RSS Feed

SUMBER-SUMBER SEMITIK KITAB PERJANJIAN BARU (1)

Posted by Teguh Hindarto






KEBERADAAN PESHITTA ARAMAIK
 SEBAGAI SUMBER TERJEMAHAN  KITAB PERJANJIAN BARU YUNANI


Setelah kita mengkaji unsur-unsur Semitik yang terkandung dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani khususnya Injil Sinoptik maka pertanyaan berikutnya, manakah sumber-sumber Semitik yang mendasari Kitab Perjanjian Baru Yunani khususnya Injil Sinoptik? Setidaknya ada dua teori terkait dengan sumber-sumber Semitik yang mendasari Kitab Perjanjian Baru Yunani khususnya Injil Sinoptik yaitu pertama, pandangan dari kelompok Pro Aramaik yang mengusulkan Peshitta Aramaik sebagai landasan penerjemahan naskah Perjanjian Baru ke dalam bahasa Yunani dan kedua, pandangan dari kelompok Pro Ibrani yang mengusulkan adanya naskah sumber berbahasa Ibrani yang dikembangkan oleh para penulis Injil Sinoptik. Naskah sumber berbahasa Ibrani ini didasarkan pada tradisi yang diinformasikan oleh Papias (150-170 SM) yang menyatakan bahwa “Matius telah menyusun kata-kata ini dalam bahasa Ibrani dan yang lainnya menerjemahkan semampunya” (Eusebeius, Ecclesiatical Historiae 3:39). Oleh para sarjana terkadang naskah ini disebut dengan “Injil Q” dari kata “Quelle” yang artinya “sumber”. Teori kedua ini dikembangkan oleh kelompok peneliti yang tergabung dalam Jerusalem Scholl of Synoptic Research yang salah satu pendirinya bernama Robert Lindsey.

Kita akan menggali kekuatan dan kelemahan masing-masing teori yang dikemukakan oleh kedua belah pihak.

Teori Bahasa Aramaik sebagai bahasa sumber. Bukti-bukti akan hal ini didukung oleh beberapa fakta sbb:[1]

Banyaknya kosa kata Aramaik

Sejumlah kata yang diduga Aramaik al., Talita Kumi, Gabatha, Golgotha, Efata, Raca, dll

Kata-kata yang memiliki arti ganda (Split Words)
Banyak kata dalam bahasa Aramaik yang disalah mengerti dalam bahasa Yunani sehingga menimbulkan dua versi penerjemahan yaitu naskah Alexandria dan naskah Byzantine.

Contoh:

“Dibakar” atau “menyombongkan diri?” (1 Kor 13:3)

I gave everything I have to the poor and even sacrificed my body, I could boast about it; but if I didn't love others, I would be of no value whatsoever (NLT)

And though I bestow all my goods to feed the poor, and though I give my body to be burned, and have not charity, it profiteth me nothing (KJV).

Kata Aramaik   ܕ݁ܢܺܐܩܰܕ݂ ( dniqad) dapat bermakna “terbakar” atau “bermegah”.

“Anak perempuannya” atau “perbuatan-perbuatannya?” (Matius 11:19/Lukas 7:35)

The Son of man came eating and drinking, and they say, Behold a man gluttonous, and a winebibber, a friend of publicans and sinners. But wisdom is justified of her children (KJV)

The Son of man came, eating and drinking, and they say, "Look, a glutton and a drunkard, a friend of tax collectors and sinners." Yet wisdom is justified by her deeds (NJB)

Kata Aramaik  ܥܒ݂ܳܕ݂ܶܝܗ (avdyah) dapat bermakna “anak perempuannya” atau “perbuatan-perbuatannya”

“Melalui gerbang” atau “melalui pintu?” (Lukas 13:24)

Strive to enter in at the strait gate: for many, I say unto you, will seek to enter in, and shall not be able (KJV)

Make every effort to enter through the narrow door, because many, I tell you, will try to enter and will not be able to (NIV)

Kata Aramaik  ܒ݁ܬ݂ܰܪܥܳܐ (betarya) dapat bermakna “melalui gerbang sempit” atau “melalui pintu sempit”

“Memaksa” atau “membiarkan?” (Wahyu 2:20)

Notwithstanding I have a few things against thee, because thou sufferest that woman Jezebel, which calleth herself a prophetess, to teach and to seduce my servants to commit fornication, and to eat things sacrificed unto idols (KJV)

Nevertheless, I have a complaint to make: you tolerate the woman Jezebel who claims to be a prophetess, and by her teaching she is luring my servants away to commit the adultery of eating food which has been sacrificed to idols (NJB)

Kata Aramaik ܕ݁ܰܫܒ݂ܰܩܬ݁ (deshabaqat) dapat bermakna “memaksa” atau “membiarkan”

“Di dalam Dia”, “pada Dia” atau “ke dalam Dia” (Yohanes 3:15)

That whosoever believeth in him should not perish, but have eternal life (KJV)

That every one who believes on him may not perish, but have life eternal (DBY)

Kata Aramaik ܒ݁ܶܗ (beh)  dapat bermakna “di dalam” atau “pada”

“Marah” atau “Belas kasih?” (Markus 1:41)

And Jesus, moved with compassion, put forth his hand, and touched him, and saith unto him, I will; be thou clean (KJV)

Jesus was indignant. He reached out his hand and touched the man. I am willing, he said, be clean (TNIV)

Kata Aramaik ܐܶܬ݂ܪܰܚܰܡ (etrakham) dapat bermakna “marah” atau “berbelas kasih”

“Permulaan” atau “Yang Sulung?” (2 Tesalonika 2:13)

But we are bound to give thanks alway to God for you, brethren beloved of the Lord, because God hath from the beginning chosen you to salvation through sanctification of the Spirit and belief of the truth (KJV) – Byzantine Text

Now at all times we are obligated to thank God for you, brothers who are loved by the Lord, because God chose you to be the first fruits for salvation through sanctification by the Spirit and through faith in the truth (ISV) – Alexandrian Text

Kata Aramaik  ܪܺܫܺܝܬ݂ܳܐ  (reshita) dapat bermakna “permulaan” atau “yang sulung”

“Mengabaikan” atau “Mendengar?” (Markus 5:36)

As soon as Jesus heard the word that was spoken, he saith unto the ruler of the synagogue, Be not afraid, only believe (KJV)

But Jesus ignored their comments and said to Jairus, "Don't be afraid. Just trust me (NLT)

Kata Aramaik  ܫܡܰܥ (shama’) dapat bermakna “mengabaikan” atau “mendengar”


Semi split words


Mati  “untuk orang benar” atau “bagi orang jahat?” (Roma 5:7)

“Unta” atau “tambang?” (Matius 19:24/Markus 10:25/Lukas 18:25)

“Jangan berikan yang kudus” atau “jangan gantungkan telinga?” (Matius 7:6)

“Simon si Kusta” atau “Simon Pembuat Gerabah?” (Matius 26:6/Markus 14:3)

“Sida-sida” atau “orang beriman?” (Matius 19:12/Kisah Rasul 8:27)


Puisi dan permainan kata

Matius 13:31-32

ܐ݈ܚܪܺܢܳܐ ܡܰܬ݂ܠܳܐ ܐܰܡܬ݁ܶܠ ܠܗܽܘܢ ܘܶܐܡܰܪ ܕ݁ܳܡܝܳܐ ܡܰܠܟ݁ܽܘܬ݂ܳܐ ܕ݁ܰܫܡܰܝܳܐ ܠܰܦ݂ܪܶܕ݁ܬ݁ܳܐ ܕ݁ܚܰܪܕ݁ܠܳܐ ܕ݁ܰܢܣܰܒ݂ ܓ݁ܰܒ݂ܪܳܐ ܙܰܪܥܳܗ ܒ݁ܰܩܪܺܝܬ݂ܶܗ


 ܘܗܺܝ ܙܥܽܘܪܝܳܐ ܗ݈ܝ ܡܶܢ ܟ݁ܽܠܗܽܘܢ ܙܰܪܥܽܘܢܶܐ ܡܳܐ ܕ݁ܶܝܢ ܕ݁ܰܪܒ݂ܳܬ݂ ܪܰܒ݁ܳܐ ܗ݈ܝ ܡܶܢ ܟ݁ܽܠܗܽܘܢ ܝܰܪܩܽܘܢܶܐ ܘܗܳܘܝܳܐ ܐܺܝܠܳܢܳܐ ܐܰܝܟ݂ ܕ݁ܬ݂ܺܐܬ݂ܶܐ ܦ݁ܳܪܰܚܬ݂ܳܐ ܕ݁ܰܫܡܰܝܳܐ ܬ݁ܰܩܶܢ ܒ݁ܣܰܘܟ݁ܶܝܗ܂ 

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Biji sesawi-sayuran-pohon >< Burung-bersarang-cabang-cabangnya

ܙܰܪܥܳܗ   - ܙܥܽܘܪܝܳܐ (zarah: kecil + zuwraya: biji)

ܕ݁ܰܪܒ݂ܳܬ݂ – ܪܰܒ݁ܳܐ (derabbat: tumbuh+ raba: besar)

Idiom Semitik

Idiom adalah ungkapan khas dari suatu kebudayaan dalam bentuk kata atau istilah serta kalimat tertentu. Istilah “bad egg” bermakna “kepribadian yang buruk”. Istilah “blood is thicker than water” bermakna “keluarga lebih dekat hubungannya dibandingkan teman”. Demikian pula dalam naskah Kitab Perjanjian Baru sarat dengan idiom-idiom Semitik yang terkadang sukar dimengerti dalam konteks kebudayaan non Semitik. Beberapa idiom khas Semitik tersebut sbb:

“Penggalah tanganmu” dan “cungkilah matamu” (Mrk 9:43-47).

“Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;  (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Tuhan dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka”

Pernyataan Yesus di atas bermakna jika seseorang memiliki kebiasaan mencuri, berhentilah dari kebiasaan tersebut. Jika memiliki kebiasaan melihat hal-hal yang tidak baik, hentikanlah kebiasaan tersebut.


“Wajahnya menuju Yerusalem” (Luk 9:53)

Frasa Yunani οτι το προσωπον αυτου ην πορευομενον εις ιερουσαλημ (oti to prosoopon auton en poreuomenon eis Ierousalem) diterjemahkan dalam bahasa Inggris “and they did not receive him, because his face was going on to Jerusalem”(Young’s Literal Translation)

Frasa “wajah yang tertuju pada satu arah” bermakna “perhatian tertuju pada satu hal atau satu tempat”. Dalam TaNaKh, idiom-idiom tersebut bertebaran di beberapa tempat seperti:

·         Amos 9:4
·         Yeremia 3:12
·         Yeremia 21:10
·         Yeremia 42:15
·         Yeremia 44:12
·         2 Raja-raja 12:17
·         Daniel 11:17
·         Yekhezkiel 6:1
·         Yekhezkiel 13:17
·         Yekhezkiel 14:8
·         Yekhezkiel 15:7

“Tali sembahyang yang lebar” dan “jumbai yang panjang” (Mat 23:5)

“Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang”

Frasa Yunani  τα φυλακτηρια αυτων (ta phulaktaria autoon) dalam Peshitta Aramaik  ܬ݁ܶܦ݂ܠܰܝܗܽܘ  (tefalayhun) setara dengan bahasa Ibrani “Tefilin” yaitu tali yang diikatkan di kepala dan tangan orang Yahudi yang berisikan ayat Kitab Suci. Frasa και μεγαλυνουσιν τα κρασπεδα των ιματιων αυτων (kai megalunousin ta krasmeda toon imatioon autoon) dalam Peshitta Aramaik ܬ݁ܶܟ݂ܠܳܬ݂ܳܐ ܕ݁ܡܰܪܛܽܘܛܰܝܗܽܘ  (tekhalata d’martutahun) setara dengan warna kebiruan pada tsit-tsit atau jumbai-jumbai pada pakaian orang Yahudi atau pada selendang doa orang Yahudi yang diperintahkan dalam Bilangan 15:38 sbb: "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan”

“Anak Damai” (Lukas 10:6)

“Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu”

Frasa Yunani και εαν η εκει  ο υιος ειρηνης (kai ean e ekei ho eirenes) dalam Peshitta Aramaik dituliskan ܒ݁ܰܪ ܫܠܳܡܳܐ   (bar shalama) dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris “and if indeed there may be there the son of peace” (Young’s Literal Translation)

Pararelisme Semitik

Pararelisme artinya kesamaan atau kesetaraan. Pola ini muncul dalam tulisan bernada puisi seperti Mazmur dan Amsal dalam TaNaKh. Ada 4 pola Pararelisme yaitu:

Antithetic - Kalimat kedua berbeda dengan kalimat yang dipergunakan pada kalimat pertama

Synonymous - Kalimat kedua menggemakan makna dari kalimat pertama

Synthetic – Kalimat kedua melengkapi kalimat pertama

Climactic – Kalimat kedua tidak melengkapi atau menggemakan kalimat pertama namun menambahkan pernyataan pada kalimat pertama sehingga terjadi klimaks

Surat 1 Petrus Pasal 1-4 sarat dengan muatan Pararelisme al.,

1 Petrus 2:14 (Antithetic Parallelism)
1 Petrus 2:22-23 (Antithetic Parallelism)
1 Petrus 3:18 (Synonymous Parallelism)
1 Petrus 4:6 (Synonymous Parallelism)
1 Petrus 4:11 (Climactic Parallelism)

Bukti sejarah

Bukti-bukti sejarah meliputi eksistensi bahasa Aramaik yang telah berkembang lama menggantikan bahasa Ibrani dan keberadaan Kitab Peshitta Aramaik serta kesaksian para Bapa Gereja memperkuat keberadaan penulisan Kitab Perjanjian Baru dari sumber-sumber Aramaik sebelum dituliskan dalam bahasa Yunani oleh para Zorba.

Eksistensi Bahasa Aramaik

Aramaik adalah bahasa Semitik kuno yang setara dengan bahasa Ibrani yang menurut Encyclopedia Britannica menjadi bahasa dominan di Timur tengah sekitar tahun 500-600 sebelum kelahiran Mesias.

“Bahasa Aramaik muncul pertama kalinya diantara orang-orang Aram sekitar Abad XI SM. Pada Abad VIII SM menjadi bahasa yang diterima oleh orang-orang Asyria sebagai bahasa kedua. Pengasingan besar-besaran umat Yahudi oleh orang-orang Asyria dan penggunaan bahasa Aramaik sebagai bahasa pergaulan oleh para pedagang Babilonia membantu menyebarluaskan bahasa tersebut sehingga pada Abad VII-VI SM secara perlahan menggnatikan bahasa Akkadian sebagai bahasa pergaulan di Timur Tengah” - Encyclopedia Britannica

“Orang-orang Persia mempergunakan bahasa Aramaik dikarenakan ucapan ini merupakan bahasa kerajaan Semitik yaitu Kerajaan Assiria dan Kerajaan Babilonia. Bahasa Aramaik dengan tegas ditetapkan sebagai bahasa pergaulan dimana tidak ada pemerintahan yang dapat membuang penggunaannya sebagai wahana ekspresi dalam kerajaan yang luas sekali khususnya dalam propinsi-provinsi di Barat. Selanjutnya, tanpa sekolah-sekolah dan fasilias modern, bahasa Aramaik tidak dapat digantikan oleh percakapan bangsa-bangsa yang menaklukan. Para penjajah tidak menaruh minat membuat bahasa mereka dan kebudayaan mereka dikenal oleh bangsa yang ditaklukannya. Apa yang mereka inginkan hanyalah pajak, barang rampasan serta berbagai pungutan lainnya. Transisi dari bahasa Aramaik ke bahasa Arab yaitu bahasa kandungnya, terjadi setelah penaklukan Timur Dekat oleh prajurit-prajurit Muslim pada Abad VII M. Namun demikian bahasa Aramaik tetap hidup selama berabad-abad dan tetap diucapkan di Libanon, Syria, Irak dan Barat Laut Iran sebagaimana suku-suku Arab Kristen di Utara Arabia. Alfabet Aramaik dipinjam oleh orang-orang Ibrani, Arab, Iran serta Mongol – Dr. George Mamishisho Lamsa, sarjana Aramaik

Bahasa Aramaik juga menyebar luas ke Asia.

 “Mengenai alfabet Aramaik, itu menjangkau lebih jauh dari penaklukan. Pada tahun 1599 M alfabet Aramaik dipinjam sebagai bahasa pengantar bahasa Manchu pada malam penaklukan China oleh Manchu. Agama tersebut berkembang dalam kehidupan keseharian mereka. Bentuk kubus huruf Ibrani menjadi wahana Kitab Suci Yahudi dan liturgi; dalam adaptasi orang Arab itu menjadi alfabet Islam” – Dr. Arnold Toynbee, Ahli Sejarah

Bahasa Aramaik menjadi bahasa umum yang dipergunakan di berbagai kota yang berbeda seperti Asyria, Babilonia dan Israel dengan banyak nama. Salah satu nama yang diberikan oleh orang Yunani adalah, Syriak.

“Orang-orang Yunani menyebut bahasa Aramaik dengan kata yang mereka ciptakan yaitu Syriak dan istilah buatan tersebut dipergunakan di Barat namun tidak pernah dipergunakan di Timur dimana telah lama dikenal dengan nama Lishana Aramaya atau bahasa Aramaik” – Paul Younan, sarjana Aramaik.

 “Tidak ada nama lain bagi bahasa Aramaik kuno. Para sarjanan Kitab Suci Yahudi saat ini menyebutnya dengan bahasa Ashuri dan mereka menyebut bahasa Torah tersebut dengan Ashurit. Tulisan Ibrani modern disebut dengan Ktav Ashuri atau tulisan Ashuri. Ini adalah bahasa dimana Sepuluh Perintah ditulisna dan hanya satu-satunya bahasa suci Perjanjian Lama berdasarkan kebanyakan sarjana Yahudi. Ada ratusan halaman di internet dimana para sarjana dapat meneliti dengan hanya menuliskan Ashuri, Ashurit, Ashuris, Ktav Ashurit, Ktav Ashuris” – Victor Alexander, sarjana Aramaik.

Gereja Timur yaitu Gereja utama di dunia Timur (sebagaimana Gereja Roma Katolik sebagai gereja utama di dunia Barat) menyebarluaskan pemikiran Kristen melalui Timur Tengah dan Asia dan mempergunakan Kitab Suci Perjanjian Baru berbahasa Aramaik yaitu Peshitta.
“...Gereja Timur telah membuat langkah raksasa. Bangsa Asyur yang menjadi suluh Gereja telah meningkatkan usaha yang besar terhadap misi. Mereka menyebarluaskan Kekristenan ke India dan menjangkau jauh sampai ke China. Ada monumen bersejarah di China sampai hari ini yang membuktikan semangat misionari Gereja ini. Namun semua prestasi Gereja Timur telah ditolak oleh Gereja-gereja Barat sampai hari ini. Sebagaimana Bangsa Asyur tidak memiliki kewarganegaraan karena jatuhnya Niniweh pada tahun 612 SM, mereka menjadi sasaran empuk penginjilan di Timur. Raja terakhir mereka yaitu Agbar disembuhkan dari sakit kusta oleh dua orang murid Yesus. Bangsa Asyur menjadi Kristen pada Abad I Ms diikuti oleh bangsa Armenia dan Khaldea. Sekitar Abad XII mereka menjadi Gereja terbesar dalam lingkungan Kekristenan. Gereja Timur berada di bawah penganiayaan terus menerus selama beabad-abad namun ini adalah berkat tersembunyi sehingga mereka tidak memiliki waktu atau memiliki motivasi untuk mengubah Kitab Suci. Mereka tetap melanjutkan menyalin Kitab Suci asli Aramaik kuno dari zaman Para Rasul secara  hurufiah tanpa memperbarui bahasa tersebut”– Victor Alexander

Kitab Suci Aramaik: Peshitta

“Kitab Septuaginta didasarkan pada manuskrip Ibrani awal dan bukan pada kitab yang dikenal sebagai Masoretik yang dibuat pada Abad VI – IX Ms. Dengan kata lain ada kesamaan diantara Septuaginta dan naskah Peshitta namun yang pertama terdiri dari kekeliruan penerjemahan yang tidak terelakkan yang diakibatkan kesulitan dalam memancarkan pemikiran Ibrani atau Aramaik dan gaya bicara yang sama sekali asing seperti bahasa Yunan. Namun sebagaimana yang telah dikatakan, hal demikian bukanla persoalan diantara bahasa Aramaik Kitab Suci dan bahasa Ibrani Kitab Suci yang merupakan satu sumber. Yosephus menggunakankata-kata Ibrani Aramaik tanpa membedakan keduanya. Sehingga istilah ‘menerjemahkan’ dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Aramaik atau sebaliknya adalah tidak tepat. Hal itu sama saja seperti seorang yang menyatakan telah menerjemahkan Konstitusi Amerika Serikat dari bahasa Pennsylvania  ke dalam bahasa Inggris atau dari bahasa Jerman rendah ke bahasa Jerman tinggi/. Sebelum pembuangan yang pertama pada tahun 721 sM, para raja Yahudi, para penyalin Kitab Suci dan orang-orang terpelajar paham akan bahasa Aramaik (2 Raj 18:26). Orang Israel tidak pernah menuliskan Kitab Suci mereka selain dalam bahasa Ibrani dan bahasa Aramaik sebagai bahasa kandung mereka yang kedua. Septuaginta dituliskan pada Abad III sM bagi orang Yahudi di Alexandria. Terjemahan ini tidak pernah dipakai secara resmi oleh orang-orang Yahudi di Palestina yang berbahasa Ibrani dan Aramaik. Sebaliknya para pemimpin Yahudi karya terjemahan tersebut dan menyerukan masa perkabungan dikarenakan cacatnya terjemahan ini. Terbukti bahwa Yesus mempergunakan naskah yang berasal dari bahasa Ibrani awal. Hal ini nampak karena kutipan Yesus dari Perjanjian Lama cocok dengan naskah Peshitta namun tidak cocok dengan naskah Septuaginta. Contohnya pada Yohanes 12:40 dimana kutipan Peshitta Perjanjian Lama sepakat dengan Kitab Perjanjian Baru” – Dr. George Mamishisho Lamsa

Kesaksian Bapa Gereja

“Untuk meringkas, dia telah memberikan dalam catatan ikhtisar Hypotyposes dari keseluruhan Kitab Suci yang kanonik dan tidak menghilangkan buku-buku yang ditolak – saya menunjuk kepada Kitab Yudas dan surat-surat Am lainnya dan Barnabas serta yang disebut dengan Wahyu Petrus. Dia mengatakan bahwa surat kepada orang Ibrani adalah karya dari Rasul Paul dan itu telah dituliskan kepada orang Ibrani dalam bahasa Ibrani namun kemudian Lukas menerjemahkannya secara hati-hati dan mempublikasikannya bagi orang-orang Yunani dan sebab itu gaya penulisan yang sama dapat ditemukan dalam surat ini dan dalam Kisah Rasul. Namun dia berkata bahwa kata-kata ‘Paul Sang Rasul’ mungkin tidak diletakkan dalam surat karena dalam mengirim surat kepada orang-orang Ibrani yang berprasangka buruk dan mencurigai dirinya, dia mengambil kebijaksanaan untuk tidak menolak mereka dengan memberikan namanya di permulaan suratnya”– Eusebius dari Caesarea, Church History, Book VI, CHAPTER 14

“Karena sebagaimana Paul mengirim kepada orang Ibrani dalam bahasa dimana mereka berasal; beberapa mengatakan bahwa penginjil Lukas yang lainnya Klement, telah menerjemahkan surat tersebut” – Eusebius (4 Ms) Eccleciastical Historiae. 3:38:2-3

“Dia (Paul) menjadi seorang Ibrani dengan menulis dalam bahasa Ibrani, bahwa ini merupakan bahasa kepunyaannya dan sangat fasih sefasih dia menuliskannya dalam bahasa Ibrani daripada ke dalam bahasa Yunani”– Jerome (4 Ms.); Lives of Illustrious Men, Book V

Kesaksian Modern

“...Keaslian naskah Peshitta sebagaimana Patriakh dan Kepala dari Gereja Katolik dan Apostolik Timur, kami ingin menyatakan bahwa Gereja Timur menerima Kitab Suci dari tangan para rasul yang diberkati dalam bahasa Aramaik yaitu bahasa dari Junjungan Agung Yesus Sang Mesias itu sendiri dan bahwasanya Peshitta adalah naskah Gereja Timur yang telah diterima dari zama n Kitab Suci dituliskan tanpa perubahan atau perbaikan”  – Mar Eshai Shimun, Patriarch Gereja Timur, April 5, 1957

IDIOM-IDIOM SEMITIK HEBRAIK DALAM NASKAH KITAB PERJANJIAN BARU YUNANI

Posted by Teguh Hindarto


Michael D. Marlowe menjelaskan sbb: “Meskipun bahasa Kitab Perjanjian Baru secara mendasar adalah bahasa koine atau bahasa Yunani yang umum dipergunakan saat kitab ini dituliskan, namun para penulis Kitab Perjanjian Baru, menuliskan dalam corak Hebraik atau Semitik yang tidak sepenuhnya bersifat idiomatik Yunani. Karakter bercorak khas ini meliputi beberapa bagian seperti, tata bahasa, kalimat, arti kata dan ciri-ciri yang bersifat retorika suatu naskah. Contoh-contoh khusus corak khas ini, secara kebahasaan dinamai Hebraism atau secara lebih luas, Semitism (sebuah istilah yang meliputi pengaruh-pengaruh Aramaik sebagaimana pula Ibrani)” [1]

Semitisme, didefinisikan sebagai penggunaan kebahasaan, ekspresi atau susunan khas bahasa Semitik yang muncul dalam bahasa lain. Ini bukan merupakan suatu kebutuhan bagi sebuah ekspresi yang tidak mengikuti kaidah tata bahasa atau hal-hal lain yang sama sekali asing dalam penggunaan bahasa kedua dalam rangka kalimat tersebut dianggap sebagai Semitisme. 


Meskipun ada beberapa unsur Semitisme yang sungguh dan sangat jelas alamiah, namun ada yang lain yang kita boleh sebut sebagai relatif bercorak Semitisme, ketika ada sebuah ketegangan yang tidak biasa bertentangan dengan penggunaan yang biasanya mungkin disebabkan pengaruh Semitis. Maka ada wilayah abu-abu, dalam mana ada beberapa ruang bagi ketidaksepakatan dalam beberapa kasus kecil. Salah satu sarjana mungkin mengganggap sebuah ekspresi menjadi bercorak Semitism, sementara yang lain meragukan apakah hal ini layak untuk diklasifikasikan secara demikian. Namun demikian, semua sarjana sepakat bahwa berbagai keragaman Semitisme muncul sangat melimpah dalam Kitab Perjanjian Baru.


Apakah nilai penting persoalan ini bagi pemahaman kita terhadap Kitab Perjanjian Baru? Yang terutama, hal ini bermakna bahwa para penerjemah dan para pengarang harus memperhatikan bukan hanya mengenai bahasa yang umum dipergunakan yaitu Yunani Koine, namun juga berbagai keanehan apa yang mungkin kita namakan “Biblikal” atau Bahasa Yunani yang bersifat Yahudi (Jewish Greek). Saat kita memiliki alasan untuk menduga bahwa ekspresi dalam Kitab Perjanjian Baru mencerminkan idiom Ibrani, maka itu seharusnya ditafsirkan sebagaimana hal itu merupakan “Kata Ibrani yang tersembunyi” (Hebrew in disguise). Dengan cara ini kita memahami secara tepat (correctly apprehend) makna dari banyak kata-kata dan ekspresi dalam Kitab Perjanjian Baru.

D. Bivin dan R. Blizzard menjelaskan mengenai idiom-idiom Ibrani dalam teks Perjanjian Baru sbb: “One of the best indications of the Hebrew origin of the Synoptic Gospels is to be found within the texts of the Gospel themselves. The Hebraic undertext is revealed not only in sentence structure but in the many literalism and idioms present, which are peculiar to the Hebrew language” (salah satu indikasi terbaik adanya asal usul Ibrani dari Injil Sinoptik, ditemukan di dalam teks Injil itu sendiri. Pengaruh Ibrani disingkapkan bukan hanya dalam struktur kalimat melainkan dalam banyak literalisme dan idiom yang ada yang cukup asing bagi bahasa Ibrani)[2]

BAHASA PERCAKAPAN YESUS

Posted by Teguh Hindarto




Kitab Ibrani 7:14 mengatakan, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Junjungan Agung kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”. Yesus secara antropologis adalah manusia pada zamannya. Manusia yang lahir di dalam kebudayaan Yahudi. Oleh karenanya kita dapat melihat rekam jejak percakapan Yesus dalam ungkapan-ungkapan Ibrani yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani al., Efata (terbukalah, Mrk 7:34) Talita kumi (anak gadis, bangunlah, Mrk 5:41), Eli-Eli lama sabakhtani (El-ku,El-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mat 27:46)?
 
Kita tidak menampik bahwa ada ragam bahasa di Yerusalem di zaman Mesias hidup sebagaimana terekam dalam 19:20 sbb: “Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani”. Ada tiga bahasa yang bereksistensi zaman itu, Ibrani (plus Aramaik), Latin dan Yunani. Namun jangan lupa, fungsi dan kedudukan bahasa itu tidak sama. Talmud mengatakan sbb: “Empat bahasa memiliki nilai masing-masing: Bahasa Ibrani untuk nyanyian, Latin untuk peperangan, Aramaik untuk nyanyian penguburan dan Bahasa Ibrani untuk percakapan” (Jerusalem Talmud, Tracate Sotah 7:2, 30a)[1]. Pernyataan Talmud ini merobohkan asumsi yang dibangun selama ini bahwa bahasa Ibrani adalah bahasa yang telah mati dan digantikan oleh bahasa Aramaik sebagaimana pernyataan beberapa literatur berikut:

KEBANGKITAN ORANG MATI SEBAGAI PENGHARAPAN IMAN BERSAMA

Posted by Teguh Hindarto




Midrash Rosh ha Shanah 1 Tishri 5772


Rosh ha Shanah adalah hari raya ke-5 dari tujuh rangkaian hari raya yang ditetapkan YHWH dengan sebutan sheva moedim. 


Makna Rosh ha Shanah[1]


Rosh Hashanah secara harfiah berarti "Kepala Tahun" dalam bahasa Ibrani. Ini jatuh di bulan Tishrei, yang merupakan bulan ketujuh dalam kalender Ibrani. Alasan untuk ini adalah karena kalender Ibrani dimulai dengan bulan Nissan (ketika itu diyakini orang-orang Yahudi dibebaskan dari perbudakan di Mesir) tapi bulan Tishrei diyakini menjadi bulan di mana Tuhan menciptakan dunia. Oleh karena itu, cara lain untuk berpikir tentang Rosh Hashanah adalah sebagai hari kelahiran dunia.


Rosh Hashanah dikerjakan pada dua hari pertama Tishrei. Tradisi Yahudi mengajarkan bahwa selama Hari Suci Yang Agung Tuhan memutuskan yang akan hidup dan siapa yang akan mati selama tahun mendatang. Akibatnya, selama Rosh Hashanah dan Yom Kippur (dan pada hari-hari menjelang perayaan tersebut) orang-orang Yahudi mengawali dengan tugas serius memeriksa kehidupan mereka dan bertobat untuk setiap kesalahan yang telah mereka lakukan selama tahun sebelumnya. Proses pertobatan ini disebut Teshuvah. Orang-orang Yahudi didorong untuk menebus kesalahan dengan siapa mereka telah dirugikan dan membuat rencana untuk memperbaiki selama tahun mendatang. Dengan cara ini, Rosh Hashanah adalah semua tentang membuat perdamaian di masyarakat dan perjuangan untuk menjadi orang yang lebih baik.


Meskipun tema Rosh Hashanah adalah hidup dan mati, itu adalah hari libur yang penuh dengan harapan untuk Tahun Baru. Orang-orang Yahudi percaya bahwa Tuhan adalah pengasih dan adil, dan bahwa Tuhan akan menerima doa mereka untuk pengampunan.

Liturgi Rosh HaShanah[2]

Ibadah Rosh Hashanah adalah salah satu ibadah yang terpanjang . Hanya ibadah Yom Kippur yang lebih lama. Ibadah Rosh Hashanah biasanya berlangsung dari pagi sampai sore hari dan sangat unik yang memiliki doa sendiri buku yang disebut Makhzor. Dua dari doa-doa yang paling terkenal dari liturgi Rosh Hashanah adalah:
  • Unetaneh Tohkef - Doa ini adalah tentang hidup dan mati. Bagian dari doa tersebut  berbunyi: "di perayaan Rosh Hashanah hal ini dituliskan, dan pada perayaan Yom Kippur hal itu disegel, berapa banyak orang akan meninggalkan dunia ini dan berapa banyak yang akan dilahirkan ke dalamnya, yang akan hidup dan siapa yang akan mati ... namun pertobatan, doa dan perbuatan baik dapat membatalkan kerasnya keputusan "
  • Avienu Malkeinu - doa lain yang terkenal adalah Avienu Malkeinu, yang berarti "Bapa kami Raja kami" dalam bahasa Ibrani. Biasanya seluruh jemaat akan menyanyikan bait terakhir dari doa ini bersama-sama, yang mengatakan: ". “Bapa kami, Raja kami, jawablah kami seolah-olah kita tidak memiliki perbuatan untuk membela perkara kami, selamatkan kami dengan rahmat dan cinta kasih"

Berbagai Kebiasaan dan Simbol[3]

Pada perayaan Rosh Hashanah adalah sebuah kebiasaan untuk menyapa orang dengan "L'Shanah Tovah," bahasa Ibrani yang biasanya diterjemahkan sebagai "Untuk Tahun yang Baik" atau "Semoga Anda memiliki tahun yang baik." Beberapa orang juga mengatakan "L'shana Tovah tikatev v'etahetem," yang berarti "Semoga Anda akan tertulis dan disegel untuk tahun yang baik." (Jika diucapkan pada seorang wanita ucapannya akan menjadi: "L'shanah Tovah tikatevi v'tahetemi"). Ucapan ini mengacu pada keyakinan bahwa nasib seseorang untuk tahun mendatang adalah memutuskan selama Hari Kudus Tinggi.

Shofar merupakan simbol penting dari Rosh Hashanah. Ini adalah instrumen yang terbuat dari tanduk seekor domba jantan dan ditiup seratus kali selama masing-masing dari dua hari Rosh Hashanah. Suara ledakan shofar mengingatkan orang tentang pentingnya refleksi selama liburan penting. 

Tashlich adalah upacara yang biasanya berlangsung selama hari pertama Rosh Hashanah. Tashlich secara harfiah berarti "membuang" dan termasuk melambangkan pembuangan dari dosa-dosa tahun sebelumnya dengan melempar potongan roti atau makanan lain ke dalam tubuh air yang mengalir. 

DISKUSI SHEM TOV DENGAN ALBERT RUMAMPUK PERIHAL BABI, HALAL ATAU HARAM DAN PERSOALAN TERJEMAHAN EFESUS 2:15

Posted by Teguh Hindarto





Pengantar

Sdr Jimy Mangempis membuat artikel dengan judul, Babi: Halal atau Haram? Yang dimuat dalam Group Dialog Cerdas Antara Judeo Christianisme Dan Kristen (semula nama group ini Dialog Ringan Antara Judeo Christianisme Dan Kristen). Saat saya menanggapi artikel tersebut terjadi diskusi interaktif dengan Jimy Mangempis dan Albert Rumampuk.

Dalam laporan diskusi ini tidak ada pembahasan mengenai apakah babi halal atau haram karena saya merujukkan link saya terkait persoalan Imamat 11. Pembahasan dalam diskusi ini bergeser ke persoalan relevansi Torah dan tafsir Efesus 2:15. Pembaca dapat mengikuti diskusinya di link berikut:

http://www.facebook.com/groups/259025264138201/doc/259493857424675/

Agar pembaca dapat menyimak dan mengikuti diskusi ini maka saya membagi pembicaraan saya dengan Jimy Mangempis dan Albert Rumampuk secara terpisah agar fokus pembahasan menjadi jelas. 

Diskusi I (Shem Tov dan Albert Rumampuk)

Albert: Ya. Saya kira Pak Shem Tov adalah orang yang layak mengkritisi tulisan ini (maksudnya artikel Sdr Jimy Mangempis, red), yang menurut saya sangat menekankan PL
---------
Shem Tov: Saya tidak menekankan PL tapi mengaplikasikan Torah dalam kehidupan Kristiani sebagaimana Yesus dan para rasul lakukan.


Bukankah Yesus bersabda demikian:

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”(Matius 5:17-20)

Bukankah para rasul memberikan kesaksian kehidupan pengikut Mesias sbb:


“Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat” (Kisah Rasul 21:20).

Albert: Saya juga suka menerapkan Taurat. Tapi yang bagian mana? Nanti kita diskusikan lebih lanjut. Seharusnya anda membandingkan ayat2 tersebut dengan ini:

Ef 2:15 - “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah mem-batalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.

Mengapa dikatakan bahwa Yesus membatalkan Taurat?
----------------
Shem Tov: Sayang Anda tidak menanggapi jawaban saya. Mengenai Efesus 2:15 demikian penjelasan saya melalui link berikut:

APAKAH TORAH TELAH DIBATALKAN MENURUT EFESUS 2:15?


Albert: Rupanya anda sudah melihat konteks ya? Tidak seperti tempo hari...
Ok, Saya setuju dengan pemaparan konteks dari anda. Memang yang dimaksud dengan kata-kata "menciptakan keduanya menjadi satu" (Ef 2:14-15), menunjuk pada orang Yahudi dan non Yahudi. Alkitab katakan 'tembok pemisah' antar mereka 'dirubuhkan' (ayat 14). Apa yang dirubuhkan? Perseteruan. Mungkin ini menunjukkan adanya tembok pemisah yang memisahkan tempat orang Yahudi dan non Yahudi di Bait Allah. Tetapi SEKARANG, kedua belah pihak itu dipersatukan dalam Kristus.


Sekalipun konteksnya memang demikian, lalu bagaimana dengan kata-kata ini: Ef 2:15 “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah MEMBATALKAN HUKUM TAURAT dengan SEGALA PERINTAH dan KETENTUANNYA, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.

DISKUSI SHEM TOV DENGAN JIMY MAGEMPIS PERIHAL BABI, HALAL ATAU HARAM DAN PERSOALAN TERJEMAHAN EFESUS 2:15

Posted by Teguh Hindarto



Pengantar

Sdr Jimy Mangempis membuat artikel dengan judul, Babi: Halalu atau Haram? Yang dimuat dalam Group Dialog Cerdas Antara Judeo Christianisme Dan Kristen (semula nama group ini Dialog Ringan Antara Judeo Christianisme Dan Kristen). Saat saya menanggapi artikel tersebut terjadi diskusi interaktif dengan Jimy Mangempis dan Albert Rumampuk. Pembaca dapat mengikuti diskusinya di link berikut:

http://www.facebook.com/groups/259025264138201/doc/259493857424675/

Dalam laporan diskusi ini tidak ada pembahasan mengenai apakah babi halal atau haram karena saya merujukkan link saya terkait persoalan Imamat 11. Pembahasan dalam diskusi ini bergeser ke persoalan relevansi Torah dan tafsir Efesus 2:15.

Agar pembaca dapat menyimak dan mengikuti diskusi ini maka saya membagi pembicaraan saya dengan Jimy Mangempis dan Albert Rumampuk secara terpisah agar fokus pembahasan menjadi jelas. 

Diskusi I (Shem Tov dan Jimy Mangempis)

Shem Tov: Silahkan membaca kajian saya perihal aplikasi hukum Kashrut dalam kehidupan Kristiani di link berikut:


Semua asumsi yang diabangun untuk menihilkan syariat dalam Torah terkait hal yang boleh dan tidak boleh dimakan berdasarkan teks PB, saya buktikan keliru dalam link tersebut.

Jimy: Tetapi jangan jadikan masalah kesehatan ini sebagai doktrin! seakan-akan orang yang memakannya berdosa & melanggar perintah Tuhan
-----------
Shem Tov: Ini masalah ketaatan bukan soal keselamatan. Jika Tuhan memerintahkan kita untuk tidak membunuh, bukankah kita tidak taat? Ketidaktaatan=dosa. Demikian pula jika Tuhan menetapkan sejumlah hewan untuk tidak dimakan, bukankah kita pun seharusnya taat? Ketidaktaatan=dosa.

Jimy: Secara pribadi saya telah lama menggumuli masalah ini. Sejak kecil sampai SMA saya tidak memakan Babi namun setelah saya pelajari & mengerti, saya kemudian memutuskan untuk makan Babi. Namun karena pertimbangan kesehatan saya sangat membatasi memakannya.
-------------
Shem Tov: Apakah kita akan mentaati Firman Tuhan hanya setelah ada konfirmasi dari ilmu medis? Justru ilmu medis sekian ribu tahun kemudian membuktikan rahasia agung dibalik hukum kashrut dalam Imamat 11.

Jimy: Argumen sy memang belum byk membhs "word study" & "grammar", karena saya lebih menekankan pendekatan komprehensif dr perspektif Sidang Yerusalem, so point yg dihasilkan justru mengcounter pendekatan anda secara case by case.
-----------
Shem Tov: Justru itu, Anda masih mengandalkan terjemahan LAI dan belum cross check analisis bahasa sumber. Kajian saya sudah masuk ke wilayah itu.

Jimy: Ketaatan menyangkut sebuah perintah, dan perintah utk tdk memakan Babi dlm PL harus dilihat dr perspektif Injil Anugerah. Apakah saat ini anda juga tdk memakai baju dr 2 jenis bahan? memberi persembahan domba/merpati? :-). Perintah dlm PL utk tidak membunuh merupakan domain moral dimana Yesus meneguhkan prinsip moral ini, bahkan larangan tdk berzinah lebih dipertajam Yesus bhw melihat perempunan dan mengingininya juga masuk kategori berzinah. Tetapi aturan teknis non moral lainnya bersifat sementara & tidak diteguhkan kembali oleh Yesus
---------
Shem Tov: Kita fokuskan dulu pada perintah dalam Imamat 11. Ayat mana dalam PB yang membatalkan perintah tersebut. Apakah Tuhan mencla mencle dan menganulir perintahnya? Terkait masalah korban, memang itu bayangan yang menunjuk pada Mesias, namun bukan bermakna perintah-perintah dalam Torah dianulir termasuk perintah dalam Imamat 11.

Jimy: Pak Shem, artikel saya semula ditujukan utk menanggapi argumentasi Adventisme, ternyata argumen anda punya byk kemiripan dgn argumen mereka. So justru artikel saya masih cukup relevan utk mencounter beberapa point dlm artikel anda.

Argumen sy memang belum byk membhs "word study" & "grammar", karena saya lebih menekankan pendekatan komprehensif dr perspektif Sidang Yerusalem, so point yg dihasilkan justru mengcounter pendekatan anda secara case by case.
--------------
Shem Tov: Terkait soal relevansi Imamat 11 bisa jadi ada kemiripan dengan Adventisme. Namun dalam penyajian argumentasi belum tentu sama. Justru saya sarankan Anda jangan hanya mengandalkan terjemahan LAI dan mulai melakukan "word study" dan "grammar". Saya pernah mengulas beberapa kelemahan terjemahan LAI (walaupun saya masih tetap menggunakan terjemahan LAI karena nilai historis dan pemakaian bahasanya yang dinamis) sbb:

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/mengkaji-ulang-validitas-terjemahan-lai.html.

Jimy: Ketaatan menyangkut sebuah perintah, dan perintah utk tdk memakan Babi dlm PL harus dilihat dr perspektif Injil Anugerah. Apakah saat ini anda juga tdk memakai baju dr 2 jenis bahan? memberi persembahan domba/merpati? :-). Perintah dlm PL utk tidak membunuh merupakan domain moral dimana Yesus meneguhkan prinsip moral ini, bahkan larangan tdk berzinah lebih dipertajam Yesus bhw melihat perempunan dan mengingininya juga masuk kategori berzinah. Tetapi aturan teknis non moral lainnya bersifat sementara & tidak diteguhkan kembali oleh Yesus
----------
Shem Tov: Apa hubungannya Injil Anugrah yang diwakili dengan kehadiran Yesus sebagai Mesias dengan pembatalan Imamat 11? Apakah Anda bisa membuktikan bahwa Yesus makan babi dan membatalkan Imamat 11? Jika Yesus tetap beribadah hari Sabat (Luk 4:16) dan tetap memelihara perayaan Yahudi lainnya seperti Pondok Daun (Yoh 7:2), bagaimana mungkin Dia melanggar Imamat 11?.

Jimy: Masalah "ilmu medis" bukanlah masalah prinsip dr pengajaran Kristus, menghindari makan Babi berlebihan adalah tindakan bijaksana berkaitan dgn kesehatan dan bukan masalah firman Tuhan
----------
Shem Tov: Persoalannya, Yesus dan para rasulnya tidak pernah mengatakan untuk “menghindari makan Babi berlebihan”. Perintah Imamat 11 pun tidak mengatakan demikian. Silahkan Anda membaca kajian saya mengenai relevansi Imamat 11 dengan seksama dalam link berikut:


Jimy: Mengenai Kis 21:20, sepertinya anda hanya mengutip satu ayat dan mengabaikan konteksnya.. waduh pak Shem :-(. Perhatikan kutipan lengkapnya:

“Mendengar itu mereka memuliakan Allah. Lalu mereka berkata kepada Paulus: "Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita”.

MENGENAI KATA "MAKHMADIM" DALAM KIDUNG AGUNG 5:16

Posted by Teguh Hindarto


TANGGAPAN UNTUK SITUS JEWS FOR ALLAH

Siapakah Kelompok “Jews for Allah?”

Mereka adalah kelompok orang-orang Yahudi yang berasal dari Yudaisme khususnya rabi-rabi Yahudi yang telah memeluk agama Islam dan memiliki tujuan untuk menjangkau orang-orang Yahudi atau keturunan Yahudi untuk memeluk agama Islam.

Mereka memiliki semboyan,“Rescuing Jews from flesh worship, Paganisme, Atheism and Talmudism[1] (menyelamatkan orang-orang Yahudi dari ibadah lahirian, penyembahan berhala, ateisme dan kepercayaan terhadap Talmud).

Mereka memiliki sejumlah situs yang didirikkan dan berafiliasi dengan situs Jews For Allah yaitu: MICHAEL'S PAGE, PENOMEE'S PAGE , AMIN'S PAGE, FOUAD'S PAGE, DAVID'S PAGE, MARYAM'S PAGE, EMAD'S PAGE, ISA'S PAGE[2]

Beberapa tokoh Yudaisme yang memeluk agama Islam al., Michael David Shapiro, Yiddishe Muslimah, Yousef al Khatab, Qamar al Khattab (Luna "Melul" Cohen), Abdel Rahman al Khattab (Rahamim Cohen), Hesibeh al Khattab (Hesibeh Cohen), Abdel Aziz al Khattab (Ezra Cohen), Abdullah al Khattab (Ovadia Cohen), Mohammed Ben Zerroda, Josh Hasan, Adam Wolfer, Ali ibn Sahl , Aisha, Samau'al al-Maghribi, Prof. Abdullah Shleifer, Abd al-Haqq Islami , Ka`b al-Ahbar, Rashid al-Din, Ibn Kammuna, Sayed Udeen, Mohammed Yusuf, Sind b. ‘Ali, Muhammad (Abu Abdullah) Samuels, Hudhayfa b. al-Yaman, `Ammar b. Yasir, Abu Malik `Abdallah b. Sam of Kinda, Michelle, Isa Adam Naziri[3]. Beberapa foto mereka dapat diunduh di link berikut[4].

Mereka telah berupaya menerjemahkan Qur’an dalam bahasa Arab. Sayangnya upaya mereka kurang berhasil karena sejak tahun 2000-an saya menemukan situs ini, ternyata mereka hanya mampu menerjemahkan Al Fatihah dalam bahasa Ibrani.[5]

Sebenarnya kelompok ini termotifasi oleh keberhasilan situs Jews-for-Jesus.org [6] yang berhasil menjangkau 300.000 orang-orang Yahudi menjadi pengikut Yesus, sementara jumlah orang Yahudi sekitar 10 juta di seluruh dunia. Mohamed Ghounem, pendiri situs Jews for Allah berkata bahwa jika orang-orang Kristen berhasil membawa Yudaisme kepada pemahaman yang Politeis dan Triteis, sudah seharusnya Islam mengajak penganut Yudaisme pada Monoteis sejati dalam Islam[7]. 

Tujuan Jews for Allah adalah, “Our goal is not to kill the Jews, but instead Enlighten them by guiding them to the Right Path , Our goal is to convert the 10 million Jews in the world to Islam , yet *every* new Jewish Muslim is a new brother or sister in Islam and important” (Tujuan kita bukanlah untuk membunuh orang-orang Yahudi, sebaliknya memberikan mereka pencerahan dengan menuntun mereka pada jalan yang benar. Tujuan kita adalah mempertobatkan 10 juta orang-orang Yahudi di dunia Islam, sehingga (setiap) orang-orang Yahudi Muslim yang baru adalah saudara lelaki dan saudara perempuan dalam Islam dan teramat penting)

Islam Mesianik di Indonesia Sebagai Kepanjangan Tangan Jews for Allah

Akhir-akhir ini saya mendengar istilah Islam Mesianik dan banyak pertanyaan yang ditujukan pada saya mengenai apa dan bagaimana Islam Mesianik. Istilah Islam Mesianik pertama kali saya baca dalam tulisan seseorang yang menggunakan akun Facebook (bukan nama sebenarnya) yaitu Priscillia Daniel  alias Helena Shimeon Daniel (meski menggunakan nama dan foto perempuan namun pemilik akun adalah seorang lelaki).

Dalam artikel yang ditulis Priscilla Daniel dengan judul Mengenal Aliran Islam Messianic Indonesia[8],dikutip surat seorang tokohnya di Indonesia bernama Mochamad Ali (Menahem Eliy) yaitu penulis buku Discovering the Hebraic Root of Islamic Messiah: A Study of Semitic Philology on the Hebrew Torah, the Jerusalem Talmud and the Midrash[9]

Dear brother Shemiah. 

I have a good will to spread over the movement of Messianic Islam among the the Abrahamic believers such as Messianic Jews, Arab Moslems and Zionist Christians in Indonesia, so that why I coordinate with other Moslem brothers and sisters in Southeast Asia to enrich their episteme about the existence of the Jews for Allah,... and cooperate together with them to introduce the Islamic mission for the Jews and the world. I hope you will be the one of representatives for the divine guidance which so-called the Last Testament, the Quran. 

Todaraba. 

(Moch Ali, Letter for Shemiah Girgis Al Khodry)

Dalam artikelnya, Priscillia Daniel mengklaim bahwa Islam Mesianik sudah dikembangkan sejak Ibnu Ishaq hingga diterjemahkan dalam bentuk-bentuk modern. Salah satunya di Indonesia dikembangkan oleh Moch. Ali alias Menahem Eliy. 

Priscillia Daniel menulis, “Namun demikian aliran-aliran Messianik dari Islam dan Kristen tidak begitu kuat untuk dapat bersaing ,Moch Ali, K.Min seorang sarjana filologi Indonesia yang pernah berguru dengan Abdullah Wasian, yang juga dikenal sebagais pemikir KeIslaman yang meruapkan putra kaum bangsa Madura dan keturunan yahudi Falani . Beliau menyusun sebuah organisasi yang bertujuan mengkaji Kristologi untuk memperkenanlkan dan memberikan argumen contra positif. Namun demikian kekuatan Messianisme yang dirancang oleh beliau masih sulit untuk dikenal dan belum juga cukup dekat dengan kalangan umat Islam”[10]

Dalam artikel terbarunya yang berjudul, “Messianic Islam Indonesia : Treatise On Sincretism”, Helena Shimeon Daniel (bukan nama sebenarnya) menjelaskan perihal Islam Mesianik sbb: “Islam Messianik merupakan komunitas & lembaga penyelidikan, riset dan penelaahan terhadap kajian - kajian dalam bidang - bidang Islamogi & Yudeologi sebagai bentuk dialog dan perdamaian antara komunitas - komunitas Islam & Yudaisme untuk membendung serangan-serangan brutal yang dialancarkan kelompok Jewish Messianic yang dipelopori oleh Tuya Zarosky (www.jews-for-jesus.org) & aliran Christian Judaisme yang merupakan lembaga propaganda untuk menghadapi komunitas Yahudi”

Dalam perbincangan melalui pesan singkat dengan Moch. Ali atau Menahem Eliy, saya mendapat keterangan bahwa Islam Mesianik memang bentuk lain atau kepanjangan tangan Jews for Allah dan didukung oleh beberapa artis keturunan Yahudi di Indonesia.

Menjawab Kajian Jews for Allah Mengenai Kidung Agung 5:16

Dari sekian banyak artikel yang dipublikasikan oleh Jews for Allah, saya akan memfokuskan pada kajian terhadap Kidung Agung 5:16 yaitu kata Ibrani Makhmadim yang diklaim sebagai nubuat untuk Muhamad. Karena beberapa nubuatan dalam Torah yang diklaim untuk Muhamad yang ditulis dalam situs Jews for Allah hanya mengulang pendapat salah seorang mantan pastor Katolik yang berpindah Islam pada Abad XIX yaitu Prof Abdul Ahad Dawud yang menuliskan buku Muhamad in the Bible (yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Al Mahira di Indonesia), maka saya akan membahas secara tersendiri argumentasi dalam buku Muhamad in the Bible.

Dalam salah satu artikel berjudul “Was he Solomon, Jesus or Muhammad ?”[11] (Apakah yang dimaksudkan oleh Salomo adalah Yesus atau Muhamad?) diklaim bahwa Kidung Agung 5:16 adalah nubuatan untuk Muhamad. Demikian argumentasi mereka:

The 5th chapter of Songs of Solomon is discussing someone. Jews will say it is discussing Solomon, while Christians will say it is discussing Jesus. Considering this is the Songs of Solomon, it would seem logical that it is discussing Solomon. The verses describing this mystery man have the narators speech conjuagted in the feminine (meaning it is a woman who is describing this man) so it is possible that it is one of Solomon's wives discussing her Husband (Solomon). However, if a Christian tries to assert that Jesus is being discussed, then they are insinuating that this is discussing a future prophet (a man who was not yet alive at that point), a prophesy.... If the 5th chapter of Songs of Solomon is looking into the future, then there is no doubt it is discussing Muhammad.

(Kitab Kidung Agung Pasal 5:16 membicarakan mengenai seseorang. Orang-orang Yahudi akan berkata bahwa ayat ini membicarakan Salomo sementara orang Kristen akan mengatakan bahwa ayat ini membicarakan mengenai Yesus. Mempetimbangkan hal ini maka lebih masuk akal bahwa ayat ini memang membicarakan mengenai Salomo. Ayat-ayat tersebut menggambarkan sosok laki-laki misterius dimana pencerita menggunakan bentuk kata feminin (artinya ini seorang perempuan yang menggambarkan seorang laki-laki). Sehingga sangat mungkin bahwa ini adalah salah seorang istri Salomo yang sedang membicarakan suaminya. Namun jika Kekristenan mencoba untuk memaksakan bahwa ayat ini membicarakan mengenai Yesus, maka mereka menyindir secara tidak langsung bahwa ayat ini sedang membicarakan nabi masa depan (seseorang yang belum muncul saat itu), sebuah nubuatan. Jika Kidung Agung Pasal 5 melihat masa yang akan datang maka tidak diragukan bahwa ayat ini membicarakan mengenai Muhamad).