semua ketentuannya harus tidak boleh diabaikan. Melakukan ini berarti kita harus menjalankan seluruh hukum Perjanjian lama tanpa pilih-pilih, yang berarti ita harus jadi Yahudi. Itulah konsekwensinya jika kita mau taat terhadap ketentuan Sabbat yang utuh, konsekwen dan sempurna.
----------------
Judeochristian:

Sebagaimana Yesus dan rasulnya tetap beribadah pada hari Sabat (Luk 4:16, Kis 13:14,27,42,44) demikianlah seharusnya umat Kristen yang memelihara ajaran lisan Yesus dan ajaran lisan dan tertulis dari rasul-rasul (2 Tes 2:15) seharusnya tetap memelihara Sabat.

Namun demikian, kita merujuk pada tulisan Rasul Paul dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”. Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang ditetapkan oleh YHWH di Sinai (Sabat) namun perihal larangan agar jemaat Mesias non Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan sbb: “But here it appears that Gentile Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian” (Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana makan dan minum agar menjadikan... tawanan, Jewish New Testament Commentary, Clarksville: JNTP 1992, P.610)

Umat Kristen tidak terikat untuk mematuhi fatwa rabinik dalam Yudaisme yang dikompilasikan dalam Talmud terkait bagaimana merayakan Sabat. Sepanjang tradisi itu bernilai (seperti penyalaan lilin, birkat Sabat, makan roti dan anggur Sabat, tidak menjadi masalah). Namun ketentuan mengikat dan membebani seperti tidak boleh berjalan sekian kilometer, tidak boleh membawa jarum dll tentu saja tidak perlu menjadi ketentuan yang mengikat.

Kita tidak bisa melepaskan Sabat hanya memfokuskan pada perluasan maknanya belaka. Makna Sabat hanya dapat dimengerti dengan baik dengan cara meletakannya dalam kedudukannya dalam pilar ibadah Perjanjian Baru dan pilar ibadah orang Kristen. Dengan kata lain, makna Sabat hanya dapat dihayati dengan cara kita beribadah pada hari Sabat. 

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Masih berbicara masalah sikap Yesus, thesis Taurat bahwa Sabat itu dilakukan karena Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh (Kejadian 2:2-3, Keluaran 20:11) itu ditolak oleh Yesus dan dijungkirbalikkan dengan pernyataannya: “BapakKu bekerja sampai sekarang” (Yohanes 5:17) sebagai koreksi atas pernyataan “Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan” (Kejadian 2:2-3). Pernyataan Kejadian 2:2-3 itu hanya boleh dimengerti berdasarkan ajaran Yesus, bahwa bukanlah Allah yang berhenti bekerja, namun alam semesta ini telah selesai diciptakan, Allah sendiri tak henti-hentinya sampai sekarang, memelihara, menghidupi, menopang, membimbing, mencipta manusia baru yaitu bayi-bayi dan lain-lain. Jadi memang tidak pernah ada saatnya Allah itu berhenti bekerja, dahulupun tidak, sekarangpun tidak, pada hari ketujuhpun tidak. Maka Sabat itu diperintahkan bukan karena memang betul ada perhentian pada Allah seolah-olah Dia itu manusia yang perlu istirahat. Mahasuci Allah dari sifat-sifat kelemahan seperti itu. Maka jika para pengikut faham Sabbatisme atau hari ketujuhisme ini hendak merujuk pada “perhentian” kerja Allah, harap diingat bahwa Allah tak pernah berhenti bekerja, yang berhenti adalah selesainya pekerjaan penciptaan.
---------------
Frasa, “thesis Torat” yang dikonfrontirkan dengan frasa “ditolak Yesus” memberikan kesan dan pemahaman bias yang selama ini masih diterima oleh mayoritas Kekristenan bahwa Yesus merevisi Torah, mengoreksi Torah.
Bagaimana Yesus memandang keberadaan Torah? Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, kita akan melakukan eksposisi teks dan konteks dari Matius 5:17-48. Yesus membuka dengan kalimat, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah dan Kitab Para Nabi” (Mat 5:17). Kata yang diterjemahkan dengan “meniadakan”, dalam naskah Yunani adalah kataluo. Dalam Perjanjian Baru kata kataluo digunakan sebanyak tujuh belas kali dengan pengertian : “meruntuhkan”, “membinasakan”, “membatalkan”, “melenyapkan”, “mencari penginapan” (Pdt. Hasan Sutanto, MTh. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, Jil II, Jakarta : LAI 2003, hal 435) 


DR. David Bivin dan Roy Blizard memberikan perspektif lain mengenai makna pernyataan “Aku datang bukan untuk meniadakan Torah” sebagai suatu ungkapan khas Ibrani dalam diskusi Rabinik. Ungkapan ini bermakna bahwa “seseorang telah menafsirkan secara keliru tentang Torah”. Jika ada seseorang menafsirkan Torah secara keliru, maka para rabbi yang lain akan mengatakan, “engkau membatalkan Torah”. Dalam konteks makna literal ini, maka Yesus sedang membantah kepada para pendengarnya, bahwa diri-Nya bukan datang untuk menyimpangkan atau menafsirkan secara keliru terhadap Torah dan Kitab Para Nabi (Understanding the Difficult Words of Jesus, Destiny Image Publishers, 2001, p. 114)


Kata yang digunakan untuk “menggenapi” dalam teks Yunani, adalah pleroo. Kitab Perjanjian Baru menuliskan sebanyak 86 kali dalam arti, “memenuhi”, “menggenapi”, “habis”, “lewat”, “menyatakan dengan penuh”, “memberitakan kemana-mana”, “menyelesaikan”, “melakukan” (Op.Cit., Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, hal 648)


Sebagaimana komentar sebelumnya, David Bivin dan Roy Blizard menyatakan bahwa pengertian “membatalkan” dan “menggenapi” bermakna “tafsir yang menyimpang” dan “tafsir yang tepat”. Selengkapnya, beliau menjelaskan : “Kata ‘membatalkan’ dan ‘menggenapi’, merupakan istilah teknis yang digunakan dalam diskusi rabinik. Ketika seorang bijak merasa bahwa temannya menafsirkan secara keliru bagian dari Kitab Suci, dia akan mengatakan ‘anda telah membatalkan Torah!’, singkatnya, dalam banyak kasus, temannya menunjukkan ketidaksepahaman yang keras. Bagi orang bijak, yang dimaksud dengan ‘melenyapkan Torah” maka kebalikannya,  ‘menggenapi Torah’ atau menafsirkan Kitab Suci dengan tepat (Ibid., Understanding the Difficult Words of Jesus) 

Pernyataan diatas diperkuat dengan frasa “kamu telah mendengar” dan “tetapi Aku berkata kepadamu”. Tanggapan Yesus terhadap tafsiran para rabbi sebelumnya terhadap Torah, ditegaskan kembali secara tepat oleh Yesus dengan penekanan kalimat, “Tetapi Aku berkata kepadamu”.

(tafsir) Torah mengatakan, janganlah membunuh karena barangsiapa yang membunuh akan mendapatkan hukuman namun Yahshua menegaskan secara tepay makna Torah bahwa yang harus dihukum bukan hanya mengenai kasus yang berat namun yang kelihatannya ringan, seperti kemarahan yang luar biasa dengan mengeluarkan umpatan kasar seperti raka yang artinya “bodoh” (Mat 5:21-22).
    
(tafsir) Torah mengatakan jangan berzinah. Yesus memberikan pemahaman yang tepat mengenai zinah, bahwa seseorang yang berzinah bukan semata-mata yang memiliki hubungan dengan wanita lain selain istrinya, namun memandang wanita yang bukan istrinya dan mengingininya, sudah dikategorikan perzinahan (Mat 5:27-28). 

(tafsir) Torah mengijinkan suatu perceraian namun Yesus memberikan pemahaman bahwa jika bukan karena alasan yang kuat, yaitu perzinahan, maka janganlah sampai terjadi perceraian. Dengan melakukan perceraian, kita telah menjadikan diri kita dan pasangan kita sebagai seorang yang berzinah (Mat 5:31-32).

(tafsir) Torah mengajarkan agar jangan bersumpah palsu. Yesus memberikan pemahaman yang tepat bahwa hendaklah seseorang tidak bersumpah demi apapun juga, karena sumpah mengandung risiko. Tidak jarang kita melakukan dalih dalam sumpah yang kita ucapkan dihadapan Tuhan dan sesama (Mat 5:38-42).

(tafsir) Torah mengajarkan untuk mengasihi dan membenci musuh. Ayat ini sering dijadikan alasan untuk membenci dan tidak memaafkan orang-orang yang bersalah pada diri kita. Yesus memberikan pemahaman yang tepat dengan mengatakan untuk mengasihi musuh dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan yang setimpal (Mat 5:43-48).

Penegasan Yesus diatas membuktikan bahwa kedatangannya bukan “membatalkan Torah” (menyimpangkan makna Torah) melainkan “menggenapi Torah” (memberikan pemahaman yang benar). Hampir senada dengan ulasan David Bivin dan Roy Blizard, DR. David Stern dalam ulasannya mengenai kata “membatalkan” dan “menggenapi”, mengatakan :“Adalah tepat bahwa Yesus memelihara Torah secara sempurna dan menggenapi berbagai nubuatan dalam Kitab Para Nabi. Namun bukan ini pokok persoalannya. Yesus tidak datang untuk membuat tidak berlaku Torah namun membuat ‘maknanya menjadi penuh’ mengenai apa yang dituntut dalam Torah dan Kitab Para Nabi. Selanjutnya Dia melengkapi pemahaman kita terhadap Torah dan Kitab Para Nabi…Pasal 5 yang tersisa, menjelaskan enam kasus khusus dimana Yahshua memberikan penjelasan makna rohani secara penuh mengenai pokok-pokok dalam hukum Yahudi (Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.25-26) 

Penjelasan David Bivin dan Roy Blizard serta DR. David Stern, bukan satu-satunya penjelasan yang dapat diterima dalam memahami perkataan Yesus mengenai arti “membatalkan Torah” dan “menggenapi Torah”.

EKSISTENSI GEREJA ORTHODOX SYRIA SERTA RELEVANSINYA DALAM MENEMUKAN KEMBALI EKSPRESI KEKRISTENAN SEMITIK

Posted by Teguh Hindarto




Di Suriah, pertempuran antara pasukan perlawanan oposisi dan militer rezim Assad masih berlanjut di Allepo dan beberapa kota lain, termasuk Damaskus. Saling klaim terjadi diantara keduanya bahwa mereka masing-masing telah menguasai Allepo dan lawannya tersingkir”, demikian petikan surat kabar Kompas tanggal 3 Agustus 2012. Tiga kata penting yang akhir-akhir ini kita dengar di media televisi dan surat kabar serta media on line yaitu Suriah, Damaskus (ibukota Suriah) dan Allepo (wilayah di Damaskus). Tiga kata ini memiliki peran penting dalam perkembangan Kekristenan, sebelum Islam menguasai Suriah pada Abad VII Ms.

Sebagaimana kita ketahui bahwa akhir 2011 lalu terjadi pemberontakan pasukan bersenjata terhadap rezim Bashar al Assad dan memuncak pada tanggal 15 Juli 2012. Menurut laporan PBB, sudah sekitar 9000-11.000 orang yang tewas dalam konflik bersenjata ini. Assad memerintah sebagai presiden sejak tahun 2000 menggantikan ayahnya Hafez al-Assad[1].

Suriah atau Syria yang resminya bernama Republik Arab Syria adalah negara Arab di wilayah Asia Barat, yang berbatasan dengan Lebanon dan Laut Tengah di Barat, berbatasan dengan Turki di Utara dan berbatasan dengan Irak di Timur dan berbatasan dengan Yordania di Selatan, serta berbatasan dengan Israel di Barat Daya. Dalam bahasa Inggris, nama Suriah sebelumnya identik dengan Levant, yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Sham, sementara negara Suriah modern kini meliputi situs-situs kerajaan kuno beberapa dan kerajaan, termasuk peradaban Eblan dari milenium ketiga SM.

Suriah (Syria) jatuh ke tangan pemerintahan Muslim pada tahun 640 Ms oleh tentara para khalifah pimpinan Khalid bin al-Walid, sehingga bagian daerah itu menjadi kerajaan Islam. Kemudnianpada pertengahan abad VII Ms, dinasti Umayyah menempatkan ibukota kekaisaran di Damaskus. Lalu Suriah dibagi menjadi empat kabupaten: Damaskus, Homs, Palestina dan Yordania. Kerajaan Islam membentang dari Spanyol dan Maroko ke India dan bagian Asia Tengah, dan Suriah yang makmur secara ekonomi kemudian menjadi ibukota kekaisaran. Penguasa Ummayad awal seperti Abd al-Malik dan Al-Walid banyak membangun istana megah dan beberapa masjid di seluruh Suriah, terutama di Damaskus, Aleppo, dan Homs.

Populasi Suriah adalah Sunni 74% (sebagian besar Arab Sunni, tapi juga orang Kurdi, Circassians dan Turkomans), Alawi 12% dan Syiah (kebanyakan orang Arab), 10% Kristen (Arab Kristen, Asiria dan Armenia) dan Druze 3% (kadang-kadang dianggap bagian dari Syiah Islam). Dikombinasikan, 87% dari populasi Suriah adalah Muslim. Mayoritas penduduk Suriah adalah Arab. Suriah menerima kemerdekaan tahun 1946 berdasarkan mandat Prancis[2].

Jumlah orang Kristen di Syria meliputi sekitar 10% dari jumlah penduduk Syria. Denominasi Kristen terbesar adalah Gereja Ortodoks Yunani dari Antiokhia, diikuti oleh Gereja Katolik Melkite Yunani, dan kemudian Gereja Ortodoks Syria, ada juga sebagian kecil Protestan[3]. Dampak konflik dan krisis politik di Syria mengimbas kepada nasib ribuan orang Kristen di Syria. Keberadaan orang Kristen di Suriah kerap dihubungkan dengan keberadaan dan kepanjangan tangan Barat sehingga merugikan nasib orang-orang Kristen di Suriah saat ini[4]. Bahkan orang-orang Kristen di Syria sendiri tidak menginginkan intervensi Barat yang hendak menggulingkan pemerintahan Assad karena dikuatirkan akan menjadi korban balas dendam oleh kelompok radikalis dan fundamentalis[5]

Artikel ini bukan hendak mengulas aspek politik dari krisis Suriah melainkan hendak menyoroti eksistensi gereja Orthodox di Suriah yang memiliki eksistensi historis yang dapat ditarik sampai pada zaman para rasul dan implikasinya bagi Kekristenan masa kini khususnya di Indonesia.

Damaskus

Nama Damaskus (Damsyik) sudah dikenal dalam Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) yaitu Kejadian 14:15, “Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik”. Nama Damaskus juga telah disinggung dalam karya sejarawan Yahudi bernama Yosephus dalam Antiquites of the Jews menghubungkan nama Uz sebagai anak Abraham yang mendirikan kota Damaskus[6]. Kerajaan Mesir kuno dan Yunani kuno pernah berkuasa di Damaskus.

Tercatat dalam Kitab Perjanjian Baru bahwa Rasul Paul mengalami pertobatan dan perjumpaan dengan Yesus Sang Mesias di Damaskus (Damsyik) dan melakukan karya apostolik (kerasulan) dengan mendirikan jemaat-jemaat Mesias, sebagaimana dilaporkan dalam Kisah Rasul pasal 9.

dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem

Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia” (Kis 9:3)

Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik” (Kis 9:8)

Di Damsyik ada seorang murid Tuan bernama Ananias. Firman Tuan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuan!" (Kis 9:10)

Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik” (Kis 9:19b)

Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias” (Kis 9:22)

Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuan di tengah jalan dan bahwa Tuan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus” (Kis 9:27)

Bisa dibayangkan sekarang bagaimana kondisi Damaskus kini yang porak poranda dan kacau diakibatkan oleh konflik bersenjatan antara tentara pemerintah dengan tentara pemberontak.

Aleppo

Kota ini menjadi salah satu tempat komunitas Yahudi penganut Yudaisme berkumpul di zaman lampau. Sejumlah tempat seperti Al-Jamiliyah and Bab Al-Faraj serta Sinagog besar dimana ditemukannya Kodek Allepo yang berisikan salinan TaNaKh dari Abad X Ms yang dianggap salinan terbaik dari naskah Masoretik[7].

Pada tahun 1992, pemerintah Suriah mencabut larangan perjalanan terhadap 4.500 warganya yang berasal dari Yahudi. Kebanyakan tujuan perjalanan ke Amerika Serikat, di mana sejumlah besar orang Yahudi Syria saat ini tinggal di Brooklyn, New York. Hari ini, tidak ada keluarga Yahudi tinggal di Aleppo, dan banyak bangunan seperti sinagog dan sekolah Yahudi tetap kosong, hanya akan digunakan untuk acara khusus dan upacara keagamaan[8].

Gereja Orthodox

Sebagaimana telah diulas bahwa jumlah orang Kristen di Syria meliputi sekitar 10% dari jumlah penduduk Syria. Denominasi Kristen terbesar adalah Gereja Ortodoks Yunani dari Antiokhia, diikuti oleh Gereja Katolik Melkite Yunani, dan kemudian Gereja Ortodoks Syria, ada juga sebagian kecil Protestan.

Apakah Gereja Orthodox itu? Marc Dunaway menjelaskan, “Gereja Orthodox adalah Gereja yang tertua dalam Kekristenan, dengan penyembahan yang Alkitabiah, dengan cara hidupnya yang menyejarah dan merupakan suatu kelanjutan yang terkait erat dengan Gereja mula-mula yang disebutkan dalam kitab Kisah Para Rasul. Kekristenan Orthodox bukan hanya cabang dari pohon Gereja tetapi adalah merupakan batang pohon utama dari Gereja, yaitu Gereja Kristen yang sebenarnya”[9]. Arkhimandrit Daniel Byantoro mendefinisikan Orthodox sbb, “Istilah ‘Orthodox’ bukanlah nama aliran Gereja, karena sebenarnya Gereja Orthodox tak mempunyai nama. Orthodox berasal dua kata Yunani orthos = lurus, benar” dan doxa = pengajaran, pendapat, kemuliaan. Jadi “orthodoxa” artinya adalah “ajaran yang lurus.”[10]

Bermula dari tahun-tahun awal (abad pertama) ke-Kristen-an, dimana para Rasul memulai mendirikan 5 Kota sebagai Pusat Gereja (kemudian disebut sebagai Pentarkhi), yang antara lain adalah:
  1. Antiokhia (Turki), didirikan oleh Rasul Petrus pada tahun 37 AD.
  2. Konstantinopel (Yunani/Byzantium), didirikan oleh Rasul Andreas pada tahun 38 AD.
  3. Roma (Latin), didirikan oleh Rasul Petrus & Rasul Paulus pada tahun 42 AD.
  4. Yerusalem (Israel), didirikan oleh Rasul Yakobus pada tahun 43 AD.
  5. Alexandria (Mesir), didirikan oleh Rasul Markus pada tahun 68 AD[11].
Kota Pentarkhi tersebut masing-masing dikepalai oleh seorang Patriakh. Gereja Orthodox membagi Sistem Yuridiksinya sebagai berikut:[12]
  1. Tahkta Kepatriarkhan Apostolik Utama
Kepatriarkhan Konstantinopel yang berpusat di Turki (Patriakh Ekumenikal). Tahun 2010 oleh Patriakh Bartholomew I.

Kepatriarkhan Alexandria yang berpusat di Mesir. Tahun 2010 oleh Patriakh Theodoros II.

Kepatriarkhan Antiokhia yang berpusat di Suriah. Tahun 2010 oleh Patriakh Agnatius IV Hazim

Kepatriarkhan Yerusalem yang berpusat di Israel. Tahun 2010 oleh Patriakh Theophilus III.
  1. Tahkta Kepatriarkhan Wilayah
Kepatriarkhan Rusia. Tahun 2010 oleh Patriakh Kirill I.

Kepatriarkhan Serbia.

Kepatriarkhan Romania.

Kepatriarkhan Georgia.

Kepatriarkhan Bulgaria.
  1. Gereja-Gereja Autochepalus
Gereja yang mendapatkan kemandirian secara sepenuh. Pemimpin dari gereja-gereja ini walaupun bukan merupakan Patriarkh, para pemimpin gereja-gereja ini (para Uskup Agung/Metropolitan) mempunyai kedudukan istimewa dan sejajar dengan para Patriarkh.

Gereja Orthodox Yunani.

Gereja Orthodox Polandia.

Gereja Orthodox Albania.

Gereja Orthodox Ceko dan Slovakia.

Gereja Orthodox Siprus.

Biara Agung St. Katarina dari Gunung Sinai.
  1. Gereja-Gereja Otonomi
Gereja-Gereja ini diakui kemandiriannya namun belum mendapatkan kemandirian secara penuh dari Kepatriarkhan Konstantinopel.

Gereja Orthodox di Finlandia.

Gereja Orthodox di Jepang.

Gereja Orthodox di Cina.
  1. Gereja Diaspora
Walaupun mempunyai kemandirian secara utuh, tetapi diberikan wewenang untuk memerintah secara mandiri, dan diakui apostolitasnya oleh seluruh Gereja Orthodox.
Gereja ini adalah Gereja Orthodox Amerika.

Oriental Orthodox

Ini termasuk Gereja Orthodox di wilayah Timur yang menolak keputusan Konsili Chalcedon (451 Ms) dan hanya mengakui tiga Konsili Ekumenis di Nicea, Konstantinopel, Efesus. Kadang dijuluki dengan Monophysite. Yang termasuk dalam golongan Oriental Orthodox adalah Orthodox Coptic, Orthodox Ethiophia, Orthodox Erites, Orthodox Syria, Orthodox Syria Malankara India, Armenia Apostolik[13]

Eastern Orthodox

Terkadang disebut dengan Catholic Orthodox Church. Diperkirakan ada 300 juta pengikut di dunia dan tersebar di wilayah Rusia, Georgia, Belarusia, Ukraina, Rumania, Serbia, Montenegro, Bosnia, Herzegovina, Macedonia, Bulgaria, Yunani, Cyprus[14]. Tujuan Eastern Orthodox adalah mengalami Theosis (Pengilahian) melalui meneladan perilaku Mesias (Imitatio Christi) dan Hesykiasme yaitu suatu metode doa yang bersifat esoteris.

Assyrian Orthodox

Gereja ini berasal dari orang-orang Kristen di Assyria dari propinsi Asuristan di wilayah kerajaan Parthian dan menyebar dari Mesopotamia sampai China dan India. Tahun 1552 terjadi skisma sehingga menimbulkan 2 kepemimpinan yaitu Assyrian Church of the East dan Chaldean Cathilic Church. Keberadaan Assyrian Church meneruskan kepemimpinan Patrialh Seleuka Ctesipon. Pemimpinnya sekarang adalah Mar Dinha IV yang memerintah di Chichago[15].

Syrian Orthodox di Suriah

Sebagaimana telah dikatakan bahwa Gereja Orthodox Syria merupakan bagian dari Oriental Orthodox yang menolak Konsili Chalcedon 451 Ms dan hanya menerima 3 konsili ekumenis di Nicea, Kontantinopel dan Efesus. Patrriakh yang memimpin saat ini adalah Ignatius Zakka I Iwas yang merupakan Patriakh ke 122. Dalam sejarah panjangnya, Gereja Orthodox Syria meyakini bahwa Rasul Petrus yang mendirikan jemaat di Anthiokhia. Dan setelah Petrus meninggalkan Anthiokia, mengangkat Evodius dan Ignatius[16]. Liturgi peribadatan menggunakan bahasa Syriak dan Arab.

Gereja Orthodox Syria giat dalam mengembangkan pekerjaan misi hingga ke Cina bahkan ke Indonesia pada Abad VII Ms. Bahkan orang-orang Gereja Orthodox Syria berperanan dalam menerjemahkan karya-karya sastra dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab di masa pemerintahan Harun al Rashid pada Abad VIII ms. Sejumlah penerjemah Kristen Syria al., Hunain ibn Ishaq al Abadi, Yusuf al Khuri al Qas, Qusta ibn Luka al Ba’lbakki, Abus Bishr Matta ibn Runus al Qanna’i dll[17]. Mar Ignatius Yakub III, Patriakh Gereja Anthiokia sebelum digantikan Patriakh Ignatius Zakka I Iwas, dalam bukunya menuliskan, “Para penguasa Arab Muslim memanfaatkan keahlian mereka untuk mengajar dan menerjemahkan dalam bahasa-bahasa Arab berbagai topik literatur-literatur Yunani, disamping karya-karya besar mereka sendiri dalam bahasa Aramaic/Syriac”[18]

Sebagaimana Gereja Orthodox lainnya, selain melestarikan garis kepemimpinan rasuli (suksesi rasuliah) serta doktrin Kristologis, Gereja Orthodox Syria memiliki tata peribadatan harian tujuh kali sehari (Mzm 119) sebagai warisan Yudaisme yang dilestarikan dengan cara baru yang tertuju pada peristiwa yang di alami Mesias saat sengsaranya hingga berakhir di kayu salib. Dalam bahasa Arab disebut dengan Ashabush Sholawat dan dalam Gereja Katolik dikenal dengan sebutan Liturgia Horarum. Ketujuh pola doa harian tersebut adalah:
  1. Ramsho (Vesper) – Doa Siang
  2. Sootoro (Compline) – Doa Malam
  3. Lilyo (Matin) – Doa Tengah Malam
  4. Saphro (Laudes) – Doa Pagi (jam 6 pagi)
  5. Tloth Sho’in (Terce, jam 9 pagi)
  6. Sheth Sho’in (Sezta, tengah siang)
  7. Tsha Sho’in (Nones, jam 15 sore)
Arah kiblat ibadah mereka adalah Timur dengan dalil dari Matius 24:27, “Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia”. Kitab yang mereka pergunakan adalah Peshitta dalam bahasa Aramaik. Perayaan Ekaristi dinamai dengan Qadisha Qurbana.

Nilai Kehadiran Gereja Orthodox Khususnya Orthodox Syria di Indonesia

Sebelum tahun 2000, hampir-hampir kita tidak mengenal eksistensi Gereja Orthodox dalam literatur sejarah gereja di sekolah-sekolah Teologi. Namun sejak tahun 2000-an khususnya 2006 kita mulai mendengar keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia melalui diresmikannya Gereja Orthodox Indonesia (GOI) yang dipimpin oleh Archimandrit Daniel Subaintoro dengan SK Dirjen Bimas Kristen Depag R.I. no: DJ.III/Kep/HK.00.5/190/3212/2006.