RSS Feed

DISKUSI PERIHAL PEMINDAHAN STATUS BANGSA PILIHAN (1)

Posted by Teguh Hindarto

DISKUSI SHEM TOV DAN BEJO JOKO KRISTIANTO
PERIHAL PEMINDAHAN STATUS BANGSA PILIHAN



Berikut ini saya tampilkan diskusi antara Shem Tov dengan Bejo Joko Kristianto mengenai STATUS ISRAEL ADALAH BANGSA PILIHAN. Diskusi ini dapat diikuti selengkapnya di link berikut ini:

http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=166174550161442&id=100003066939788&notif_t=comment_mention

Bejo Joko Kristianto dalam status di Facebook membuat komentar awal demikian:

Gereja (ekklesia) adalah antitype dari Israel.  Sejak gereja berdiri di hari Pentakosta pertama, status bangsa pilihan Allah beralih kepadanya.  Semenjak itu, Israel bukan bangsa pilihan Allah lagi. Gereja (Orang2 Kristen yang sejati) yang tersebar di berbagai tempat dan zaman adalah bangsa pilihan Allah. Jadi adalah sesuatu yang menggelikan kalau ada orang2 kristen yang masih menyebut Israel sekarang ini sbg bangsa pilihan Allah “(Tgl 9 Februari 2012).

Status bejo Joko Kristianto mendapat respon dari Shem Tov sehingga terjadi diskusi dan perdebatan dalam beberapa tahapan. Hasil diskusi ini dapat dipergunakan sebagai peta jalan memahami jalan pemikiran kedua belah pihak dan penilaian diserahkan pada sidang pembaca.

Shem Tov:
Pernyataan di atas sangat khas menggemakan Replacement Theology alias Teologi Pengganti dimana status Israel berpindah dan diganti oleh Gereja. Persoalannya, siapa Gereja awal itu? Ternyata mereka adalah murid-murid Yesus yang Yahudi/Israel. Membaca Kisah Rasul 2 mengenai peristiwa Pentakosta, tidak ada satu ayatpun yang mengatakan perihal pemindahan status bangsa pilihan dari Israel kepada Gereja?

Sebaliknya, rasul Paul dalam Roma 11:16-24, Paul menjelaskan hubungan akar dan cabang, sbb : 

1.       Roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan adalah kudus
2.       Akar kudus maka cabang adalah kudus
3.       Beberapa cabang telah dipatahkan. Tunas liar ditempelkan dan mendapat bagian dalam akar pohon zaitun
4.       Jangan kamu bernegah, karena akar yang menopang kamu  -Bangsa non Yahudi ditempelkan semata-mata karena ketidak percayaan Israel. Sementara Bangsa Non Yahudi dapat tegak karena iman
5.       Jika cabang asli tidak membuang cabangnya, maka Tuhan juga tidak akan mengambil Bangsa Non Yahudi
6.       Perhatikanlah kemurahan Tuhan dan kekerasannya
7.       Tuhan akan menempelkan kembali jika Israel bertobat -Penempelan kembali Bangsa Israel adalah dikarenakan mereka cabang yang asli

Harap membaca 3 artikel berikut sebelum memberikan tanggapan kembali

1.       http://bet-midrash.blogspot.com/2012/02/hakikat-perjanjian-baru.html

2.       http://teguhhindarto.blogspot.com/2012/01/akar-itu-yang-menopang-kamu.html

3.       http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html


TANGGAPAN SHEM TOV ATAS BEJO JOKO KRISTIANTO
9 FEBRUARI 2012


Bejo Joko Kristanto:
Status diatas bukan RT tetapi BT (Biblical Theology). Gereja awal memang pada mulanya terdiri dari orang Israel, tetapi melalui penganiayaan pada zaman itu, Tuhan membuat mereka semua tersebar ke seluruh penjuru dunia untuk mentaati perintah Tuhan di Matius 28:19 dan Kisah 1:8. Dan mulai saat itu Injil diberitakan ke seluruh dunia dan banyak gentiles yang akhirnya percaya dan menerima Kristus sbg Tuhan dan Juruselamat. Mereka semua itulah 'ekklesia'.
--------------- 
Shem Tov:
Namun tidak ada satupun ayat yang menjelaskan dan membuktikan adanya PENGGANTIAN STATUS keterpilihan antaradari Israel kepada Gereja

(Shem Tov : Membaca Kisah Rasul 2 mengenai peristiwa Pentakosta, tidak ada satu ayatpun yang mengatakan perihal pemindahan status bangsa pilihan dari Israel kepada Gereja?)

Bejo Joko Kristanto :
Silahkan baca perikop Roma pasal 9 sampai pasal 11, juga I Petrus 2:9. Dan sampaikan eksposisi anda tentang ayat2 tsb disini
. ------------ 
Shem Tov:
Bukankah Anda memulai dari sebuah premis, “Sejak gereja berdiri di hari Pentakosta pertama”. Maka acuan Anda pasti Kisah Rasul 2. Jadi mengapa harus menyuruh saya melakukan eksegese Roma 9-11 dan 1 Petrus 2:9?

Omong-omong mengenai eksegese Roma pasal 11, saya sudah menyampaikan link dengan judul AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU dan juga petikan analisis saya




 TANGGAPAN SHEM TOV ATAS BEJO JOKO KRISTIANTO
TANGGAL 13 FEBRUARI 2012


Bejo Joko Kristanto:  
Bagaimana Anda bisa mengatakan bhw itu kesalahpahaman kekristenan, sedangkan ayat Alkitab sendiri secara eksplisit dan benar menyatakan demikian? Setiap gentiles yang percaya kepada Kristus adalah bangsa yang terpilih. Dan secara otomatis, ini memindahkan status bangsa pilihan yang dulu melekat kepada bangsa Israel jasmaniah, sekarang melekat secara rohani kepada semua bangsa di seluruh dunia.

I Petrus 2:9-10 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, … kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan”

Rasul Petrus menyebut , gentiles yang dahulu bukan umat Allah, sekarang telah menjadi Umat Allah, sebagai BANGSA YANG TERPILIH. Dan bukan hanya gentiles, tetapi baik Israel maupun gentiles yang percaya kepada Kristus (ekklesia) adalah BANGSA YANG TERPILIH.

Kekristenan semitik telah mengabaikan banyak ayat2 Alkitab, dan hanya memilah ayat2 yang mendukung ajarannya saja. Dengan kata lain, mereka bukan sedang mempercayai Alkitab, tetapi mempercayai apa yang mereka mau percayai di Alkitab
. ---------------------------- 
Shem Tov:
Bejo saudaraku, coba simak 1 Petrus 2:11-12 sebagai kelanjutan 1 Petrus 2:9-10 sbb: “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Milikilah cara hidup yang baik DITENGAH-TENGAH BANGSA-BANGSA BUKAN YAHUDI, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Tuhanpada hari Ia melawat mereka”.

Surat ini bukan ditujukan pada orang non Yahudi sendiri, terbukti pada ayat 12 dikatakan, “Milikilah cara hidup yang baik DITENGAH-TENGAH BANGSA-BANGSA BUKAN YAHUDI”. King James Version menerjemahkan sbb, “Having your conversation honest among the Gentiles”.

Ini dikuatkan dalam 1 Petrus 1:1 kemana surat ini ditujukan, “1Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia”  DR. David Stern memberikan komentar mengenai 1 Petrus 1:1 sbb, “To:God’s chosen people, literally, ‘God’s elected ones’ MEANING ISRAEL, living as aliens in the Diaspora” (Jewish New Testament Commentary, 1998:743).

Dengan demikian pendalilan Anda yang mengatakan status bangsa pilihan yaitu Israel telah berpindah pada gereja, benar-benar didasarkan atas sebuah kesalahpahaman dan mengutip ayat lepas dari konteksnya. Jadi siapa yang sebenarnya lebih layak Anda katakan, “hanya memilah ayat2 yang mendukung ajarannya saja”, Anda atau saya?

Bejo Joko Kristanto :
Ditempelkan bukan pada kebangsaan Israel secara jasmani, ide ini tidak ada disana! tetapi kepada iman yang menyelamatkan, yang dulu dimiliki oleh Abraham dan sekarang bisa dimiliki oleh bangsa-bangsa lain oleh percayamereka kepada Kristus.
 --------------- 
Shem Tov:
Konsep ENTEN bukan hanya berbicara mengenai iman melainkan juga bangsa namun bukan dalam artian politik. Konsep bangsa dalam ayat ini berbicara mengenai entitas orang beriman yang disebut Yahudi dan non Yahudi. Bukankah yang dientenkan atau ditempelkan adalah BANGSA-BANGSA NON YAHUDI? Bagaimana mungkin bangsa-bangsa non Yahudi dientenkan bukan pada BANGSA YAHUDI secara iman? Jadi memisahkan iman dan kebangsaan adalah irasional. Bukankah keselamatan datang dari BANGSA YAHUDI? 

“...sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yoh 4:22) 

Bacalah dengan seksama Roma 11:1-2 sbb, “ Maka aku bertanya: Adakah Tuhan mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin. TUHAN TIDAK MENOLAK UMAT-NYA YANG DIPILIH-NYA. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Tuhan:...

Lagi-lagi gagasan pemindahan status dan penolakkan Israel sebagai pilihan tidak mendapat dasar yang kokoh dalam Kitab Perjanjian Baru.

Bejo Joko Kristanto:
Efesus 2:14, sama sekali tidak berbicara bhw bangsa Israel jasmani masih bangsa pilihan Allah. Bangsa Israel yang dulu menganggap bhw mereka adalah bangsa pilihan Allah sedangkan bangsa-bangsa non Israel sbg bangsa kafir yang diciptakan untuk bahan bakar neraka, sehingga membuat mereka (Israel) sangat memusuhi gentiles. Sekarang dengan kematian Kristus, setiap orang yang percaya, baik Israel maupun gentiles, diperdamaikan didalam Kristus, sehingga keduanya menjadi satu kewarganegaraan kerajaan surga, bukan kewarganegaraan Israel jasmani! Silahkan diteruskan pembacaan Anda di ayat sesudahnya. Jangan disunat! Efesus 2:19-20,”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”
-------------- 
Shem Tov:
Memang benar bahwa Efesus 2:14 tidak berbicara mengenai bangsa Israel jasmani masih bangsa pilihan Tuhan, namun Efesus 2:14 (sebagaimana saya jelaskan sebelumnya) saya pergunakan untuk memperkuat makna PROSES ENTENISASI non Yahudi kepada Yahudi (secara iman). Jika rasul Paul dalam surat Roma menggunakan istilah ENTEN dari kata Yunani EGENTRIZOO sementara dalam surat Efesus dipergunakan kata MEMPERSATUKAN dari kaya Yunani EN. Keduanya memberikan pijakan kuat mengenai peleburan dua entitas menjadi satu bukan penghilangan salah satu entitas
Bejo Joko Kristanto :
Kalau penjelasan saya, Anda amini, termasuk didalamnya adalah:

Ini merupakan deklarasi bhw bangsa pilihan adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat! berarti ini juga Anda amini?
---------- 
Shem Tov:
Yang saya amini adalah pernyataan Anda sbb, “Ketika Roh Kudus turun di Kisah pasal 2, itu adalah deklarasi bahwa mulai saat itu Injil diberitakan kepada semua bangsa. Dan tentu saja, permulaan Injil diberitakan saat itu adalah wilayah dimana para murid2 itu berada, yaitu di Yerusalem”

Yang tidak saya amini adalah, “bhw bangsa pilihan adalah setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!”

Dan saya sudah melakukan eksegese tuntas mengenai 1 Petrus 2:11-12 dan 1 Petrus 1:1 dimana 1 Petrus 2:9-10 tidak boleh dilepaskan begitu saja dari ayat sebelum dan sesudahnya.

‎Bejo Joko Kristanto:Roma 11:1 mengatakan, “Maka aku bertanya: Adakah Tuhan mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin”

MENJAWAB PEMAHAMAN BIAS MENGENAI INJIL DALAM BUKU PELAJARAN AGAMA ISLAM

Posted by Teguh Hindarto


Saya cukup terkejut ketika menerima laporan jemaat yang masih sekolah di sekolah menengah atas, dimana suatu ketika dia mendengar saat mata pelajaran agama Islam, ada pembahasan mengenai keyakinan Kitab Suci Kristen yang bias. Saya fikir jika penjelasan itu muncul dari lisan sang guru, mungkin masih dapat dimaklumi. Namun ketika anak tersebut saya desak apakah pelajaran tersebut merujuk pada buku panduan pelajaran atau hanya tambahan pengetahuan sang guru, ternyata pernyataan tersebut didasarkan pada buku panduan sebuah buku agama dengan judul Integrasi Budi Pekerti dalam Pendidikan Agama Islam 2 untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas karya H. Khuslan Haludi dan Abdurrohim Sa’ad dengan penerbit Tiga Serangkai, Solo.

Sangat disayangkan bahwa materi tersebut dapat masuk menjadi bagian kurikulum pelajaran agama. Mengapa?Pertama, penjelasan yang bias akan menyebabkan siswa memiliki pemahaman yang salah mengenai agama dan keyakinan agama lain mengenai kitab sucinya. Kedua, menciptakan sikap permusuhan dan menganggap penganut agama lain sebagai orang yang memiliki keyakinan yang keliru.

Artikel ini ditulis untuk memberikan pelurusan dan penjelasan sebagai wujud panggilan orang Kristiani untuk memberikan pertanggungjawaban iman sebagaimana diamarkan dalam 1 Petrus 3:15 sbb, “Tetapi kuduskanlah (Mesias) di dalam hatimu sebagai (Junjungan Agung Yang Ilahi)! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu”.

Untuk membuktikan pernyataan bias pemahaman dalam buku panduan agama tersebut, kita akan membahas satu persatu pernyataan dalam Bab VII dengan judul Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT  tersebut.

Apakah Injil Suatu Kitab Yang Diberikan Pada Yesus?

Dalam buku panduan agama dikatakan, “Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. bin Maryam. Kitab ini pada intinya berisi ajakan kepada umat nabi Isa a.s. untuk hidup dengan zuhud yaitu menjauhi kerakusan dan ketamakan duniawi. Hal ini dimaksudkan untuk meluruskan pandangan orang-orang Yahudi yang bersifat materialistis”[1].

Untuk meluruskan pemahaman di atas, kita akan menelaah arti kata Injil. Istilah Injil adalah berasal dari bahasa Arab. Namun artinya tidak begitu terang. Geoffrey Parrinder melacak asal usul kata Injil sebetulnya merupakan Arabisasi dari kata Etiophia Wangel yang berasal dari bahasa Yunani Euanggelion. Kemungkinan Muhamad menerima kata tersebut dari orang Kristen Syria yang mengucapkannya dengan Awengilyon[2]Kata Yunani Euanggelion sendiri artinya Kabar Baik.

Kitab Suci Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia menerjemahkan kata Euanggelion dengan terjemahan Injil. Dalam pemahaman agama Kristen, Injil ternyata tidak hanya menunjuk pada sebuah kitab melainkan juga sebuah pesan keilahian. Kita akan lihat beberapa contoh ayat dalam Kitab Perjanjian Baru.

Kitab Mengenai Yesus

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Sang Mesias, Anak Tuhan” (Mrk 1:1)

Pewartaan Ajaran Yesus

Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Mesias” (Rm 15:19)


Ajaran yang disampaikan Yesus

“Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Tuhan. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia” (Luk 8:1)

Dari penjelasan di atas, Kekristenan tidak pernah memiliki keyakinan bahwa Yesus menerima sebuah kitab Injil dari Tuhan lalu Yesus memberitakan isi kitab tersebut kepada bangsa Israel. Sebaliknya Yesus adalah Injil. Yesus adalah pusat pemberitaan Injil yang diberitakan oleh rasul-rasulnya. Inilah perbedaan antara Islam dan Kristen dalam memahami istilah Injil.

Dalam keyakinan Kristen, isi Injil adalah perihal kehidupan dan karya Yesus sebagai Juruslamat yang mati dan bangkit dari kematian untuk memberikan kehidupan kekal bagi siapapun yang percaya dan menerima Yesus sebagai Junjungan Agung Yang Ilahi dan Mesias serta Anak Tuhan. 

Apakah Kitab Injil Sekarang Berbeda Dengan Injil Yang Asli?

Dalam buku panduan agama dikatakan “Kitab Injil yang ada sekarang berbeda dengan injil asli yang diturunkan Allah swt, kepada nabi Isa a.s. dalam bentuknya yang sekarang ada sejumlah pengikut Nabi Isa a.s. yang memasukkan karangannya ke dalam kitab Injil. Mereka adalah Matius, Markus, Lukas dan Yahya. Oleh karena itu, Injil tersebut dinamakan menurut pengarangnya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya”[3]

Kaum Muslim selalu memiliki anggapan bahwa Injil yang ada pada tangan orang Kristen sekarang adalah tidak asli atau berbeda dengan aslinya. Ini sebuah tuduhan tanpa dasar sama sekali. Bukti-bukti material berupa ribuan naskah kuno dari Abad 1 Ms sampai modern, tersedia dalam museum-museum untuk ditelaah.

Sebelum kita menjawab persoalan di atas, perlu kita telaah arti kata Asli menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sbb:

“1 tidak ada campurannya; tulen; murni: emas --; 2 bukan peranakan: orang pribumi adalah penduduk --; 3 bukan salinan (fotokopi, saduran, terjemahan):ijazah --; naskah --; 4 baik-baik; tidak diragukan asal usulnya; 5 yg dibawa sejak lahir (sifat pembawaan): bagaimanapun disembunyikannya sifat -- nya, pasti akan kelihatan juga; 6 (tempat) asal: orang tsb -- nya dr Bandung;”[4]

Jika kita mengikuti point ke tiga kata asli diartikan, “bukan salinan”, maka bukan hanya Injil sebagai kitab suci yang diimani orang Kristen bahkan Islam sendiri pun tidak memiliki kitab suci yang asli tangan pertama saat ditulis oleh Tsaid bin Tsabit yang menyalin dari tulang, daun untuk dipindahkan dalam mushaf.

Baik Kristen maupun Islam hanya memiliki salinan dari salinan kitab suci yang asli ditulis tangan pertama. Maka menuduh Kekristenan tidak memiliki kitab yang asli, sama dengan menuduh Islam tidak memiliki kitab suci yang asli.

Berbicara mengenai keaslian Kitab Injil, Muslim ditantang untuk membuktikan adanya Kitab Injil yang asli yang sesuai dengan deskripsi dalam Qur’an dimana isinya menyebutkan adanya nubuat kenabian Muhamad oleh Yesus Sang Mesias, adanya perintah Tauhid kepada Allah dan berbagai gambaran lain yang disebutkan Qur’an. Mampukah Muslim menunjukkan keberadaan Kitab Injil sebagaimana disitir dalam Qur’an?

Berbicara mengenai salinan kitab suci, Kekristenan memiliki jumlah salinan kitab suci dari berbagai abad. Ada lebih dari5,300 salinan manuskrip dalam bahasa Yunani kuno (MSS) dan berbagai fragment Kitab Perjanjian Baru Yunani yang tetap bertahan sampai hari ini. Masih ditambah 10,000 Kitab Vulgata berbahasa Latin dan lebih dari and 9,300 berbagai versi manuskrip awal dalam bahasa Siriak, Koptik, Armenian, Gotik dan Etiopik sehingga jumlah keseluruhan ada lebih dari24,000 manuskrip Kitab Perjanjian Baru yang masih bertahan. Sedikit perubahan dan variasi dalam manuskrip tidak berpengaruh satupun pada doktrin Kekristenan, bahkan tidak mengubah pesan apapun di dalamnya[5].

Tertullian menyatakan pada Tahun 150 Ms., bahwa Gereja di Roma telah menyusun daftar Kitab Perjanjian Baru yang cocok dengan daftar yang kita miliki sekarang. Kita memiliki 32.000 kutipan dari periode sebelum 325 Ms, dari Irenaeus (182-188 AD), dari Justin Martyr (150 Ms), Polycarpus (107 Ms), Ignatius (100 Ms), Clement (96 Ms) dan banyak lagi dari para Bapa Gereja Abad Kedua dan Ketiga.

Data-data di atas menghapus keraguan adanya tudingan bahwa keaslian kitab suci orang Kristen sudah tercemar, karena faktanya kitab suci orang Kristen baik TaNaKh (Torah-Neviim-Ketuvim) dalam bahasa Ibrani dan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Aram dan Yunani masih tersimpan rapih dan disalin serta dicetak dengan perangkat modern hingga hari ini.

Apakah Konsili Gereja Memusnahkan Kitab Apokrip?

Dalam buku panduan agama dikatakan, “Pada mulanya terdapat kurang lebih 70 buah kitab Injil. Injil sebanyak itu pada umumnya membawakan isi yang simpang siur satu sama lain. Ketika diadakan sinode (muktamar gereja-gereja) di Nicea pada tahun 325 M, umat Nasrani memutuskan bahwa hanya empat Injil di atas yang diakui gereja. Injil yang tidak diakui gereja disebut Apochrypha atau Injil-Injil yang tertolak

Adapun Injil-Injil yang dinyatakan tertolak adalah:
  1. 1.       Injil Petrus
  2. 2.       Injil Orang-orang Mesir
  3. 3.       Injil Ibrani
  4. 4.       Injil Barnabas
  5. 5.       Injil Thomas
  6. 6.       Injil Dua Belas
  7. 7.       Injil Yakobus
  8. 8.       Injil Yudas Iskoriot
  9. 9.       Injil Andreas
  10. 10.   Injil Bartholomeus
  11. 11.   Injil Maria
  12. 12.   Injil Philip
  13. 13.   Injil Mathias
  14. 14.   Injil Nikodemus
  15. 15.   Injil Apeles
  16. 16.   Injil Ebionea
  17. 17.   Injil Marcion
  18. 18.   Injil Yakobus Kecil”[6]
Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja. Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) Anantireta (tidak ditolak) atauHomologoumena (diakui), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) Amphiballomena(diperdebatkan), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) Psethde (keliru), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang.

Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) Homologoumena (diakui), (b) Antilegomena (diperdebatkan), yang terbagi dua kategori lagi yaitu Gnorima (dikenal), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan Notha (tidak sah), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) Apocrypha (tersembunyi), yang dianggap sebagai kepalsuan. Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu : (a)Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c) Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik[7]

Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilah kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).

Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.

Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus (Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.

Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms), Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikrpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).

James L. Garlow dan Peter Jones memberikan ulasan mengenai ketidakmungkinan pemusnahan kitab-kitab ekstrakanonik yang tidak mendukung keilahian Yesus dan memasukkan kitab-kitab yang mendukung keilahian Yesus sebagai kanonik, sbb: “Tidak ada bukti bahwa teks Injil awal dimasukkan pada Abad ke-4. Berbagai salinan Injil-injil ini sudah ada pada abad ke-2, meneguhkan teks-teks yang diterima di abad ke-4. Tidak mungkin teks-teks itu diubah. Tidak seorangpun memiliki otoritas untuk mengumpulkan dari seluruh penjuru kekaisaran, semua salinan (yang pada abad ke-4 mungkin sudah berjumlah ratusan, mungkin ribuan) untuk menciptakan perubahan yang dirasa perlu. Ini benar-benar fiksi. Lebih dari itu, ini merupakan tuduhan murahan terhadap inti pesan Kristiani”[8]

Perlu diketahui sekalipun Abad IV dimana konsili-konsili tersebut menetapkan kanonisasi namun sejumlah tulisan dari Abad I dan II Ms sudah mengutip kalimat-kalimat dalam kitab yang kelak dikanonkan pada Abad ke IV Ms. Beberapa Bapa Gereja yang mengutip kitab-kitab Perjanjian Baru yang kelak dikanonkan al.,
  1. Clement (95 Ms) mengutip Matius, Lukas, Roma, 1-2 Korintus, Ibrani, 1 Timotius, 1 Petrus
  2. Polycarpus (110) mengutip Filipi, sembilan surat Paulus, 1 Petrus
  3. Ignatius (110) mengutip Matius, 1 Petrus, 1 Yohanes, sembilan surat Paulus
  4. Papias (70-155) mengutip Yohanes, catatan tradisi mengenai asal usul Matius dan Markus
  5. Kitab Didake (80-120 Ms) mengutip Matius sebanyak 22 kutipan, Lukas, Yohanes, Kisah Rasul, Roma, 1-2 Tesalonika, 1 Petrus
  6. Tatian (160) mengutip Matius, Markus, Lukas, Yohanes dalam bentuk Diatesaron atau harmoni Injil dalam bahasa Aramaik
  7. Yustinus Martyr (140) mengutip 4 Injil, Kisah Rasul dan Wahyu
  8. Basilides (117-138) dan Marcion (140) sekalipun bidah yang membahayakan gereja dan kekristenan namun turut mengutip kitab-kitab Perjanjian Baru yang kelak akan dikanonkan seperti Matius, Lukas, Yohanes, Roma, 1-2 Korintus, Galatia, Efesus, Filemon, Kolose, 1-2 Tesalonika, Filipi[9]
Bahkan dalam Dekrit Pseudo-Gelasius (Decretum Pseudo Gelasianum), Paus Gelasius I (492-496) menyatakan daftar 60 kitab Apokrip dan tidak ada satupun yang dibakar[10]. Bahkan penemuan naskah Gnostik di Nag Hammadi yang kemudian diterjemahkan dan dipopulerkan oleh Elaine Pagels[11] membuktikan bahwa naskah-naskah ekstrakanonik yang tidak masuk kanon tidak ada yang dibakar. Demikian pula penemuan Gospel of Judas yang ditentang pada masa Irrenaeus dalam bukunya Against Haeresies sudah ditemukan dan dipublikasikan bahkan dalam bahasa Indonesia[12]

Apakah Injil Barnabas Termasuk Kitab Apokrip?

Dalam buku panduan agama dikatakan, “Di antara kitab Injil yang disebutkan di atas, yang isinya mirip dengan kitab suci Al Qur’an adalah Injil Barnabas. Adapun ajaran Injil Barnabas adalah sebagai berikut
  1. Yesus tidak disalib. Yang disalib sebenarnya adalah Yudas Iskoriot yang telah diserupakan oleh Tuhan (rupa dan suaranya). Yesus sendiri naik ke lengit bersama malaikat
  2. Yesus bukan anak Allah, bukan pula Tuhan, tetapi sebagai rasul Allah
  3. Mesias (ratu adil atau juruslamat) atau al Masih yang dinanti-nantikan, bukanlah Yesus, tetapi Muhamad saw, nabi dan rasul Allah yang terakhir
  4. Putra Ibrahim yang akan disembelih karena perintah Allah ialah Ismail, bukan Ishaq, seperti yang tersebut dalam perjanjian lama yang ada sekarang”[13]

Sekalipun banyak penulis Muslim terpelajar yang telah menampik keotentikan Injil Barnabas sebagai kita yang diduga asli, namun masih banyak juga kaum terpelajar Islam yang masih meyakini bahwa Injil Barnabas adalah asli.

Sejatinya, Injil Barnabas bukanlah injil asli. Bahkan tidak masuk kategori kitab Apokrifa karena semua kitab Apokrifa yang ditolak gereja berasal dari Abad II-VII Ms, sementara Injil Barnabas adalah buatan dari Abad XVI Ms di Italia oleh seorang Katolik yang masuk Islam bernama Fra Marino atau Mustafa de Aranda.

Dalam Dekrit Pseudo-Gelasius (Decretum Pseudo Gelasianum), Paus Gelasius I (492-496 Ms) sudah dijelaskan mengenai daftar 60 kitab Apokrifa. Memang didalamnya ada tertulis Epistle of Barnabas (Surat Barnabas) dan Gospel According of Barnabas (Injil menurut Barnabas) namun bukan Injil Barnabas sebagaimana yang beredar saat ini dan dipercayai kaum Muslim. Kedua naskah Apokrifa di atas ditulis dalam bahasa Yunani sementara naskah Injil Barnabas yang diyakini asli adalah naskah dalam bahasa Italia.

DIALEKTIKA PEMIKIRAN PERIHAL KELAHIRAN YESUS SANG MESIAS 25 DESEMBER

Posted by Teguh Hindarto



Kitab Perjanjian Baru tidak memberikan informasi tanggal kelahiran Yesus sehingga pemunculan tanggal 25 Desember menimbulkan berbagai kontroversi diantara kalangan Kristen sendiri. Darimana asal usul perayaan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember? Pertanyaan ini membelah menjadi dua kelompok jawaban. Kelompok pertama menghubungkan tanggal 25 Desember kepada perayaan paganisme Roma yang diadopsi dalam Kekristenan. Kelompok kedua menghubungkan tanggal 25 Desember pada catatan kuno Bapa Gereja sebelum Konsili Nicea.

Pandangan Pertama:

Asal Usul Paganisme Dari Natal 25 Desember

Pandangan pertama menghubungkan perayaan Christmass pada tanggal 25 Desember dengan adopsi unsur-unsur kekafiran oleh gereja Katolik maupun Ortodox. Perhatikan beberapa kutipan berikut:

Dalam artikel Origin of Christmas-Controversial Root dijelaskan, “The date of December 25th probably originated with the ancient "birthday" of the son-god, Mithra, a pagan deity whose religious influence became widespread in the Roman Empire during the first few centuries A.D. Mithra was related to the Semitic sun-god, Shamash, and his worship spread throughout Asia to Europe where he was called Deus Sol Invictus Mithras. Rome was well-known for absorbing the pagan religions and rituals of its widespread empire. As such, Rome converted this pagan legacy to a celebration of the god, Saturn, and the rebirth of the sun god during the winter solstice period. The winter holiday became known as Saturnalia and began the week prior to December 25th. The festival was characterized by gift-giving, feasting, singing and downright debauchery, as the priests of Saturn carried wreaths of evergreen boughs in procession throughout the Roman temples”[1]. 

(Tanggal 25 Desember mungkin berasal perayaan ulang tahun kuno anak dewa, bernama Mithra, dewa kafir yang pengaruh religiusnya tersebar di Kekaisaran Romawi selama tahun Masehi. Mithra berkaitan dengan dewa Matahari bangsa Semit yaitu Shamash , dan penyembahan padanya menyebar ke seluruh Asia ke Eropa di mana ia disebut Deus Sol Invictus Mithras. Roma dikenal dalam hal menyerap agama-agama kafir dan ritual ke seluruh kerajaan secara luas. Dengan demikian, Roma dikonversi oleh warisan kafir ke perayaan dewa, Saturnus, dan kelahiran kembali dewa matahari selama periode musim dingin. Liburan musim dingin dikenal sebagai Saturnalia dan dimulai seminggu sebelum 25 Desember. Festival ini ditandai dengan pemberian hadiah, pesta, menyanyi dan pesta pora yang meriah, seperti  imam dewa Saturnus membawa karangan bunga dari dahan cemara dalam prosesi seluruh kuil-kuil Romawi).

Dalam artikel lainnya dengan judul, Origin Of Christmas: Jesus Was Not Born On December 25th But A Whole Bunch Of Pagan Gods Were, disebutkan, “Why is Christmas celebrated on December 25th?  Most people assume that it has always been a Christian holiday and that it is a celebration of the birth of Jesus.  But it turns out that Jesus was not born on December 25th.  However, a whole bunch of pagan gods were born on that day.  In fact, pagans celebrated a festival involving a heroic supernatural figure that visits an evergreen tree and leaves gifts on December 25th long before Jesus was ever born.  From its early Babylonian roots, the celebration of the birth or "rebirth" of the sun god on December 25th came to be celebrated under various names all over the ancient world.  You see, the winter solstice occurs a few days before December 25th each year. The winter solstice is the day of the year when daylight is the shortest. In ancient times, December 25th was the day each year when the day started to become noticeably longer.  Thus it was fitting for the early pagans to designate December 25th as the date of the birth or the "rebirth" of the sun”[2].

(Mengapa Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember? Kebanyakan orang berasumsi bahwa itu hari raya Kristen dan bahwa itu adalah perayaan kelahiran Yesus. Tapi ternyata bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Namun, sejumlah besar dewa-dewa kafir yang lahir pada hari itu. Bahkan, orang-orang kafir merayakan sebuah festival yang melibatkan tokoh supranatural heroik yang mengunjungi sebuah pohon cemara dan daun hadiah pada tanggal 25 Desember jauh sebelum Yesus pernah lahir. Dari akar awal Babel, perayaan kelahiran atau kelahiran kembali dari dewa matahari pada tanggal 25 Desember kemudian dirayakan di bawah berbagai nama di seluruh dunia kuno. Anda lihat, musim dingin terjadi beberapa hari sebelum 25 Desember setiap tahun. Musim dingin adalah hari di setiap tahun ketika siang hari waktunya lebih pendek. Pada zaman kuno, 25 Desember adalah hari di setiap tahun ketika hari terasa lebih lama. Demikianlah hari ini sangat tepat bagik orang-orang kafir awal untuk menetapkan 25 Desember sebagai tanggal kelahiran atau kelahiran kembali matahari).

Dalam artikel What are origins Christmas and Can Christian Celebrated it? Dijelaskan, “The origins of Christmas go back to before the time of Christ when many ancient cultures celebrated the changing of the seasons. In the northern hemisphere in Europe, for example, the winter solstice, which was the shortest day of the year, occurs around Dec. 25th. These celebrations were based on the decline of winter. Since during winter animals were penned, people stayed in doors, crops didn't grow, etc., to know that winter was half over and on its way out was a time of celebration.

In the ancient Roman system of religion, Saturn was the god of agriculture. Each year during the summer, the god Jupiter would force Saturn out of his dominant position in the heavenly realm and the days would begin to shorten. In the temple to Saturn in Rome, the feet of Saturn were then symbolically bound with chains until the winter solstice when the length of days began to increase. It was this winter solstice that was a time of celebration and exchange of gifts as the hardness of winter began to wane and the days grew longer.

December 25th specifically coincided the day of the birth of the sun-god named Phyrgia a culture in the ancient Balkans. In the Roman Empire, by the time of Christ the winter festival was known as saturnalia. The Roman Church was unable to get rid of saturnalia, so early in the 4th Century, they adopted the holiday and tried to make it a Christian celebration of the Lord's birth. They called it the Feast of the Nativity. This custom has been part of western culture ever since”[3]. 

(Asal-usul Natal dapat ditelusuri ke suatu masa sebelum masa Kristus saat banyak kebudayaan kuno merayakan pergantian musim. Di belahan bumi utara di Eropa, misalnya, titik balik matahari musim dingin, yang merupakan hari terpendek tahun, terjadi sekitar 25 Desember. Perayaan ini didasarkan pada jatuhnya musim dingin. Karena selama hewan musim dingin, orang-orang yang tinggal di pintu, tanaman tidak tumbuh, dll, untuk mengetahui musim dingin yang sudah setengah jalan dan jalan keluar adalah waktu perayaan. Dalam sistem agama Romawi kuno, Saturnus adalah dewa pertanian. Setiap tahun selama musim panas dewa Jupiter akan memaksa Saturnus keluar dari posisi dominan di ranah surgawi dan hari-hari akan dipersingkat.. Dalam kuil Saturnus di Roma, kaki Saturnus kemudian secara simbolis diikat dengan rantai sampai titik balik matahari musim dingin ketika lamanya hari mulai meningkat. Musim dingin adalah waktu perayaan dan pertukaran hadiah sebagai bentuk memudarnya musim dingin dan hari-hari bertambah panjang. Tanggal 25 Desember bertepatan dengan hari kelahiran dewa Matahari bernama Phyrgia dari kebudayaan kuno di Balkan. Dalam Kekaisaran Romawi, pada masa Kristus, musim dingin dikenal sebagai perayaan Saturnalia. Gereja Roma tidak dapat menyingkirkan Saturnalia, sehingga di awal abad ke-4, mereka mengadopsi perayaan ini dan mencoba untuk membuatnya menjadi perayaan Kristen kelahiran Tuan. Mereka menyebutnya Pesta Kelahiran Tuan. Kebiasaan ini telah menjadi bagian dari budaya Barat sejak saat itu).

Siapa Yang Menetapkan Natal 25 Desember?

Kebanyakan para sarjana dan buku-buku teologia menghubungkan nama Kaisar Konstantin sebagai orang yang bertanggungjawab menetapkan perayaan tersebut dalam Kekristenan. Setelah pada tahun 313 Konstantin menjadi raja dan mengeluarkan Edik Milano yang berisikan piagam toleransi beragama[4] maka pada tahun 321 Konstantin mengubah hari Sabat yang jatuh pada hari Sabtu menjadi hari Minggu sebagaimana dikatakan, “On the venerable day of the Sun let the magistrates and people residing in cities rest, and let all workshops be closed. In the country however persons engaged in agriculture may freely and lawfully continue their pursuits because it often happens that another day is not suitable for gain-sowing or vine planting; lest by neglecting the proper moment for such operations the bounty of heaven should be lost”[5]

(Pada hari  Matahari yang agung, biarlah para hakim dan orang-orang yang berada di kota-kota beristirahat, dan membiarkan semua bengkel ditutup. Di dalam negeri Namun orang-orang yang terlibat dalam pertanian dapat dengan bebas dan sah melanjutkan kegiatan mereka karena sering terjadi bahwa hari lain tidak cocok untuk menaburbenih  atau menanam pohon anggur;. jangan-jangan dengan mengabaikan saat yang tepat untuk bekerja  mengakibatkan karunia surga harus hilang).

Dan ketetapan tersebut dilanjutkan pada Konsili di Laodikea tahun 364 Ms sbb, "Christians shall not Judaize and be idle on Saturday, but shall work on that day"[6] (Kristen tidak harus di Yudaisasi dan beristirahat pada hari Sabtu, tetapi harus bekerja pada hari itu)

Pada tahun 325 saat Konstantin menetapkan Konsili I di Nicea maka tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai perayaan kelahiran Yesus Sang Mesias sebagaimana dikatakan, “Also in 325 Constantine declared December 25th to be an Immovable Feast for the whole Roman Empire. The bishop of Rome may have accepted December 25th as the date of birth of Jesus Christ as early as 320 AD, but historical documents provide no evidence for a date earlier than 336 AD. The Church was pushed by political forces and pulled by the desire to co-opt a popular pagan holiday, despite a lack of evidence that Christ was born in December. Constantine built the Church of the Nativity in Bethlehem, one of the oldest continually operating churches in the world (currently administered by a coalition of Roman Catholic and Greek Orthodox clerics)”[7]

(Juga pada tahun 325 Konstantinus menyatakan 25 Desember menjadi hari raya Tak Tergoyahkan bagi seluruh Kekaisaran Romawi. Uskup Roma mungkin telah menerima 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus sebagai awal 320 AD, tapi dokumen sejarah tidak memberikan bukti untuk tanggal lebih awal dari 336 AD. Gereja didorong oleh kekuatan politik dan ditarik oleh keinginan untuk mengkooptasi perayaan populer  penyembah berhala, sekalipun kurangnya bukti bahwa Kristus lahir pada bulan Desember. Konstantin membangun Gereja Kelahiran Kristus di Betlehem, salah satu gereja  tertua yang masing berlangsung hingga hari ini di dunia (saat ini dikelola oleh sebuah koalisi Katolik Roma dan Yunani Ortodoks ulama).

Dan pada tahun 354 Ms, Bishop Liberius dari Roma memerintahkan umat untuk merayakan Natal pada tanggal 25 Desember sebagaimana dikatakan, “In 354 A.D., Bishop Liberius of Rome ordered the people to celebrate on December 25. He probably chose this date because the people of Rome already observed it as the Feast of Saturn, celebrating the birthday of the sun”[8].

(Pada tahun 354, Bishop Roma bernama Liberius memerintahkan umat agar merayakan 25 Desember. Mungkin dia memilih tanggal tersebut dikarenakan rakya Roma telah memelihara Perayaan Saturnalia sebagai kelahiran dewa matahari).

Namun menurut kesaksian lainnya ternyata yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus bukan hanya Konstantin melainkan bidat bernama Cerinthus. Siapa Cerinthus? “Cerinthus A Gnostic-Ebionite heretic, contemporary with St. John...Cerinthus was an Egyptian, and if not by race a Jew...Cerinthus's doctrines were a strange mixture of Gnosticism, Judaism, Chiliasm, and Ebionitism”[9]

(Cerinthus adalah seorang Gnostik dan bidat Ebionit yang sejaman dengan Santo Yohanes...Cerinthus adalah seorang Mesir dan bukan ras Yahudi...doktrin Cerinthus merupakan campuran aneh antara Gnostisisme, Yudaisme, Chiliasme serta Ebionitisme).

SIGNIFIKASI PERAYAAN SUKKOT DENGAN KELAHIRAN YESUS SANG MESIAS

Posted by Teguh Hindarto




Yesus Dalam Tujuh Hari Raya YHWH

Dalam artikel Tujuh Hari Raya YHWH Sebagai Bayangan Karya Mesias, saya telah menunjukkan bagaimana Tuhan YHWH menetapkan tujuh perayaan di Sinai kepada Israel dan yang diteruskan dan dipelihara oleh Yesus Sang Mesias beserta rasul-rasulnya[1].

Bukti-bukti induktif dalam Kitab Perjanjian Baru menunjukkan bagaimana Yesus dan rasul-rasulnya tetap melestarikan dan merayakan hari-hari raya tersebut. Yesus merayakan Paskah sebagaimana dilaporkan dalam Matius 26:17-18 (Band. Luk 22:1,7) sbb: “Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku”.

Yesus merayakan Pondok Daun atau Sukkot sebagaimana dilaporkan dalam Yohanes 77:1-2 sbb: “Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun”.

Bukan hanya Yesus namun para rasulpun memelihara dan merayakan hari-hari raya yang ditetapkan oleh YHWH sebanyak tujuh perayaan (Sheva Moedim) sebagaimana dilaporkan berikut ini.

Rasul Paul merayakan hari raya Pentakosta atau Shavuot sebagaimana dilaporkan dalam Kisah Rasul 20:16 (Band. Kis 2:10, 1 Kor 16:8), “Paulus telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus, supaya jangan habis waktunya di Asia. Sebab ia buru-buru, agar jika mungkin, ia telah berada di Yerusalem pada hari raya Pentakosta”.

Rasul Paul merayakan hari raya Pendamaian atau Yom Kippur sebagaimana dikatakan Kisah Rasul 27:9, “Sementara itu sudah banyak waktu yang hilang. Waktu puasa sudah lampau dan sudah berbahaya untuk melanjutkan pelayaran. Sebab itu Paulus memperingatkan mereka, katanya...”. Frasa “waktu puasa merujuk pada Perayaan Yom Kippur yang ditandai dengan berpuasa dari petang sampai petang.

Para rasul bukan hanya merayakan namun mereka memberikan makna baru dari ketujuh hari raya tersebut karena ketujuh hari raya tersebut melambangkan apa yang diperbuat oleh Yesus Sang Mesias.

Yesus menghubungkan karya Mesianisnya dengan korban Pesakh dengan mengatakan “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20)

Rasul Paul menegaskan kembali makna Pesakh dan pengorbanan Yesus di kayu salib dengan mengatakan demikian: “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Mesias” (2 Kor 5:17)

Mengenai kebangkitan Yesus, Rasul Paul menghubungkannya dengan perayaan Buah Sulung atau Bikurim dengan mengatakan demikian, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Mesias telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:20)

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Mesias sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor 15:23)

Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu” (Kol 1:18)

Rasul Paul pun menghubungkan karakteristik perayaan Peniupan Sangkakala atau Yom Truah atau Tahun Baru atau Rosh ha Shanah untuk menggambarkan pengangkatan orang yang percaya kepada Mesias di awan-awan sebagaimana dikatakan dalam 1 Tesalonika 4:16-18 sbb: “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuha) berbunyi, maka Junjungan Agung sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Mesias akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Junjungan Agung di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Junjungan Agung. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini”.

Rasul Yohanes pun menghubungkan pengorbanan Yesus dengan hari raya Pendamaian atau Yom Kippur dengan berkata, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2)

Dari hasil pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa seluruh aktifitas dan karya Mesianis Yesus mendapatkan legitimasi dari Sheva Moedim atau Tujuh Hari Raya yang ditetapkan YHWH di Sinai. Hari-hari raya tersebut merupakan sebuah bayangan akan Mesias yang datang (Kol 2:16-17). Jika kematian, kebangkitan dan kedatangan Yesus kedua kalinya tergambar dalam tujuh hari raya, maka seharusnya kelahiran Yesus pun tergambar dalam salah satu dari ketujuh hari raya tersebut. Lalu hari raya manakah yang tepat menggambarkan kelahiran Yesus?

Kelahiran Yesus Pada Hari Raya Pondok Daun: 

Asumsi Atau Fakta?

Perayaan ini menunjuk pada puncak perayaan dari tujuh hari raya. Sukkot merupakan peringatan atas penyertaan YHWH di padang gurun. YHWH hadir di tengah-tengah Yishrael melalui MISHKAN (Kemah Suci) di mana SHEKINAH YHWH berada di dalamnya. Bangsa Yishrael tinggal di pondok-pondok kayu sambil merayakan panen buah-buahan. Dalam Perjanjian Baru menunjuk pada saat mana “Kerajaan Seribu Tahun Damai” dan juga “Langit Baru dan Bumi Baru” di mana YHWH memerintah bersama Yesus Sang Mesias.

Membaca perintah dalam Imamat 23:34-44 kita mendapatkan beberapa ciri dan karakter Perayaan Pondok Daun yaitu: (1) Pertemuan ibadah (2) Korban (3) Membangun pondok-pondok daun dan ranting (4) Pengumpulan buah-buahan (5) Tinggal dalam pondok-pondok (6) Sukacita dan nyanyi-nyanyian.

Barney Kasdan dalam bukunya berjudul God’s Appointed Times: A Practical Guide for Understanding and Celebrating the Biblical Holidays memberikan beberapa penjelasan mengenai Sukkot sehingga membantu bagi kita untuk menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Nama lain yang diberikan untuk Perayaan Sukkot adalah Zman Shimkhatenu(Waktu Sukacita), mengapa? Secara historis, Sukkot bagi orang Yahudi menunjuk dua hal yaitu pesta panen buah-buahan sebagaimana digambarkan dalam Imamat 23 dan yang kedua sebagai tanda peringatan bahwa YHWH berkemah bersama leluhur Yisrael di padang gurun selama empat puluh tahun. YHWH hadir di Kemah Suci (Mishkan) dan suku-suku Yisrael tinggal dalam kemah-kemah.

Rumah tangga-rumah tangga Yahudi tradisional biasanya merayakan Sukkot dengan membangun pondok kayu di depan rumah mereka. Kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang menarik bagi masing-masing keluarga khususnya anak-anak. Mereka bisa berpartisipasi dengan menghias pondok-pondok kayu tersebut dengan gambar, ayat-ayat firman, dll. Pondok kayu yang dibuatpun semi permanen dengan atap yang terbuat dari daun-daun atau ranting-ranting kering. Pada permulaan Sukkot yang jatuh pada Tgl 15 Tishri (dimulai Tgl 14 Tishri pukul 18.00) maka masing-masing keluarga akan membuka dengan makan bersama di rumah. Ada penyalaan lilin hari raya. Ada makan roti dan anggur. Ada pengucapan Kiddush yaitu birkat untuk anggur dan roti dan diiringi nyanyian hari raya[2].

YHWH bersabda perihal makna dan tema besar Sukkot sbb: “Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun, supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah YHWH, Tuhanmu." (Im 23:42-43). Frasa “Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok” dalam bahasa Ibrani בסכות הושׁבתי את־בני ישׂראל  (besukot hosavti et beney Yishrael). Sukkot adalah pesta panen sekaligus peringatan penyertaan YHWH di padang gurun dalam kemah-kemah Israel serta kehadiran YHWH di Kemah Suci-Nya.

Apakah bukti-bukti yang menguatkan bahwa Yesus lahir saat perayaan Pondok Daun? Pertamaada satu fakta yang menarik untuk dicermati mengenai kata “kain lampin” dan “palungan”. Lukas 2:6-7 mengatakan, “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”.

Kain lampin merupakan kain yang dipergunakan sebagai sumbu untuk menyalakan lentera dengan 16 kath minyak ditempat kaum wanita selama perayaan Sukot. Adapun kata “palungan”, dalam bahasa Yunaninya phatne. Kata ini juga dipergunakan untuk menerjemahkan kata “kandang” dalam Lukas 13:15. Kata Yunani phatne, dalam bahasa Ibraninya adalah marbek. Dalam Kejadian 33:17, diceritakan mengenai Yakub yang melakukan perjalanan untuk merayakan Sukkot dan membuat kandang untuk kudanya.

Ada tiga hari raya tahunan yang harus dilaksanakan dengan berpusat di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot (Ul 16:16-17). Pada masa-masa perayaan seperti itu, kota Yerusalem dan sekelilingnya, termasuk Betlehem yang hanya beberapa kilometer dari Yerusalem, disesaki oleh jemaah-jemaah yang datang dari pelosok negeri dan penjuru dunia (bd. Kis 2:1-11). Diperkirakan pada masa-masa perayaan seperti itu, ada sekitar satu juta umat yang berkumpul di Yerusalem. Mereka yang diluar Yerusalem harus pulang dan melaksanakan perjalanan dengan mengendarai kendaraan berkuda. Tidak heran jika Maria dan Yosef saat mudik tidak kebagian tempat menginap sehingga harus menginap dan bersalin di tempat penambatan kuda. Ini menjelaskan mengapa pemilik penginapan yang dijumpai Yusuf dan Maria kehabisan kamar karena saat itu berbarengan dengan masa perayaan Sukkot (dan ditambah lagi dengan adanya sensus penduduk).

Kedua, Ketika malaikat menampakkan diri di hadapan gembala-gembala, mereka mengucapkan perkataan yang sangat mirip dengan liturgi kuno hari raya Sukkot: "...aku memberitakan kepadamu kesukaan besar" (Luk 2:10).

Dalam Yohanes 1 ayat 14 dikatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Sepintas ayat ini hanya memberikan informasi kepada kita mengenai hakikat Mesias sebagai Sang Firman YHWH yang menjadi manusia. Dan ayat ini menjadi kredo dasar atau pengakuan akan Keilahian Mesias sebagai Sang Firman YHWH. Namun mari kita perhatikan satu kata dalam ayat 14 yaitu kata yang diterjemahkan dengan “diam”. Kata Yunani eskenosen dari kata kerja skenoo yang artinya “membentangkan kemah”. Kata ini diterjemahkan dalam Hebrew New Testament, yaitu terjemahan dalam bahasa Ibrani modern untuk komunitas Yahudi, dengan kata yishkon dari kata shakan yang artinya “kemah”. Kata “Pondok Daun” dalam Imamat 23:42 dalam bahasa Ibrani disebut dengan sukkot dan oleh Septuaginta, terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani pada Abad III Sm, diterjemahkan dengan skenais dari kata skenoo.

Ketiga, berdasarkan kajian kata dan bahasa di atas, maka Yohanes 1:14 dapat dibaca, “Firman itu telah menjadi manusia, dan berkemah di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Apa arti penting kata “berkemah” pada ayat 14? Yohanes hendak memberikan pesan tersembunyi bahwa Yesus Sang Mesias lahir pada saat orang Yahudi merayakansukkot atau eorte skenon. Kata Yunani skenoo yang dipakai disini menurut Strong's Concordance mempunyai arti: 1) to fix one's tabernacle, have one's tabernacle, abide (or live) in a tabernacle (or tent), tabernacle 2) to dwell.

Data ini diperkuat bahwa pada hari kedelapan, Yesus di sunat di Bait Suci. Tradisi penyunatan tidak harus jatuh pada saat Shemini Atseret (hari kedelapan Sukkot) namun Lukas 2:21 pasti terkait Shemini Atseret, jika memang benar terbukti bahwa Mesias lahir pada saat orang Yahudi merayakan Sukkot. Hal ini senada dengan kesaksian dalam Lukas 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Junjungan Agung, di kota Daud. Kapan persisnya yang dimaksud hari ini? Apakah pernyataan ini hanya merupakan pernyataan konotatif atau justru bersifat historis? Peristiwa yang benar-benar pernah terjadi? Perkataan hari ini bukan ungkapan konotatif melainkaan bersifat historis. Kata “hari ini” menunjuk pada konteks ruang dan waktu bahwa Mesias sebagai tanda keselamatan bagi dunia telah lahir, yaitu pada bulan Tishri saat orang-orang Yahudi merayakan Sukkot.

Keempat, dengan menentukan kapan Elizabet mengandung maka akan diperoleh waktu kapan Maria mengandung karena dikatakan dalam Lukas 1;36 sbb, “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu”. Untuk dapat mengetahui waktu kelahiran Mesias, kita dapat melihat kapan Yohanes Pembaptis anak Elisabet lahir. Adapun kronologinya sbb:[3]

Zakharia, ayah Yohanes adalah imam Lewi dari rombongan Abia (Luk 1:35). Sebagaimana kita ketahui bahwa Abia adalah nama rombongan ke-8 dari ke-24 rombongan para imam yang bertugas di Bait Suci sejak zaman Daud (1 Taw 24:1-3, 7-19).

Tiap rombongan memulai tugas pelayanan di Bait Suci sejak awal bulan Nisan sebagai pembukaan tahun keagamaan. Masing-masing rombongan bertugas selama satu minggu. Tiap jatuh hari raya, maka ke-24 imam bertugas bersama, termasuk pada saat perayaan Pesakh Tgl 14 Nisan dan Shavuot Tgl 6 Siwan (Bulan Yahudi: Nisan {Mar-Apr}, Iyar {Apr-Mei}, Siwan {Mei-Jun}, Tammus {Juni-Juli}, Av {Juli-Agst}, Elul {Agst-Sept}, Tisri {Sept-Okt}, Marshevan {Okt-Nov}, Kislew {Nov-Des}, Tevet {Des-Jan}, Sevat {Jan-Feb}, Adar {Feb-Mar}). Jika rombongan Zakaia adalah rombongan ke-8, berarti Zakhar-Yah memulai pelayanan keimamam sekitar sabat kedua bulan Siwan (Mei-Juni)

Berdasarkan petunjuk Lukas 1:23-24, Elisabet mengandung beberapa waktu setelah Zakharia menyelesaikan tugas keimamamnya. Berarti sekitar sabat ke-3 atau sabat ke-4 bulan Siwan, Elissabet mengandung.


Elisabeth mengandung normal selama 9,5 bulan sebagaimana layaknya wanita yang mengandung. Maka jika kita menghitung 9,5 semenjak bulan Siwan (Mei-Juni), maka kelahiran Yohanes akan jatuh pada bulan Nisan awal. Yahshua pernah berkata bahwa Yohanes adalah Elia yang akan datang (Mat 17:10-13) dan setiap perayaan Pesakh di bulan Nisan, ada jamuan Seder dimana ada 5 cawan dan 1 dari 5 cawan, adalah khusus bagi Elia yang akan datang.

Menurut laporan Lukas 1:24-27, 36, Maria mengalami penampakan malaikat Gabriel yang mewartakan lahir-Nya Mesias melalui rahimnya. Dan peristiwa itu terjadi pada bulan keenam setelah mengandungnya Elisabeth pada bulan Siwan (Mei-Juni). Jika kita tambahkan angka 6 sejak bulan Siwan, maka akan jatuh pada bulan Kislew (Nov-Des). Berarti saat Maria mengandung Yesus, peristiwa itu jatuh dibulan Desember awal. Dan jika kita menghitung dari bulan Kislew (Nov-Des) selama 9,5 bulan sampai tiba saatnya Maria melahirkan, maka akan jatuh pada bulan Tishri (Sept-Okt). Sebagaimana kita ketahui bahwa bulan Tishri sejak tgl 15-21 adalah saat orang-orang Yahudi merayakan puncak Moedim (Hari Raya), yaitu SUKKOT atau Pondok Daun. Dengan demikian kelahiran Mesias jatuh pada bulan September akhir atau Oktober awal bertepatan dengan perayaan Sukkot.




Namun demikian ada beberapa yang mengajukan keberatan dengan meletakkan bulan Nisan sebagai permulaan para imam memulai melakukan pelayanan pelayanan Bait Suci dimana Yoyarib yang memulai tugas tersebut. Alasan mereka, berdasarkan Talmud diperoleh keterangan bahwa saat Yerusalem mengalami penyerbuan tanggal 9 Av 586 SM, saat itu pelayanan para imam dilaksanakan oleh rombongan iman Yoyarib. Jika Yoyarib memulai pelayanan bulan Av, maka diperkirakan Elisabet istri Zakaria mengandung bukan bulan Siwan melainkan Tishri yaitu Oktober sehingga Maria ketika bertemu dengan Elisabet terjadi pada bulan April dan Maria melahirkan Yesus pada bulan Desember.