Film
terbaru besutan Hanung Bramantyo berjudul Soekarno:
Indonesia Meredeka, kembali menuai kontroversi sekaligus mendapatkan
sambutan dari penikmat film[1]. Beberapa media on line melaporkan
mengenai animo masyarakat mengenai film baru ini, sehingga sejumlah bioskop
kebanjiran penonton[2].
Tidak tanggung-tanggung, Wakil Gubernur Ahok memuji kepiawaian Hanung dalam
menyajikan film bertema historis ini[3].
Sebelum
tutup tahun 2013, saya menyempatkan menonton film ini di Yogyakarta sebanyak
dua kali dan hari kedua penuh dengan penonton yang sangat antusias menonton
film ini. Film ini mampu menguras emosi patriotisme dan kebangsaan sehingga
membuat saya menangis haru mengikuti alur kisah dan momentum-momentum emosional
yang dikemas oleh Hanung. Bahkan saat pidato-pidato politik Sukarno
dikumandangkan, seolah-olah mendorong saya untuk mengatakan, “Saya ingin ada di sana jika dilahirkan pada
zaman itu dan terlibat dalam pergerakan besar ini”.
Di
sisi lain, film ini menuai kontroversi di sana sini. Gelombang protes dan
demonstrasi terjadi di beberapa kota. Ada yang menggugat dan menuding Hanung
menyebarkan gagasan Liberalisme dan Anti Poligami[4]. Ada yang keberatan dengan
adegan Sukarno merangkul Fatmawati yang dituding seperti perilaku seorang germo[5]. Ada yang memprotes
mengenai kebiasaan kencing Sukarno di penjara[6]. Ada yang mengecam karena
film ini mendistorsi ketokohan Sukarno seolah seorang playboy diantara dua wanita[7]. Ada yang keberatan dikarenakan
Aryo Bimo selaku pemeran utama tidak layak memerankan tokoh utama yaitu Sukarno[8].








