Masih banyak
dijumpai pemahaman dalam lingkungan Kekristenan yang mengatakan bahwa Satan dan
roh-roh jahat adalah tahayul dan isapan jempol hasil dari ketakutan manusia
serta kesalahan dalam menilai gejala psikologis tertentu. Tidak sedikit
rohaniawan Kristen yang tidak mempercayai keberadaan roh-roh jahat sebagai
mahluk yang nyata.
Tidak
mengherankan ketika terjadi berbagai kasus demonis seperti kerasukan, tenung,
sihir, gendham, teluh, santet yang dialami jemaat Kristen, tidak banyak pendeta
yang mengerti bagaimana cara menangani kasus tersebut sehingga membuat beberapa
jemaat tersesat dan mencari pertolongan kepada paranormal dan dukun-dukun.
Shatan ada
dan masih melakukan aktivitasnya sampai hari ini. Shatan adalah musuh kita.
Yesus berkuasa atas Shatan. Yesus memberikan kuasa kepada murid-muridnya dan
semua orang yang percaya padanya untuk mengusir Shatan.
Kajian ini
hendak memberikan uraian ringkas mengenai apa dan bagaimana Shatan menurut pandangan
Kitab TaNakh dan Perjanjian Baru dan bagaimana kita dapat melibatkan diri dalam
pelayanan Exorcisme atau pelepasan dari kuasa Shatan dengan menerapkan beberapa
prinsip Firman Tuhan.
Asal Usul
Satan:
Sebelum kita
mengupas asal usul Satan, kita akan mengkaji dia istilah penting dalam
terjemahan LAI berkaitan dengan roh-roh jahat yaitu istilah “Iblis” dan “Jin”. Kata ini bertebaran dalam sejumlah ayat-ayat dalam Al
Qur’an al.,[1]
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia
enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir: (Qs 2;34)
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah
dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu
mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku,
sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari
Allah) bagi orang-orang yang zalim” (Qs
18;50)
Dan istilah yang sama, muncul pula dalam sejumlah ayat-ayat dalam
terjemahan TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia versi Lembaga Alkitab
Indonesia al.,25
“Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap
TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. Maka
bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab
Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah
bumi." Firman TUHAN
kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab
tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang
takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya,
meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa
alasan." Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Kulit ganti kulit! Orang
akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah
tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di
hadapan-Mu." Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, ia dalam
kuasamu; hanya sayangkan nyawanya." Kemudian Iblis pergi dari
hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak
kakinya sampai ke batu kepalanya.” (Ayb 2:1-7)
Adapun kata “Jin” muncul dalam
beberapa ayat terjemahan berikut,
“Janganlah
mereka mempersembahkan lagi korban mereka kepada jin-jin, sebab menyembah jin-jin
itu adalah zinah. Itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi
mereka turun-temurun” (Im 17:7)
“Di
sana berpapasan binatang gurun dengan anjing hutan, dan jin bertemu
dengan temannya; hantu malam saja ada di sana dan mendapat tempat perhentian”
(Yes 34:14)
Namun jika kita mengkaji dengan
seksama dalam teks Masoretik, ketiga kutipan di atas ternyata memiliki
terminologi yang berbeda. Kata “iblis” dalam Ayub 2:1-7 ternyata digunakan kata
“shatan”, sebagaimana saya kutipkan bunyi Ayub 2:1, “wayehi hayyom wayyabou beney ha Elohim lehityasev al YHWH wayavo gam ha
Shatan betokam lehityyass al YHWH”.
Demikian pula dengan kata Jin dalam Imamat 17:7 dalam teks
Masoretik ditulis dengan Sheirim
sebagaimana saya kutipkan, “welo yizbekhu
‘od et zivkheyhem la she’irim asyer hem zonim akhareyhem khuqat ‘olam,
tihye zot lahem ledorotam”. Adapun mengenai kata Jin dalam Yesaya
34:14, dalam teks Masoretik tertulis Lilit
sebagaimana saya kutipkan, “upagshu
tsiyyim et iyyim we sha’ir ‘al re’ehu yiqra ak sham hirgiyah lilit
umatsa lah manoah”[2]
Persoalannya adalah, setarakah istilah Iblis untuk menerjemahkan Shatan atau Jin untuk menerjemahkan kata Lilit dan Sheirim? Marilah kita lihat penjelasan Ahmad Azhar
Basyir mengenai Iblis, Setan dan Jin sbb: “Iblis adalah sebangsa Jin yang membangkang perintah-perintah atau hukum
Allah. Dapat dikatakan bahwa Iblis merupakan nenek moyang syetan. Sedangkan
syetan sendiri berarti pribadi Jin yang memberontak pada Allah”[3].
TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru tidak mengenal konsep “nenek moyang syetan”.
TaNaKh hanya menyebut istilah Shatan yang artinya “Musuh” (Ayb 1:12-19)
dan beberapa mahluk yang disebut dengan She’irim yang bermakna “malhluk
berbulu lebat (Im 17:7), lalu Lilith atau “roh jahat yang ada di
Edom” (Yes 34:14).
Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Shatan
(Ayb 1:12-19) dengan Iblis dan She’irim (Im 17:7)
dengan Jin, padahal konsep yang terkandung di dalamnya sangat jauh
berbeda. Lebih baik tidak perlu diterjemahkan untuk memunculkan makna aslinya.
Baik istilah Iblis maupun Jin
merupakan konsep yang diusung dari perbendaharaan Al Qur’an, yang memiliki
konsep yang berbeda dengan istilah Shatan dan Sheirim. Perhatikan
nats Qur’an dari QS 18:50 yang berbunyi sbb: “wa iz qulna lil-malaikatisjudi
li Adama fa sajadu illa iblis, kana minal-jinni fa fasaqa an amrih rabbih,…”(dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia
adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya….).
Mungkin saja ada dugaan bahwa kata Iblis
berasal dari pengaruh kata Yunani,
Diabolos untuk menerjemahkan Shatan.
Kalaupun teori ini benar, namun konsep yang telah melekat dalam istilah Iblis
berdasarkan Qur’an, tidak memungkinkan kita menggunakan kata tersebut dalam
terjemahan Kitab Suci TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru.
TaNaKh memberikan kesaksian mengenai asal usul Shatan sbb: Malaikat
yang jatuh (Yesh 14:12). Teks Ibrani menyebutkan Heylel ben Shakhar yang artinya “Yang Bercahaya, Putra
Fajar”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Heylel dengan “Bintang Timur”. Ini merupakan
penafsiran dikarenakan dikaitkan dengan kata berikutnya yaitu “Putra Fajar”,
sehingga menimbulkan penafsiran bahwa ini berkaitan dengan bintang pagi yang
terbit di ufuk timur. Namun secara literal, Heylel bermakna “Yang Bercahaya”. Oleh Kitab Vulgata terjemahan
Yerome, diterjemahkan Luciferous. Dari kata ini dikenal sebutan Lucifer. Namun Lucifer bukanlah
nama malaikat yang jatuh sebagaimana berkembang dalam teologi Kristen tertentu,
Malaikat ini memberontak
pada Tuhan Yahweh. Alasan pemberontakan karena ingin menyamai Tuhan Yang Maha Tinggi (Yekhz 28:17, Yesh 14:12, Luk 10:18)
Berdasarkan pengkajian di atas, maka untuk kata Shatan
tetap dipertahankan dan kata Iblis dihilangkan dalam terjemahan
Kitab Suci. Sementara kata Jin di beberapa tempat dihilangkan dan kata Lilith
(Yes 34:14) serta She’irim (Im
17:7) tetap dipertahankan dan dimunculkan
untuk memberikan pemahaman mengenai jenis dan struktur kekuatan roh-roh jahat
yang berbeda dan berlapis-lapis dalam pemahaman Semitik Yudaik.
Namun bagaimana dengan terjemahan Wahyu 12:9 dan
Wahyu 20:2 di mana kata Shatan dan Iblis
muncul bersamaan?
“Dan naga
besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang
menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi,
bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya”
“Ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.
Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya”
Dalam naskah Yunani baik Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2, dituliskan Diabolos kai Satanas. Untuk mendapatkan pemahaman yang tepat dalam menerjemahkan atau tepatnya memindahkan (transliteration bukan translation) dalam bahasa Indonesia, perlu membandingkan dengan naskah Peshitta Perjanjian Baru, yaitu naskah dalam bahasa Aramaik yang serumpun dengan bahasa Ibrani.
Dalam naskah Yunani baik Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2, dituliskan Diabolos kai Satanas. Untuk mendapatkan pemahaman yang tepat dalam menerjemahkan atau tepatnya memindahkan (transliteration bukan translation) dalam bahasa Indonesia, perlu membandingkan dengan naskah Peshitta Perjanjian Baru, yaitu naskah dalam bahasa Aramaik yang serumpun dengan bahasa Ibrani.
Peshitta menerjemahkan dua kata tadi dengan sebutan Akelqartsa
wasatana. Adapun Hebrew New Testament,
yaitu terjemahan bahasa Ibrani modern untuk komunitas Yahudi yang menerima
Mesias, dipergunakan kata, hasoten we hasatan.
Kita bisa menempuh
tiga cara dalam menerjemahkan Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2 bahwa kata Greek
“diabolos kai satanas” dapat diterjemahkan dengan: Pertama, akelqartsa
dan shatan, dengan merujuk pada naskah Aramaik. Langkah ini
dilakukan juga oleh Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky[4] dan DR. James Scott Trimss[5] dalam karya terjemahannya.
Kedua, sang penuduh dan shatan. Kata diabolos
sendiri bermakna “penuduh. Ketiga, diabolos dan shatan, dengan merujuk pada
naskah Yunani.
Apapun pilihan
terjemahan yang kita lakukan, harus disertai pengkajian yang seksama dan
disertakan sebagai catatan kaki, untuk menolong pembaca terjemahan mengenai
alasan yang kita lakukan menerjemahkan dengan salah satu dari pola terjemahan
di atas.
Nama-nama
Satan
Shatan memiliki sejumlah nama dalam
Kitab Suci. Keragaman nama tersebut menunjukkan aktifitas yang dikerjakannnya.
Beberapa namanya al.,
• Ular Tua (Kej 3:1, Why 12:9)
• Bintang Timur (Yes 14:12)
• Baazebub (Mat 12:24)
• Penguasa Dunia(Yoh 12:31)
• Ilah Zaman ini (2 Kor 4:4)
• Belial (2 Kor 6:15)
• Penggoda (1 Tes 3:5)
• Singa Yang Mengaum (1 Ptr 5:8)
• Pendakwa (Why 12:10)
• Pembunuh dan Pendusta (Yoh 8:44)
• Penguasa Udara (Ef 2:2)
Pekerjaan
Satan
Shatan bukan pemalas. Sejak awal
Shatan sudah bergiat dalam menjatuhkan manusia ciptaan Tuhan dengan berbagai
tipu daya dan cara-cara licik. Kitab Suci memberikan kesaksian sbb:
• Memperdaya manusia ( Kej 3:1-5, 2 Kor 11:3)
• Mengelilingi bumi (Ayb 1:7)
• Mengirimkan bencana (Ayb 1:12-19)
• Mengirimkan penyakit (Ayb 2:6-7)
• Menggoda orang beriman (Mat 4:2)
• Mencuri Firman yang ditabur (Mat 13:19)
• Merasuk manusia (Yoh 13:27)
• Menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor 11:14)
• Membuat mujizat palsu (2 Tes 2:9)
• Menyesatkan (Why 12:9)
• Membuat bisu dan tuli (Mrk 9:25)
Kedudukan
Yesus Sang Mesias Terhadap Satan
Kitab
Perjanjian Baru menegaskan kewibawaan Yesus Sang Mesias terhadap Shatan sbb:
“Maka tersiarlah berita tentang Dia di
seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang
menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan
yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka” (Mat 4:24)
“Dia telah melucuti
pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan
umum dalam kemenangan-Nya atas mereka “(Kol 2:15)
“Barangsiapa yang tetap berbuat dosa,
berasal dari Satan, sebab Satan berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak
Tuhan menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Satan
itu “(1 Yoh 3:8)
Sungguh
malang dan tersesat jika Gereja dan Umat Kristen tidak mempercayai keberadaan
Shatan dan roh-roh jahat dan hanya menganggapnya sebagai tahayul serta gejala
psikologis belaka. Shatan itu nyata dan kuasa Yesus Sang Mesias sangat nyata
terhadap Shatan.
Kedudukan orang Beriman Terhadap Satan
Yesus bukan
hanya menunjukkan dirinya berkuasa atas Shatan namun dia juga melimpahkan kuasa
yang sama kepada para muridnya dimanapun yang percaya bahwa dirinya adalah
Mesias dan Anak Tuhan (Mat 16:16). Yesus bersabda mengenai otoritas yang
dimiliki oleh orang beriman sbb: “Lalu Ia berkata kepada mereka: Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan
dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda
ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir
setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru
bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut,
mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang
sakit, dan orang itu akan sembuh” (Mrk 16:15-18).
Perhatikan kalimat “Tanda-tanda ini
akan menyertai orang-orang yang percaya” dan bukan “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-para pendeta
atau majelis atau rohaniwan”. Apa
artinya? Siapapun yang beriman bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Tuhan serta
memiliki hubungan pribadi dengannya maka mereka akan menerima kuasa untuk
mengusir Shatan dan berbagai kuasa kegelapan.
Apakah
Kerasukan Setan itu?
Ada beberapa kata untuk mengungkapkan
kerasukan Shatan. Dalam bahasa Yunani en
pneumati akathartooi (Mrk 5;20 dan daimonizomai
(Mat 4:24). Kata Yunani En
bermakna didalam. Berarti mengisyaratkan bentuk penguasaan dan pengendalian.
Kerasukan bermakna kondisi dibawah pengaruh kuasa jahat sehingga kehilangan
kesadaran dan pengendalian diri serta menampilkan pribadi yang bukan dirinya.
Contoh
Kasus Kerasukan Setan dalam TaNaKh
“Tetapi Roh YHWH telah mundur dari
pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada YHWH”
(1 Sam 16:14)
“...baiklah tuanku menitahkan
hamba-hambamu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi.
Apabila roh jahat yang dari pada Tuhan itu hinggap padamu, haruslah ia
main kecapi, maka engkau merasa nyaman” (1 Sam 16:16)
“Tetapi roh jahat yang dari
pada YHWH hinggap pada Saul, ketika ia duduk di rumahnya, dengan tombaknya di
tangannya; dan Daud sedang main kecapi” (1 Sam 19:9)
Contoh
Kasus Kerasukan Setan dalam Kitab Perjanjian Baru
“Baru saja Yesus turun dari perahu,
datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia”
(Mrk 5:2)
“Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia
kerasukan Satan. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak
kauperbuat, perbuatlah dengan segera.“ (Yoh 13:27)
“Di situ ada seorang perempuan yang
telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk
punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak” (Luk 13:11)
Apakah
Orang Kristen dapat Kerasukan Setan?
Jawabannya
bisa Ya dan bisa Tidak. Tergantung
Keimanan seseorang. Jika keimanan seseorang hidup dan melekat dengan Tuhan maka
tidak mungkin seseorang dikuasai oleh roh jahat karena dikatakan, “Kamu berasal
dari Tuhan, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh
yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)
De,mikian
pula janji Tuhan dikatakan, “Sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap
Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan
dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat
Tuhan” (Bil 23:23)
Bagaimana
Mengenali Kerasukan Setan?
Setidaknya
ada beberapa ciri untuk mengenali perilaku kerasukan sbb: Perubahan Kepribadian
dan Perilaku, Kekuatan yang bertambah,
Disiksa dengan penyakit. Ciri-ciri
tersebut dapat kita temui dalam kisah pembebasan orang gila dari Gerasa oleh
Yesus sbb: “Lalu sampailah mereka
di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu,
datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. Orang
itu diam di sana dan tidak ada seorang pun lagi yang sanggup mengikatnya,
sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi
rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak
ada seorang pun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia
berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli
dirinya dengan batu” (Mrk 5:1-5)
Bagaimana
Menangani Kasus Kerasukan Setan?
Beberapa langkah berikut dapat kita
tempuh untuk membebaskan seseorang dari kuasa Shatan dan roh-roh jahat yaitu:
Pertama, Mengidentifikasi nama roh jahat (Luk
8:30). Ketika
Yesus menanyai roh-roh yang merasuk seseorang, kita mendapati fakta bahwa
roh-roh jahat merespon dan menamai diri mereka sesuai dengan karakter mereka.
Ini penting kita lakukan agar kita mudah mengusir kuasa jahat melalui nama-nama
yang teridentifikasi.
Kedua,
Mengusir roh jahat dalam nama Yahshua Sang Mesias (Luk 4:35,
9:42, Kis 16:18). Perhatikan kata menghardik,
menegor yang ditujukan pada Shatan saat kita berdoa mengusir aktifitas
mereka. Artinya, berdoa mengusir Shatan dan roh-roh jahat yang merasuk berbeda
dengan jenis doa makan, doa hendak tidur dan bangun tidur yang tidak
membutuhkan kekuatan kata-kata yang berwibawa. Saat mengusir kuasa Shatan, kita
harus menghardik dengan kuat agar kuasa Shatan pergi dan membebaskan orang yang
dikuasainya.
Ketiga, Pentahiran dengan minyak urapan. Penggunaan minyak urapan diperlukan saat penyucian atau pengudusan seseorang
baik saat sakit maupun berada dalam pengaruh kuasa kegelapan. Mengenai
penggunaan minyak dapat kita temukan dalilnya dalam Yakobus 5:14 sbb, “Kalau
ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua
jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam
nama Tuan”.
Keempat,
Pengampunan dosa. Dosa bisa menjadi
penghalang berkat. Dosa bisa menjadi penyebab berbagai kemungkinan mudahnya
kuasa kegelapan datang dan menguasai hidup seseorang sebagaimana dikatakan dalam
mazmur 107 :17-20 sbb: “Ada orang-orang menjadi sakit oleh
sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab
kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka
sudah sampai pada pintu gerbang maut. Maka berseru-serulah mereka kepada YHWH
dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka,
disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka
dari liang kubur”
Kelima,
Berpuasa (Mrk 9:29). Saat para murid bertanya mengenai
jenis roh-roh jahat yang tidak segera pergi ketika diusir, Yesus bersabda, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan
berdoa". LAI mendasarkan pada naskah Yunani edisi Critical Text yang
didasarkan pada naskah yang lebih muda yang tidak mencantumkan kata penting
berikutnya yaitu “berpuasa”. Sementara naskah Yunani tertua seperti Textus Receptus menuliskan Me en
proseuche kai nesteia sebagaimana naskah Peshitta Aramaik menuliskan Ela
batsauma wa batsaluta yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Ibrani
modern Franz Delitzh dengan Im bitefila ubetsom. Kita perlu berpuasa
untuk jenis roh-roh jahat tertentu.
Proses
Penyembuhan/Pemulihan Setelah Kerasukan Setan
Jangan membiarkan tubuh, jiwa, roh
tidak terawat
Mereka yang telah dibebaskan dari
ikatan kuasa jahat harus senantiasa mengisi kehidupannya dengan pendalaman akan
Firman Tuhan serta berkomitmen untuk hidup kudus. Jika tidak, maka kuasa jahat
akan berlipat-lipat menguasai kembali sebagaimana dikatakan, “ "Apabila
roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus
mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan
kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati
rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh
roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di
situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula”
(Luk 11;24-26)
Tinggal dalam Firman Tuhan terus
menerus
Agar kita terbebas sepenuhnya dari
kuasa kegelapan maka kita harus memberikan diri kita mendalami kebenaran akan
Tuhan dan kehendak-Nya sehingga kebenaran itu akan memerdekakan diri kita
sebagaimana dikatakan, “Maka kata-Nya
kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap
dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan
mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh
8:31-32).
Kiranya penjelasan singkat ini bukan
hanya memberikan dasar biblikal pemahaman mengenai demonologi (perihal Shatan) dan exorcisme
(pengusiran roh-roh jahat) melainkan memberikan petunjuk teknis dan praktis
dalam menghadapi kasus-kasus demonologis di sekeliling kita.





