RSS Feed

DEBAT FORMAL TENTANG BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU (4 a)

Posted by Teguh Hindarto


JIMMY JEFFRY DAN SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) 


BABAK KEEMPAT


Introduksi

Berikut saya postingkan hasil diskusi  berseri  selama beberapa bulan antara Sdr Jimmy Jeffry dengan saya sendiri dalam salah satu group diskusi yaitu DISKUSI CERDAS JUDEOCHRISTIANISME DENGAN KEKRISTENAN. Diskusi ini merupakan tanggapan atas artikel saya mengenai BAHASA PENULISAN PERJANJIAN BARU yang saya tuliskan secara berseri dalam blog ini juga dan dibahas dalam forum diskusi.


Jimmy Jeffry Diskusi dilanjutkan... saya akan melanjutkan posting saya sebelumnya yg belum tuntas, dan silahkan pak Shem lanjutkan tanggapannya, setelah itu kita akan masuk Ronde ke-4. Ada 3 subtopik yg akan saya tanggapi yaitu seputar Jewishness of Shepporis/Galilee, Holyland Ancient Coins & Talmud (3 September 2012)

Jimmy Jeffry:
[[[Shem: Pernyataan bahwa Galilea adalah basis bagi penggunaan bahasa Aramaik nampaknya harus ditinjau ulang. Galilea merupakan sebuah wilayah yang sangat dekat dengan orang-orang Yahudi sebagaimana Yudea. Yosephus menggambarkan populasi penduduk tersebut di masa dia hidup yang didominasi oleh orang-orang Yahudi. Demikian pula Chancey dan Meyers menuliskan, “bahasa Ibrani dan literatur” tetap “mendominasi wilayah tersebut pada saat itu” (Mark Chancey and eric M. Meyers, “How Jewish was Sepphoris in Jesus’ time? Biblical Archaelogical Review, July-August 2000, p.33). Misnah mengatakan hal serupa demikian: “Orang Galilea menulis dengan cara yang sama dengan orang Yerusalem” (Tamud, Ketuvot 52b)]]]

Saya tdk akan mengulangi point saya ttg posisi Aramik di Galilea, Judea & Yerusalem. Dominasi orang2 Yahudi di wilayah ini memang wajar karena sebagai homeland mereka, tepat seperti dikatakan Yoshepus. Namun yg menjadi inti diskusi adalah penggunaan bahasa di kalangan orang Yahudi saat itu.

Pak Shem merefer pd tulisan Mark A. Chancey di BAR dgn menyatakan ““bahasa Ibrani dan literatur” tetap “mendominasi wilayah tersebut pada saat itu”. Sepertinya pak Shem tdk mempelajari secara cermat isi tulisan Mark A. Chancey. Ini kesimpulan Chancey “..Although some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture, it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature, as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000)

Terlihat pak Shem hanya mengambil kalimat “ Hebrew language and literature” dan “dominated the region at this time”, tetapi mengabaikan kalimat “as well as Aramaic and Jewish culture”. Jelas sekali posisi Aramaic sama baiknya dgn Hebrew. Namun bukan berarti posisi Greek tdk ada pengaruhnya, ini secara implisit terlihat pd kalimat sebelumnya “some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture”.

Perlu diingat tulisan Chancey lebih ditujukan pd point bantahan terhadap pandangan beberapa scholar yg terlalu membesar-besarkan pengaruh helenisasi di Shepporis terutama tulisan Richard Bate dlm bukunya Jesus and the Forgotten City (Grand Rapids, MI: Baker, 1991). Pandangan kuatnya pengaruh helenisasi ini menjadi dasar konsep beberapa liberal scholar seperti John D. Crossan yg menuduh ajaran Yesus bersumber dr konsep Filosofi Greco Roman seperti ajaran Cynicism. 

Kajian Chancey memberi bukti masih kuatnya paham Judaism di kalangan orang Yahudi, misalnya tdk ditemukannya tulang2 babi utk lapisan abad-1 dll. “...According to Crossan, Jesus, advocating Cynic-like values, wanted to bring about, not an apocalyptic kingdom, but a kingdom in which social barriers were eliminated and society’s outcasts and rejects were elevated. In fact, however, there is no evidence for the presence of philosophic teachers, Cynic or otherwise, in first-century C.E. Galilee.”

So.. point Chancey yaitu masih kuatnya Judaism di Shepporis dr pengaruh filosofi helenistic. Pandangan Chancey selaras dgn Craig Evans seperti dlm bukunya Fabricating Jesus yg membantah tesis Crossan. Namun pengaruh helenisasi pd aspek non ideologis seperti penggunaan bahasa Greek tetap ada walaupun pd aspek yg terbatas seperti dlm perdagangan, mengingat posis Shepporis terletak pd jalur jalan raya yg menghubungan Kaisarea Maritim sebuah helenis city di pesisir pantai & Tiberias pusat pemerintah romawi di Galilea (3 September 2012).
-------------
Shem Tov:
Anda menuding saya melepaskan rangkaian keseluruhan kalimat yang saya kutip dari Chancey, “..Although some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture, it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature, as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000) dan hanya mengambil bagian kalimat “it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature”. Seharusnya Anda melihat dengan seksama bahwa pokok pikiran yang saya sampaikan adalah sanggahan bahwa bahasa Aramaik MENDOMINASI wilayah Galilea, sebagaimana anggapan Anda sebelumnya. Oleh karenanya saya mengutip pernyataan Chancey dimana saya menyoroti frasa “it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature” untuk membuktikan bahwa bahasa Ibrani tetap BEREKSISTENSI dan tidak di TRANSPOSISI oleh Aramaik. Justru pengutipan kalimat secara keseluruhan yang Anda sampaikan memperkuat penjelasan saya dimana eksistensi bahasa Ibrani “as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.”. Perhatikan frasa AS WELL AS (sebaik) dimana kedudukan bahasa Ibrani setara dan bukan diganti dan didominasi oleh bahasa Aramaik.
Bahkan dalam tulisan Chancey yang lain dengan judul “How Jewish Was Jesus’ Galilee?”, beliau menuliskan:

“Another similar and related question arises: What about the people living in the Galilee? Were they Jewish or Greek? The answer is somewhat like the cultural mix: Mostly Jewish, but a few gentiles as well. This is the situation reflected in the ancient sources that have survived: the Gospels, the histories of Josephus and the writings of the rabbis. They mention some gentile Galileans, but few. Josephus, for example, reports that at the outbreak of the First Jewish Revolt against Rome (66–70 C.E.), certain Jews in Tiberias attacked the city’s gentile minority.16 Similarly Matthew 8:5–13 and Luke 7:1–10 mention a gentile centurion (probably an officer in the army of Antipas, rather than a Roman soldier) at Capernaum. But none of the sources gives the impression that gentiles formed an especially significant proportion of Galilee’s population. The archaeological situation confirms this impression. There are three kinds of archaeological indicators that inhabitants of a settlement were Jewish: limestone vessels, ritual baths (mikva’ot) and ossuaries” (The Galilee Jesus Knew, Biblical Archaelogy Society, p. 9)

In Jesus’ time, Jewish Galilee had indeed been influenced by some Greco-Roman culture, but only later periods would see that influence flower. And in Jesus’ time the Galilee was largely a Jewish enclave” (Ibid., p.11)

Dengan logika dan persamaan bahwa orang Galilea adalah Yahudi maka data yang mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi di Galilea membuktikan kebudayaan dan kebahasaan Yahudi di Galiela, terlepas ada eksistensi bahasa-bahasa lain di Galilea, entahkan Aramaik, Yunani, Latin.

Jimmy Jeffry:
[[[Shem: Orang Galilea adalah Yahudi, faktanya pada tahun 102 SM kota tersebut dijadikan sasaran cemooh oleh musuh pada hari Sabat, karena orang-orang Yahudi Galilea tidak berangkat berperang pada saat mereka beristirahat (Encylopedia Judaica, Vol 7, p. 266). Sinagoganya sendiri memiliki ketajaman arsitektural dari model orang-orang Galilea (Lee I. Levine, The Ancient Synagogue, 2000, p.198). Tiberias berada di Galilea kemudian menjadi pusat para Sanhendrin dimana Misnah menerima bentuk terakhirnya. Dugaan bahwa bahasa Ibrani menjadi bahasa asli dan sehari-hari yang diucapkan di Yudea dan Aramaik dipergunakan oleh populasi orang Yahudi di Galiela, merupakan sebuah diskriminasi yang secara historis tidak dapat dipertahankan.]]]
Memang orang Galilea adalah Yahudi, sama seperti tanggapan saya sebelumnya terhadap tulisan Mark A. Chancey. So.. kutipan anda dr Encylopedia Judaica hanya sekedar informasi tanpa memperkuat point anda. Demikian pula model arsitektur sinagoge seperti yg ditulis oleh Lee Levine adalah hal yg wajar karena memang bukunya membahas ttg Sinagoge.:-) Sekarang bandingkan dgn buku Lee Levine lainnya yg lebih relevan dlm diskusi kita.

"... This means that for Jesus to have conversed with inhabitants of cities in the Galilee, and especially of cities of the Decapolis and the Phoenician regions, he would have had to have known Greek, certainly at the conversational level. The modes and forms of communication deriving from the Greek tradition would not have had to be acquired by Greek editors or writers of a later generation, as the form-critical school assumes....Nevertheless, the dominant medium of communication in the Jesus tradition seems to have been Greek." The Galilee in Late Antiquity, Lee Levine (ed.), Jewish Theological Seminary of America: 1992

Tiberias pusat Sanhedrin dan Tiberias pula pusat romawi di Galilea. Silahkan lihat kesimpulan Mark Chancey ttg Shepporis yg menempatkan posisi Aramaic sama dgn Hebrew. Untuk lebih mempertajam kajian ttg Galilea bisa dilihat pd tulisan Mark A. Chancey lainnya. “How Jewish Was Jesus’ Galilee?.” Biblical Archaeology Revi ew, Jul/Aug 2007 (3 September 2012).
--------------
Shem Tov:
Entah apa tujuan Anda mengutip tulisan Lee Levine di atas. Saya hanya menebak bahwa Anda masih berusaha untuk membuktikan ketidakhadiran data yang kuat dalam naskah Perjanjian baru Yunani bahwa Yesus bercakap-cakap dengan para murid dan orang-orang Yahudi di Yerusalem dengan menggunakan bahasa Semitik (Ibrani – Aramaik), dengan cara membuat petikan pernyataan Lee di atas untuk membuktikan bahwa Yesus pastilah dapat bercakap-cakap dalam bahasa Yunani. Jika hanya itu yang hendak Anda buktikan, Chancey pun dalam artikel “How Jewish Was Jesus’ Galilee?”,mengungkapkan kemungkinan bahwa Yesus melihat sebuah panggung teater di Sephoris yang jaraknya hanya 4 mill dari Nazareth sebagaimana beliau katakan:

All the world’s a stage, but did Jesus ever see a play at the Sepphoris theater? Jesus often admonished his followers to be unlike the hypocrites (Matthew 6:2, 5), a word that originally meant “one acting on the stage.” It has been suggested that Jesus learned the word by attending stage presentations at Sepphoris, only 4 miles from Nazareth, where Jesus grew up” (The Galilee Jesus Knew, Biblical Archaelogy Society, p. 5).

Namun data-data itu tidak memberikan dukungan kuat bahwa Yesus bercakap-cakap sehari-hari dalam bahasa Yunani. Apakah Yesus mampu berbahasa Yunani? Dengan melihat peta wilayah pengaruh Helenisme di Yerusalem dan pertemuan Yesus dengan beberapa orang Helenis, mungkin saja. Namun itu tidak mengugurkan fakta bahwa Yesus berbicara dan mengajar dalam bahasa Yahudi dan kisah kehidupannya untuk pertama kalinya ditulis dalam bahasa Yahudi.

Jimmy Jeffry :
[[[Shem: Perbedaan bahasa Ibrani orang Yudea dan Galilea diibaratkan orang Yudea berbahasa Inggris Oxford sementara orang Galilea berbahasa Inggris Scotlandia (Brent Mingge, Jesus Spoke Hebrew)

Talmud menyatakan bahwa: “orang-orang Yudea...jelas dalam bahasa mereka...namun orang-orang Galilea...tidak jelas dalam bahasa mereka...satu kali beberapa orang Galilea datang mencari sesuatu dan berkata ‘siapa yang memiliki amar?’, ‘dasar orang Galilea bodoh!’, mereka berkata padanya, ‘apakah yang kamu maksudkan seekor keledai (khamor) untuk ditunggangi? Atau anggur (khamar) untuk diminum? Atau bulu domba (amar)untuk dipakai? Atau domba (amar) untuk disembelih? (Talmud, Eruvin 53a,b).

Spolsky dan Cooper menegaskan sbb: “Talmud mendiskusikan dengan kesungguhan mengenai detail jenis kesalahan yang dibuat penduduk Galilea dalam jenis bahasa Ibrani mereka...khususnya...pengucapan yang ceroboh yang menuntun pada kesalahpahaman yang menggelikan” (Bernard Spolsky and Robert L. Cooper, The Languages of Jerusalem 1991, p. 22;)]]]

Silahkan lihat pendapat pembanding

"...while in Jerusalem mishnaic Hebrew was a home language and probably already also a literary language, and Aramaic a lingua franca, in Galilee Aramaic was a home language and mishnaic Hebrew the upper language of a diglossia", Rabin, Chaim. “Hebrew and Aramaic in the First Century.” in The Jewish People in the First Century: Section One: Historical Geography, Political History, Social, cultural and Religious Life and Institutions. Edited by Shmuel Safrai and Menahem Stern. Philadelphia: Fortress, 1976. 

"The fact that the region [of Galilee] came under Jewish control only after some centuries of government by Aramaic and Greek-speaking rulers suggests that Hebrew was much less well known in Galilee than it would have been in Judea. . . . With the passage of time Aramaic became the most widely spoken language in Syria and Palestine, and, presumably, among the Jews, with the possible exception of the Jews of Judea" Michael O. Wise, "Languages of Palestine." in The Dictionary of Jesus and the Gospels (IVP: 1992) (3 September 2012)
------------
Shem Tov:
Sekali lagi Anda membuat pembanding berdasarkan sumber yang kalah tua dengan Talmud dimana Talmud telah memberikan informasi mengenai status dan penggunaan kedua bahasa tersebut (Ibrani – Aramaik) dan yang menyebabkan banyak orang salah menduga mengenai eksistensi orang Galilea.
Perlu Anda ketahui, istilah “Mishnaic Hebrew” menunjuk pada bahasa Ibrani dan bukan bahasa Aramaik sebagaimana dijelaskan:

The term Mishnaic Hebrew refers to the Hebrew dialects found in the Talmud, excepting quotations from the Hebrew Bible. The dialects can be further sub-divided into Mishnaic Hebrew (also called Tannaitic Hebrew, Early Rabbinic Hebrew, or Mishnaic Hebrew I), which was a spoken language, and Amoraic Hebrew (also called Late Rabbinic Hebrew or Mishnaic Hebrew II), which was a literary language only. The Mishnaic Hebrew language or Early Rabbinic Hebrew language is one direct ancient descendant of Biblical Hebrew as preserved by the Jews after the Babylonian captivity, and definitively recorded by Jewish sages in writing the Mishnah and other contemporary documents. It was not used by the Samaritans, who preserved their own dialect, Samaritan Hebrew”

http://en.wikipedia.org/wiki/Mishnaic_Hebrew

Dan “Mishnaic Hebrew” adalah bahasa yang dinamis dan hidup berdampingan dengan bahasa Aramaik sebagaimana kesimpulan beberapa sarjana yang tergabung dalam Jerusalem School of Synoptic Research sbb:

With the emphasis on Hebrew, the Jerusalem School scholars are in some way following the pioneering work of M.H. Segal [8] and Abba BenDavid [9] Segal suggested, as early as 1908, that Mishnaic Hebrew shows the character of a living language and that the Jewish people in the land of Israel, at the time of Jesus, used Hebrew as their primary spoken and written language. Understanding how the Synoptic Gospels work and relate within the context of the language, land, and culture in which Jesus lived is less unique than it was decades ago in its beginnings, but its vision and gatherings still provide a unique opportunity for Jews and Christians to gather around Greek Synoptic Gospel texts and discuss them in modern Hebrew” 

http://en.wikipedia.org/wiki/Jerusalem_school_hypothesis#Lukan_Priority_Theory

Dan Shmuel Safrai (pendapatnya yang Anda kutip) adalah salah satu anggota dari Jerusalem School of Synoptic Research yang mendukung teori Lukan Priority dan meyakini sumber-sumber Ibrani sebagai sumber penulisan Injil

Some Jewish/Christian scholars such as Robert Lindsey,David Flusser, Shmuel Safrai, and David Bivin have proposed that there was a Hebrew version of the Gospel before it was transcribed into Greek and that this necessitates Lukan Priority

http://en.wikipedia.org/wiki/Markan_priority

Jerusalem School of Synoptic Research memiliki premis sbb:

“1) the importance of Hebrew language, 2) the relevance of Jewish culture", and 3) the significance of Semitisms underneath sections of the Synoptic Gospels that in turn often yield results to the interconnection (of dependence) between the Synoptic Gospels.[3](These three assumptions, and not one synoptic theory, are the shared presuppositions of Jerusalem School members.)

The first two assumptions are perhaps not shared by the majority of New Testament scholars, but are neither considered to be fringe positions. Today, the common view is that Jesus and His milieu spoke Aramaic, however that Hebrew was spoken and even important is not unique to the Jerusalem School of Synoptic Research”

http://en.wikipedia.org/wiki/Jerusalem_School_of_Synoptic_Research

Dengan mempertimbangkan data-data di atas khususnya terhadap kutipan Shmuel Safrai yang Anda pergunakan untuk mendukung teori Anda, maka Anda harus berfikir ulang bahwa Shmuel Safrai akan mendukung asumsi bahwa bahasa Aramaik telah menggantikan kedudukan bahasa Ibrani.

Pernyataan Safrai, “...in Galilee Aramaic was a home language and mishnaic Hebrew the upper language of a diglossia” SETARA dengan pernyataan Chancey, ““..that Hebrew language and literature, AS WELL AS  Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000)

Logika pernyataan di atas menuntut kita untuk menyimpulkan KESETARAAN antara penggunaan bahasa Ibrani, Aramaik, Yunani di Yerusalem dan Galilea dan bukan yang satu menggantikan yang lain.

Pernyataan Michael O. Wise yang Anda kutip, “...that Hebrew was much less well known in Galilee than it would have been in Judea...” bukan pembanding yang kualified ketika saya mengajukan data yang lebih tua yaitu dari Talmud dimana banyak orang Yahudi Galilea kerap melakukan ungkapan-ungkapan keliru dibandingkan orang Yahudi di Yerusalem. Pembanding yang kualified adalah manakala Anda menyodorkan data referensi Talmudik yang menjelaskan kebenaran asumsi sarjana modern bahwa bahasa Aram telah menggantikan peranan bahasa Ibrani.


Jimmy Jeffry:
[[[Shem: Pernyataan Ya’akov Meshorer yang saya kutip di atas berasal dari buku David Bivin dan Roy Blizard berjudul Understanding the Difficult Word of Jesus pada halaman 33 (bukan 55 sebagaimana tulisan saya sebelumnya) dan David Bivin merujuk pada buku karya Ya’akov Meshorer dengan judul “Jewish Coins of the Second Temple”, 1967.

Anda khoq membandingkan penemuan koin di tempat yang berbeda? Saya berusaha membuktikan penemuan Ya’akov Meshorer di Yerusalem dimana dari dari 215 koin yang ditemukan hanya 99 yang bertuliskan huruf Ibrani dan 1 saja dalam bahasa Aramaik. Lha Anda khoq malah membicarakan penemuan koin Yunani di Lydia? Bukankah itu di luar Yerusalem? 

http://en.wikipedia.org/wiki/Lydia

Anda mengacaukan mengenai fakta penemuan koin Yunani di Lydia sebuah kota di Asia Minor dengan penemuan koin Ibrani di Yerusalem. Apakah kurang jelas hasil pembuktian arkeologis Yaakov Meshorer yang saya kutip sehingga masih juga mengutip pernyataan Bruce Chilton and Craig Evans dalam Studying the Historical Jesus: Evaluations of the State of Current Research ? Asumsi vs Fakta arkeologi!]]]

Sepertinya anda sedang mengajukan Strawman Arguments, karena jelas saya yg tidak sedang mengangkat penemuan coin di lidya menjadi point argumentasi saya. Silahkan perhatikan kembali kutipan saya.

"The oldest known coins were struck in Lydia, in western Asia Minor, just before 600 B.C... coins were in common use among the Greeks and had reached the East in small quantities.Most of the coins were Greek, but the few Phoenician coins are evidence of the beginnings of local Middle Eastern mintings...Early fourth century coins from Gaza are especially inter esting.. Some of the inscriptions on the coins imitate Greek inscriptions; others are in Phoenician and Aramaic.. The first Jewish coins, dated about 350 B.C". Meshorer, Yaakov. “The Holy Land in Coins.” Biblical Archaeology Review, Mar 1978, 32-38.

Point saya “time factor” yaitu menunjukan bahwa inscriptions coin Aramaic lebih tua (early fourth century) dibanding Jewish/Hebrew coin (350 BC) menurut kajian Meshorer. Penyebutan penemuan coin di lydia jelas tertulis di western Asia Minor (600 BC) hanya ingin memperlihatkan kronologis penemuan coin kuno dr oldest known coin di Lydia terus berlanjut ke penemuan coin Greek, Phoenician & Aramaic di Gaza (seputaran Israel). So please read it carefully...
-----------
Shem Tov:
Anda mengatakan, “Sepertinya anda sedang mengajukan Strawman Arguments, karena jelas saya yg tidak sedang mengangkat penemuan coin di lidya menjadi point argumentasi saya...” Padahal sangat jelas bahwa dikalimat bawahnya Anda mengutip tulisan Yaakov Meshorer yang menyatakan, “"The oldest known coins were struck in Lydia, in western Asia Minor, just before 600 B.C..”. bagaimana mungkin Anda menuduh saya “strawman arguments? Saya sedang mengutip sumber pembuktian di Yerusalem, kenapa Anda mengutip dari sumber di luar Yerusalem?

Silahkan buktikan bahwa apa yang saya tuliskan terkategori strow man argument dengan melihat definisi dan penjelasan Wikipedia sbb:
“A straw man, known in the UK as an Aunt Sally, is a type of argument and is an informal fallacy based on misrepresentation of an opponent's position.[1] To "attack a straw man" is to create the illusion of having refuted a proposition by replacing it with a superficially similar yet unequivalent proposition (the "straw man"), and refuting it, without ever having actually refuted the original position”

http://en.wikipedia.org/wiki/Straw_man

Jimmy Jeffry:
Anda mengacu pd tulisan Davin Bivin yg memang sedang fokus pd perbandingan Hebrew & Aramaic dgn mengambil acuan pd kajian Meshorer “Jewish Coins of the Second Temple”, 1967. Tetapi ingat fokus tulisan Meshorer dlm tulisannya itu ttg JEWISH COINS. Silahkan anda pelajari tulisan2 Meshorer berkaitan Ancient Coins baik Jewish Coins maupun Non Jewish Coins. 

Greek Coins mulai mendominasi di Holyland sejak Alexander mengalahkan Persia & periode helenisasi di mulai “..Alexander the Great’s conquest of the East in 332 B.C. ended the Persian Period and ushered in the Hellenistic Period. With that conquest, an international Attic (Greek) standard coinage replaced the variety of standards and denominations which had characterized THE MARKET IN THE HOLY LAND during the Persian Period.” Meshorer, idem
Pasca perang di Raphia (312BC) kerajaan Alexander terpecah dua di utara Seleucid dan di selatan Ptolemies. Sejak itu Ptolemies Coins mulai digunakan di Holylands. Namun setelah Anthoicus mengalahkan Ptolemies maka derah Holyland ganti dikuasai dinasti Seleucid, sehingga Seleucid Coin yg kemudian di gunakan. Informasi lebih lengkap bisa dibaca dlm tulisan2 Meshorer.

Sebagai tambahan, pendapat ahli lainnya Baruch Kanael “...Herod was appointed king of Judea by Anthony and Octavian - the later Augustus – in 40 BC. His coins clearly demonstrate the change from an independent Jewish state to a Roman client-kingdom. The inscription is now in Greek only..” Baruch Kanael, Ancient Jewish Coins and Their Historical Importance, The Biblical Archaeologist Vol 26 May 1963.

Sehingga pendapat Craig Evans seperti yg telah saya kutip relevan dgn hal ini yaitu komunikasi dlm perdagangan melibatkan bahasa Greek & coin Greek. “.. Galilee was a center for import and export as well as general trade, resulting in a genuinely cosmopolitan flavor... Many of his [Jesus'] disciples were fishermen who worked on the Sea of Galilee, including Simon Peter, Andrew, James and John. They almost assuredly would have need to conduct in Greek much of their business of selling fish...", Bruce Chilton and Craig Evans, Studying the Historical Jesus: Evaluations of the State of Current Research, , eds. Brill (4 September 2012) 
------------
Shem Tov:
Pernyataan Anda, “Tetapi ingat fokus tulisan Meshorer dlm tulisannya itu ttg JEWISH COINS” justru memperkuat tudingan saya bahwa, “Anda mengacaukan mengenai fakta penemuan koin Yunani di Lydia sebuah kota di Asia Minor dengan penemuan koin Ibrani di Yerusalem”. Bukan hanya soal koin yang dinilai melainkan dimana koin itu ditemukan. Ketika saya menggunakan rujukan koin Yahudi yang ditemukan di Yerusalem maka sangat tidak relevan mengutip penemuan mengenai koin Yahudi di luar Yerusalem dalam hal ini Lydia.

Dengan pembuktian jumlah koin Yahudi yang signifikan untuk mebuktikan bahwa bahasa Aramaik menggantikan kedudukan bahasa Ibrani adalah ILUSI dan ASUMSI sarjana saja. Sayangnya Anda tidak sabar dan tidak dengan jernih melihat fakta itu lalu dengan terburu nafsu membuat perimbangan data lainnya dimana menampilkan jumlah koin non Yahudi yaitu dalam bahasa Yunani untuk menyanggah penjelasan saya. Ini jelas tidak fair!

Keberadaan koin-koin bertuliskan huruf Yunani sebagaimana Anda kutip di atas tidak membuktikan bahwa bahasa Ibrani DIGANTIKAN oleh bahasa Yunani sebagaimana asumsi bahwa bahasa Aramaik menggantikan fungsi bahasa Ibrani. Koin-koin berbahasa Yunani yang Anda kutip justru membuktikan bahwa Yerusalem dijajah dan dikuasai peradaban lain yang menggunakan bahasa Yunani sebagai yang mengalahkan penggunaan bahasa penjajah sebelumnya yaitu Persia sebagai bahasa transaksional/perdagangan.

Demikian pula frasa, “His coins clearly demonstrate the change from an independent Jewish state to a Roman client-kingdom. The inscription is now in Greek only..” tidak membuktikan adanya transposisi bahasa melainkan transposisi kepemimpinan dan penjajahan atas Yerusalem.

Yang mengherankan, Anda mengutip pendapat Craig Evan yang mengatakan, “.. Galilee was a center for import and export as well as general trade, resulting in a genuinely cosmopolitan flavor... Many of his [Jesus'] disciples were fishermen who worked on the Sea of Galilee, including Simon Peter, Andrew, James and John. They almost assuredly would have need to conduct in Greek much of their business of selling fish...", yang tentu saja berkontradiksi bukan saja dengan data Talmudik yang lebih tua, namun juga bertentangan dengan sumber-sumber referensi yang Anda kutip sebelumnya dimana Anda mengatakan, ““..Although some aspects of Jewish culture were fully at home in Hellenistic culture, it nevertheless remains the case that Hebrew language and literature, as well as Aramaic and Jewish culture, dominated the region at this time.” (Chancey, Mark, Meyers, Eric M. “Spotlight on Sepphoris: How Jewish Was Sepphoris in Jesus’ Time?.” Biblical Archaeology Review, Jul/Aug 2000)
Bagaimana ini?

Bersambung..............

0 komentar:

Posting Komentar