RSS Feed

MENGANTISIPASI IRASIONALITAS DIBALIK RASIONALITAS SEBUAH MODERNITAS

Posted by Teguh Hindarto

Sumber gambar: sahipkiran.org

Istilah "GPL", selain istilah-istilah seperti "Selfie", "Nongski", "OTW", akhir-akhir ini telah mengakrabi telinga dan pendengaran kita. Jika kita memesan makanan lantas kita berkata GPL yang merupakan akronim dari "Gak Pake Lama". Istilah GPL seolah telah menjadi norma sosial modern dimana kehidupan semakin cepat dan kita harus menyesuaikan dengan kecepatan tersebut agar tidak tertinggal dalam perubahan dan kemajuan. Kita menjadi tergila-gila dengan kecepatan dan tidak nyaman hidup dalam dunia yang lambat. Ada makanan cepat saji (fast food), ada sekolah cepat jadi (ekstensi), ada jasa peminjaman cepat tanpa antri. 

TEORI DEMITOLOGISASI BULTMAN SEBAGAI MITOS AKADEMIK

Posted by Teguh Hindarto

Sumber foto: fireandrose.blogspot.com
 

Beberapa waktu lalu, layar televisi dan jagad media sosial dihebohkan dengan pernyataan Rocky Gerung, seorang dosen Filsafat di Universitas Indonesia (belakangan muncul berita susulan setelah terjadinya kontroversi bahwa yang bersangkutan sudah tidak mengajar lagi di institusi tersebut) pada acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang diselenggarakan salah satu televisi nasional pada Selasa, 10 April 2018.

BUKU BARU: YESUS YAHUDI YUDAISME

Posted by Teguh Hindarto



MENGENAI KATA "MADINKHA" DALAM TARGUM ARAMAIK

Posted by Teguh Hindarto


Ada dua kecenderungan akhir-akhir ini terhadap eksistensi literatur rabinik khususnya dalam polemik keagamaan di Indonesia. Sebagian kelompok Islam yang rajin mencari dukungan terhadap keyakinannya dengan agama-agama sebelumnya khususnya Yudaisme, berusaha membangun sebuah jembatan melalui tulisan rabi Saadia Gaon yang hidup di Baghdad pada era pemerintahan Islam yang melahirkan Tafsir at Tawrat atau tafsiran terhadap Pentateukh dalam bahasa Judeo Arabic. Berbeda dengan pendekatan para polemikus sebelumnya yang memposisikan Yahudi dan Yudaisme secara negatif dan menyalahkan ketiadaan nubuatan kenabian Islam dalam Kitab TaNaKh, maka kali ini kelompok The Yeshiva Institute (http://yeshivainstitute.net/blog/) yang dimotori Mohamad Ali alias Menachem Eli mengambil jalan berbeda dengan mengadaptasi karya-karya rabinik era Islam tersebut.

TEKTON: YESUS TUKANG KAYU ATAU TUKANG BATU?

Posted by Teguh Hindarto


Dalam Markus 6:3 dikatakan, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”. Kata yang diterjemahkan “tukang kayu” dalam teks bahasa Yunani ditulis “tektoon” (τέκτων). Saya membaca sebuah status di Facebook yang memperlihatkan video percakapan dimana ada sebuah keterangan guide di Israel yang nampaknya mahir dalam bahasa Indonesia yang menjelaskan dengan yakin bahwa istilah “tukang kayu” bagi Yesus tidak benar dikarenakan sejak Israel kuno hingga sekarang di Nazaret hanya ada rumah-rumah batu dan tidak ada tukang-tukang kayu ditemui. Anehnya, komentar tersebut lantas disambut dengan gembira oleh beberapa pendengar dan dishare ke media sosial dengan memberikan keterangan seolah-olah pernyataan tersebut adalah sebuah penyingkapan tanpa memeriksa lebih jauh melalui prosedur tafsir teks Kitab Suci yang meliputi analisis teks bahasa sumber dan analisis konteks.

MENGENAI KATA "METRONA"

Posted by Teguh Hindarto


Dalam artikelnya berjudul, "Bahasa Arab Bukan Warisan Peradaban Kristen: Inskripsi Yahudi Sephardi di Marocco (Maghrib)" (http://yeshivainstitute.net/bahasa-arab-bukan-warisan-peradaban-kristen/0), Menahem Eli atau Muhamad Ali membuat tafsiran terhadap sebuah kertas bertuliskan penggalan bahasa Ibrani dan Arab. Saya kutipkan pernyataannya sbb:

FILSAFAT, “ILMU MENGAWANG-AWANG?”

Posted by Teguh Hindarto


“Pak, bukankah Filsafat itu ilmu yang mengawang-awang?”, demikian pertanyaan seseorang yang seorang pendidik, saat dia mengetahui saya mengikuti sebuah kelas filsafat publik untuk empat kali pertemuan yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi filsafat di lingkungan fakultas filsafat di Yogyakarta. 

Dengan senyum getir saya berfikir, bagaimana Filsafat yang diklaim sebagai Mater Scientiarum (induk ilmu pengetahuan) akhirnya mendapat predikat buruk hanya sebagai “ilmu yang mengawang-awang?” Pernyataan tersebut memang tidak bisa digeneralisasi sebagai pendapat umum namun pernyataan tersebut mewakili pemahaman masyarakat terhadap Filsafat. Mungkin dikarenakan diskursus filsafat dari abad ke abad melibatkan berbagai smudra pemikiran spekulatif dan abstrak bahkan mendekonstruksi pemikiran-pemikiran filsafat sebelumnya, maka Filsafat dengan mudah dituding sebagai “ilmu yang mengawang-awang”.