RSS Feed

DEBAT FORMAL TENTANG BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU (4 b)

Posted by Teguh Hindarto



JIMMY JEFFRY DAN SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) 



BABAK KEEMPAT


Introduksi


Berikut saya postingkan hasil diskusi  berseri  selama beberapa bulan antara Sdr Jimmy Jeffry dengan saya sendiri dalam salah satu group diskusi yaitu DISKUSI CERDAS JUDEOCHRISTIANISME DENGAN KEKRISTENAN. Diskusi ini merupakan tanggapan atas artikel saya mengenai BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU yang saya tuliskan secara berseri dalam blog ini juga dan dibahas dalam forum diskusi.


Jimmy Jeffry:
 <<<Jimmy: Jerusalem Talmud dikompilasi pd sekitar abad ke-4, dan ditulis pd periode Tannaitik (70-200 M) atau periode Ammoraik (abad 3-6). Seharusnya perlu dijelaskan juga setting sejarah dr Tracate Soteh ditulis dlm konteks apa kutipan tsb? Karena masalahnya Bible Scholars mewanti-wanti terhadap pengambilan data Talmud utk dijadikan rujukan sejarah. Salah satunya R.T.France yg pesimis utk mendapat informasi sejarah akurat dr Talmud, karena menurutnya para rabi lebih mengutamakan pokok pembahasan pada Hukum dan Teologi dibanding menyajikan informasi sejarah.(R.T.France, The Evidence of Jesus, Downers Grove, InterVarsity Press, 1986)>>>

[[[Shem: Ah, Anda terlalu pesimis dan mencari referensi yang mendukung sikap pesimis Anda. Mengenai signifikasi kedudukan Talmud Anda bisa membaca kajian saya berjudul:

TALMUD SEBAGAI LITERATUR RABINIK & PERANNYA DALAM MEMAHAMI LATAR BELAKANG DUNIA KEAGAMAAN PRA KRISTEN
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/03/talmud-sebagai-literatur-rabinik.html

YESUS DAN KONSEP MESIAS DALAM TANAKH DAN LITERATUR RABINIK
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/yesus-dan-konsep-mesias-dalam-tanakh.html
Satu hal Anda harus ketahui. Talmud LEBIH TUA USIANYA dibanddingkan berbagai Dictionary yang Anda berikan sebagai rujukan. Masih ada banyak Dictioanry yang menihilkan fungsi bahasa Ibrani sebvagai bahasa tutur. Dan semua pernyataan tersebut gugur oleh adanya fakta bahwa bahasa Ibrani tetap dipergunakan sebagai bahasa percakapan menurut Tracate Sotah 7:2, 30a]]

Sekali lagi anda memberi statement yg “mengecilkan” arti kajian para Bible Scholars, tetapi di sisi lain anda masih juga merefer ke beberapa Bible Scholar seperti Lee Levine, Mark Chancey etc :-) ... Padahal anda blm mempelajari secara cermat kajian mereka & primary sources yg digunakan tapi sudah apriori terlebih dahulu, seperti kajian F.T. France, Craig Evans, Saldarini etc. Dlm diskusi ini saya justru kurang menggunakan dictionary tetapi lebih byk langsung pd academic textbook & journal.
--------------
Shem Tov:
Saya bukan mengecilkan nilai penelitian dan pernyataan mereka. Namun ketika pernyataan mereka mengenai Yerusalem baik kebudayaannya, bahasanya, sosial politiknya dinilai dengan mengecilkan aspek-aspek keyahudiannya yang sudah ditransposisi oleh bahasa dari kebudayaan lain, maka pernyataan tersebut harus DIKONFRONTASI dan DIKONFIRMASI oleh sumber-sumber yang lebih tua. Dalam hal ini Talmud adalah sumber sejarah paling tua disamping sumber-sumber arkeologi lainnya. Janganlah karena satu aspek yang saya abaikan dari pernyataan para sarjana tersebut lalu Anda generalisir bahwa saya mengecilkan penjelasan mereka.

Jimmy Jeffry:
Pernyataan F.T. France terhadap posisi Talmud bukan tanpa alasan, dia tdk apriori terhadap Talmud, tetapi menempatkannya secara seimbang yaitu tdk harus total menerima informasi di dlmnya dan tdk juga menolak Talmud sebagai salah sumber informasi yg cukup berharga. Misalnya text2 mesianic & setting budaya abad2 awal. Inilah sikap para Talmud Scholar seperti Morris Goldstein, Kalusner etc dlm memandang Talmud.

Sebagai contoh, masalah referensi ttg Yesus dlm Talmud, yg memang memberi petunjuk eksistensi Yesus dan secara tdk langsung beberapa tindakannya, tetapi profil Yesus dlm Talmud cenderung dgn nada negatif misalnya menyatakan Yesus adalah penyihir yg menyesatkan Israel.

Talmud Sanhedrin 43a  It is taught: On the eve of Passover they hung Yeshu and the crier went forth for forty days beforehand declaring that "[Yeshu] is going to be stoned for practicing witchcraft, for enticing and leading Israel astray. Anyone who knows something to clear him should come forth and exonerate him." But no one had anything exonerating for him and they hung him on the eve of Passover. 

Talmud Sanhedrin 107b, Sotah 47a  [Yeshu] said to [R. Yehoshua Ben Perachiah]: You taught me that anyone who sins and causes others to sin is not given the opportunity to repent. ... And the master said: Yeshu {the Notzri} practiced magic and deceive and led Israel astray.

Saya mengapreasiasi tulisan2 di blog anda seputar relevansi Talmud dng setting sejarah kekristenan awal. Namun jgn langsung menggeneralisir pd item2 lain seperti masalah “four language” utk dijadikan point valid dlm bangunan argumentasi anda tanpa mengkajinya case by case...
--------------
Shem Tov:
Apa yang Anda jelaskan mengenai profil Yesus dalam Talmud yang digambarkan secara negatif telah saya jelaskan dengan rinci dalam artikel berjudul:

YESUS DAN KONSEP MESIAS DALAM TANAKH DAN LITERATUR RABINIK
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/yesus-dan-konsep-mesias-dalam-tanakh.html
Sayang, Anda tidak memberikan sanggahan dan hanya mengulang pernyataan yang menguatirkan sumber pengutipan yang merujuk pada Talmud. Silahkan Anda membaca artikel tersebut dan membuat sanggahannya atau dibuat menjadi topik diskusi tersendiri.


DEBAT FORMAL TENTANG BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU (4 a)

Posted by Teguh Hindarto


JIMMY JEFFRY DAN SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) 


BABAK KEEMPAT


Introduksi

Berikut saya postingkan hasil diskusi  berseri  selama beberapa bulan antara Sdr Jimmy Jeffry dengan saya sendiri dalam salah satu group diskusi yaitu DISKUSI CERDAS JUDEOCHRISTIANISME DENGAN KEKRISTENAN. Diskusi ini merupakan tanggapan atas artikel saya mengenai BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU yang saya tuliskan secara berseri dalam blog ini juga dan dibahas dalam forum diskusi.


Jimmy Jeffry Diskusi dilanjutkan... saya akan melanjutkan posting saya sebelumnya yg belum tuntas, dan silahkan pak Shem lanjutkan tanggapannya, setelah itu kita akan masuk Ronde ke-4. Ada 3 subtopik yg akan saya tanggapi yaitu seputar Jewishness of Shepporis/Galilee, Holyland Ancient Coins & Talmud (3 September 2012)

Jimmy Jeffry:
[[[Shem: Pernyataan bahwa Galilea adalah basis bagi penggunaan bahasa Aramaik nampaknya harus ditinjau ulang. Galilea merupakan sebuah wilayah yang sangat dekat dengan orang-orang Yahudi sebagaimana Yudea. Yosephus menggambarkan populasi penduduk tersebut di masa dia hidup yang didominasi oleh orang-orang Yahudi. Demikian pula Chancey dan Meyers menuliskan, “bahasa Ibrani dan literatur” tetap “mendominasi wilayah tersebut pada saat itu” (Mark Chancey and eric M. Meyers, “How Jewish was Sepphoris in Jesus’ time? Biblical Archaelogical Review, July-August 2000, p.33). Misnah mengatakan hal serupa demikian: “Orang Galilea menulis dengan cara yang sama dengan orang Yerusalem” (Tamud, Ketuvot 52b)]]]

Saya tdk akan mengulangi point saya ttg posisi Aramik di Galilea, Judea & Yerusalem. Dominasi orang2 Yahudi di wilayah ini memang wajar karena sebagai homeland mereka, tepat seperti dikatakan Yoshepus. Namun yg menjadi inti diskusi adalah penggunaan bahasa di kalangan orang Yahudi saat itu.

Pak Shem merefer pd tulisan Mark A. Chancey di BAR dgn menyatakan ““bahasa Ibrani dan literatur” tetap “mendominasi wilayah tersebut pada saat itu”. Sepertinya pak Shem tdk mempelajari secara cermat isi tulisan Mark A. Chancey. Ini kesimpulan Chancey “..Although some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture, it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature, as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000)

Terlihat pak Shem hanya mengambil kalimat “ Hebrew language and literature” dan “dominated the region at this time”, tetapi mengabaikan kalimat “as well as Aramaic and Jewish culture”. Jelas sekali posisi Aramaic sama baiknya dgn Hebrew. Namun bukan berarti posisi Greek tdk ada pengaruhnya, ini secara implisit terlihat pd kalimat sebelumnya “some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture”.

Perlu diingat tulisan Chancey lebih ditujukan pd point bantahan terhadap pandangan beberapa scholar yg terlalu membesar-besarkan pengaruh helenisasi di Shepporis terutama tulisan Richard Bate dlm bukunya Jesus and the Forgotten City (Grand Rapids, MI: Baker, 1991). Pandangan kuatnya pengaruh helenisasi ini menjadi dasar konsep beberapa liberal scholar seperti John D. Crossan yg menuduh ajaran Yesus bersumber dr konsep Filosofi Greco Roman seperti ajaran Cynicism. 

Kajian Chancey memberi bukti masih kuatnya paham Judaism di kalangan orang Yahudi, misalnya tdk ditemukannya tulang2 babi utk lapisan abad-1 dll. “...According to Crossan, Jesus, advocating Cynic-like values, wanted to bring about, not an apocalyptic kingdom, but a kingdom in which social barriers were eliminated and society’s outcasts and rejects were elevated. In fact, however, there is no evidence for the presence of philosophic teachers, Cynic or otherwise, in first-century C.E. Galilee.”

So.. point Chancey yaitu masih kuatnya Judaism di Shepporis dr pengaruh filosofi helenistic. Pandangan Chancey selaras dgn Craig Evans seperti dlm bukunya Fabricating Jesus yg membantah tesis Crossan. Namun pengaruh helenisasi pd aspek non ideologis seperti penggunaan bahasa Greek tetap ada walaupun pd aspek yg terbatas seperti dlm perdagangan, mengingat posis Shepporis terletak pd jalur jalan raya yg menghubungan Kaisarea Maritim sebuah helenis city di pesisir pantai & Tiberias pusat pemerintah romawi di Galilea (3 September 2012).
-------------
Shem Tov:
Anda menuding saya melepaskan rangkaian keseluruhan kalimat yang saya kutip dari Chancey, “..Although some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture, it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature, as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000) dan hanya mengambil bagian kalimat “it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature”. Seharusnya Anda melihat dengan seksama bahwa pokok pikiran yang saya sampaikan adalah sanggahan bahwa bahasa Aramaik MENDOMINASI wilayah Galilea, sebagaimana anggapan Anda sebelumnya. Oleh karenanya saya mengutip pernyataan Chancey dimana saya menyoroti frasa “it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature” untuk membuktikan bahwa bahasa Ibrani tetap BEREKSISTENSI dan tidak di TRANSPOSISI oleh Aramaik. Justru pengutipan kalimat secara keseluruhan yang Anda sampaikan memperkuat penjelasan saya dimana eksistensi bahasa Ibrani “as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.”. Perhatikan frasa AS WELL AS (sebaik) dimana kedudukan bahasa Ibrani setara dan bukan diganti dan didominasi oleh bahasa Aramaik.
Bahkan dalam tulisan Chancey yang lain dengan judul “How Jewish Was Jesus’ Galilee?”, beliau menuliskan:

“Another similar and related question arises: What about the people living in the Galilee? Were they Jewish or Greek? The answer is somewhat like the cultural mix: Mostly Jewish, but a few gentiles as well. This is the situation reflected in the ancient sources that have survived: the Gospels, the histories of Josephus and the writings of the rabbis. They mention some gentile Galileans, but few. Josephus, for example, reports that at the outbreak of the First Jewish Revolt against Rome (66–70 C.E.), certain Jews in Tiberias attacked the city’s gentile minority.16 Similarly Matthew 8:5–13 and Luke 7:1–10 mention a gentile centurion (probably an officer in the army of Antipas, rather than a Roman soldier) at Capernaum. But none of the sources gives the impression that gentiles formed an especially significant proportion of Galilee’s population. The archaeological situation confirms this impression. There are three kinds of archaeological indicators that inhabitants of a settlement were Jewish: limestone vessels, ritual baths (mikva’ot) and ossuaries” (The Galilee Jesus Knew, Biblical Archaelogy Society, p. 9)

“In Jesus’ time, Jewish Galilee had indeed been influenced by some Greco-Roman culture, but only later periods would see that influence flower. And in Jesus’ time the Galilee was largely a Jewish enclave” (Ibid., p.11)

Dengan logika dan persamaan bahwa orang Galilea adalah Yahudi maka data yang mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi di Galilea membuktikan kebudayaan dan kebahasaan Yahudi di Galiela, terlepas ada eksistensi bahasa-bahasa lain di Galilea, entahkan Aramaik, Yunani, Latin.

Jimmy Jeffry:
‎[[[Shem: Orang Galilea adalah Yahudi, faktanya pada tahun 102 SM kota tersebut dijadikan sasaran cemooh oleh musuh pada hari Sabat, karena orang-orang Yahudi Galilea tidak berangkat berperang pada saat mereka beristirahat (Encylopedia Judaica, Vol 7, p. 266). Sinagoganya sendiri memiliki ketajaman arsitektural dari model orang-orang Galilea (Lee I. Levine, The Ancient Synagogue, 2000, p.198). Tiberias berada di Galilea kemudian menjadi pusat para Sanhendrin dimana Misnah menerima bentuk terakhirnya. Dugaan bahwa bahasa Ibrani menjadi bahasa asli dan sehari-hari yang diucapkan di Yudea dan Aramaik dipergunakan oleh populasi orang Yahudi di Galiela, merupakan sebuah diskriminasi yang secara historis tidak dapat dipertahankan.]]]
Memang orang Galilea adalah Yahudi, sama seperti tanggapan saya sebelumnya terhadap tulisan Mark A. Chancey. So.. kutipan anda dr Encylopedia Judaica hanya sekedar informasi tanpa memperkuat point anda. Demikian pula model arsitektur sinagoge seperti yg ditulis oleh Lee Levine adalah hal yg wajar karena memang bukunya membahas ttg Sinagoge.:-) Sekarang bandingkan dgn buku Lee Levine lainnya yg lebih relevan dlm diskusi kita.

"... This means that for Jesus to have conversed with inhabitants of cities in the Galilee, and especially of cities of the Decapolis and the Phoenician regions, he would have had to have known Greek, certainly at the conversational level. The modes and forms of communication deriving from the Greek tradition would not have had to be acquired by Greek editors or writers of a later generation, as the form-critical school assumes....Nevertheless, the dominant medium of communication in the Jesus tradition seems to have been Greek." The Galilee in Late Antiquity, Lee Levine (ed.), Jewish Theological Seminary of America: 1992

Tiberias pusat Sanhedrin dan Tiberias pula pusat romawi di Galilea. Silahkan lihat kesimpulan Mark Chancey ttg Shepporis yg menempatkan posisi Aramaic sama dgn Hebrew. Untuk lebih mempertajam kajian ttg Galilea bisa dilihat pd tulisan Mark A. Chancey lainnya. “How Jewish Was Jesus’ Galilee?.” Biblical Archaeology Revi ew, Jul/Aug 2007 (3 September 2012).
--------------
Shem Tov:
Entah apa tujuan Anda mengutip tulisan Lee Levine di atas. Saya hanya menebak bahwa Anda masih berusaha untuk membuktikan ketidakhadiran data yang kuat dalam naskah Perjanjian baru Yunani bahwa Yesus bercakap-cakap dengan para murid dan orang-orang Yahudi di Yerusalem dengan menggunakan bahasa Semitik (Ibrani – Aramaik), dengan cara membuat petikan pernyataan Lee di atas untuk membuktikan bahwa Yesus pastilah dapat bercakap-cakap dalam bahasa Yunani. Jika hanya itu yang hendak Anda buktikan, Chancey pun dalam artikel “How Jewish Was Jesus’ Galilee?”,mengungkapkan kemungkinan bahwa Yesus melihat sebuah panggung teater di Sephoris yang jaraknya hanya 4 mill dari Nazareth sebagaimana beliau katakan:

“All the world’s a stage, but did Jesus ever see a play at the Sepphoris theater? Jesus often admonished his followers to be unlike the hypocrites (Matthew 6:2, 5), a word that originally meant “one acting on the stage.” It has been suggested that Jesus learned the word by attending stage presentations at Sepphoris, only 4 miles from Nazareth, where Jesus grew up” (The Galilee Jesus Knew, Biblical Archaelogy Society, p. 5).

Namun data-data itu tidak memberikan dukungan kuat bahwa Yesus bercakap-cakap sehari-hari dalam bahasa Yunani. Apakah Yesus mampu berbahasa Yunani? Dengan melihat peta wilayah pengaruh Helenisme di Yerusalem dan pertemuan Yesus dengan beberapa orang Helenis, mungkin saja. Namun itu tidak mengugurkan fakta bahwa Yesus berbicara dan mengajar dalam bahasa Yahudi dan kisah kehidupannya untuk pertama kalinya ditulis dalam bahasa Yahudi.

Jimmy Jeffry :
‎[[[Shem: Perbedaan bahasa Ibrani orang Yudea dan Galilea diibaratkan orang Yudea berbahasa Inggris Oxford sementara orang Galilea berbahasa Inggris Scotlandia (Brent Mingge, Jesus Spoke Hebrew)

Talmud menyatakan bahwa: “orang-orang Yudea...jelas dalam bahasa mereka...namun orang-orang Galilea...tidak jelas dalam bahasa mereka...satu kali beberapa orang Galilea datang mencari sesuatu dan berkata ‘siapa yang memiliki amar?’, ‘dasar orang Galilea bodoh!’, mereka berkata padanya, ‘apakah yang kamu maksudkan seekor keledai (khamor) untuk ditunggangi? Atau anggur (khamar) untuk diminum? Atau bulu domba (amar)untuk dipakai? Atau domba (amar) untuk disembelih? (Talmud, Eruvin 53a,b).

Spolsky dan Cooper menegaskan sbb: “Talmud mendiskusikan dengan kesungguhan mengenai detail jenis kesalahan yang dibuat penduduk Galilea dalam jenis bahasa Ibrani mereka...khususnya...pengucapan yang ceroboh yang menuntun pada kesalahpahaman yang menggelikan” (Bernard Spolsky and Robert L. Cooper, The Languages of Jerusalem 1991, p. 22;)]]]

Silahkan lihat pendapat pembanding

"...while in Jerusalem mishnaic Hebrew was a home language and probably already also a literary language, and Aramaic a lingua franca, in Galilee Aramaic was a home language and mishnaic Hebrew the upper language of a diglossia", Rabin, Chaim. “Hebrew and Aramaic in the First Century.” in The Jewish People in the First Century: Section One: Historical Geography, Political History, Social, cultural and Religious Life and Institutions. Edited by Shmuel Safrai and Menahem Stern. Philadelphia: Fortress, 1976. 

"The fact that the region [of Galilee] came under Jewish control only after some centuries of government by Aramaic and Greek-speaking rulers suggests that Hebrew was much less well known in Galilee than it would have been in Judea. . . . With the passage of time Aramaic became the most widely spoken language in Syria and Palestine, and, presumably, among the Jews, with the possible exception of the Jews of Judea" Michael O. Wise, "Languages of Palestine." in The Dictionary of Jesus and the Gospels (IVP: 1992) (3 September 2012)
------------
Shem Tov:
Sekali lagi Anda membuat pembanding berdasarkan sumber yang kalah tua dengan Talmud dimana Talmud telah memberikan informasi mengenai status dan penggunaan kedua bahasa tersebut (Ibrani – Aramaik) dan yang menyebabkan banyak orang salah menduga mengenai eksistensi orang Galilea.
Perlu Anda ketahui, istilah “Mishnaic Hebrew” menunjuk pada bahasa Ibrani dan bukan bahasa Aramaik sebagaimana dijelaskan:

“The term Mishnaic Hebrew refers to the Hebrew dialects found in the Talmud, excepting quotations from the Hebrew Bible. The dialects can be further sub-divided into Mishnaic Hebrew (also called Tannaitic Hebrew, Early Rabbinic Hebrew, or Mishnaic Hebrew I), which was a spoken language, and Amoraic Hebrew (also called Late Rabbinic Hebrew or Mishnaic Hebrew II), which was a literary language only. The Mishnaic Hebrew language or Early Rabbinic Hebrew language is one direct ancient descendant of Biblical Hebrew as preserved by the Jews after the Babylonian captivity, and definitively recorded by Jewish sages in writing the Mishnah and other contemporary documents. It was not used by the Samaritans, who preserved their own dialect, Samaritan Hebrew”

http://en.wikipedia.org/wiki/Mishnaic_Hebrew

Dan “Mishnaic Hebrew” adalah bahasa yang dinamis dan hidup berdampingan dengan bahasa Aramaik sebagaimana kesimpulan beberapa sarjana yang tergabung dalam Jerusalem School of Synoptic Research sbb:

“With the emphasis on Hebrew, the Jerusalem School scholars are in some way following the pioneering work of M.H. Segal [8] and Abba BenDavid [9] Segal suggested, as early as 1908, that Mishnaic Hebrew shows the character of a living language and that the Jewish people in the land of Israel, at the time of Jesus, used Hebrew as their primary spoken and written language. Understanding how the Synoptic Gospels work and relate within the context of the language, land, and culture in which Jesus lived is less unique than it was decades ago in its beginnings, but its vision and gatherings still provide a unique opportunity for Jews and Christians to gather around Greek Synoptic Gospel texts and discuss them in modern Hebrew” 

http://en.wikipedia.org/wiki/Jerusalem_school_hypothesis#Lukan_Priority_Theory

Dan Shmuel Safrai (pendapatnya yang Anda kutip) adalah salah satu anggota dari Jerusalem School of Synoptic Research yang mendukung teori Lukan Priority dan meyakini sumber-sumber Ibrani sebagai sumber penulisan Injil

“Some Jewish/Christian scholars such as Robert Lindsey,David Flusser, Shmuel Safrai, and David Bivin have proposed that there was a Hebrew version of the Gospel before it was transcribed into Greek and that this necessitates Lukan Priority”

http://en.wikipedia.org/wiki/Markan_priority

Jerusalem School of Synoptic Research memiliki premis sbb:

“1) the importance of Hebrew language, 2) the relevance of Jewish culture", and 3) the significance of Semitisms underneath sections of the Synoptic Gospels that in turn often yield results to the interconnection (of dependence) between the Synoptic Gospels.[3](These three assumptions, and not one synoptic theory, are the shared presuppositions of Jerusalem School members.)

The first two assumptions are perhaps not shared by the majority of New Testament scholars, but are neither considered to be fringe positions. Today, the common view is that Jesus and His milieu spoke Aramaic, however that Hebrew was spoken and even important is not unique to the Jerusalem School of Synoptic Research”

http://en.wikipedia.org/wiki/Jerusalem_School_of_Synoptic_Research

Dengan mempertimbangkan data-data di atas khususnya terhadap kutipan Shmuel Safrai yang Anda pergunakan untuk mendukung teori Anda, maka Anda harus berfikir ulang bahwa Shmuel Safrai akan mendukung asumsi bahwa bahasa Aramaik telah menggantikan kedudukan bahasa Ibrani.

Pernyataan Safrai, “...in Galilee Aramaic was a home language and mishnaic Hebrew the upper language of a diglossia” SETARA dengan pernyataan Chancey, ““..that Hebrew language and literature, AS WELL AS  Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000)

Logika pernyataan di atas menuntut kita untuk menyimpulkan KESETARAAN antara penggunaan bahasa Ibrani, Aramaik, Yunani di Yerusalem dan Galilea dan bukan yang satu menggantikan yang lain.

Pernyataan Michael O. Wise yang Anda kutip, “...that Hebrew was much less well known in Galilee than it would have been in Judea...” bukan pembanding yang kualified ketika saya mengajukan data yang lebih tua yaitu dari Talmud dimana banyak orang Yahudi Galilea kerap melakukan ungkapan-ungkapan keliru dibandingkan orang Yahudi di Yerusalem. Pembanding yang kualified adalah manakala Anda menyodorkan data referensi Talmudik yang menjelaskan kebenaran asumsi sarjana modern bahwa bahasa Aram telah menggantikan peranan bahasa Ibrani.

DEBAT FORMAL TENTANG BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU (3 b)

Posted by Teguh Hindarto


JIMMY JEFFRY DAN SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) 

BABAK KETIGA


Introduksi


Berikut saya postingkan hasil diskusi  berseri  selama beberapa bulan antara Sdr Jimmy Jeffry dengan saya sendiri dalam salah satu group diskusi yaitu DISKUSI CERDAS JUDEOCHRISTIANISME DENGAN KEKRISTENAN. Diskusi ini merupakan tanggapan atas artikel saya mengenai BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU yang saya tuliskan secara berseri dalam blog ini juga dan dibahas dalam forum diskusi.




Jimmy Jeffry:
Anda kembali membuat pernyataan filosofis yg out of context “..Sikap penolakkan mayoritas masyarakat Yerusalem pada waktu itu sangat jelas berkaitan dengan ideologi dan bukan soal ketidaktepatan pronunsiasi terhadap bahasa Yunani”. Jelas sekali konteksnya berbicara masalah ketrampilan berbahasa bukannya sikap ideologis terhadap status bahasa lain. Bahkan anda mengulang kembali penyebutan bahasa penjajah “...maka pemahaman umum orang-orang Yahudi yang menganggap bahasa Yunani adalah bahasa penjajah sehingga mereka enggan mempelajarinya”. Pernyataan anda tsb terbukti tanpa dasar! Malah kontradiksi dgn Yoshepus yg memungkinkan seseorang belajar lebih lanjut sampai mahir jika mereka memilihnya.

Bercakap-cakap dlm bah. Yunani jelas adalah hal yg umum di Palestina. Saya telah memberikan byk bukti ttg hal ini dr berbagai referensi scholars salah satunya Van der Horst yg telah meneliti berbagai jewish inscription & menyimpulkan Greek cukup dominan di Palestina. “...In Jerusalem itself about 40 percent of the Jewish inscriptions from the first-century period (before 70 C.E.) are in Greek. We may assume that most Jewish Jerusalemites who saw the inscriptions in situ were able to read them” Jewish Funerary Inscriptions—Most Are in Greek, Pieter W. Van der Horst, BAR 18:05, Sep/Oct 1992.

Bahkan dlm Talmud disebutkan orang2 yg mempelajari Greek. Talmud Jerusalem, Sotah 9:15 R’ Avahu cited R’ Yochanan: One may teach his daughter Greek, for it is an ornament for her. Shimon bar Abba heard this and said, “R’ Avahu wishes to teach his daughter, and he hangs it on R’ Yochanan! May this happen to me if he heard it from R’ Yochanan!”

Talmud Jerusalem Sotah 9:15 They asked R’ Yehoshua: May one teach his son Greek? He replied: Teach him when it is neither day nor night, as it is written,
---------------- 
Shem Tov (Teguh Hindarto):
Itu dikarenakan antara Anda dan saya memiliki INTERPRETASI YANG BERBEDA terhadap pernyataan Yosephus dalam Antiquites 20:11,2, “...for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations”

Anda menafsirkan bahwa kalimat itu terkait dengan ketidaktepatan sebuah pronunsiasi sebuah kata atau kalimat sementara saya menafsirkan kalimat itu sebagai sebuah penolakkan sebagian besar masyarakat Yahudi terhadap penguasaan bahasa Yunani yang merepresentasikan penjajahan. Tidak perlu tafsiran berbelit-belit, kalimat di atas lebih mendukung penyimpulan saya tinimbang penyimpulan Anda.

Adapun pengutipan Talmud dimana ada beberapa rabbi yang menyarankan perihal penggunaan bahasa Yunani sebagaimana bukti inskripsi berbahasa Yunani di wilayah Yerusalem (apalagi hanya 40% bukti), tidak membuktikan apapun bahwa bahasa Yunani adalah bahasa yang diterima oleh keseluruhan penduduk Yerusalem jika merujuk pada pernyataan Yosephus di atas (5 Juni 2012)

Jimmy Jeffry:
Iya bisa saja Yoshepus lebih mahir dlm Ibrani/Aramaik dibanding Yunani, tetapi bukan berarti dia tidak bisa bercakap-cakap & menulis dlm Yunani. Mungkin lebih tepat Yoshepus lebih mahir dlm pronunciation Hebrew/Aramaic dibanding Greek. Apakah menjalankan perintah jenderal Titus hanya sebuah perintah singkat? Yoshepus jelas harus mengerti benar maksud dr jenderal Titus, maka logisnya terjadi percakapan/interaksi antara Yoshepus & Jenderal Titus tentu dlm percakapan Greek. Demikian pula saat melaporkan sesuatu ke jenderal Titus, tentu dia harus menjelaskannya dgn baik serta menjawab pertanyaan2 jenderal Titus.

Dari seluruh kajian ttg Yoshepus jelaslah akan lebih tepat ditafsirkan Yoshepus tdk fasih dlm pronunciation, namun masih bisa bercakap2 dlm Greek dgn cukup lancar bahkan menulis Greek. Apalagi dia cukup lama tinggal di Roma & berinteraksi dgn orang2 yg biasa menggunakan Greek dlm percakapannya.
-------------- 
Shem Tov (Teguh Hindarto):
Saya pun tidak pernah mengatakan bahwa Yosephus sama sekali tidak bisa berbahasa Yunani, apalagi beliau seorang sarjana yang terpelajar dan memiliki kemampuan yang memadai untuk itu. Justru KETIDAKFASIHAN beliau menjadi celah dan kunci untuk karaguan saya terhadap kualitas dan kemampuan para murid Yesus dalam berbahasa Yunani sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya maksud dan tujuan pengutipan Yosephus sbb:

“Maksud saya dengan mengutip pernyataan Yosephus dimana beliau mengatakan, “...that I can’t pronounce Greek with sufficient extantness...” (Antiquites of the Jews 20:11.2) bahwasanya jika beliau sebagai seorang sarjana atau sejarawan Yahudi saja masih begitu banyak kekurangan dan kesulitan untuk membuat sebuah karya terjemahan dalam bahasa Yunani, maka mengandaikan penduduk Yerusalem pada Abad 1 Ms memiliki kemampuan yang fasih dalam berbahasa Ibrani adalah suatu kontradiksi yang menyolok. Dan kalimat Yosephus, “...that I can’t pronounce Greek with sufficient extantness” tidak bisa dilepaskan dengan kalimat berikutnya, “for our nation does not encourage those that learn the languages of many nations”. Jika bahasa-bahasa di luar bahasa Ibrani tidak menjadi sesuatu yang menarik minat bangsa Yahudi untuk mempelajari dan mempergunakannya, maka mengasumsikan Yesus dan para rasul berkomunikasi dan mengajar dalam bahasa Yunani adalah terlalu dipaksakan” (5 Juni 2012)

‎Jimmy Jeffry:
Sepertinya ada mengabaikan kutipan dlm Antiquites of the Jews 20:11:2.

“And I am so bold as to say, now I have so completely perfected the work I proposed to myself to do, that no other person, whether he were a Jew or foreigner, had he ever so great an inclination to it, could so accurately deliver these accounts to the Greeks as is done in these books”.

Jelaskan sekali disebutkan “..deliver these accounts to the Greeks as is done in these books” yg membuktikan Antiquities ditulis oleh Yoshepus.

Saya telah memeriksa sumber yg anda gunakan & ternyata anda hanya memilih teks yg anda inginkan serta mengabaikan lainnya. Dengan hanya menggunakan referensi anda sendiri, telah membuktikan Yoshepus bisa menulis Greek.

“ ..The Jewish Antiquities – This was Josephus’ next work and it appeared around 15 years following The Jewish War. ... He often quotes or paraphrases from the Greek Septuagint.

Against Apion – This is apparently Josephus’ final work. In the first part of the book, Josephus writes to any Greek who had doubted his previous writings or the Jewish antiquity” 

http://www.allabouthistory.org/jewish-historian-josephus-faq.htm

Memang dlm bukunya yg pertama dia menggunakan asisten utk menerjemahkan tulisannya dlm Aramaic ke Greek, tetapi buku2 selanjutnya dia telah menuliskannya sendiri dlm Greek. Referensi berikutnya semakin membuktikan “pengabaian” anda terhadap penulisan Yoshepus dlm Greek. Apakah anda kurang teliti atau sengaja mengabaikannya, i don’t know 

“... The twenty volumes of the Jewish Antiquities, in which Flavius Josephus explains Jewish history to a non-Jewish audience, appeared in 94. Its model is a book by the Greek historian Dionysius of Halicarnassus, who wrote twenty books of Roman Antiquities. This time, JOSEPHUS WROTE THE TEXT IN GREEK AND DID NOT USE A TRANSLATOR. The result is a text which is less pleasant to read, even though its subject matter is very interesting.

http://www.livius.org/jo-jz/josephus/josephus.htm>>>

please be carefull to quote a reference
 -------------- 
Shem Tov (Teguh Hindarto):
Nampaknya Anda pun kurang seksama membaca hasil penerjemahan Yosephus yang justru semakin membenarkan saya mengenai ketidakfasihan dan ketidakmahiran beliau saat dijelaskan dalam link tersebut sbb:

“This time, Josephus wrote the text in Greek and did not use a translator. The result is a text which is less pleasant to read, even though its subject matter is very interesting”

Yang artinya, “Kali ini, Yosefus menulis teks dalam bahasa Yunani dan tidak menggunakan penerjemah. Hasilnya adalah teks yang kurang menyenangkan untuk dibaca, meskipun subjek yang sangat menarik” http://www.livius.org/jo-jz/josephus/josephus.htm

Jadi saya tidak pernah mengatakan menampik kemampuan Yosephus menuliskan dan menerjemahkan dalam bahasa Yunani hanya berusaha membuktikan ketidakfasihan dan ketidaklancaran seorang sekelas sarjana dalam kaitannya dengan kemampuan murid-murid Yesus yang tidak memiliki latar belakang kesarjanaan sekelas Yosephus (5 Juni 2012)

‎Jimmy Jeffry:
Ada sepertinya apriori terhadap referens yg saya ajukan tanpa melakukan re-examination sebelumnya. Buku Saldirini byk jadi acuan akademik di kalangan Bible Scholars terutama berkaitan dgn Farisi & Saduki. Saldirini telah melakukan riset berbagai primary source seperti pseudepigrapha, jewish apochypha, Dead Sea Scrolls, Rabbinic Literature Mishnah, Tosefta, Talmud dll. Salah satu uraian Saldarini yg informatif mengenai tokoh Ben Sira (awal abad-2) yg menunjuk pengaruh Greek yg cukup besar “..The most famous description of the scribe in Jewish literature is given by Ben Sira in the early second century (38:24-39:11)... .Ben Sira is influenced by Greek practices and thought but remains centered within the Jewish tradition. For example, he shows the influence of Greek ideas by giving his name as author of the book (50:27)”. Anthony J. Saldarini. Pharisees, Scribes and sadducees in palestinian society, Eerdmans, 2001. 

Sekarang saya tunjukan pemikiran yg mirip dgn Saldirini yaitu dr Talmud Scholar, Travers Herford “...The phrase “near to the kingdom” occurs elsewhere, and is applied to the family of the Patriarch Gamliel II, of whom it is said (b. B.Q. 83), that they were allowed to learn Greek because they were “near to to the kingdom”. The Patriarch was the official representative of the Jews and since as such he must have had frequent intercourse with the government, the knowledge of Greek was necessary”. Travers Herford, Christianity in Talmud and Midrash, William & Norgate, London, 1903. P89.

So jangan membandingkan Talmud dgn referensi modern yg saya gunakan berdasarkan usia penulisan bukunya, perbandingan yg cocok (apple to apple) harus dgn data primer (ancient literature & archaeology) yg jadi dasar kajian buku2 kesarjanaan modern. Justru rujukan anda terhadap Talmud yg kurang tepat & kurang relevan dgn point yg anda maksudkan. Seperti “keberatan” yg telah saya ajukan sebelumnya & akan saya pertajam kembali ttg penyebutan “empat bahasa” dlm Talmud di posting berikut. [[[JJ: Point saya ttg Septugianta utk menunjukan tdk adanya sebuah “sakralitas/keharusan” menggunakan PL/Tanakh Hebrew. Selain itu jika Jewish Diaspora di Alexandria masih paham dgn Hebrew tentu tdk perlu ada Septuagint/LXX, dan tdk ada bukti adanya alasan penerjemahan utk misi proselitisme ke Judaism utk gentiles. Pernyataan anda bhw Septuaginta hanya beredar & berlaku di Alexandria jelas bertentangan dgn realitas sejarah. Jewish di Alexandria bukanlah kelompok terisolasi dr dunia luar, tetapi interaksi terus terjadi dgn kelompok jewish diaspora lainnya di seantero greco-roman termasuk dgn komunitas di Jerusalem. Bukankah 72 rabi itu berasal dr Jerusalem?]]]
---------------- 
Shem Tov (Teguh Hindarto):
Wah, nampaknya Anda berkali-kali gagal memahami arah diskusi dan penjelasan saya. Coba Anda simak kembali penjelasan saya sebelumnya, “Terhadap fakta adanya penggunaan empat bahasa (Ibrani, Aramaik, Yunani, Latin) di Yerusalem tidak saya tolak sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya sbb: “Kita tidak menampik bahwa ada ragam bahasa di Yerusalem di zaman Mesias hidup sebagaimana terekam dalam 19:20 sbb: “Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani”. Ada tiga bahasa yang bereksistensi zaman itu, Ibrani (plus Aramaik), Latin dan Yunani. Namun jangan lupa, fungsi dan kedudukan bahasa itu tidak sama. Talmud mengatakan sbb: “Empat bahasa memiliki nilai masing-masing: Bahasa Yunani untuk nyanyian, Latin untuk peperangan, Aramaik untuk nyanyian penguburan dan Bahasa Ibrani untuk percakapan” (Jerusalem Talmud, Tracate Sotah 7:2, 30a)”

Memangnya informasi Talmud dengan informasi modern dalam buku yang Anda rujuk, “Pharisees, Scribes and Sadducees in Palestinian Society” lebih tua mana sich? Informasi Talmud lebih dapat diandalkan karena berasal dari periode awal sebelum adanya referensi modern yang memberikan pernyataan sebagaimana yang Anda kutip. Kutipan yang Anda buat sampai saat ini tidak membuktikan apapun bahwa Yesus dan para rasul berkomunikasi dan mengajar dalam bahasa selain bahasa Ibrani dan Aramaik”

Dari penjelasan saya di atas bermakna sbb: (1) Saya tidak menolak keragaman bahasa di Palestina Abad I Ms (2) Kedudukan dan penggunaan aneka ragam bahasa tersebut berbeda-beda (3) Bahasa Ibrani tetap eksis berdasarkan informasi Talmud

Mengapa Talmud? Karena Talmud berisikan pernyataan, tafsiran, keterangan dari periode sebelum dan sesudah Yesus Sang Mesias sehingga informasinya lebih dekat dengan peristiwanya. Saya tidak menafikkan informasi dan kajian arkeologis yang kemudian disimpulkan oleh berbagai Ensiklopedi yang Anda kutip namun jawaban Anda hanya berusaha menjelaskan apa yang sudah saya jelaskan bahwa ada aneka ragam penggunaan bahasa di Yerusalem/Palestina Abad I Ms. Namun Anda tidak berhasil membuktikan bahwa bahasa Ibrani hanya bahasa mati dan bahasa yang berkaitan dengan pembacaan Kitab Suci belaka. Informasi Talmud di atas menjelaskan bahwa bahasa Ibrani adalah BAHASA PERCAKAPAN (11 Juni 2012)

‎Jimmy Jeffry:
So jangan membandingkan Talmud dgn referensi modern yg saya gunakan berdasarkan usia penulisan bukunya, perbandingan yg cocok (apple to apple) harus dgn data primer (ancient literature & archaeology) yg jadi dasar kajian buku2 kesarjanaan modern. Justru rujukan anda terhadap Talmud yg kurang tepat & kurang relevan dgn point yg anda maksudkan. Seperti “keberatan” yg telah saya ajukan sebelumnya & akan saya pertajam kembali ttg penyebutan “empat bahasa” dlm Talmud di posting berikut.

[[[JJ: Point saya ttg Septugianta utk menunjukan tdk adanya sebuah “sakralitas/keharusan” menggunakan PL/Tanakh Hebrew. Selain itu jika Jewish Diaspora di Alexandria masih paham dgn Hebrew tentu tdk perlu ada Septuagint/LXX, dan tdk ada bukti adanya alasan penerjemahan utk misi proselitisme ke Judaism utk gentiles. Pernyataan anda bhw Septuaginta hanya beredar & berlaku di Alexandria jelas bertentangan dgn realitas sejarah. Jewish di Alexandria bukanlah kelompok terisolasi dr dunia luar, tetapi interaksi terus terjadi dgn kelompok jewish diaspora lainnya di seantero greco-roman termasuk dgn komunitas di Jerusalem. Bukankah 72 rabi itu berasal dr Jerusalem?]]]
-------------- 
Shem Tov (Teguh Hindarto):
Pendapat yang mengatakan bahasa Ibrani telah mati dan hanya dipergunakan dalam lingkup studi dan keagamaan didasarkan pada Ensiklopedi dan literatur Teologi modern. Bagaimana Anda akan menuntut “perbandingan yang cocok” (apple to apple) jika sumber referensi Ensiklopedi dan literatur Teologi modern didasarkan pada data primer yang belum sepenuhnya ditemukan baik secara arkeologis maupun literatur? Oleh karenanya saya mengajukan data literatur Talmud sebagai sumber sejarah memetakan situasi Yerusalem Abad I selain data-data arkeologis terkini lainnya. Jadi kritik Anda bahwa pengutipan Talmud adalah tidak tepat, sesungguhnya tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penerjemahan TaNaKh ke dalam Septuaginta khoq diartikan “tdk adanya sebuah “sakralitas/keharusan” menggunakan PL/Tanakh Hebrew?” Lha apa ketika Qur’an, Veda, Bhagavad Gita dan kitab-kitab keagamaan non Kristen diterjemahkan dalam bahasa yang bukan bahasa sumber lantas Anda akan berkata bahwa bahasa Arab bukan bahasa suci penulisan Qur’an atau bahasa Sansekerta bukan bahasa suci penulisan Veda dll? Silahkan lihat penjelasan awal saya mengenai arti LASHON QODESH (Bahasa Suci) yang ditujukan pada bahasa Ibrani dan jangan berusaha merelativisr maknanya dengan berbagai penjelasan yang tidak ada sangkut pautnya dengan topik pembahasan. 

Anda nampaknya menyalahpahami pernyataan saya sehingga mengatakan, “Pernyataan anda bhw Septuaginta hanya beredar & berlaku di Alexandria jelas bertentangan dgn realitas sejarah”. Silahkan Anda membaca penjelasan saya di awal diskusi, “Apa kaitannya Septuaginta dengan Yesus? Apakah Anda punya bukti bahwa Yesus membaca Septuaginta di sinagog Yerusalem padahal Septuaginta beredar dan berlaku di Alexandria bagi komunitas Yahudi berbahasa Yunani”. Anda nampaknya MEMLINTIR dan MENAMBAHI KATA “HANYA” sehingga mengesankan bahwa saya mengatakan bahwa Septuaginta hanya dibaca di Alexandria. Saya tidak akan menjelaskan dimana saya Septuaginta dibaca karena pernyataan itu hanya opini plintiran Anda (11 Juni 2012)