RSS Feed

TANGGAPAN TEGUH HINDARTO ATAS SANGGAHAN BUDI ASALI MENGENAI PREDESTINASI

Posted by Teguh Hindarto



Artikel saya berjudul:

PREDESTINASI TERHADAP ORANG YANG BERIMAN PADA YESUS SEBAGAI MESIAS ANAK TUHAN

http://bet-midrash.blogspot.com/2012/09/predestinasi-terhadap-orang-yang.html

telah mendapat reaksi dan tanggapan dari Budi Azali yang dimuat dalam blog Albert rumampuk.

http://albertrumampuk.blogspot.com/2012/09/tanggapan-terhadap-artikel-pdt-teguh.html

Berikut sanggahan dan tanggapan balik atas argumentasi Budi Azali

Teguh Hindarto:

YHWH telah memiliki RENCANA (zamam, yatsar, Ibr) dalam kekekalan mengenaipenciptaan dunia, baik fisik maupun metafisik dan, penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, organisme lainnya. Ketika YHWH menciptakan dunia, Dia memberikan identifikasi BAIK terhadap seluruh  ciptaan-Nya, bahkan amat baik (Kej 1:4,10,12,18,21,25,31)

Tujuan Penciptaan Alama Semesta dan Manusia

Mencerminkan kemuliaan YHWH

“Langit menceritakan kemuliaan Tuhan, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2)

Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)

“Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Tuhan sendirilah Hakim. S e l a” (Mzm 50:6)

Menjadi mandataris YHWH (Kej 1:27-28)

“Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:27-28)
Dosa Mencemari Rencana Tuhan
--------------------------------------------
Budi Asali:

Kalau rencana manusia bisa dicemari, tetapi kalau rencana Allah tidak mungkin bisa dicemari. Pada waktu Ia membuat rencana, Ia tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Lalu untuk apa membuat rencana yang akan dicemari?

Ia maha kuasa, sehingga semua rencanaNya pasti terjadi, tak ada yang gagal atau berubah.
Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh.Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:

a)   Adam ditentukan untuk tidak jatuh.
Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh.
b)   Allah tidak merencanakan apa-apa tentang hal itu.
Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30), bagaimana mungkin tentang hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mempunyai Rencana?
c)   Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.

Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah.
---------------
Teguh Hindarto:

Pernyataan Budi Azali, “Lalu untuk apa membuat rencana yang akan dicemari?” tidak relevan untuk dipertanyakan karena karena toch rencana Tuhan bukan membuat “rencana yang dicemari” namun rencana yang meliputi:

Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan (1 Ptr 1:18)
Menetapkan, merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan (Rm 1:6)
Menetapkan, merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan (1 Ptr 1:20)

Rencana kekalNya yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Tuhan YHWH telah mengetahui bahwa manusia akan mengalami kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti semula.

Kalau pun saya menuliskan sub judul “Dosa Mencemari Rencana Tuhan” bukan bermakna sebuah perencanaan Tuhan melainkan sesuatu yang sudah pasti diketahuinya terlebih dahulu. Perencanaan yang dicemari ini berkaitan dengan konteks pernyataan sebelumnya bahwa Tuhan memiliki rencana dengan penciptaan yang Dia lakukan yaitu:

Ciptaan-Nya Mencerminkan kemuliaan YHWH (Mzm 19:2)
Ciptaan-Nya Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)

FAKTANYA Kitab Suci memberikan kesaksian bahwa dosa MASUK dan MENCEMARI rencana Tuhan mengenai penciptaan yang semula ditetapkan untuk mencerminkan kemuliaan dan kekuasaan YHWH justru harus kehilangan kemuliaan yang berujung pada kefanaan yang dialami Adam dan Hawa dan kerusakan moralitas manusia.

Budi Azali mengatakan, “c)   Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah”. Jika dosa sudah ada dalam rencana Tuhan maka sejumlah pertanyaan ini harus dijawab sbb:
  1. Apa alasan Tuhan membuat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa?
  2. Tuhan merencanakan dosa berarti Tuhanlah penanggung jawab dan aktor atas dosa dan pelanggaran  Adam dan Hawa. Dimanakah letak rasionalitas pernyataan ini?
  3. Jika Tuhan merencanakan dan menciptakan dosa maka dalam diri Tuhan ada dosa dan sifat-sifat negatif yang dihubungkan dengan dosa?

Teguh Hindarto:

Apakah YHWH menciptakan adanya dosa? Tidak! Dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum YHWH oleh manusia. Jika YHWH menciptakan dosa, berarti dalam diri YHWH ada dosa dan ini tidak mungkin
--------------------
Budi Asali:

Calvinist juga tak percaya Allah sebagai pencipta dosa. Menentukan dosa, dan mengatur (secara pasif) terjadinya dosa, berbeda dengan menciptakan dosa.
----------------
Teguh Hindarto:

Menentukan artinya merencanakan secara tetap. Dengan kata lain menakdirkan. Itu setara dengan menciptakan masuknya dosa dalam kehidupan Adam dan Hawa

Teguh Hindarto:

Apakah YHWH bertanggung jawab terhadap kejatuhan manusia dalam dosa? Tidak! YHWH sudah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya. Kejatuhan adalah tanggung jawab manusia. Namun semua yang terjadi atas sepengetahuan dan seijin YHWH
-----------------
 Budi Asali:

Ada 2 kata dari kalimat anda di atas yang akan  saya bahas:

1) ‘Sepengetahuan’.
Kalau Dia maha tahu, Dia pasti tahu apapun yang akan terjadi sejak minus tak terhingga. Kalau Dia tahu, maka apa yang Dia tahu pasti terjadi. Kalau pasti terjadi, maka semua itu sudah tertentu. Kalau sudah tertentu, siapa yang menentukan? Pada saat itu hanya ada Allah saja! Calvinist mengatakan: Allah yang menentukan. Kalau tak setuju jawaban ini, berikan jawaban alternatif. Bagaimana mungkin pada minus tak terhingga segala sesuatu sudah tertentu?

2) ‘Seijin’.
R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. ... Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ... Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme) - ‘Chosen By God’, hal 26-27.
---------------
Frasa “sepengetahuan” dan “seijin” tentu saja berada dalam lingkup kemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan YHWH. Namun itu bukan sebuah rencana dan penetapan yang datang dari dirinya. Toch faktanya tidak pernah ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan merencanakan dan menetapkan dosa masuk dalam dunia? Rencananya sudah jelas  adalah penciptaan dan penebusan bukan masuknya dosa yang mencemari rencananya.

Teguh Hindarto:

Mengapa YHWH mengijinkan kejatuhan manusia dalam dosa? YHWH, dalam Kemaha tahuanNya, telah melihat bahwa manusia akan memberontak terhadap diriNya. Dalam KemahatahuanNya, YHWH telah MERENCANAKAN untuk memulihkan, menyelamatkan, menebus ciptaan (dunia dan manusia)
-------------
Budi Asali:

Lucu sekali. Ia merencanakan ‘obat’nya, tetapi tidak merencanakan ‘penyakit’nya? Kalau penyakitnya tidak ditentukan, berarti bisa terjadi bisa tidak. Bagaimana kalau tidak terjadi? Lalu apa gunanya obatnya?

Disamping itu, kalau sesuatu belum ditentukan oleh Allah, Ia sendiri tidak mungkin tahu akan hal itu. Ini mungkin sukar dimengerti / diterima. Tetapi coba pikir, kalau sesuatu belum ditentukan, maka dari sudut pandang Allahpun, itu bisa terjadi dan bisa tidak. Jadi dari sudut pandang Allahpun itu tidak pasti. Bisakah Allah mengetahuiSECARA PASTI, sesuatu yang dari sudut pandangNya sendiri TIDAK PASTI?
-------------
Andalah yang menggelikan. Apakah seorang dokter merencanakan sebuah penyakit HIV, Antrax, TBC, DBD dll dan kemudian menyiapkan obatnya? Yang benar adalah ada kejadian dan kasus munculnya virus dan penyakit, kemudian direncanakan obatnya.
Dalam perspektif Tuhan, tentu Tuhan merencanakan penebusan bukan setelah dosa masuk dalam dunia melainkan sebelum dosa masuk ke dalam dunia, Tuhan YHWH sudah mengetahui bahwa itu bakal terjadi dan Dia menyiapkan obatnya yaitu Penebusan.

Teguh Hindarto:

Predestinasi YHWH

Sebelum langit dan bumi serta manusia diciptakan, YHWH telah melakukan beberapa karya sbb:

Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas” (1 Ptr 1:18)
---------------
Budi Asali:

Kalau ‘Yesus menebus dosa manusia’ sudah ditetapkan, bagaimana mungkin dosa yang akan ditebus tidak ditetapkan? Dan juga penebusan Yesus mengharuskan Ia mati dibunuh melalui salib. Pembunuhannya harus ditentukan bukan? Dan pembunuhan terhadap Dia adalah dosa bukan?
Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Charles Hodge: “The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa dosa ditentukan lebih dulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544.

Charles Hodge: “it is utterly irrational to contend that God cannot foreordain sin, if He foreordained (as no Christian doubts) the crucifixion of Christ” [= adalah sama sekali tidak rasionil untuk berpendapat bahwa Allah tidak bisa menentukan dosa, jika Ia menentukan (seperti yang tidak ada orang kristen yang meragukan) penyaliban Kristus] - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 547.
---------------
Dalam terminologi Jawa dikenal istilah WINGKA yaitu nama untuk hasil cetakan GENTHENG (genting /atap) yang gagal atau cacat. Apakah pembuat genting membuat Wingka atau membuat Genting? Adakah pembuat GENTHENG merencanakan membuat WINGKA? Mustahil!

Demikian pula mustahil Tuhan menetapkan dan merencanakan masuknya dosa ke dalam dunia dan menyebabkan manusia Adam dan Hawa terjatuh dalam dosa yang berujung kepada kefanaan karena jika benar demikian yang terjadi, maka Tuhan yang bertanggungjawab atas dosa Adam dan Hawa bukan Adam dan Hawa. Dosa adalah pelanggaran sadar oleh Adam dan Hawa, mahluk ciptaan Tuhan. Pelanggaran tersebut dikarenakan Tuhan memberikan kehendak bebas untuk memilih dan bertindak

Teguh Hindarto:

Menetapkan, merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan
“Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Mesias” (Rm 1:6)
Menetapkan, merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan
“Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (1 Ptr 1:20)
------------------
Budi Asali:

Kalau nulis ayat jangan ngawur bung! Kamu tulis 1Pet 1:20, tetapi bunyi ayatnya dari Gal 1:15!
Allah merencanakan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Lagi-lagi, kalau dosanya tidak ditentukan dulu, tidak mungkin Ia merencanakan penyelamatan manusia DARI DOSA!
--------------
Salah tulisan itu manusiawi dan lumrah. Anda saja yang tidak manusiawi dan tidak lumrah mempersoalkan hal-hal yang tidak signifikan dengan diskusi kita!

Teguh Hindarto:

Rencana kekal-Nya yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Dia mengetahui kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti semula

Arti Pemilihan YHWH Terhadap Manusia

Pemilihan dilakukan berdasarkan KASIH KARUNIA dan kemurahanNya. YHWH mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal sebagaimana dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan” (Ef 2:8)

Dan juga dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Rm 9:18)
Apakah jika seseorang telah dipilih/dipanggil sebelum langit dan bumi tercipta, berarti dia telah tercatat di Sorga dan tidak mungkin kehilangan keselamatan? Golongan Calvinis sangat percaya perihal doktrin “sekali selamat tetap selamat”.
--------------
Budi Asali:

Saya tanya balik: apakah anda percaya rencana Allah tentang pemilihannya bisa gagal? Ini bertentangan dengan Ayub 42:2 dabn sederetan ayat-ayat lain yang sudah saya berikan di atas.
-------------
Kehilangan keselamatan BUKANLAH KEGAGALAN RENCANA TUHAN melainkan kegagalan manusia dalam mempertahankan dan memelihara keselamatan yang telah Tuhan YHWH percayakan padanya. Apakah ketika seorang membunuh orang lain atau ketika seseorang melakukan tindakan bunuh diri maka Tuhan telah menetapkan dan merencanakan kematian orang tersebut dengan cara sedemikian?

Teguh Hindarto:

Yohanes Calvin merumuskan suatu ajaran yang dikenal oleh kalangan Calvinisme sebagai Dotrin Predestinasi atau Ketetapan Tuhan. Rev. Gregory S. Neal mendefinisikan Predestinasi sbb, “Predestination is the doctrine which attempts to describe justification as the decision and act of God alone--an act based upon no external determinants, but only on God's own, divine decision. Additionally, it is held that those who are not elected to salvation are, through Divine will, elected to damnation. In this, 'double predestination' is, in fact, accepted. God elects people to both redemption and to reprobation” [1](Predestinasi adalah doktrin yang mencoba untuk menggambarkan pembenaran sebagai keputusan dan tindakan Tuhan sendiri - sebuah tindakan yang tidak berdasarkan faktor-faktor penentu eksternal, tapi hanya pada keputusan Ilahi dari Tuhan sendiri. Selain itu  dinyatakan bahwa mereka yang tidak terpilih untuk keselamatan terpilih untuk menerima hukuman. Dalam hal ini, “predestinasi ganda” pada kenyataannya, diterima. Disatu sisi Tuhan  memilih orang baik untuk penebusan maupun untuk kutukan).

Rumusan doktrin itu diringkaskan dalam bentuk akrostik TULIP sbb:
T    - Total Depravity (Kerusakan Total)
U   - Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)
L    - Limited Atonement (Penebusan yang Terbatas)
I     - Irresistible Grace (Anugrah yang Tidak Dapat Ditolak)
P    - Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang  Kudus)[2]
-----------
Budi Asali:

Predestinasi hanya point ke 2 dari TULIP! Bukannya itu diringkas menjadi TULIP!
-------------
Pemahaman Predestinasi satu paket yang diringkas dalam akronim TULIP. Yang satu didasarkan atas landasan yang lain. Jika fundasi yang satu roboh maka roboh bangunan doktrin lainnya

Teguh Hindarto:

Benarkah pemahaman “sekali selamat tetap selamat?” Tanpa menampik pemahaman yang brilian dari Yohanes Calvin namun terhadap pemahaman yang satu ini, saya tidak sependapat. Keselamatan bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan kesungguhan.
--------------
Budi Asali:

Kalau begitu, untuk tetap selamat, orang harus melakukan sesuatu! Ini menjurus pada doktrin keselamatan karena perbuatan baik, yang jelas-jelas adalah ajaran sesat!
------------
Anda memberikan komentar dan pendapat namun terlepas dari alasan yang saya buat dan Anda potong konteksnya. Pernyataan di atas didasarkan pengkajian dan pemahaman terhadap sejumlah ayat sbb:

Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."  Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah”. (Rm 10:16-21)

Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)
Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya” (Why 3:5).

Kekuatiran dan pertanyaan Anda, “Kalau begitu, untuk tetap selamat, orang harus melakukan sesuatu! Ini menjurus pada doktrin keselamatan karena perbuatan baik, yang jelas-jelas adalah ajaran sesat!” sebenarnya tidak relevan diajukan karena pernyataan saya di atas tidak sedang melandaskan pada pemahaman bahwa perbuatan baik mendatangkan keselamatan? Sebaliknya mempertanyakan validitas dogma “sekali selamat tetap selamat?”

Nampaknya Anda kurang berbuat baik dan tidak mengajarkan kedudukan perbuatan baik dengan cara yang baik sehingga tidak mengerti bahwa perbuatan baik memiliki nilai dalam kekekalan.

Apa Yang Kita Bawa Saat Meninggal?

Ada satu hal yang diabaikan oleh orang Kristen perihal apa yang akan dibawa saat orang Kristen meninggal dan menghadap Tuhan? Ada banyak perilaku tidak biblikal dari orang-orang Kristen dimana saat jenasah dimasukkan peti diberi Kitab Suci di tangannya. Bukankah Kita Suci seharusnya dibaca dan direnungkan oleh orang-orang yang hidup?

Kitab Suci baik TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru mengajarkan perihal fungsi dan kedudukan serta nilai perbuatan baik dalam kekelalan. Kita akan mengkajinya secara singkat.

Fungsi Dan Kedudukan Perbuatan Baik

Sebelum kita mengupas nilai dari perbuatan baik hendaklah kita memahami fungsi dan kedudukan perbuatan baik dalam kehidupan pengikut Mesias.

Rasul Yakobus (Ya’aqov) mengatakan sbb: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:14-17).

Fungsi perbuatan adalah MENYEMPURNAKAN dan MEMBUKTIKAN bahwa seseorang memiliki iman sebagaimana dikatakan: “Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18) dan “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak 2:22).

Rasul Paul mengatakan dalam suratnya bahwa Kitab Suci dapat melengkapi kita dengan pedoman-pedoman berbuat baik. Muara akhir pembacaan dan pemahaman atas Kitab Suci adalah berbuat baik sebagaimana dikatakan: “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim 3:16-17). Perbuatan baik adalah PENGAMALAN seseorang akan perintah-perintah Tuhan.

Nilai Dan Upah Perbuatan Baik

Setelah kita mengulas fungsi dan kedudukan perbuatan baik marilah kita menggali nilai dan upah dari perbuatan baik.

Rasul Paul mengatakan sbb: “Jangan sesat! Tuhan tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:7-9).

Dalam suratnya yang lain Rasul Paul mengingatkan sbb: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:6-8)

Dua kutipan surat di atas memberikan penegasan pada kita bahwa seberapa banyak yang kita perbuat entah menolong orang atau memberikan tsedaqah kita dalam bentuk harta kepada yang memerlukannya, akan BERDAMPAK dalam kehidupan kita. Seberapa banyak kita berbuat, demikianlah yang akan kita terima dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, janganlah jemu dalam berbuat kebajikan agar kita memperoleh kebajikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan di dunia ini.

Saya sering melihat dan menggemari salah satu tayangan di televisi swasta yang berjudul “Minta Tolong”. Tayangan ini menyiarkan bagaimana respon orang-orang kaya ketika seseorang meminta tolong sesuatu darinya sangat jauh berbeda dengan orang-orang miskin. Justru yang selalu memiliki kepekaan sosial dalam menolong adalah orang-orang yang marjinal secara ekonomi dan sosial sehingga mereka akhirnnya menerima upah dan berkat dari penyelenggara program siaran tersebut. Demikian pula jika kita tekiun dan rela dalam berbuat kebaikan tanpa mengharap upah dan pahala, maka Tuhan akan menyediakan upah dan pahala berupa kebaikkan yang akan mencukupi kebutuhan dalam kehidupan kita.

Perbuatan baik bukan hanya memiliki nilai di DUNIA ini namun dalam KEKEKALAN. Maksud saya, perbuatan baik bukan prasyarat untuk masuk dalam kekekalan karena sebagai pengikut Mesias kita telah menerima kekekalan dan kehidupan melalui iman kita kepada Yesus Sang Mesias, namun demikian perbuatan baik kita di dunia kita akan memiliki nilai yang dibawa dan menentukan kita sebagai apa dan bagaimana dalam kekekalan sebagaimana dikatakan:

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Rm 2:6-8).

Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan (Mesias) supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).

Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Halelu-Yah! Karena YHWH, Tuhan kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus). Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Tuhan” (Why 19:6-9)

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." (Why 14:13)

Siapakah yang sesat? Yang mengajarkan perbuatan baik atau yang meniadakan perbuatan baik?

Teguh Hindarto:

Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."  Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah”. (Rm 10:16-21)
------------
Budi Asali:

Israel memang bangsa pilihan tetapi bukan dalam arti pilihan untuk selamat. Pemilihan Allah terhadap Israel hanya merupakan type dari pemilihan dalam predestinasi
---------------
Anda keliru memberikan komentar dan tanggapan. Pengutipan Roma 10:16-21 saya maksudkan untuk menekankan frasa, ““Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu” dengan tujuan bahwa tidak semua orang terhizab dalam keselamatan secara otomatis. Ada respon dan tanggapan orang beriman yang juga menentukan keselamatannya. Bukankah soal predestinasi pun berbicara soal predestinsi keselamatan? Lalu apa yang dipersalahkan ketika Anda berkata, “Pemilihan Allah terhadap Israel hanya merupakan type dari pemilihan dalam predestinasi?”

Teguh Hindarto:

Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)
---------------
Budi Asali:

Ayat ini hanya menunjukkan bahwa sekalipun ada jaminan keselamatan tetapi manusia tetap diberi tanggung jawab untuk melakukan apapun yang terbaik.
Bdk. Kis 27:22-34 - “(22) Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. (23) Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milikNya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. (25) Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. (26) Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.’ (27) Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan. (28) Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa. (29) Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. (30) Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. (31) Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: ‘Jika mereka tidak tinggal di kapal, KAMU TIDAK MUNGKIN SELAMAT.’ (32) Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut. (33) Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: ‘Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. (34) Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. HAL ITU PERLU UNTUK KESELAMATANMU. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.’”.

Yang saya beri warna merah, merupakan jaminan. Tetapi yang warna biru menunjukkan bahwa sekalipun dijamin selamat, tetap ada tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik! Jelas bahwa adanya jaminan keselamatan tidak berarti dibuangnya tanggung jawab. Kita tetap harus melakukan yang terbaik sesuai dengan Firman Tuhan. Dua hal ini bukannya bertentangan tetapi saling melengkapi!
-----------------------
Perhatikan frasa, “asal kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya” yang dihubungkan dengan frasa, “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias”

Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)

Ayat ini berbicara soal KONDISI YANG MEMPENGARUHI KESELAMATAN bukan aspek TANGGUNG JAWAB. Kutipan ayat yang Anda berikan tidak ada korelasi dan relevansinya dengan pernyataan saya yang Anda tanggapi.

Teguh Hindarto:

Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya” (Why 3:5).
----------------
Budi Asali:

Ayat ini justru mengatakan  tidak akan dihapus! Memang ada syarat ‘barangsiapa menang’, tetapi mungkinkah orang Kristen sejati kalah?

1.   Ro 8:35-37 - “(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”.
Ini masih ditambahi lagi dengan Ro 8:38-39 yang menjamin bahwa tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita (orang kristen) dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

2.   Wah 17:14 - “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia JUGA AKAN MENANG, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.’”.
Catatan: kata-kata ‘juga akan menang’ (yang saya cetak miring) sebetulnya tidak ada, tetapi secara implicit itu ada.
3.   1Kor 15:57 - “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.
4.   2Kor 2:14a - “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus SELALUmembawa kami di jalan kemenanganNya”.

Kalau orang kristen sejati tidak mungkin kalah, maka jelas bahwa Wah 3:5 itu berlaku untuk setiap orang kristen dan dengan demikian penghapusan nama dari kitab kehidupan itu tidak mungkin terjadi.
--------------
Anda sudah ditungganggi oleh prasangka teologis dan dogma tanpa basis yang kokoh. Perhatikan frasa, “namanya tidak akan dihapus” adalah sebuah kondisi yang ditentukan oleh frasa sebelumnya “Barangsiapa menang”. Menariknya, Anda mengakui dengan mengatakan, “Memang ada syarat ‘barangsiapa menang’, tetapi mungkinkah orang Kristen sejati kalah?”. Pertanyaan ini sangat naif karena menentang dan merelativisir pernyataan Yesus Sang Mesias sendiri yang telah memberikan PERSYARATAN KELANGGENGAN KESELAMATAN. Pertanyaan Anda seakan meragukan janji Yesus Sang Mesias dan mengonfontirkan dengan interpretasi Anda mengenai “orang Kristen yang menang”.

Ayat-ayat yang Anda kutip tidak kaitannya dengang apa yang saya bicarakan dan tidak menjadi dasar yang kokoh bahwa ayat-ayat tersebut mendukung dogma “sekali selamat tetap selamat”. Dogma dan interpretasi Calvin tersebut gugur oleh Wahyu 3:5 yang saya sampaikan.

Teguh Hindarto:

Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH?
----------------
Budi Asali:

Ro 9:10-14 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!”.

Pertanyaan ‘apakah Allah tidak adil?’ (ay 14) membuktikan bahwa Paulus memang sedang mengajar doktrin tentang predestinasi, karena doktrin ini hampir selalu menimbulkan reaksi ‘Allah tidak adil!’.
---------------
Kenapa Anda tidak memberikan jawaban dan keterangan atas pertanyaan reflektif yang saya ajukan di atas? “Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH?”. Roma 9:10-14 berbicara mengenai aspek kedaulatan dan hak prerogatif Tuhan hendak bertindak apapun tanpa harus meminta pertimbangan dan rasa keadilan dari manusia karena Tuhan Maha Adil dan sumber Keadilan. Sekalipun Roma 9:10-14 menyinggung soal predestinasi namun tidak menyinggung pertanyaan eksistensial yang saya ajukan, ““Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH?

Budi Asali:

Tetapi apakah Dia tidak adil? Sebetulnya kalau ia membuang semua orang ke neraka, Ia adil. Tetapi Ia mau menyelamatkan sebagian. Yang sebagian ini mendapatkan kemurahan, yang lain mendapatkan keadilan. Tidak ada yang mendapat ketidak-adilan.

Ia memang tidak bersikap sama rata, Ia lebih baik / murah hati kepada orang-orang pilihan. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa adil berarti bersikap sama rata? Bdk. Mat 20:1-15, khususnya ay 13-15nya! Kalau memang adil berarti bersikap sama rata, maka sejak penciptaan Dia sudah tidak adil. Karena Ia tidak menciptakan semua secara sama rata. Ada yang jadi binatang, manusia, malaikat. Ada orang yang pandai dan ada yang bodoh, ada yang cantik dan ada yang jelek dan sebagainya.
----------------
Keadilan memang bukan bermakna sama rata, sama rasa, sama penghasilan, sama upah, sama pahala dll. Keadilan Tuhan berbeda dengan keadilan manusia. Apa yang manusia anggap tidak adil bisa saja adil bagi Tuhan demikian sebaliknya. Namun menyatakan bahwa Tuhan adil karena telah menetapkan beberapa orang untuk masuk neraka dan menetapkan sebagian orang untuk masuk Surga sungguh irasional dan bertentangan dengan karakter Tuhan YHWH sendiri, karena dikatakan dalam Yekezkiel 18:23, “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuan YHWH . Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” kalau Tuhan saja tidak berkenan kepada kematian orang fasik melainkan pertobatannya, maka tidak masuk akal jika Anda berkeyakinan bahwa Tuhan telah menakdirkan siapa saja yang akan masuk neraka dan tidak memperoleh keselamatan.

Pernyataan Anda, “Ia lebih baik / murah hati kepada orang-orang pilihan’ sungguh merupakan sikap yang dikuasai dogmatisme daripada rasionalitas dan proporsionalitas berfikir. Dan itu bertentangan dengan sabda Yesus dalam Matius 5:45, “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Mana bukti bahwa Tuhan lebih mengasihi orang pilihan?

Teguh Hindarto:

Pertama, Itu bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11).
---------------
Budi Asali:

Ada beberapa arti dari kata ‘kehendak’. Kadang-kadang menunjuk pada Rencana kekal dari Allah, dan yang ini pasti terjadi. Kadang-kadang menunjuk pada perintah Allah, seperti dalam Yeh 33:11 ini, dan ini jelas bisa tidak terjadi. Ayat ini tak ada hubungannya dengan predestinasi!
-------------
Yekezkiel 33:11 memang tidak berbicara predestinasi tapi Yehezkiel 33:11 ini hendak MERUNTUHKAN khayalan dogmatis Anda bahwa “Tuhan menakdirkan sebagian orang untuk binasa”. Anda harus letakkan kutipan ayat yang saya berikan berdasarkan konteksnya dalam artikel yang saya buat yaitu:

“Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH? Pertama, Itu bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11)”


Teguh Hindarto:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman YHWH, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman YHWH, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman YHWH, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu” (Yer 29:11-14)
-----------------
Budi Asali:

Bukankah kita harus menafsirkan dengan membandingkan ayat dengan ayat supaya jangan bertentangan? Bagaimana kalau ayat ini dibandingkan dengan Yer 21:10 dan beberapa ayat lain?

Yer 21:10  Sebab Aku telah menentang kota ini untuk mendatangkan kecelakaan dan bukan untuk mendatangkan keberuntungannya, demikianlah firman TUHAN. Kota ini akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel yang akan membakarnya habis dengan api."

Yer 49:20  Sebab itu dengarlah putusan yang telah diambil TUHAN terhadap Edom dan rancangan-rancangan yang telah dibuatNya terhadap penduduk Teman: Bahwa sesungguhnya, yang paling lemahpun di antara kawanan domba akan diseret. Bahwa sesungguhnya, padang rumput mereka sendiri akan merasa ngeri terhadap mereka.

Yer 50:45  Sebab itu dengarlah putusan yang telah diambil TUHAN terhadap Babel dan rancangan-rancangan yang telah dibuat-Nya terhadap negeri orang-orang Kasdim: Bahwa sesungguhnya, yang paling lemahpun di antara kawanan domba akan diseret. Bahwa sesungguhnya, padang rumput mereka sendiri akan merasa ngeri terhadap mereka.

Yer 51:29  Bumi berguncang dan bergetar, sebab rancangan TUHAN terhadap Babel sedang terlaksana, yakni untuk membuat negeri Babel menjadi tempat tandus yang tidak berpenduduk.

Lalu apakah ayat yang diatas saling bertentangan dengan kelompok ayat ini? Tidak. Yang Yer 29:11-14 ditujukan kepada orang-orang pilihan, sedangkan Yer 21:10 dan 3 ayat lain itu ditujukan kepada orang-orang non pilihan!
---------------
Memang, kalau isi kepala sudah dikendalikan dogma Predestinasi, maka apapun yang dilihat mata akan disimpulkan berhubungan dengan Predestinasi. Padahal, jika konteks masing-masing ayat di atas dibaca secara lengkap maka dapat dilihat bahwa Tuhan YHWH sedang merencanakan, menetapkan hukuman AKIBAT PELANGGARAN dan DOSA Israel dan juga ulah bangsa-bangsa yang berlaku jahat terhadap Israel. Ayat-ayat di atas tidak ada sangkut pautnya dengan Predestinasi mengenai “orang yang ditakdirkan binasa”

Teguh Hindarto:

Kedua, Itu bertentangan dengan rencana YHWH untuk menyelamatkan manusia sebagaimana dikatakan: “...Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Tuhan, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim 2:3-4)
-------------------
Budi Asali:

Mari kita melihat pembahasan John Owen, tetapi sebelumnya, mari kita melihat dulu kontext dari text yang dibahas secara keseluruhan.

1Tim 2:1-6 - “(1) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, (2) untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. (3) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, (4) yang menghendaki supaya semua orangdiselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (5) Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, (6) yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan”.

Catatan: perhatikan ada 3 x kata-kata ‘semua orang / manusia’ dalam text ini, yaitu dalam ay 1, ay 4, ay 6. Sebetulnya untuk ay 6, hanya ada kata ‘semua’; kata ‘orang / manusia’ tidak ada. Tetapi dalam ay 1 dan ay 4 kata ‘orang’ memang ada.
---------------
Lho, apa salah menerjemahkan “semua manusia” dalam 1 Timotius 2:6 dikarenakan konteks ayat sebelumnya berbicara mengenai penyelamatan manusia (ayat 1 dan 4). Lha memangnya yang diselamatkan dalam ayat 6 bukan manusia? Lalu frasa “semua” dalam ayat tersebut menurut Anda ditujukan pada siapa?

Anda sama sekali tidak memberikan sanggahan berarti terhadap 1 Timotius 2:4 yang telah memukul telah khayalan dogma Anda bahwa Tuhan menetapkan/menakdirkan sebagian orang untuk menjadi binasa.

Budi Azali:

Ada 2 hal yang dibahas oleh John Owen:

1.   Apa yang dimaksud dengan ‘kehendak Allah’ di sini.
John Owen mengatakan (hal 344) bahwa istilah ‘kehendak Allah’ mempunyai 2 kemungkinan arti, yaitu:
a.   Rencana kekal dari Allah.
b.   Perintah Allah.

Catatan: tak ada yang menganggap bahwa Allah punya 2 kehendak seperti yang dituduhkan oleh Lenski. Yang ada adalah: kalau kata-kata ‘kehendak Allah’
itu muncul, maka ada 2 kemungkinan arti. Sebetulnya ada kemungkinan arti yang ketiga, yaitu hal yang, kalau terjadi, menyenangkan Allah.

Kalau dari 2 arti di atas kita mengambil arti kedua, maka arti ayat ini adalah sebagai berikut: Allah memerintahkan semua manusia untuk menggunakan cara-cara dengan mana mereka bisa mendapatkan keselamatan. Dengan demikian ayat ini menjadi sama seperti Kis 17:30 - “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat”.

KJV: ‘And the times of this ignorance God winked at; but nowcommandeth all men every where to repent’ (= Allah pura-pura tidak melihat jaman kebodohan ini; tetapi sekarang memerintahkan semua orang di mana-mana untuk bertobat).

John Owen sendiri memilih arti pertama, dimana ‘kehendak Allah’menunjuk pada ‘rencana kekal dari Allah’. Alasan Owen adalah: kehendak Allah dalam 1Tim 2:4 itu merupakan dasar / landasan dari doa kita dalam 1Tim 2:1-2. Bdk. 1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya”.

2.   Siapa ‘semua orang’ / ‘semua manusia’ di sini.
Jelas bahwa ‘semua orang / manusia’ di sini tidak berarti betul-betul‘semua dan setiap orang di seluruh dunia’, karena:

a.   Paulus sendiri menggunakan kata-kata ‘semua orang’ dalam ay 1. Dalam arti apa? Perhatikan ay 2nya! Untuk jelasnya lihat 1Tim 2:1-2 secara keseluruhan: “(1) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, (2) untuk raja-raja dan untuk semua pembesar,agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”.

John Owen menyimpulkan dari sini (hal 346) bahwa yang dimaksud dengan ‘semua orang’ adalah ‘orang-orang dari semua jenis, kedudukan, kondisi, dan tingkatan’.

Calvin juga menafsirkan secara sama.

Calvin (tentang 1Tim 2:4): “the Apostle simply means, that there is no people and no rank in the world that is excluded from salvation; because God wishes that the gospel should be proclaimed to all without exception. Now the preaching of the gospel gives life; and hence he justly concludes that God invites all equally to partake salvation. But the present discourse relates to classes of men, and not to individual persons; for his sole object is, to include in this number princes and foreign nations. That God wishes the doctrine of salvation to be enjoyed by them as well as others, is evident from the passages already quoted, and from other passages of a similar nature” (= sang Rasul hanya memaksudkan, bahwa disanatidak ada bangsa atau rangking / pangkat di dunia yang dikeluarkan dari keselamatan; karena Allah menginginkan supaya injil diproklamirkan kepada semua orang tanpa kecuali. Pemberitaan injil memberikan kehidupan; dan karena itu ia secara benar menyimpulkan bahwa Allah mengundang semua orang secara sama untuk mengambil bagian dalam keselamatan. Tetapi pembicaraan sekarang ini berhubungan dengan semua golongan manusia, dan bukan dengan pribadi-pribadi / individu-individu; karena satu-satunya obyeknya adalah, mencakup dalam bilangan / jumlah ini pangeran-pangeran dan bangsa-bangsa asing. Bahwa Allah ingin doktrin keselamatan untuk dinikmati oleh mereka maupun oleh orang-orang lain, adalah jelas dari text yang sudah dikutip, dan dari text-text lain yang sifatnya mirip).

Bdk. 1Tim 2:1-2 - “(1) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuksemua orang, (2) untuk raja-raja dan untuk semua pembesar,agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.”.

Di sini Paulus menyuruh berdoa bukan hanya untuk orang-orang yang baik kepada mereka, tetapi juga kepada raja dan pembesar, yang biasanya dibenci oleh orang-orang Kristen, karena golongan orang ini menindas mereka. Dan mengingat saat itu Israel dijajah Romawi, maka jelas bahwa raja-raja dan pembesar-pembesar itu adalah orang-orang Romawi / non Yahudi.

Bandingkan perintah Paulus untuk mendoakan penggede-penggede non Yahudi ini dengan Yer 29:7 - “Usahakanlah kesejahteraankota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”.
Catatan: ‘kota’ yang dimaksudkan adalah ‘Babel’.

Calvin (tentang 1Tim 2:5): “as there is one God, the Creator and Father of all, so he says that there is but one Mediator, through whom we have access to the Father; and that this Mediator was given, not only to one nation, or to a small number of persons of some particular rank, but to all; because the fruit of the sacrifice, by which he made atonement for sins, extends to all. ... The universal term ‘all’ must ALWAYS be referred to classes of men, and not to persons; as if he had said, that not only Jews, but Gentiles also, not only persons of humble rank, but princes also, were redeemed by the death of Christ” [= sebagaimana disana ada satu Allah, Pencipta dan Bapa dari semua orang, demikian juga ia berkata bahwa disana hanya ada satu Pengantara, melalui siapa kita mendapatkan jalan masuk kepada Bapa; dan bahwa Pengantara ini diberikan, bukan hanya bagi satu bangsa, atau bagi sejumlah kecil orang-orang dari kedudukan tertentu, tetapi bagi semua; karena buah dari korban, dengan mana Ia membuat penebusan untuk dosa-dosa, diperluas kepada semua. ... Istilah universal ‘semua’ harus SELALU dihubungkan dengan golongan-golongan manusia, dan bukan kepada pribadi-pribadi; seakan-akan ia telah mengatakan, bahwabukan hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga orang-orang non Yahudi, bukan hanya orang-orang dari kedudukan rendah, tetapi juga pangeran-pangeran, ditebus oleh kematian Kristus].

b.   Kita diharuskan berdoa untuk ‘semua orang’, padahal dari antara‘semua orang’ itu pasti ada orang-orang yang ditentukan untuk binasa dan yang melakukan dosa yang membawa maut, tentang siapa kita tidak diperintahkan untuk berdoa (Owen, hal 346) .

1Yoh 5:16 - “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa”.

Catatan: keberatan saya tentang kata-kata Owen di sini adalah: bagaimana kita bisa tahu mana yang elect / orang-orang pilihan dan mana yang reprobate / orang-orang yang ditentukan untuk binasa?

c.  ‘Semua orang yang diselamatkan’ (ay 4a) pasti sama dengan orang-orang yang ‘memperoleh pengetahuan akan kebenaran’(ay 4b).
Padahal Kitab Suci jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki semua orang memperoleh pengetahuan tentang kebenaran. Ini terlihat dari:
•       Maz 147:19-20 - “(19) Ia memberitakan firmanNya kepada Yakub, ketetapan-ketetapanNya dan hukum-hukumNyakepada Israel. (20) Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukumNya tidak mereka kenal. Haleluya!”.
•     Kis 14:16,30 - “(16) Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, ... (30) Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat”.
•     Kol 1:26 - “yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudusNya”.
•     Mat 11:25-26 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karenasemuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.(26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu”.
•   Mat 13:10-17 - “(10) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus:‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. (12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (13)Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. (16) Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. (17) Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya”.

Owen (hal 347) juga mengatakan bahwa ‘semua manusia’ dalam 1Tim 2:6 juga harus berarti sama dengan kata-kata ‘semua orang’dalam 1Tim 2:1b,4. Dan Owen lalu menyimpulkan bahwa ‘semua manusia’ di sini harus diartikan sebagai ‘semua orang pilihan, dari semua jenis / golongan’, dan ia membandingkan ini dengan Wah 5:9 yang ia katakan sebagai ayat penafsir dari 1Tim 2:6 ini.

Wah 5:9 - “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: ‘Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darahMu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”.

Kalau diambil arti ke 3, maka itu tak bertentangan dengan predestinasi maupun ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).
--------------
Sudah saya katakan sejak awal. Penganut dogma Predestinasi yang menyatakan bahwa Tuhan hanya menyelamatkan orang yang dipilihnya dan Tuhan telah menakdirkan sejumlah orang untuk binasa, memang harus membuat konsistensi sikap dogmatis pula sekalipun bertentangan dengan akal sehat dan Kitab Suci sendiri. Bayangkan, frasa “semua orang” yang dihubungkan dengan “kehendak Tuhan” untuk “keselamatan” (1 Tim 2:4) sampai-sampai harus diartikan “Owen (hal 347) juga mengatakan bahwa ‘semua manusia’ dalam 1Tim 2:6 juga harus berarti sama dengan kata-kata ‘semua orang’dalam 1Tim 2:1b,4. Dan Owen lalu menyimpulkan bahwa ‘semua manusia’ di sini harus diartikan sebagai ‘semua orang pilihan, dari semua jenis / golongan’, dan ia membandingkan ini dengan Wah 5:9 yang ia katakan sebagai ayat penafsir dari 1Tim 2:6 ini”.

Pernyataan 1 Timotius 2:4 sebagaimana Yehezkiel 33:11 lebih menyiratkan isi hati Tuhan yang menghendaki semua orang selamat namun karena mereka memilih untuk berjalan di jalan mereka sendiri dan mengabaikan panggilan Tuhan, maka tidak semua orang akan mengalami keselamatan.
Wahyu 5:9 tidak membicarakan persoalan Predestinasi terhadap mereka yang akan binasa melainkan ayat yang menegaskan bagaimana Tuhan telah menganugrahkan keselamatan kepada bangsa-bangsa YANG MERESPON ANUGRAH-NYA bukan kepada orang-orang yang telah Dia pilih.

Kutipan Owen dan Calvin yang Anda lakukan, tidak mampu menjelaskan ketidaklogisan dogmatisme Predestinasi yang mereka anut. Kutipan ayat-ayat yang dipakai untuk mendukung dogmatisme mereka sangat lemah dan out of context.

Teguh Hindarto:

“YHWH tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Ptr 3:9)
--------------------
Budi Asali:

Ayat ini biasanya lebih sering digunakan untuk menentang doktrin tentang Predestinasi, tetapi kadang-kadang / bisa juga digunakan untuk menyerang doktrin tentang Limited Atonement (= Penebusan Terbatas) ini.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dan diartikan dengan benar tentang ayat ini, yaitu:
•         kata ‘menghendaki’.
•         kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’.

Kalau ‘kehendak’ di sini diartikan sebagai kehendak / rencana Allah yang kekal yang tidak mungkin gagal (Ayub 42:2b), dan kata-kata ‘jangan ada’dan ‘semua orang’ diartikan ‘semua orang secara mutlak’, maka ayat ini akan mengajarkan Universalisme (= ajaran yang mengatakan bahwa akhirnya semua orang akan selamat), yang jelas merupakan ajaran sesat, dan yang jelas ditentang baik oleh Arminianisme maupun Reformed / Calvinisme.

Untuk menghindari ajaran Universalisme ini, ada 2 cara untuk menafsirkan 2Pet 3:9 ini:

1.   Kata ‘menghendaki’ ditafsirkan ‘mengingini’ atau diartikan sebagai‘kehendak yang bisa tidak terjadi’; sedangkan kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua / semua orang’ diartikan secara mutlak.

Barnes’ Notes: “‘Not willing that any should perish.’ That is, he does not desire it or wish it. His nature is benevolent, and he sincerely desires the eternal happiness of all, ... the passage does not refer to what God will do as the final Judge of mankind, but to what are his feelings and desire now towards men. ... it would be agreeable to the nature of God, and to his arrangements in the plan of salvation, if all men should come to repentance, and accept the offers of mercy; ... since it is in accordance with his nature that he should desire that all men may be saved; it may be presumed that he has made an arrangement by which it is possible that they should be” (= ‘Tidak menghendaki siapapun untuk binasa’. Yaitu, Ia tidak menginginkannya atau mengharapkannya. SifatNya adalah penuh kebaikan, dan Ia dengan sungguh-sungguh menginginkan kebahagiaan kekal dari semua, ... text ini tidak menunjuk pada apa yang Allah akan lakukan sebagai Hakim terakhir bagi umat manusia, tetapi pada perasaanNya dan keinginanNya sekarang ini tentang manusia. ... adalah cocok dengan sifat dari Allah, dan dengan pengaturanNya dalam rencana keselamatan, jika semua orang bertobat, dan menerima tawaran belas kasihan; ... karena itu cocok dengan sifatNya bahwa Ia menginginkan supaya semua orang bisa diselamatkan; bisa dianggap bahwa Ia telah membuat suatu pengaturan / rencana yang memungkinkan mereka untuk diselamatkan) - hal 1458.

Catatan:
•         kalau kita membandingkan kata-kata Barnes di sini dengan kata-katanya di atas (tentang Ibr 2:9), maka terlihat bahwa ia tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri, karena di sini ia tidak menerima kata-kata Kitab Suci itu apa adanya, tetapi menafsirkannya / menjelaskannya untuk menghindari Universalisme.
•         kata-kata Barnes yang saya beri garis bawah ganda jelas berbau‘Universal Atonement’ (= Penebusan Universal).

Adam Clarke: “as he is willing that all should come to repentance, consequently he has never devised nor decreed the damnation of any man, nor has he rendered it impossible for any soul to be saved, either by necessitating him to do evil, that he might die for it, or refusing him the means of recovery, without which he could not be saved” (= karena Ia menghendaki supaya semua bertobat, konsekwensinya Ia tidak pernah merencanakan ataupun menetapkan kehancuran / hukuman kekal dari siapapun, ataupun membuat mustahil bagi jiwa yang manapun untuk diselamatkan, apakah itu dilakukan dengan memastikan orang itu untuk melakukan kejahatan, supaya ia mati karenanya, atau menolak untuk memberinya cara pemulihan, tanpa hal mana ia tidak bisa diselamatkan) - hal 892.

Baik Barnes maupun Clarke bukan hanya menghindari Universalisme, tetapi juga mengarahkan ayat ini pada Arminianisme. Tetapi sebetulnya memungkinkan untuk mengambil tafsiran pertama ini tanpa mengarahkannya pada Arminianisme, seperti yang kelihatannya dilakukan oleh Calvin sendiri. Calvin mengatakan bahwa kehendak Allah di sini tidak menunjuk kepada rencana kekal dari Allah, tetapi menunjuk kepada kehendak Allah seperti yang dinyatakan dalam Injil, yang menawarkan keselamatan kepada semua orang.

Calvin: “But it may be asked, If God wishes none to perish, why is it that so many do perish? To this my answer is, that no mention is here made of the hidden purpose of God, according to which the reprobate are doomed to their own ruin, but only of his will as made known to us in the gospel. For God there stretches forth his hand without a difference to all, but lays hold only of those, to lead them to himself, whom he has chosen before the foundation of the world” [= Tetapi bisa ditanyakan: Jika Allah tidak menginginkan seorangpun untuk binasa, mengapa ada banyak yang binasa? Terhadap pertanyaan ini jawaban saya adalah bahwa di sini tidak dibicarakan tentang rencana yang tersembunyi dari Allah, yang menetapkan orang-orang yang ditentukan untuk binasa (reprobate) pada kehancuran mereka sendiri, tetapi hanya tentang kehendakNya seperti yang dinyatakan kepada kita dalam injil. Karena disana Allah mengulurkan tanganNya tanpa pembedaan kepada semua orang, tetapi hanya menangkap mereka, untuk membimbing mereka kepada diriNya sendiri, yang telah Ia pilih sebelum penciptaan dunia ini] - hal 419-420.

Bandingkan juga dengan:
a.   Yeh 18:23 - “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?”.
b.   Yeh 18:32 - “Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!’”.
c.   Yeh 33:11 - “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenankepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”.

2.   Kata ‘menghendaki’ diartikan sebagai rencana yang kekal dari Allah, tetapi kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’ tidak diartikan secara mutlak, tetapi diartikan sesuai dengan kontexnya.

Pertama-tama kita perlu untuk mengetahui terjemahan yang benar dari ayat ini.
2Pet 3:9 - “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua (orang) berbalik dan bertobat”.
Kata ‘orang’ saya letakkan dalam tanda kurung, karena sebetulnya tidak ada dalam bahasa Yunaninya.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘all’ (= semua).

Selanjutnya, kata-kata ‘jangan ada’ maupun ‘semua’ harus diartikansesuai dengan kontextnya, yang membicarakan ‘kamu’ (2Pet 3:9a). Untuk menafsirkan kata ‘kamu’ ini maka:

a.   Perlu diperhatikan bahwa Petrus menujukan suratnya ini kepada‘mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus’(2Pet 1:1). Ini adalah orang-orang yang sama dengan yang dikatakan ‘dianugerahi janji-janji yang berharga dan yang sangat besar’ (2Pet 1:4). Ini jelas menunjuk kepada orang-orang Kristen.

b.   Kita harus memperhatikan kontext dari 2Pet 3 ini, dan akan terlihat bahwa ‘kamu’ ini adalah orang-orang yang:
•         disebut dengan istilah ‘saudara-saudaraku yang kekasih’ (2Pet 3:1).
•         dikontraskan dengan ‘pengejek-pengejek’ / ‘orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya’ dalam 2Pet 3:3, untuk siapa digunakan kata ganti orang ‘mereka / nya’.

2Pet 3:1-9 - “(1) Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, (2) supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. (3) Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. (4) Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.’ (5) Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, (6) bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. (7) Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. (8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. (9) Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadapkamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya SEMUA ORANG berbalik dan bertobat”.

Bacaan ini memang membicarakan dan mengkontraskan 2 golongan. Mula-mula Petrus berbicara kepada golongan yang pertama, yaitu‘saudara-saudara yang kekasih’ (ay 1), dan ia menggunakan kata‘kamu’ atau ‘mu’ (ay 1,2,3).

Lalu Petrus mulai berbicara tentang golongan yang kedua, yaitu‘pengejek-pengejek’ atau ‘orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya’ (ay 3b), dan ia menggunakan kata ‘mereka’ atau‘nya’ (ay 3b,4,5).

Tetapi mulai ay 8 Petrus kembali berbicara kepada ‘saudara-saudara yang kekasih’ (ay 8a), dan karena itu ia kembali menggunakan kata ‘kamu’ (ay 8,9).
Karena itu jelaslah bahwa kata-kata ‘kamu’ dan ‘semua orang’dalam ay 9 menunjuk kepada orang kristen / orang pilihan.

John Owen: “The text is clear, that it is all and only the electwhom he would not have to perish” (= Textnya jelas, bahwa adalah semua dan hanya orang pilihan yang tidak Ia kehendaki untuk binasa) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349.
----------------
Semua penjelasan panjang lebar Anda dengan berbagai kutipan penganut dogmatisme Predestinasi Calvin justru menunjukkan bahwa mereka memang bermasalah dengan ayat-ayat tersebut sehingga mereka harus membuat penjelasan berbelit-belit dan tumpang tindih antara satu ayat dengan ayat lainnya. Perhatikan saja pernyataan Calvin berikut ini:

“Calvin: ‘But it may be asked, If God wishes none to perish, why is it that so many do perish? To this my answer is, that no mention is here made of the hidden purpose of God, according to which the reprobate are doomed to their own ruin, but only of his will as made known to us in the gospel. For God there stretches forth his hand without a difference to all, but lays hold only of those, to lead them to himself, whom he has chosen before the foundation of the world” [= Tetapi bisa ditanyakan: Jika Allah tidak menginginkan seorangpun untuk binasa, mengapa ada banyak yang binasa? Terhadap pertanyaan ini jawaban saya adalah bahwa di sini tidak dibicarakan tentang rencana yang tersembunyi dari Allah, yang menetapkan orang-orang yang ditentukan untuk binasa (reprobate) pada kehancuran mereka sendiri, tetapi hanya tentang kehendakNya seperti yang dinyatakan kepada kita dalam injil. Karena disana Allah mengulurkan tanganNya tanpa pembedaan kepada semua orang, tetapi hanya menangkap mereka, untuk membimbing mereka kepada diriNya sendiri, yang telah Ia pilih sebelum penciptaan dunia ini] - hal 419-420”

Darimana Calvin tahu mengenai “rencana tersembunyi” Tuhan? Mengapa Tuhan membuat “rencana tersembunyi?” Pernyataan Calvin justru menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang sama seperti manusia, memiliki “behind agenda”. Ketika seorang nelayan menjaring ikan, apakah dia akan menjaring ikan apa yang dipilihnya? Apakah nelayan memiliki rencana tersembunyi untuk terhadap ikan-ikan yang dijaringnya?

Teguh Hindarto:

“Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16)
-------------------
Budi Azali:

Ayat ini tak menentang predestinasi.
Ada macam-macam arti untuk kata ‘dunia’ (KOSMOS):
1.   Seluruh alam semesta.
Kis 17:24 - “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia”.
Kata yang diterjemahkan ‘bumi’ adalah KOSMOS. NIV/NASB: ‘the world’(= dunia).
2.   Bumi.
Yoh 13:1 - “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya”.
3.   Keduniawian.
a.   Yak 4:4 - “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah”.
b.   1Yoh 2:15 - “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu”.
4.   Semua umat manusia di dunia ini.
Ro 3:19 - “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah”.
5.   Semua orang yang tidak percaya.
a.   Yoh 15:18 - “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu”.
b.   1Kor 11:32 - “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia”.
6.   Semua orang non Yahudi.
Ro 11:12 - “Sebab jika pelanggaran mereka (bangsa Yahudi)berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaanmereka”.
Perhatikan bahwa pada bagian yang saya garis bawahi ada 2 kalimat paralel yang artinya sama. Dengan demikian ‘pelanggaran mereka’diidentikkan dengan ‘kekurangan mereka’, dan ‘dunia’ diidentikkan dengan ‘bangsa-bangsa lain’.
7.   Orang-orang Yahudi yang tidak percaya.
Yoh 16:20 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita”.
Adam Clarke memberikan komentar tentang ayat ini dengan kata-kata sebagai berikut: “It is very evident that our Lord uses the word ‘world’, in several parts of this discourse of his, to signify the unbelieving and rebellious Jews” (= Adalah jelas bahwa Tuhan kita menggunakan kata ‘dunia’, dalam beberapa bagian dari percakapanNya ini, untuk menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang tidak percaya dan bersifat memberontak) - hal 634
8.   Semua orang yang percaya / pilihan.
a. Yoh 3:17 - “Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (dunia) oleh Dia”.
b.   Yoh 6:33 - “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia”.
c.  Yoh 6:51 - “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.’”.
d.  2Kor 5:19 - “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami”.
Dalam ayat-ayat ini, kalau ‘dunia’ diartikan ‘semua orang di dunia’, maka akan menjadi Universalisme (ajaran yang mengatakan bahwa pada akhirnya semua manusia akan masuk surga), yang jelas merupakan suatu ajaran sesat. Karena itu, kata ‘dunia’ dalam ayat-ayat ini harus diartikan ‘orang percaya / pilihan’.
Ayat lain dimana kata ‘dunia’ harus diartikan ‘orang pilihan’ adalah ayat-ayat yang mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Juruselamat dunia’, seperti:
•         Yoh 4:42 - “dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.’”.
•         1Yoh 4:14 - “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat dunia”.
Tentang Yoh 4:42, John Owen memberi komentar: “A Saviour of men not saved is strange” (= Seorang Juruselamat darimanusia yang tidak selamat merupakan sesuatu yang aneh) -‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 327.

Owen sendiri mengatakan bahwa Kristus disebut ‘Juruselamat dunia’ karena tidak ada Juruselamat lain di dunia ini (bdk. Kis 4:12), dan karena Kristus adalah Juruselamat orang-orang pilihan di seluruh dunia (Owen, vol 10, hal 342).

Tentang Yoh 4:42 ini Calvin memberikan penafsiran yang berbeda.

Calvin (tentang Yoh 4:42): “Again, when they affirm that Jesus is ‘the Christ’ and ‘the Savior of the world,’ they undoubtedly have learned this from hearing him. ... Christ testified that the salvation, which he had brought, was common to the whole world, that they might understand more fully that it belonged to them also; for he did not call them on the ground of their being lawful heirs, as the Jews were, but taught that he had come to admit strangers into the family of God, and to bring peace to those who were far off, (Ephesians 2:17.)” [= Lagi, pada waktu mereka menegaskan bahwa Yesus adalah ‘Kristus’ dan ‘Juruselamat dunia’, tak diragukan mereka mempelajari hal ini karena mendengarnya dari Dia. ... Kristus menyaksikan bahwa keselamatan, yang telah Ia bawa, adalah umum bagi seluruh dunia, supaya mereka bisa mengerti dengan lebih penuh / lengkap bahwa keselamatan itu kepunyaan mereka (orang-orang Samaria) juga; karena Ia tidak memanggil mereka berdasarkan keberadaan mereka sebagai ahli-ahli waris yang sah, sepertiorang-orang Yahudi, tetapi mengajar bahwa Ia telah datang untuk menerima orang-orang asing ke dalam keluarga Allah, dan untuk membawa damai kepada mereka yang jauh (Ef 2:17).].

Ef 2:17 - “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’”.

Untuk Yoh 3:16 saya mengambil arti ke 8. Jadi ‘dunia’ di situ berarti ‘semua orang-orang pilihan di seluruh dunia’.
---------------
Lagi-lagi demi dogma Predestinasi Calvinis khususnya pemilihan terbatas, Anda harus melakukan akrobatik tafsir dengan mengartikan frasa “dunia” dalam Yohanes 13:6 sebagai “semua orang-orang pilihan di seluruh dunia” padahal landasan yang Anda berikan pada makna Dunia di nomor 8 bahwa “dunia” bisa bermakna “orang pilihan” adalah tidak berdasar karena sejumlah ayat yang Anda kutip (Yoh 3:17, Yoh 6:33, Yoh 6:51, 2 Kor 5:19, Yoh 4:42, 1 Yoh 4:14) tidak mengindikasikan bahwa kata “dunia” bermakna “orang-orang pilihan”. Kata “dunia” dalam ayat-ayat di atas benar-benar menunjuk pada bumi dimana manusia tinggal sebagai obyek cinta kasih Tuhan dan rencana penyelamatannya.

Anda harus berdalih dan mengambinghitamkan doktrin Universalisme (pemahaman yang mengatakan bahwa semua orang akan mengalami keselamatan) untuk merelativisir makna “dunia” dalam Yohanes 3:16 sebagai dunia yang terbatas pada dunia orang pilihan. Ini sebuah eisegese daripada eksegese.

Teguh Hindarto:

Jika Tuhan tidak menetapkan kebinasaan orang berdosa, lalu mengapa dalam Roma 9:22-24 dikatakan mengenai “penetapan orang yang akan binasa dan yang akan mendapatkan hidup kekal?” (Kis 13:48). Penetapan mengenai siapa yang akan mengalami kebinasaan dan kehidupan kekal, bukan rencana awal YHWH, melainkan rencana yang ditetapkan dalam kemahatahuanNya, bahwa manusia akan jatuh dalam dosa.
----------------
Budi Azali: Ini omong kosong. Allah tak akan berubah-ubah dalam rencanaNya.

Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh.Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.
--------------
Anda hanya mengisi kepala Anda dengan satu pemahaman yaitu keselamatan tidak bisa hilang sehingga Anda harus menafsirkan pernyataan saya yang sangat jelas dan gamblang, “Penetapan mengenai siapa yang akan mengalami kebinasaan dan kehidupan kekal, bukan rencana awal YHWH, melainkan rencana yang ditetapkan dalam kemahatahuanNya, bahwa manusia akan jatuh dalam dosa” sebagai bentuk kegagalan rencana Tuhan yang kemudian Anda konfrontir dengan ayat-ayat yang menuliskan konsistensi mengenai rencana Tuhan yang tidak pernah gagal.

Padahal pernyataan saya di atas tidak berbicara perihal rencana Tuhan yang gagal namun penjelasan perihal mengapa ada pernyataan  “penetapan orang yang akan binasa dan yang akan mendapatkan hidup kekal?” (Rom 9:22-24dan Kis 13:48). Dan jawaban saya adalah, “Penetapan mengenai siapa yang akan mengalami kebinasaan dan kehidupan kekal, bukan rencana awal YHWH, melainkan rencana yang ditetapkan dalam kemahatahuanNya, bahwa manusia akan jatuh dalam dosa”.

Karena tidak ada bukti bahwa Tuhan menetapkan, menakdirkan kebinasaan seseorang dan tidak memperoleh anugrah keselamatan, maka gugurlah pernyataan bahwa “Tuhan tidak mungkin gagal dalam rencana-Nya (termasuk menakdirkan orang untuk binasa)” terkait dengan penjelasan saya di atas.

Teguh Hindarto:

Dalam kemahatahuanNya, YHWH melihat siapa yang akan merespon kasih karunia dan siapa yang akan menolak kasih karunia. Karena YHWH itu adil, maka penolakan terhadap kasih karunia, dan tawaran keselamatan, adalah penghukuman kekal. Hukuman ini telah ditetapkan dalam rancangan kekal YHWH didasarkan kemahatahuanNya.
-------------------
Budi Asali:

Kalau Dia sudah tahu, maka apa yang Dia tahu itu pasti akan terjadi. Lalu untuk apa ditentukan lagi? Anda mengajar tanpa dasar Alkitab!
---------------
Tentu saja diperlukan penentuan, penetapan, perencanaan mengenai siapa yang akan menerima hukuman dan siapa yang akan menerima kehidupan. Namun penetapan itu didasarkan kemahatahuan-Nya. Semua respon manusia terhadap Anugrah Tuhan harus dipertanggungjawabkan sebagaimana dikatakan dalam 2 Korintus 5:10, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.

Anda memang membaca dan mengajar Alkitab tapi dengan kacamata dogmatisme buta Predestinasi Calvinisme!

Teguh Hindarto:

Perihal orang-orang yang telah ditetapkan mengalami kebinasaan adalah rahasia Tuhan. Ayat tersebut bukan bermakna kita dapat menghakimi siapapun yang telah menolak pemberitaan Injil dan yang tidak menerima kepercayaan bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruslamat. Bisa saja orang yang tadinya menolak ajaran Mesias dan telah kita hakimi sebagai “dipredestinasikan” mengalami kebinasaan, siapa yang tahu dipertengahan perjalanan hidup atau akhir hidupnya dia menerima Yesus sebagai Mesias dan Anak Tuhan?

Perihal nasib orang-orang di luar Mesias, adalah hak prerogatif Tuhan sendiri. Tuhan memiliki sistem keadilan yang tidak bisa kita dikte dan kita batasi dengan keterbatasan kotak doktrin kita yang terbatas. Kesaksian Yohanes di Patmos demikian, “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya” (Why 20:12-13)
---------------
Budi Asali:

Omong kosong. Kalau anda tak menganggap orang di luar Yesus binasa / masuk neraka, anda adalah orang sesat! Lalu apa artinya Yoh 14:6  Kis 4:12  1Yoh 5:11-12? Tuhan tidak akan melanggar firmanNya sendiri! Keselamatan hanya ada di dalam Kristus!
-------------
Anda sudah dirasuki oleh dogmatisme sehingga yang keluar dari mulut Anda hanya pernyataan fanatisme dan umpatan tidak berpendidikan sehingga sedikit-sedikit hanya bisa mengatakan sesat terhadap mereka yang tidak sepaham dengan dogmatisme Anda dan bukan tidak sepaham dengan Kitab Suci.

Apa Anda tidak membaca pernyataan saya, “Bisa saja orang yang tadinya menolak ajaran Mesias dan telah kita hakimi sebagai “dipredestinasikan” mengalami kebinasaan, siapa yang tahu dipertengahan perjalanan hidup atau akhir hidupnya dia menerima Yesus sebagai Mesias dan Anak Tuhan?” memangnya Anda Tuhan yang berhak menentukan siapa yang masuk Sorga dan Neraka tanpa adanya pengadilan terlebih dahulu? Memangnya Anda akan masuk neraka dengan mulut kotor yang selalu mengumpat dan membodoh-bodohkan orang serta menyesat-nyesatkan orang yang tidak sepaham dengan dogmatisme Anda?





3 komentar:

  1. Unknown

    TEOLOGI KONTEMPORER
    PREDESTINASI
    20.8 X14 cm; Rp. 40. 000, 00
    Sebuah koreksi terhadap kekeliruan penalaran ajaran predestinasi yang dibangun atas dasar doktrin TULIP.
    Solusi yang cerdas dan sederhana diberikan dalam buku ini;bukan manusianya yang ditentukan selamat atau binasa, melainkan Krisus yang telah ditentukan sejak kekal sebagai jalan keselamatan!

    minat hub. ilb.book@yahoo.com atau 0813 1245 7870

  1. anak SD

    menurut Budi Asali:

    Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:

    a) Adam ditentukan untuk tidak jatuh.
    Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh.
    b) Allah tidak merencanakan apa-apa tentang hal itu.
    Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30), bagaimana mungkin tentang hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mempunyai Rencana?
    c) Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.

    Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah.


    Saya mau tanya nih pak Budi:

    1. Apakah dosa manusia menyakiti hati Allah?

    dan saya yakin siapa juga akan menjawab ya sangat pasti setiap dosa manusia menyakiti hati Allah.

    2. Lalu dari mana logikanya Allah merencanakan manusia untuk jatuh ke dalam dosa. Yang berarti Allah merencanakan menyakiti hatiNya sendiri?

    Sekali lagi kalau:
    - Allah merencanakan Adam untuk jatuh ke dalam dosa.
    - Dosa manusia itu jelas-jelas menyakiti hati Allah.
    Kesimpulannya Allah merencanakan menyakiti hatiNya sendiri.

    3. Di banyak belahan dunia setiap hari terjadi tindak kejahatan dari yang sepele sampai pembunuhan yang sangat sadis. Apakah ini juga masuk dalam rencana Allah?
    Apakah peristiwa-peristiwa pembantaian massal yang disertai perkosaan masal di masa lampau masuk dalam rencana Allah?

    4. Bagaimana pak Budi mengatakan kepada seorang perempuan muda atau ibu muda yang baru diperkosa oleh lebih dari 50 orang dan menyaksikan sendiri ayah, ibu dan anaknya laki-laki dibunuh didepan matanya sendiri? Masih dapatkah pak Budi mengatakan sabar itu rencana Allah?

    Dapatkah pak Budi mengatakan kepada perempuan muda itu: "Allah tau engkau sakit badannya karena diperkosa dan dipukuli, sakit juga hatinya, Allah merencanakan ini terjadi, ketahuilah Allah juga sakit hatinya karena engkau menderita. Penderitaanmu memang sudah direncanakan Allah. Kau diperkosa siang malam berhari-hari itu sudah kehendak Allah. Tapi tenang saja Allah juga merasakan apa yang kau rasakan. Allah juga sakit hatinya melihat kau menderita. Terimalah semua penderitaan ini sebagai bagian dari rencana Allah. Rencana Allah yang terjadi atas mu akan indah pada akhirnya."

    5. Kalimat sakti rencana Allah akan indah pada waktunya apa relevan diucapkan? dalam kondisi memilukan begitu. Sementara kita menekankan kondisi yang sangat buruk itu adalah rencana Allah?

    6. Kalau pak Budi sendiri yang mengalami kejadian yang sangat buruk seperti itu, masih bisakah pak Budi mengatakan itu sudah rencana Allah?



  1. anak SD

    Saya sendiri hanya manusia biasa pak Budi tidak pintar seperti anda atau yang bergelar professor. Tapi kalau saya pintar, saya akan membuat robot berintelegensia tinggi, dan saya tidak akan merencanakan robot saya berbuat jauh dari harapan saya sehingga saya susah sendiri, sehingga hati saya sakit karena robot itu selalu merusak rumah orang dan saya jadi rugi karena harus mengganti rumah orang yang dirusaknya. Tentunya saya akan membuat robot yang baik dan saya merencanakan robot itu melakukan hal-hal yang baik yang akan membuat nama saya menjadi tenar. Supaya setiap orang mendapat manfaat yang baik dari robot ciptaan saya dan saya akan memperoleh uang yang banyak sebagai jerih payah saya menciptakan robot-robot tersebut.

    Tidak mungkin saya membuat robot yang saya rencanakan merusak rumah orang, merusak mobil orang dan saya klaim di depan umum kalau robot itu buatan saya dan saya juga klaim kalau robot itu memang saya rencanakan merusak rumah-rumah dan mobil-mobil seisi kota kelahiran saya. Dan saya juga klaim saya rencanakan akan mengganti program pada sebagian robot yang saya pilih berdasarkan hak kedaulatan saya sebagai pencipta robot itu agar robot yang saya pilih yang programnya saya ganti menjadi baik dan menjadi berguna bagi masyarakat. Sementara saya juga klaim bahwa saya tidak mengganti seluruh robot dengan program yang baik. Dan saya membiarkan seluruh robot dengan program yang jahat tetap ada di tengah-tengah kota demi suatu ego saya agar rencana saya tetap berjalan.

    terima kasih, semoga sedikit pemikiran ini bisa bermanfaat.






Posting Komentar