RSS Feed

MEMBACA ULANG SEJARAH KELAHIRAN MESIAS

Posted by Teguh Hindarto





Luk 2:1-2, Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Mulai kapan Kaisar Agustus memerintah? Mulai kapan Kirenius menjadi wali negeri di Siria? Kapan persisnya yang disebut waktu pendaftaran penduduk tersebut? Pernyataan diatas memberikan sebuah kesaksian bahwa kelahiran Yahshua bukanlah FIKTIF  melainkan FAKTA. Kelahiran Yahshua bukan terjadi diruang kosong alam dongeng melainkan terjadi dalam konteks ruang dan waktu, yaitu terjadi saat Kaisar Agustus memerintah sebagai Kaisar Romawi yang menjajah Yerusalem. Dia memerintah sejak tahun 27 SM. Dan peristiwa pendaftaran penduduk diperkirakan terjadi pada tahun 5 atau 4 SM bertepatan dengan Herodes memerintah sebagai Gubernur atas Yudea. Sementara itu Kirenius memerintah di Syria. Syria merupakan bekas wilayah kepenguasaan Alexander Agung dari Kerajaan Yunani yang setelah wafatnya menjadi wilayah perebutan para jendral perangnya.

Luk 2:6-7 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Apa yang dimaksud dengan palungan? Apakah kita mendapat petunjuk penting mengenai saat kelahiran Yesus melalui kata “palungan?”. Untuk dapat mengetahui waktu kelahiran Mesias, kita dapat melihat kapan Yohanes Pembaptis lahir. Adapun kronologinya sbb:[1]

·         Zakharia, ayah Yohanes adalah imam Lewi dari rombongan Abia (Luk 1:35). Sebagaimana kita ketahui bahwa Abia adalah nama rombongan ke-8 dari ke-24 rombongan para imam yang bertugas di Bait Suci sejak zaman Daud (1 Taw 24:1-3, 7-19)

·         Tiap rombongan memulai tugas pelayanan di Bait Suci sejak awal bulan Nisan sebagai pembukaan tahun keagamaan. Masing-masing rombongan bertugas selama satu minggu. Tiap jatuh hari raya, maka ke-24 imam bertugas bersama, termasuk pada saat perayaan Pesakh Tgl 14 Nisan dan Shavuot Tgl 6 Siwan (Bulan Yahudi: Nisan {Mar-Apr}, Iyar {Apr-Mei}, Siwan {Mei-Jun}, Tammus {Juni-Juli}, Av {Juli-Agst}, Elul {Agst-Sept}, Tisri {Sept-Okt}, Marshevan {Okt-Nov}, Kislew {Nov-Des}, Tevet {Des-Jan}, Sevat {Jan-Feb}, Adar {Feb-Mar}). Jika rombongan Zakaia adalah rombongan ke-8, berarti Zakhar-Yah memulai pelayanan keimamam sekitar sabat kedua bulan Siwan (Mei-Juni)

·         Berdasarkan petunjuk Lukas 1:23-24, Elisabet mengandung beberapa waktu setelah Zakharia menyelesaikan tugas keimamamnya. Berarti sekitar sabat ke-3 atau sabat ke-4 bulan Siwan, Elissabet mengandung.

·         Elisabeth mengandung normal selama 9,5 bulan sebagaimana layaknya wanita yang mengandung. Maka jika kita menghitung 9,5 semenjak bulan Siwan (Mei-Juni), maka kelahiran Yohanes akan jatuh pada bulan Nisan awal. Yahshua pernah berkata bahwa Yohanes adalah Elia yang akan datang (Mat 17:10-13) dan setiap perayaan Pesakh di bulan Nisan, ada jamuan Seder dimana ada 5 cawan dan 1 dari 5 cawan, adalah khusus bagi Elia yang akan datang.

·         Menurut laporan Lukas 1:24-27, 36, Maria mengalami penampakan malaikat Gabriel yang mewartakan lahir-Nya Mesias melalui rahimnya. Dan peristiwa itu terjadi pada bulan keenam setelah mengandungnya Elisabeth pada bulan Siwan (Mei-Juni). Jika kita tambahkan angka 6 sejak bulan Siwan, maka akan jatuh pada bulan Kislew (Nov-Des). Berarti saat Maria mengandung Yesus, peristiwa itu jatuh dibulan Desember awal. Dan jika kita menghitung dari bulan Kislew (Nov-Des) selama 9,5 bulan sampai tiba saatnya Maria melahirkan, maka akan jatuh pada bulan Tishri (Sept-Okt). Sebagaimana kita ketahui bahwa bulan Tishri sejak tgl 15-21 adalah saat orang-orang Yahudi merayakan puncak Moedim (Hari Raya), yaitu SUKKOT atau Pondok Daun. Dengan demikian kelahiran Mesias jatuh pada bulan September akhir atau Oktober awal bertepatan dengan perayaan Sukkot

·         Fakta kelahiran Mesias yang jatuh pada saat orang Yahudi merayakan Sukkot tersirat dari Yohanes 1:14 yang berbunyi, “Dan Firman itu telah menjadi manusia dan TINGGAL diantara kita”. Kata “tinggal” dalam bahasa Yunani dipergunakan kata skenoo. Dalam TaNaKh versi Septuaginta, kata “Kemah” (Mishkhan) yang menunjuk pada perayaan Sukkot, biasanya diterjemahkan dengan skenoo. Maka kata skenoo dalam Yohanes 1:14 merupakan petunjuk bahwa Yahshua lahir saat orang Yahudi merayakan Yom Sukkot atau “herotei skenon”. Luar Biasa!

Berikut skema untuk memperjelas uraian diatas:[2]

Pelayanan para Imam di Bait Suci berdasarkan 1 Tawarikh 24:1-19


Bulan I
Nisan
(Maret-April)

Bulan II
Iyyar
(April-Mei)
Bulan III
Siwan
(Mei-Juni)
Minggu Pertama
Yoyarib (1)
Seorim (4)
Semua imam
(Shavuot)
Minggu
Kedua
YedaYah (2)
MalkhiYah (5)
AbiYah (8)
Minggu
Ketiga
Semua Imam
(Ha Matsah)
Miyamin (6)
Yeshua (9)
Minggu Keempat
Harim (3)
Hakkos (7)
ShekanYah (10)

Cat: Zakharia adalah rombongan ke-8 yaitu dari rombongan Abia, yang melaksanakan tugas bulan Siwan (Luk 1:35, Mei-Juni). Berarti Elizabeth mengandung sekitar bulan Juni awal


Perbandingan kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus


Kalender Yahudi

Kalender Romawi
Yohanes
Yesus
Nisan
Mar-Apr
lahir
4
Iyyar
Apr-Mei

5
Siwan
Mei-Jun
mulai dikandung
6
Tammuz
Jun-Jul
1
7
Av
Jul-Agst
2
8
Ellul
Agst-Sept
3
9
Tishri
Sept-Okt
4
lahir
Kheswan
Okt-Nov
5

Kislew
Nov-Des
6
Mulai dikandung
Tevet
Des-Jan
7
1
Shevat
Jan-Feb
8
2
Adar
Feb-Mar
9
3

Cat: Miryam mengandung Yesus dan menerima berita dari malaikat, pada bulan keenam dari saat Yohanes dikandung Elisabet (Luk 1:24-27) dan saat bertemu Elisabeth dibulan keenam, bayi Elisabeth melonjak (Luk 1:36-39).


Ada satu fakta yang menarik untuk dicermati mengenai kata “kain lampin” dan “palungan”. Kain lampin merupakan kain yang dipergunakan sebagai sumbu untuk menyalakan lentera dengan 16 kath minyak ditempat kaum wanita selama perayaan Sukot. Adapun kata “palungan”, dalam bahasa Yunaninya phatne. Kata ini juga dipergunakan untuk menerjemahkan kata “kandang” dalam Lukas 13:15. Kata Yunani phatne, dalam bahasa Ibraninya adalah marbek. Dalam Kejadian 33:17, diceritakan mengenai Yakub yang melakukan perjalanan untuk meratakan Sukkot dan membuat kandang untuk kudanya2. Ada tiga hari raya tahunan yang harus dilaksanakan dengan berpusat di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot (Ul 16:16-17). Mereka yang diluar Yerusalem harus pulang dan melaksanakan perjalanan dengan mengendarai kendaraan berpa kuda. Tidak heran jika Maria dan Yosef saat mudik tidak kebagian tempat menginap sehingga harus menginap dan bersalin di tempat penambatan kuda.


Luk 2:8-9 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Jika gembala tinggal dipadang semalaman sambil menunggu domba-dombanya lalu dimalam yang cerah tersebut tiba-tiba mereka melihat dan mendengar penampakan malaikat sorgawi, apakah mungkin peristiwa itu terjadi dimusim dingin? Di Yisrael ada empat musim yang silih berganti, yaitu musim panas yang jatuh bulan Nisan-Siwan (Mar-Jun), musim rontok yang jatuh pada bulan Av-Tishri (Juli-Okt), musim dingin yang jatuh dari bulan Marshewan-Tevet (Nov-Jan) serta musim semi dari bulan Tevet-Nisan (Jan-Apr).

Perlu diketahui bahwa selama bulan Kislew atau Desember curah hujan sangat tinggi disertai salju dan suhu yang sangat rendah. Bagaimana mungkin dengan situasi cuaca yang teramat buruk, para gembala dengan tenang menunggui gembalaannya dimalam hari? Benarkah peristiwa ini terjadi pada bulan Desember? Jelas bukan! Jika kita telah sepakat dengan penempatan bulan kelahiran Mesias Yahshua adalah bulan Sep/Okt, maka saat terjadinya deklarasi sorgawi oleh para malaikat kepada gembala-gembala, terjadi disaat musim rontok yang jatuh pada bulan Tishri (Sept/Okt).

AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU

Posted by Teguh Hindarto

PEMAHAMAN DASAR TENTANG TEOLOGI KEMBALI KE AKAR IBRANI



MENGAPA KEMBALI KE AKAR IBRANI?

Akhir-akhir ini, istilah “Back to the Hebraic Root”, (Kembali ke Akar Ibrani) telah menjadi suatu istilah yang fenomenal dan bersifat khusus dikalangan Kekristenan. Namun tidak banyak orang Kristen yang memahami betul essensi dibalik istilah tersebut. Kebanyakan hanya memahaminya sebatas mempersoalkan penggunaan nama sesembahan agama lain yaitu Allah yang tercantum dalam Kitab Suci Kristiani dan menuntut penyebutan nama Yahweh sebagai nama sesembahan yang benar. Demikian pula penggunaan nama Mesias yaitu “Yahshua” atau “Yeshua”, dibandingkan dengan “Yesus”. Apakah demikian batasan “Back to the Hebraic Root?” Kajian berikut hendak mengupas secara seksama essensi “kembali ke akar Ibrani”, sebagai bagian dari agenda pembaruan gereja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Yang menjadi persoalan adalah, mengapa gereja sebagai komunitas umat beriman yang memenuhi panggilan keselamatan Mesias, perlu untuk kembali ke akar Ibrani? Paling tidak, ada beberapa alasan mendasar yang dapat kita telusuri sbb :

GEREJA TERCERABUT DARI AKAR IBRANI
SEHINGGA MENGALAMI DISORIENTASI SEJARAH

Gereja berakar pada Yudaisme. Kekristenan bukan suatu agama baru melainkan salah satu sekte dalam Yudaisme yang dinamakan Sekte Netsarim (Kis 11:19; 24:5). Kesaksian sejarawan Epiphanius dalam bukunya yang berjudul Panarion menuliskan: “But these sectarians…did not call. They use not only the New Testament but the Old Testament as well, as the Jews do…They have no different ideas, but confess everything exactly as the law proclaims it and in the Jewish fashion-except for their belief in Messiah, if you please! For they acknowledge both the resurrection of the dead and the divine creation of all things, and declare that God is one, and that his son is Yahshua the Messiah. They are trained to a nicety in Hebrew. For among them the entire Law, the Prophets and the Writings are read in Hebrew as they surely are by the Jews. They are different from the Jews and different from Christians, only in the following. They disagree with Jews because they have come to faith in Messiah; but since they are still fettered by the Law-circumcicion, the Sabbath and the rest-they are not in accord wirh Christians…they are nothing but Jews…They have the Goodnews according to Matthew in its entirety in Hebrew. For it is clear that they still preserve this, in the Hebrew alphabet, as it was originally written”.1



(Namun sekte ini…tidak menyebut diri mereka sendiri sebagai Kristen, melainkan Nazarene…akan tetapi, mereka seutuhnya adalah orang-orang Yahudi. Mereka tidak hanya menggunakan Kitab Perjanjian Baru namun juga Kitab Perjanjian Lama sebagaimana mestinya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi…Mereka tidak memiliki pemikiran yang berbeda namun mengakui segala sesuatu secara jelas sebagaimana Hukum menerangkannya dan dalam pola pikir Yahudi-terkecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias, jika engkau berkenan! Sebab mereka mengakui baik kebangkitan orang mati maupun penciptaan ilahi segala sesuatu, serta keesaan Tuhan dan Putra-Nya Yesus Sang Mesias. Mereka dilatih secara menyenangkan dalam bahasa Ibrani. Bagi mereka, baik Torah, Kitab Para Nabi dan Tulisan hikmat dibaca dalam bahasa Ibrani sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahusi pada umumnya. Mereka berbeda dengan orang-orang Yahudi maupun dengan orang-orang Kristen, hanya dalam cara pelaksanaanya saja. Mereka tidak sependapat dengan orang Yahudi dikarenakan mereka beriman pada Mesias; namun dikarenakan mereka tetap mengikatkan dirinya melalui Torah – sunat, Sabat dan hari perhentian – mereka tidak termasuk dalam Kristen…mereka adalah orang-oraang Yahudi…Mereka memiliki Kitab Kabar Baik menurut Matius yang keseluruhannya berbahasa Ibrani. Hal ini jelas bahwa mereka memelihara kitab ini, dalam aksara Ibrani sebagaimana ditulis sejak semula]


Senada dengan keterangan diatas, Ray A. Pritz menjelaskan: “The name Nazarene was at first applied to all Jewish followers of Jesus. Until the name Christian became attached to Anthiochian non Jews, this meant that the name signified the entire Church, not just a sect. So also in Acts 24:5 the reference is not to a sect of Christianity but rather to the entire primitive church as a sect of Judaism”.2 (Nama Nazarene pada mulanya disematkan pada semua pengikut Yahshua yang merupakan orang-orang Yahudi. Sampai akhirnya nama Kristen menjadi bagian yang dikenakan pada orang non Yahudi di Anthiokia, istilah ini dimaksudkan bagi keseluruhan gereja dan bukan hanya sebatas suatu sekte. Demikianlah dalam Kisah Rasul 24:5, petunjuk ini tidak mengindikasikan suatu sekte Kristen melainkan seluruh gereja purba sebagai sekte dari Yudaisme).

Sekte ini berpusatkan pada ajaran Yesus yang dipercaya sebagai Nabi, Mesias dan Putra Yahweh sendiri. Ada beberapa sekte dalam Yudaisme pada Abad I Ms, spt. Farisi, Saduki, Esseni, Zealot. Secara umum, tidak ada perbedaan diantara Sekte Netsarim dengan Yudaisme pada umumnya, baik dalam Emunah, Avodah maupun Halakhah. Yang membedakan adalah pemahaman tentang siapa Yesus itu? Apakah Dia Mesias yang dijanjikan atau hanya seorang anak tukang kayu?

Abad ke-II Ms, merupakan suatu era titik balik dalam sejarah gereja. Terjadi perpindahan dari teologi Palestina yang kongkrit menuju Teologi Yunani yang abstrak.3 Hal ini terjadi dikarenakan semakin banyaknya bangsa non Yahudi yang menerima Mesias, oleh pemberitaan para rasul. Dalam perkembangannya, gereja semakin menjauh dari akar ibrani. Realita ini memuncak pada saat Kaisar Konstantin naik tahta menjadi Raja dan mengubah status Kekristenan dari “religio ilicita” (agama yang tidak sah) menjadi “religio licita” (agama yang sah) Peristiwa ini terjadi pada tahun 313 Ms dan bersamaan dengan dikeluarkannya Edik Milano pada tahun 318 Ms, dimana Kekristenan diubah menjadi agama negara dan orang-orang Kristen Roma diberi kebebasan penuh dalam melaksanakan peribadahan.3 Semenjak Konstantin dan seterusnya, gereja non Yahudi semakin menjauh dari akar Ibrani bahkan cenderung membenci keberadaan Yahudi, sebagaimana dikatakan oleh sejarawan David Rausch, “The Gentile Church claimed to be the true Israel and tried to disassociate itself from the Jewish people early in its history”4 (Gereja non Yahudi mengklaim menjadi Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat Yahudi dalam sejarahnya)

PENGARUH ANTI SEMIT YANG BERKEMBANG  
SEJAK KEKRISTENAN ROMAWI PRA/PASKA KONSTANTIN

Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwasanya sejak Abad ke-II Ms dan seterusnya, terjadi berbagai perubahan dalam tubuh gereja, khususnya dikalangan non Yahudi. Berbagai literatur para bapa gereja non Yahudi sarat dengan serangan-serangan dan kutukan-kutukan serta menyudutkan keberadaan orang-orang Yahudi yang dianggap telah menyalibkan Mesias. Berbagai tulisan tadi mencerminkan sikap yang paling awal mengenai fenomena yang kelak diistilahkan dengan “Anti Semitisme”. Sikap-sikap Anti Semit semakin menjauhkan gereja dari akar keyahudiannya.


DAMPAK TEOLOGI HELENIS TERHADAP PENAFSIRAN KITAB SUCI



Dalam sejarah gereja, tercatat bahwa ada dua sekolah teologi berpengaruh dikalangan non Yahudi, yang berpusat di Anthiokia dan Alexandria. Kedua wilayah ini memiliki pola berteologia yang berbeda.  Alexandria cenderung bersikap alegoris (tafsiran terhadap lambang) dalam menafsirkan Kitab Suci sementara Anthiokia bersikap Literal [tekstual].  Mereka menerima pola penafsiran warisan Bangsa Greek yang disebut Hermeneutika yang memiliki berbagai metoda. Salah satu metode Hermeneutik adalah tafsiran alegoris. Tafsir alegoris ini cenderung menyudutkan posisi Israel secara historis yang tertulis dalam TaNaKh, hanya sebagai simbol atau lambang dari Israel sejati, yaitu gereja. Pola penafsiran ini, kelak melahirkan istilah Replacement Theology (Teologi pengganti). Israel diposisikan sebagai bangsa yang telah gagal memelihara perjanjian dengan Yahweh, sehingga Yahweh melimpahkan perjanjian yang baru dengan gereja, sebagaimana dijelaskan oleh Hal Lindsey: “Using this method of interpretation (allegorical]) Church theologians began to develop the idea that the Israelites had permanently forfeited all their covenants by rejecting Jesus as the Messias. This view taught that these covenant now belong to the Church and that it is the only true Israel now and forever. The view also taught that the Jews will never again have a future as a Divinely chosen people, and that the Messiah will never establish His Messianic Kingdom on earth that was promised to them (the Jews)5. (Penggunaan metode penafsiran ini {alegori}, para teolog gereja mulaai mengembangkan gagasan bahwa Israel telah kehilangan selamanya semua perjanjian yang mereka miliki dengan menolak Yahshua sebagai Mesias. Pandangan ini mengajarkan bahwa perjanjian ini dilanjutkan pada Gereja sebagai Israel rohani untuk selama-lamanya. Pandangan ini juga mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi tidak akan memiliki masa depan kembali, sebagai anak-anak pilihan Elohim dan bahwasanya Mesias tidak akan pernah mendirikan Kerajaan Mesianik di bumi yang telah dijanjikan pada mereka)

DAMPAK TEOLOGI HELENIS DALAM PENERJEMAHAN KITAB SUCI

Teologi Kristen yaang mewarisi alam pemikiran Helenisme (Yunanisasi) yang serba abstrak dan rasionalistik, berpengaruh terhadap berbagai penerjemahan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa non Yahudi. Sebagai contoh, dalam Kitab Suci terjemahan berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), banyak ditemui berbagai penerjemahan yang buruk yang dipengaruhi cara berteologi yang Helenistik.

Beberapa contoh terjemahan yang buruk al. “Hukum Torat & Kitab Para Nabi berlaku sampai zaman Yohanes Pembaptis” (Luk 16:16). Dibagian lain dikatakan, “Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Torat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya” (Roma 10:4). Demikian pula dikatakan, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan Hukum Taurat” (Rm 13:10). Mengenai Torah dan Kasih Karunia, dikatakan, “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17). Mengenai Sabat dijelaskan, “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Dia meniadakan hari Sabat,…”(Yoh 5:18). Dalam perbincangan mengenai adat istiadat Yahudi, dikatakan, “…karena bukan masuk kedalam hati tetapi kedalam perutnya, lalu dibuang dijamban? Dengan demikian Dia menyatakan semua makanan halal” (Mark 7:19). Yang sangat mengejutkat mengenai pembatalan Torah, “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia, Dia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru didalam diri-Nya” (Ef 2:15). Demikian pula mengenai terjemahan Kitab Ibrani, “Oleh karena Dia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Dia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya” (Ibr 8:13). Beberapa kutipan kalimat yang digarisbawahi merupakan terjemahan yang keliru dan bias yang dipengaruhi asumsi tertentu mengenai keberadaan Torah yang tidak memiliki relevansi dalam Perjanjian Baru. Beberapa teks yang keliru akan menjadi topik bahasan dalam bab-bab selanjutnya dari tulisan ini.

NAMA TUHAN YANG TERLUPAKAN

Nama Tuhan Pencipta, Yang Esa, Yang Kudus dan Roh ada-Nya, yaitu YAHWEH (Kel 3:15, Yer 10:10, Yes 42:8, Ul 6:4-5) yang tertulis dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) berbahasa Ibrani, telah diterjemahkan dalam naskah berbahasa Yunani (Septuaginta). Dalam naskah Septuaginta, nama Yahweh dituliskan dengan Kurios yang setara dengan Adonai. Mengapa demikian? Karena sejak bangsa Israel pulang dari pembuangan Babilon (586 SM), ada suatu larangan yang ditetapkan oleh para rabbi Yahudi untuk tidak mengucapkan secara literal nama Yahweh. Sebutan penghormatan untuk menggantikan nama Yahweh adalah Adonai. Maka naskah Septuaginta yang diperuntukkan bagi komunitas Yahudi di Alexandria, Mesir yang tidak mengerti bahasa Yahudi, menuliskannya dengan Kurios.

Ketika Kabar Baik mengenai kehidupan, perkataan dan karya Sang Mesias yang lazim disebut dengan Euanggelion atau Injil atau Perjanjian Baru, disalin kedalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani, maka setiap penyalin, saat menerjemahkan kedalam bahasa Yunani, mengikuti versi Septuaginta, yang menggantikan nama Yahweh dengan sebutan Kurios. Tata cara penyalinan seperti ini memberi dampak bahwa bangsa-bangsa goyim (non Yahudi), tidak lagi mengenal nama Yahweh. Namun demikian, dalam naskah Ibrani Aramaik versi Shem Tob, Du Tillet, Crawford, Munster, nama Yahweh muncul dalam keseluruhan Injil. DR. James Trimm menerjemahkan naskah-naskah tersebut dan dikompilasi dalam Hebraic Root New Testament Version. Dalam terjemahannya, nama Yahweh muncul sebanyak 210 dalam keseluruhan Kitab Perjanjian Baru.6 Berbagai terjemahan Kitab Suci diseluruh dunia, hampir dipastikan mengacu pada naskah Septuaginta, sehingga dalam menerjemahkan Kitab Suci TaNaKh maupun Injil, tidak memunculkan nama Yahweh, kecuali dalam bagian-bagian perikop tertentu seperti yang dilakukan oleh King James Version, Revised Standard Version, dll.7

Namun demikian, tidak semua melakukan langkah yang serupa. Beberapa terjemahan Kitab Suci ada yang mengacu pada naskah Masoretik dan memunculkan nama Yahweh seperti yang dilakukan oleh The Jerusalem Bible, The Interlinear NIV Kohlenberger, American Standard Version. Fakta-fakta diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa ketika nama Yahweh tidak lagi dikenal, menyebabkan gereja kehilangan kembali terhadap akar Ketuhanannya yang berorientasi dalam Yudaisme yang berpusatkan pada Yahweh. Dengan demikian meratakan jalan bagi konsep Ketuhanan yang abstrak, spekulatif dan rasionalis.


MENGGENAPKAN RENCANA YAHWEH
TENTANG PERTOBATAN BANGSA-BANGSA (Zak 14:12)

Beberapa teks dalam Kitab Zakharia memberikan petunjuk profetik mengenai suatu kondisi waktu dimana Israel yang telah menolak Mesias dan bangsa-bangsa akan mendapatkan keselamatan dengan episentrum Yerusalem dan menerima Mesias Ibrani serta ibadah Yudaik. Disebutkan dalam Zakharia  8:20-23 sbb, “Beginilah Firman Yahweh Semesta Alam: Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Yahweh dan mencari Yahweh Semesta Alam! Jadi bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari Yahweh Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati Yahweh. Beginilah Firman Yahweh Semesta Alam: Pada waktu itu sepuluh orang akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Tuhan menyertai kamu”.

Disebutkan pula dalam Zakharia 12:10, ”Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam dan akan meratapi dia seperti meratapi anak tunggal dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang meratapi anak sulung”.
Tidak kurang pentingnya mengenai masa tersebut, sebagaimana dikatakan dalam Zakharia 14:8-9,16 sbb, “Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem;setengahnya mengalir ke laut timur; dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin. Maka Yahweh akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu Yahweh adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satu-Nya…Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, Yahweh Semesta Alam dan untuk merayakan Hari Raya Pondok Daun”.

Beberapa pernyataan profetik tersebut memberikan suatu sinyal peringatan bahwa ibadah Yudaik yang berpusatkan pada Yahweh Semesta Alam yang telah mengutus Mesias, Putra-Nya Yang Tunggal akan segera dan sedang terjadi menjelang akhir zaman. Tentunya kita sebagai bagian dari tubuh Mesias dibumi, ingin terlibat dalam penggenapan rencana Elohim tersebut dan mengambil bagian dalam rencana-Nya yang sedang dan akan digenapi secara utuh.


APA ITU AKAR IBRANI?

Dalam tulisan berikut, penulis akan mengulas batasan “Kembali ke Akar Ibrani”, dalam dua sudut pandang. Dengan menggunakan pendekatan negasi dan konfirmasi. Dengan menggunakan batasan tersebut, diharapkan pembaca dapat melihat dari dua sisi, sehingga memperoleh pemahaman yang tepat dan proporsional.

SECARA NEGATIF:

Bukan Yudaisasi

Kembali ke Akar Ibrani, bukan bermakna melakukan proses Yudaisasi. Apa itu Yudaisasi? Yudaisasi bermakna pemaksaan pola beragama Yudaisme sebagaimana dipraktekan oleh beberapa sekte keagamaan Yahudi baik di zaman pra Mesias (Farisi, Saduki,dll) maupun paska Mesias (Orthodox, Reform, Konservatif). Sikap-sikap melakukan Yudaisasi, terekam dalam Kisah Rasul 15:1 sbb: “Beberapa orang datang dari Yudea ke Anthiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara disitu: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan”.

Sikap beberapa sekte Farisi yang berusaha melakukan Yudaisasi ditentang oleh Rasul Paul dan Barnabas (Kis 15:2). Persoalan ini akhirnya diselesaikan dalam sidang di Yerusalem dan menghasilkan beberapa keputusan penting untuk dilakukan oleh goyim (non Yahudi) setelah menerima Mesias (Kis 15:20-21). Meskipun kembali ke akar Ibrani, mengadopsi nilai-nilai Yudaik, namun bukan bermakna secara telanjang melakukan Yudaisasi dalam berbagai bidang kehidupan orang beriman.

Bukan De-Yunanisasi

Ada kecenderungan kurang sehat akhir-akhir ini dikalangan komunitas yang mengklaim kembali ke akar Ibrani, yaitu menolak berbagai hal yang berbau Yunani dalam teks Kitab Suci. Penolakan berbagai pola penafsiran Kitab Suci yang bercorak Yunani yang telah secara berabad-abad diadopsi dalam berbagai seminari maupun sekolah Teologi. Menolak keberadaan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, mencerminkan amnesia sejarah dan kurangnya wawasan sejarah tentang keberadaan dan nilai historis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dalam memelihara iman dan mempertahankan keberadaan gereja saat ini.
Ketika Paul ada di Atena yang mewarisi nilai-nilai filsafat dan bahasa Helenis, dia memberitakan tentang Yesus kepada filsuf-filsuf Atena. Ketika disampaikan mengenai kebangkitan orang mati dan Yesus sebagai Mesias, beberapa orang menolak dan mengganggapnya memberitakan dewa-dewa asing (Kis 17:16-18) dan ditolak (Kis 17:32). Namun sejumlah orang Yunani seperti Dionisius, majelis Areopagus serta wanita Yunani bernama Damaris menjadi percaya (Kis 17:34).  Apakah Dionisius dan Damaris akan berbagi imannya kepada teman maupun keluarganya dengan menggunakan bahasa Ibrani dan kitab suci berbahasa Ibrani? Tentu dia akan menggunakan bahasa Yunani dan paling tidak dia akan mengutip terjemahan kitab suci Septuaginta jika diluar Yerusalem. Orang-orang Yunani dan Romawi yang menjadi percaya, tentunya memiliki kerinduan untuk menerjemahkan kitab Perjanjian Baru dikemudian hari dalam bahasa Yunani dengan merujuk pada naskah berbahasa Ibrani-Aramaik.

Meskipun patut diakui bahwa Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani bukan merupakan teks yang mula-mula, dan didalam berbagai versi manuskrip teks diakui terdapat berbagai varian, namun tidak mengubah pokok iman mengenai siapakah Mesias tersebut dan kematian-Nya di kayu salib serta kebangkitan-Nya dari orang mati pada hari ketiga. Kesaksian berbagai manuskrip teks dari berbagai tahun dan abad yang berbeda, memperkokoh nilai historis dan validitas Kitab Perjanjian Baru.  Ketangguhan yang teruji secara historis ini membuktikan pemeliharaan Tuhan dan perkenan Tuhan terhadap keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Mengabaikan bahkan membuang begitu saja keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani, secara tidak langsung telah mengkhianati sejarah terbentuknya komunitas umat beriman dibelahan dunia lainnya.

Yang kita perlukan bukan melakukan De-Yunanisasi terhadap teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani maupun berbagai metode hermeneutis warisan cara berpikir Yunani, namun melakukan sintesa dengan cara berpikir Hebraic, pola penafsiran Hebraic, sehingga menghasilkan struktur pemahaman yang holistik atau menyeluruh. Cara yang ditempuh oleh DR. David Stern, seorang Yahudi pengikut Mesias di Abad XX, dengan menerbitkan Jewish New Testament Comentary, dengan menganalisis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dengan mengkombinasikan sudut pandang Yunani dan Ibrani, sungguh menarik dan patut diapresiasi. Dalam catatan pengantarnyaa, beliau mengatakan : “My translation of the New Testament from the original Greek into English in a way that brings out its essential Jewishness”.8

Bukan Kultus Para Rabbi

Yudaisme pra Mesias maupun paska Mesias memiliki orang-orang bijaksana, rabbi-rabbi berpengaruh yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap penafsiran, terhadap aplikasi Torah dalam kehidupan, dalam penyusunan Misnah, Gemara, Talmud yang berisikan berbagai Halakhah. Beberapa nama rabbi-rabbi terkemuka seperti Hillel, Shamai, Yokhanan Ben Zakkai, Akiva Ben Yosep (15-135 Ms), Yahuda ha Nasi (135-219 Ms), Sholomo Yitshaqi (1040-1105 Ms), Moshe Ben Maimonindes (1135-1204 Ms), Moshe Ben Nakhman (1194-1270 Ms), Baal Shem Tov (1700-1760 Ms), Nakhman dari Breslov (1772-1810 Ms)9.

Sepandai dan seberapa berpengaruhnya para rabbi tersebut, namun tidak ada alasan bagi kita untuk mengkultuskan dirinya dan pengajarannya serta berbagai tulisannya. Mengapa? Karena merekapun manusia yang terbatas dan terikat dengan konteks zamannya sehingga dapat terjatuh pada kesalahan penafsiran. Terbukti bahwa para rabbi Yahudi ketika Mesias hidup banyak yang menolak pengajaran-Nya dan menjadi dalang Mesias disalibkan. Beberapa tafsiran para rabbi diulas dalam beberapa buku dan dinilai keluar dari konteks. Beberapa buku yang mengulas kekeliruan penafsiran para rabbi seperti, Richard Longenecker10, A. Berkeley Mickelsen11, Milton S. Terry12. Sekalipun kembali ke akar Ibrani mempertimbangkan berbagai pendapat para rabbi Yahudi baik yang menolak Mesias maupun menerima Mesias, sebagai rujukan pendapat, namun bukan berarti essensi akar Ibrani ditentukan oleh sikap yang mengkultuskan para rabbi.

Bukan melakukan secara hurufiah, tradisi-tradisi Yahudi yang diatur dalam Talmud

Sepulang dari pembuangan Babilonia, orang-orang Yahudi mulai memperbaharui hidup keagamaan mereka dibawah pimpinan Ezra dan Nehemia. Ada komitmen baru untuk mengasihi Yahweh dan memelihara Torah-Nya. Namun seiring demikian, terjadi suatu gerakan yang kuat yang cenderung bersifat legalistik formal sepeninggal Ezra dan Nehemia. Kecenderungan legalistik (memberi posisi berlebihan terhadap hukum agama daripada pemberi hukum itu sendiri, sehingga hukum agama menjadi beban dan bukan pengatur kehidupan) tersebut terekam dalam berbagai fatwa-fatwa para rabbi yang disusun dalam berbagai literatur Yahudi yang terentang dari Abad 1 Ms-4 Ms.


Berbagai tulisan itu adalah Talmud yang merupakan kompilasi dari Misnah dan Gemara. Berbagai ajaran, pendapat, diskusi, peraturan agama, ketetapan para rabbi, disusun dalam berbagai lietarur diatas. Usia Talmud nampaknya setua usia bangsa Yahudi sejak pulang dari Babilonia. Secara sederhana, Misnah merupakan kumpulan Torah sebagai bentuk berbagai penjelasan terhadap Torah tertulis yaitu TaNaKh. Komentar terhadap Misnah dinamakan Gemara. Talmud merupakan kompilasi antara Misnah dan Gemara13. Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia dan versi Yerusalem. Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal.  Misnah terdiri atas enam pokok bahasan (sedarim) yaitu Zeraim (mengenai benih tanaman), Moed (mengenai perayaan), Nashim (mengenai wanita), Nezikin (mengenai persoalan yang dilarang), Kodashim (mengenai perkara yang kudus), Toharot (mengenai ritual penyucian diri). Disetiap topik bahasan (sedarim) terdiri dari banyak sub bahasan (masekhot). Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah14. Literatur-literatur Yahudi diatas sebenarnya sangat bermanfaat untuk menjadi petunjuk mengenai aplikasi atau pelaksanaan suatu ketetapan yang ditulis dalam TaNaKh. Dalam tradisi Islam, sejajar dengan keberadaan Hadits maupun Sunnah. Dengan mengacu pada literatur-literatur tersebut maka seseorang dapat menjaga mata rantai pengajaran dan tradisi aplikasi perintah Tuhan.

Namun demikian, dalam Talmud pun ditemui sejumlah pernyataan yang tidak bisa begitu saja dilakukan oleh bangsa non yahudi yang percaya pada Mesias. Bahkan dalam Talmud pun terekam berbagai diskusi dan kutukan yang ditujukan terhadap goyim maupun terhadap pengikut Yesus Sang Mesias. Tidak dapat disangkal bahwa Talmud terkadang tidak selaras dengan Firman Tuhan yang tertulis dalam TaNaKh. Beberapa contoh kami kutipkan. Talmud melarang pengucapan nama Yahweh sebagaimana tertulis dalam Misnah Sotah 7:6; Misnah Tamid 7:2, “…dalam tempat kudus seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis namun diluar tempat kudus, diucapkan dengan bentuk euphemisme…”15 . Larangan ini tidak sejalan dengan perintah TaNaKh agar nama-Nya di panggil (1 Taw 16:26, Kel 3:15, Mzm 99:3).

Demikian pula Talmud berisikan kutukan-kutukan terhadap pengikut Yahshua. Beberapa buku telah mengulas kenyataan tersebut al. Prof. DR. Muhammad Asy Syarqawi, TALMUD : Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan,16 I.B. Branaites, Fadh at Talmud17. Kebencian terhadap pengikut Yesus Sang Mesias pun terrefleksi dalam Shemone Esrei (delapan belas doa berkat). Pada doa kesembilan belas (yang ditambahkan kemudian), ada kata-kata kutukan yang ditujukan pada pengikut Mesias yang dijuluki “ha Minim” (Bidat)18 dan juga “Meshummed” (perusak)19. Beberapa pernyataan dalam Talmud yang memojokkan pengikut Mesias merefleksikan penolakan para rabbi Yahudi di Abad I Ms terhadap Kemesiasan Yahshua. Perilaku rabbi-rabbi Yahudi tersebut telah terekam sejak dini dalam Kitab Matius 27:11-15 mengenai fitnah-fitnah yang dihembus-hembuskan para rabbi mengenai kematian dan kebangkitan Yesus dari kematian. Fakta-fakta diatas menuntut kita untuk tidak mengkultuskan peranan Talmud sebagai sumber referensi penafsiran dan pengambilan keputusan keagamaan pengikut Mesias. Namun demikian, kita tidak dapat mengganggap remeh begitu saja nilai Talmud, karena didalamnya pun terekam banyak ulasan yang sangat kaya mengenai bagian-bagian Kitab Suci.

Bukan Yang Mampu Mengucapkan Nama Yahweh dan Yahshua/Yeshua

Beberapa kelompok mendefinisikan arti ke akar Ibrani adalah jika seseorang dapat menyebutkan dengan benar nama-nama tokoh-tokoh dalam Kitab Suci yang berbahasa Ibrani. Misalnya Petrus menjadi Kefa. Yusuf menjadi Yosep. Musa menjadi Moshe. Bahkan dapat menyebutkan nama Yahweh dan Putra-Nya, Yahshua atau Yeshua, dimaknai sebagai kembali keakar Ibrani. Sekalipun agenda diatas menjadi bagian dari kembali ke akar Ibrani, namun pemahaman mengenai kembali ke akar Ibrani tidak sesempit pemahaman diatas.

Bukan Menjadi Yahudi

Ada kecenderungan pada beberapa kelompok Kekristenan yang berkomitmen untuk kembali ke akar Ibrani, memaknainya dalam bentuk aksesoris semata-mata seperti menggunakan “Kippa”, “Tallit”, “Tefilin”, berbahasa Yahudi, mengikuti budaya Yahudi, sehingga terkesan kehilangan identitasnya sebagai sebuah bangsa yang berbeda dengan Yahudi. Meskipun penggunaan Kippa, Tallit, Tefilin, bahasa Ibrani menjadi bagian dari kembali ke akar Ibrani, namun kembali ke akar Ibrani bukan hanya sekadar mengadopsi bentuk-bentuk eksternal Yudaisme melainkan lebih jauh dari itu.

SECARA POSITIP

Mengakui bahwa bangsa non Yahudi 
merupakan Tunas Liar yang di tempelkan pada Zaitun asli

Sebelum kita melakukan eksegese terhadap Roma 11:16-14, kita cermati terlebih dahulu kata “cangkok” dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia. Kata “cangkok” dalam Roma 11:16-24, ada enam kali. Namun istilah “cangkok” adalah tidak tepat sama sekali. Kata yang diterjemahkan “cangkok” dalam bahasa Yunaninya “Egkentrizo”. Menurut Eanchend Strong Lexicon , kata “Egkentrizo” bermakna, “to cut into, for the sake of inserting scion” (memotong demi menghasilkan keturunan) dan “to innoculate”, “ingraft”, “graft in” (menyuntikan, menempelkan)20.

Dalam terminologi pertanian, ada istilah “Cangkok”, yaitu pemisahan cabang dari batangnya, setelah dibuatnya berakar. Tidak ada organisme baru ditambahkan maupun organisme baru dihasilkan. Lalu, “Okulasi”, pertumbuhan batang sangat dipengaruhi si penempel dan hasilnya terserah dari si penempel. Dari hasil okulasi atau tempel, dapat dihasilkan organisme baru yang lebih baik dari aslinya. Sementara, “Stek” adalah potongan batang dari tumbuhan lain yang dapat tumbuh sendiri. Jika mengikuti definisi diatas, maka kata egkentrizo lebih tepat diterjemahkan “ditempelkan”. The New International Version menggunakan kata “grafted”21. Sementara The New Century Version menggunakan kata “joined”22. Rasul 

Paul menjelaskan hubungan akar dan cabang, sbb :
  • Roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan adalah kudus
  • Akar kudus maka cabang adalah kudus
  • Beberapa cabang telah dipatahkan. Tunas liar ditempelkan dan mendapat bagian dalam akar pohon zaitun
  • Jangan kamu bernegah, karena akar yang menopang kamu (shelo atta noshe et ha shoresh ella ha shoresh noshe otka, HNT)
  • Bangsa non Yahudi ditempelkan semata-mata karena ketidak percayaan Israel. Sementara Bangsa Non Yahudi dapat tegak karena iman
  • Jika cabang asli tidak membuang cabangnya, maka Tuhan juga tidak akan mengambil Bangsa Non Yahudi
  • Perhatikanlah kemurahan Tuhan dan kekerasannya
  • Tuhan akan menempelkan kembali jika Israel bertobat
  • Penempelan kembali Bangsa Israel adalah dikarenakan mereka cabang yang asli

Dari uraian diatas, kita mendapatkan pemahaman bahwa bangsa-bangsa non Yahudi tidak layak memegahkan diri dan mengganggap rendah bangsa Yahudi serta meninggalkan akar iman yang bersumber dari keyahudian. Yesus Sang Mesias secara manusiawi merupakan keturunan suku Yahuda (Ibr 7:14). Pelayanan Mesias pertama-tama ditujukan untuk domba-domba Israel yang hilang (Mat 15:24), Mesias membaca Torah dan mengajar di Sinagog pada hari Sabat (Luk 4:16), Mesias merayakan tujuh hari raya Israel (Yoh 7:1-2). Yesus dan para rasul tidak membawa agama baru yang disebut Kristen. Dia Mesias yang datang sebagaimana dituliskan dalam TaNaKh. Dia datang dan mengajar dengan bingkai Yudaisme. Tidak heran jika para murid pun sepeninggal Yesus tetap beribadah Sabat di Sinagog (Kis 13:13-14, 42,44). Berdoa tiga kali sehari (shakharit, minha, maariv ) diwaktu-waktu tertentu (Kis 3:1, Kis 10:3,9), tetap memelihara Torah dalam terang kematian dan kebangkitan Mesias (Kis 21:20). Pengikut Mesias dari kalangan Yahudi, dijuluki “Sekte Netsarim”, “Pengikut Jalan itu”. Sementara pengikut Mesias di luar Yahudi dijuluki “Christianoi” (Kis 11:24).

Hubungan antara Israel dengan nenek moyang Israel yaitu Abraham, Ishak dan Yakub, digambarkan dengan istilah “roti kudus” dan “adonan”, “akar kudus” dan “cabang” atau “ranting” (Rm 11:16). Sementara Israel sebagai “ranting”, dipatahkan karena penolakkan mereka terhadap Mesias yang dijanjikan Yahweh melalui mulut para nabi. Bangsa non Yahudi “ditempelkan” kepada akar zaitun untuk menerima kehidupan dan kekayaan rohani dan menjadi bagian dari umat beriman (Rm 11:17). Konsekwensi logisnya bangsa non Yahudi tidak selayaknya bermegah terhadap bangsa Yahudi terutama pengikut Mesias yang berasal dari Yahudi (Rm 11:18). Sebagaimana telah dijelaskan bahwa abad ke-2 Ms menjadi saksi momentum perubahan terhadap Gereja yang berakar pada Yudaisme. Gereja mulai tercabut dari akarnya setelah bangsa non Yahudi diluar Yerusalem menerima Mesias. Mulailah muncul sikap-sikap kebencian dikalangan Gereja di Roma terhadap kalangan Yahudi. Maka berbagai bentuk-bentuk ibadah berbingkai Yudaisme mengalami perubahan. Mulailah muncul perayaan “Christmas” dan “Easter”, sebagai pengganti “Tujuh Hari Raya Israel”. “Ibadah Hari Minggu”  sebagai pengganti “Sabat”. Demikian pula dengan “Ekaristi” sebagai pengganti “Seder Pesakh”, dll. Kesemua bentuk ini kelak disebut dengan “Anti Semitisme” dan “Replacement Theology” (Teologi Pengganti). Kesemua wujud perubahan ini mencerminkan sikap goyim yang BERMEGAH/MENYOMBONGKAN diri dan berusaha menggantikan posisi Israel secara lahiriah.

Mengapa Goyim tidak sepantasnya bermegah terhadap Israel jasmani? Pertama, akar itulah yang menopang ranting dan bukan sebaliknya (Rm 11:18). Dalam terjemahan The Orthodox Jewish Brit Chadsha, dituliskan: “But if some of the ana'fim have been broken off, and you, a wild olive, have been grafted among them and have become sharer in the richness of the olive tree's root, do not boast (4:2) over the ana'fim. If you do boast, it is not the case that you sustain the shoresh, but the shoresh sustains you23.

Kata “sustain” bukan sekedar menopang namun secara terus menerus menyediakan atau memberikan kekuatan dan kehidupan. Sikap yang Anti Semit maupun menganut pemahaman Replacement Teology merupakan wujud bermegah atau menyombongkan diri terhadap akar. Bahkan secara tidak langsung merendahkan kedudukan Mesias yang Yahudi adanya.

Hans Ucko menjelaskan dalam tulisannya: “Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya ‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut mencerminkan sebentuk rasa sulit bagi orang Kristen atas hubungannya yang terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini. Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu”24.

Demikian pula Nelly Van Doorn-Harder, MA., menjelaskan, “…proses melupakan warisan keyahudian ini berawal dari pengajaran mengenai amanat Kristen diluar tanah asalnya sendiri, tanah Palestina, yakni ketika pesan Kristen ini dikontekstualisasikan dengan cara menyerap budaya-budaya dan ide-ide lokal seperti ide-ide filsafat Yunani…Dalam kenyataan, yang terjadi adalah para reformator bahkan membawa gereja keluar jauh dari warisan aslinya karena mereka dipengaruhi oleh suatu budaya yang berorientasikan ilmu pengetahuan sebagai hasil dari Renaisance. Sehingga keaslian sikap Kristen Yahudi yang senantiasa berdialog secara konstan dengan Tuhan yang penuh simbol dan misteri, sama sekali hilang dari kehidupan liturgi Protestan dan diganti oleh penekanan ala Protestan yakni doktrin…anti Yahudi telah memberi andil terhadap paham (ide)] bahwa Kekristenan adalah sebuah agama yang betul-betul asli dan tidak menggunakan unsur Yudaisme apapun. Melupakan akar-akar keyahudian, memberikan konsekwensi-konsekwensi serius terhadap kehidupan liturgi Kristen. Bila orang-orang Kristen tidak lagi memahami arti sepenuhnya latar belakang keyahudian dalam kehidupan liturgi mereka, kontroversi-kontroversi seperti yang ada dalam interpretasi mengenai perjamuan kudus, mulai nampak diantara orang-orang Kristen. Akibat dari kontroversi-kontroversi ini adalah munculnya perpecahan-perpecahan dan aliran-aliran dalam gereja”25.


Kedua, Israel dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka terhadap Mesias yang telah diutus Tuhan Yahweh, sementara Goyim karena percaya pada Tuhan yang telah mengutus Mesias (Rm 11:20).

Ketiga, jika cabang asli tidak dipatahkan maka Goyim belum tentu ditempelkan dan mendapat kekayaan rohani dari Israel (Rm 11:21).

Keempat, jika Goyim mengabaikan kemurahan Yahweh, akan dipatahkan juga. Jadi meskipun Goyim ditempelkan dalam Akar Zaitun dan mendapat kekayaan rohani, bukan bermakna kekal. Jika mereka memberontak, maka akan dipatahkan pula (Rm 11:22).

Kelima, Bangsa Israel akan ditempelkan kembali dengan akar zaitun (Rm 11:24), setelah bangsa-bangsa Goyim menerima Mesias, maka semua Israel akan diselamatkan (Rm 11:25-27).

Mengakui sumber keselamatan berasal dari Israel

Yesus Sang Mesias secara manusia adalah keturunan Yahuda (Ibr 7:14), dilahirkan di Betlehem (Mik 5:1), dinubuatkan kedatangan-Nya oleh nabi-nabi Israel (Ul 18:37-38, Yes 7:14). Suka atau tidak suka, keselamatan yaitu kehidupan kekal karena dipulihkannya hubungan manusia dengan Tuhan akibat kutuk dosa yang mendatangkan maut, berasal dari Yahudi. Mengapa? Karena dari suku Yahudi, telah lahir Mesias. Dia yang diurapi untuk melakukan karya penyelamatan terhadap dunia dan manusia. Berbagai upaya untuk membuat Yahshua terlihat seperti orang Eropa, seperti orang Yunani, seperti orang Negro, seperti orang Asia, dll. Sikap demikian mencerminkan suatu sikap yang secara sadar atau tidak sadar enggan mengakui Keyahudian Mesias. Ada banyak faktor dan motif dibelakang sikap-sikap demikian. Bisa karena motif politis, bisa karena motif kultural, motif religius dll. Fenomena ini dikomentari oleh Hans Ucko sbb: “Adalah menarik mengamati bagaimana orang-orang Kristen dibanyak tempat berupaya menjadikan Yesus sebagai salah seorang dari kelompok mereka, seolah Yesus hidup dalam kebudayaan dan keprihatinan yang sama dengan mereka. Yesus menjadi Yesus orang Afrika, Yesus orang Palestina, Yesus orang Amerika Latin. Hal ini memang perlu, sebab upaya tadi memperkaya kekristenan. Namun, akibatnya terkadang orang lupa siapa Yesus yang sesungguhnya. Baru akhir-akhir inilah ada upaya mengembalikan Yesus kedalam keyahudian-Nya”26.

Senada dengan penjelasan diatas, Anton Wessel memberikan keterangan: “Yesus bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi! Ucapan Jullius Wellhausen ini menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwaq orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan-betapa mungkin secara mengejutkan-betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi-Nya. Mereka lupa bahwa ‘keselamatan datang dari bangsa Yahudi’, sebagaimana terungkap dalam percakapan Yesus di sumur dengan perempuan Samaria itu (Yoh 4:22)”27.

Apapun alasannya, Yesus secara manusiawi adalah Yahudi. Juruslamat itu berasal dari suku Yahuda (Ibr 7:14)

Mengakui sumber pengajaran berasal dari Israel

Torah di turunkan Yahweh kepada Bangsa Israel sebagai petunjuk yang mengatur seluruh sistem kehidupan. Mesias Yesus mengajar dan melaksanakan Torah dengan benar (Mat 5:17-18). Mengabaikan Torah dengan beralasan bahwa Torah telah kehilangan relevansinya setelah Mesias datang, merupakan perlawanan terhadap hakikat diturunkanya Torah. Pengikut Mesias di Abad I Ms tidak melepaskan Torah namun memeliharanya dalam terang kematian dan kebangkitan Mesias (Kis 21:20). Sikap mengabaikan pengajaran dalam Torah merupakan perkembangan setelah Gereja (Qahal Mesias) berkembang di luar Yerusalem dan bergerak jauh dari episentrum kerohanian, sehingga mengalami disorientasi iman dan ibadah.