RSS Feed

DISKUSI PERIHAL PEMINDAHAN STATUS BANGSA PILIHAN (2)

Posted by Teguh Hindarto

TANGGAPAN SHEM TOV ATAS BEJO JOKO KRISTIANTO
TANGGAL 14 FEBRUARI 2012


Bejo Joko Kristanto:
Rupanya saya ada salah ketik.  Memang yang Anda katakan itu benar, bhw Surat 1 Petrus ditujukan untuk Jews yang tersebar (diaspora) di Asia Kecil.

Saya jelaskan apa yang saya maksud... Saya tidak memaksudkan bhw surat 1 Petrus ditujukan kepada gentiles, tetapi penafsiran ayat (I Petrus 2:9) tersebut bisa ditujukan kepada semua orang percaya, termasuk gentiles didalamnya. Makanya saya sebelumnya mengatakan : “Dan bukan hanya gentiles, tetapi baik Israel maupun gentiles yang percaya kepada Kristus (ekklesia) adalah BANGSA YANG TERPILIH.” BEDAKAN!
------------------
Shem Tov:
Anda salah ketik? Penafsiran 1 Petrus 2:9 bisa ditujukan kepada semua orang percaya termasuk gentiles? Lalu mengapa Anda menuliskan demikian, “Setiap gentiles yang percaya kepada Kristus adalah bangsa yang terpilih. Dan secara otomatis, ini memindahkan status bangsa pilihan yang dulu melekat kepada bangsa Israel jasmaniah, sekarang melekat secara rohani kepada semua bangsa di seluruh dunia.” 

Lihatlah pernyataan Anda di atas:

“SETIAP GENTILES YANG PERCAYA KEPADA KRISTUS ADALAH BANGSA YANG TERPILIH”

‘SECARA OTOMATIS INI MEMINDAHKAN STATUS BANGSA PILIHAN...”

Anda salah ketik atau malu mengakui kekeliruan kesimpulan Anda?

Bejo Joko Kristanto:
Kalau Anda mengaku tidak memilah2 ayat, silahkan jawab pertanyaan saya ini :

I Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Ayat 10 menyatakan siapa yang dimaksud oleh ayat 9. Bangsa yang terpilih adalah mereka yang adalah umat Allah dan yang telah beroleh belas kasihan (anugerah). Jikalau Anda tetap ngotot bhw Israel jasmani adalah bangsa pilihan Allah,  - bagaimana bisa diayat 10 Petrus menyebut Yahudi (yg tidak percaya) sbg bukan umat Allah?  - bagaimana bisa diayat 10 Petrus menyebut Yahudi (yg tidak percaya) sbg tidak dikasihani? Bukankah itu sama saja dengan Petrus mengatakan bhw Israel jasmani tidak semuanya adalah ‘bangsa pilihan Allah’, dan hanya mereka yang percaya saja yang adalah umat Allah? Jikalau ‘hanya mereka saja yang percaya kepada Kristus’ yang disebut sebagai umat Allah, maka mereka juga mendapatkan status sebagai ‘bangsa yang terpilih’? 

Ini sama dengan maksud Rasul Paulus yang menyatakan bhw tidak semua Israel adalah termasuk Israel.

Bagaimana Anda menjawab serangan saya (atau lebih tepatnya, serangan Alkitab) itu, Mr. Teguh Hindarto?
 ---------------- 
Shem Tov:
Dengan melihat konteks yang saya jelaskan sebelumnya dimana 1 Petrus 2:90-10 tidak bisa dilepaskan dari 1 Petrus 1;1 dan 1 Petrus 2:11-12, maka pernyataan dalam 1 Petrus 2;9-10 harus dilihat secara keseluruhan memang ditujukan kepada YAHUDI YANG TELAH PERCAYA DAN MENERIMA YESUS SEBAGAI MESIAS, ANAK TUHAN.

Maka kalimat, “kamu, yang dahulu bukan umat Tuhan, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan’ tidak bisa dilepaskan dan kemudian dilekatkan pada bangsa-bangsa non Yahudi.

Pernyataan saya ini bukan bermakna bahwa 1 Petrus 2:9-10 tidak memiliki relevansi terhadap gentiles yang telah percaya pada Yesus Sang Mesias. Ayat ini tetap bermakna bagi gentiles bahwa dalam keimanan kepada Yesus Sang Juruslamat, maka baik orang Yahudi dan non Yahudi MENJADI BANGSA PILIHAN DI MATA TUHAN dan bukan PEMINDAHAN STATUS BANGSA PILIHAN TUHAN dari Israel Jasmani kepada Gereja. Padahal Gereja mula-mula adalah murid-murid Yesus yang beretnis Yahudi

(Shem Tov: Konsep ENTEN bukan hanya berbicara mengenai iman melainkan juga bangsa namun bukan dalam artian politik)
 ------------
Bejo Joko Kristanto:
Konsep itu tidak ada disana. Anda eisegesis Mr. Teguh Hindarto! Kalau itu yang Paulus maksudkan, tentu ia akan mengatakan bhw seseorang percaya perlu di 'israel' kan agar ia bisa dicangkokkan ke akar zaitun penuh getah. Tetapi Paulus tidak punya ide itu sama sekali disana. Seseorang ditempelkan atau dilepaskan pada akar pohon zaitun yang penuh getah (iman nenek moyang Israel /Abraham kepada Allah, yang membawa berkat) berdasarkan kepercayaan, bukan kebangsaan.

Roma 11:23 Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. 

SEE Mr. Teguh! Ide itu tidak ada disana sama sekali! Maaf Mr. Teguh, Alkitab tidak mendukung kepercayaan Anda. Saya hanya mengutarakan apa yang Alkitab maksudkan melalui ayat2 tsb.
 -------------------
Shem Tov:
Mengapa saya dikatakan Eisegesis padahal saya menyertakan dalil dan alasan saya berdasarkan kajian teks berikut:

“Bukankah yang dientenkan atau ditempelkan adalah BANGSA-BANGSA NON YAHUDI? Bagaimana mungkin bangsa-bangsa non Yahudi dientenkan bukan pada BANGSA YAHUDI secara iman? Jadi memisahkan iman dan kebangsaan adalah irasional. Bukankah keselamatan datang dari BANGSA YAHUDI? 

“...sebab keselamatan datang dari BANGSA Yahudi” (Yoh 4:22) “

‎Bejo Joko Kristanto:
Memang keselamatan datang dari bangsa Yahudi, dalam arti bhw keselamatan mula-mula dipercayakan dan diberitakan kepada bangsa Yahudi. Tetapi itu tidak berarti bhw bangsa Yahudi lah yang menyebabkan keselamatan itu sendiri. Mengapa Allah mau memakai bangsa Israel / Yahudi sebagai satu bangsa yang pada dipercayakan dan diberitakan keselamatan? Apakah karena Yahudi/Israel adalah bangsa superior? BUKAN!

Alkitab menjawab, karena :

Ulangan 7:7-8 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu -- bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.

Ulangan 9:6 Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!"

Lihat Mr. Teguh, apakah kebangsaan dimana Anda tidak pernah dan tidak akan memiliki itu sama sekali (karena Anda bangsa Indonesia), yang anda bangga-banggakan? Allah tidak membanggakan kebanggan bangsa Israel karena mereka Israel! Allah mau memilih mereka karena Ia berkehendak. Allah memilih mereka agar rencana dan tujuanNya tercapai, yaitu supaya berkat Abraham bisa sampai kepada semua bangsa di dunia, baik Israel maupun Gentiles!
 --------------- 
Shem Tov:
Sayang sekali, jawaban Anda meleset dari apa yang saya maksudkan. Mari perhatikan pernyataan Anda sebelumnya sbb:

“Ditempelkan BUKAN PADA KEBANGSAAN secara jasmani, ide ini tidak ada disana! tetapi kepada iman yang menyelamatkan, yang dulu dimiliki oleh Abraham dan sekarang bisa dimiliki oleh bangsa-bangsa lain oleh percayamereka kepada Kristus”

Saya menjawab dan menyanggah dengan memberikan bukti sbb:

“Bukankah yang dientenkan atau ditempelkan adalah BANGSA-BANGSA NON YAHUDI? Bagaimana mungkin bangsa-bangsa non Yahudi dientenkan bukan pada BANGSA YAHUDI secara iman? Jadi memisahkan iman dan kebangsaan adalah irasional. Bukankah keselamatan datang dari BANGSA YAHUDI? 

“...sebab keselamatan datang dari BANGSA Yahudi” (Yoh 4:22) “

Penolakkan Anda akan konsep ENTENISASI yang bersifat kebangsaan dan hanya membatasi kepada iman jelas ditolak berdasarkan logika (bangsa non Yahudi secara logis dientenkan dengan bangsa Yahudi yang beriman pada Mesias) dan Kitab Suci sendiri (Keselamatan datang dari BANGSA Yahudi, Yoh 4:24).

Lucunya, Anda malah memberikan jawaban, “Tetapi itu tidak berarti bhw bangsa Yahudi lah yang menyebabkan keselamatan itu sendiri?”. Ini jelas tidak selaras dengan pembuktian yang saya tuntu dari Anda. Saya sudah membuktikan bahwa ENTENISASI bukan hanya persoalan iman melainkan persoalan kebangsaan berdasarkan konteks Roma 11 dan Yohanes 4:22.

Adalah tidak relevan ketika Anda membantah bahwa bangsa Yahudi bukan sumber keselamatan karena memang kita tidak berbicara mengenai sumber keselamatan? Kita membicarakan pembuktian proses ENTENISASI Kristen non Yahudi kepada iman bangsa Yahudi yang menerima Mesias.

(Shem Tov: Bacalah dengan seksama Roma 11:1-2 sbb, “ Maka aku bertanya: Adakah Tuhan mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. TUHAN TIDAK MENOLAK UMAT-NYA YANG DIPILIH-NYA. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Tuhan:...”

Lagi-lagi gagasan pemindahan status dan penolakkan Israel sebagai pilihan tidak mendapat dasar yang kokoh dalam Kitab Perjanjian Baru).
-----------------
Bejo Joko Kristanto:
Saya sudah tanggapi ini. Silahkan tanggapi seluruh argumentasi saya secara integral, bukan parsial. Dan kalau tidak jelas dari tulisan saya, silahkan bertanya, karena saya menyusun tanggapan ini sembari melakukan kerjaan lain.
 -------------- 
Shem Tov:
Anda tidak suka dinilai berdasarkan IMPRESI (KESAN) yang terbersih dibalik tulisan namun Anda berulang kali melakukan sebuah tindakan yang akan mendorong lawan bicara Anda akan membuat penilaian atas kesan yang Anda tinggalkan lewat ekspresi pernyataan Anda. Ini ilmu psikologis Sdr Bejo. Anda selalu memposisikan sudah menjawab segala sesuatu atau persoalan yang lawan diskusi Anda tanyakan walau faktanya Anda tidak memberikan jawaban yang akurat. Anda sering mengurangi beban bukti dengan mengalihkan sedang mengerjakan pekerjaan lain, seolah-olah Anda meminta dimaklumi jika jawaban Anda menimbulkan salah paham padahal faktanya memang Anda salah paham. 

Apalagi dengan Anda menyuruh saya bertanya, maaf, Anda nampaknya sedang memposisikan saya seperti seekor bebek yang hendak Anda ajari berenang. Apakah Anda punya blog atau website dimana Anda secara rutin menuangkan perspektif Anda terhadap isue teologi, politik, sosial, budaya sehingga menunjukkan Anda adalah seorang pemikir? Jika Anda memiliki itu semua dan melakukan itu semua, maka Anda layak melakukan pernyataan “silahkan bertanya” pada saya. Namun jika kondisinya terbalik, silahkan untuk tidak “mengajari bebek bagaimana caranya berenang”

Bejo Joko Kristanto :
Mempersatukan BUKAN didalam kebangsaan Israel, atau kembali ke akar semitik, tetapi mempersatukan didalam Kristus (Efesus 2:16-22). Lagi2 Anda mencoba memaksakan kepercayaan yang Anda ingin Alkitab percayai.

Efesus 2:16-22, “dan untuk memperdamaikan keduanya, DI DALAM satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan SEWARGA DARI ORANG2 KUDUS DAN ANGGOTA2 KELUARGA ALLAH, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, DI DALAM TUHAN. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, DI DALAM ROH”
 --------------- 
Shem Tov:
Nampaknya Anda tidak seksama dan kurang hati-hati dalam menjawab setiap pernyataan atau penjelasan saya. Perhatikan penjelasan saya sebelumnya, “Memang benar bahwa Efesus 2:14 tidak berbicara mengenai bangsa Israel jasmani masih bangsa pilihan Tuhan, namun Efesus 2:14 (sebagaimana saya jelaskan sebelumnya) saya pergunakan untuk memperkuat makna PROSES ENTENISASI non Yahudi kepada Yahudi (secara iman)”.

Jika eksistensi non Yahudi adalah SEBUAH BANGSA atau SUKU-SUKU BANGSA, maka logikanya ketika di ENTEN kan pada iman Yahudi yang telah menerima Yesus sebagai Mesias, maka tentu saya Yahudi sebagai BANGSA dan bukan yang lain.

Efesus 2;16-22 yang Anda kutip justru menguatkan apa yang saya tegaskan secara berulang-ulang bahwa baik Yahudi (secara iman dan kebangsaan) TELAH DIPERSATUKAN dengan non Yahudi (secara iman dan kebangsaan) oleh YHWH Sang Bapa melalui karya kematian dan kebangkitan Yesus Sang Mesias. Kedua entitas tidak disubordinasi dan tidak pulang dinegasi dengan cara terjadi PEMIDAHAN STATUS melainkan BERSAMA-SAMA SEBAGAI KAWAN SEKERJA TUHAN DALAM SATU TUBUH.

Jika Efesus 2:16-22 berbicara penghancuran tirai yaitu perseteruan antara Yahudi dan non Yahudi melakui kematian Yesus Sang Mesias dan menjadi satu tubuh untuk melayani-Nya, maka Roma 11 berbicara proses entenisasi non Yahudi kepada iman Yahudi yang telah menerima Mesias. Karena kita dientenkan dari cabang liar ke dalam zaitun asli maka janganlah kita bermegah.

Menyatakan diri sebagai Israel Rohani yang telah menggantikan Israel Jasmani adalah ekspresi Replacement Theology dan Replaceement Theology adalah wujud dari sikap bermegah atas Israel Jasmani yang telah menerima keselamatan.

Bejo Joko Kristanto:
Selanjutnya saya hanya bisa ha hi ho he melihat Anda sedang menghibur diri sendiri dengan menjelaskan bhw I Petrus ditujukan kepada Yahudi di perantauan sebagai eksegesis sempurna dari I Petrus 2:9-10. Padahal anda belum tafsirkan ayat-ayat tsb. Ini sama seperti seseorang mengklaim sudah mengeksegesis Roma 11 dengan hanya mengatakan bhw surat Paulus ditujukan kepada orang Kristen di kota Roma.
 --------------- 
Shem Tov:
Inilah kebiasaan buruk Anda. Setiap orang yang kerap mengatakan lawannnya tidak melakukan eksegesis dengan baik sejatinya adalah mencerminkan dirinya sendiri yang memang tidak melakukan eksegesis dengan baik. Dan saya telah membuktikan berkali-kali kekeliruan penafsiran Kitab Suci yang Anda kerjakan khususnya misinterpretasi atas 1 Petrus 2:9-10. Masih pula Anda berani berkata kepada saya, “. Padahal anda belum tafsirkan ayat-ayat tsb”. Mata Anda sibuk melihat dan meyakini tafsiran Anda sendiri sehingga tidak punya kebesaran hati untuk menerima tafsiran orang lain sehingga menuduh orang lain belum menafsirkannya.

Lagi-lagi pernyataan Anda di atas menyimpang dari penjelasan yang saya sampaikan sbb:

“Yang saya amini adalah pernyataan Anda sbb, “Ketika Roh Kudus turun di Kisah pasal 2, itu adalah deklarasi bahwa mulai saat itu Injil diberitakan kepada semua bangsa. Dan tentu saja, permulaan Injil diberitakan saat itu adalah wilayah dimana para murid2 itu berada, yaitu di Yerusalem”

Yang tidak saya amini adalah, “bhw bangsa pilihan adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!”

Anda hanya punya satu ayat untuk membenarkan pernyataan Anda bahwa ” bangsa pilihan adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!” yaitu 1 Petrus 2:9-10 dan sudah saya buktikan kekeliruan Anda dan Anda mengakuinya dengan kalimat yang tidak begitu jelas arahnya dengan mengatakan “salah ketik” dll.

(Shem Tov:Retorika? Kesan dari komentar Anda, seolah-olah rasul Paul tidak serius dan bermain kata dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak menolak umat Yahudi? (Jangan bilang, “apakah saya mengatakan demikian?”, sebagaimana kebiasaan Anda)
 ------------
Bejo Joko Kristanto :
Hehehe...oh jadi modal Anda untuk berdiskusi/berdebat ini adalah 'KESAN' dimana itu sangat subyektif? Ini namanya apa kalau bukan PREJUDICE? Anda mengatakan saya prejudice terhadap Anda, disaat yang sama Andalah yang ternyata prejudice terhadap saya. Silahkan berkaca sendiri Pdt. Teguh Hindarto, M.Th! Tanggapi komentar saya berdasarkan 'APA YANG TERTULIS', bukan berdasarkan 'KESAN'!
-------------- 
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, Anda tidak suka dinilai berdasarkan IMPRESI (KESAN) yang terbersih dibalik tulisan namun Anda berulang kali melakukan sebuah tindakan yang akan mendorong lawan bicara Anda akan membuat penilaian atas kesan yang Anda tinggalkan lewat ekspresi pernyataan Anda. Ini ilmu psikologis Sdr Bejo. Mungkin Anda hanya tahu membaca Alkitab dan tidak mengerti keilmuan yang lain sehingga tidak mengerti ilmu membaca kesan yang terseurat dan yang tersirat. Atau mungkin Anda tidak bergaul dengan banyak orang sehingga tidak pernah mampu membaca sebuah kesan atas apa yang diucapkan oleh seseorang?

Celakanya, Anda kelewat berani mempertontonkan kecerobohan dalam membuat penilaian dengan mengatakan kepada saya, “Hehehe...oh jadi modal Anda untuk berdiskusi/berdebat ini adalah 'KESAN' dimana itu sangat subyektif?”. Sejak awal diskusi ini apa saya terlihat hanya punya satu ilmu belaka seperti Anda? Naif sekali menilai bahwa modal saya hanya kesan!

‎(Shem Tov:Anda tidak bisa mengelak bahwa Roma 11:1 adalah dalil kuat bahwa Israel/Yahudi adalah umat pilihan yang tidak akan pernah dipindahkan statusnya kepada bangsa lain atau umat lain. Kata TIDAK artinya TIDAK dan BUKAN TIDAK!
 -------------
Bejo Joko Kristanto:
Siapa yang telah menyerang saya, Mr. Teguh, sehingga saya menggelak? Bukankah Anda yang menyerang saya dengan ide semitik anda itu? Alkitab sama sekali tidak menyerang saya. Saya mengutarakan apa yang Alkitab utarakan! Hehehe…disana tidak ada ide bhw Israel masih tetap bangsa pilihan. Saya sudah mengeksegesisnya (benar2 eksegesis, bukan hanya sekedar clam kosong spt yg Anda lakukan)
. ---------------- 
Shem Tov:
Saya sering geli membaca pernyataan Anda. Anda itu orangnya aneh. Suka mangkir dari penilaiann orang atas kesan yang Anda buat sendiri lewat ucapan dan argumentasi yang Anda keluarkan. Mengapa harus selalu mengelak dengan membuat penolakkan penilaian orang? Bukankah pernyataan yang Anda buat sudah mewakili kesan diri Anda. Orang yang jatuh cinta pada seseorang akan menampilkan gerak tubuh dan kata-kata tertentu pada seseorang yang dicintainya. Seseorang yang sedang marah akan menampilkan ekspresi mimik wajah dan perkataan tertentu pada seseorang yang tidak disukainya. 

Ekspresi yang sama selalu Anda keluarkan untuk mempertahankan penafsiran Anda atas ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan bahwa telah terjadi pemindahan status dari Israel jasmani kepada Israel rohani. Ketika saya berikan analisis mendalam atas ayat yang Anda jadikan dalil, Anda memang berusaha mengelak dengan menyalahkan tafsiran saya.

DISKUSI PERIHAL PEMINDAHAN STATUS BANGSA PILIHAN (1)

Posted by Teguh Hindarto

DISKUSI SHEM TOV DAN BEJO JOKO KRISTIANTO
PERIHAL PEMINDAHAN STATUS BANGSA PILIHAN



Berikut ini saya tampilkan diskusi antara Shem Tov dengan Bejo Joko Kristianto mengenai STATUS ISRAEL ADALAH BANGSA PILIHAN. Diskusi ini dapat diikuti selengkapnya di link berikut ini:

http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=166174550161442&id=100003066939788&notif_t=comment_mention

Bejo Joko Kristianto dalam status di Facebook membuat komentar awal demikian:

“Gereja (ekklesia) adalah antitype dari Israel.  Sejak gereja berdiri di hari Pentakosta pertama, status bangsa pilihan Allah beralih kepadanya.  Semenjak itu, Israel bukan bangsa pilihan Allah lagi. Gereja (Orang2 Kristen yang sejati) yang tersebar di berbagai tempat dan zaman adalah bangsa pilihan Allah. Jadi adalah sesuatu yang menggelikan kalau ada orang2 kristen yang masih menyebut Israel sekarang ini sbg bangsa pilihan Allah “(Tgl 9 Februari 2012).

Status bejo Joko Kristianto mendapat respon dari Shem Tov sehingga terjadi diskusi dan perdebatan dalam beberapa tahapan. Hasil diskusi ini dapat dipergunakan sebagai peta jalan memahami jalan pemikiran kedua belah pihak dan penilaian diserahkan pada sidang pembaca.

Shem Tov:
Pernyataan di atas sangat khas menggemakan Replacement Theology alias Teologi Pengganti dimana status Israel berpindah dan diganti oleh Gereja. Persoalannya, siapa Gereja awal itu? Ternyata mereka adalah murid-murid Yesus yang Yahudi/Israel. Membaca Kisah Rasul 2 mengenai peristiwa Pentakosta, tidak ada satu ayatpun yang mengatakan perihal pemindahan status bangsa pilihan dari Israel kepada Gereja?

Sebaliknya, rasul Paul dalam Roma 11:16-24, Paul menjelaskan hubungan akar dan cabang, sbb : 

1.       Roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan adalah kudus
2.       Akar kudus maka cabang adalah kudus
3.       Beberapa cabang telah dipatahkan. Tunas liar ditempelkan dan mendapat bagian dalam akar pohon zaitun
4.       Jangan kamu bernegah, karena akar yang menopang kamu  -Bangsa non Yahudi ditempelkan semata-mata karena ketidak percayaan Israel. Sementara Bangsa Non Yahudi dapat tegak karena iman
5.       Jika cabang asli tidak membuang cabangnya, maka Tuhan juga tidak akan mengambil Bangsa Non Yahudi
6.       Perhatikanlah kemurahan Tuhan dan kekerasannya
7.       Tuhan akan menempelkan kembali jika Israel bertobat -Penempelan kembali Bangsa Israel adalah dikarenakan mereka cabang yang asli

Harap membaca 3 artikel berikut sebelum memberikan tanggapan kembali

1.       http://bet-midrash.blogspot.com/2012/02/hakikat-perjanjian-baru.html

2.       http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/01/akar-itu-yang-menopang-kamu.html

3.       http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html


TANGGAPAN SHEM TOV ATAS BEJO JOKO KRISTIANTO
9 FEBRUARI 2012


Bejo Joko Kristanto:
Status diatas bukan RT tetapi BT (Biblical Theology). Gereja awal memang pada mulanya terdiri dari orang Israel, tetapi melalui penganiayaan pada zaman itu, Tuhan membuat mereka semua tersebar ke seluruh penjuru dunia untuk mentaati perintah Tuhan di Matius 28:19 dan Kisah 1:8. Dan mulai saat itu Injil diberitakan ke seluruh dunia dan banyak gentiles yang akhirnya percaya dan menerima Kristus sbg Tuhan dan Juruselamat. Mereka semua itulah 'ekklesia'.
--------------- 
Shem Tov:
Namun tidak ada satupun ayat yang menjelaskan dan membuktikan adanya PENGGANTIAN STATUS keterpilihan antaradari Israel kepada Gereja

(Shem Tov : Membaca Kisah Rasul 2 mengenai peristiwa Pentakosta, tidak ada satu ayatpun yang mengatakan perihal pemindahan status bangsa pilihan dari Israel kepada Gereja?)

Bejo Joko Kristanto :
Silahkan baca perikop Roma pasal 9 sampai pasal 11, juga I Petrus 2:9. Dan sampaikan eksposisi anda tentang ayat2 tsb disini
. ------------ 
Shem Tov:
Bukankah Anda memulai dari sebuah premis, “Sejak gereja berdiri di hari Pentakosta pertama”. Maka acuan Anda pasti Kisah Rasul 2. Jadi mengapa harus menyuruh saya melakukan eksegese Roma 9-11 dan 1 Petrus 2:9?

Omong-omong mengenai eksegese Roma pasal 11, saya sudah menyampaikan link dengan judul AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU dan juga petikan analisis saya




 TANGGAPAN SHEM TOV ATAS BEJO JOKO KRISTIANTO
TANGGAL 13 FEBRUARI 2012


‎
Bejo Joko Kristanto:  
Bagaimana Anda bisa mengatakan bhw itu kesalahpahaman kekristenan, sedangkan ayat Alkitab sendiri secara eksplisit dan benar menyatakan demikian? Setiap gentiles yang percaya kepada Kristus adalah bangsa yang terpilih. Dan secara otomatis, ini memindahkan status bangsa pilihan yang dulu melekat kepada bangsa Israel jasmaniah, sekarang melekat secara rohani kepada semua bangsa di seluruh dunia.

I Petrus 2:9-10 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, … kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”

Rasul Petrus menyebut , gentiles yang dahulu bukan umat Allah, sekarang telah menjadi Umat Allah, sebagai BANGSA YANG TERPILIH. Dan bukan hanya gentiles, tetapi baik Israel maupun gentiles yang percaya kepada Kristus (ekklesia) adalah BANGSA YANG TERPILIH.

Kekristenan semitik telah mengabaikan banyak ayat2 Alkitab, dan hanya memilah ayat2 yang mendukung ajarannya saja. Dengan kata lain, mereka bukan sedang mempercayai Alkitab, tetapi mempercayai apa yang mereka mau percayai di Alkitab
. ---------------------------- 
Shem Tov:
Bejo saudaraku, coba simak 1 Petrus 2:11-12 sebagai kelanjutan 1 Petrus 2:9-10 sbb: “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Milikilah cara hidup yang baik DITENGAH-TENGAH BANGSA-BANGSA BUKAN YAHUDI, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Tuhanpada hari Ia melawat mereka”.

Surat ini bukan ditujukan pada orang non Yahudi sendiri, terbukti pada ayat 12 dikatakan, “Milikilah cara hidup yang baik DITENGAH-TENGAH BANGSA-BANGSA BUKAN YAHUDI”. King James Version menerjemahkan sbb, “Having your conversation honest among the Gentiles”.

Ini dikuatkan dalam 1 Petrus 1:1 kemana surat ini ditujukan, “1Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia”  DR. David Stern memberikan komentar mengenai 1 Petrus 1:1 sbb, “To:God’s chosen people, literally, ‘God’s elected ones’ MEANING ISRAEL, living as aliens in the Diaspora” (Jewish New Testament Commentary, 1998:743).

Dengan demikian pendalilan Anda yang mengatakan status bangsa pilihan yaitu Israel telah berpindah pada gereja, benar-benar didasarkan atas sebuah kesalahpahaman dan mengutip ayat lepas dari konteksnya. Jadi siapa yang sebenarnya lebih layak Anda katakan, “hanya memilah ayat2 yang mendukung ajarannya saja”, Anda atau saya?

‎Bejo Joko Kristanto :
Ditempelkan bukan pada kebangsaan Israel secara jasmani, ide ini tidak ada disana! tetapi kepada iman yang menyelamatkan, yang dulu dimiliki oleh Abraham dan sekarang bisa dimiliki oleh bangsa-bangsa lain oleh percayamereka kepada Kristus.
 --------------- 
Shem Tov:
Konsep ENTEN bukan hanya berbicara mengenai iman melainkan juga bangsa namun bukan dalam artian politik. Konsep bangsa dalam ayat ini berbicara mengenai entitas orang beriman yang disebut Yahudi dan non Yahudi. Bukankah yang dientenkan atau ditempelkan adalah BANGSA-BANGSA NON YAHUDI? Bagaimana mungkin bangsa-bangsa non Yahudi dientenkan bukan pada BANGSA YAHUDI secara iman? Jadi memisahkan iman dan kebangsaan adalah irasional. Bukankah keselamatan datang dari BANGSA YAHUDI? 

“...sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yoh 4:22) 

Bacalah dengan seksama Roma 11:1-2 sbb, “ Maka aku bertanya: Adakah Tuhan mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. TUHAN TIDAK MENOLAK UMAT-NYA YANG DIPILIH-NYA. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Tuhan:...”

Lagi-lagi gagasan pemindahan status dan penolakkan Israel sebagai pilihan tidak mendapat dasar yang kokoh dalam Kitab Perjanjian Baru.

‎Bejo Joko Kristanto:
Efesus 2:14, sama sekali tidak berbicara bhw bangsa Israel jasmani masih bangsa pilihan Allah. Bangsa Israel yang dulu menganggap bhw mereka adalah bangsa pilihan Allah sedangkan bangsa-bangsa non Israel sbg bangsa kafir yang diciptakan untuk bahan bakar neraka, sehingga membuat mereka (Israel) sangat memusuhi gentiles. Sekarang dengan kematian Kristus, setiap orang yang percaya, baik Israel maupun gentiles, diperdamaikan didalam Kristus, sehingga keduanya menjadi satu kewarganegaraan kerajaan surga, bukan kewarganegaraan Israel jasmani! Silahkan diteruskan pembacaan Anda di ayat sesudahnya. Jangan disunat! Efesus 2:19-20,”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”
-------------- 
Shem Tov:
Memang benar bahwa Efesus 2:14 tidak berbicara mengenai bangsa Israel jasmani masih bangsa pilihan Tuhan, namun Efesus 2:14 (sebagaimana saya jelaskan sebelumnya) saya pergunakan untuk memperkuat makna PROSES ENTENISASI non Yahudi kepada Yahudi (secara iman). Jika rasul Paul dalam surat Roma menggunakan istilah ENTEN dari kata Yunani EGENTRIZOO sementara dalam surat Efesus dipergunakan kata MEMPERSATUKAN dari kaya Yunani EN. Keduanya memberikan pijakan kuat mengenai peleburan dua entitas menjadi satu bukan penghilangan salah satu entitas
‎
Bejo Joko Kristanto :
Kalau penjelasan saya, Anda amini, termasuk didalamnya adalah:

Ini merupakan deklarasi bhw bangsa pilihan adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat! berarti ini juga Anda amini?
---------- 
Shem Tov:
Yang saya amini adalah pernyataan Anda sbb, “Ketika Roh Kudus turun di Kisah pasal 2, itu adalah deklarasi bahwa mulai saat itu Injil diberitakan kepada semua bangsa. Dan tentu saja, permulaan Injil diberitakan saat itu adalah wilayah dimana para murid2 itu berada, yaitu di Yerusalem”

Yang tidak saya amini adalah, “bhw bangsa pilihan adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!”

Dan saya sudah melakukan eksegese tuntas mengenai 1 Petrus 2:11-12 dan 1 Petrus 1:1 dimana 1 Petrus 2:9-10 tidak boleh dilepaskan begitu saja dari ayat sebelum dan sesudahnya.

‎Bejo Joko Kristanto:Roma 11:1 mengatakan, “Maka aku bertanya: Adakah Tuhan mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin”

MENJAWAB PEMAHAMAN BIAS MENGENAI INJIL DALAM BUKU PELAJARAN AGAMA ISLAM

Posted by Teguh Hindarto


Saya cukup terkejut ketika menerima laporan jemaat yang masih sekolah di sekolah menengah atas, dimana suatu ketika dia mendengar saat mata pelajaran agama Islam, ada pembahasan mengenai keyakinan Kitab Suci Kristen yang bias. Saya fikir jika penjelasan itu muncul dari lisan sang guru, mungkin masih dapat dimaklumi. Namun ketika anak tersebut saya desak apakah pelajaran tersebut merujuk pada buku panduan pelajaran atau hanya tambahan pengetahuan sang guru, ternyata pernyataan tersebut didasarkan pada buku panduan sebuah buku agama dengan judul Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 2 untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas karya H. Khuslan Haludi dan Abdurrohim Sa’ad dengan penerbit Tiga Serangkai, Solo.

Sangat disayangkan bahwa materi tersebut dapat masuk menjadi bagian kurikulum pelajaran agama. Mengapa?Pertama, penjelasan yang bias akan menyebabkan siswa memiliki pemahaman yang salah mengenai agama dan keyakinan agama lain mengenai kitab sucinya. Kedua, menciptakan sikap permusuhan dan menganggap penganut agama lain sebagai orang yang memiliki keyakinan yang keliru.

Artikel ini ditulis untuk memberikan pelurusan dan penjelasan sebagai wujud panggilan orang Kristiani untuk memberikan pertanggungjawaban iman sebagaimana diamarkan dalam 1 Petrus 3:15 sbb, “Tetapi kuduskanlah (Mesias) di dalam hatimu sebagai (Junjungan Agung Yang Ilahi)! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu”.

Untuk membuktikan pernyataan bias pemahaman dalam buku panduan agama tersebut, kita akan membahas satu persatu pernyataan dalam Bab VII dengan judul Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT  tersebut.

Apakah Injil Suatu Kitab Yang Diberikan Pada Yesus?

Dalam buku panduan agama dikatakan, “Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. bin Maryam. Kitab ini pada intinya berisi ajakan kepada umat nabi Isa a.s. untuk hidup dengan zuhud yaitu menjauhi kerakusan dan ketamakan duniawi. Hal ini dimaksudkan untuk meluruskan pandangan orang-orang Yahudi yang bersifat materialistis”[1].

Untuk meluruskan pemahaman di atas, kita akan menelaah arti kata Injil. Istilah Injil adalah berasal dari bahasa Arab. Namun artinya tidak begitu terang. Geoffrey Parrinder melacak asal usul kata Injil sebetulnya merupakan Arabisasi dari kata Etiophia Wangel yang berasal dari bahasa Yunani Euanggelion. Kemungkinan Muhamad menerima kata tersebut dari orang Kristen Syria yang mengucapkannya dengan Awengilyon[2]. Kata Yunani Euanggelion sendiri artinya Kabar Baik.

Kitab Suci Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia menerjemahkan kata Euanggelion dengan terjemahan Injil. Dalam pemahaman agama Kristen, Injil ternyata tidak hanya menunjuk pada sebuah kitab melainkan juga sebuah pesan keilahian. Kita akan lihat beberapa contoh ayat dalam Kitab Perjanjian Baru.

Kitab Mengenai Yesus

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Sang Mesias, Anak Tuhan” (Mrk 1:1)

Pewartaan Ajaran Yesus

“Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Mesias” (Rm 15:19)


Ajaran yang disampaikan Yesus

“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Tuhan. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia” (Luk 8:1)

Dari penjelasan di atas, Kekristenan tidak pernah memiliki keyakinan bahwa Yesus menerima sebuah kitab Injil dari Tuhan lalu Yesus memberitakan isi kitab tersebut kepada bangsa Israel. Sebaliknya Yesus adalah Injil. Yesus adalah pusat pemberitaan Injil yang diberitakan oleh rasul-rasulnya. Inilah perbedaan antara Islam dan Kristen dalam memahami istilah Injil.

Dalam keyakinan Kristen, isi Injil adalah perihal kehidupan dan karya Yesus sebagai Juruslamat yang mati dan bangkit dari kematian untuk memberikan kehidupan kekal bagi siapapun yang percaya dan menerima Yesus sebagai Junjungan Agung Yang Ilahi dan Mesias serta Anak Tuhan. 

Apakah Kitab Injil Sekarang Berbeda Dengan Injil Yang Asli?

Dalam buku panduan agama dikatakan “Kitab Injil yang ada sekarang berbeda dengan injil asli yang diturunkan Allah swt, kepada nabi Isa a.s. dalam bentuknya yang sekarang ada sejumlah pengikut Nabi Isa a.s. yang memasukkan karangannya ke dalam kitab Injil. Mereka adalah Matius, Markus, Lukas dan Yahya. Oleh karena itu, Injil tersebut dinamakan menurut pengarangnya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya”[3]

Kaum Muslim selalu memiliki anggapan bahwa Injil yang ada pada tangan orang Kristen sekarang adalah tidak asli atau berbeda dengan aslinya. Ini sebuah tuduhan tanpa dasar sama sekali. Bukti-bukti material berupa ribuan naskah kuno dari Abad 1 Ms sampai modern, tersedia dalam museum-museum untuk ditelaah.

Sebelum kita menjawab persoalan di atas, perlu kita telaah arti kata Asli menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sbb:

“1 tidak ada campurannya; tulen; murni: emas --; 2 bukan peranakan: orang pribumi adalah penduduk --; 3 bukan salinan (fotokopi, saduran, terjemahan):ijazah --; naskah --; 4 baik-baik; tidak diragukan asal usulnya; 5 yg dibawa sejak lahir (sifat pembawaan): bagaimanapun disembunyikannya sifat -- nya, pasti akan kelihatan juga; 6 (tempat) asal: orang tsb -- nya dr Bandung;”[4]

Jika kita mengikuti point ke tiga kata asli diartikan, “bukan salinan”, maka bukan hanya Injil sebagai kitab suci yang diimani orang Kristen bahkan Islam sendiri pun tidak memiliki kitab suci yang asli tangan pertama saat ditulis oleh Tsaid bin Tsabit yang menyalin dari tulang, daun untuk dipindahkan dalam mushaf.

Baik Kristen maupun Islam hanya memiliki salinan dari salinan kitab suci yang asli ditulis tangan pertama. Maka menuduh Kekristenan tidak memiliki kitab yang asli, sama dengan menuduh Islam tidak memiliki kitab suci yang asli.

Berbicara mengenai keaslian Kitab Injil, Muslim ditantang untuk membuktikan adanya Kitab Injil yang asli yang sesuai dengan deskripsi dalam Qur’an dimana isinya menyebutkan adanya nubuat kenabian Muhamad oleh Yesus Sang Mesias, adanya perintah Tauhid kepada Allah dan berbagai gambaran lain yang disebutkan Qur’an. Mampukah Muslim menunjukkan keberadaan Kitab Injil sebagaimana disitir dalam Qur’an?

Berbicara mengenai salinan kitab suci, Kekristenan memiliki jumlah salinan kitab suci dari berbagai abad. Ada lebih dari5,300 salinan manuskrip dalam bahasa Yunani kuno (MSS) dan berbagai fragment Kitab Perjanjian Baru Yunani yang tetap bertahan sampai hari ini. Masih ditambah 10,000 Kitab Vulgata berbahasa Latin dan lebih dari and 9,300 berbagai versi manuskrip awal dalam bahasa Siriak, Koptik, Armenian, Gotik dan Etiopik sehingga jumlah keseluruhan ada lebih dari24,000 manuskrip Kitab Perjanjian Baru yang masih bertahan. Sedikit perubahan dan variasi dalam manuskrip tidak berpengaruh satupun pada doktrin Kekristenan, bahkan tidak mengubah pesan apapun di dalamnya[5].

Tertullian menyatakan pada Tahun 150 Ms., bahwa Gereja di Roma telah menyusun daftar Kitab Perjanjian Baru yang cocok dengan daftar yang kita miliki sekarang. Kita memiliki 32.000 kutipan dari periode sebelum 325 Ms, dari Irenaeus (182-188 AD), dari Justin Martyr (150 Ms), Polycarpus (107 Ms), Ignatius (100 Ms), Clement (96 Ms) dan banyak lagi dari para Bapa Gereja Abad Kedua dan Ketiga.

Data-data di atas menghapus keraguan adanya tudingan bahwa keaslian kitab suci orang Kristen sudah tercemar, karena faktanya kitab suci orang Kristen baik TaNaKh (Torah-Neviim-Ketuvim) dalam bahasa Ibrani dan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Aram dan Yunani masih tersimpan rapih dan disalin serta dicetak dengan perangkat modern hingga hari ini.

Apakah Konsili Gereja Memusnahkan Kitab Apokrip?

Dalam buku panduan agama dikatakan, “Pada mulanya terdapat kurang lebih 70 buah kitab Injil. Injil sebanyak itu pada umumnya membawakan isi yang simpang siur satu sama lain. Ketika diadakan sinode (muktamar gereja-gereja) di Nicea pada tahun 325 M, umat Nasrani memutuskan bahwa hanya empat Injil di atas yang diakui gereja. Injil yang tidak diakui gereja disebut Apochrypha atau Injil-Injil yang tertolak

Adapun Injil-Injil yang dinyatakan tertolak adalah:
  1. 1.       Injil Petrus
  2. 2.       Injil Orang-orang Mesir
  3. 3.       Injil Ibrani
  4. 4.       Injil Barnabas
  5. 5.       Injil Thomas
  6. 6.       Injil Dua Belas
  7. 7.       Injil Yakobus
  8. 8.       Injil Yudas Iskoriot
  9. 9.       Injil Andreas
  10. 10.   Injil Bartholomeus
  11. 11.   Injil Maria
  12. 12.   Injil Philip
  13. 13.   Injil Mathias
  14. 14.   Injil Nikodemus
  15. 15.   Injil Apeles
  16. 16.   Injil Ebionea
  17. 17.   Injil Marcion
  18. 18.   Injil Yakobus Kecil”[6]
Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja. Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) Anantireta (tidak ditolak) atauHomologoumena (diakui), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) Amphiballomena(diperdebatkan), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) Psethde (keliru), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang.

Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) Homologoumena (diakui), (b) Antilegomena (diperdebatkan), yang terbagi dua kategori lagi yaitu Gnorima (dikenal), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan Notha (tidak sah), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) Apocrypha (tersembunyi), yang dianggap sebagai kepalsuan. Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu : (a)Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c) Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik[7]

Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilah kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).

Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.

Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus (Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.

Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms), Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikrpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).

James L. Garlow dan Peter Jones memberikan ulasan mengenai ketidakmungkinan pemusnahan kitab-kitab ekstrakanonik yang tidak mendukung keilahian Yesus dan memasukkan kitab-kitab yang mendukung keilahian Yesus sebagai kanonik, sbb: “Tidak ada bukti bahwa teks Injil awal dimasukkan pada Abad ke-4. Berbagai salinan Injil-injil ini sudah ada pada abad ke-2, meneguhkan teks-teks yang diterima di abad ke-4. Tidak mungkin teks-teks itu diubah. Tidak seorangpun memiliki otoritas untuk mengumpulkan dari seluruh penjuru kekaisaran, semua salinan (yang pada abad ke-4 mungkin sudah berjumlah ratusan, mungkin ribuan) untuk menciptakan perubahan yang dirasa perlu. Ini benar-benar fiksi. Lebih dari itu, ini merupakan tuduhan murahan terhadap inti pesan Kristiani”[8]

Perlu diketahui sekalipun Abad IV dimana konsili-konsili tersebut menetapkan kanonisasi namun sejumlah tulisan dari Abad I dan II Ms sudah mengutip kalimat-kalimat dalam kitab yang kelak dikanonkan pada Abad ke IV Ms. Beberapa Bapa Gereja yang mengutip kitab-kitab Perjanjian Baru yang kelak dikanonkan al.,
  1. Clement (95 Ms) mengutip Matius, Lukas, Roma, 1-2 Korintus, Ibrani, 1 Timotius, 1 Petrus
  2. Polycarpus (110) mengutip Filipi, sembilan surat Paulus, 1 Petrus
  3. Ignatius (110) mengutip Matius, 1 Petrus, 1 Yohanes, sembilan surat Paulus
  4. Papias (70-155) mengutip Yohanes, catatan tradisi mengenai asal usul Matius dan Markus
  5. Kitab Didake (80-120 Ms) mengutip Matius sebanyak 22 kutipan, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, Roma, 1-2 Tesalonika, 1 Petrus
  6. Tatian (160) mengutip Matius, Markus, Lukas, Yohanes dalam bentuk Diatesaron atau harmoni Injil dalam bahasa Aramaik
  7. Yustinus Martyr (140) mengutip 4 Injil, Kisah Rasul dan Wahyu
  8. Basilides (117-138) dan Marcion (140) sekalipun bidah yang membahayakan gereja dan kekristenan namun turut mengutip kitab-kitab Perjanjian Baru yang kelak akan dikanonkan seperti Matius, Lukas, Yohanes, Roma, 1-2 Korintus, Galatia, Efesus, Filemon, Kolose, 1-2 Tesalonika, Filipi[9]
Bahkan dalam Dekrit Pseudo-Gelasius (Decretum Pseudo Gelasianum), Paus Gelasius I (492-496) menyatakan daftar 60 kitab Apokrip dan tidak ada satupun yang dibakar[10]. Bahkan penemuan naskah Gnostik di Nag Hammadi yang kemudian diterjemahkan dan dipopulerkan oleh Elaine Pagels[11] membuktikan bahwa naskah-naskah ekstrakanonik yang tidak masuk kanon tidak ada yang dibakar. Demikian pula penemuan Gospel of Judas yang ditentang pada masa Irrenaeus dalam bukunya Against Haeresies sudah ditemukan dan dipublikasikan bahkan dalam bahasa Indonesia[12]

Apakah Injil Barnabas Termasuk Kitab Apokrip?

Dalam buku panduan agama dikatakan, “Di antara kitab Injil yang disebutkan di atas, yang isinya mirip dengan kitab suci Al Qur’an adalah Injil Barnabas. Adapun ajaran Injil Barnabas adalah sebagai berikut
  1. Yesus tidak disalib. Yang disalib sebenarnya adalah Yudas Iskoriot yang telah diserupakan oleh Tuhan (rupa dan suaranya). Yesus sendiri naik ke lengit bersama malaikat
  2. Yesus bukan anak Allah, bukan pula Tuhan, tetapi sebagai rasul Allah
  3. Mesias (ratu adil atau juruslamat) atau al Masih yang dinanti-nantikan, bukanlah Yesus, tetapi Muhamad saw, nabi dan rasul Allah yang terakhir
  4. Putra Ibrahim yang akan disembelih karena perintah Allah ialah Ismail, bukan Ishaq, seperti yang tersebut dalam perjanjian lama yang ada sekarang”[13]

Sekalipun banyak penulis Muslim terpelajar yang telah menampik keotentikan Injil Barnabas sebagai kita yang diduga asli, namun masih banyak juga kaum terpelajar Islam yang masih meyakini bahwa Injil Barnabas adalah asli.

Sejatinya, Injil Barnabas bukanlah injil asli. Bahkan tidak masuk kategori kitab Apokrifa karena semua kitab Apokrifa yang ditolak gereja berasal dari Abad II-VII Ms, sementara Injil Barnabas adalah buatan dari Abad XVI Ms di Italia oleh seorang Katolik yang masuk Islam bernama Fra Marino atau Mustafa de Aranda.

Dalam Dekrit Pseudo-Gelasius (Decretum Pseudo Gelasianum), Paus Gelasius I (492-496 Ms) sudah dijelaskan mengenai daftar 60 kitab Apokrifa. Memang didalamnya ada tertulis Epistle of Barnabas (Surat Barnabas) dan Gospel According of Barnabas (Injil menurut Barnabas) namun bukan Injil Barnabas sebagaimana yang beredar saat ini dan dipercayai kaum Muslim. Kedua naskah Apokrifa di atas ditulis dalam bahasa Yunani sementara naskah Injil Barnabas yang diyakini asli adalah naskah dalam bahasa Italia.

DIALEKTIKA PEMIKIRAN PERIHAL KELAHIRAN YESUS SANG MESIAS 25 DESEMBER

Posted by Teguh Hindarto



Kitab Perjanjian Baru tidak memberikan informasi tanggal kelahiran Yesus sehingga pemunculan tanggal 25 Desember menimbulkan berbagai kontroversi diantara kalangan Kristen sendiri. Darimana asal usul perayaan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember? Pertanyaan ini membelah menjadi dua kelompok jawaban. Kelompok pertama menghubungkan tanggal 25 Desember kepada perayaan paganisme Roma yang diadopsi dalam Kekristenan. Kelompok kedua menghubungkan tanggal 25 Desember pada catatan kuno Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea.

Pandangan Pertama:

Asal Usul Paganisme Dari Natal 25 Desember

Pandangan pertama menghubungkan perayaan Christmass pada tanggal 25 Desember dengan adopsi unsur-unsur kekafiran oleh gereja Katolik maupun Ortodox. Perhatikan beberapa kutipan berikut:

Dalam artikel Origin of Christmas-Controversial Root dijelaskan, “The date of December 25th probably originated with the ancient "birthday" of the son-god, Mithra, a pagan deity whose religious influence became widespread in the Roman Empire during the first few centuries A.D. Mithra was related to the Semitic sun-god, Shamash, and his worship spread throughout Asia to Europe where he was called Deus Sol Invictus Mithras. Rome was well-known for absorbing the pagan religions and rituals of its widespread empire. As such, Rome converted this pagan legacy to a celebration of the god, Saturn, and the rebirth of the sun god during the winter solstice period. The winter holiday became known as Saturnalia and began the week prior to December 25th. The festival was characterized by gift-giving, feasting, singing and downright debauchery, as the priests of Saturn carried wreaths of evergreen boughs in procession throughout the Roman temples”[1]. 

(Tanggal 25 Desember mungkin berasal perayaan ulang tahun kuno anak dewa, bernama Mithra, dewa kafir yang pengaruh religiusnya tersebar di Kekaisaran Romawi selama tahun Masehi. Mithra berkaitan dengan dewa Matahari bangsa Semit yaitu Shamash , dan penyembahan padanya menyebar ke seluruh Asia ke Eropa di mana ia disebut Deus Sol Invictus Mithras. Roma dikenal dalam hal menyerap agama-agama kafir dan ritual ke seluruh kerajaan secara luas. Dengan demikian, Roma dikonversi oleh warisan kafir ke perayaan dewa, Saturnus, dan kelahiran kembali dewa matahari selama periode musim dingin. Liburan musim dingin dikenal sebagai Saturnalia dan dimulai seminggu sebelum 25 Desember. Festival ini ditandai dengan pemberian hadiah, pesta, menyanyi dan pesta pora yang meriah, seperti  imam dewa Saturnus membawa karangan bunga dari dahan cemara dalam prosesi seluruh kuil-kuil Romawi).

Dalam artikel lainnya dengan judul, Origin Of Christmas: Jesus Was Not Born On December 25th But A Whole Bunch Of Pagan Gods Were, disebutkan, “Why is Christmas celebrated on December 25th?  Most people assume that it has always been a Christian holiday and that it is a celebration of the birth of Jesus.  But it turns out that Jesus was not born on December 25th.  However, a whole bunch of pagan gods were born on that day.  In fact, pagans celebrated a festival involving a heroic supernatural figure that visits an evergreen tree and leaves gifts on December 25th long before Jesus was ever born.  From its early Babylonian roots, the celebration of the birth or "rebirth" of the sun god on December 25th came to be celebrated under various names all over the ancient world.  You see, the winter solstice occurs a few days before December 25th each year. The winter solstice is the day of the year when daylight is the shortest. In ancient times, December 25th was the day each year when the day started to become noticeably longer.  Thus it was fitting for the early pagans to designate December 25th as the date of the birth or the "rebirth" of the sun”[2].

(Mengapa Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember? Kebanyakan orang berasumsi bahwa itu hari raya Kristen dan bahwa itu adalah perayaan kelahiran Yesus. Tapi ternyata bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Namun, sejumlah besar dewa-dewa kafir yang lahir pada hari itu. Bahkan, orang-orang kafir merayakan sebuah festival yang melibatkan tokoh supranatural heroik yang mengunjungi sebuah pohon cemara dan daun hadiah pada tanggal 25 Desember jauh sebelum Yesus pernah lahir. Dari akar awal Babel, perayaan kelahiran atau kelahiran kembali dari dewa matahari pada tanggal 25 Desember kemudian dirayakan di bawah berbagai nama di seluruh dunia kuno. Anda lihat, musim dingin terjadi beberapa hari sebelum 25 Desember setiap tahun. Musim dingin adalah hari di setiap tahun ketika siang hari waktunya lebih pendek. Pada zaman kuno, 25 Desember adalah hari di setiap tahun ketika hari terasa lebih lama. Demikianlah hari ini sangat tepat bagik orang-orang kafir awal untuk menetapkan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran atau kelahiran kembali matahari).

Dalam artikel What are origins Christmas and Can Christian Celebrated it? Dijelaskan, “The origins of Christmas go back to before the time of Christ when many ancient cultures celebrated the changing of the seasons. In the northern hemisphere in Europe, for example, the winter solstice, which was the shortest day of the year, occurs around Dec. 25th. These celebrations were based on the decline of winter. Since during winter animals were penned, people stayed in doors, crops didn't grow, etc., to know that winter was half over and on its way out was a time of celebration.

In the ancient Roman system of religion, Saturn was the god of agriculture. Each year during the summer, the god Jupiter would force Saturn out of his dominant position in the heavenly realm and the days would begin to shorten. In the temple to Saturn in Rome, the feet of Saturn were then symbolically bound with chains until the winter solstice when the length of days began to increase. It was this winter solstice that was a time of celebration and exchange of gifts as the hardness of winter began to wane and the days grew longer.

December 25th specifically coincided the day of the birth of the sun-god named Phyrgia a culture in the ancient Balkans. In the Roman Empire, by the time of Christ the winter festival was known as saturnalia. The Roman Church was unable to get rid of saturnalia, so early in the 4th Century, they adopted the holiday and tried to make it a Christian celebration of the Lord's birth. They called it the Feast of the Nativity. This custom has been part of western culture ever since”[3]. 

(Asal-usul Natal dapat ditelusuri ke suatu masa sebelum masa Kristus saat banyak kebudayaan kuno merayakan pergantian musim. Di belahan bumi utara di Eropa, misalnya, titik balik matahari musim dingin, yang merupakan hari terpendek tahun, terjadi sekitar 25 Desember. Perayaan ini didasarkan pada jatuhnya musim dingin. Karena selama hewan musim dingin, orang-orang yang tinggal di pintu, tanaman tidak tumbuh, dll, untuk mengetahui musim dingin yang sudah setengah jalan dan jalan keluar adalah waktu perayaan. Dalam sistem agama Romawi kuno, Saturnus adalah dewa pertanian. Setiap tahun selama musim panas dewa Jupiter akan memaksa Saturnus keluar dari posisi dominan di ranah surgawi dan hari-hari akan dipersingkat.. Dalam kuil Saturnus di Roma, kaki Saturnus kemudian secara simbolis diikat dengan rantai sampai titik balik matahari musim dingin ketika lamanya hari mulai meningkat. Musim dingin adalah waktu perayaan dan pertukaran hadiah sebagai bentuk memudarnya musim dingin dan hari-hari bertambah panjang. Tanggal 25 Desember bertepatan dengan hari kelahiran dewa Matahari bernama Phyrgia dari kebudayaan kuno di Balkan. Dalam Kekaisaran Romawi, pada masa Kristus, musim dingin dikenal sebagai perayaan Saturnalia. Gereja Roma tidak dapat menyingkirkan Saturnalia, sehingga di awal abad ke-4, mereka mengadopsi perayaan ini dan mencoba untuk membuatnya menjadi perayaan Kristen kelahiran Tuan. Mereka menyebutnya Pesta Kelahiran Tuan. Kebiasaan ini telah menjadi bagian dari budaya Barat sejak saat itu).

Siapa Yang Menetapkan Natal 25 Desember?

Kebanyakan para sarjana dan buku-buku teologia menghubungkan nama Kaisar Konstantin sebagai orang yang bertanggungjawab menetapkan perayaan tersebut dalam Kekristenan. Setelah pada tahun 313 Konstantin menjadi raja dan mengeluarkan Edik Milano yang berisikan piagam toleransi beragama[4] maka pada tahun 321 Konstantin mengubah hari Sabat yang jatuh pada hari Sabtu menjadi hari Minggu sebagaimana dikatakan, “On the venerable day of the Sun let the magistrates and people residing in cities rest, and let all workshops be closed. In the country however persons engaged in agriculture may freely and lawfully continue their pursuits because it often happens that another day is not suitable for gain-sowing or vine planting; lest by neglecting the proper moment for such operations the bounty of heaven should be lost”[5]

(Pada hari  Matahari yang agung, biarlah para hakim dan orang-orang yang berada di kota-kota beristirahat, dan membiarkan semua bengkel ditutup. Di dalam negeri Namun orang-orang yang terlibat dalam pertanian dapat dengan bebas dan sah melanjutkan kegiatan mereka karena sering terjadi bahwa hari lain tidak cocok untuk menaburbenih  atau menanam pohon anggur;. jangan-jangan dengan mengabaikan saat yang tepat untuk bekerja  mengakibatkan karunia surga harus hilang).

Dan ketetapan tersebut dilanjutkan pada Konsili di Laodikea tahun 364 Ms sbb, "Christians shall not Judaize and be idle on Saturday, but shall work on that day"[6] (Kristen tidak harus di Yudaisasi dan beristirahat pada hari Sabtu, tetapi harus bekerja pada hari itu)

Pada tahun 325 saat Konstantin menetapkan Konsili I di Nicea maka tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai perayaan kelahiran Yesus Sang Mesias sebagaimana dikatakan, “Also in 325 Constantine declared December 25th to be an Immovable Feast for the whole Roman Empire. The bishop of Rome may have accepted December 25th as the date of birth of Jesus Christ as early as 320 AD, but historical documents provide no evidence for a date earlier than 336 AD. The Church was pushed by political forces and pulled by the desire to co-opt a popular pagan holiday, despite a lack of evidence that Christ was born in December. Constantine built the Church of the Nativity in Bethlehem, one of the oldest continually operating churches in the world (currently administered by a coalition of Roman Catholic and Greek Orthodox clerics)”[7]

(Juga pada tahun 325 Konstantinus menyatakan 25 Desember menjadi hari raya Tak Tergoyahkan bagi seluruh Kekaisaran Romawi. Uskup Roma mungkin telah menerima 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus sebagai awal 320 AD, tapi dokumen sejarah tidak memberikan bukti untuk tanggal lebih awal dari 336 AD. Gereja didorong oleh kekuatan politik dan ditarik oleh keinginan untuk mengkooptasi perayaan populer  penyembah berhala, sekalipun kurangnya bukti bahwa Kristus lahir pada bulan Desember. Konstantin membangun Gereja Kelahiran Kristus di Betlehem, salah satu gereja  tertua yang masing berlangsung hingga hari ini di dunia (saat ini dikelola oleh sebuah koalisi Katolik Roma dan Yunani Ortodoks ulama).

Dan pada tahun 354 Ms, Bishop Liberius dari Roma memerintahkan umat untuk merayakan Natal pada tanggal 25 Desember sebagaimana dikatakan, “In 354 A.D., Bishop Liberius of Rome ordered the people to celebrate on December 25. He probably chose this date because the people of Rome already observed it as the Feast of Saturn, celebrating the birthday of the sun”[8].

(Pada tahun 354, Bishop Roma bernama Liberius memerintahkan umat agar merayakan 25 Desember. Mungkin dia memilih tanggal tersebut dikarenakan rakya Roma telah memelihara Perayaan Saturnalia sebagai kelahiran dewa matahari).

Namun menurut kesaksian lainnya ternyata yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus bukan hanya Konstantin melainkan bidat bernama Cerinthus. Siapa Cerinthus? “Cerinthus A Gnostic-Ebionite heretic, contemporary with St. John...Cerinthus was an Egyptian, and if not by race a Jew...Cerinthus's doctrines were a strange mixture of Gnosticism, Judaism, Chiliasm, and Ebionitism”[9]

(Cerinthus adalah seorang Gnostik dan bidat Ebionit yang sejaman dengan Santo Yohanes...Cerinthus adalah seorang Mesir dan bukan ras Yahudi...doktrin Cerinthus merupakan campuran aneh antara Gnostisisme, Yudaisme, Chiliasme serta Ebionitisme).