RSS Feed

DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DENGAN ALBERT RUMAMPUK MENGENAI JULUKAN KURIOS BAGI YESUS: TUAN ATAU TUHAN? (SERI 2)

Posted by Teguh Hindarto




Artikel saya berjudul “Julukan Kurios Bagi Yesus: Tuan atau Tuhan” yang saya posting di blog dan dishare dalam sejumlah group diskusi telah menimbulkan tanggapan dan reaksi dari Albert Rumampuk.

http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/julukan-kurios-bagi-yesus-tuan-atau.html

http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/bagian-kedua-dalam-bagian-pertama.html

Berikut ini saya akan posting hasil diskusi secara berseri dalam Group “Diskusi Cerdas Judeochristianity dan Kristen”


http://www.facebook.com/groups/259025264138201/426654070708652/


DISKUSI SERI 2


Shem:

Anda tidak menjelaskan alasan mengapa kata Kurios/Lord dalam ayat-ayat yang Anda sitir harus diterjemahkan Tuhan. Mungkin Anda melandaskan pada kata “sembah” yang ditujukan pada Yesus (Yoh 9:38). Jika memang kata “sembah” yang menjadi fokus, mengapa kata “sembah” yang ditujukan pada Petrus (Kis 10:25) atau malaikat (Why 22:8), kenapa tidak Anda pertuhan?
-------------
Albert Rumampuk:

Kasus penyembahan kepada para rasul di Kis 10:25-26; KIS 14:14-18 dan penyembahan pada malaikat di Wah 19:10; 22:8-9, tak boleh disamakan dengan penyembahan pada Yesus di Yoh 9:38, dsb, karena pada saat para rasul dan malaikat dalam ayat itu disembah, mereka menolak penyembahan itu dan malaikat malah mengarahkannya kepada Allah. Tetapi saat Yesus disembah, Dia sama sekali tidak menolaknya. Ini tentu bukti keilahian Yesus. Jadi, saya tak mau menuhankan Petrus, malaikat, dsb, selain Kristus
---------------- 
Mana ayat yang menunjukkan bahwa saat orang-orang menyembah Yesus, mereka menyembah YHWH atau menyembah Bapa? Lihat konteks penyembahan yang ditujukan terhadap Yesus yang tidak beliau tolak karena memang beliau layak disembah. Namun disembah sebagai apa? Dalam konteks Yohanes 9:38 adalah penyembahan terhadap Yesus yang diyakini sebagai “Bar Enosh” (Anak Manusia) dalam Daniel 7:7-14. Anda tidak memperhatikan penjelasan saya ini dan memfokuskan pada keilahian Yesus belaka. Lagi pula keseluruhan artikel saya yang menggugat soal kata Kurios tidak ada hubungannya dengan keilahian Yesus yang tidak saya sangkal sama sekali? (22 September 2012)

Shem:

Mari kita telaah soal kata “sembah” yang dihubungkan pada Yesus. Dalam kategori apa penyembahan yang ditujukan pada Yesus menurut Yohanes 9:38. Untuk itu kita harus melihat secara keseluruhan dari ayat 35-38.

“Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuan (Kurios)? Supaya aku percaya kepada-Nya."Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!"Katanya: "Aku percaya, Tuan!"(Kurios) Lalu ia sujud menyembah-Nya”. Dari kajian teks dan konteks di atas, penyembahan yang ditujukan terhadap Yesus bukan penyembahan yang dihubungkan dengan Keilahian yang ditujukan pada YHWH Sang Bapa. Penyembahan yang dimaksudkan adalah sikap takzim (hormat) karena mereka yang menyembahnya percaya bahwa Yesus adalah BAR ENOSH yang dijanjikan dalam Kitab Daniel.
---------
Albert Rumampuk:

Dalam Mat 4:10, Yesus melarang penyembahan kepada yang bukan Tuhan / Allah:

“Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’"

Jika Yesus bukan Tuhan / Allah, mengapa Dia mau disembah? Jika Yesus bukan Tuhan / Allah tapi mau disembah, itu berarti Dia sedang menentang kata-kataNya sendiri di Mat 4:10. 
---------------- 
Sudah saya katakan, perhatikan dengan seksama ketika kata “sembah” dan “sujud” ditujukan pada Yesus, apakah pernah sujud dan sembah terhadap Yesus dihubungkan dengan status beliau sebagai YHWH atau Sang Bapa? Tidak! Penyembahan yang ditujukan pada beliau dihubungkan dengan status beliau sebagai Anak Tuhan, Mesias, Anak Manusia dan bukan yang lain yang menggantikan kedudukan Bapa di Sorga. Justru dengan pernyataan Yesus yang menyuruh Satan hanya menyembah YHWH Tuhan Pencipta membuktikan bahwa Yesus tidak pernah mengarahkan penyembahan pada dirinya yang menggantikan kedudukan Bapa.

Sekali lagi, tidak ada hubungan penerjemahan kata Kurios dengan status keilahian dan penyembahan terhadap Yesus.

Shem:

Istilah “Anak Manusia” (Bhs Yun: Huios tou Anthropou/Bhs Ibr: Ben ha Adam/Bhs Arm: Bar Enosh) menunjuk pada julukan pada seseorang dalam penglihatan Nabi Daniel sbb: “Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh. Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong. Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. Aku terus melihatnya, karena perkataan sombong yang diucapkan tanduk itu; aku terus melihatnya, sampai binatang itu dibunuh, tubuhnya dibinasakan dan diserahkan ke dalam api yang membakar. Juga kekuasaan binatang-binatang yang lain dicabut, dan jangka hidup mereka ditentukan sampai pada waktu dan saatnya. Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:7-14).

Perilaku ini pun sebanding dengan penyembahan orang Majus terhadap Yesus yang diyakini sebagai Raja yang dinubuatkan untuk membebaskan Israel (Mat 2:2)
------------
Albert Rumampuk:

Tentang istilah ‘anak manusia’ tak perlu dibahas karena itu bukan dasar argument saya. Tak ada orang yang waras / benar disepanjang PB yang mau menerima penyembahan manusia (yang bukan Tuhan) setelah kata-kata Yesus di Mat 4:10. Herodes yang menerima penghormatan ilahi justru dihukum mati oleh Tuhan (Kis 12:20-23).
-------------- 
Itu memang bukan dasar argumen Anda namun saya perlu mengkaji Daniel 7:7-14 sebagai konsekwensi logis menguraikan konteks penyembahan terhadap diri Yesus dalam Yohanes 9:38. Bagaimana cara Anda menalar sebuah argumen sich?

Shem:

Mengenai dalil Yohanes 11:27 yang Anda simpulkan bahwa kata Kurios bagi Yesus harus diterjemahkan Tuhan pun tidak berdasar. Mari kita kaji ayat tersebut. 

Terjemahan LAI: “Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." Justru sangat ganjil dan kacau jika penyembahan dan pengakuan Marta terkait dengan Kemesiasan Yesus (sejajar dengan status Anak Manusia, Anak Tuhan) yang diungkapkan dengan frasa, “Engkaulah Mesias” justru ditambahi frasa “Ya, Tuhan”.

Kitab TaNaKh menghubungkan Mesias sebagai Manusia Ilahiah. Maka konsekwensi logisnya Mesias tidak akan disapa dengan sapaan yang layak ditujukan pada YHWH yaitu Elohim/Alaha/Theos/God melainkan sapaan penghormatan untuk manusia yaitu Adon/Maran/Kurios/Lord
------------
Albert Rumampuk:

Kata ‘Tuhan’ dalam ayat itu, bukan hanya dikaitkan dengan ‘Mesias’ tetapi juga ‘Anak Allah’ (huios tou theou). Dalam konsep Yahudi, istilah itu merujuk pada Allah sendiri (bdk. Yoh 5:18). Bukankah anda akui bahwa ‘Mesias’ dalam PL menunjuk pada ‘manusia ilahi’? Lalu mengapa Yesus tak boleh disembah? Anda katakan kata ‘Adon’ adalah sapaan penghormatan untuk manusia? Bagaimana dengan Maz 16:2 dimana YHWH disebut sebagai ‘Adonay’? Apa memang YHWH adalah seorang manusia?
--------------- 
Pertanyaan Anda, “Lalu mengapa Yesus tidak boleh disembah” salah alamat ditujukan pada saya. Tidak ada sedikitpun penjelasan saya yang mempersalahkan sikap penyembahan yang ditujukan pada diri Yesus. Yang saya persoalkan adalah menghubungkan kata Kurios yang diterjemahkan Tuhan dengan status Keilahian Yesus. Ini tidak ada sangkut pautnya. Kata Kurios (Yun) atau Adon (Ibr) atau Adonay (Ibr) bahkan untuk YHWH sendiri seharusnya diterjemahkan TUAN atau JUNJUNGAN tanpa merendahkan status Ketuhanan-Nya 

Shem:

Mengenai dalil Matius 7:21-22 lebih tidak berdasar jika dijadikan rujukan bahwa kata Kurios dalam ayat tersebut harus diterjemahkan dengan Tuhan sementara teks berbahasa Inggris tetap menuliskan dengan Lord (Tuan)

Maka Matius 7:21-22 selayaknya diterjemahkan sebagaimana para murid dan rasulnya menyapa beliau dengan sebutan Adon/Maran/Kurios yang artinya TUAN atau JUNJUNGAN sehingga terjemahan LAI seharusnya berbunyi:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan (Kurios)! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?”
-----------
Albert Rumampuk:

Teks ini dihubungkan dengan persoalan ‘sorga’. Yesus bukan hanya berkuasa untuk memasukkan orang percaya ke sorga tetapi bahkan memberi neraka bagi yang tak beriman (bdk. Mat 25:12,41). Jika Yesus punya kekuasaan untuk ‘mengenyahkan’ manusia ke neraka, lalu siapakah Dia sesungguhnya? Layakkah kata ‘KURIOS’ diayat itu diterjemahkan ‘tuan’?
------------ 
Tentu saja layak karena kata Kurios memang artinya Tuan. Bukankah dalam bahasa Inggris Kurios diterjemahkan dengan Lord? Manusia pun bisa memiliki gelar sapaan Lord seperti Lord Minto, Lord Baden Powell, Lord Land, War Lord. Dalam budaya Yahudi yang menjunjung Monoteisme atau Keesaan Tuhan, maka tidak mungkin sapaan Kurios disetarakan dengan Theos atau sapaan Adon disetarakan dengan Elohim. Ketika Yesus disapa Kurios atau Adon, tidak ada yang berfikir bahwa sapaan itu adalah bermakna Tuhan (Theos, Elohim, God). Itu avodah zarah alias syrk. 

Persoalan Yesus berkuasa di Sorga dan berkuasa memasukkan orang-orang ke neraka, justru membuktikan keilahian Yesus sebagai Sang Putra yaitu Sang Firman yang menjadi manusia. Begitu saja khoq sulit mencerna thoh?

DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DENGAN ALBERT RUMAMPUK MENGENAI JULUKAN KURIOS BAGI YESUS: TUAN ATAU TUHAN? (SERI 1)

Posted by Teguh Hindarto




Artikel saya berjudul “Julukan Kurios Bagi Yesus: Tuan atau Tuhan” yang saya posting di blog dan dishare dalam sejumlah group diskusi telah menimbulkan tanggapan dan reaksi dari Albert Rumampuk.

http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/julukan-kurios-bagi-yesus-tuan-atau.html

http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/bagian-kedua-dalam-bagian-pertama.html

Berikut ini saya akan posting hasil diskusi secara berseri dalam Group “Diskusi Cerdas Judeochristianity dan Kristen”


http://www.facebook.com/groups/259025264138201/426654070708652/


DISKUSI SERI 1

Albert Rumampuk:


Mungkin sebagai perbandingan dari saya tentang kata KURIOS bagi Yesus, bukan hanya bisa diterjemahkan 'tuan' (Yoh 4:11), tetapi dalam banyak ayat, misalnya dalam:


Filipi 2:10,11 - [10] supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, [11] dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Kata 'Tuhan' (Yun: KURIOS) dalam ayat ini tak boleh diterjemahkan 'tuan' tetapi harus 'Tuhan' yang jelas menyatakan keilahianNya.

Dalam Injil juga ada:

Yoh 9:38 ‘Katanya: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembah-Nya.” 

Kata 'Tuhan / KYRIE' tak boleh diterjemahkan 'tuan' tetapi 'Tuhan' dalam arti yang tegas. -------------  
Seperti saya katakan sebelumnya bahwa saya membuat pembedaan terjemahan kata Kurios berdasarkan kategori konteks sbb: ,”Ketuhanan Yesus bukan terletak pada sapaan Kurios baginya melainkan dari aspek ontologi (hakikat) beliau yaitu Sang Sabda yang dekat, melekat, sehakikat bersama YHWH Tuhan Semesta Alam (Kej 1:1-3, Yoh 1:1). Oleh karenanya, saya membedakan dalam memanggil sapaan Kurios dengan Tuan dan Junjungan Agung atau Junjungan Agung Yang Ilahi bagi Yesus. Untuk semua kata Kurios yang ditujukan bagi Yesus dalam Injil Sinoptik diterjemahkan dengan Tuan sebagaimana kasus percakapan Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh 4:11). Namun untuk terma doxologis dalam surat-surat rasuli maka saya akan terjemahkan dengan Junjungan Agung atau Junjungan Agung Yang Ilahi (1 Kor 8:6 dll)”

Kata Kurios dalam Filipi 2:10-11 adalah formula doxologis maka seharusnya diterjemahkan dengan JUNJUNGAN AGUNG YANG ILAHI bukan Tuhan karena kata Tuhan (Elohim/Theos/Alaha/God) selalu ditujukan pada YHWH Sang Bapa dan tidak pernah dilekatkan pada Yesus Sang Mesias.

Jika kata KURIOS yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan LORD, lalu mengapa kita tidak menerjemahkan LORD MINTO (gubernur jendral yang mengutus Thomas Stanford Rafles) dengan TUHAN MINTO? Mengapa kita tidak menerjemahkan LORD BADEN POWEL (bapak kepanduan) dengan TUHAN BADEN POWELL? (15 September 2012)

Albert Rumampuk:

Saya tak setuju jika Kej 1:1-3 berbicara tentang Yesus, juga tak setuju mengaitkannya dengan Yoh 1:1. Menurut saya, Kej 1:1-3 bukan ayat parallel dengan Yoh 1:1.
 --------------  
Apakah saya menulis demikian? Dalam artikel di atas saya tidak menghubungkan Kejadian 1:1-3 dengan Yesus namun frasa “pada mulanya Firman” (Yoh 1:1) adalah gema dari “pada mulanya Tuhan” (Kej 1:1). Justru pernyataan saya ini untuk membantah bahwa Yohanes mengambil gagasan Logos Yunani untuk menjelaskan konsepnya tentang hakikat Yesus sebagai Sang Firman. Justru Yohanes mengambil gagasan mengenai Davar/Memra untuk menjelaskan keilahian Yesus sebagai Sang Firman dengan merujuk pada Kejadian 1:1-3 dengan memfokuskan pada Sang Firman


Albert Rumampuk: 

Untuk Yoh 4:11, setuju jika kata KURIOS diayat itu diterjemahkan ‘tuan’. Tetapi saya menolak pandangan anda yang mengatakan “semua kata Kurios yang ditujukan bagi Yesus dalam Injil Sinoptik diterjemahkan dengan Tuan’”. Bagaimana dengan Mat 7:21-22; Yoh 9:38; 11:27, dsb? Jelas bahwa kata KURIOS diayat-ayat tersebut tak bisa diterjemahkan ‘tuan’ tetapi ‘Tuhan’. 
------------  
Anda tidak menjelaskan alasan mengapa kata Kurios/Lord dalam ayat-ayat yang Anda sitir harus diterjemahkan Tuhan. Mungkin Anda melandaskan pada kata “sembah” yang ditujukan pada Yesus (Yoh 9:38). Jika memang kata “sembah” yang menjadi fokus, mengapa kata “sembah” yang ditujukan pada Petrus (Kis 10:25) atau malaikat (Why 22:8), kenapa tidak Anda pertuhan?

Mari kita telaah soal kata “sembah” yang dihubungkan pada Yesus. Dalam kategori apa penyembahan yang ditujukan pada Yesus menurut Yohanes 9:38. Untuk itu kita harus melihat secara keseluruhan dari ayat 35-38.

“Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuan (Kurios)? Supaya aku percaya kepada-Nya."Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!"Katanya: "Aku percaya, Tuan!"(Kurios) Lalu ia sujud menyembah-Nya”.  Dari kajian teks dan konteks di atas, penyembahan yang ditujukan terhadap Yesus bukan penyembahan yang dihubungkan dengan Keilahian yang ditujukan pada YHWH Sang Bapa. Penyembahan yang dimaksudkan adalah sikap takzim (hormat) karena mereka yang menyembahnya percaya bahwa Yesus adalah BAR ENOSH yang dijanjikan dalam Kitab Daniel.

Istilah “Anak Manusia” (Bhs Yun: Huios tou Anthropou/Bhs Ibr: Ben ha Adam/Bhs Arm: Bar Enosh) menunjuk pada julukan pada seseorang dalam penglihatan Nabi Daniel sbb: “Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh. Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong. Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. Aku terus melihatnya, karena perkataan sombong yang diucapkan tanduk itu; aku terus melihatnya, sampai binatang itu dibunuh, tubuhnya dibinasakan dan diserahkan ke dalam api yang membakar. Juga kekuasaan binatang-binatang yang lain dicabut, dan jangka hidup mereka ditentukan sampai pada waktu dan saatnya. Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah” (Dan 7:7-14).

Perilaku ini pun sebanding dengan penyembahan orang Majus terhadap Yesus yang diyakini sebagai Raja yang dinubuatkan untuk membebaskan Israel (Mat 2:2)
Mengenai dalil Yohanes 11:27 yang Anda simpulkan bahwa kata Kurios bagi Yesus harus diterjemahkan Tuhan pun tidak berdasar. Mari kita kaji ayat tersebut. 


SIAPAKAH AZAZEL ITU?

Posted by Teguh Hindarto


Nama Azazel muncul dalam Kitab Imamat 16 sebanyak 3 kali yaitu dalam Imamat 16:8, 10, 26 sbb:

“dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi YHWH dan sebuah bagi Azazel

“Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan YHWH untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun”

“Maka orang yang melepaskan kambing jantan bagi Azazel itu harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan sesudah itu barulah boleh masuk ke perkemahan”

Siapakah sebenarnya Azazel itu? Jika kita membuka referensi tafsir baik tafsir Yudaisme dan Kristen serta berbagai literatur kuno seperti kitab-kitab Apokripha yang tidak termasuk dalam daftar kanon, ada beraneka ragam tafsir mengenai siapa dan bagaimana Azazel tersebut.

Azazel dalam Literatur Talmudik

Menurut tafsir rabi-rabi Yahudi dalam Talmud (Talmud adalah kumpulan tafsir, debat, pendapat para rabbi yang dikumpulkan dalam dua tahap yaitu pada tahun 200 Ms yang dinamai Mishnah dan pada tahun 500 Ms yang dinamai Gemara), Azazel dihubungkan dengan kata Azaz (kasar, curam) dan El (kuat) yang menunjuk pada pegunungan curam yang kasar dan terjal kemana kambing hitam akan dibuang pada Yom Kippur sejak zaman Bait Suci dibangun (Yoma 67b; Sifra Ahare ii.2; Targum Yerusalem Lev xiv.10)

Azazel dalam Tafsir Rabinik Abad Pertengahan

Menurut tafsir para rabi Yahudi di Abad Pertengahan seperti Nachmanides (1194-1270) menyamakan Azazel sebagai nama roh jahat yaitu Samael. Menurut Nachmanines, korban Azazel bukan diperuntukkan bagi Azazael sebagai dewa namun sebagai simbol yang menampilkan gagasan bahwa dosa dan kejahatan umat di buang ke dalam tempat penghancuran sebagai lambang ketidaksucian atau kenajisan. Terbukti dengan dibuangnyua salah satu kambing ke padang gurun menunjukkan bahwa  Azazael tidak setara dengan Tuhan. Sebaliknya kambing Azazael dikontraskan dengan kekudusan Tuhan.

Demikian pula dengan Maimonides (1134-1204) menyatakan, bahwa ritual ini merupakan simbolisasi karakter dan pengabdian untuk menekankan pada manusia sebuah pemikiran yang jelas dan menuntunya pada pertobatan seolah-olah mengatakan, “Kami telah membebaskan diri kami dari perbuatan-perbuatan-perbuatan sebelumnya. Buanglah ke belakang kami dan halaukan mereka dari kami sejauh mungkin”.

Azazael Dalam Literatur Apokrifa

Dalam referensi non Kanonik yaitu Kitab Apokripa khususnya Kitab Henok (ditulis sekitar tahun 300-200 sM dalam bahasa Aramaik, Ibrani. Salah satu pasal dari Kitab Henok yaitu Ps 1:9 dikutip dalam Kitab Yudas 1:14-15) dilaporkan mengenai nama malaikat yang jatuh bernama Azazel. Nama Azazael disebut beberapa kali dalam Kitab Henok yaitu 1 Henok 10:8 (melaporkan bahwa dunia yang telah rusak jatuh dalam kekuasaan Azazel), 1 Henok 2:8 (melaporkan penghukuman terhadap Azazel di api neraka oleh Tuhan), 1 Henok 8:1-3 (melaporkan bahwa Azazel mengajarkan pada manusia berbagai kepandaian membuat pedang, pisau, strategi perang, merias wajah dll. Namun kemudian Azazel mengakibatkan banyak kerusakan di bumi sehingga membuat para mailat seperti Raphael mengikat Azazel dan membuat lupang di padang Gurun Dudael (Bet ha Dudo) serta melemparkannya ke dalam tempat paling gelap)

Dalam naskah non Kanonik lainnya yaitu Wahyu Abraham (Apocalypse of Abraham) melaporkan mengenai Azazael yang dihubungkan dengan nama burung najis yang mendekati Abraham saat mempersembahkan korban. Burung tersebut berkata pada Abraham, “Apa yang sedang kamu lakukan di tempat tinggi ini Abraham? Di sini tidak ada minuman dan makanan bagi manusia? Semua akan dimakan oleh api dan membubung ke atas dan api itu akan melahapmu juga”. Kemudian saat Abraham melihat burung tersebut maka Abraham bertanya pada malaikat, “Apakah ini Tuan?” dan malaikat itu menjawab, “Ini adalah keaiban – inilah Azazel!”. Malaikat itu menghardik demikian, “Sungguh tidak tahu malu kamu, Azazel! Bagian Abraham adalah di Surga dan bagianmu adalah di bumi karena kamu telah memilih berada di sini dan terpikat pada tempat cemar di bumi. Oleh karenanya sang Pengatur Yang Kekal telah memberikan tempat bagimu di bumi. Melaluimu, semua roh-roh jahat adalah pendusta dan melaluimu datang kemarahan dan penggoidaan terhadap keturunan manusia yang hidupnya tidak saleh” (Abr 13:4-9). Dalam pasal-pasal berikutnya nama Azazel dihubungkan dengan penghukuman Tuhan bersama pengikut Azazael yaitu orang fasik (Abr 31:5 dan Abr 14:5-6)

Azazel Dalam Tafsir Kekristenan

Cyrilius dari Alexandria menggambarkan kata Yunani Apompaios dalam Septuaginta (Kitab TaNaKh dalam terjemahan Yunani) yang menerjemahkan kata Ibrani Azazel sebagai lambang Mesias yang akan dikorbankan. Origenes menghubungkan Azazel dengan Satan
Dari berbagai uraian sejarah dan lintas literatur kita menemukan aneka ragam pemahaman mengenai siapakah Azazel tersebut. Apakah dia nama dewa?, nama roh jahat? atau sebuah simbolisasi berbagai perbuatan jahat dan berdosa?

Dalam penafsiran saya, istilah Azazel bukan menunjuk nama dewa atau nama satan. Berbagai tafsir mengenai Azazel adalah nama dewa dan nama satan adalah tulisan belakangan setelah Kitab Kanonik dituliskan. Maka orisinalitas pendapatnya perlu diragukan. Azazel lebih menunjukkan pada simbolisasi berbagai karakter dan tindakan jahat umat manusia (dalam konteks ini adalah Israel sebagai bangsa) yang harus dikumpulkan dalam satu wadah dan itu dibuang ke tempat yang jauh (dalam konteks ini adalah padang gurun). Kesimpulan ini didukung melalui analisis Imamat 16: 21-22 sbb: “dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu. Demikianlah kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan Israel ke tanah yang tandus, dan kambing itu harus dilepaskan di padang gurun”.

KEMATIAN DAN PERLAKUAN YANG BENAR TERHADAP ORANG MATI

Posted by Teguh Hindarto



Introduksi

Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Yesus Sang Mesias yang menyatakan bahwa barangsiapa yang percaya kepada-Nya sebagai Juruslamat dan Putra Tuhan serta memelihara perintah-perintah-Nya akan mendapatkan kehidupan kekal (Yoh 5:24-26; 11:25).

Persoalannya masih banyak orang Kristen yang belum memahami bagaimana memperlakukan orang yang sudah meninggal khususnya saat perawatan sampai dimakamkan serta bagaimana tata cara ketika kita datang ke makam orang tua atau saudara yang telah meninggal di dalam Tuhan.

Saya masih banyak menjumpai beberapa ketidaktepatan perihal perawatan hingga penguburan bahkan saat mengunjungi makam orang-orang yang sudah meninggal. Masih kerap dijumpai sejumlah orang Kristen memandikan mayat secara tidak tepat. Selayaknya dimandikan namun masih saja ada yang hanya membersihkan dengan mengelap badan orang yang sudah mati. Ada pula yang menempatkan Kitab Suci dalam gengaman tangan orang yang sudah meninggal, padahal Firman Tuhan diperlukan bagi orang yang masih hidup. Saat hendak menguburkan orang yang sudah meninggal tidak diadakan upacara pelepasan dan langsung dikuburkan. Masih pula dijumpai orang-orang Kristen yang tidak peduli dengan anggota keluarga  yang sudah terbaring di bumi, padahal kita memiliki kewajiban mengingat hubungan dengan mereka atau jasa-jasa mereka jika mereka orang yang berpengaruh. Masih banyak dijumpai bagaimana jenasah terbaring di rumah duka tanpa pendampingan keluarga dll.

Membicarakan kematian tidak dapat dilepaskan dengan pemahaman terhadap adanya manusia dan kehidupan. Kematian adalah kelanjutan dari sebuah kehidupan. Namun kematian muncul karena suatu sebab.

Hakikat Manusia

Pertama, ciptaan YHWH yang memiliki status “Gambar” (Ibr: Demut) dan “Keserupaan” (Ibr: Tselem) dengan YHWH (Kej 1:26-27). Kedua, ciptaan yang diambil dari bahan “debu tanah” (Ibr: Afar) yang dibentuk dan mendapatkan “nafas Tuhan” (Ibr: Nishmat) (Kej 2:7). Manusia adalah mahluk yang memiliki kesadaran baik intelektual maupun spiritual dalam tubuhnya dikarenakan ada “nafas Tuhan” dalam dirinya (Ayb 32:8 ; 33:3)

Hakikat Kematian

Kitab Suci mengatakan, buah dosa adalah maut (Rm 6:3). Manusia pertama melanggar perintah YHWH untuk tidak memakan Buah Pengetahuan Baik dan Buruk (Kej 3), sehingga menyebabkan mereka terkutuk dan berujung pada kefanaan. Kefanaan, kematian secara teologis adalah buah dosa. Manusia yang berdosa berpotensi dan mewarisi maut dalam dirinya. Secara lahiriah, kematian adalah terpisahnya roh atau nafas Tuhan dalam tubuh manusia. Penyebabnya bisa dikarenakan sakit, usia tua, kecelakaan, pembunuhan, dll. Secara spiritual, kematian adalah kembalinya manusia ke hadirat Tuhan yang telah menciptakannya.

Tempat Tinggal Orang Mati

Tempat tinggal manusia yang telah mengalami kematian di bumi dinamai dengan beraneka ragam istilah al., “kuburan” (haqever), “tempat kebinasaan” (avadon), “kegelapan” (khosyek), “negeri lupa” (erets neshiya), “dunia orang mati” (she’ol) (Mzm 88: 11-13)


Keadaan Manusia Yang Sudah Meninggal

Manusia yang mengalami kematian “tidak memiliki kekuatan” (lo yekhelash), “tidak bangkit dari kematian” (lo yaqum), “tidak terjaga” (lo yaqishu), “tidak bangun dari tidurnya” (lo ye’oru) (Ayb 14:10-12, 14)

Dua jenis Orang Mati

Ada dua jenis orang mati. Orang Benar (Tsadik) dan Orang Jahat (Reshaim). Kitab TaNaKh tidak banyak memberi informasi apa yang terjadi atas Orang Benar dan Orang Jahat setelah kematian mereka. TaNaKh lebih menekankan kematian sebagai ketidakberdayaan dan keterpisahan. TaNaKh lebih menekankan pada kehidupan dan bagaimana mengisi kehidupan dengan Torah sebagai penuntun dan pengajar. Hanya dalam beberapa Kitab seperti Yesaya memberikan gambaran mengenai “Pengadilan atas bumi” (Yes 24:21-23) dan “Hari Kebangkitan Orang Mati” dimana Orang Benar maupun Orang Jahat akan menerima upah (Dan 12:2-3).

Apakah Orang Mati
Dapat Berkomunikasi Dengan Orang Yang Hidup?

Apakah orang yang sudah mati dapat “berkomunikasi dengan orang yang hidup?”, “mengganggu orang yang hidup?” Pembacaan Mazmur 88:11, menyatakan, “im refaim yaqumu yoduka?” (apakah roh orang mati dapat bangkit bersyukur). Ini bermakna bahwa orang yang telah terpisah rohnya dengan tubuhnya tidak dapat berhubungan, berkomunikasi, mengganggu dengan orang-orang yang masih hidup. Menurut Pengkhotbah 12:7, “weyashav he’afar al haarets keshehaya, weharuakh tashuv el ha Elohim asher netanah” (dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Tuhan yang mengaruniakannya)”. Mereka yang telah meninggal, rohnya (arwahnya) telah kembali pada Tuhan. Lalu bagaimana menjelaskan berbagai fenomena tentang hantu, orang-orang mati yang berkomunikasi dan mengganggu orang yang hidup? Mereka adalah shatan yang menyamar. Shatan dapat menyamar menjadi Malaikat terang. Kitab Injil (Besorah) memberikan penegasan mengenai “jurang yang memisahkan” (Yun: “chasma mega “) antara orang mati yang satu dengan yang lain (Luk 16:26). Kitab Injil (Besorah) membedakan antara “Surga” (Ibr: Malkut haShamayim/Yun: Basilea Ouranoi) dan “Neraka” (Ibr: Gehinom/Yun: Gehena). Neraka adalah tempat penuh dengan api dan ratapan kesakitan serta kertakan gigi (Luk 16: 24, Why 20:15; 21:8). Surga adalah tempat yang indah dan penuh dengan kemuliaan Tuhan (Why 21-22).

Namun kita tidak menolak pengalaman rohani tertentu dimana dari banyak kesaksian yang kami kumpulkan dan sering kami alami bahwa orang-orang beriman yang sudah meninggal dapat memperlihatkan diri sekalipun tidak dapat berkomunikasi atau kalaupun berkomunikasi dengan seijin malaikat yang mengiringi mereka (ini adalah pengalaman  pribadi bukan doktrin).

Apa Yang Kita Bawa Saat Meninggal?

Ada satu hal yang diabaikan oleh orang Kristen perihal apa yang akan dibawa saat orang Kristen meninggal dan menghadap Tuhan? Ada banyak perilaku tidak biblikal dari orang-orang Kristen dimana saat jenasah dimasukkan peti diberi Kitab Suci di tangannya. Bukankah Kita Suci seharusnya dibaca dan direnungkan oleh orang-orang yang hidup?

Kitab Suci baik TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru mengajarkan perihal fungsi dan kedudukan serta nilai perbuatan baik dalam kekelalan. Kita akan mengkajinya secara singkat.

Fungsi Dan Kedudukan Perbuatan Baik

Sebelum kita mengupas nilai dari perbuatan baik hendaklah kita memahami fungsi dan kedudukan perbuatan baik dalam kehidupan pengikut Mesias.

Rasul Yakobus (Ya’aqov) mengatakan sbb: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:14-17).

Fungsi perbuatan adalah MENYEMPURNAKAN dan MEMBUKTIKAN bahwa seseorang memiliki iman sebagaimana dikatakan: “Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18) dan “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2:22).

Rasul Paul mengatakan dalam suratnya bahwa Kitab Suci dapat melengkapi kita dengan pedoman-pedoman berbuat baik. Muara akhir pembacaan dan pemahaman atas Kitab Suci adalah berbuat baik sebagaimana dikatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim 3:16-17). Perbuatan baik adalah PENGAMALAN seseorang akan perintah-perintah Tuhan.

Nilai Dan Upah Perbuatan Baik

Setelah kita mengulas fungsi dan kedudukan perbuatan baik marilah kita menggali nilai dan upah dari perbuatan baik.

Rasul Paul mengatakan sbb: “Jangan sesat! Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:7-9).

Dalam suratnya yang lain Rasul Paul mengingatkan sbb: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:6-8)

Dua kutipan surat di atas memberikan penegasan pada kita bahwa seberapa banyak yang kita perbuat entah menolong orang atau memberikan tsedaqah kita dalam bentuk harta kepada yang memerlukannya, akan BERDAMPAK dalam kehidupan kita. Seberapa banyak kita berbuat, demikianlah yang akan kita terima dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, janganlah jemu dalam berbuat kebajikan agar kita memperoleh kebajikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan di dunia ini.

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 3

Posted by Teguh Hindarto


AJARAN ALKITAB MENGENAI SABAT


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Dan hari Sabbat sebagai peringatan hari perhentian (penguburan) Kristus itu dirayakan dengan menjalankan ibadah sembahayang senja, yang lambang-lambang ibadah itu secara detail menggambarkan keberadaan Kristus dalam kuburan tadi. Dengan demikian hari Sabtu tak dilanggar, ketetapan-ketetapan Tauratpun tak dilanggar, karena sekarang kita bebas dari ketentuan Sabbat dalam Taurat, namun terikat dengan Kristus dalam peringatan deritanya tadi. Namun karena hari Tuhan itu adalah hari Pertama tadi, yaitu pada hari Minggu, dimana pada hari Tuhan ini kita dipersatukan dengan Tubuh Tuhan yang bangkit itu melalui perayaan Perjamuan Kudus yang dirayakan setiap kali kita bertemu pada hari Tuhan ini. Jadi jelas Minggu itu bukan Hari Sabbat, namun hari Tuhan. Ini bukan perayaan hari perhentian namun perayaan hari Kebangkitan. Sedangkan Sabtu itulah Sabbat, namun bukan sebagai tanda Perjanjian Keluaran dari Mesir, justru sebagai peringatan hari Perhentian Kristus dalam kuburan. Dengan demikian Sabtu itu bukan hari terpuncak, namun harus dimeteraikan oleh Hari Kebangkitan ( Hari Ahad = Hari Pertama).
---------------
Pernyataan Romo Daniel Byantoro di atas cukup menggembirakan saya, dimana dalam Gereja Orthodox, Sabat tidak ditiadakan dan digantikan dengan hari Minggu dan tetap dirayakan dengan ibadah senja. Namun disayangkan, bahwa sejumlah tesis yang dibangun dalam menguraikan Sabat (sebagaimana sudah saya tanggapi di atas), mendudukan Sabat dalam posisi vis a vis dengan Yesus dan memberikan kesan kuat bahwa Yesus memberikan petunjuk secara langsung dan tidak langsung bahwa Yesus mengubah fungsi dan makna Sabat melalui kematian dan kebangkitan dirinya.

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Adalah suatu kekeliruan besar jika kita mengatakan bahwa Sabbat itu sudah diganti hari Minggu. Dalam kalender resmi Orthodox yang juga kelender nasional negara Yunani hari Sabtu itu disebut “Sabbato”. Jelas Sabbat itu hari Sabtu. Dan juga suatu kekeliruan besar mengatakan bahwa hari Minggu atau “Hari Tuhan” itu berasal dari perayaan kafir. Sabbat tetap Sabtu, seperti yang sudah kita katakan, namun itu harus dimeteraikan oleh perayaan hari kebangkitan yaitu Hari Minggu. Bagaimana suatu peringatan dari peristiwa maha penting ini dianggap sebagai perayaan agama kafir, adalah suatu yang merupakan teka-teki besar?
------------
Sejak Abad ke-2 Ms, muncul suatu kesadaran baru bahwa Yesus yang bangkit dari kematian, pada hari pertama minggu itu, dimaknai sebagai suatu bentuk hari beribadah Kekristenan non Yahudi, yang setara dengan sabat Yahudi. Gejala ini semakin memuncak saat Kekristenan menjadi agama negara dibawah pengaruh kaisar Konstantin. Pada tahun 321, dia mengeluarkan ketetapan yang disebut Edik Milano sbb: "pada saat hari Matahari yang diagungkan, biarlah para pegawai pemerintah dan rakyat beristirahat di kota-kota dan hendaklah semua toko-toko ditutup. Namun demikian, di kota dimana masyarakat sibuk dalam pertanian, dibebaskan dan diijinkan untuk melanjutkan kegiatannya; sebab hal itu hanya dapat dilaksanakan pada hari itu dan tidak dapat pada hari lain untuk menebar benih atau menanam anggur. Dengan mengabaikan waktu yang tepat untuk bekerja, maka rahmaat surgawi akan hilang" (Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p. 143).
Harry R. Boer memberi komentar terhdap keputusan dalam Edik Milano sbb: It is noteworthy that Constantine did not relate his legiaslation to Christian practice or to the Fourth Commandement. He designated Sunday by its traditional pagan name, the Day of the Sun, not the Shabath or the Day of the Lord. Pagans could therefore accept it. Christians gave the natural sun a new meaning by thinking of Christ the Sun of Rigteousness" (Patut dicatat baahwasanya Konstantin menghubungkan ketetapannya, tidak berhubungan dengan ibadah Kristen atau Hukum yang keempat dari Sepuluh Hukum. Dia menghubungkan hari Minggu melalui nama kekafiran yang secara tradisional disebut Hari Matahari, bukan Hari Sabat atau Hari Tu(h)an. Orang-orang kafir selanjutnya dapat menerima hari itu. Orang-orang Kristen memberikan tabiat matahari dengan makna baru dengan menghubungkan Mesias sebagai Matahari Kebenaran, ibid). 
Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Bahwa pertemuan hari minggu itu akhirnya menjadi kebiasaan umat Kristen; dapat kita lihat dari Kisah 20:7 “ pada hari pertama dalam Minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti” juga dalam tulisan Paulus” pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing… menyisihkan sesuatu “( 1Kor 16:2).
--------------
Kisah Rasul 20:7, diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, sbb : "Pada hari pertama minggu itu,...". terjemahan ini mengesankan bahwa sakramen Perjamuan Kudus dilaksanakan tiap-tiap hari minggu. Dalam naskah Yunani dituliskan, "en de te mia ton sabbaton sunegmenon hemon klasai arton Paulos dielegeto hautois". Dalam naskah Yunani saja tertulis kata 'sabat', mengapa dalam terjemahan Indonesia tidak tertulis? Teks diatas selayaknya diterjemahkan “Pada hari pertama usai Sabat itu…”. Kata “en de te mia” , menurut DR. David Stern, menunjuk pada “Motsaei Shabat” atau “Departure of the Shabat” (Sabat sore/ sabtu sore) (Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.299)

TANGGAPAN ATAS ARTIKEL ARKHIMANDRIT RM. DANIEL BYANTORO 2

Posted by Teguh Hindarto


AJARAN ALKITAB TENTANG SABAT


Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Patut diperhatikan bahwa Perjanjian Baru keseluruhannya tak pernah memberitakan sedikitpun mengenai sentralitas dan pentingnya Sabbat ini. Jika Sabbat itu disinggung hanya karena konflik yang muncul antara para murid Yesus dengan orang-orang Yahudi mengenai masalah perayaan Hari Sabbat itu saja dan juga karena lingkup sejarah penulisan Perjanjian Baru itu adalah diantara bangsa Yahudi sehingga dalam menghitung waktu dan hari tak mungkin lepas begitu saja tanpa menyebutkan Hari Sabbat. Tetapi Sabbat itu sendiri tidak pernah menjadi inti berita Perjanjian Baru. Kristus dan karyaNyalah focus berita Perjanjian Baru. Bukan Hukum Sepuluh dan jelas bukan Sabbat.
-----------
Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:
1.      Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3)
2.      Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44)
3.      Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17)
4.      Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8)

Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb:  

 “Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi (Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16)

Rashid Rahman mengatakan, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme” (Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5). Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian” (Ibid., hal 36)

Dengan mengatakan, “Perjanjian Baru keseluruhannya tak pernah memberitakan sedikitpun mengenai sentralitas dan pentingnya Sabbat ini” tentu saja merupakan bentuk kegagalan memahami kedudukan Sabat sebagai bagian dari 4 pilar ibadah Yudaisme yang juga diteruskan oleh Yesus dan rasul-rasulnya. Bagaimana mungkin mereka akan memfokuskan pada ibadah Sabat sebagai fokus pemberitaan Perjanjian Baru jika Sabat adalah gaya hidup dan ibadah mereka selama ini? Tentu saja mereka hanya akan memberitakan apa yang dinubuatkan yaitu Mesias yang dalam hal ini tersublimasi dalam tokoh dan karakter Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Agung Yang Ilahi.

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Memang setiap hari Sabbat “menurut kebiasaanNya… ia masuk ke rumah Ibadat (Luk 4:16), namun dia melakukanNya bukan karena Sabbat dan segala ketentuannya itu berkuasa “atas” dia, justru sebaliknya dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbat itu untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbat yang harus menjadi tanda perjanjian justru DiriNyalah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari sabbat, sehingga manusia hidup buakan lagi untuk hari Sabbat artinya tujuan hidup manusia bukan digunakan untuk mengabdi pada sabbat, namun sebaliknya “hari Sabbat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabbat” (Markus 2:27). Sabbat menjadi pada kepentingan manusia.

Itulah sebabnya tak pernah sekalipun Yesus dalam pengajaranNya meninggikan atau menyanjung Sabbat, Dia membicarakan tentang sabbat hanyalah dalam konteks konfrontasi perjumpaanNya dengan pemimpin agama Yahudi yang menentang sikapnya terhadap Sabbat yang justru oleh mereka dilihat sebagai hujatan dan bertentangan dengan ketetapan dari Kitab Suci perjanjian Lama.
-------------
Tidak ada pernyataan Yesus setelah membaca petikan Yesaya 61 kemudian berkata, “sejak saat ini akulah yang harus menjadi fokus perhatian kalian dan Sabat tidak memiliki relevansi yang mengikat lagi bagi kehidupan ibadah kalian”. Sama sekali tidak ada! Fokus pengutipan Yesaya 61 bukan mengenai hari Sabat melainkan pemenuhan nubuat mengenai Mesias.

Terkait pembacaan Yesaya 61 oleh Yesus Sang Mesias, beberapa literatur rabinik mempercayai bahwa saat Mesias datang, Mesias akan mengucapkan perkataan dalam Yesaya 61 (Lexicon oleh Rabbi David Kimchi sebagaimana dikutip dari buku A Manual of Christian Evidences for Jewish People, Vol 2, p.76). Kenyataan ini mendorong pada kesimpulan bahwa Mesias akan datang pada saat perayaan Yom Kippur dalam Tahun Yobel yang terakhir untuk memberikan pembebasan pada orang-orang Yahudi sebagaimana dikatakan dalam Talmud Sanhedrin 97b sbb: “Dunia akan berakhir tidak kurang dari 85 Yobel dan diakhir Yobel, Mesias Putra Dawid akan datang”. Unsur penting lainnya adalah bahwa dalam sinagoge Abad Pertama Masehi, Yesaya 61 tidak dibaca di sinagog selama Yom Kippur melainkan berhenti sampai di Yesaya 58 karena orang Yahudi memiliki pola pembacaan tiga lapis setiap tahunnya. Maka ketika Mesias membaca Yesaya 61 di sinagog dia hendak menegaskan kemesiasan dirinya. Bukan hanya itu, Yesus pun hendak menyatakan bahwa peristiwa pembacaan Yesaya 61 terjadi saat perayaan Yom Kippur. Yesus menggunakan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat untuk menyatakan siapa diri-Nya. 

Membuat kesimpulan “dia masuk ke rumah Ibadat setiap hari Sabbat itu untuk menunjukkan bahwa sekarang bukan lagi Sabbat yang harus menjadi tanda perjanjian justru DiriNyalah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk hari sabbat” adalah sebuah LOMPATAN yang MENGABAIKAN teks dari konteksnya. Meminjam julukan yang diberikan Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro kepada umat Kristen yang memelihara Sabat dengan sebutan “pemerkosaan kebenaran” dan “tindak sewenang-wenang terhadap nats kitab suci” (Lihat pernyataan pertama yang saya tanggapi)

Arkhimandrit Rm. Daniel Byantoro :

Matius menerangkan saat dan hari ketika Yesus mengalami derita akhir dari hidupNya itu demikian, sesudah membicarakan saat malam Yesus diolok dan dicemooh dan paginya (hari Jumat) dibawa menghadap Pilatus (Matius 27:1-2), dan disalibkan pada hari itu juga.:”keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus (Matius 27:62). Jadi menurut ayat ini hari ketika Yesus disalibkan dan dikuburkan dalam ayat-ayat sebelumnya, Matius 27 ini disebut oleh Matius (perhatikan: bukan oleh Yesus) sebagai ”Hari Persiapan” (parskevee), yaitu hari Jumat sebagai “Hari Persiapan” bagi orang Yahudi untuk merayakan hari Sabbat. Sedangkan dalam Matius 28:1, ketika para murid wanita mengunjungi kuburan pada saat kebangkitan Yesus disebut demikian:” setelah hari Sabbat lewat… pada hari pertama Minggu itu”, yang menunjukkan bahwa Yesus tidak melakukan apapun secara fisik diantara hari persiapan sampai dengan hari Pertama minggu itu, yaitu selama hari sabbat itu Yesus berada di kuburan pasif tergeletak seolah-olah beristirahat dari semua karyaNya selama enam hari bagi penciptaan baru atas dunia ini, sejak Minggu Palem (Matius 21:1-23), Senin Kudus (Matius 24:3-35), Selasa Kudus (Matius 24:36-26:2), Rabu Kudus (Matius 26:2-16) “dua hari lagi akan dirayakan paskah”(ayat 2) menunjukan saat itu hari Rabu, karena Paskah terjadi hari Sabtu ), Kamis Kudus (Matius 26:7-75), dan Jumat Agung (Matius 27:1-61) dan pada hari Sabtu yaitu hari ketujuh Yesus berhenti atau beristirahat dari segala karya penciptaan baru yang dilakukanNya selama enam hari di dalam kuburan menanti penggenapannya yang dimeteraikannya segala karya tadi oleh kebangkitan, pada hari sesudah Sabbat lewat, yaitu hari pertama Minggu itu hari Pertama atau hari Satu itulah hari Ahad dalam bahasa Arab. Dan karena hari ahad (satu) itu adalah hari Kebangkitan Tuhan sebagai puncak dari karyaNya selam enam hari dan beristirahat selama hari ketujuh dalam kuburan, maka hari pertama itu disebut hari Tuhan (Kuriakee/Kyriaki) yang sampai sekarang masih disebut demikian dalam kalender Gereja Orthodox dan kalender nasional negara Yunani, yang kata kuriakee (kyriaki dari kata kyrios-Tuhan) itu disebut dalam bahasa Portugis “dominggos” (Hari Tuhan) dan menjadi bahasa Indonesia Minggu.

Demikianlah dalam penciptaan baru Allah melalui sabdaNya yang menjelma, berkarya selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh di dalam tergeletaknya Sang Sabda menjelma ini di dalam kuburan. Namun berbeda dengan perciptaan lama dimana padahari ketujuh itu sudah lengkap selesai penciptaan itu, dalam penciptaan baru ini, selesai dan puncak karya selama enam hari bagi penebusan sejak Minggu Palem itu bukan pada hari terkuburnya atau beristirahatNya Kristus dalam kuburan, namun kebangkitanNya pada ahad atau hari pertama, karena jika “Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”( 1 Kor 15:17).

Itulah sebabnya jika hari ketujuh sebagai hari perhentian itu harus dirayakanpun maknanya sudah berbeda dari Sabbat dalam Perjanjian lama. Ini harus berpusat pada karya penciptaan baru yang dilakukan Kristus selama seminggu kesengsaraanNya atau Pekan Sengsara itu. Dengan demikian hari Sabbat sekarang mengingat saat penguburan atau perhentian Kristus dari segala karyaNya untuk menunggu penggenapannya dalam hari kebangkitanNya yang terjadi pada hari Pertama (Hari Ahad = hari Minggu) tadi. Itulah sebabnya dalam Gereja Purba yang tetap dilakukan oleh gereja Orthodox sampai sekarang, Sabbat itu tetap hari Sabtu, bukan Minggu, namun makna Sabbat itu berbeda dari makna yang diberikan oleh Perjanjian Lama. Bukan lagi itu tanda Perjanjian pelepasan dari Mesir, namun sebagai peringatan akan perhentian karya Kristus di dalam kuburan, dengan demikian meskipun kita merayakan hari Sabtu sebagai hari Sabbat kita tak terikat lagi pada ketentuan-ketentuan Sabbat seperti yang digariskan oleh Kristus sendiri.
--------------
Benarkah Yesus wafat pada hari Jumat? Persoalannya adalah, benarkah Yesus wafat pada hari jum’at sore?? Padahal Yesus pernah berkata demikian: “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam” (Mat 12:40)

Jika Yesus wafat pada hari jum’at, apakah lama waktu Yesus dikubur didalam bumi ada tiga hari tiga malam, jika Dia bangkit pada hari minggu? Waktu dari jum’at sore sampai minggu pagi adalah 1 hari 2 malam, benar bukan? 

Banyak pakar teologia dan sarjana keagamaan mencoba untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan berpendapat bahwa beberapa bagian siang atau malam dihitung seperti satu hari atau satu malam. Selanjutnya, beberapa menit terakhir dari jum’at sore dihitung sebagai satu hari dan keseluruhan hari sabtu, dihitung hari kedua, dan beberapa menit minggu pagi dihitung sebagai hari ketiga. Apakah alasan tersebut terdengar masuk akal?