KEMATIAN YANG MENGHIDUPKAN
Posted byPernyataan, “kematian yang menghidupkan” mengesankan kontradiksi. Betapa tidak? Bukankah kematian identik dengan ketidakberdayaan selamanya? Bagaimana mungkin kematian dan ketidakberdayaan dapat menghidupkan?
Inilah yang telah dikerjakan Yesus Sang Mesias, bahwa kematiannya bukan sebuah kekalahan dan kesia-siaan. Kematian Yesus Sang Mesias di kayu salib memiliki makna soteriologis yang mendalam. Dengan kata lain memiliki makna keselamatan.
Kita akan mengkaji makna kematian Yesus Sang Mesias melalui pembacaan Kitab Ibrani Pasal 8-10. Namun kita akan terlebih dahulu mengkaji mengenai kepenulisan Kitab Ibrani.
Penulis Kitab Ibrani
Banyak teolog Kristen meragukan kepenulisan rasul Paul sebagai penulis Kitab Ibrani, mengingat struktur bahasa, isi pembahasan dan bahasa Yunani yang lebih baik susunannya. Namun jika kita membaca kesaksian Bapa Gereja (Church Fathers) salah satunya bernama Klement dari Alexandria (200 Ms) yang dikutip oleh sejarawan Eusebeius dalam karyanya Historiae Eclesiastica - History of the Church, beliau mengatakan sbb: “That the letter is Paul’s and that is written to Hebrews in the Hebrew language and translated (into Greek) by Luke”[1] (surat ini buatan Paul dan ditulis dalam bahasa Ibrani kepada orang-orang Ibrani dan diterjemahkan oleh Lukas). Sementara Bapa Gereja Origenes (280 Ms) menyatakan agak berbeda demikian, “The thought are those of the emmisary, but the language and composition that of one who recalled from memory and as it were, made notes of what was said by his master”[2] (pemikirannya merupakan pemikiran rasuli namun susunan bahasa dan komposisi merupakan hasil dari mereka yang menyimpan kenangan rasuli dan membuat catatan dari apa yang pernah diucapkan gurunya). Jika Klement dengan tanpa keraguan menyatakan rasul Paul penulisnya, maka Origenes menyangsikan kepengarangan rasul Paul melainkan salah satu murid rasul Paul yang menerjemahkan pemahaman rasul Paul.
Premis Dasar Kitab Ibrani
Jika kita mebaca Kitab Ibrani secara keseluruhan nampaklah pada kita sebuah benang merah dimana seluruh sistem hukum korban umat Israel yang berpusat pada peranan Imam Besar (kohen ha gadol) sebagaimana diamarkan dalam Torah, merupakan sebuah bayangan dari karya mesianis yang dikerjakan oleh Yesus. Fokus karya Yesus sebagai penggenapan bayangan dalam Torah dapat kita simak dalam Ibrani 8,9,10. Ibrani 8 berbicara mengenai kedudukan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Ibrani 9 berbicara mengenai kedudukan Yesus sebagai Pengantara Perjanjian Baru. Ibrani 10 berbicara mengenai pengorbanan darah Yesus sebagai wujud sejati hukum korban dalam Torah.
Ibrani 8:1-2 dimulai dengan pernyataan, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia”. Imam Besar berdasarkan peraturan Torah bertugas mempersembahkan korban umat Israel setiap tahunnya dalam perayaan Yom Kipur sebagai korban penebusan atas berbagai pelanggaran umat Israel selama satu tahun. Yesus Sang Mesias adalah Imam Besar yang melakukan karya keimamatan yang lebih besar daripada Imam Besar dalam Torah. Mengapa? Jawabannya ada dalam Ibrani 9:11-12 yang mengatakan demikian, “Tetapi Mesias telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, -- artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, -- dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal”. Yesus datang sebagai Imam Besar “untuk hal-hal yang baik yang akan datang” yaitu “Dia telah masuk sekali dan untuk selamanya ke dalam tempat kudus YHWH dengan membawa darahnya sendiri”. Apa artinya? Yesus mengorbankan dirinya sendiri sebagaimana ditegaskan kembali dalam Ibrani 9:27-28, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Mesias hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”.
Oleh karenanya Yesus dikatakan sebagai “Pengantara dari suatu perjanjian yang baru” (Yun: diathekes kaines mesites estin, Arm: metsa’ya de’diyatiqiya khadata, Ibr: melits hu laberit hakhadasha, Ing: mediator of new covenant) (Ibr 9:15).
Berbagai hukum korban dalam Torah memang tidak sempurna karena mereka tidak dapat menghapuskan dosa yang sesungguhnya sebagaimana dikatakan Ibrani 10:2-4 sbb: “Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”.
Berbeda dengan korban-korban hewan dalam Torah yang dipersembahkan setiap tahun khususnya saat perayaan Yom Kippur maka persembahan sejati dan sekali untuk selamanya telah dilakukan dengan sempurna oleh Sang Mesias sekali dan untuk selamanya. Perubahan dari berulang kali dan setiap tahun dikontraskan dengan sekali dan untuk selamanya menyiratkan kesempurnaan dan keunggulan Sang Mesias dalam menghapus dosa manusia sebagaimana dikatakan dalam ayat 10-12 dan 14 sbb: “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Sang Mesias. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Tuhan...Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”.
Meluruskan Kesalahpahaman Arti Kematian Yesus
Terhadap Kedudukan Torah
Apakah dengan demikian kematian Yesus Sang Mesias telah membatalkan fungsi dan kedudukan Torah? Tidak! Yesus Sang Mesias berkata dalam Matius 5:17 sbb: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.
Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah membuat hukum korban kehilangan relavansinya sehingga baik umat Yahudi maupun non Yahudi yang sudah menerima Yesus sebagai Mesias tidak lagi memerlukan hukum korban hewan sebagaimana dikatakan dalam Ibrani 10:18 sbb: “Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa”. Kehilangan relevansi bukan berarti dibatalkan. Dibatalkan bermakna digugurkan. Jika demikian maka memberikan gambaran seolah Tuhan berubah-ubah pikiran. Jika Tuhan berubah-ubah pikiran maka Tuhan adalah Tuhan yang peragu. Dan itu mustahil ada pada diri Tuhan.
Jika kematian Yesus tidak membatalkan Torah, lalu mengapa dalam Ibrani 7:18-19 dikatakan,”Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu?” demikian pula dalam Ibrani 8:13 dikatakan, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya?”
Mengenai Ibrani 7:18-19 bukan berbicara mengenai pembatalan Torah tetapi perubahan sistem keimamatan paska kedatangan Yesus dan penghancuran Bait Suci di Yerusalem tahun 70 Ms. Kata Yunani Athetesis (pembatalan) merupakan penekanan ulang pada apa yang dinyatakan pada ayat 12 tentang nomou Methatesis (perubahan Torah). Perubahan yang dimaksudkan bukan Torah itu sendiri melainkan sistem keimamatan dari Imamat Lewi yang ditandai dengan korban hewan, menjadi Imamat Melkitsedeq yang ditandai dengan persembahan rohani.
Mengenai Ibrani 8:13, ayat ini pun menegaskan mengenai perubahan sistem keimamatan Lewi kepada sistem keimamatan Melkitsedek. DR. David Stern menjelaskan: “Konteks perikop hendak menunjukkan bahwa penulis Ibrani berbicara mengenai sistem keimamatan dan korban, bukan mengenai aspek lain. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah ambang kemusnahan sistem keimamatan yang lama dan bukan Perjanjian Lama”[3]
Makna Kematian Yesus
Kematian Yesus di kayu salib berdasarkan perspektif Kitab Ibrani memiliki makna soteriologis sbb (yang berhubungan dengan keselamatan manusia): Pertama, Yesus telah menggantikan fungsi korban dalam Torah menjadikan dirinya sendiri sebagai korban bagi Tuhan Yahweh untuk selama-lama-Nya. Kematian-Nya telah menghapuskan dosa manusia yang berujung pada kematian kekal.












