RSS Feed

EKSISTENSI DAN HISTORITAS KEBANGKITAN YESUS DARI KEMATIAN

Posted by Teguh Hindarto


Tanggapan Terhadap DR. Ioanes Rahmat

Ioanes Rakhmat dalam artikelnya berjudul Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus yang dimuat KOMPAS  pada 5 April 2007 berusaha mengekspos dan memberikan relavansi teologis terhadap penemuan yang di duga merupakan makam Yesus di Talpiot (sebelah selatan Kota Lama Yerusalem) Temuan dan komentar-komentar berkaitan dengan temuan ini semakin meramaiakan kegandrungan orang pada hal-hal yang sensasional yang yang berkaitan dengan historitas Yesus. Sebelumnya telah beredar buku-buku provokatif dan sensasional seperti “The Da Vinci Code” dan “The Gospel of Judas”.

Dari beberapa artikel yang ditulis Ioanes Rakhmat, ada tiga pemikiran dasar yang dapat disimpulkan.

Pertama, Kebangkitan Yesus dari kematian adalah metafor belaka dan bukan realita yang sebenarnya, sebagaimana di katakan, “Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi, maka kebangkian dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis PB (Perjanjian Baru, red) sendiri pasti memahami keduannya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi”[1]

Kedua, bahasa penulisan Kitab Suci adalah bahasa iman dan bukan bahasa ilmiah historis, sebagaimana tersirat dari pernyataan, “Yang ditemukan dalam Alkitab bukanlah mukjizat-mukjizat tetapi kisah-kisah tentang mukjizat…kisa-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah dengan mengajukan antara lain pertanyaan berikut: dalam konteks sosial kultural historis dan religius apa kisah itu ditulis; faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah itu; untuk kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah pararel yang dapat ditemukan dlam dunia Greko Romawi; apa tujuan penulisan kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi;….”[2]

Ketiga, dukungan positip terhadap penelitian penemuan makam Talpiot sebagaimana dia nyatakan, “Usaha membuktikan makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth sama sekali bukanlah usaha demirakulisasi, melainkan usaha bidang kajian prosopographis untuk menemukan kecocokkan sejarah antara bukti material arkeologis dan keterangan-keterangan di dalam teks-teks kuno;…jangan mereka dikecam atas nama teologi Kristen apapun ”[3]

Pemikiran bahwa kebangkitan Yesus dari kematian adalah metafor, sebenarnya bukan konsekwensi logis dari hasil temuan makam Talpiot, yang apabila di kemudian hari ternyata terbukti benar sebagai makam keluarga Yesus, sebagaimana dugaan Ioanes Rakhmat. Jauh sebelumnya, cara berpikir yang menyatakan bahwa kebangkitan adalah metafor belaka, merupakan kerangka berpikir sarjana Liberal yang tidak memberi ruang bagi aspek metefisik dalam melakukan pendekatan terhadap teks-teks Kitab Suci. Jauh-jauh hari,penggagas “Teori Demythologisasi”, yaitu Rudolph Bultman pernah menyatakan pemikirannya mengenai hakikat kebangkitan sbb, “Namun bagaimana dengan kebangkitan Mesias? Bukankah ini sepenuhnya mitos? Dalam beberapa kasus, kebangkitan bukanlah peristiwa historis yang harus dimengerti secara demikian. Dapatkah berbicara mengenai kebangkitan Mesias dengan sesuatu yang selain hanya merupakan ekspresi rangkaian dari peristiwa salib?

Dapatkah mengatakan sesuatu selain Yesus mati dikayu salib, bukan sebagai kematian manusia belaka namun sebagai penghakiman Tuhan yang membebaskan dunia, penghakiman sebagaimana perampok yang kehilangan kekuatannya? Tidakkah lebih tepat kebenaran ini diekspresikan dengan pernyataan bahwa seseorang yang disalibkan tidak mati melainkan telah bangkit? Kenyataannya, salib dan kebangkitan adalah satu kesatuan seperti peristiwa kosmis, sebagaimana digambarkan oleh Rasul Paul, “Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm 4:25)… Salib dan kebangkitan adalah suatu kesatuan dalam mana secara bersamaan mereka adalah satu peristiwa kosmis melalui mana dunia dihakimi dan kemungkinan kehidupan yang sejati diciptakan. Namun demikian kebangkitan tidak dapat dipandang sebagai muzizat yang sebenarnya yang mana seseorang merasa aman sehingga meyakinkan orang yang meragukan bahwa salib sesungguhnya adalah memiliki peristiwa kosmis eskatologis…Tentu saja tidak ditolak bahwa kebangkitan Yesus terkadang dipandang oleh Perjanjian Baru sebagai muzizat yang sebenarnya…namun tidak diragukan bahwa perumusan kemudian dari Paul tetap  tidak dapat diketahui…Para saksi yang dianggap menjadi saksi bagi Injil Pau, bukanlah fakta mengenai kebangkitan “[4]

Dari kutipan di atas, sangat tidak dapat disangkal bahwa proses berpikir Ioanes Rakhmat berangkat dari pendekatan liberal yang menampik aspek metafisik sebagai bagian dari sejarah penulisan dalam Kitab Suci.

Persoalannya adalah, sejauh manakah validitas pernyataan Ioanes Rakhmat yang mengusung teolog-teolog liberal terdahulu yang menyatakan bahwa kebangkitan adalah metafora? Untuk menjawab hal ini, tentu saja sangat bergantung pada metodologi kita dalam menafsirkan teks-teks dalam Kitab Suci. Rasul Paul mengatakan dalam 1 Korintus 15: 3-8 sbb, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Mesias telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefa dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya”.

Dari kutipan ayat di atas kita mendapati empat kata penting, dalam teks Greek, yaitu apethanen (telah mati), etaphe (telah dikuburkan), egegertai (telah bangkit) dan kata oupthe (menampakkan diri) sebanyak dua kali. Jika kata apethanen (telah mati), etaphe  (telah dikuburkan) serta oupthe (menampakkan diri) bersifat riil, lalu apa alasannya mengatakan bahwa kataegegertai [telah bangkit] harus dimaknai sebagai metafor?

Penolakkan fakta bahwa kebangkitan dari kematian adalah realitas historis, lebih didorong oleh sisa-sisa pemikiran teolog liberal Abad XIX yang menolak bahwa fenomena metafisik sebagai hal empirik. Meminjam istilah Deshi Ramadhani, demirakulisasi ”[5]

Yang menarik pada kasus Lazarus yang mati kemudian dibangkitkan dari kematian oleh  Yesus, justru Yesus menggunakan bahasa metafor yang kemudian diberi penjelasan oleh penulis Injil Yohanes. Hal ini nampak dari pernyataan dalam Yohanes 11:11 dan 13 sbb, “Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya….Tetapi  maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Namun ketika Dia membangkitkan Lazarus dari kematian, Dia benar-benar membangkitkan Lazarus dari kematian”

Tidak ada komentar dari penulis Kitab Yohanes bahwa kebangkitan yang dialami Lazarus adalah metafor. Dengan penjelasan di atas, kita mendapati kenyataan bahwa penulis Kitab  Injil dapat membedakan mana ungkapan yang metafor dan mana yang literal.

BENARKAH RASUL PAUL PENDUSTA DAN MEMBATALKAN TORAH?

Posted by Teguh Hindarto


INTRODUKSI

Rasul Paul adalah tokoh rasul yang kontroversial dan hampir sebagian besar surat-suratnya menjadi fundasi bagi ajaran Gereja Kristen paska kebangkitan Yesus dari kewafatan. DR. C. Groenen OFM mengatakan, “Dari semua tokoh yang tampil dalam Perjanjian Baru dan berperan pada umat Kristen semula Pauluslah yang terbaik kita kenal (menurut ukuran ilmu sejarah). Tokoh itu sebenarnya dikenal dengan lebih baik daripada Yesus sendiri. Selebihnya dalam sejarah Kekristenan selanjutnya Pauluslah yang paling berpengaruh disamping Yesus, paling tidak pada Kekristenan barat sesudah reformasi. Dan baik pengetahuan kita tentang Paulus maupun pengaruhnya berasal dari surat-suratnya yang disimpan oleh umat Kristen sampai dengan hari ini”[1]. Sekalipun saya tidak sepenuhnya dapat menerima pendapat Groenen, namun dari aspek pengaruh dan peletak fundasi teologi Kristen, nampak peran besar rasul Paul melalui sejumlah surat yang disebarluaskan untuk membangun keimanan jemaat Mesias sehingga akhirnya masuk dalam daftar kanon Kitab Perjanjian Baru.

Kita akan melihat sejumlah latar belakang yang berpengaruh dalam seluruh tulisannya, khususnya latar belakang kebangsaan dan pendidikannnya.

Kebangsaan Rasul Paul

Bahwa Paul adalah seorang Yahudi, sungguh amat jelas. Dia menunjuk bahwa dirinya sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani” (Fil 3:5 dalam naskah Greek New Testament ditulis Ebraios ek Ebraioun dan dalam naskah Peshitta Aramaik ditulis, Ebraiya bar Ebraiya dan dalam Hebrew New Testament ditulis, Ivri ben Ivri. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan Ibrani asli) Sebuah frase yang telah dipahami dalam banyak cara. Beberapa orang menduga bahwa Paul menekankan garis darah asli, yang bermakna bahwa baik ibunya dan ayahnya memiliki garis keturunan yang dapat dilacak. Yang lain mengidentifikasikan Paul sebagai seseorang yang menampakkan semangat terhadap Torah.

Apakah sesungguhnya yang dimaksud oleh Paul, ketika dia menyebut dirinya sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani?” marilah kita melihat lebih dekat mengenai susunan data diri singkat Paul dalam Filipi 3:5, untuk melihat petunjuk yang memungkinkan membuka pemahaman tentangnya. Pertama-tama kita melihat bahwa frase “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, merupakan kata terakhir dalam daftar dari empat kata yang berkaitan sbb: “Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Yishrael, suku Benyamin, orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”

J.B. Lightfoot mencatat secara menarik, bahwa daftar tersebut merupakan susunan mendaki[2]. Dengan mengatakan, “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, pada bagian akhir, berfungsi sebagai kesimpulan yang menarik perhatian kepada susunan daftar secara keseluruhan. Komponen yang satu dengan yang lain dihubungkan kepada komponen yang terdahulu. Fakta bahwa telah disunatkan pada hari kedelapan, menunjukkan bahwa orang tuanya adalah orang yang mentaati perintah Torah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka adalah seorang yang mengikut agama Yudaisme, semenjak kaum proselit (orang non Yahudi yang mengikut agama Yudaisme) juga menyunatkan anak-anak mereka. Kemudian Paul menambahkan, “dari Bangsa Yishrael”, yang mana dia hendak menegaskan garis keturunan dari orang tua asli, bukan seorang proselit. Meskipun dari kaum Yishrael, dapat saja mereka berasal dari suku yang tidak taat, sehingga Paul menyatakan diri sebagai, “dari suku Benyamin”. Meskipun mereka yang garis keturunannya tidak tertuduh dan diterima dari suku yang ternama, namun terkadang tergoda oleh pengaruh Helenis (cat. penerjemah: faham Yunanisasi disegala bidang, baik kebudayaan, kehidupan sosial, politik dan keagamaan) di lingkungan tempat tinggal mereka, kemudian meniru baik bahasa maupun kebiasaan dari kebudayaan orang-orang Yunani Romawi. Dengan Paul menjelaskan sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, dia menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga yang mempertahankan bahasa dan kebudayaan Ibrani, salah seorang yang tidak menerima pengaruh Helenis pada saat itu[3].

Dengan demikian, patut diduga bahwa frasa “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, digunakan oleh Paul untuk mengidentifikasikan dirinya dan keluarganya sebagai seorang yang bergaya hidup Yahudi dengan taat, seseorang yang tetap mempertahankan bahasa Ibrani atau Aramaik sebagai bahasa ibu, dimana Torah memainkan peranan penting dalam iman dan kehidupan secara umum[4].

Pendidikan Rasul Paul

Di dalam Kisah Rasul 22:3 ditegaskan bahwa rasul Paul,  “dibesarkan di kota ini”, yaitu di Yerusalem dan “telah dididik di bawah kaki Gamaliel”. Kalimat ini menunjukkan ekspresi umum di Israel kuno bagi para murid “yang duduk di bawah kaki” Sang Guru, sebuah frase yang menggambarkan baik pelajaran yang diterima secara realita badani namun juga berhubungan dengan sikap hormat terhadap guru yang mengajar. Kita baca dalam misnah Avot 1:4 sbb: “Yose ben Yoezer berkata: Biarlah rumahmu menjadi rumah pertemuan bagi kaum bijaksana dan merendahkan dirinya untuk ditutupi oleh debu kakinya dan minum dalam kata-kata dengan rasa haus”

Gambaran ditutupi oleh debu kaki kaum bijaksana, menggambarkan seseorang yang duduk di lantai sementara mereka yang mengajar, duduk di kursi. Ketika Paul menunjukan bahwa dia “telah dididik di bawah kaki Gamaliel”, dia sedang mempergunakan istilah umum bagi hubungan di antara pengajar dan pelajar di dalam komunitas Yahudi pada Abad I Ms[5].

Apa yang menjadi makna sesungguhnya, ketika Paul menyatakan dirinya telah “dibesarkan di kota ini”, yaitu Yerusalem? Kata kerja yang diterjemahkan dengan “dibesarkan” (ανατεθραμμενος, anatrepomenos), dapat bermakna “pertumbuhan” baik secara fisik maupun kerohanian. Dalam Injil, kata-kata tersebut menggambarkan anak yang sedang tumbuh52 dan kata itu nampaknya masuk akal dipergunakan dalam menerangkan proses kedewasaan Paul. Demikianlah menurut perkataan Paul, bahwa dirinya tidak bertumbuh dewasa di Tarsus, meskipun kota ini adalah tempat kelahirannya. Sebaliknya, dia bertumbuh dewasa di Yerusalem, dididik oleh Gamaliel yang terkemuka.

Berapa lama kita perkirakan ketika Paul memutuskan tinggal di Yerusalem? Berdasarkan Misnah Avot 5:21, pembacaan Kitab Suci dimulai pada usia lima tahun, sementara pada usia sepuluh tahun dipersiapkan untuk mempelajari Torah Lisan (Misnah)[6].

James L. Crenshaw, dalam buku Education in Ancient Israel mengatakan bahwa pendidikan Paul sebagai anak muda dimulai dengan pelajaran alef-bet dalam bahasa Ibrani, menggunakan Torah sebagai yang utama, baik untuk huruf maupun membaca. Dia juga nampaknya telah diawali dengan Shema dan kemudian berkembang untuk memahami liturgi, yaitu doa-doa yang kemudian dikenal dengan sebutan Shemonei Esrei (Delapan Belas Berkat), bersama pula dengan berkat-berkat yang diucapkan saat makan[7]

Dia akan menghafal doa-doa ini sebagaimana bagian-bagian lain dari Torah, belajar membaca dan menuliskan huruf Ibrani dan Aramaik. Jika dia belajar di ruang kelas, maka patut diduga tidak akan lebih dari 25 siswa. Entahkah di ruangan kelas atau pada kaki pengajarnya, Sha’ul muda telah mempelajari keahlian dasar yang diperlukan untuk membaca dan mempelajari Torah dan mengikuti jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Torah Lisan. Torah Lisan, sebelum ditetapkan sebagai Misnah, termasuk dunianya para kaum bijaksana. Untuk mempelajari Torah Lisan, diperlukan seorang pembimbing, seseorang yang dipercaya sebagai Khakam “orang bijak” atau kaum bijaksana dan kita mengetahui bahwa bagi Paul, orang tersebut adalah Gamaliel.[8]

Nama Gamaliel telah dikenal dengan baik dalam sejarah kaum bijaksana Yahudi. Kakeknya bernama Hillel, adalah pemimpin Sanhendrin bersama saingannya yaitu Shammai. Hillel dan Shamai merupakan Zugot atau ‘pasangan” yang melengkapi kepemimpinan ganda yang diperlukan oleh Sanhendrin. Setelah Shammai dan Hillel, Sanhedrin hanya dipimpin oleh kaum bijaksana secara tunggal yang disebut dengan Nasi  (pemimpin). Ketika Hillel wafat, kedudukan Nasi Sanhedrin dilimpahkan epada Simeon, anaknya.

Tim Hegg dalam buku The Letter Writer mengulas beberapa pengaruh besar Gamaliel terhadap rasul Paul sbb: Pertama, Gamaliel dikenal karena sikap lunaknya terhadap beberapa hukum dalam rangka menyediakan hak-hak rakyat yang kurang beruntung. Contoh, dikarenakan zaman itu merupakan suatu keadaan yang tidak menyenagkan bagi kaum Yahudi, dan laki-laki dikarenakan kehilangan nyawanya oleh pedang orang-orang Romawi, maka jumlah para janda di kalangan Yahudi bertambah dengan cepat. Gamaliel menetapkan bahwa perceraian yang sah bagi kaum wanita yang suaminya dianggap hilang di medan perang, hanya memerlukan satu saksi saja, daripada dua saksi sebagaimana yang ditetapkan secara tradisional (Misnah Yevamot 16:7). Dengan perubahan ini, maka “birokrasi” telah dikurangi bagi kaum janda untuk menikah lagi dan menerima perlindungan dari suami barunya.

Dengan nada yang sama, Gamaliel memperbanyak jarak yang dapat di tempuh pada hari Sabat dan mengijinkan kebebasan yang luas bagi para bidan dan para pelayan publik lainnya dalam melaksanakan kewajibannya pada hari Sabat (Mishnah Shekalim 3.6). Dia juga memperkenalkan aturan-aturan lain mengenai perceraian yang bertujuan meringankan beban hukum dan melindungi kaum yang lemah dan tidak terpelajar(Berakhot Ketubot 10b). Salah satu contoh, dia menetapkan persetujuannya terhadap seorang wanita yang mengakui keperawanannya meskipun suaminya mempertanyakan pernyataan istrinya. Di atas semuanya, ketetapan Sanhedrinnya ditandai dengan keringanan secara umum dari beban halakhah untuk melindungi kebutuhan nyata komunitasnya.

Kedua, Talmud menyimpan tiga “surat rasuli” yang dikirim Gamaliel kepada “saudara kita di Galilea Atas dan di Galilea Bawah”, dan “saudara kita di Selatan Atas dan di Selatan Bawah” dan “saudara kita di pembuangan Babilon, di pembuangan Media dan di tempat pembuangan Bangsa Israel lainnya”. “Surat-surat  rasuli” tersebut ditujukan kepada Yohanan, yang duduk di kalangan kaum Bijaksana, yang berlokasi di Bukit Bait Suci (Berakhot Sanhedrin 11b; Tosefta, San 2:6;y. Sanhedrin 1:2, 18 d) dan terdiri dari peringatan-peringatan mengenai waktu untuk mengumpulkan persepuluhan dan informasi mengenai lompatan tahun. Metode surat-surat  di atas menjelaskan mengapa Paul mengadopsi “surat-surat rasuli”  tersebut, sebagai rasul Yesus.

Ketiga, dalam Kitab Para rasul, kita mendapatkan gambaran mengenai Gamaliel sebagai seorang yang toleran terhadap para pengikut Yesus. Ketika Lukas melaporkan bagi kita mengenai keputusan Sanhedrin mengenai pelarangan pewartaan kepada publik mengenai Kemesiasan Yesus, dia juga terlibat dalam peristiwa di mana Petrus dan rasul-rasul ditangkap dan dibawa ke hadapan sidang. Ketika kelompok tersebut hendak dibinasakan, Gamaliel melarang dengan mengatakan: “Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Tuhan kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Tuhan." Dan nasihat tersebut diikuti semua orang (Kis Ras 5:38-39).

Keempat, sebuah catatan penting mengenai siswa-siswa Rabban Gamaliel, tercatat dalam Talmud. Setelah mendiskusikan mengenai alasan mengapa seorang ayah melarang anaknya untuk megajarkan bahasa Yunani, pertanyaan yang berkaitan disampaikan sbb: “Apakah filsafat Yunani di larang? Sesungguhnya Rabi Yahudah menyatakan bahwa Samuel berkata atas nama Rabban Simeon ben Gamaliel, mengenai makna yang dituliskan ini: Apakah mataku merusak jiwaku apakah disebabkan oleh karena anak-anak perempuan di kotaku? Ada ribuan murid-murid di rumah ayahku; lima ratus orang belajar Torah dan lima ratus orang belajar kebijaksanaan Yunani dan di sini masih tersisa hanya aku dan anak dari saudara ayahku di Asia! Itu berbeda dengan rumah tangga Rabban Gamaliel dikarenakan mereka berhubungan dengan dengan pemerintahan” (Berakhot Sotah 49b)

Jika frasa “rumah tangga Rabban Gamaliel” menunjuk kepada rumah tangga Gamaliel, yang lebih tua yaitu guru dari rasul Paul, maka kita memperoleh petunjuk mengenai Paul yang nampak begitu menguasai filsafat Yunani. Meskipun ada pernyataan argumen yang mengecilkan pelajaran Yunani dan filsafat Yunani, namun patut diketahui bahwa mereka yang bekerja pada pemerintahan Romawi diperlukan kelancaran dalam bahasa Yunani dan diperlukan untuk memahami untuk mengerti pandangan dunia kebudayaan Yunani. Paul terindikasi sebagai orang yang terdidil dalam tulisan-tulisan Filsafat Yunani.

Sebagai contoh, dalam Kisah Rasul 17, ketika Paul terlibat pembicaraan dengan para ahli filsafat di Arepagus, ini adalah bukti bahwa dia sangat menyadari filsafat Stoa dan Epikuros bahkan dia juga mengutip ahli filsafat lokal bernama Aratus (Kisa 17:28). Dalam suratnya kepad Titus (1:12) dia mengutip ahli Filsafat Kreta bernama Epimenides dan sekali lagi dalam 1 Korintus 15:33, dia mengutip filsuf Meander seorang penulis Athena mengenai filsafat dan etik.

Banyak orang menduga bahwa Paul mengembangkan pengetahuan filsafat dan kebudayaan Yunani, disebabkan dia telah mempelajarinya di kota Tarsus yang terkenal sebagai universitas yang baik dalam hal itu.  Tarsus juga termasuk pusat kehidupan intelektual selama Abad 1 Ms. Menurut seorang ahli geographi bernama Strabo: “…orang Tarsus pada Abad 1 Ms adalah siswa-siswa yang tekun dalam hal filsafat, seni yang bebas dan keseluruhan ensiklopedia mengenai pelajaran; sungguh tepat bahwa derajatnya melampaui baik Athena dan Alexandria sebagai pusat kebudayaan dan belajar…”[9]

Tim Hegg melanjutkan penjelasannya, “Jika laporan mengenai Rabban gamaliel yang mengajar siswa-siswanya pelajaran bahasa dan filsafat Yunani dapat dipercayai, maka ada kemungkinan bahwa Paul telah belajar tulisan-tulisan Yunani di bawah pengawasan pembimbingnya! Bahwa Gamaliel adalah seorang Nasi (pemimpin) Sanhedrin, sesungguhnya menempatkan dia dalam kondisi kerja dengan pemerintahan Romawi dan itu memerlukan bagi dia dan siswa-siswanya, memiliki pengetahuan dan bahasa Yunani.[10]. Sejauh mana akurasi data bahwa rasul Paul sangat paham dan mempelajari filsafat Yunani, masih menjadi perdebatan. Kiranya data yang disampaikan Tim Hegg di atas dapat memberikan sedikit alternatif jawaban dan gambaran walaupun belum seutuhnya.

Melihat status pendidikan rasul Paul di atas, maka kita bisa mengukur bahwa rasul Paul sangat terdidik dalam penguasaan bahasa Ibrani/Aramaik dan Torah serta berbagai keilmuan lainnya. Tidak mengherankan bahwa beliau cukup produktif membuat dan mengirimkan berbagai surat penggembalaan kepada jemaat-jemaat yang dia dirikan.

Surat-suratnya dalam dan terkadang tidak mudah dimengerti. Rasul Petrus memberikan peringatan sbb: "...seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain" (2 Petrus 3:15-16).

Oleh karena itu kita akan mengupas secara singkat dua persoalan yang kerap dituduhkan kepada rasul Paul yaitu sebagai “pendusta” dan “perombak Torah”. Benarkah kedua tuduhan tersebut? Kita akan mengkajinya satu persatu.


BENARKAH RASUL PAUL PENDUSTA?

Kajian  Terhadap 2 Korintus 12:16 dan Filipi 1:18 serta Roma 3:7


Mengenai 2 Korintus 12:16

Kita harus baca secara utuh dari ayat 14 sbb: “Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya. Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi? Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi--kamu katakan--dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya”

APAKAH HA BRIT HA KHADASHA KITAB PERJANJIAN BARU ASLI?

Posted by Teguh Hindarto



SEBUAH KRITIK UNTUK SACRED NAME MOVEMENT DI INDONESIA


Ada satu kesalahan serius yang dilakukan oleh beberapa kelompok Sacred Name Movement (Gerakan Pemulihan Nama Suci) di Indonesia yang tengah mengusung visi untuk memulihkan nama YHWH dan Mesias Yahshua/Yeshua, yaitu memperlakukan Kitab Ha Berit ha Khadasha sebagai Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang asli. Klaim tersebut dibuat untuk membuktikan perihal tertulisnya nama YHWH dan Yeshua dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Pernyataan ini dibuat untuk menyangkal pula varian pembacaan lain terhadap nama Mesias yaitu Yahshua, Yahushua, Yehoshua.

Benarkah bahwa Ha Berit ha Chadasha adalah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang asli? Dalam kajian berikut, saya tidak akan mempersoalkan mengenai nama YHWH dan nama Yahshua atau Yeshua (sebagaimana kerap dikumandangkan oleh kelompok Sacred Name Movement) karena kajian-kajian tersebut telah saya ulas dalam beberapa judul berikut:

Mengenai Nama Dan Atribusi Tuhan[1]

Meninjau Ulang Penggunaan Nama Allah Dalam Terjemahan LAI[2]

Nama Sang Juruslamat[3]

Apakah Nama Yahshua Tidak Ada Dalam Kitab Suci?[4]

Mengapa klaim Sacred Name Movement di Indonesia yang menyatakan bahwa Ha Berit ha Chadasha  adalah keliru? Karena Ha Berit ha Chadasha adalah TERJEMAHAN dari naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Semangat dalam memberitakan apa yang diyakini benar memang harus disertai pengetahuan yang memadai baik dari segi ilmu sejarah naskah Kitab Suci, sejarah penerjemahan Kitab Suci dan ilmu-ilmu pendukung lainnya. Jika tidak, maka setiap pernyataan yang dikeluarkan hanya akan menjadi bahan tertawaan bagi kaum cerdik pandai. Kebenaran itu harus dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya menyampaikan kebanaran harus dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai aspek yang mendukung.

Berbicara mengenai Kitab Perjanjian Baru, perlu diketahui bahwa kita tidak memiliki naskah asli Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Secara MATERIAL Kekristenan memiliki Kitab Peshitta Aramaik dan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Kita hanya memiliki bukti FORMAL bahwa pada mulanya hanya ada satu Injil yang ditulis oleh Matius dalam bahasa Aram yang berisikan perkataan atau ajaran Yesus sebagaimana disaksikan oleh Papias (150-170 SM) yang menyatakan bahwa “Matius telah menyusun kata-kata ini dalam bahasa Ibrani dan yang lainnya menerjemahkan semampunya” (Eusebeius,Ecclesiatical Historiae 3:39). Namun kita sudah tidak dapat menemukan Injil dalam bahasa Ibrani tersebut.

Frasa, “yang lainnya menerjemahkan semampunya” menimbulkan beberapa kemungkinan pendapat, Pertama,  Injil Matius kemudian dikembangkan oleh para murid yangmemiliki kemampuan berbahasa Yunani sehingga menimbulkan empat Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dalam bahasa Yunani. Kemudian Injil berbahasa Yunani tersebut diterjemahkan dalam bahasa Aramaik yang disebut Peshitta. Kedua, Injil Matius kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Aramaik oleh para murid yang berbahasa Aram dan menghasilkan Peshitta dan kemudian Peshitta diterjemahkan dalam bahasa Yunani.

Sampai saat ini ada tiga kelompok pemahaman mengenai bahasa penulisan Kitab Injil dan Perjanjian Baru. Kelompok pertama menyatakan bahwa Injil dan Kitab Perjanjian Baru ditulis aslinya dalam bahasa Yunani dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Aramaik yang disebut dengan Peshitta. Kelompok ini dinamakan Greek Primacist..  Kelompok Kedua menyatakan bahwa Injil dan Kitab Perjanjian Baru ditulis semula dalam bahasa Aramaik lalu diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Kelompok ini dinamakan Aramaic Primacits[5]. Kelompok ketiga meyakini bahwa naskah Matius berbahasa Ibrani yang diinformasikan Papias menjadi dasar bagi penerjemahan berbagai naskah Injil dalam bahasa Yunani[6]. Masing-masing pendirian dalam kedua kelompok tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Terlepas mana teori yang benar kita tidak akan memperdebatkannya dalam kajian ini karena dalam artikel yang saya tulis dengan judul Sumber-Sumber Semitik Kitab Perjanjian Baru[7] telah dibahasa panjang lebar kekuatan dan kekurangan masing-masing teori tersebut dan dimana saya mengambil sikap atas perbedaan pendapat tersebut.

Kita memiliki sejumlah edisi terjemahan Kitab Suci baik TaNaKh (bahasa Ibrani) dan Kitab Perjanjian Baru (bahasa Yunani) dalam bahasa Inggris mulai dari terjemahan Wyclife Bible (1380), King James Version (1611) sampai terjemahan modernEnglish Revised Version (2006). Bagan berikut akan menolong kita melihat berbagai versi terjemahan berbahasa Inggris yang mendasarkan pada naskah Masoretik untuk TaNaKh dan naskah Textus Receptus untuk Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Bagan berikut akan mempermudah kita menjelajahi proses terjemahan tersebut.



Gambar 1: [8]



Gambar 2[9]



Gambar 3[10]

Setelah adanya terjemahan berbahasa Inggris dengan berbagai versi di atas, maka diperlukan sebuah usaha untuk menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru untuk komunitas Yahudi agar mereka menerima Yesus sebagai Mesias. Upaya-upaya tersebut muncul dari kalangan sarjana-sarjana Kristen yang ahli di bidang bahasa-bahasa Semitik.

Berikut saya kutipkan berbagai versi terjemahan Ibrani yang merujuk dari naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani al.,

  1. 1537, Gospel of Matthew, Sebastian Münster, Basel – (didasarkan pada salah satu terjemahan Rabinik Injil Matius)
  2. 1551, 1550 Gospel of Matthew, J. Quinquarboreus (Jean Cinqarbres) and 1550 Jean Mercier (Hebraist), Paris - confused with Sebastian Münster's adaption of a Rabbinical text of Matthew, but prepared from another of the Rabbinical translations of Matthew, purchased in Italy by bishop Jean du Tillet.
  3. 1553, Psalms and first 2 chapters of Matthew, Anton Margaritha, Leipzig - a Jewish convert.
  4. 1557, Epistle to the Hebrews, Sebastian Münster, Basel
  5. 1560s? unpublished manuscript of the New Testament. Erasmus Oswald Schreckenfuchs (1511-1579) Professor of Mathematics, Rhetorics, and Hebrew, first at Tubingen, afterwards at Freiburg in Breisgau.
  6. 1569, Tremellius publishes an edition of the Syriac Peshitta in Hebrew letters.
  7. 1574, Gospel of Luke, Fredericus Petrus, Lutheran pastor of the church of Brunswick.
  8. 1575, Gospel of Mark, Walther Herbst, Wittemberg
  9. 1576, The Anniversary Gospels in four languages, Johannes Claius (Johann Klaj), Leipzig
  10. 1586, The Anniversary Epistles in four languages, ed. Conrad Neander, Leipzig
  11. 1598, Epistles to the Galatians and the Ephesians, György Thúri (Georgius Thurius), Wittenberg
  12. 1599, New Testament in 12 languages, Elias Hutter, Nuremburg
  13. 1661, New Testament, William Robertson, London. Revised version of Hutter 1599
  14. 1668, Latin-Hebrew Gospels, Jona, Giovanni Battista (1588–1668), (originally Jehuda Jona ben-Isaac), Rome
  15. 1734, Epistle to the Hebrews, Friedrich Albert Christian, Halle
  16. 1735, Gospel of Luke, Heinrich Frommann, Halle
  17. 1766, Epistle to the Hebrews, György Kalmár, Amsterdam
  18. 1796, New Testament, Dominik von Brentano, Vienna and Prague
  19. 1798-1805, NT, Richard Caddick, London. Revised version of Hutter 1599 and Robertson 1661
  20. 1805, The Four Gospels, Thomas Yeates, London  Apparently a revision of Jona, Giovanni Battista 1668
  21. 1813-1817, New Testament, Thomas Fry and W. B. Collyer, London
  22. 1831, New Testament, Novum Testamentum, Hebraice ed. William Greenfield, London
  23. 1838, New Testament, Alexander M'Caul (1799–1863), Johann Christian Reichardt (1803–1873), Stanislaus Hoga and Michael Solomon Alexander for the London Society for Promoting Christianity Amongst the Jews.
  24. 1846, New Testament, Johann Christian Reichardt (1803–1873), London
  25. 1851-1867, Luke, Acts, Romans and Hebrews, Johann Heinrich Raphael Biesenthal (1800–1886), Berlin
  26. 1863, New Testament, Hermann Heinfetter, London
  27. 1865, New Testament, Ezekiel Margoliouth, London Jews' Society, London. This is the only complete cantillated translation of the New Testament.
  28. 1866, New Testament, J. C. Reichardt and J. H. R. Biesenthal, London
  29. 1869, Gospel of Matthew, Elias Soloweyczyk
  30. 1875, Gospel of Matthew, William Henry Guillemard, Cambridge
  31. 1877-1889, New Testament, Franz Delitzsch (1813-1890), Leipzig. The first edition was published in 1877, the 10th edition - which was the last one revised by Delitzsch himself - in 1889. The first edition was based on the Codex Sinaiticus. However, at the behest of the British and Foreign Bible Society, subsequent editions followed the Textus Receptus, a more traditional and less critical edition. The translation was revised by Arnold Ehrlich (1848–1919).
  32. 1885, New Testament, Isaac Salkinsohn (c. 1820-1883)
  33. 1886, New Testament, I. Salkinson and C. D. Ginsburg, London. This edition is a profound revision of Salkinsohn 1885 by Christian David Ginsburg (1831–1914). It was first distributed by the Trinitarian Bible Society, now distributed by The Society for Distributing Hebrew Scriptures. Background information on the translation is available, and there is a revised and modernized by Eri S. Gabe (2000). The translation is issued in bilingual editions (such as Hebrew-English on facing pages) with the explicit aim of making it appealing to Jews.
  34. 1892, New Testament, Delitzsch and Gustaf Dalman. This is the 11th edition of Delitzsch, profoundly revised by Dalman, based on older manuscripts. Most later printed editions of Delitzsch are based on this one.
  35. 1948-1950, Gospels of Matthew and Mark, J.-M. Paul Bauchet, Jerusalem. These are slightly revised versions of Delitzsch.
  36. 1957, Gospel of John, Moshe I. Ben Maeir, Denver
  37. 1969, The Gospel of Mark, Robert Lisle Lindsey
  38. 1975, New Testament, J.-M. Paul Bauchet and D. Kinneret Arteaga, Rome. In modern Hebrew, without vowel points.
  39. 1977, New Testament, United Bible Societies, Jerusalem. This is a modern Hebrew translation prepared by an ecumenical team of scholars in the beginning of the seventies. The translation was first published by The Bible Society in Israel in 1977. It has been revised several times, latest in 2010. Part of this translation - primarly the four gospels and to a lesser grade the Book of Revelations - is apparently based on Delitzsch (see above), while the Acts of the Apostles and the Epistles seem to be independent translations.
  40. 1977, New Testament, Living Bible International, translator unknown. This is more a paraphrase than a literal translation in modern Hebrew, in line with other translations of The Living Bible. The four gospels and the Acts of the Apostles were published in Israel in 1977 under the title Beit ha-lahmi.[11]

Seiring dengan kebangkitan Messianic Judaism yaitu kelompok orang-orang Yahudi dan Yudaisme modern yang menerima Yesus sebagai Mesias dan beribadah dengan tata cara Yahudi dan mereka tidak mau disebut Kristen, maka dihasilkanlah berbagai versi terjemahan berbahasa Inggris yang mengacu pada naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani namun dengan mengangkat idiom-idiom Semitik Yudaik. Beberapa terjemahan Kitab Suci tersebut al.,

Restoration Scriptures[12] 



The Sacred Scriptures[13] 




The Scriptures[14] 



Complete Jewish Bible & Jewish New Testament[15] 




The Hebraic Root Version Scriptures[16] 


KRISTEN-YAHUDI (JUDEO-CHRISTIANITY)

Posted by Teguh Hindarto


PEMAHAMAN TERMINOLOGIS


Apakah yang dimaksud dengan Judeo-Christianity? Berikut ini saya menerjemahkan informasi terkait dengan istilah Judeo-Christianity dalam situs wikipedia sbb:[1]

Judeo-Christian adalah istilah yang secara luas menggambarkan bagian dari konsep-konsep dan perhatian terhadap nilai-nilai yang dipertahankan dalam Yudaisme dan Kekristenan. Tradisi ini dianggap berhubungan dengan peradaban klasik Greko Romawi, sebuah rujukan dasar bagi hukum dan moralitas Barat.

Secara khusus, istilah ini menunjuk pada tradisi moral yang didasarkan pada kitab suci keagamaan yang dipakai bersama, yaitu menunjuk pada TaNaKh dalam Yudaisme dan Kitab Perjanjian Lama oleh orang-orang Kristen, termasuk khususnya Sepuluh Perintah (Ten Commandments). Hal ini menyatakan secara tidak langsung kelanjutan nilai-nilai yang diwakili oleh warisan agama-agama ini dalam Dunia Barat modern. Michael Novak telah mengidentifikasi nilai khusus dari tradisi Judeo-Christian sebagai konsep bersama terhadap kebebasan dan kesetaraan yang didasarkan pada Kitab Kejadian, dimana semua manusia dikatakan telah diciptakan setara dan juga Kitab Keluaran dimana orang-orang Israel melarikan diri dari tirani untuk memperoleh kebebasan (Novak, Michael. On Two Wings. Humble Faith and Common Sense at the American Founding. Encounter Books). Thomas Cahill telah mendiskusikan kepercayaan Yahudi ini dalam tanggungjawab moral dan perkembangan sebagai karakteristik kebudayaan Amerika yang dapat ditelusuri pada pembacaan Kitab Suci Judeo-Christian (Cahill, Thomas, The Gift of the Jews: How a Tribe of Desert Nomads Changed the Way Everyone Thinks and Feels). Istilah Judeo-Christian telah mengalami kritik oleh beberapa teolog (Cohen, Arthur. The Myth of the Judeo-Christian Tradition, and Other Dissenting Essays. Schocken Books. 1971, ISBN 0805202935. ) karena mengusulkan penggunaan komponen bersama terlalu banyak dibandingkan yang seharusnya ada.

Pengaruh evolusi Judeo-Christian pada Amerika sangat menarik perhatian para sejarawan melihat perkembangan dari republikanisme di Amerika. Akar mendalam dari nilai-nilai Judeo-Christian mereka gali kembali ke Reformasi Protestan bukan pada peperangan teologi namun perjuangan berdarah untuk memenangkan hak untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat (Mcgrath, Alister. In the Beginning: The Story of the King James Bible and How It Changed a Nation, a Language, and a Culture. Anchor Books, 2002. ISBN 0385722168 & Bobrick, Benson. Wide as the Waters : The Story of the English Bible and the Revolution It Inspired. Simon and Shuster 2001. ISBN 0684847477). (Band. Kitab Suci Wycliff, Tyndale, King James). Hal ini menuntun kepada mandat keagamaan bagi pendidikan publik, sehingga orang awam bisa membaca Kitab Suci. Menurut beberapa pengarang, perkembangan ini penting bagi kelahiran Pencerahan dan pemberontakan melawan hak ilahi para raja (Hermon, Arthur, How the Scots Invented the Modern World, Crown, 2001)

Dalam konteks Amerika, para sejarawan menggunakan istilah Judeo-Christian untuk menunjuk pada pengaruh dari Kitab Suci berbahasa Ibrani dan Kitab Perjanjian Baru pada pemikiran dan nilai-nilai Protestan, khususnya warisan kaum Puritan, Presbiterian dan Evanggelical (Injili). Para generasi pendiri Bangsa Amerika melihat diri mereka sendiri sebagai pewaris Kitab Suci berbahasa Ibrani (Perjanjian Lama, TaNaKh) dan ajaran-ajarannya mengenai kebebasan, tanggung jawab, kerja keras, etika, keadilan, kesetaraan, rasa keterpilihan dan etika misi kepada dunia, yang menjadi komponen-komponen kunci bagi karakter sejarah orang-orang Amerika yang disebut dengan “Kredo orang-orang Amerika” (Bonomi, Patricia U. Under the Cope of Heaven. Religion, Society and Politics in Colonial America. 'Part One: Religion and Society'. Oxford University Press, 1986). Gagasan ini berasal dari Kitab Suci berbahasa Ibrani, diusung ke dalam sejarah orang-orang Amerika melalui kaum Protestan, yang dipandang sebagai tiang fundasi bagi Revolusi Amerika, Deklarasi Kemerdekaan dan Konstitusi Amerika Serikat. melalui kaum Protestan. Para pengarang lain menaruh perhatian pada penelusuran berbagai kepercayaan agama para pendiri bangsa, yang menekankan pengaruh baik Yahudi dan Kristen pada kepercayaan pribadi mereka dan bagaimana hal tersebut diterjemahkn ke dalam penciptaan karakter dan institusi orang-orang Amerika (Lillback, Peter A.George Washington's Sacred Fire, Providence Forum Press,2006.ISBN 0978605268;Morrison, Jeffry H.John Witherspoon and the Founding of the American Republic).

Bagi para sejarawan, perhatian terhadap konsep Judeo-Christian bukanlah pada teologi namun pada kebudayaan nyata dan sejarah sebagaimana yang berkembang di Amerika. Para pengarang tersebut membedakan percampuran antara pemikiran Yahudi ke dalam ajaran-ajaran Protestan – yang ditambahkan pada warisan sejarah Inggris dan hukum sipil, sebagaimana pemikiran Pencerahan – yang muncul pada saat kelahiran demokrasi orang-orang Amerika.

Penggunaan mula-mula dari istilah Judeo–Christian dan Judeo–Christianity dalam makna yang berbeda dibandingkan hari ini, dikutip oleh Oxford English Dictionary pada tahun 1899 dan 1910 secara berturut-turut, keseluruhannya membicarakan teori-teori munculnya Kekristenan, sehingga istilah Judeo–Christian bermakna orang-orang Kristen mula-mula yang masih menjadi bagian dari Yudaisme (Judæo-, Judeo- in the Oxford English Dictionary, Second Edition)

Arti kata ini muncul pertama kali pada Tgl 27 Juli 1939 pada rangkaian kalimat, "The Judaeo-Christian scheme of morals" (perencanaan morak kaum Judaeo Christian) dalam New English Weekly (Peter Novick: Holocaust in American Life). Istilah tersebut berkembang lebih besar dari peredaran uang khususnya dalam bidang politik dari tahun 1920 dan 1930-an, yang dipromosikan oleh kelompok-kelompok liberal yang mengembangkan ke dalam Konferensi Kristen dan Yahudi di Amerika Serikat, untuk melawan Antisemitsme dengan menampilkan gagasan yang lebih inklusif dari Amerika Serikat dibandingkan retorika kenegaraan sebelumnya yang lebih dominan seperti layaknya negara Kristen Protestan (Mark Silk (1984), Notes on the Judeo–Christian Tradition in America, American Quarterly 36(1), 65-85 & Sarna, 2004, p.266). Pada tahun 1952 Pesiden terpilih, Dwight Eisenhower mengucapkan “konsep Judeo-Christian” menjadi “sikap keimanan yang mendalam” pada “kesadaran kita terhadap pemerintah…ditemukan” (Dwight D. Eisenhower, berbicara pada the Freedoms Foundation di New York. Dia berkata, "Our sense of government has no sense unless it is founded in a deeply religious faith, and I don't care what it is. With us of course it is the Judeo–Christian concept, but it must be a religion that all men are created equal." Quoted by Silk (1984).

Istilah ini menjadi sangat khusus dihubungkan dengan hak konservatif dalam berbagai politik orang-orang Amerika, yaitu mempromosikan agenda “nilai-nilai Judeo-Christian” yang disebut “peperangan budaya”, sebuah pemakaian yang menggelora pada perioede tahun 1900-an (Douglas Hartmann, Xuefeng Zhang, William Wischstadt (2005). One (Multicultural) Nation Under God? Changing Uses and Meanings of the Term "Judeo–Christian" in the American Media. Journal of Media and Religion 4(4), 207-234).

Kaum Liberal Sekular menolak penggunaan Judeo-Christian sebagai kitab undang-undang bagi hal-hal khusus dari orang-orang Kristen Amerika (Martin E. Marty (1986), A Judeo–Christian Looks at the Judeo–Christian Tradition, in The Christian Century, October 5, 1986), yang kurang memperhatikan Yahudi modern, Katholik ataupun tradisi-tradisi Kristen liberal.

Penggunaan istilah ini kembali bergeser. Menurut Hartman, jika pada tahun 2001, khususnya semenjak serangan 11 September oleh teroris, istilah ini mengalami pengurangan makna, dalam rangka mengkarakterisasi Amerika sebagai negara multikultural. Dan pergeseran makna istilah inipun didukung oleh peran media mapan. Penggunaan istilah ini sepertinya digunakan kelompok liberal dalam menghubungkan dengan diskusi-diskusi keislaman dan Muslim dan perdebatan baru mengenai pemisahan gereja dan negara (Douglas Hartmann, Xuefeng Zhang, William Wischstadt (2005). One (Multicultural) Nation Under God? Changing Uses and Meanings of the Term "Judeo–Christian" in the American Media. Journal of Media and Religion 4(4), 207-234). Istilah inipun digunakan oleh para pemikir onservatif dan para jurnalis yang memperbincangkan mengenai serangan Islam terhadap Amerika, bahaya-bahaya multikulturalisme dan kemerosotan morak ke dalam materialisme dan zaman sekular.