RSS Feed

APAKAH YESUS KRISTUS ADALAH YHWH? (2)

Posted by Teguh Hindarto


DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO)  DENGAN ALBERT RUMAMPUK 

SERI 2 (10 Oktober 2012)


Shem Tov:
Itu artinya YAHWEH sebagai pihak pertama (menggunakan pendekatan bahasa untuk masing-masing kata ganti diri) sedang berbicara mengenai pihak kedua (menggunakan pendekatan bahasa untuk masing-masing kata ganti diri). Untuk lebih jelasnya kita lihat sbb:

והקמתי לדוד צמח צדיק

(Wehaqimoti ledawid tsemakh tsadiq - Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud)

Frasa “wehaqimoti” adalah bentuk Imperfek orang pertama dari kata “qum” (bangkit)

ומלך מלך והשׂכיל ועשׂה משׁפט וצדקה בארץ

(Umalak melek wehishkil weasha mishpat utsedaqa baarets - Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri). Frasa “umalak” adalah bentuk imperfek orang ketiga tunggal dari kata “melek” (raja).

Dari analisis kata dan konteks kalimat saja sudah jelas bahwa YHWH berbicara mengenai Mesias yang disebut Tunas Adil dari Daud. YHWH tidak berbicara mengenai diri-Nya yang akan menjadi manusia. 

Bahkan frasa וזה־שׁמו אשׁר־יקראו יהוה צדקנו (weze shemo asyer yiqreo YHWH Tsidqenu) dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH keadilan kita) mempertegas siapa yang dimaksudkan dengan “YHWH Tsidqenu”. Bukan YHWH melainkan seseorang yang dinamai oleh banyak orang Israel dengan sebutan “YHWH Tsidqenu” yaitu Mesias sendiri. Perhatikan frasa “shemo” (namanya) BUKAN “shemi” (nama-Ku) sangat jelas menunjuk pada pihak ketiga bukan pihak pertama.
--------------
Albert Rumampuk:
Sudah jelas ini adalah nubuatan YHWH tentang Mesias yang akan memerintah. Tetapi nubuatnya tak berhenti disitu saja, namun dilanjutkan dengan pengakuan YHWH bahwa NAMANYA adalah YHWH keadilan kita. Dan ‘nama’ bagi budaya Yahudi adalah pribadi itu sendiri. Makanya orang Yahudi tak mau terima ayat ini untuk Yesus dan berusaha mencari raja-raja lain sebagai penggenapannya. Anda memisahkan antara ‘Sang tunas adil’ dan YHWH, dan menunjukkan bahwa keduanya berbeda. Tetapi jika demikian, mengapa YHWH menyebutnya sebagai YHWH keadilan kita? Mungkin anda katakan bahwa itu adalah ‘sebutan orang’ bukan sebutan YHWH, tetapi pernahkan anda membaca sepanjang Kitab Suci penolakan YHWH terhadap ‘sebutan’ itu? Tidak! Orang-orang Yahudi (para muridNya) menyebutnya Allah / THEOS, Tuhan / KIRIOS, bahkan Bapa sendiri menyebutnya THEOS (Ibr 1:8, dsb). Jangan terburu-buru membuat pernyataan “YHWH tidak berbicara mengenai diri-Nya yang akan menjadi manusia.” Karena sekalipun ini bisa berhubungan dengan inkarnasi, tetapi saya tidak sedang membahas hal itu dan tak akan gunakan ayat ini sebagai dasar inkarnasi YHWH / THEOS. Topik diskusinya yaitu ‘Apakah Yesus adalah Yahweh?’ Disini saya sedang menekankan / membuktikan bahwa ‘Yesus adalah Yahweh’ menurut Yer 23:5-6. Silahkan anda bantah bahwa Yesus bukan YHWH melalui ayat yang sama. Kesimpulan dari diskusi ini akan digunakan untuk menentukan apakah YHWH / Allah yang jadi manusia atau bukan.
------------------- 
Shem Tov:
Anda tidak memberikan sanggahan sebagaimana mestinya. Anda tidak menyanggah analisis saya mengenai logika alur pernyataan antara kata ganti orang pertama (Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud) dan kata ganti orang ketiga (Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri). Anda mengabaikan frasa וזה־שׁמו אשׁר־יקראו יהוה צדקנו (weze shemo asyer yiqreo YHWH Tsidqenu) dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH keadilan kita) dan mengklaim bahwa itu nama yang diberikan oleh YHWH sendiri padahal yang benar itu adalah SEBUTAN atau PENAMAAN yang diberikan oleh orang. Bukankah saya sudah katakan bahwa frasa ini setara dengan ungkapan “wayiqra shemo” (namanya disebutkan, Yes 9:5). Pernyataan tersebut memprediksikan bahwa orang-orang yang mengalami lawatan Mesias akan menyebutkan dengan nama dan tindakan YHWH dengan sebutan “YHWH Tsidkenu”, “El Gibor”, “Avi Ad”, “Shar Shalom” dll. Namun bukan bermakna bahwa yang datang adalah YHWH sendiri melainkan Firman-Nya yang menjadi manusia (Yoh 1:1, 14) yang disebut Mesias dan Anak Tuhan (Mat 16:16). 

Anda berusaha memfokuskan pada definisi nama yang menunjuk pada pribadi pemilik nama namun tidak jujur dan jeli melihat konteks ayat dan diperbandingkan dengan ayat-ayat lain dalam PB yang menunjuk hakikat Mesias yang adalah Sang Firman yang menjadi manusia. Anda berkata, “Mungkin anda katakan bahwa itu adalah ‘sebutan orang’ bukan sebutan YHWH, tetapi pernahkan anda membaca sepanjang Kitab Suci penolakan YHWH terhadap ‘sebutan’ itu? Tidak! Orang-orang Yahudi (para muridNya) menyebutnya Allah / THEOS, Tuhan / KIRIOS, bahkan Bapa sendiri menyebutnya THEOS (Ibr 1:8, dsb)”. Yang mengatakan itu bukan saya melainkan KONTEKS AYAT itu sendiri. Perhatikan dan jujurlah, jangan asal menjawab. Apalagi pertanyaan Anda di atas sangat konyol dan menggelikan, “pernahkan Anda membaca sepanjang Kitab Suci penolakkan YHWH terhadap sebutan itu?” Anda menanyakan sesuatu yang memang tidak pernah dituliskan dalam Kitab TaNaKh dan Perjanjian Baru. Hanya orang yang berpura-pura bodoh atau memang tidak pandai menganalisis ayat atau tidak jujur terhadap ayat tersebut, sehingga harus melakukan pertanyaan naif tersebut.

Kutipan Ibrani 1:8 yang Anda sitir tidak menunjuk pada Yeremia 23:5-6 melainkan Mazmur 45:7-8. Jadi tidak relevan dipakai sebagai pembuktian. Lihat lagi penjelasan saya dalam diskusi terdahulu yang mengulas Ibrani 1:8. Jangan mengulang-ulang apa yang sudah dibahas dan disanggah.

Saya geli melihat tingkah dan ucapan Anda, “Disini saya sedang menekankan / membuktikan bahwa ‘Yesus adalah Yahweh’ menurut Yer 23:5-6. Silahkan anda bantah bahwa Yesus bukan YHWH melalui ayat yang sama”. Saya sudah menyampaikan argumentasi logis berdasarkan analisis teks dan konteks dan Anda tidak berhasil menyanggahnya dan asal saja dalam menjawab.

Shem Tov:
Penggambaran Yesaya 9:5, sebagaimana Yeremia 23:5-6 lebih menunjukkan SIFAT KEILAHIAN dari tokoh yang dinubuatkan dan KARAKTER yang melekat pada tokoh tersebut (Band Mikh 5:1). Bukankah dengan membaca di bawah terang Yohanes 1:1-18 menjadi jelas bahwa tokoh yang dinubuatkan itu memiliki sifat keilahian karena dia tidak diciptakan sekalipun dilahirkan (genetum non factum) karena dia adalah perwujudan Sang Firman yang setara, sehakikat, sederajat, melekat dengan YHWH.

Dengan saya bertanya, “ Sebagaimana Mesias yang dinubuatkan dalam Yesaya 9:5, apakah nama-nama itu pernah diklaim oleh Yesus sebagai nama dirinya?” bukan bermakna bahwa saya menuduh Kitab TaNaKh gagal dalam menubuatkan tokoh Mesias Ilahi itu. Namun penamaan dalam sebuah nubuat tidak bermakna bahwa si pemilik nama yang dinubuatkan benar-benar memiliki nama-nama tersebut. Penggunaan nama-nama dan gelar tersebut – sekali lagi saya tegaskan – menyiratkan SIFAT KEILAHIAN dan KARAKTER tokoh yang dinubuatkan dalam menjalankan karya Mesianisnya.
--------------
Albert Rumampuk:
Anda belum menanggapi penyataan dari The International Standard Bible Encyclopedia dan Ensiklopedi Alkitab Masa Kini yang menjelaskan bahwa ‘nama’ adalah ‘pribadi itu sendiri’. Setuju atau tidak? Anda memahami nama ‘YHWH keadilan kita’ menunjuk pada sifat keilahian dan kartakter Sang Mesias? Coba dijelaskan lebih lanjut, ‘sifat keilahian dan karakter’ yang bagaimana yang anda maksudkan? Jika anda memaksudkan bahwa itu menunjuk pada ’kesetaraan / kesehakikatan dengan YHWH’ dan bahwa tokoh yang dinubuatkan itu ‘tidak dicipta’, lalau siapakah dia? Dapatkah sesuatu yang bukan YHWH itu sendiri bisa setara / sehakikat dengan YHWH? Jika tokoh itu tidak dicipta, bukankah berarti bahwa dia adalah YHWH itu sendiri?
------------- 
Shem Tov:
Diskusi yang menjemukan. Apakah Anda tidak membaca analisis teks dan konteks yang saya lakukan, sehingga harus melarikan diri dengan menggunakan argumentasi soal definisi nama menunjuk pada pribadi? Itu sudah jelas saya amini. Namun yang menjadi persoalannya Anda tidak jujur atau tidak mau tahu bahwa frasa “shemo...yiqreo” (namanya...disebutkan orang) bukan menunjuk pada klaim YHWH melainkan klaim orang-orang yang berjumpa dengan tokoh tersebut kelak. Inipun setara dengan frasa “wayiqra shemo’ (Yes 9:5). 

Anda bertanya, “Coba dijelaskan lebih lanjut, ‘sifat keilahian dan karakter’ yang bagaimana yang anda maksudkan? Jika anda memaksudkan bahwa itu menunjuk pada ’kesetaraan / kesehakikatan dengan YHWH’ dan bahwa tokoh yang dinubuatkan itu ‘tidak dicipta’, lalau siapakah dia? Dapatkah sesuatu yang bukan YHWH itu sendiri bisa setara / sehakikat dengan YHWH? Jika tokoh itu tidak dicipta, bukankah berarti bahwa dia adalah YHWH itu sendiri?” Sebuah pertanyaan menggelikan yang tidak merepresentasikan penguasaan dan pemahaman Kristologi secara utuh. Bukankah sudah jelas dari kesaksian Yohanes 1:1 bahwa Firman itu bersama dengan Tuhan yang bermakna Firman itu setara, sehakikat, sederajat dengan Tuhan? Bagaimana mungkin Anda membuat pernyataan, “Jika tokoh itu tidak dicipta, bukankah berarti bahwa dia adalah YHWH itu sendiri?” Anda bukan saja gagal dalam memahami teks dan konteks Yeremia 23:5-6, Anda juga gagal memahami teks dan konteks Yohanes 1:1. Jika Sang Firman itu setara, sehakikat, sederajat, maka konsekwensi logisnya Sang Firman itu kekal bersama YHWH. Dan Kitab Suci memberikan kesaksian bahwa Sang Firman adalah Daya Cipta Tuhan (Kej 1:3, Mzm 33:6, Yoh 1:3). Apakah menutut Anda Firman itu diciptakan, sehingga Anda harus bertanya, ““Jika tokoh itu tidak dicipta, bukankah berarti bahwa dia adalah YHWH itu sendiri?”

Shem Tov:
Sudah jamak dalam hampir mayoritas Kristen membuat lompatan kesimpulan bahwa Yesus adalah Pencipta hanya dikarenakan kesamaan dengan berbagai tindakan yang hanya dilakukan oleh YHWH saja. Seharusnya kita bisa membedakan MANUSIA YESUS dan PRA ADA Yesus sebagai Sang Firman. Manusia Yesus bukan Pencipta. Namun Sang Firmanlah yang menjadikan segala sesuatu tercipta (Kej 1:3, Mzm 33:6, Yoh 1:3). Manusia Yesus tidak pernah disebut sebagai Pencipta. Manusia Yesus disebut dengan “Anak Tuhan” (Yoh 1:18), “Mesias” (Mat 16:16).
-------------------
Albert Rumampuk:
Bagus sekali karena anda membedakan antara ‘manusia Yesus’ dengan ‘Pra-eksistensinya’ sebagai Sang Firman. Yang mencipta memang adalah Sang Firman (Yoh 1:1,3) bukannya manusia Yesus. Tetapi apakah salah jika orang Kristen menyebut bahwa Yesus adalah pencipta? Perhatikan kata-kata Paulus berikut:

Kol 1:13 “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; [14] di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. [15] Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, [16] karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” 

Konteks ayat ini sangat jelas bicara tentang Yesus (nama manusia dari Sang Firman [ayat 1-4]); ‘Anak Allah’ (ayat 13 - sebutan untuk Yesus oleh para muridNya); Sang penebus dosa (ayat 14); dan ‘gambar Allah yang tidak kelihatan’. Tentu saja ini berbicara Sang Firman yang telah menjadi manusia. Tetapi anehnya, Paulus tetap mengatakan bahwa ‘Dia’ (Anak Allah / Yesus) adalah pencipta segala sesuatu (ayat 16). Selain orang Kristen, anda akan mengatakan Paulus melakukan ‘lompatan kesimpulan’ juga?
----------------- 
Shem Tov:
Tentu saja salah menyebut Yesus adalah Pencipta. Ayat yang Anda kutip (Kol 1:13) meletakkan frasa “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu” sebagai penjelasan terhadap frasa “Gambar Tuhan” (Eikon tou Theou) dan “Anak-Nya”. Jadi Yesus adalah GAMBAR TUHAN dan ANAK TUHAN yang melaluinya diciptakan segala sesuatu. Namun tidak pernah para rasul menyebut secara langsung Yesus sebagai Pencipta, apalagi menyapa dengan julukan Theos/Elohim. Bukankah saya pun sudah mengulas secara panjang lebar aspek keilahian Yesus sebagai Sang Firman yang melaluinya segala sesuatu diciptakan? (1 Kor 8:6). Jika memang Yesus yang manusia disebut Pencipta, rasul Paul tidak akan membuat alur pernyataan berputar dan berjenjang seperti di atas dan dalam semua suratnya (1 Kor 8:6)

Albert Rumampuk:
Persetujuan anda terhadap istilah ‘Anak Allah’ untuk Yesus, merupakan bukti persetujuan anda terhadap keAllahan Yesus. Saat diduniapun, Yesus disebut dengan ‘Anak Allah’ sebuah istilah yang bermakna ‘sama / setara dengan Allah’ (Yoh 5:18). Lalu apakah anda akan protes kepada Petrus dan murid-murid Yesus lainnya saat mereka menyebut Sang Firman yang telah jadi manusia itu sebagai Anak Allah / Allah? 
--------------- 
Shem Tov:
Wah...wah....rupanya Anda selama ini hanya banyak mengobral dan mengumbar pendapat Anda sendiri, sehingga gagal total memahami jalan pikiran saya mengenai hakikat Yesus sehingga membuat pernyataan di atas. Apa Anda selama ini tidak membaca dengan hati jernih semua tulisan saya mengenai Kristologi dan sibuk mencari sanggahan belaka terhadap argumentasi saya? Apakah selama ini saya menolak keilahian Yesus? Apakah selama ini saya menolak Yesus sebagai Anak Tuhan?

Yang saya tolak adalah sebutan Kurios/Adon diterjemahkan Tuhan bagi Yesus. Yang saya tolak adalah pernyataan bahwa Yesus adalah Yahweh yang menjadi manusia Yang benar adalah Kurios selayaknya diterjemahkan Tuan/Junjungan Agung tanpa menghubungkan dengan aspek Keilahian Yesus Yang benar adalah Yesus adalah Sang Firman Yahweh yang menjadi manusia Paham?

APAKAH YESUS KRISTUS ADALAH YHWH? (1)

Posted by Teguh Hindarto



DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO)  DENGAN ALBERT RUMAMPUK 

SERI 1 (6 Oktober 2012)

Sdr Albert Rumampuk kembali menantang berdiskusi mengenai kedudukan Yesus. Menurutnya, Yesus adalah Yahweh yang menjadi manusia. Kali ini, Albert Rumampuk membangun dalil dari Yeremia 23:5-6. Diskusi ini berlangsung di group diskusi DIALOG CERDAS JUDEOCHRISTIANISME DAN KRISTEN. Karena jawaban dan sanggahan Albert Rumampuk berputar-putar (circular) dan berulang (repetition), maka diskusi saya akhiri pada jawaban terakhir saya yang kemudian saya posting dalam blog. Kiranya dapat menjadi peta jalan dalam mengambil kesimpulan bagi siapapun yang berdiri diantara dua pemahaman: Yesus adalah Firman Tuhan Yahweh yang menjadi manusia atau Yesus adalah Tuhan Yahweh yang menjadi manusia.

Albert Rumampuk:
Saya menggunakan teks dalam Yer 23:5-6 untuk menyatakan bahwa Yesus adalah YHWH.


Yer 23:5-6 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita.”


Yang mengatakan ‘Sang Tunas adil’ disebut ‘TUHAN (YHWH)- keadilan kita’ memang adalah Yahweh sendiri. Jadi, jika ada yang menolaknya, sama saja menolak firman Yahweh. 
------------ 
Shem Tov:

Itu artinya YAHWEH sebagai pihak pertama (menggunakan pendekatan bahasa untuk masing-masing kata ganti diri) sedang berbicara mengenai pihak kedua (menggunakan pendekatan bahasa untuk masing-masing kata ganti diri). Untuk lebih jelasnya kita lihat sbb:


והקמתי לדוד צמח צדיק

(Wehaqimoti ledawid tsemakh tsadiq - Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud)

Frasa “wehaqimoti” adalah bentuk Imperfek orang pertama dari kata “qum” (bangkit)

ומלך מלך והשׂכיל ועשׂה משׁפט וצדקה בארץ

(Umalak melek wehishkil weasha mishpat utsedaqa baarets - Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri). Frasa “umalak” adalah bentuk imperfek orang ketiga tunggal dari kata “melek” (raja).

Dari analisis kata dan konteks kalimat saja sudah jelas bahwa YHWH berbicara mengenai Mesias yang disebut Tunas Adil dari Daud. YHWH tidak berbicara mengenai diri-Nya yang akan menjadi manusia. 

Bahkan frasa וזה־שׁמו אשׁר־יקראו יהוה צדקנו (weze shemo asyer yiqreo YHWH Tsidqenu) dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH keadilan kita) mempertegas siapa yang dimaksudkan dengan “YHWH Tsidqenu”. Bukan YHWH melainkan seseorang yang dinamai oleh banyak orang Israel dengan sebutan “YHWH Tsidqenu” yaitu Mesias sendiri. Perhatikan frasa “shemo” (namanya) BUKAN “shemi” (nama-Ku) sangat jelas menunjuk pada pihak ketiga bukan pihak pertama.


Albert Rumampuk:

Anda menyoroti kata-kata “dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya” dan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah dinamai seperti itu. Kasus seperti ini memang sama dengan kata-kata dalam Yes 9:5b: “namanya disebutkan orang…”. Mengapa Yesaya mengatakan “namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” tetapi ternyata tak ada orang yang menyebutkan demikian? Apakah nubuat Alkitab ini menjadi gagal? Tentu saja ini tak boleh dihurufiahkan, namun berarti bahwa sebutan-sebutan ini memang menunjukkan diri dan karakterNya. Bagi orang Yahudi, ‘nama’ selalu berkaitan erat dengan pribadi itu sendiri.


The International Standard Bible Encyclopedia, vol II: “Dalam kebudayaan Barat jaman sekarang nama-nama pribadi tidak lebih dari sekedar label-label yang membedakan satu pribadi dari pribadi yang lain. ... jaman alkitab, dalam mana nama seorang pribadi mempunyai arti yang jauh lebih dalam. Pentingnya nama pribadi mendapatkan pernyataan yang jelas dalam PL dalam cerita-cerita mengenai pemberian atau perubahan nama-nama. NAMA MEWAKILI / MENGGAMBARKAN SELURUH PRIBADI; DAPAT DIKATAKAN BAHWA NAMA ADALAH PRIBADI ITU SENDIRI” (hal 504).

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: “Sekarang mengenai hubungan nama dengan pribadi yang beroleh nama itu. Ajaran Alkitab dapat dirumuskan dalam tiga dalil: nama itu adalah pribadi itu sendiri; nama itu adalah pribadi yang diungkapkan; dan nama itu adalah pribadi yang hadir secara aktif.” (hal 123)

Istilah ‘Allah yang perkasa’ (EL GIBOR) dalam Yes 9:5, tak berarti bahwa saat berkarya didunia Yesus dipanggil ‘Allah yang perkasa’, tetapi bahwa Dia memang adalah Allah / THEOS itu sendiri. Ini ditunjukkan dengan sifat / karakterNya sebagai pribadi yang Maha hadir (Mat 28:20; Yoh 14:18,20,23); Maha Tahu (Yoh 2:24-25); Maha Kuasa / mengampuni dosa (Mrk 2:10); Maha Suci (Ibr 4:15; Yoh 8:46); disembah (Mat 8:2; 14:33; Ibr 1:6), dsb (bdk. dengan sifat Allah / YHWH yang mengampuni dosa [Yer 31:34]; Maha kudus [Yes 41:14], dsb). Demikian pula dengan nama ‘YHWH Sidqenu’, sebutan ini bukan berarti saat didunia Yesus dipanggil demikian, tetapi ini menunjuk pada diri Yesus yang adalah Yahweh. 
---------- 
Shem Tov:
Penggambaran Yesaya 9:5, sebagaimana Yeremia 23:5-6 lebih menunjukkan SIFAT KEILAHIAN dari tokoh yang dinubuatkan dan KARAKTER yang melekat pada tokoh tersebut (Band Mikh 5:1). Bukankah dengan membaca di bawah terang Yohanes 1:1-18 menjadi jelas bahwa tokoh yang dinubuatkan itu memiliki sifat keilahian karena dia tidak diciptakan sekalipun dilahirkan (genetum non factum) karena dia adalah perwujudan Sang Firman yang setara, sehakikat, sederajat, melekat dengan YHWH.


Dengan saya bertanya, “ Sebagaimana Mesias yang dinubuatkan dalam Yesaya 9:5, apakah nama-nama itu pernah diklaim oleh Yesus sebagai nama dirinya?” bukan bermakna bahwa saya menuduh Kitab TaNaKh gagal dalam menubuatkan tokoh Mesias Ilahi itu. Namun penamaan dalam sebuah nubuat tidak bermakna bahwa si pemilik nama yang dinubuatkan benar-benar memiliki nama-nama tersebut. Penggunaan nama-nama dan gelar tersebut – sekali lagi saya tegaskan – menyiratkan SIFAT KEILAHIAN dan KARAKTER tokoh yang dinubuatkan dalam menjalankan karya Mesianisnya.



Albert Rumampuk:

Lalu jika Yesus adalah Yahweh, bagaimana kita bisa memastikannya lebih lanjut? Ini tentu bisa dilihat dari perbuatan / karya-karyaNya. Misalnya, Yesus adalah Juruselamat satu-satunya (Yoh 4:42; Kis 4:12), ini cocok dengan pribadi Yahweh yang juga adalah satu-satunya Juruselamat (Yes 45:21; 43:11). Yesus adalah pencipta segalanya (Yoh 1:3; Kol 1:16), ini tentu adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Yahweh sendiri (Yes 40:28; 64:8), dsb. Oleh karena itu, ketika Yesus disebut ‘YHWH keadilan kita’, ini berarti bahwa Yesus adalah Yahweh itu sendiri. 
------------ 
Shem Tov:

Sudah jamak dalam hampir mayoritas Kristen membuat lompatan kesimpulan bahwa Yesus adalah Pencipta hanya dikarenakan kesamaan dengan berbagai tindakan yang hanya dilakukan oleh YHWH saja. Seharusnya kita bisa membedakan MANUSIA YESUS dan PRA ADA Yesus sebagai Sang Firman. Manusia Yesus bukan Pencipta. Namun Sang Firmanlah yang menjadikan segala sesuatu tercipta (Kej 1:3, Mzm 33:6, Yoh 1:3). Manusia Yesus tidak pernah disebut sebagai Pencipta. Manusia Yesus disebut dengan “Anak Tuhan” (Yoh 1:18), “Mesias” (Mat 16:16).

APAKAH ISTILAH “MARYA” (ܡܳܪܝܳܐ) DALAM PESHITTA ARAMAIK MEMBUKTIKAN BAHWA YESUS ADALAH YAHWEH?

Posted by Teguh Hindarto



Beberapa kelompok Sacred Name Movement (Gerakan Pemulihan Nama Suci) di Indonesia berusaha untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Yahweh yang menjadi manusia dengan melakukan dua cara. Pertama, melakukan analisis teks dan proses hermeneutik terhadap naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani dimana dalam sejumlah kasus setiap pernyataan Yesus yang pararel dengan Yahweh akan disimpulkan bahwa Yesus adalah Yahweh itu sendiri. Untuk menjawab metodologi mereka, saya sudah membuat artikel berjudul Meluruskan Kesalahpahaman Seputar Keilahian Yesus[1]. Kedua, dengan mengandalkan Kitab Peshitta Aramaik dimana Yesus disebut di beberapa tempat dengan sebutan Marya yang artinya Tuan Yahweh. Benarkah argumentasi ini?

Peshitta Aramaik

Peshitta artinya “lurus”, “sederhana’, “umum”. Ini menunjuk pada nama sebuah Kitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dalam bahasa Aramaik. Kitab TaNaKh diterjemahkan dalam bahasa Aramaik sekitar Abad 2 sM dan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Aramaik mulai distandarisasi pada Abad 5 Ms (tanpa 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, Wahyu). Kitab Peshitta dipergunakan oleh kelompok Kristen yang berada di wilayah Timur seperti Gereja Orthodox Syria. Mengenai eksistensi Peshitta Aramaik apakah sumber bagi penerjemahan Perjanjian Baru berbahasa Yunani atau sebaliknya, masih menjadi perdebatan para ahli bahasa.


Makna Kata Marya

Jika Septuaginta menuliskan kata penghormatan Kurios untuk nama Tuhan Yahweh dalam TaNaKh (Kekristenan menyebutnya dengan Perjanjian lama), maka dalam Peshitta TaNaKh, setiap nama Yahweh ditulis dengan sapaan penghormatan Marya (ܡܳܪܝܳܐ). Sebagai misal Kejadian 2:4 sbb:[2]

ܗܳܠܶܝܢ ܬܳܘ̈ܠܕܳܬܴܐ ܕ݁ܰܫܡܰܝܳܐ ܘܕ݂ܰܐܪܥܳܐ
These are the generations of the heavens and of the earth
ܟ݁ܰܕ݂ ܐܶܬܒܪܺܝܘ
when they were created,
ܒ݁ܝܰܘܡܳܐ ܕ݁ܰܥܒ݂ܰܕ݂ ܡܳܪܝܳܐ ܐܰܠܳܗܳܐ
in the day that MARYA God made
ܫܡܰܝܳܐ ܘܰܐܪܥܳܐ ܀
the earth and the heavens.

Dalam Peshitta Perjanjian Baru, ada dua kata untuk menyebutkan nama penghormatan bagi Yahweh saat mengutip Peshitta TaNaKh yaitu Marya (ܡܳܪܝܳܐ)[3] dan d’Marya (ܕ݁ܡܳܪܝܳܐ)[4].

Sebutan Marya muncul dalam ayat berikut: “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Marya (ܡܳܪܝܳܐ) oleh nabi” (Mat 1:22)

Sebutan d’Marya muncul dalam ayat berikut: “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat d’Marya (ܕ݁ܡܳܪܝܳܐ) nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat 1:20)
Mengenai makna kata Marya atau d’Marya, kelompok Aramaic Primacist (pendukung teori bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa sumber yaitu Aramaik, sebagai lawan Greek Primacit dan Hebrew Primacist) memiliki sejumlah perbedaan pendapat.

Kelompok Pertama: Marya adalah Sebutan Penghormatan Terhadap Yahweh

Kita akan mengutip beberapa pernyataan dalam kamus Syriac mengenai arti dan penggunaan kata Marya sbb:

William Jennings Syriac Lexicon  mengatakan sbb: “MARA, (meem-resh-alap), Mara, absolute and construct; emphatic Mara, m., a lord or master, Matthew 9:38, Luke 6:5, John 13:13-14, Acts 14:12 (lord or chief of the gods, i.e.Jupiter); sovereign or ruler; Luke 10:21.1Nrm (meem-resh-noon). MARAN, our Lord, is often found in the Syriac versions insteadof the Lord, e.g. John 21:7,12. MARAN ATA, (meem-resh-noon alap-taw-alap), Maran atha, our Lord is come, 1Corinthians 16:22, though this is taken by Dalman as Aram. + pl. suff. + at (ta), MARNA TA ATA - O Lord come!). Plural MARYA (meem-resh-yodh-alap), MARON (meem-resh-waw-noon), MAROA (meem-resh-waw-alap-alap). MARYA (meem-resh-yodh-alap), the emphatic form used for the sacred Hebrew YHWH “Amar MarYah l'mari” - The LORD said to my Lord, Matthew 22:44, also for Christ as Lord of all, Acts 10:36,and the one Lord, 1 Corinthians 8:6, Philippians 2:11"[5]

Compendious Syriac menjelaskan sbb: “MARA, absolute and construct, emphatic MARA and MARYA (meem-resh-yodhalap),the latter form is used only of THE LORD GOD, and in the Peshitta version of the O.T. represents the Tetragrammaton”[6]

Oraham's Dictionary of the Stabilized and Enriched Assyrian, menjelaskan sbb: “MURYA - The Lord, an appellation signifying Jesus; Jehovah”[7].

Dari kutipan penjelasan di atas maka kata Marya dimaknai sebagai sebutan penghormatan pengganti yang setara dengan Adon dan Adonai dalam bahasa Ibrani atau Kurios dalam bahasa Yunani yang bermakna Tuan atau Penguasa.

Konsekwensi logis bahwa istilah Marya adalah sebutan penghormatan yang setara dengan Adon, Adonai dan Kurios, maka istilah Marya terikat pada kaidah kebahasaan dan dapat ditelusuri kedudukannya dalam kosa kata Aramaik.

Konsekwensi logis bahwa kata Marya adalah sebutan penghormatan pengganti bagi Yahweh, maka dalam struktur ketatabahasaan, kata Marya memiliki kedudukan tertentu yaitu sebagai kata benda emphatic dan bentuk lexeme.

Marya adalah Kata Benda Emphatic (emphatic noun)

Jika kata Marya adalah bentuk singkat dari nama Yahweh maka akan muncul bentuk-bentuk lainnya dalam kata Marhun, Maran, Mari dll. Namun itu tidak terjadi. Tidak pernah ditemui bentuk MarYahun, MarYahan, MarYahi, dll. Ketiadaan bukti tersebut membuktikan bahwa kata Marya memang berkedudukan sebagai kata benda emphatic[8]


Marya adalah Lexeme

Akar sebuah kata adalah yang paling dahulu ada dan menjadi elemen dasar dalam keluarga suatu istilah atau kata. Akar kata dapat menghasilkan satu atau lebih lexeme. Lexeme adalah adalah kata asli atau yang paling dasar yang dapat dimodifikasi untuk menghasilkan bentuk-bentuk kata yang lain. Contoh akar kata “Aud” bentuk Lexemenya “Audible” dan “Audit” dan bentuk morphemenya “Audibility”, “Inaudibility’, “Audibleness”, “Audience”, “Auditory”, “Auditorium”, “Audition” sebagaimana bagan berikut:[9]

Root

Lexeme
Morphemes
Aud
Audible



Audit
Audibility, Inaudibility. Audibleness

Audience, Auditory, Auditorium, Audition


Demikian pula kata Aramaik Marya adalah bentuk Lexeme dari kata Mara sebagaimana bagan di bawah ini:[10]

Root

Lexeme
Morphemes
Mara
(Tuan, Penguasa, Majikan)
Marya
(Sang Tuan, Sang Penguasa, Sang Majikan)
Maran
(Tuan kita)
Mareh
(Tuannya)

Jika akhiran “Ya” dalam kata “MarYa” menunjuk pada nama atau bentuk singkat Yahweh, maka kata tersebut seharusnya muncul dalam setiap bentuk morpheme yang didasarkan pada lexeme. Sebaliknya, tidak pernah dijumpai unsur nama Yahweh dalam bentuk morpheme dari kata Marya. Kita akan melihat perbandingan kata Marya (Tuan) dan Talya (Pelayan) dalam bagan berikut:[11]

Anatomi Kata Marya: Sebuah Perbandingan

Lord
Root
Lexeme
Inflected Form

the Lord
Mara
Marya
Marya
the Lords
Mara
Marya
Maraya
Lord
Mara
Marya
Marea
Lords
Mara
Marya
Maray
Lords
Mara
Marya
Marawan
our Lord
Mara
Marya
Maran
his Lord
Mara
Marya
Mareh
her Lord
Mara
Marya
Marawhy
her Lords
Mara
Marya
Marah
their Lord
Mara
Marya
Marhwn
my Lord
Mara
Marya
Mary
my Lords
Mara
Marya
Maray
your Lord (Sing)
Mara
Marya
Marak
your Lord (Sing)
Mara
Marya
Maraky
your Lord
(Plur)
Mara
Marya
Markwn
your Lords (Plur)
Mara
Marya
Maraykwn


Anatomi Kata Talya: Sebuah Perbandingan

Servant
Root
Lexeme
Inflected Form

the Servant
Talya
Talya
Talya
the Servants
Talya
Talya
Talaya
Servant
Talya
Talya
Talea
Servants
Talya
Talya
Talay
Servants
Talya
Talya
Taleyn
our Servant
Talya
Talya
Talyan
his Servant
Talya
Talya
Talyeh
his Servants
Talya
Talya
Talywhy
her Servant
Talya
Talya
Talyah
her Servants
Talya
Talya
Taleyh
their Servant
Talya
Talya
Talywhn
their Servants
Talya
Talya
Talayhwn
my Servant
Talya
Talya
Talyy
my Servants
Talya
Talya
Talay
your Servant (Sing)
Talya
Talya
Talyak
your Servants (Sing)
Talya
Talya
Talyaky
your Servant (Plur)
Talya
Talya
Talyakwn
your Servants (Plur)
Talya
Talya
Talaykwn

Dari uraian bagan di atas nampak bahwa kata Marya adalah bentuk lexeme yang dapat mengalami morphemisasi. Sebatian Brock pengajar pada Fakultas Studi Oriental dari Oxford Cambridge mengatakan: “Although I think I have seen this somewhere as a popular [folk] etymology, I am afraid that from the point of view of Semitic philology it will not work. Marya is the emphatic form of mr' (the earlier form in Aramaic would be mr'', which has become mry' in Syriac), and mr' is attested in earlier Aramaic in many pre-Christian and non-Jewish inscriptions (many are cited in J.Hoftijzer and K. Jongeling, Dictionary of Northwest Semitic Inscriptions (1995), II, pp.682-9). (In the Aramaic of Daniel eg 4:16 there is a 1st person sing. suffixed example, mr'y (= mr'+y) which in Syriac would appear as mry (= mr+y)"[12] (Meskipun saya pikir saya telah ini sebagai etimologi populer, namun saya kuatir bahwa dari sudut pandang filologi Semit , hal tersebut tidak akan berhasil. MarYa adalah bentuk empati dari Mr’ (bentuk awal dalam bahasa Aram Mr’, yang telah menjadi Mry dalam bahasa Syria), dan Mr’ telah dibuktikan dalam bahasa Aram permulaan dalam prasasti pra-Kristen dan non-Yahudi (sebagaimana banyak dikutip dalam J.Hoftijzer dan K. Jongeling, Dictionary of Northwest Semitic Inscriptions (1995), II, pp.682-9). (dalam bahasa Aram dari Daniel 4:16 [dalam naskah Masoretik Daniel 4:19] misalnya ada akhiran orang pertama tunggal Mr’y (Mr+ y) yang dalam bahasa Syriac akan muncul sebagai Mry (Mry).

Yang dimaksudkan oleh Brock mengenai Daniel 4:19 mengenai kalimat, “Beltsazar menjawab: "Tuanku, biarlah mimpi itu tertimpa atas musuh tuanku dan maknanya atas seteru tuanku!”, kata “Tuanku” dipergunakan bahasa Aram מראי (Maray) dan מרי (Mari).

Demikian pula analisis Dr. George A. Kiraz dalam Syriac Electronic Data Retrieval Archive (SEDRA) menempatkan kata Marya dengan numerisasi no 12407 dan dikategorikan sebagai kata benda dan bentuk lexeme[13].




Kelompok Kedua: Marya adalah Singkatan dari Tuan Yahweh

Andrew Gabriel Roth menerjemahkan Kitab Peshitta Aramaik ke dalam bahasa Inggris dan menerbitkan Aramaic English New Testament (AENT). Setiap ada istilah Marya atau d’Marya yang ditujukan baik kepada Yahweh maupun Yesus maka akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “Master Yah” (Tuan Yah) sebagai singkatan dari Yahweh.

Dalam beberapa artikelnya, Gabriel Roth melandaskan pada fakta dalam Yesaya 12:1-2, Mazmur 77:12-13, Mazmur 113:1-3 dimana nama Yahweh disingkat dalam bentuk Yah.

Sebagaimana dikatakan dalam Yesaya 12:1-2, “Sungguh, Tuhan itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab Yah Yahweh itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku” (Yes 12:2). Menurut penelitian Gabriel Roth, ungkapan יה יהוה ויהי־לי לישׁועה׃ (Yah Yahweh wayehi li lishuah) dalam Peshitta TaNaKh dituliskan dengan “Marya”. Dalam penjelasannya, beliau menyimpulkan, “Now, in places where the Hebrew Tanakh reads Adonai and it is 100% clear that its meaning is YHWH, the Aramaic universally substitutes with MarYah”[14] (Sekarang, di tempat di mana Tanakh Ibrani membaca Adonai maka itu dapat dipastikan 100% bahwa maknanya adalah YHWH, kata Aram yang secara universal diganti dengan sebutan Marya)

Sebutan Marya dan d’Marya Bagi Yesus Dalam Peshitta

Dalam Peshitta Aramaik ditemui sejumlah data dan fakta bahwa Yesus disebut dengan julukan Marya dan d’Marya.

Sejumlah ayat yang menghubungkan Yesus dengan sebutan Marya al., Matius 22:43, 45, Markus 12:29, Lukas 2:11, Kisah Rasul 10:36, Roma 14:9, 1 Korintus 8:6.

“Kata-Nya kepada mereka: "Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya (ܡܳܪܝܳܐ - Marya), ketika ia berkata...” (Mat 22:43)

Sejumlah ayat yang menghubungkan Yesus dengan sebutan d’Marya al., Kisah Rasul 2:38, 1 Korintus 11:27,29, 1 Korintus 12:3, Filipi 2:11.

“Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Tuhan, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Junjungan Agung" (ܡܳܪܝܳܐ - d’Marya), selain oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3).

Kedua kelompok di atas memberikan terjemahan yang berbeda terkait kata Marya dan d’Marya yang dihubungkan terhadap Yesus. Kelompok pertama tetap menerjemahkan kata Marya dan d’Marya dengan sebutan Lord (Tuan) dan The Lord (Tuan itu) sebagaimana beberapa terjemahan berikut:

ETH  “For there is born for you to-day the Redeemer, who is the Lord the Meshicha, in the city of David” (Luk 2:11) [15]

MRD  “For there is born to you this day a deliverer, who is the Lord Messiah, in the city of David” (Luk 2:11)[16]

LEW  “Unto you is born this day a Saviour, who is the Lord, the Christ, in the city of David”. (Luk 2:11)[17]

Berbeda dengan terjemahan di atas, Andrew Gabriel Roth dalam Aramaic English New Testament menerjemahkan, “For today in the city of David there has been born for you a Saviour, who is Lord-Yah the Messiah”.

Dalam artikelnya yang berjudul, Roth menyimpulkan, “Here’s the crucial key omitted in the Greek: So is Jesus! In many verses of the New Testament, Jesus is called ‘MarYah’, a name ONLY used for God. These many verses are spread throughout the Scriptures too, not just centralised and caused by misunderstanding or some such. All the writers of the New Testament KNEW that Jesus is God, so it is not surprising to find Him being called ‘MarYah’ in many different books. The Peshitta leaves NO DOUBT that Jesus was God Himself, manifest in the flesh. Now that you have had time to understand that ‘the LORD’ and ‘the Lord’ are the same ‘person’, the same God, let us examine some ofthe verses that call Jesus, ‘MarYah’, a name undisputedly used ONLY for God”[18] (Berikut adalah kunci penting yang dihilangkan dalam bahasa Yunani: Tiada lain mengenai Yesus! Dalam banyak ayat Perjanjian Baru, Yesus disebut dengan MarYah, sebuah nama yang HANYA digunakan untuk Tuhan. Ayat-ayat ini banyak tersebar di seluruh Kitab Suci juga, bukan hanya terpusat dan disebabkan oleh kesalahpahaman atau semacam itu. Semua penulis Perjanjian Baru TAHU bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri, sehingga tidak mengherankan untuk menemukan Dia yang disebut MarYah dalam banyak kitab. Kitab Peshitta tidak meninggallkaan keraguan bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri, yang mewujudkan dirinya dalam daging. Sekarang Anda telah memiliki waktu untuk memahami bahwa TUAN dan Tuan adalah menunjuk pada pribadi yang sama, yaitu Tuhan yang sama, dan mari kita lihat beberapa ayat lainnya yang menyebut Yesus, dengan sebutan MarYah, sebuah nama yang tidak diragukan lagi HANYA digunakan untuk Tuhan)