RSS Feed

APAKAH ORANG KRISTEN DAPAT KERASUKAN SETAN?

Posted by Teguh Hindarto


Masih banyak dijumpai pemahaman dalam lingkungan Kekristenan yang mengatakan bahwa Satan dan roh-roh jahat adalah tahayul dan isapan jempol hasil dari ketakutan manusia serta kesalahan dalam menilai gejala psikologis tertentu. Tidak sedikit rohaniawan Kristen yang tidak mempercayai keberadaan roh-roh jahat sebagai mahluk yang nyata.

Tidak mengherankan ketika terjadi berbagai kasus demonis seperti kerasukan, tenung, sihir, gendham, teluh, santet yang dialami jemaat Kristen, tidak banyak pendeta yang mengerti bagaimana cara menangani kasus tersebut sehingga membuat beberapa jemaat tersesat dan mencari pertolongan kepada paranormal dan dukun-dukun.

Shatan ada dan masih melakukan aktivitasnya sampai hari ini. Shatan adalah musuh kita. Yesus berkuasa atas Shatan. Yesus memberikan kuasa kepada murid-muridnya dan semua orang yang percaya padanya untuk mengusir Shatan.

Kajian ini hendak memberikan uraian ringkas mengenai apa dan bagaimana Shatan menurut pandangan Kitab TaNakh dan Perjanjian Baru dan bagaimana kita dapat melibatkan diri dalam pelayanan Exorcisme atau pelepasan dari kuasa Shatan dengan menerapkan beberapa prinsip Firman Tuhan.

Asal Usul Satan:

Sebelum kita mengupas asal usul Satan, kita akan mengkaji dia istilah penting dalam terjemahan LAI berkaitan dengan roh-roh jahat yaitu istilah “Iblis” dan “Jin”. Kata ini bertebaran dalam sejumlah ayat-ayat dalam Al Qur’an al.,[1]


“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir: (Qs 2;34)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim” (Qs 18;50)

Dan istilah yang sama, muncul pula dalam sejumlah ayat-ayat dalam terjemahan TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia versi Lembaga Alkitab Indonesia al.,25

“Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan." Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya." Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.” (Ayb 2:1-7)

Adapun kata “Jin” muncul dalam beberapa ayat terjemahan berikut,

“Janganlah mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi mereka turun-temurun” (Im 17:7)

“Di sana berpapasan binatang gurun dengan anjing hutan, dan jin bertemu dengan temannya; hantu malam saja ada di sana dan mendapat tempat perhentian” (Yes 34:14)
Namun jika kita mengkaji dengan seksama dalam teks Masoretik, ketiga kutipan di atas ternyata memiliki terminologi yang berbeda. Kata “iblis” dalam Ayub 2:1-7 ternyata digunakan kata “shatan”, sebagaimana saya kutipkan bunyi Ayub 2:1, “wayehi hayyom wayyabou beney ha Elohim lehityasev al YHWH wayavo gam ha Shatan betokam lehityyass al YHWH”.

Demikian pula dengan kata Jin dalam Imamat 17:7 dalam teks Masoretik ditulis dengan Sheirim sebagaimana saya kutipkan, “welo yizbekhu ‘od et zivkheyhem la she’irim asyer hem zonim akhareyhem khuqat ‘olam, tihye zot lahem ledorotam”. Adapun mengenai kata Jin dalam Yesaya 34:14, dalam teks Masoretik tertulis Lilit sebagaimana saya kutipkan, “upagshu tsiyyim et iyyim we sha’ir ‘al re’ehu yiqra ak sham hirgiyah lilit umatsa lah manoah”[2]


Persoalannya adalah, setarakah istilah Iblis untuk menerjemahkan Shatan atau Jin untuk menerjemahkan kata Lilit dan Sheirim? Marilah kita lihat penjelasan Ahmad Azhar Basyir mengenai Iblis, Setan dan Jin sbb: “Iblis adalah sebangsa Jin yang membangkang perintah-perintah atau hukum Allah. Dapat dikatakan bahwa Iblis merupakan nenek moyang syetan. Sedangkan syetan sendiri berarti pribadi Jin yang memberontak pada Allah”[3].


TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru tidak mengenal konsep “nenek moyang syetan”. TaNaKh hanya menyebut istilah Shatan yang artinya “Musuh” (Ayb 1:12-19) dan beberapa mahluk yang disebut dengan She’irim yang bermakna “malhluk berbulu lebat (Im 17:7), lalu Lilith atau “roh jahat yang ada di Edom” (Yes 34:14).

Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Shatan (Ayb 1:12-19) dengan Iblis dan She’irim (Im 17:7) dengan Jin, padahal konsep yang terkandung di dalamnya sangat jauh berbeda. Lebih baik tidak perlu diterjemahkan untuk memunculkan makna aslinya.

Baik istilah Iblis maupun Jin merupakan konsep yang diusung dari perbendaharaan Al Qur’an, yang memiliki konsep yang berbeda dengan istilah Shatan dan Sheirim. Perhatikan nats Qur’an dari QS 18:50 yang berbunyi sbb: “wa iz qulna lil-malaikatisjudi li Adama fa sajadu illa iblis, kana minal-jinni fa fasaqa an amrih rabbih,…”(dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya….).

Mungkin saja ada dugaan bahwa kata Iblis berasal dari pengaruh kata Yunani, Diabolos untuk menerjemahkan Shatan. Kalaupun teori ini benar, namun konsep yang telah melekat dalam istilah Iblis berdasarkan Qur’an, tidak memungkinkan kita menggunakan kata tersebut dalam terjemahan Kitab Suci TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru.

TaNaKh memberikan kesaksian mengenai asal usul Shatan sbb: Malaikat yang jatuh (Yesh 14:12). Teks Ibrani menyebutkan Heylel ben Shakhar yang artinya “Yang Bercahaya, Putra Fajar”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Heylel dengan “Bintang Timur”. Ini merupakan penafsiran dikarenakan dikaitkan dengan kata berikutnya yaitu “Putra Fajar”, sehingga menimbulkan penafsiran bahwa ini berkaitan dengan bintang pagi yang terbit di ufuk timur. Namun secara literal, Heylel bermakna “Yang Bercahaya”. Oleh Kitab Vulgata terjemahan Yerome, diterjemahkan Luciferous. Dari kata ini dikenal sebutan Lucifer. Namun Lucifer bukanlah nama malaikat yang jatuh sebagaimana berkembang dalam teologi Kristen tertentu, Malaikat ini memberontak pada Tuhan Yahweh. Alasan pemberontakan karena ingin menyamai Tuhan Yang Maha Tinggi (Yekhz 28:17, Yesh 14:12, Luk 10:18)

Berdasarkan pengkajian di atas, maka untuk kata Shatan tetap dipertahankan dan kata Iblis dihilangkan dalam terjemahan Kitab Suci. Sementara kata Jin di beberapa tempat dihilangkan dan kata Lilith (Yes 34:14) serta She’irim (Im 17:7) tetap dipertahankan dan dimunculkan untuk memberikan pemahaman mengenai jenis dan struktur kekuatan roh-roh jahat yang berbeda dan berlapis-lapis dalam pemahaman Semitik Yudaik.

Namun bagaimana dengan terjemahan Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2 di mana kata Shatan dan Iblis muncul bersamaan?

“Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya”

“Ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya”


Dalam naskah Yunani baik Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2, dituliskan Diabolos kai Satanas. Untuk mendapatkan pemahaman yang tepat dalam menerjemahkan atau tepatnya memindahkan (transliteration bukan translation) dalam bahasa Indonesia, perlu membandingkan dengan naskah Peshitta Perjanjian Baru, yaitu naskah dalam bahasa Aramaik yang serumpun dengan bahasa Ibrani.

Peshitta menerjemahkan dua kata tadi dengan sebutan Akelqartsa wasatana. Adapun Hebrew New Testament, yaitu terjemahan bahasa Ibrani modern untuk komunitas Yahudi yang menerima Mesias, dipergunakan kata, hasoten we hasatan.

Kita bisa menempuh tiga cara dalam menerjemahkan Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2 bahwa kata Greek “diabolos kai satanas” dapat diterjemahkan dengan: Pertama, akelqartsa dan shatan, dengan merujuk pada naskah Aramaik. Langkah ini dilakukan juga oleh Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky[4] dan DR. James Scott Trimss[5] dalam karya terjemahannya.

Kedua, sang penuduh dan shatan. Kata diabolos sendiri bermakna “penuduh. Ketiga, diabolos dan shatan, dengan merujuk pada naskah Yunani.

Apapun pilihan terjemahan yang kita lakukan, harus disertai pengkajian yang seksama dan disertakan sebagai catatan kaki, untuk menolong pembaca terjemahan mengenai alasan yang kita lakukan menerjemahkan dengan salah satu dari pola terjemahan di atas.

Nama-nama Satan

Shatan memiliki sejumlah nama dalam Kitab Suci. Keragaman nama tersebut menunjukkan aktifitas yang dikerjakannnya. Beberapa namanya al.,

•      Ular Tua (Kej 3:1, Why 12:9)
•      Bintang Timur (Yes 14:12)
•      Baazebub (Mat 12:24)
•      Penguasa Dunia(Yoh 12:31)
•      Ilah Zaman ini (2 Kor 4:4)
•      Belial (2 Kor 6:15)
•      Penggoda (1 Tes 3:5)
•      Singa Yang Mengaum (1 Ptr 5:8)
•      Pendakwa (Why  12:10)
•      Pembunuh dan Pendusta (Yoh 8:44)
•      Penguasa Udara (Ef 2:2)

Pekerjaan Satan

Shatan bukan pemalas. Sejak awal Shatan sudah bergiat dalam menjatuhkan manusia ciptaan Tuhan dengan berbagai tipu daya dan cara-cara licik. Kitab Suci memberikan kesaksian sbb:

•      Memperdaya manusia ( Kej 3:1-5, 2 Kor 11:3)
•      Mengelilingi bumi (Ayb 1:7)
•      Mengirimkan bencana (Ayb 1:12-19)
•      Mengirimkan penyakit (Ayb 2:6-7)
•      Menggoda orang beriman (Mat 4:2)
•      Mencuri Firman yang ditabur (Mat 13:19)
•      Merasuk manusia (Yoh 13:27)
•      Menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor 11:14)
•      Membuat mujizat palsu (2 Tes 2:9)
•      Menyesatkan (Why 12:9)
•      Membuat bisu dan tuli (Mrk 9:25)

Kedudukan Yesus Sang Mesias Terhadap Satan

Kitab Perjanjian Baru menegaskan kewibawaan Yesus Sang Mesias terhadap Shatan sbb:

“Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka” (Mat 4:24)

“Dia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka “(Kol 2:15)

“Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Satan, sebab Satan berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Tuhan menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Satan itu “(1 Yoh 3:8)

Sungguh malang dan tersesat jika Gereja dan Umat Kristen tidak mempercayai keberadaan Shatan dan roh-roh jahat dan hanya menganggapnya sebagai tahayul serta gejala psikologis belaka. Shatan itu nyata dan kuasa Yesus Sang Mesias sangat nyata terhadap Shatan.


Kedudukan orang Beriman Terhadap Satan

Yesus bukan hanya menunjukkan dirinya berkuasa atas Shatan namun dia juga melimpahkan kuasa yang sama kepada para muridnya dimanapun yang percaya bahwa dirinya adalah Mesias dan Anak Tuhan (Mat 16:16). Yesus bersabda mengenai otoritas yang dimiliki oleh orang beriman sbb: “Lalu Ia berkata kepada mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk 16:15-18).

Perhatikan kalimat “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya” dan bukan “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-para pendeta atau majelis atau rohaniwan”. Apa artinya? Siapapun yang beriman bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Tuhan serta memiliki hubungan pribadi dengannya maka mereka akan menerima kuasa untuk mengusir Shatan dan berbagai kuasa kegelapan.


Apakah Kerasukan Setan itu?

Ada beberapa kata untuk mengungkapkan kerasukan Shatan. Dalam bahasa Yunani en pneumati akathartooi (Mrk 5;20 dan daimonizomai (Mat 4:24). Kata Yunani En bermakna didalam. Berarti mengisyaratkan bentuk penguasaan dan pengendalian. Kerasukan bermakna kondisi dibawah pengaruh kuasa jahat sehingga kehilangan kesadaran dan pengendalian diri serta menampilkan pribadi yang bukan dirinya.

Contoh Kasus Kerasukan Setan dalam TaNaKh

“Tetapi Roh YHWH telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada YHWH” (1 Sam 16:14)

“...baiklah tuanku menitahkan hamba-hambamu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang dari pada Tuhan itu hinggap padamu, haruslah ia main kecapi, maka engkau merasa nyaman” (1 Sam 16:16)

“Tetapi roh jahat yang dari pada YHWH hinggap pada Saul, ketika ia duduk di rumahnya, dengan tombaknya di tangannya; dan Daud sedang main kecapi” (1 Sam 19:9)

Contoh Kasus Kerasukan Setan dalam Kitab Perjanjian Baru

“Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia” (Mrk 5:2)

“Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Satan. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.“ (Yoh 13:27)

“Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak” (Luk 13:11)

Apakah Orang Kristen dapat Kerasukan Setan?

Jawabannya bisa Ya dan bisa Tidak.  Tergantung Keimanan seseorang. Jika keimanan seseorang hidup dan melekat dengan Tuhan maka tidak mungkin seseorang dikuasai oleh roh jahat karena dikatakan, “Kamu berasal dari Tuhan, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)

De,mikian pula janji Tuhan dikatakan, “Sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Tuhan” (Bil 23:23)

Bagaimana Mengenali Kerasukan Setan?

Setidaknya ada beberapa ciri untuk mengenali perilaku kerasukan sbb: Perubahan Kepribadian dan Perilaku, Kekuatan yang bertambah, Disiksa dengan penyakit. Ciri-ciri tersebut dapat kita temui dalam kisah pembebasan orang gila dari Gerasa oleh Yesus sbb: “Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu” (Mrk 5:1-5)

Bagaimana Menangani Kasus Kerasukan Setan?

Beberapa langkah berikut dapat kita tempuh untuk membebaskan seseorang dari kuasa Shatan dan roh-roh jahat yaitu:

Pertama, Mengidentifikasi nama roh jahat (Luk 8:30). Ketika Yesus menanyai roh-roh yang merasuk seseorang, kita mendapati fakta bahwa roh-roh jahat merespon dan menamai diri mereka sesuai dengan karakter mereka. Ini penting kita lakukan agar kita mudah mengusir kuasa jahat melalui nama-nama yang teridentifikasi.

Kedua, Mengusir roh jahat dalam nama Yahshua Sang Mesias (Luk 4:35, 9:42, Kis 16:18). Perhatikan kata menghardik, menegor yang ditujukan pada Shatan saat kita berdoa mengusir aktifitas mereka. Artinya, berdoa mengusir Shatan dan roh-roh jahat yang merasuk berbeda dengan jenis doa makan, doa hendak tidur dan bangun tidur yang tidak membutuhkan kekuatan kata-kata yang berwibawa. Saat mengusir kuasa Shatan, kita harus menghardik dengan kuat agar kuasa Shatan pergi dan membebaskan orang yang dikuasainya.

Ketiga, Pentahiran dengan minyak urapan. Penggunaan minyak urapan diperlukan saat penyucian atau pengudusan seseorang baik saat sakit maupun berada dalam pengaruh kuasa kegelapan. Mengenai penggunaan minyak dapat kita temukan dalilnya dalam Yakobus 5:14 sbb, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuan”.

Keempat, Pengampunan dosa. Dosa bisa menjadi penghalang berkat. Dosa bisa menjadi penyebab berbagai kemungkinan mudahnya kuasa kegelapan datang dan menguasai hidup seseorang sebagaimana dikatakan dalam mazmur 107 :17-20 sbb: “Ada orang-orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut. Maka berseru-serulah mereka kepada YHWH dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur”

Kelima, Berpuasa (Mrk 9:29). Saat para murid bertanya mengenai jenis roh-roh jahat yang tidak segera pergi ketika diusir, Yesus bersabda, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa". LAI mendasarkan pada naskah Yunani edisi Critical Text yang didasarkan pada naskah yang lebih muda yang tidak mencantumkan kata penting berikutnya yaitu “berpuasa”. Sementara naskah Yunani tertua seperti Textus Receptus menuliskan Me en proseuche kai nesteia sebagaimana naskah Peshitta Aramaik menuliskan Ela batsauma wa batsaluta yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Ibrani modern Franz Delitzh dengan Im bitefila ubetsom. Kita perlu berpuasa untuk jenis roh-roh jahat tertentu.

Proses Penyembuhan/Pemulihan Setelah Kerasukan Setan

Jangan membiarkan tubuh, jiwa, roh tidak terawat
Mereka yang telah dibebaskan dari ikatan kuasa jahat harus senantiasa mengisi kehidupannya dengan pendalaman akan Firman Tuhan serta berkomitmen untuk hidup kudus. Jika tidak, maka kuasa jahat akan berlipat-lipat menguasai kembali sebagaimana dikatakan, “ "Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula” (Luk 11;24-26)

Tinggal dalam Firman Tuhan terus menerus
Agar kita terbebas sepenuhnya dari kuasa kegelapan maka kita harus memberikan diri kita mendalami kebenaran akan Tuhan dan kehendak-Nya sehingga kebenaran itu akan memerdekakan diri kita sebagaimana dikatakan, “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32).

Kiranya penjelasan singkat ini bukan hanya memberikan dasar biblikal pemahaman mengenai demonologi (perihal Shatan) dan exorcisme (pengusiran roh-roh jahat) melainkan memberikan petunjuk teknis dan praktis dalam menghadapi kasus-kasus demonologis di sekeliling kita.

BENARKAH TULISAN DI KAYU SALIB MENUNJUK NAMA YHWH?

Posted by Teguh Hindarto




KOREKSI UNTUK SACRED NAME MOVEMENT DI INDONESIA


Untuk kesekian kalinya saya harus membuat kritik ilmiah terhadap kelompok Sacred Name Movement di Indonesia. Bagi mereka yang berminat membaca kritik ilmiah saya atas sejumlah asumsi yang dibangun oleh kelompok Sacred Name Movement di Indonesia dapat mengikuti kajian-kajian berikut:

Bukan Sekedar Nama Yahweh[1]

Apakah Nama Yahshua Tidak Ada Dalam Kitab Suci?[2]

Apakah Ha Brit Ha Khadasha, Kitab Perjanjian Baru Asli?[3]

Kritik ilmiah yang saya sampaikan bertujuan untuk menyampaikan apa yang benar dan membuat kita lebih banyak belajar agar kita tidak dituduh oleh saudara-saudara Kristen lain yang belum menerima kebenaran nama YHWH dengan julukan “kurang cerdas”. Tudingan “kurang cerdas” ini menjadikan cambuk agar saya dan komunitas yang saya pimpin untuk tampil menyampaikan kebenaran secara sistematis dan logis serta ilmiah. Setelah itu hiduplah dengan perilaku yang benar seturut dengan kebenaran yang diyakini dan bukan justru berbanding terbalik. Kita tidak bisa meyakinkan orang lain atas apa yang kita yakini benar jika cara kita menyampaikan kebenaran tidak dengan cara yang benar. Hal apa yang dimaksudkan dengan “cara yang tidak benar” sudah saya ulas dalam artikel berjudul, “Bukan Sekedar Nama Yahweh”[4]

Dalam kajian kali ini saya ingin mempertanyakan asumsi yang dibangun beberapa kelompok Sacred Name Movement di Indonesia bahwa tulisan di atas kayu salib saat Yesus disalibkan menunjuk pada nama YHWH (Yahweh) dan disimpulkan bahwa Yesus adalah YHWH yang menjadi manusia. Persoalan kesalahpahaman dalam menalar keilahian Yesus (Kristologi) dari kelompok Sacred Name Movement di Indonesia telah saya ulas dalam judul “Meluruskan Kesalahpahaman Seputar Keilahian Yesus”[5]

Benarkah asumsi di atas? Kita akan mengujinya dengan membaca Yohanes 19:19 sbb, “Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.". Dengan percaya diri, seorang pengajar Sacred Name Movement menuliskan kalimat di atas dalam bahasa Ibrani, “Yeshua Hanatsri WamelekHayehudim” sehingga terbentuk susunan YHWH. Apakah cara berpikir demikian dapat dibenarkan? Saya katakan argumentasi di atas bukan saja keliru dan tidak memiliki dasar dalam Kitab Suci bahkan sangat menggelikan. Dimana letak kekeliruan tersebut?

Pertama, soal eksistensi Kitab Suci Perjanjian Baru. Kelompok Sacred Name Movement sangat yakin bahwa Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang tersedia sekarang ini yaitu Hebrew New Testament dan Ha Brit ha Khadasha karya Franz Delitzh adalah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang asli sehingga dapat dipakai sebagai rujukan paling benar dibandingkan naskah berbahasa Yunani dan Aramaik. Kesalahan berpikir mereka sudah saya ulas secara mendalam dalam kajian berjudul, “Apakah Ha Brit Ha Khadasha, Kitab Perjanjian Baru Asli”[6]. Kedua kitab yang menjadi rujukan mereka di atas sebenarnya hanyalah karya terjemahan Abad XIX dan bukan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang asli karena sampai hari ini kita tidak memiliki bukti material adanya Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani. Yang kita miliki hari ini sebagai sumber bahasa Semitik adalah Peshitta Aramaik.

Jika kelompok Sacred Name Movement  menjadikan Hebrew New Testament dan Ha Brit ha Khadasha karya Franz Delitzhsebagai rujukan utama, maka kita akan menguji apakah kedua kitab terjemahan berbahasa Ibrani tersebut mendukung asumsi mereka.

Hebrew New Testament

. יֵשׁוּעַ הַנָּצְרִי מֶלֶךְ הַיְּהוּדִים

Yeshua Hanazri Melek Hayehudim

Franz Delitzh

יֵשׁוּעַ הַנָּצְרִי מֶלֶךְ הַיְּהוּדִים

Yeshua Hanazri Melek Hayehudim

Dari perbandingan naskah terjemahan HNT dan Franz Delitzh saja asumsi bahwa nama yang tertulis dalam tiang salib membentuk huruf YHWH sudah gugur dan tidak terbukti. HNT dan Franz Delitzh  justru memunculkan formasi YHMH bukan YHWH.

Kedua, Asumsi bahwa tulisan di atas tiang salib membentuk formasi nama YHWH kembali gugur saat dihadapmukakan dengan bukti material Kitab Peshitta Aramaik yang menurut Aramaic Primacist diyakini sebagai bahasa asli dari penulisan Perjanjian Baru yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Dalam Peshitta Aramaik tertulis demikian:

Peshitta Aramaic New Testament

ܝܶܫܽܘܥ ܢܳܨܪܳܝܳܐ ܡܰܠܟ݁ܳܐ ܕ݁ܺܝܗܽܘܕ݂ܳܝܶܐ܂ 


Yeshu Nazraya Malka Dyehuda

Formasi yang terbentuk justru menghasilkan susunan huruf yang semakin menjauh dari YHWH yaitu YNMD. Dengan demikian asumsi kelompok Sacred Name Movement di atas tidak bertahan dalam ujian naskah kuno dan sudah seharusnya diralat bahkan tidak dipergunakan sebagai pembuktian.

Ketiga, Frasa “Yeshua Hanatsri Wamelek Hayehudim” adalah pemaksaan pemikiran demi mencari pembuktian dukungan terhadap kebenaran nama YHWH sehingga memperkosa kaidah kebahasaan yang benar. Jika frasa di atas diterjemahkan akan menghasilkan kalimat, “Yeshua Orang Natsaret DAN Raja Orang Yahudi”. Padahal kata sambung We (Dan) tidak ada baik dalam naskah Yunani maupun Aramaik. Dalam naskah Yunani dituliskan sbb:

Westscott and Hort Greek New Testament 

Ἰησοῦς ὁ Ναζωραῖος ὁ βασιλεὺς τῶν Ἰουδαίων

(Iesous ho Nazooraios ho Basileus toon Ioudaioon)

Dari kajian singkat di atas nampaklah pada kita bahwa pernyataan bahwa kalimat di atas palang salin membentuk susunan nama YHWH tidak memiliki landasan historis dan teologis sama sekali. Lebih kepada gothak gathuk mathuk(dicocok-cocokkan sesuai selera) dan tidak memiliki nilai keilmiahan sebagai pembuktian. Cara penyimpulan dengan cara di atas dalam Teologi disebut dengan Eisegesa yaitu pemaksaan opini terhadap teks sebagai kebalikan dari Eksegesa yaitu eksplorasi terhadap teks sehingga berbicara kepada pembaca.

Masih banyak data yang lebih berbobot yang dapat dipakai sebagai alat pembuktian mengenai relevansi nama YHWH baik dalam TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru. Mari kita jauhkan dari sikap-sikap emosional fundamentalis dalam menyajikan kebenaran dan lebih menemouh jalur rasional akademis serta teologis dalam menyampaikan kebenaran perihal nama YHWH Bapa kita Surgawi sehingga banyak orang akan mengalami pencerahan dan pencerdasan.


END NOTES:

[1] http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/bukan-sekedar-nama-yahweh.html


[2] http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-nama-yahshua-tidak-ada-dalam.html


[3] http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/03/apakah-ha-brit-ha-khadasha-kitab.html

[4] Op.Cit., http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/bukan-sekedar-nama-yahweh.html


[5] http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/meluruskan-kesalahpahaman-seputar.html

[6] Op.Cit., [6] http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/03/apakah-ha-brit-ha-khadasha-kitab.html

KITAB DIDAKE

Posted by Teguh Hindarto



SIGNIFIKASINYA TERHADAP KEKRISTENAN MASA KINI

Penemuan Naskah[1] 

Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan Monastery of the Most Holy Sepulchre di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama "ManuskripYerusalem" (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54.

Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon Penyalin dan pendosa (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalender Yunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11.


Isi Manuskrip Yerusalem[2]

Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut:
  1. Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian-­bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa.
  2. Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti.
  3. Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut.
  4. Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan.
  5. Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius).
  6. Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius).

Otentisitas Naskah[3]

Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Bukti­bukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios.

Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, "Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian," dan menisbahkan teks tersebut kepada Kitab Suci.

Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Sejarah Gereja, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, "Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul." Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, "Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala." Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua.

Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Sejarah Gereja, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan'. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache.

Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu.

St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache.

Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis.

Kepenulisan kitab tersebut masih dipertanyakan apakah ditulis oleh rasul-rasul sebagaimana klaim penulis kitab tersebut atau ditulis beberapa ratus kemudian oleh murid yang mengatasnamakan rasul-rasul, tidaklah dapat dipastikan[4]. Kapan kitab ini mulai ditulis masih simpang siur. Ada yang menempatkan pada Abad IV Ms dan ada pula yang menempatkan pada Abad I Ms[5]. Keberadaan kitab Didake memang sudah disinggung dalam tulisan para Bapa Gereja seperti Eusebeius, Athanasius, Clement[6]

Isi Kitab Didake[7]

Kitab Didake berisi 16 pasal, yaitu:
  1. Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan).
  2. Pasal 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong-­motong roti (pasal9 dan 10).
  3. Pasal 10 dan 11: hirarki gereja.
  4. Pasal 16: menunggu kedatangan Tuhan.

Kitab Kanonik dan Ekstrakanonik

Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja.

Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) Anantireta (tidak ditolak) atauHomologoumena (diakui), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) Amphiballomena(diperdebatkan), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) Psethde (keliru), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang.

Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) Homologoumena (diakui), (b) Antilegomena (diperdebatkan), yang terbagi dua kategori lagi yaitu gnorima (dikenal), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan Notha (tidak sah), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) Apocrypha (tersembunyi), yang dianggap sebagai kepalsuan.

Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu : (a) Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c)Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik[8]

Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilahkan kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).

Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.

Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus(Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.

Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms),Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikarpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).

Geisler menempatkan Didake dalam daftar Apokrifa. Namun tidak semua penulis Kristen sepakat dengan penempatan Kitab Didake dalam daftar Apokrifa Perjanjian Baru.

Dalam situs Early Christian Writing justru Kitab Didake tidak masuk dalam daftar Apokrifa. Berikut daftar Apokrifa menurutt Early Christian Writing:

  1. The Gospel of Thomas
  2. Oxyrhynchus 1224 Gospel
  3.  The Egerton Gospel
  4. The Gospel of Peter
  5.  Secret Mark
  6.  The Gospel of the Egyptians
  7. The Gospel of the Hebrews
  8.  The Apocalypse of Peter
  9.  The Secret Book of James
  10.  The Preaching of Peter
  11. The Gospel of the Ebionites
  12. The Gospel of the Nazoreans
  13. The Oxyrhynchus 840 Gospel
  14.  The Traditions of Matthias
  15. The Gospel of Mary
  16.  The Dialogue of the Savior
  17.  The Gospel of the Savior
  18.  The Epistula Apostolorum
  19. The Infancy Gospel of James
  20. The Infancy Gospel of Thomas
  21.  The Acts of Peter
  22.  The Acts of John
  23.  The Acts of Paul
  24.  The Acts of Andrew
  25.  The Acts of Peter and the Twelve
  26.  The Book of Thomas the Contender
  27.  The Acts of Thomas[9]
Gereja Orthodok memasukkan Kitab Didake dalam daftar kanonnya yang berjumlah 81 kitab[10]. Sementara Katolik, Orthodox, Protestan tidak memasukkan dalam daftar kanon namun menjadikan kitab tersebut sebagai sumber sejarah yang mengungkap kehidupan jemaat perdana.

Benarkah Kitab Didake Adalah Versi Surat Rasul-Rasul
Dalam Kisah Rasul 15:27?

Akhir-akhir ini munjul kelompok jemaat yang menamakan diri mereka dengan sejumlah nama al., Jemaat Yerusalem (Assembly of Jerusalem), Esseni Nasrani dll. Mereka mengklaim sebagai Bunda Gereja yang merupakan jemaat yang dipimpin oleh garis keturunan kerabat Yesus yang disebut Shemishqo atau Desposyni. 

Mereka mendasarkan Kitab Suci mereka pada Peshitta Aramaik dan sejumlah kitab lainnya seperti Sefer Av Kadmonim, Sefer Shakanyah, Injil Thomas dll. Mereka menyalahkan kepemimpinan Gereja Katolik dan Ortodox sebagai bentuk kemurtadan Gereja terhadap Bunda Gereja yaitu Jemaat Yerusalem. Berikut pernyataan Rabbi (Sh’masha) Hotman Lumbantoruan selalu salah satu dari orang yang ditahbiskan oleh Jemaat Yerusalem di Indonesia sbb: “Keliru besar Gereja Kristen yang mendasarkan kepemimpinan pada Shimon Keipha, saudara Keipha dan anaknya Keipha sebagai Ketua dan Wakil Tuhan seperti Roma Katolik, Gereja Ortodoks Antiokhia, Konstantinople dan Koptik. Shimon Keipha BUKAN Kohen (Imam), tetapi hanya “Uskup” yang masuk kelompok Penatalayanan (Servanthood) yang merupakan perpanjangan dari Keimamatan ( Kehunnah /Kohaneim – Priesthood)”[11]

PENYALIBAN YESUS DIMATA KAUM AHMADIYAH

Posted by Teguh Hindarto



Siapakah yang dimaksudkan dengan Ahmadiyah itu?[1] 

Ahmadiyah adalah gerakan reformis Islam yang didirikan di British India menjelang akhir abad ke-19, yang berasal dengan kehidupan dan ajaran (1835-1908), yang mengklaim sebagai nabi dan telah memenuhi nubuat sebagai pembaharu dunia akhir zaman, yang akan memberitakan mengenai akhir zaman tersebut seperti yang diperkirakan dalam tradisi agama-agama dunia dan mengadakan berbagai kemenangan akhir Islam sesuai nubuatan Islam.

Mirza Ghulam Ahmad mengklaim bahwa dia adalah mujaddid (pembaharu ilahi) Islam ke-14, Mesias yang dijanjikan dan Mahdi yang dinantikan oleh umat Islam. Para pengikut gerakan Ahmadiyah disebut sebagai Ahmadiyah atau Ahmadi Muslim. Ahmadi penekanan  pada keyakinan bahwa Islam adalah dispensasi akhir untuk kemanusiaan sebagaimana diturunkan kepada Muhammad dan perlunya memulihkan untuk itu esensi sejati dan bentuk murni, yang telah hilang selama berabad-abad. Dengan demikian, Ahmadi melihat diri mereka sebagai yang memimpin kembali dan melakukan propagasi damai Islam. Kaum Ahmadiyah telah ada di antara komunitas Muslim paling awal yang tiba di Inggris dan negara-negara Barat lainnya.

Mirza Ghulam Ahmad mendirikan gerakan ini pada tanggal 23 Maret 1889 dan menyebutnya Jama'at Muslim Ahmadiyah serta menganggap itu sebagai revitalisasi Islam. Ahmadiyah menganggap diri Muslim dan mengklaim menerapkan Islam dalam bentuk yang murni, namun, pandangan Ahmadiyah tentang keyakinan tertentu dalam Islam telah menjadi kontroversi bagi Muslim tradisional sejak lahirnya gerakan itu. Muslim tradisional tidak menganggap Ahmadiyah sebagai muslim, dengan mengutip khususnya sudut pandang Ahmadiyah tentang kematian dan kembalinya Yesus, konsep Ahmadiyah Jihad dalam format damai dan pandangan masyarakat tentang finalitas kenabian dengan khususnya mengacu pada interpretasi Quran 33:40.

Di negara-negara Islam Ahmadiyah beberapa hari ini telah terpinggirkan oleh masyarakat mayoritas beragama; mengalami penganiayaan berat. Berbagai penindasan sistematis telah menyebabkan Ahmadiyah banyak yang pindah dan menetap di tempat lain.

Perbedaan Diantara Jemaat Ahmadiyah[2] 

Para pengikut Ahmadiyah, yang disebut sebagai Ahmadi atau Muslim Ahmadi, terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ialah "Ahmadiyya Muslim Jama'at" (atau Ahmadiyah Qadian). Pengikut kelompok ini di Indonesia membentuk organisasi bernama Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang telah berbadan hukum sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953).

Kelompok kedua ialah "Ahmadiyya Anjuman Isha'at-e-Islam Lahore" (atau Ahmadiyah Lahore). Di Indonesia, pengikut kelompok ini membentuk organisasi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia, yang mendapat Badan Hukum Nomor I x tanggal 30 April 1930. Anggaran Dasar organisasi diumumkan Berita Negara tanggal 28 November 1986 Nomor 95 Lampiran Nomor 35.

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung Indonesia pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam. 

Perbedaan Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore[3]

Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:

Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor), yakni kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.

Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah Qadian sebagai berikut:

1.     Mengimani dan meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad, laki-laki kelahiran India yang mengaku menjadi nabi, adalah nabinya.
2.     Mengimani dan meyakini bahwa "Tadzkirah" yang merupakan kumpulan sajak buatan Mirza Ghulam Ahmad adalah kitab sucinya. Mereka menganggap bahwa wahyu adalah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
3.     Mengimani dan meyakini bahwa kitab "Tadzkirah" derajatnya sama dengan Alquran.
4.     Mengimani dan meyakini bahwa wahyu dan kenabian tidak terputus dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian terus berlanjut sampai hari kiamat.
5.     Mengimani dan meyakini bahwa Rabwah dan Qadian di India adalah tempat suci sebagaimana Mekah dan Madinah.
6.     Mengimani dan meyakini bahwa surga berada di Qadian dan Rabwah. Mereka menganggap bahwa keduanya sebagai tempat turunnya wahyu.
7.     Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan laki-laki di luar Ahmadiyah, namun laki-laki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita di luar Ahmadiyah.
8.     Haram hukumnya salat bermakmum dengan orang di luar Ahmadiyah.

Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam .

Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:

1.     Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama'ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.
2.     Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.
3.     Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun.
4.     Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat.
5.     Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar.
6.     Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.
7.     Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.
8.     Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.
9.     Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.
10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.

Dogma Kashrush Salib

Kaum Ahmadiyah gencar dalam melakukan serangan dan dakwaan yang membantah historitas dan makna soteriologis peristiwa salib. Berbagai kajian dipublikasikan untuk meruntuhkan doktrin dan fakta peristiwa penyaliban Yesus. Dogma mereka dinamakan “Kashrush Salib” dengan merujuk bunyi Hadits sbb: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya hampir turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, maka ia akan memecahkan salib (yaksirush-shalib) …” (H.r. Bukhari) 

Kata yaksirush-shalib menurut Mulla Ali Al-Qari (1041 H/1606 M) artinya adalah membatalkan  kepercayaan  Kristen   (Al-Mirqah, jilid V, hlm. 221). Sedang Ibnu Hajar Al-Asqalani,  Mujaddid abad VIIIH menerangkan bahwa ”yaksirush-shalib artinya mematahkan kepercayaan Kristen” (Fathul-Barri, jilid VI, hlm. 356). Kitab Biharul-Anwar menerangkan, bahwa yaksirush-shalib adalah  menolak  dengan bukti-bukti  yang nyata akan kepercayaan Kristen dan memecahkan kepercayaannya. Jadi yaksirush-shalib adalah membatalkan dan mematahkan atau menolak kepercayaan Kristen dengan bukti-bukti yang nyata atau dalil-dalil yang kuat. Kepercayaan pokok Gereja Kristen adalah ketuhanan Yesus Kristus (5:17,72; lih 1 Kor 12:3), sebagai bukti ketuhananya mati disalib lalu bangkit dari kubur, kemudian naik ke langit nanti pada akhir zaman turun ke  dunia  menjadi hakim yang adil. Jika bantahan Qur’an Suci 4:157 tentang tidak matinya Isa Almasih di tiang salib diungkapkan, simbol salib yang memenuhi bumi dipecah dan dipatahkan, sebab simbol salib  merupakan manifestasi kepercayaan Yesus mati disalib, padahal sejatinya hanya serupamati saja di tiang salib. Maka dari itu kebangkitan  pada  hari ketiga hal  yang wajar, bukan bangkit dari maut, sebab  menurut Kitab Suci orang yang telah mati tak akan  kembali  hidup di dunia, sebagaimana diajarkan oleh Ayub  (Ayub 7: 7-10), Daud (2 Sam 12:19-23) kemudian diperkuat oleh Nabi Suci Muhammad saw (21:95; 36:31)[4].

Ali Yasir, dalam bukunya, Mengungkap Misteri Penyaliban Yesus, menyatakan bahwa Isa memang disalibkan namun tidak mati melainkan nampaknya saja. Kelihatannya Isa mengalami kematian[5].