RSS Feed

DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DENGAN MOCH. ALI (3)

Posted by Teguh Hindarto


DISKUSI SERI III

Moch Ali: QS. ash-Shaff [61]:6 yang menyatakan pengharapan Yeshua atas kedatangan seseorang yang ditunggu-tunggu kehadirannya, yang bernama Ahmad, justru diperkuat dengan ayat selanjutnya QS. ash-Shaf [61]:7-8. "Mereka berkehendak memadamkan Nur (the Light) ALLAH dengan ucapan-ucapan mereka, tetapi ALLAH bahkan menyempurnakan Nur (the Light)-Nya, sekalipun mereka yang mengingkarinya menjadi dengki." Ayat ke-8 ini mengidentifikasi personalitas Ahmad sebagai orang yang diramalkan kedatangannya oleh Yeshua itu sebagai Nur (the Light) of ALLAH
----------------
Shem Tov: Mengenai Qs 61:6 adalah klaim ekslusif Quran bahwa Isa menubuatkan kedatangan seorang rasul. Klaim ini tidak mendapatkan dukungan apapun dalam TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru. Bahkan injil-injil non kanonik pun tidak pernah menyitir pseudo prophecy tersebut.

Qs 61:6 tidak berbicara perihal konsep Mesias dalam Islam, karena sebagaimana saya telah buktikan bahwa Islam tidak mengenal konsep mengenai Mesias. Qs 61:6 hanya membicarakan perihal “seorang rasul yang akan datang” dan bukan Mesias, sebagaimana dikatakan:

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata.".

Anda mencoba dengan sekuat tenaga menghubungkan kata NUR dalam Qs 61:8 dengan hakikat Muhamad sebagai NUR berdasarkan pernyataan beberapa hadits. Sayang sekali Anda melakukan penafsiran yang lepas dari konteks Qs 61:8. Qs 61:8 tidak berbicara perihal HAKIKAT MUHAMAD yang adalah berasal dari NUR, melainkan ayat ini berbicara bahwa nubuatan Isa mengenai datangnya Ahmad diyakini sebagai NURULLAH (cahaya Allah)

Lebih jauh lagi Anda melakukan lompatan akrobatik yang menakjubkan dengan mengatakan, “...orang yang diramalkan kedatangannya oleh Yeshua itu sebagai Nur (the Light) of ALLAH”. Pada Qur’an ayat mana yang mengatakan bahwa Yesus/Isa menubuatkan perihal Muhamad sebagai Nur Allah” Qs 61:8 tidak mengidentifikasi hakikat Muhamad sebagai Nur Allah namun yang disebut Nur Allah adalah nubuatan Isa yang tertulis dalam Qs 61:6.

Moch Ali: Salah seorang sahabat Rasul SAW yang bernama Jabir bin Abdullah al-Anshari bertanya kepada beliau: "Ya Rasululah, sungguh kami ingin mengetahui. Beritahulah kami apa yang mula-mula diciptakan ALLAH sebelum segala sesuatu?" Rasulullah menunduk sejenak, air matanya membasahi pipinya, kemudian jawabnya: Wahai Jabir, sesungguhnya ALLAH sebelum menciptakan segala sesuatu, terlebih dahulu Dia menciptakan Nur (the Light) kenabianku dari Nur-Nya. Hadith ini ada dalam kitab-kitab hadith Sunni maupun Syiah. Ini membuktikan bahwa Muhammad SAW menyatakan secara langsung bahwa dirinya adalah Nur (the Light), yang tidak lain adalah 'Or (the Light) dalam literatur Yahudi. Bahkan QS. ash-Shaf [61]:6 menyatakan secara tersurat bahwa ALLAH menyebut Sang Nabi itu sebagai Nur (Sang Terang).
--------------
Shem Tov: Saya sudah menjelaskan bahwa kata NUR dalam Qs 61:8 tidak terkait dengan hakikat Muhamad. Perihal hadits di atas, mayoritas Islam menolak sanadnya. Silahkan Anda membaca kajian berikut:

Derajat Hadits Nur Muhammad Wahai saudaraku, semoga Allah menunjuki kita ke jalan-Nya, ketahuilah bahwasanya sanad (silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadits) merupakan bagian dari agama kita, yang dengannya Allah menjaga agama ini. `Abdullah bin Mubarak mengatakan: “Sanad merupakan bagian dari agama. Kalau tidak ada sanad, tentu orang akan seenaknya berkata (tentang agama ini).”

Syaikh Dr. Shadiq Muhammad Ibrahim (salah seorang yang telah melakukan penelitian terhadap hadits ini) mengatakan: “Semua kitab-kitab sufi yang terdapat di dalamnya hadits ini, tidak ada yang menyebutkan sanad dari hadits tersebut. Mereka hanya menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh `Aburrazzaq. Saya telah mencarihadits tersebut dalam kitab-kitab yang ditulis oleh `Abdurrazzaq dan saya tidak menemukan hadits tersebut.”

`Abdullah al-Ghamariy (seorang pakar hadits) mengatakan: “Hadits tersebut merupakan hadits maudhu` (palsu). … Bersamaan dengan itu, hadits tersebut juga tidak terdapat dalam kitab Mushannaf `Abdurrazzaq, Tafsir-nya, dan tidak juga dalam Jami`-nya. … Maka shahabat Jabir bin `Abdullah radhiyallahu `anhu (perawi hadits menurut mereka) berlepas diri dari menyampaikan hadits tersebut. Demikian juga `Abdurrazzaq, dia tidak pernah menulis hadits tersebut (dalam kitabnya). Orang yang pertama menyampaikan hadits ini adalah Ibnu Arabi. Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkannya.”

Konsekuensi yang Sesat dan Menyesatkan Keyakinan sesat yang timbul sebagai konsekuensi dari hadits di atas adalah sebagai berikut:

Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya Keyakinan ini tentu saja merupakan bentuk pengingkaran terhadap al-Qur`an yang dengan jelas menyatakan tentang kemanusiaan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Al-Israa`: 93) Dan manusia diciptakan dari tanah, bukan dari cahaya. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kalian dari tanah. Kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS. Ar-Ruum: 20)

Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam berasal dari cahaya Allah Ini merupakan perkataan tentang Allah tanpa dasar ilmu. Kita tidak bisa berbicara tentang Allah, kecuali melalui kabar dari-Nya, baik yang terdapat dalam al-Qur`an, maupun hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam. Allah Ta`alaberfirman yang artinya: “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakannya, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An-Nuur: 16)


Abu Ka’ab Prasetyo

http://muslim.or.id/aqidah/keyakinan-nur-muhammad-cikal-bakal-wihdatul-wujud.html.

Moch Ali : Ayat yang lain, QS. al-Maidah [5]:15 juga menjelaskan bahwa Muhammad SAW sebagai Nur (the Light). "Ho lae tu Bibliu! Sas elthe ho Allegiaphoros sas, ho opoios apokaluptai megalo meros tu periechomenou tu Bibliu, polla ek tōn opoiōn aichate apokrupsai kai paralaipsai. Sas elthe pragmati apo ton Allah ena Phōs kai ena Biblio saphes.” (To Iero Koranio. Kephalaio Al-Mainta [5]15). 
O People of the Scripture! Now hath Our messenger come unto you, expounding unto you much of that which ye used to hide in the Scripture, and forgiving much. Now hath come unto you Light from Allah and a plain Scripture. (the Table Spread/ al-Ma’idah [5]:15). 

Moulvi Moehammad Ali translated the verse as follows: De Familie Amran [3]: 80 “en toen God een verbond door de profeten maakte: Waarlijk, wat Ik u heb gegeven van het Boek en de wijsheid en er komt dan een apostel tot u, bevestigende datgene wat bij u is, gij moet in hem gelooven, en gij moet hem bijstaan. Hij zei: Bekrachtigt en aanvaardt gij Mijn overeenkomst in dezen? Zij zeiden: We bekrachtigen. Hij zie: Derhalve, getuig en ook Ik ben met u van de getuigen.” At the footnote, he comments: “Op zede plaats wordt de aanspraak aangevoerd, dat alle profeten de kamst van en Wereld-Profeet hadden voorspeld, die de waarheid van al de in de wereld vershenen profeten zou bevestigen. Vgl. Handelingen 3:21-22: “Welken de hemel moet ontvangen tot de tijden der wederoprichting aller dingen, die God gesproken heeft door den mond van al Zijne heilige profeten, sinds de wereld begon. Wan Mozes heeft tot de vaderen gezegd: De Heere, uw God, zal u eenen Profeet verwekken uit uwe broederen, gelijk mij: hem zult gij hooren, in alles, wat hij tot u spreken zal.” De heilige Profeet Moehammad is in deze twee opzichten eenig onder de profeten der wereld: zjin komst werd door alle anderen voorspeld en hij bevestigde deze waarheid door van zijn volgelingen te eishen in al de profeten te gelooven, die vóór hem waren gekomen.”

George Sale translated the verse Ali Imran [3]:81 as follows, “And remember when God accepted the covenant of the prophets, saying, This verily is the scripture and the wisdom which I have given you: hereafter shall an Apostle come unto you, confirming the truth of that scripture which is with you; ye shall surely believe on him, and ye shall assist him. God said, Are ye firmly resolved, and do ye accepted my covenant on this condition? They answered, We are firmly resolved: God said, Be ye therefore witnesses; and I also bear witness with you: and whosever turneth back after this, they are surely the transgressors.” In the footnote of the verse, Sales states, “some commentators interpret this of the children of Israel themselves, of whose race the prophets were. But others say the souls of all the prophets, even of those who were not then born, were present on mount Sinai when God gave the law of Moses, and that they enter into the covenant here mentioned with him. A story borrowed by Muhammad from the Talmudists, and therefore most probably his true meaning in this place.” E. H. Palmer (1840-1882 B.C.), an English Orientalist and Professor of Arabic at Cambridge University, U.K. even translated the verse Ali Imran [3]: 81 as follows: “And when Allah took the compact from the prophets this is surely what we have given you of the Book and wisdom. Then shall to you the Apostle confirming what is with you. Ye must believe in him and help him. He said, moreover, Are ye resolved and have ye taken my compact on that condition? They say, We are resolved.’ He said, ‘Then bear witness, for I am witness with you, but he who turns back after that, these are sinners. At the footnote of the verse, he says, “the legend, borrowed from Talmudic sources, is that Allah assembled all past, present, and future prophets on mount Sinai and entered into the compact mentioned in the text. Other, J.M. Rowell, M.A., who was well-known by scholars of the West as one of the early translators of the Scripture of Islam in the Protestant world, at the beginning of his note of the same verse, Ali Imran [3]:81, he then comments: “assembled on mount Sinai. Compare the Jewish legend, that all the prophets, even those who were not yet born, were present on mount Sinai when God gave the law to Moses. See Shemoth Rabba, parashah 28, according to which, not only the prophets but the rabbis of every generation, were present at the giving of the Law. However, their commentaries on the verse are really important information for me to trace the source of borrowing as the truth. Yet, I research the Jewish documents as George Sale, M.H. Palmer, and J.M. Rodwell mentioned it, I find the source of their quotation in the book of Abraham Geiger. In that book, there is a narrative Agadic text of the Talmud and the Midrash, by commentator Rabbi Shlomo Yitzhaki of Troyes who lived in the eleventh century , known as Rashi on the Shemoth Rabba, parashah 27-28 (Exodus 27-28), Abodah Zarah II.2, cf. two summaries of Jerusalem Targum. The corresponding Rabbinical statement may be translated as follows,

שְׁנֵי דְבָרִים שָׁאְלוּ יִשְׂרָאֵל מִלִּפְנֵי הַקָּ'בָּ'ה' שֶׁיִרְאוּ כְבוֹדוֹ וְיִשְׁמְעוּ קוֹלוֹ וְחָיוּ רוֹאִין אֶת כְּבוֹדוֹ וְשִׁמְעִין אֶת-קוֹלוֹ שֶׁנֶ הֵן הֶרְאָנוּ אֱלהֵינוּ אֶת כְבוֹדוֹ וְאֶת גָדְלוּ וּכְתִיב וְאֶת-קוֹלוֹ שָׁמַעְנוּ מִתּוֹך הָאִשׁ וְלוׁהָיָה בָּהֶם כחַ לַעְמוֹד כִוָּן שֶׁבָּאוּ לְסִינַי וְנִגְלָה לָהֶם פָּרְחָה נִשְׁמָתָם עֵל שֶׁדִּבֵּר עִמָּהֶם שֶׁנֶ נֵפְשִׁי יָצְאָה בְּדַבְּרוֹ אֲבָל הַתּוֹרָה בִּקְשָׁה עֲלֵיהֶם רַהֲמִים מִלִּפְנֵי הַקָּ'בָּ'ה' יֵשׁ מֶלֶךּ מֵשִּׂיא בִתּוֹ וְהרֵב אֵנְשִׁי בֵיְתוֹ כָל-הָעָוֹלָם כֻּלּוֹ שְׂמֵחִים וּבָנֶיךָ מֵתִים מִיֵּד הֳזְרָא נִשְׁמָתָן שֶׁנָ תּוֹרָת ה' תְּמִימָה מְשִׁיבָת נָפֶשׁ.


“The Israelites desired two things of God, that they might see His glory and hear His voice; and both were granted them as it is written in Deuteronomy 5:24 ‘Behold the Lord our God hath shewed us His glory and His greatness, and we have heard His voice out of the midst of the fire.’ Then they had no power to bear it, for when they came to Sinai and He appeared to them, their soul departed at His speech as it is written in Canticles 5:6 ‘My soul went forth when He spake.’ The Law (the Torah) however interceded with God for them saying, ‘Would a king marry his daughter and slay all his household?’ The whole world rejoices on account of my appearance, and shall thy children (the Israelites) die? At once their souls returned to them, therefore it is written in Psalms 19:8 ‘the Law of the Lord is perfect, restoring the soul.” 


In this context, Solomon Schechter in his work ‘Aspects of Rabbinic Theology: Major Concepts of the Talmud’ (1998) also states that there is a different form the impression which the Jewish student receives from a direct study of the sources. The student is over-helmed by the conviction that the manifestation of God in Israel’s history was still as vivid to the mind of the Rabbis and still as present as it was to the writer of Deuteronomy or the author of Psalms 78. “All souls”, say Rabbis, “even those which had still to be created, were present at the revelation on mount Sinai, Shemoth Rabba (Exodus Commentary) 28:6. The freshness with which the Biblical stories are retold in the Agadic literature, the vivid way in which they are applied to the oppressed condition of Israel, the future hopes which are based on them, create the impression that to the Rabbis and their followers the revelation at Sinai and all that it implies was to them not a mere reminiscence or tradition, but that, through their intense faith, they re-witnessed it in their own souls, so that it became to them a personal experience.

If the book of Shemoth Rabba, parashah 28, according to which, not only the prophets but the rabbis of every generation, were present on mount Sinai when God gave the law to Moses, it really indicates and echoes the amazing divine information that the rabbis surely knew about the pre-existence of Muhammad, before his birth and his mission, so that why the Quran explained both verses al-An’am [6]: 20 and al-Baqarah [2]: 146. The first, the Quran says, “They to whom we have given the Book, recognize him, Muhammad, as they do their own children, but they who are the authors of their own perdition are they who will not believe.” The second, Quran also says, “They to whom we have given the Scriptures know him the apostle even as they know their own children; but truly a part of them do conceal the truth, though acquainted with it. J. M. Rodwell then comments about the verse, “that is the Jews are really convinced of the truth of Muhammad’s mission. If from Talmudists, it affirms that it from the same source, the Semitic tradition.

al-Anbiya’ [21]: 107 We sent thee not, but as a mercy (rahmah) for all creatures. God Himself is the Merciful, al-An’am [6]: 54 When those who believe in Our revelations come to you [Prophet], say, ‘Peace be upon you. Your Lord has taken it on Himself to be Merciful (al-rahmah), if any of you has foolishly done a bad deed, and afterwards repented and mended his way, God is most forgiving (ghafūr) and most merciful (rahīm).” Al-Hajj [22]: 65 Seest thou not that God has made subject to you (men) all that is on the earth, and the ships that sail through the sea by His command? He withholds the sky (rain) from failing on the earth except by His leave: for God is most kind (raūf) and most merciful (rahīm) to man. And about Muhammad, God really said al-Taubah [9]: 128 A Messenger has come to you from among yourselves. Your suffering distresses him: he is deeply concerned for you and full of kindness (raūf) and mercy (rahīm) towards the believers. . Therefore, based on the verses, there are four main reasons. First, God is most merciful (rahīm) in the closing phrase of the verse of the chapter al-An’am [6]:54 echoes the opening verse of seven verses of surah al-Fātihah (lit. chapter of “the Opening”), the opening chapter of the all chapters of the Quran; and at the same time, it is to echo the opening verse of the whole verses of the 114 chapters in the Quran too. In this context, ‘the opening verse’ of the whole verses of the Scripture is of course, ‘the verse of merciful’ بسم الله الرمن الرحيم (bismi-llāh al-rahmān al-rahīm). By ‘Abdullah Yusuf ‘Ali, the verse in English Quran, is literally translated being in the name of God, Most Gracious, Most Merciful (rahīm). Similarly, S.H. Abbasi translated the opening verse in the version of the Hebrew Quran, parashat ha-Fatīhah (lit. chapter of “the Opening”) beingבְ שֶם אֱלהִים הַרַחְמָן וְהַרַחוּם (be shem Elohīm ha-rahman ve ha-rahūm). Second, al-An’am [6]: 54 Lord has taken it on Himself to be merciful (al-rahmah). The Quran really identifies the word rahmah (merciful) as Muhammad (al-Anbiya’ [21]: 107). Third, God and Muhammad are one in divine qualities; al-Hajj [22]:65 God is most kind (raūf) and most merciful (rahīm) to man is to affirm and to echo the same divine attributes of Muhammad himself, he is deeply concerned for you and full of kindness (raūf) and mercy (rahīm) towards the believers, al-Taubah [9]:128. Fourth, God and Muhammad are one in the safety mission for all creatures; al-An’am [6]: 54 Lord has taken it on Himself to be Merciful (al-rahmah) echoes the prophetic mission of Muhammad an sich, We sent thee not, but as a mercy (rahmah) for all creatures, al-Anbiya’ [21]:107. Therefore, God said in al-Nisa’ [4]:64, if only the hypocrites had come to you the Prophet when the wronged themselves, and begged God’s forgiveness, and the Messenger had asked forgiveness for them, they would have found that God accepts repentance and is most merciful (rahīma) , as well as the prophet says, if ye do love God, follow me, God will love you and forgive you your sins, for God is oft-forgiving (ghafūr), most merciful (rahīm). It is surely a supporting verse about who was Muhammad too. Based on al-Nūr [24]:35 God is the Light of the heavens and the earth (Allāhu Nūr al-samāwāti wal ardh) is the opening phrase of the verse. Amazingly, al-Mā’idah [5]:15 will soon identify Muhammad as Nūr (lit. “Light”) and Rasūl (lit. “Messenger”), the verse states: People of the Book, Our Messenger (Rasūl) has come to make clear to you much of what you have kept hidden of the Scripture, and to overlook much you have done. A Light (Nūr) has now come to you from God, and a Scripture making things clear. E. H. Palmer (1840-1882 B.C.), an English Orientalist and Professor of Arabic at Cambridge University, U.K., also translated the verse as the same version of M.A.S. Abdel Haleem who has taught Arabic at Cambridge and School of Oriental and African Studies, University of London, since 1966. In that translation of al-Maidah [5]:15, E. H. Palmer states: “O ye people of the Book! Our Apostle has come to you to explain to you much of what ye had hidden of the Book, and to pardon much. There has come to you from Allah a Light, and a perspicuous Book
---------------
Shem Tov: Saya mengajak Anda fokus dalam berdiskusi. Kutipan argumentasi dalam bahasa Inggris yang Anda sematkan dalam jawaban Anda tidak membicarakan konsep perihal Mesias dan istilah OR HA OLAM, jadi saya tidak berminat untuk menanggapinya. Anda pun belum menjawab sanggahan saya terkait konsep OR HA OLAM dalam pemikiran Yahudi yang mengerucut dalam pernyataan Yesus Sang Mesias yang menyatakan diri-Nya adalah OR HA OLAM (Yoh 8:12). Silahkan Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial yang saya tanyakan sebelumnya.

Moch Ali: Teks bahasa Inggris tersebut merupakan teks yang saya salin dari buku saya untuk melengkapi kajian the Messhiahship of Muhammad SAW.
-------------
Shem Tov: Anda sebaiknya menulis dalam bahasa Indonesia. Boleh mengutip literatur dalam bahasa Inggris namun penyajian argumentasi sanggahan sebaiknya dalam bahasa Indonesia. Anda juga sebaiknya memberikan kutipan rujukan diambil dari sumber literatur yang mana. Kutipan teks berbahasa Inggris belum menjawab tantangan saya bahwa istilah Mesias adalah konsep yang asing dalam Islam dan Quran

Moch Ali: Itulah ayat-ayat Quur'an yang membuktikan bahwa Muhammad SAW adalah the Light (Nur) sebagaimana pengakuannya sendiri di hadapan sahabat-nya, yakni Jabir al-Anshari.
------------
Shem Tov: Otoritas Quran lebih utama dari Hadits. Jika Quran tidak pernah merekam pernyataan Muhamad bahwa dirinya adalah NURULLAH, maka pernyataan dalam Hadits sebagai second source dapat diabaikan. Bahkan para ulama mayoritas menolak essensi Muhamad sebagai NURULLAH. Pernyataan Yesus sebagai OR HA OLAM (Terang Dunia) sangat kontras dengan pernyataan Muhamad dalam hadits yang menyatakan dirinya diciptakkan dari NURULLAH. Pernyataan Yesus lebih menujuk pada penggenapan harapan Mesianis dalam dirinya dan menjelaskan karya Mesianisnya sebagai Terang Dunia dan bukan asal usul penciptaannya. Sementara ucapan Muhamad dalam Hadits lebih menunjuk pada asal usul dirinya diciptakan dari bahan apa dan bukan menunjuk pada karya kerasulannya.


0 komentar:

Posting Komentar