KITAB DIDAKE
Posted by
SIGNIFIKASINYA TERHADAP KEKRISTENAN MASA KINI
Penemuan Naskah[1]
Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan Monastery of the Most Holy Sepulchre di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama "ManuskripYerusalem" (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54.
Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon Penyalin dan pendosa (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalender Yunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11.
Isi Manuskrip Yerusalem[2]
Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut:
- Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian-bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa.
- Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti.
- Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut.
- Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan.
- Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius).
- Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius).
Otentisitas Naskah[3]
Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Buktibukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios.
Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, "Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian," dan menisbahkan teks tersebut kepada Kitab Suci.
Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Sejarah Gereja, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, "Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul." Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, "Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala." Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua.
Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Sejarah Gereja, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan'. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache.
Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu.
St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache.
Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis.
Kepenulisan kitab tersebut masih dipertanyakan apakah ditulis oleh rasul-rasul sebagaimana klaim penulis kitab tersebut atau ditulis beberapa ratus kemudian oleh murid yang mengatasnamakan rasul-rasul, tidaklah dapat dipastikan[4]. Kapan kitab ini mulai ditulis masih simpang siur. Ada yang menempatkan pada Abad IV Ms dan ada pula yang menempatkan pada Abad I Ms[5]. Keberadaan kitab Didake memang sudah disinggung dalam tulisan para Bapa Gereja seperti Eusebeius, Athanasius, Clement[6]
Isi Kitab Didake[7]
Kitab Didake berisi 16 pasal, yaitu:
- Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan).
- Pasal 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong-motong roti (pasal9 dan 10).
- Pasal 10 dan 11: hirarki gereja.
- Pasal 16: menunggu kedatangan Tuhan.
Kitab Kanonik dan Ekstrakanonik
Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja.
Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) Anantireta (tidak ditolak) atauHomologoumena (diakui), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) Amphiballomena(diperdebatkan), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) Psethde (keliru), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang.
Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) Homologoumena (diakui), (b) Antilegomena (diperdebatkan), yang terbagi dua kategori lagi yaitu gnorima (dikenal), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan Notha (tidak sah), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) Apocrypha (tersembunyi), yang dianggap sebagai kepalsuan.
Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu : (a) Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c)Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik[8]
Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilahkan kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).
Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.
Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus(Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.
Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms),Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikarpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).
Geisler menempatkan Didake dalam daftar Apokrifa. Namun tidak semua penulis Kristen sepakat dengan penempatan Kitab Didake dalam daftar Apokrifa Perjanjian Baru.
Dalam situs Early Christian Writing justru Kitab Didake tidak masuk dalam daftar Apokrifa. Berikut daftar Apokrifa menurutt Early Christian Writing:
- The Gospel of Thomas
- Oxyrhynchus 1224 Gospel
- The Egerton Gospel
- The Gospel of Peter
- Secret Mark
- The Gospel of the Egyptians
- The Gospel of the Hebrews
- The Apocalypse of Peter
- The Secret Book of James
- The Preaching of Peter
- The Gospel of the Ebionites
- The Gospel of the Nazoreans
- The Oxyrhynchus 840 Gospel
- The Traditions of Matthias
- The Gospel of Mary
- The Dialogue of the Savior
- The Gospel of the Savior
- The Epistula Apostolorum
- The Infancy Gospel of James
- The Infancy Gospel of Thomas
- The Acts of Peter
- The Acts of John
- The Acts of Paul
- The Acts of Andrew
- The Acts of Peter and the Twelve
- The Book of Thomas the Contender
- The Acts of Thomas[9]
Gereja Orthodok memasukkan Kitab Didake dalam daftar kanonnya yang berjumlah 81 kitab[10]. Sementara Katolik, Orthodox, Protestan tidak memasukkan dalam daftar kanon namun menjadikan kitab tersebut sebagai sumber sejarah yang mengungkap kehidupan jemaat perdana.
Benarkah Kitab Didake Adalah Versi Surat Rasul-Rasul
Dalam Kisah Rasul 15:27?
Akhir-akhir ini munjul kelompok jemaat yang menamakan diri mereka dengan sejumlah nama al., Jemaat Yerusalem (Assembly of Jerusalem), Esseni Nasrani dll. Mereka mengklaim sebagai Bunda Gereja yang merupakan jemaat yang dipimpin oleh garis keturunan kerabat Yesus yang disebut Shemishqo atau Desposyni.
Mereka mendasarkan Kitab Suci mereka pada Peshitta Aramaik dan sejumlah kitab lainnya seperti Sefer Av Kadmonim, Sefer Shakanyah, Injil Thomas dll. Mereka menyalahkan kepemimpinan Gereja Katolik dan Ortodox sebagai bentuk kemurtadan Gereja terhadap Bunda Gereja yaitu Jemaat Yerusalem. Berikut pernyataan Rabbi (Sh’masha) Hotman Lumbantoruan selalu salah satu dari orang yang ditahbiskan oleh Jemaat Yerusalem di Indonesia sbb: “Keliru besar Gereja Kristen yang mendasarkan kepemimpinan pada Shimon Keipha, saudara Keipha dan anaknya Keipha sebagai Ketua dan Wakil Tuhan seperti Roma Katolik, Gereja Ortodoks Antiokhia, Konstantinople dan Koptik. Shimon Keipha BUKAN Kohen (Imam), tetapi hanya “Uskup” yang masuk kelompok Penatalayanan (Servanthood) yang merupakan perpanjangan dari Keimamatan ( Kehunnah /Kohaneim – Priesthood)”[11]






