RSS Feed

KEMATIAN YANG MENGHIDUPKAN

Posted by Teguh Hindarto



Pernyataan, “kematian yang menghidupkan” mengesankan kontradiksi. Betapa tidak? Bukankah kematian identik dengan ketidakberdayaan selamanya? Bagaimana mungkin kematian dan ketidakberdayaan dapat menghidupkan?

Inilah yang telah dikerjakan Yesus Sang Mesias, bahwa kematiannya bukan sebuah kekalahan dan kesia-siaan. Kematian Yesus Sang Mesias di kayu salib memiliki makna soteriologis yang mendalam. Dengan kata lain memiliki makna keselamatan.

Kita akan mengkaji makna kematian Yesus Sang Mesias melalui pembacaan Kitab Ibrani Pasal 8-10. Namun kita akan terlebih dahulu mengkaji mengenai kepenulisan Kitab Ibrani.

Penulis Kitab Ibrani

Banyak teolog Kristen meragukan kepenulisan rasul Paul sebagai penulis Kitab Ibrani, mengingat struktur bahasa, isi pembahasan dan bahasa Yunani yang lebih baik susunannya. Namun jika kita membaca kesaksian Bapa Gereja (Church Fathers) salah satunya bernama Klement dari Alexandria (200 Ms) yang dikutip oleh sejarawan Eusebeius dalam karyanya Historiae Eclesiastica - History of the Church, beliau mengatakan sbb: “That the letter is Paul’s and that is written to Hebrews in the Hebrew language and translated (into Greek) by Luke”[1] (surat ini buatan Paul dan ditulis dalam bahasa Ibrani kepada orang-orang Ibrani dan diterjemahkan oleh Lukas). Sementara Bapa Gereja Origenes (280 Ms) menyatakan agak berbeda demikian, “The thought are those of the emmisary, but the language and composition that of one who recalled from memory and as it were, made notes of what was said by his master”[2] (pemikirannya merupakan pemikiran rasuli namun susunan bahasa dan komposisi merupakan hasil dari mereka yang menyimpan kenangan rasuli dan membuat catatan dari apa yang pernah diucapkan gurunya). Jika Klement dengan tanpa keraguan menyatakan rasul Paul penulisnya, maka Origenes menyangsikan kepengarangan rasul Paul melainkan salah satu murid rasul Paul yang menerjemahkan pemahaman rasul Paul.

Premis Dasar Kitab Ibrani

Jika kita mebaca Kitab Ibrani secara keseluruhan nampaklah pada kita sebuah benang merah dimana seluruh sistem hukum korban umat Israel yang berpusat pada peranan Imam Besar (kohen ha gadol) sebagaimana diamarkan dalam Torah, merupakan sebuah  bayangan dari karya mesianis yang dikerjakan oleh Yesus. Fokus karya Yesus sebagai penggenapan bayangan dalam Torah dapat kita simak dalam Ibrani 8,9,10. Ibrani 8 berbicara mengenai kedudukan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Ibrani 9 berbicara mengenai kedudukan Yesus sebagai Pengantara Perjanjian Baru. Ibrani 10 berbicara mengenai pengorbanan darah Yesus sebagai wujud sejati hukum korban dalam Torah.

Ibrani 8:1-2 dimulai dengan pernyataan, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia”. Imam Besar berdasarkan peraturan Torah bertugas mempersembahkan korban umat Israel setiap tahunnya dalam perayaan Yom Kipur sebagai korban penebusan atas berbagai pelanggaran umat Israel selama satu tahun. Yesus Sang Mesias adalah Imam Besar yang melakukan karya keimamatan yang lebih besar daripada Imam Besar dalam Torah. Mengapa? Jawabannya ada dalam Ibrani 9:11-12 yang mengatakan demikian, “Tetapi Mesias telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, -- artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, -- dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal”. Yesus datang sebagai Imam Besar “untuk hal-hal yang baik yang akan datang” yaitu “Dia telah masuk sekali dan untuk selamanya ke dalam tempat kudus YHWH dengan membawa darahnya sendiri”. Apa artinya? Yesus mengorbankan dirinya sendiri sebagaimana ditegaskan kembali dalam Ibrani 9:27-28, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Mesias hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”.

Oleh karenanya Yesus dikatakan sebagai “Pengantara dari suatu perjanjian yang baru” (Yun: diathekes kaines mesites estin, Arm: metsa’ya de’diyatiqiya khadata, Ibr: melits hu laberit hakhadasha, Ing: mediator of new covenant) (Ibr 9:15).

Berbagai hukum korban dalam Torah memang tidak sempurna karena mereka tidak dapat menghapuskan dosa yang sesungguhnya sebagaimana dikatakan Ibrani 10:2-4 sbb: “Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”.

Berbeda dengan korban-korban hewan dalam Torah yang dipersembahkan setiap tahun khususnya saat perayaan Yom Kippur maka persembahan sejati dan sekali untuk selamanya telah dilakukan dengan sempurna oleh Sang Mesias sekali dan untuk selamanya. Perubahan dari berulang kali dan setiap tahun dikontraskan dengan sekali dan untuk selamanya menyiratkan kesempurnaan dan keunggulan Sang Mesias dalam menghapus dosa manusia sebagaimana dikatakan dalam ayat 10-12 dan 14 sbb: “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Sang Mesias. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Tuhan...Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”.

Meluruskan Kesalahpahaman Arti Kematian Yesus
Terhadap Kedudukan Torah

Apakah dengan demikian kematian Yesus Sang Mesias telah membatalkan fungsi dan kedudukan Torah? Tidak! Yesus Sang Mesias berkata dalam Matius 5:17 sbb: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.

Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah membuat hukum korban kehilangan relavansinya sehingga baik umat Yahudi maupun non Yahudi yang sudah menerima Yesus sebagai Mesias tidak lagi memerlukan hukum korban hewan sebagaimana dikatakan dalam Ibrani 10:18 sbb: “Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa”. Kehilangan relevansi bukan berarti dibatalkan. Dibatalkan bermakna digugurkan. Jika demikian maka memberikan gambaran seolah Tuhan berubah-ubah pikiran. Jika Tuhan berubah-ubah pikiran maka Tuhan adalah Tuhan yang peragu. Dan itu mustahil ada pada diri Tuhan.

Jika kematian Yesus tidak membatalkan Torah, lalu mengapa dalam Ibrani 7:18-19 dikatakan,”Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu?” demikian pula dalam Ibrani 8:13 dikatakan, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya?”

Mengenai Ibrani 7:18-19 bukan berbicara mengenai pembatalan Torah tetapi perubahan sistem keimamatan paska kedatangan Yesus dan penghancuran Bait Suci di Yerusalem tahun 70 Ms. Kata Yunani Athetesis (pembatalan)  merupakan penekanan ulang pada apa yang dinyatakan pada ayat 12 tentang nomou Methatesis (perubahan Torah). Perubahan yang dimaksudkan bukan Torah itu sendiri melainkan sistem keimamatan dari Imamat Lewi yang ditandai dengan korban hewan, menjadi Imamat Melkitsedeq yang ditandai dengan persembahan rohani.

Mengenai Ibrani 8:13, ayat ini pun menegaskan mengenai perubahan sistem keimamatan Lewi kepada sistem keimamatan Melkitsedek. DR. David Stern menjelaskan:  “Konteks perikop hendak menunjukkan bahwa penulis Ibrani berbicara mengenai sistem keimamatan dan korban, bukan mengenai aspek lain. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah ambang kemusnahan sistem keimamatan yang lama dan bukan Perjanjian Lama”[3]

Makna Kematian Yesus

Kematian Yesus di kayu salib berdasarkan perspektif Kitab Ibrani memiliki makna soteriologis sbb (yang berhubungan dengan keselamatan manusia): Pertama, Yesus telah menggantikan fungsi korban dalam Torah menjadikan dirinya sendiri sebagai korban bagi Tuhan Yahweh untuk selama-lama-Nya. Kematian-Nya telah menghapuskan dosa manusia yang berujung pada kematian kekal.

EKSISTENSI DAN HISTORITAS KEBANGKITAN YESUS DARI KEMATIAN

Posted by Teguh Hindarto


Tanggapan Terhadap DR. Ioanes Rahmat

Ioanes Rakhmat dalam artikelnya berjudul Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus yang dimuat KOMPAS  pada 5 April 2007 berusaha mengekspos dan memberikan relavansi teologis terhadap penemuan yang di duga merupakan makam Yesus di Talpiot (sebelah selatan Kota Lama Yerusalem) Temuan dan komentar-komentar berkaitan dengan temuan ini semakin meramaiakan kegandrungan orang pada hal-hal yang sensasional yang yang berkaitan dengan historitas Yesus. Sebelumnya telah beredar buku-buku provokatif dan sensasional seperti “The Da Vinci Code” dan “The Gospel of Judas”.

Dari beberapa artikel yang ditulis Ioanes Rakhmat, ada tiga pemikiran dasar yang dapat disimpulkan.

Pertama, Kebangkitan Yesus dari kematian adalah metafor belaka dan bukan realita yang sebenarnya, sebagaimana di katakan, “Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi, maka kebangkian dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis PB (Perjanjian Baru, red) sendiri pasti memahami keduannya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi”[1]

Kedua, bahasa penulisan Kitab Suci adalah bahasa iman dan bukan bahasa ilmiah historis, sebagaimana tersirat dari pernyataan, “Yang ditemukan dalam Alkitab bukanlah mukjizat-mukjizat tetapi kisah-kisah tentang mukjizat…kisa-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah dengan mengajukan antara lain pertanyaan berikut: dalam konteks sosial kultural historis dan religius apa kisah itu ditulis; faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah itu; untuk kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah pararel yang dapat ditemukan dlam dunia Greko Romawi; apa tujuan penulisan kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi;….”[2]

Ketiga, dukungan positip terhadap penelitian penemuan makam Talpiot sebagaimana dia nyatakan, “Usaha membuktikan makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth sama sekali bukanlah usaha demirakulisasi, melainkan usaha bidang kajian prosopographis untuk menemukan kecocokkan sejarah antara bukti material arkeologis dan keterangan-keterangan di dalam teks-teks kuno;…jangan mereka dikecam atas nama teologi Kristen apapun ”[3]

Pemikiran bahwa kebangkitan Yesus dari kematian adalah metafor, sebenarnya bukan konsekwensi logis dari hasil temuan makam Talpiot, yang apabila di kemudian hari ternyata terbukti benar sebagai makam keluarga Yesus, sebagaimana dugaan Ioanes Rakhmat. Jauh sebelumnya, cara berpikir yang menyatakan bahwa kebangkitan adalah metafor belaka, merupakan kerangka berpikir sarjana Liberal yang tidak memberi ruang bagi aspek metefisik dalam melakukan pendekatan terhadap teks-teks Kitab Suci. Jauh-jauh hari,penggagas “Teori Demythologisasi”, yaitu Rudolph Bultman pernah menyatakan pemikirannya mengenai hakikat kebangkitan sbb, “Namun bagaimana dengan kebangkitan Mesias? Bukankah ini sepenuhnya mitos? Dalam beberapa kasus, kebangkitan bukanlah peristiwa historis yang harus dimengerti secara demikian. Dapatkah berbicara mengenai kebangkitan Mesias dengan sesuatu yang selain hanya merupakan ekspresi rangkaian dari peristiwa salib?

Dapatkah mengatakan sesuatu selain Yesus mati dikayu salib, bukan sebagai kematian manusia belaka namun sebagai penghakiman Tuhan yang membebaskan dunia, penghakiman sebagaimana perampok yang kehilangan kekuatannya? Tidakkah lebih tepat kebenaran ini diekspresikan dengan pernyataan bahwa seseorang yang disalibkan tidak mati melainkan telah bangkit? Kenyataannya, salib dan kebangkitan adalah satu kesatuan seperti peristiwa kosmis, sebagaimana digambarkan oleh Rasul Paul, “Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm 4:25)… Salib dan kebangkitan adalah suatu kesatuan dalam mana secara bersamaan mereka adalah satu peristiwa kosmis melalui mana dunia dihakimi dan kemungkinan kehidupan yang sejati diciptakan. Namun demikian kebangkitan tidak dapat dipandang sebagai muzizat yang sebenarnya yang mana seseorang merasa aman sehingga meyakinkan orang yang meragukan bahwa salib sesungguhnya adalah memiliki peristiwa kosmis eskatologis…Tentu saja tidak ditolak bahwa kebangkitan Yesus terkadang dipandang oleh Perjanjian Baru sebagai muzizat yang sebenarnya…namun tidak diragukan bahwa perumusan kemudian dari Paul tetap  tidak dapat diketahui…Para saksi yang dianggap menjadi saksi bagi Injil Pau, bukanlah fakta mengenai kebangkitan “[4]

Dari kutipan di atas, sangat tidak dapat disangkal bahwa proses berpikir Ioanes Rakhmat berangkat dari pendekatan liberal yang menampik aspek metafisik sebagai bagian dari sejarah penulisan dalam Kitab Suci.

Persoalannya adalah, sejauh manakah validitas pernyataan Ioanes Rakhmat yang mengusung teolog-teolog liberal terdahulu yang menyatakan bahwa kebangkitan adalah metafora? Untuk menjawab hal ini, tentu saja sangat bergantung pada metodologi kita dalam menafsirkan teks-teks dalam Kitab Suci. Rasul Paul mengatakan dalam 1 Korintus 15: 3-8 sbb, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Mesias telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefa dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya”.

Dari kutipan ayat di atas kita mendapati empat kata penting, dalam teks Greek, yaitu apethanen (telah mati), etaphe (telah dikuburkan), egegertai (telah bangkit) dan kata oupthe (menampakkan diri) sebanyak dua kali. Jika kata apethanen (telah mati), etaphe  (telah dikuburkan) serta oupthe (menampakkan diri) bersifat riil, lalu apa alasannya mengatakan bahwa kataegegertai [telah bangkit] harus dimaknai sebagai metafor?

Penolakkan fakta bahwa kebangkitan dari kematian adalah realitas historis, lebih didorong oleh sisa-sisa pemikiran teolog liberal Abad XIX yang menolak bahwa fenomena metafisik sebagai hal empirik. Meminjam istilah Deshi Ramadhani, demirakulisasi ”[5]

Yang menarik pada kasus Lazarus yang mati kemudian dibangkitkan dari kematian oleh  Yesus, justru Yesus menggunakan bahasa metafor yang kemudian diberi penjelasan oleh penulis Injil Yohanes. Hal ini nampak dari pernyataan dalam Yohanes 11:11 dan 13 sbb, “Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya….Tetapi  maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Namun ketika Dia membangkitkan Lazarus dari kematian, Dia benar-benar membangkitkan Lazarus dari kematian”

Tidak ada komentar dari penulis Kitab Yohanes bahwa kebangkitan yang dialami Lazarus adalah metafor. Dengan penjelasan di atas, kita mendapati kenyataan bahwa penulis Kitab  Injil dapat membedakan mana ungkapan yang metafor dan mana yang literal.

BENARKAH RASUL PAUL PENDUSTA DAN MEMBATALKAN TORAH?

Posted by Teguh Hindarto


INTRODUKSI

Rasul Paul adalah tokoh rasul yang kontroversial dan hampir sebagian besar surat-suratnya menjadi fundasi bagi ajaran Gereja Kristen paska kebangkitan Yesus dari kewafatan. DR. C. Groenen OFM mengatakan, “Dari semua tokoh yang tampil dalam Perjanjian Baru dan berperan pada umat Kristen semula Pauluslah yang terbaik kita kenal (menurut ukuran ilmu sejarah). Tokoh itu sebenarnya dikenal dengan lebih baik daripada Yesus sendiri. Selebihnya dalam sejarah Kekristenan selanjutnya Pauluslah yang paling berpengaruh disamping Yesus, paling tidak pada Kekristenan barat sesudah reformasi. Dan baik pengetahuan kita tentang Paulus maupun pengaruhnya berasal dari surat-suratnya yang disimpan oleh umat Kristen sampai dengan hari ini”[1]. Sekalipun saya tidak sepenuhnya dapat menerima pendapat Groenen, namun dari aspek pengaruh dan peletak fundasi teologi Kristen, nampak peran besar rasul Paul melalui sejumlah surat yang disebarluaskan untuk membangun keimanan jemaat Mesias sehingga akhirnya masuk dalam daftar kanon Kitab Perjanjian Baru.

Kita akan melihat sejumlah latar belakang yang berpengaruh dalam seluruh tulisannya, khususnya latar belakang kebangsaan dan pendidikannnya.

Kebangsaan Rasul Paul

Bahwa Paul adalah seorang Yahudi, sungguh amat jelas. Dia menunjuk bahwa dirinya sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani” (Fil 3:5 dalam naskah Greek New Testament ditulis Ebraios ek Ebraioun dan dalam naskah Peshitta Aramaik ditulis, Ebraiya bar Ebraiya dan dalam Hebrew New Testament ditulis, Ivri ben Ivri. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan Ibrani asli) Sebuah frase yang telah dipahami dalam banyak cara. Beberapa orang menduga bahwa Paul menekankan garis darah asli, yang bermakna bahwa baik ibunya dan ayahnya memiliki garis keturunan yang dapat dilacak. Yang lain mengidentifikasikan Paul sebagai seseorang yang menampakkan semangat terhadap Torah.

Apakah sesungguhnya yang dimaksud oleh Paul, ketika dia menyebut dirinya sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani?” marilah kita melihat lebih dekat mengenai susunan data diri singkat Paul dalam Filipi 3:5, untuk melihat petunjuk yang memungkinkan membuka pemahaman tentangnya. Pertama-tama kita melihat bahwa frase “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, merupakan kata terakhir dalam daftar dari empat kata yang berkaitan sbb: “Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Yishrael, suku Benyamin, orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”

J.B. Lightfoot mencatat secara menarik, bahwa daftar tersebut merupakan susunan mendaki[2]. Dengan mengatakan, “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, pada bagian akhir, berfungsi sebagai kesimpulan yang menarik perhatian kepada susunan daftar secara keseluruhan. Komponen yang satu dengan yang lain dihubungkan kepada komponen yang terdahulu. Fakta bahwa telah disunatkan pada hari kedelapan, menunjukkan bahwa orang tuanya adalah orang yang mentaati perintah Torah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka adalah seorang yang mengikut agama Yudaisme, semenjak kaum proselit (orang non Yahudi yang mengikut agama Yudaisme) juga menyunatkan anak-anak mereka. Kemudian Paul menambahkan, “dari Bangsa Yishrael”, yang mana dia hendak menegaskan garis keturunan dari orang tua asli, bukan seorang proselit. Meskipun dari kaum Yishrael, dapat saja mereka berasal dari suku yang tidak taat, sehingga Paul menyatakan diri sebagai, “dari suku Benyamin”. Meskipun mereka yang garis keturunannya tidak tertuduh dan diterima dari suku yang ternama, namun terkadang tergoda oleh pengaruh Helenis (cat. penerjemah: faham Yunanisasi disegala bidang, baik kebudayaan, kehidupan sosial, politik dan keagamaan) di lingkungan tempat tinggal mereka, kemudian meniru baik bahasa maupun kebiasaan dari kebudayaan orang-orang Yunani Romawi. Dengan Paul menjelaskan sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, dia menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga yang mempertahankan bahasa dan kebudayaan Ibrani, salah seorang yang tidak menerima pengaruh Helenis pada saat itu[3].

Dengan demikian, patut diduga bahwa frasa “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, digunakan oleh Paul untuk mengidentifikasikan dirinya dan keluarganya sebagai seorang yang bergaya hidup Yahudi dengan taat, seseorang yang tetap mempertahankan bahasa Ibrani atau Aramaik sebagai bahasa ibu, dimana Torah memainkan peranan penting dalam iman dan kehidupan secara umum[4].

Pendidikan Rasul Paul

Di dalam Kisah Rasul 22:3 ditegaskan bahwa rasul Paul,  “dibesarkan di kota ini”, yaitu di Yerusalem dan “telah dididik di bawah kaki Gamaliel”. Kalimat ini menunjukkan ekspresi umum di Israel kuno bagi para murid “yang duduk di bawah kaki” Sang Guru, sebuah frase yang menggambarkan baik pelajaran yang diterima secara realita badani namun juga berhubungan dengan sikap hormat terhadap guru yang mengajar. Kita baca dalam misnah Avot 1:4 sbb: “Yose ben Yoezer berkata: Biarlah rumahmu menjadi rumah pertemuan bagi kaum bijaksana dan merendahkan dirinya untuk ditutupi oleh debu kakinya dan minum dalam kata-kata dengan rasa haus”

Gambaran ditutupi oleh debu kaki kaum bijaksana, menggambarkan seseorang yang duduk di lantai sementara mereka yang mengajar, duduk di kursi. Ketika Paul menunjukan bahwa dia “telah dididik di bawah kaki Gamaliel”, dia sedang mempergunakan istilah umum bagi hubungan di antara pengajar dan pelajar di dalam komunitas Yahudi pada Abad I Ms[5].

Apa yang menjadi makna sesungguhnya, ketika Paul menyatakan dirinya telah “dibesarkan di kota ini”, yaitu Yerusalem? Kata kerja yang diterjemahkan dengan “dibesarkan” (ανατεθραμμενος, anatrepomenos), dapat bermakna “pertumbuhan” baik secara fisik maupun kerohanian. Dalam Injil, kata-kata tersebut menggambarkan anak yang sedang tumbuh52 dan kata itu nampaknya masuk akal dipergunakan dalam menerangkan proses kedewasaan Paul. Demikianlah menurut perkataan Paul, bahwa dirinya tidak bertumbuh dewasa di Tarsus, meskipun kota ini adalah tempat kelahirannya. Sebaliknya, dia bertumbuh dewasa di Yerusalem, dididik oleh Gamaliel yang terkemuka.

Berapa lama kita perkirakan ketika Paul memutuskan tinggal di Yerusalem? Berdasarkan Misnah Avot 5:21, pembacaan Kitab Suci dimulai pada usia lima tahun, sementara pada usia sepuluh tahun dipersiapkan untuk mempelajari Torah Lisan (Misnah)[6].

James L. Crenshaw, dalam buku Education in Ancient Israel mengatakan bahwa pendidikan Paul sebagai anak muda dimulai dengan pelajaran alef-bet dalam bahasa Ibrani, menggunakan Torah sebagai yang utama, baik untuk huruf maupun membaca. Dia juga nampaknya telah diawali dengan Shema dan kemudian berkembang untuk memahami liturgi, yaitu doa-doa yang kemudian dikenal dengan sebutan Shemonei Esrei (Delapan Belas Berkat), bersama pula dengan berkat-berkat yang diucapkan saat makan[7]

Dia akan menghafal doa-doa ini sebagaimana bagian-bagian lain dari Torah, belajar membaca dan menuliskan huruf Ibrani dan Aramaik. Jika dia belajar di ruang kelas, maka patut diduga tidak akan lebih dari 25 siswa. Entahkah di ruangan kelas atau pada kaki pengajarnya, Sha’ul muda telah mempelajari keahlian dasar yang diperlukan untuk membaca dan mempelajari Torah dan mengikuti jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Torah Lisan. Torah Lisan, sebelum ditetapkan sebagai Misnah, termasuk dunianya para kaum bijaksana. Untuk mempelajari Torah Lisan, diperlukan seorang pembimbing, seseorang yang dipercaya sebagai Khakam “orang bijak” atau kaum bijaksana dan kita mengetahui bahwa bagi Paul, orang tersebut adalah Gamaliel.[8]

Nama Gamaliel telah dikenal dengan baik dalam sejarah kaum bijaksana Yahudi. Kakeknya bernama Hillel, adalah pemimpin Sanhendrin bersama saingannya yaitu Shammai. Hillel dan Shamai merupakan Zugot atau ‘pasangan” yang melengkapi kepemimpinan ganda yang diperlukan oleh Sanhendrin. Setelah Shammai dan Hillel, Sanhedrin hanya dipimpin oleh kaum bijaksana secara tunggal yang disebut dengan Nasi  (pemimpin). Ketika Hillel wafat, kedudukan Nasi Sanhedrin dilimpahkan epada Simeon, anaknya.

Tim Hegg dalam buku The Letter Writer mengulas beberapa pengaruh besar Gamaliel terhadap rasul Paul sbb: Pertama, Gamaliel dikenal karena sikap lunaknya terhadap beberapa hukum dalam rangka menyediakan hak-hak rakyat yang kurang beruntung. Contoh, dikarenakan zaman itu merupakan suatu keadaan yang tidak menyenagkan bagi kaum Yahudi, dan laki-laki dikarenakan kehilangan nyawanya oleh pedang orang-orang Romawi, maka jumlah para janda di kalangan Yahudi bertambah dengan cepat. Gamaliel menetapkan bahwa perceraian yang sah bagi kaum wanita yang suaminya dianggap hilang di medan perang, hanya memerlukan satu saksi saja, daripada dua saksi sebagaimana yang ditetapkan secara tradisional (Misnah Yevamot 16:7). Dengan perubahan ini, maka “birokrasi” telah dikurangi bagi kaum janda untuk menikah lagi dan menerima perlindungan dari suami barunya.

Dengan nada yang sama, Gamaliel memperbanyak jarak yang dapat di tempuh pada hari Sabat dan mengijinkan kebebasan yang luas bagi para bidan dan para pelayan publik lainnya dalam melaksanakan kewajibannya pada hari Sabat (Mishnah Shekalim 3.6). Dia juga memperkenalkan aturan-aturan lain mengenai perceraian yang bertujuan meringankan beban hukum dan melindungi kaum yang lemah dan tidak terpelajar(Berakhot Ketubot 10b). Salah satu contoh, dia menetapkan persetujuannya terhadap seorang wanita yang mengakui keperawanannya meskipun suaminya mempertanyakan pernyataan istrinya. Di atas semuanya, ketetapan Sanhedrinnya ditandai dengan keringanan secara umum dari beban halakhah untuk melindungi kebutuhan nyata komunitasnya.

Kedua, Talmud menyimpan tiga “surat rasuli” yang dikirim Gamaliel kepada “saudara kita di Galilea Atas dan di Galilea Bawah”, dan “saudara kita di Selatan Atas dan di Selatan Bawah” dan “saudara kita di pembuangan Babilon, di pembuangan Media dan di tempat pembuangan Bangsa Israel lainnya”. “Surat-surat  rasuli” tersebut ditujukan kepada Yohanan, yang duduk di kalangan kaum Bijaksana, yang berlokasi di Bukit Bait Suci (Berakhot Sanhedrin 11b; Tosefta, San 2:6;y. Sanhedrin 1:2, 18 d) dan terdiri dari peringatan-peringatan mengenai waktu untuk mengumpulkan persepuluhan dan informasi mengenai lompatan tahun. Metode surat-surat  di atas menjelaskan mengapa Paul mengadopsi “surat-surat rasuli”  tersebut, sebagai rasul Yesus.

Ketiga, dalam Kitab Para rasul, kita mendapatkan gambaran mengenai Gamaliel sebagai seorang yang toleran terhadap para pengikut Yesus. Ketika Lukas melaporkan bagi kita mengenai keputusan Sanhedrin mengenai pelarangan pewartaan kepada publik mengenai Kemesiasan Yesus, dia juga terlibat dalam peristiwa di mana Petrus dan rasul-rasul ditangkap dan dibawa ke hadapan sidang. Ketika kelompok tersebut hendak dibinasakan, Gamaliel melarang dengan mengatakan: “Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Tuhan kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Tuhan." Dan nasihat tersebut diikuti semua orang (Kis Ras 5:38-39).

Keempat, sebuah catatan penting mengenai siswa-siswa Rabban Gamaliel, tercatat dalam Talmud. Setelah mendiskusikan mengenai alasan mengapa seorang ayah melarang anaknya untuk megajarkan bahasa Yunani, pertanyaan yang berkaitan disampaikan sbb: “Apakah filsafat Yunani di larang? Sesungguhnya Rabi Yahudah menyatakan bahwa Samuel berkata atas nama Rabban Simeon ben Gamaliel, mengenai makna yang dituliskan ini: Apakah mataku merusak jiwaku apakah disebabkan oleh karena anak-anak perempuan di kotaku? Ada ribuan murid-murid di rumah ayahku; lima ratus orang belajar Torah dan lima ratus orang belajar kebijaksanaan Yunani dan di sini masih tersisa hanya aku dan anak dari saudara ayahku di Asia! Itu berbeda dengan rumah tangga Rabban Gamaliel dikarenakan mereka berhubungan dengan dengan pemerintahan” (Berakhot Sotah 49b)

Jika frasa “rumah tangga Rabban Gamaliel” menunjuk kepada rumah tangga Gamaliel, yang lebih tua yaitu guru dari rasul Paul, maka kita memperoleh petunjuk mengenai Paul yang nampak begitu menguasai filsafat Yunani. Meskipun ada pernyataan argumen yang mengecilkan pelajaran Yunani dan filsafat Yunani, namun patut diketahui bahwa mereka yang bekerja pada pemerintahan Romawi diperlukan kelancaran dalam bahasa Yunani dan diperlukan untuk memahami untuk mengerti pandangan dunia kebudayaan Yunani. Paul terindikasi sebagai orang yang terdidil dalam tulisan-tulisan Filsafat Yunani.

Sebagai contoh, dalam Kisah Rasul 17, ketika Paul terlibat pembicaraan dengan para ahli filsafat di Arepagus, ini adalah bukti bahwa dia sangat menyadari filsafat Stoa dan Epikuros bahkan dia juga mengutip ahli filsafat lokal bernama Aratus (Kisa 17:28). Dalam suratnya kepad Titus (1:12) dia mengutip ahli Filsafat Kreta bernama Epimenides dan sekali lagi dalam 1 Korintus 15:33, dia mengutip filsuf Meander seorang penulis Athena mengenai filsafat dan etik.

Banyak orang menduga bahwa Paul mengembangkan pengetahuan filsafat dan kebudayaan Yunani, disebabkan dia telah mempelajarinya di kota Tarsus yang terkenal sebagai universitas yang baik dalam hal itu.  Tarsus juga termasuk pusat kehidupan intelektual selama Abad 1 Ms. Menurut seorang ahli geographi bernama Strabo: “…orang Tarsus pada Abad 1 Ms adalah siswa-siswa yang tekun dalam hal filsafat, seni yang bebas dan keseluruhan ensiklopedia mengenai pelajaran; sungguh tepat bahwa derajatnya melampaui baik Athena dan Alexandria sebagai pusat kebudayaan dan belajar…”[9]

Tim Hegg melanjutkan penjelasannya, “Jika laporan mengenai Rabban gamaliel yang mengajar siswa-siswanya pelajaran bahasa dan filsafat Yunani dapat dipercayai, maka ada kemungkinan bahwa Paul telah belajar tulisan-tulisan Yunani di bawah pengawasan pembimbingnya! Bahwa Gamaliel adalah seorang Nasi (pemimpin) Sanhedrin, sesungguhnya menempatkan dia dalam kondisi kerja dengan pemerintahan Romawi dan itu memerlukan bagi dia dan siswa-siswanya, memiliki pengetahuan dan bahasa Yunani.[10]. Sejauh mana akurasi data bahwa rasul Paul sangat paham dan mempelajari filsafat Yunani, masih menjadi perdebatan. Kiranya data yang disampaikan Tim Hegg di atas dapat memberikan sedikit alternatif jawaban dan gambaran walaupun belum seutuhnya.

Melihat status pendidikan rasul Paul di atas, maka kita bisa mengukur bahwa rasul Paul sangat terdidik dalam penguasaan bahasa Ibrani/Aramaik dan Torah serta berbagai keilmuan lainnya. Tidak mengherankan bahwa beliau cukup produktif membuat dan mengirimkan berbagai surat penggembalaan kepada jemaat-jemaat yang dia dirikan.

Surat-suratnya dalam dan terkadang tidak mudah dimengerti. Rasul Petrus memberikan peringatan sbb: "...seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain" (2 Petrus 3:15-16).

Oleh karena itu kita akan mengupas secara singkat dua persoalan yang kerap dituduhkan kepada rasul Paul yaitu sebagai “pendusta” dan “perombak Torah”. Benarkah kedua tuduhan tersebut? Kita akan mengkajinya satu persatu.


BENARKAH RASUL PAUL PENDUSTA?

Kajian  Terhadap 2 Korintus 12:16 dan Filipi 1:18 serta Roma 3:7


Mengenai 2 Korintus 12:16

Kita harus baca secara utuh dari ayat 14 sbb: “Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya. Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi? Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi--kamu katakan--dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya”

APAKAH HA BRIT HA KHADASHA KITAB PERJANJIAN BARU ASLI?

Posted by Teguh Hindarto



SEBUAH KRITIK UNTUK SACRED NAME MOVEMENT DI INDONESIA


Ada satu kesalahan serius yang dilakukan oleh beberapa kelompok Sacred Name Movement (Gerakan Pemulihan Nama Suci) di Indonesia yang tengah mengusung visi untuk memulihkan nama YHWH dan Mesias Yahshua/Yeshua, yaitu memperlakukan Kitab Ha Berit ha Khadasha sebagai Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang asli. Klaim tersebut dibuat untuk membuktikan perihal tertulisnya nama YHWH dan Yeshua dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Pernyataan ini dibuat untuk menyangkal pula varian pembacaan lain terhadap nama Mesias yaitu Yahshua, Yahushua, Yehoshua.

Benarkah bahwa Ha Berit ha Chadasha adalah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani yang asli? Dalam kajian berikut, saya tidak akan mempersoalkan mengenai nama YHWH dan nama Yahshua atau Yeshua (sebagaimana kerap dikumandangkan oleh kelompok Sacred Name Movement) karena kajian-kajian tersebut telah saya ulas dalam beberapa judul berikut:

Mengenai Nama Dan Atribusi Tuhan[1]

Meninjau Ulang Penggunaan Nama Allah Dalam Terjemahan LAI[2]

Nama Sang Juruslamat[3]

Apakah Nama Yahshua Tidak Ada Dalam Kitab Suci?[4]

Mengapa klaim Sacred Name Movement di Indonesia yang menyatakan bahwa Ha Berit ha Chadasha  adalah keliru? Karena Ha Berit ha Chadasha adalah TERJEMAHAN dari naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Semangat dalam memberitakan apa yang diyakini benar memang harus disertai pengetahuan yang memadai baik dari segi ilmu sejarah naskah Kitab Suci, sejarah penerjemahan Kitab Suci dan ilmu-ilmu pendukung lainnya. Jika tidak, maka setiap pernyataan yang dikeluarkan hanya akan menjadi bahan tertawaan bagi kaum cerdik pandai. Kebenaran itu harus dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya menyampaikan kebanaran harus dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai aspek yang mendukung.

Berbicara mengenai Kitab Perjanjian Baru, perlu diketahui bahwa kita tidak memiliki naskah asli Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Secara MATERIAL Kekristenan memiliki Kitab Peshitta Aramaik dan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Kita hanya memiliki bukti FORMAL bahwa pada mulanya hanya ada satu Injil yang ditulis oleh Matius dalam bahasa Aram yang berisikan perkataan atau ajaran Yesus sebagaimana disaksikan oleh Papias (150-170 SM) yang menyatakan bahwa “Matius telah menyusun kata-kata ini dalam bahasa Ibrani dan yang lainnya menerjemahkan semampunya” (Eusebeius,Ecclesiatical Historiae 3:39). Namun kita sudah tidak dapat menemukan Injil dalam bahasa Ibrani tersebut.

Frasa, “yang lainnya menerjemahkan semampunya” menimbulkan beberapa kemungkinan pendapat, Pertama,  Injil Matius kemudian dikembangkan oleh para murid yangmemiliki kemampuan berbahasa Yunani sehingga menimbulkan empat Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dalam bahasa Yunani. Kemudian Injil berbahasa Yunani tersebut diterjemahkan dalam bahasa Aramaik yang disebut Peshitta. Kedua, Injil Matius kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Aramaik oleh para murid yang berbahasa Aram dan menghasilkan Peshitta dan kemudian Peshitta diterjemahkan dalam bahasa Yunani.

Sampai saat ini ada tiga kelompok pemahaman mengenai bahasa penulisan Kitab Injil dan Perjanjian Baru. Kelompok pertama menyatakan bahwa Injil dan Kitab Perjanjian Baru ditulis aslinya dalam bahasa Yunani dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Aramaik yang disebut dengan Peshitta. Kelompok ini dinamakan Greek Primacist..  Kelompok Kedua menyatakan bahwa Injil dan Kitab Perjanjian Baru ditulis semula dalam bahasa Aramaik lalu diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Kelompok ini dinamakan Aramaic Primacits[5]. Kelompok ketiga meyakini bahwa naskah Matius berbahasa Ibrani yang diinformasikan Papias menjadi dasar bagi penerjemahan berbagai naskah Injil dalam bahasa Yunani[6]. Masing-masing pendirian dalam kedua kelompok tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Terlepas mana teori yang benar kita tidak akan memperdebatkannya dalam kajian ini karena dalam artikel yang saya tulis dengan judul Sumber-Sumber Semitik Kitab Perjanjian Baru[7] telah dibahasa panjang lebar kekuatan dan kekurangan masing-masing teori tersebut dan dimana saya mengambil sikap atas perbedaan pendapat tersebut.

Kita memiliki sejumlah edisi terjemahan Kitab Suci baik TaNaKh (bahasa Ibrani) dan Kitab Perjanjian Baru (bahasa Yunani) dalam bahasa Inggris mulai dari terjemahan Wyclife Bible (1380), King James Version (1611) sampai terjemahan modernEnglish Revised Version (2006). Bagan berikut akan menolong kita melihat berbagai versi terjemahan berbahasa Inggris yang mendasarkan pada naskah Masoretik untuk TaNaKh dan naskah Textus Receptus untuk Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Bagan berikut akan mempermudah kita menjelajahi proses terjemahan tersebut.



Gambar 1: [8]



Gambar 2[9]



Gambar 3[10]

Setelah adanya terjemahan berbahasa Inggris dengan berbagai versi di atas, maka diperlukan sebuah usaha untuk menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru untuk komunitas Yahudi agar mereka menerima Yesus sebagai Mesias. Upaya-upaya tersebut muncul dari kalangan sarjana-sarjana Kristen yang ahli di bidang bahasa-bahasa Semitik.

Berikut saya kutipkan berbagai versi terjemahan Ibrani yang merujuk dari naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani al.,

  1. 1537, Gospel of Matthew, Sebastian Münster, Basel – (didasarkan pada salah satu terjemahan Rabinik Injil Matius)
  2. 1551, 1550 Gospel of Matthew, J. Quinquarboreus (Jean Cinqarbres) and 1550 Jean Mercier (Hebraist), Paris - confused with Sebastian Münster's adaption of a Rabbinical text of Matthew, but prepared from another of the Rabbinical translations of Matthew, purchased in Italy by bishop Jean du Tillet.
  3. 1553, Psalms and first 2 chapters of Matthew, Anton Margaritha, Leipzig - a Jewish convert.
  4. 1557, Epistle to the Hebrews, Sebastian Münster, Basel
  5. 1560s? unpublished manuscript of the New Testament. Erasmus Oswald Schreckenfuchs (1511-1579) Professor of Mathematics, Rhetorics, and Hebrew, first at Tubingen, afterwards at Freiburg in Breisgau.
  6. 1569, Tremellius publishes an edition of the Syriac Peshitta in Hebrew letters.
  7. 1574, Gospel of Luke, Fredericus Petrus, Lutheran pastor of the church of Brunswick.
  8. 1575, Gospel of Mark, Walther Herbst, Wittemberg
  9. 1576, The Anniversary Gospels in four languages, Johannes Claius (Johann Klaj), Leipzig
  10. 1586, The Anniversary Epistles in four languages, ed. Conrad Neander, Leipzig
  11. 1598, Epistles to the Galatians and the Ephesians, György Thúri (Georgius Thurius), Wittenberg
  12. 1599, New Testament in 12 languages, Elias Hutter, Nuremburg
  13. 1661, New Testament, William Robertson, London. Revised version of Hutter 1599
  14. 1668, Latin-Hebrew Gospels, Jona, Giovanni Battista (1588–1668), (originally Jehuda Jona ben-Isaac), Rome
  15. 1734, Epistle to the Hebrews, Friedrich Albert Christian, Halle
  16. 1735, Gospel of Luke, Heinrich Frommann, Halle
  17. 1766, Epistle to the Hebrews, György Kalmár, Amsterdam
  18. 1796, New Testament, Dominik von Brentano, Vienna and Prague
  19. 1798-1805, NT, Richard Caddick, London. Revised version of Hutter 1599 and Robertson 1661
  20. 1805, The Four Gospels, Thomas Yeates, London  Apparently a revision of Jona, Giovanni Battista 1668
  21. 1813-1817, New Testament, Thomas Fry and W. B. Collyer, London
  22. 1831, New Testament, Novum Testamentum, Hebraice ed. William Greenfield, London
  23. 1838, New Testament, Alexander M'Caul (1799–1863), Johann Christian Reichardt (1803–1873), Stanislaus Hoga and Michael Solomon Alexander for the London Society for Promoting Christianity Amongst the Jews.
  24. 1846, New Testament, Johann Christian Reichardt (1803–1873), London
  25. 1851-1867, Luke, Acts, Romans and Hebrews, Johann Heinrich Raphael Biesenthal (1800–1886), Berlin
  26. 1863, New Testament, Hermann Heinfetter, London
  27. 1865, New Testament, Ezekiel Margoliouth, London Jews' Society, London. This is the only complete cantillated translation of the New Testament.
  28. 1866, New Testament, J. C. Reichardt and J. H. R. Biesenthal, London
  29. 1869, Gospel of Matthew, Elias Soloweyczyk
  30. 1875, Gospel of Matthew, William Henry Guillemard, Cambridge
  31. 1877-1889, New Testament, Franz Delitzsch (1813-1890), Leipzig. The first edition was published in 1877, the 10th edition - which was the last one revised by Delitzsch himself - in 1889. The first edition was based on the Codex Sinaiticus. However, at the behest of the British and Foreign Bible Society, subsequent editions followed the Textus Receptus, a more traditional and less critical edition. The translation was revised by Arnold Ehrlich (1848–1919).
  32. 1885, New Testament, Isaac Salkinsohn (c. 1820-1883)
  33. 1886, New Testament, I. Salkinson and C. D. Ginsburg, London. This edition is a profound revision of Salkinsohn 1885 by Christian David Ginsburg (1831–1914). It was first distributed by the Trinitarian Bible Society, now distributed by The Society for Distributing Hebrew Scriptures. Background information on the translation is available, and there is a revised and modernized by Eri S. Gabe (2000). The translation is issued in bilingual editions (such as Hebrew-English on facing pages) with the explicit aim of making it appealing to Jews.
  34. 1892, New Testament, Delitzsch and Gustaf Dalman. This is the 11th edition of Delitzsch, profoundly revised by Dalman, based on older manuscripts. Most later printed editions of Delitzsch are based on this one.
  35. 1948-1950, Gospels of Matthew and Mark, J.-M. Paul Bauchet, Jerusalem. These are slightly revised versions of Delitzsch.
  36. 1957, Gospel of John, Moshe I. Ben Maeir, Denver
  37. 1969, The Gospel of Mark, Robert Lisle Lindsey
  38. 1975, New Testament, J.-M. Paul Bauchet and D. Kinneret Arteaga, Rome. In modern Hebrew, without vowel points.
  39. 1977, New Testament, United Bible Societies, Jerusalem. This is a modern Hebrew translation prepared by an ecumenical team of scholars in the beginning of the seventies. The translation was first published by The Bible Society in Israel in 1977. It has been revised several times, latest in 2010. Part of this translation - primarly the four gospels and to a lesser grade the Book of Revelations - is apparently based on Delitzsch (see above), while the Acts of the Apostles and the Epistles seem to be independent translations.
  40. 1977, New Testament, Living Bible International, translator unknown. This is more a paraphrase than a literal translation in modern Hebrew, in line with other translations of The Living Bible. The four gospels and the Acts of the Apostles were published in Israel in 1977 under the title Beit ha-lahmi.[11]

Seiring dengan kebangkitan Messianic Judaism yaitu kelompok orang-orang Yahudi dan Yudaisme modern yang menerima Yesus sebagai Mesias dan beribadah dengan tata cara Yahudi dan mereka tidak mau disebut Kristen, maka dihasilkanlah berbagai versi terjemahan berbahasa Inggris yang mengacu pada naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani namun dengan mengangkat idiom-idiom Semitik Yudaik. Beberapa terjemahan Kitab Suci tersebut al.,

Restoration Scriptures[12] 



The Sacred Scriptures[13] 




The Scriptures[14] 



Complete Jewish Bible & Jewish New Testament[15] 




The Hebraic Root Version Scriptures[16]