RSS Feed

KITAB DIDAKE

Posted by Teguh Hindarto



SIGNIFIKASINYA TERHADAP KEKRISTENAN MASA KINI

Penemuan Naskah[1] 

Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan Monastery of the Most Holy Sepulchre di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama "ManuskripYerusalem" (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54.

Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon Penyalin dan pendosa (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalender Yunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11.


Isi Manuskrip Yerusalem[2]

Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut:
  1. Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian-­bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa.
  2. Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti.
  3. Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut.
  4. Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan.
  5. Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius).
  6. Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius).

Otentisitas Naskah[3]

Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Bukti­bukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios.

Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, "Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian," dan menisbahkan teks tersebut kepada Kitab Suci.

Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Sejarah Gereja, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, "Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul." Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, "Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala." Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua.

Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Sejarah Gereja, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan'. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache.

Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu.

St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache.

Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis.

Kepenulisan kitab tersebut masih dipertanyakan apakah ditulis oleh rasul-rasul sebagaimana klaim penulis kitab tersebut atau ditulis beberapa ratus kemudian oleh murid yang mengatasnamakan rasul-rasul, tidaklah dapat dipastikan[4]. Kapan kitab ini mulai ditulis masih simpang siur. Ada yang menempatkan pada Abad IV Ms dan ada pula yang menempatkan pada Abad I Ms[5]. Keberadaan kitab Didake memang sudah disinggung dalam tulisan para Bapa Gereja seperti Eusebeius, Athanasius, Clement[6]

Isi Kitab Didake[7]

Kitab Didake berisi 16 pasal, yaitu:
  1. Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan).
  2. Pasal 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong-­motong roti (pasal9 dan 10).
  3. Pasal 10 dan 11: hirarki gereja.
  4. Pasal 16: menunggu kedatangan Tuhan.

Kitab Kanonik dan Ekstrakanonik

Selama Abad ke-III Ms, Origenes sebagaimana Klement dari Alexandria berhadapan dengan masalah tidak adanya batasan tetap diantara apa yang disebut daftar kitab yang disebut Kanon dan daftar kitab yang disebut Non Kanon, oleh gereja.

Dia menyusun kategori tulisan-tulisan Kristen dengan istilah-istilah sbb: (a) Anantireta (tidak ditolak) atauHomologoumena (diakui), yang dipergunakan secara umum oleh komunitas Kristen pada waktu itu, (b) Amphiballomena(diperdebatkan), yang masih diperdebatkan kelayakannya, dan (c) Psethde (keliru), termasuk buku-buku yang dikategorikan pemalsuan dan menyimpang.

Klasifikasi ini diperbarui oleh Eusebius dari Kaisarea selama Abad ke-IV Ms dengan sebutan (a) Homologoumena (diakui), (b) Antilegomena (diperdebatkan), yang terbagi dua kategori lagi yaitu gnorima (dikenal), karena banyak orang-orang Kristen mengakuinya dan Notha (tidak sah), karena dianggap sebagai tidak asli serta (c) Apocrypha (tersembunyi), yang dianggap sebagai kepalsuan.

Kategori-kategori tersebut akhirnya ditetapkan menjadi empat istilah baku yaitu : (a) Homologoumena, daftar kitab yang diterima oleh hampir sebagian besar orang-orang (b) Antilegomena, buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang (c)Pseudoepigrapha, daftar kitab yang oleh gereja dianggap tidak asli dan ditolak serta (d) Apocrypha, buku yang dianggap oleh beberapa orang sebagai kanonik dan semi kanonik[8]

Berkaitan dengan daftar kitab-kitab yang diistilahkan kelak dengan Perjanjian Baru yang meliputi Homologumena adalah daftar kitab yang telah diterima oleh Kekristenan yang terdaftar dalam kanon termasuk 27 Kitab Perjanjian Baru (dari Matius sampai Wahyu).

Yang dikategorikan Antilegomena ada tujuh kitab yang diperdebatkan baik dari segi keaslian penulisnya maupun isinya. Yang dikategorikan Antilegomena berada dalam daftar susunan Homologoumena al., Kitab Ibrani, Kitab Yakobus, 2 Petrus, 2 & 3 Yohanes, Yudas, Wahyu.

Yang dikategorikan sebagai Pseudoepigrapha al.,Injil Thomas (Awal Abad II Ms), Injil Ebionit (Abad II Ms), Injil Petrus(Abad II Ms), Proto Injil Yakobus (Akhir Abad II Ms), Injil orang-orang Ibrani (Abad II Ms), Injil orang-orang Mesir (Abad II Ms), Injil orang-orang Nazaren (Awal Abad II Ms), Injil Filipus (Abad II Ms), Kitab Thomas Sang Atlit, Injil menurut Mathias, Injil Yudas, Epistula Apostolorum (surat-surat rasuli), Apcryphon Yohanes, Injil Kebenaran.

Yang dikategorikan Apocrypha al., Surat Pseudo Barnabas (70-79 Ms), surat kepada orang-orang Korintus (96 Ms),Surat ke-2 Klement, Homili kuno (120-140 Ms), Gembala Hermas (115-140 Ms), Didache, Ajaran Rasul-rasul 12 (100-120 Ms), Wahyu Petrus (150 Ms), Kisah Paulus & Thecla (170 Ms), Surat kepada orang-orang Laodikea, Injil menurut orang-orang Ibrani (65-100 Ms), Surat Polikarpus kepada orang-orang Efesus (108 Ms), Tujuh surat-surat Ignatius (110 Ms).

Geisler menempatkan Didake dalam daftar Apokrifa. Namun tidak semua penulis Kristen sepakat dengan penempatan Kitab Didake dalam daftar Apokrifa Perjanjian Baru.

Dalam situs Early Christian Writing justru Kitab Didake tidak masuk dalam daftar Apokrifa. Berikut daftar Apokrifa menurutt Early Christian Writing:

  1. The Gospel of Thomas
  2. Oxyrhynchus 1224 Gospel
  3.  The Egerton Gospel
  4. The Gospel of Peter
  5.  Secret Mark
  6.  The Gospel of the Egyptians
  7. The Gospel of the Hebrews
  8.  The Apocalypse of Peter
  9.  The Secret Book of James
  10.  The Preaching of Peter
  11. The Gospel of the Ebionites
  12. The Gospel of the Nazoreans
  13. The Oxyrhynchus 840 Gospel
  14.  The Traditions of Matthias
  15. The Gospel of Mary
  16.  The Dialogue of the Savior
  17.  The Gospel of the Savior
  18.  The Epistula Apostolorum
  19. The Infancy Gospel of James
  20. The Infancy Gospel of Thomas
  21.  The Acts of Peter
  22.  The Acts of John
  23.  The Acts of Paul
  24.  The Acts of Andrew
  25.  The Acts of Peter and the Twelve
  26.  The Book of Thomas the Contender
  27.  The Acts of Thomas[9]
Gereja Orthodok memasukkan Kitab Didake dalam daftar kanonnya yang berjumlah 81 kitab[10]. Sementara Katolik, Orthodox, Protestan tidak memasukkan dalam daftar kanon namun menjadikan kitab tersebut sebagai sumber sejarah yang mengungkap kehidupan jemaat perdana.

Benarkah Kitab Didake Adalah Versi Surat Rasul-Rasul
Dalam Kisah Rasul 15:27?

Akhir-akhir ini munjul kelompok jemaat yang menamakan diri mereka dengan sejumlah nama al., Jemaat Yerusalem (Assembly of Jerusalem), Esseni Nasrani dll. Mereka mengklaim sebagai Bunda Gereja yang merupakan jemaat yang dipimpin oleh garis keturunan kerabat Yesus yang disebut Shemishqo atau Desposyni. 

Mereka mendasarkan Kitab Suci mereka pada Peshitta Aramaik dan sejumlah kitab lainnya seperti Sefer Av Kadmonim, Sefer Shakanyah, Injil Thomas dll. Mereka menyalahkan kepemimpinan Gereja Katolik dan Ortodox sebagai bentuk kemurtadan Gereja terhadap Bunda Gereja yaitu Jemaat Yerusalem. Berikut pernyataan Rabbi (Sh’masha) Hotman Lumbantoruan selalu salah satu dari orang yang ditahbiskan oleh Jemaat Yerusalem di Indonesia sbb: “Keliru besar Gereja Kristen yang mendasarkan kepemimpinan pada Shimon Keipha, saudara Keipha dan anaknya Keipha sebagai Ketua dan Wakil Tuhan seperti Roma Katolik, Gereja Ortodoks Antiokhia, Konstantinople dan Koptik. Shimon Keipha BUKAN Kohen (Imam), tetapi hanya “Uskup” yang masuk kelompok Penatalayanan (Servanthood) yang merupakan perpanjangan dari Keimamatan ( Kehunnah /Kohaneim – Priesthood)”[11]

PENYALIBAN YESUS DIMATA KAUM AHMADIYAH

Posted by Teguh Hindarto



Siapakah yang dimaksudkan dengan Ahmadiyah itu?[1] 

Ahmadiyah adalah gerakan reformis Islam yang didirikan di British India menjelang akhir abad ke-19, yang berasal dengan kehidupan dan ajaran (1835-1908), yang mengklaim sebagai nabi dan telah memenuhi nubuat sebagai pembaharu dunia akhir zaman, yang akan memberitakan mengenai akhir zaman tersebut seperti yang diperkirakan dalam tradisi agama-agama dunia dan mengadakan berbagai kemenangan akhir Islam sesuai nubuatan Islam.

Mirza Ghulam Ahmad mengklaim bahwa dia adalah mujaddid (pembaharu ilahi) Islam ke-14, Mesias yang dijanjikan dan Mahdi yang dinantikan oleh umat Islam. Para pengikut gerakan Ahmadiyah disebut sebagai Ahmadiyah atau Ahmadi Muslim. Ahmadi penekanan  pada keyakinan bahwa Islam adalah dispensasi akhir untuk kemanusiaan sebagaimana diturunkan kepada Muhammad dan perlunya memulihkan untuk itu esensi sejati dan bentuk murni, yang telah hilang selama berabad-abad. Dengan demikian, Ahmadi melihat diri mereka sebagai yang memimpin kembali dan melakukan propagasi damai Islam. Kaum Ahmadiyah telah ada di antara komunitas Muslim paling awal yang tiba di Inggris dan negara-negara Barat lainnya.

Mirza Ghulam Ahmad mendirikan gerakan ini pada tanggal 23 Maret 1889 dan menyebutnya Jama'at Muslim Ahmadiyah serta menganggap itu sebagai revitalisasi Islam. Ahmadiyah menganggap diri Muslim dan mengklaim menerapkan Islam dalam bentuk yang murni, namun, pandangan Ahmadiyah tentang keyakinan tertentu dalam Islam telah menjadi kontroversi bagi Muslim tradisional sejak lahirnya gerakan itu. Muslim tradisional tidak menganggap Ahmadiyah sebagai muslim, dengan mengutip khususnya sudut pandang Ahmadiyah tentang kematian dan kembalinya Yesus, konsep Ahmadiyah Jihad dalam format damai dan pandangan masyarakat tentang finalitas kenabian dengan khususnya mengacu pada interpretasi Quran 33:40.

Di negara-negara Islam Ahmadiyah beberapa hari ini telah terpinggirkan oleh masyarakat mayoritas beragama; mengalami penganiayaan berat. Berbagai penindasan sistematis telah menyebabkan Ahmadiyah banyak yang pindah dan menetap di tempat lain.

Perbedaan Diantara Jemaat Ahmadiyah[2] 

Para pengikut Ahmadiyah, yang disebut sebagai Ahmadi atau Muslim Ahmadi, terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ialah "Ahmadiyya Muslim Jama'at" (atau Ahmadiyah Qadian). Pengikut kelompok ini di Indonesia membentuk organisasi bernama Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang telah berbadan hukum sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953).

Kelompok kedua ialah "Ahmadiyya Anjuman Isha'at-e-Islam Lahore" (atau Ahmadiyah Lahore). Di Indonesia, pengikut kelompok ini membentuk organisasi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia, yang mendapat Badan Hukum Nomor I x tanggal 30 April 1930. Anggaran Dasar organisasi diumumkan Berita Negara tanggal 28 November 1986 Nomor 95 Lampiran Nomor 35.

Atas nama Pemerintah Indonesia, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung Indonesia pada tanggal 9 Juni 2008 telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama, yang memerintahkan kepada penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya yang bertentangan dengan Islam. 

Perbedaan Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore[3]

Terdapat dua kelompok Ahmadiyah. Keduanya sama-sama mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa al Masih yang telah dijanjikan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dua kelompok tersebut memiliki perbedaan prinsip:

Ahmadiyah Qadian, di Indonesia dikenal dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Bogor), yakni kelompok yang mempercayai bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi yang tidak membawa syariat baru.

Pokok-Pokok Ajaran Ahmadiyah Qadian sebagai berikut:

1.     Mengimani dan meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad, laki-laki kelahiran India yang mengaku menjadi nabi, adalah nabinya.
2.     Mengimani dan meyakini bahwa "Tadzkirah" yang merupakan kumpulan sajak buatan Mirza Ghulam Ahmad adalah kitab sucinya. Mereka menganggap bahwa wahyu adalah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
3.     Mengimani dan meyakini bahwa kitab "Tadzkirah" derajatnya sama dengan Alquran.
4.     Mengimani dan meyakini bahwa wahyu dan kenabian tidak terputus dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian terus berlanjut sampai hari kiamat.
5.     Mengimani dan meyakini bahwa Rabwah dan Qadian di India adalah tempat suci sebagaimana Mekah dan Madinah.
6.     Mengimani dan meyakini bahwa surga berada di Qadian dan Rabwah. Mereka menganggap bahwa keduanya sebagai tempat turunnya wahyu.
7.     Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan laki-laki di luar Ahmadiyah, namun laki-laki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita di luar Ahmadiyah.
8.     Haram hukumnya salat bermakmum dengan orang di luar Ahmadiyah.

Ahmadiyah Lahore, di Indonesia dikenal dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (berpusat di Yogyakarta). Secara umum kelompok ini tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, melainkan hanya sekedar mujaddid dari ajaran Islam .

Selengkapnya, Ahmadiyah Lahore mempunyai keyakinan bahwa mereka:

1.     Percaya pada semua aqidah dan hukum-hukum yang tercantum dalam al Quran dan Hadits, dan percaya pada semua perkara agama yang telah disetujui oleh para ulama salaf dan ahlus-sunnah wal-jama'ah, dan yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.
2.     Nabi Muhammad SAW adalah khatamun-nabiyyin. Sesudahnya tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.
3.     Sesudah Nabi Muhammad SAW, malaikat Jibril tidak akan membawa wahyu nubuwat kepada siapa pun.
4.     Apabila malaikat Jibril membawa wahyu nubuwwat (wahyu risalat) satu kata saja kepada seseorang, maka akan bertentangan dengan ayat: walâkin rasûlillâhi wa khâtamun-nabiyyîn (QS 33:40), dan berarti membuka pintu khatamun-nubuwwat.
5.     Sesudah Nabi Muhammad SAW silsilah wahyu nubuwwat telah tertutup, akan tetapi silsilah wahyu walayat tetap terbuka, agar iman dan akhlak umat tetap cerah dan segar.
6.     Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa di dalam umat ini tetap akan datang auliya Allah, para mujaddid dan para muhaddats, akan tetapi tidak akan datang nabi.
7.     Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad 14 H. Dan menurut Hadits, mujaddid akan tetap ada. Dan kepercayaan kami bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi, tetapi berkedudukan sebagai mujaddid.
8.     Percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad bukan bagian dari Rukun Islam dan Rukun Iman, maka dari itu orang yang tidak percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa disebut kafir.
9.     Seorang muslim, apabila mengucapkan kalimah thayyibah, dia tidak boleh disebut kafir. Mungkin dia bisa salah, akan tetapi seseorang dengan sebab berbuat salah dan maksiat, tidak bisa disebut kafir.
10. Ahmadiyah Lahore berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah pelayan dan pengemban misi Nabi Muhammad SAW.

Dogma Kashrush Salib

Kaum Ahmadiyah gencar dalam melakukan serangan dan dakwaan yang membantah historitas dan makna soteriologis peristiwa salib. Berbagai kajian dipublikasikan untuk meruntuhkan doktrin dan fakta peristiwa penyaliban Yesus. Dogma mereka dinamakan “Kashrush Salib” dengan merujuk bunyi Hadits sbb: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya hampir turun kepadamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, maka ia akan memecahkan salib (yaksirush-shalib) …” (H.r. Bukhari) 

Kata yaksirush-shalib menurut Mulla Ali Al-Qari (1041 H/1606 M) artinya adalah membatalkan  kepercayaan  Kristen   (Al-Mirqah, jilid V, hlm. 221). Sedang Ibnu Hajar Al-Asqalani,  Mujaddid abad VIIIH menerangkan bahwa ”yaksirush-shalib artinya mematahkan kepercayaan Kristen” (Fathul-Barri, jilid VI, hlm. 356). Kitab Biharul-Anwar menerangkan, bahwa yaksirush-shalib adalah  menolak  dengan bukti-bukti  yang nyata akan kepercayaan Kristen dan memecahkan kepercayaannya. Jadi yaksirush-shalib adalah membatalkan dan mematahkan atau menolak kepercayaan Kristen dengan bukti-bukti yang nyata atau dalil-dalil yang kuat. Kepercayaan pokok Gereja Kristen adalah ketuhanan Yesus Kristus (5:17,72; lih 1 Kor 12:3), sebagai bukti ketuhananya mati disalib lalu bangkit dari kubur, kemudian naik ke langit nanti pada akhir zaman turun ke  dunia  menjadi hakim yang adil. Jika bantahan Qur’an Suci 4:157 tentang tidak matinya Isa Almasih di tiang salib diungkapkan, simbol salib yang memenuhi bumi dipecah dan dipatahkan, sebab simbol salib  merupakan manifestasi kepercayaan Yesus mati disalib, padahal sejatinya hanya serupamati saja di tiang salib. Maka dari itu kebangkitan  pada  hari ketiga hal  yang wajar, bukan bangkit dari maut, sebab  menurut Kitab Suci orang yang telah mati tak akan  kembali  hidup di dunia, sebagaimana diajarkan oleh Ayub  (Ayub 7: 7-10), Daud (2 Sam 12:19-23) kemudian diperkuat oleh Nabi Suci Muhammad saw (21:95; 36:31)[4].

Ali Yasir, dalam bukunya, Mengungkap Misteri Penyaliban Yesus, menyatakan bahwa Isa memang disalibkan namun tidak mati melainkan nampaknya saja. Kelihatannya Isa mengalami kematian[5].

KEMATIAN YANG MENGHIDUPKAN

Posted by Teguh Hindarto



Pernyataan, “kematian yang menghidupkan” mengesankan kontradiksi. Betapa tidak? Bukankah kematian identik dengan ketidakberdayaan selamanya? Bagaimana mungkin kematian dan ketidakberdayaan dapat menghidupkan?

Inilah yang telah dikerjakan Yesus Sang Mesias, bahwa kematiannya bukan sebuah kekalahan dan kesia-siaan. Kematian Yesus Sang Mesias di kayu salib memiliki makna soteriologis yang mendalam. Dengan kata lain memiliki makna keselamatan.

Kita akan mengkaji makna kematian Yesus Sang Mesias melalui pembacaan Kitab Ibrani Pasal 8-10. Namun kita akan terlebih dahulu mengkaji mengenai kepenulisan Kitab Ibrani.

Penulis Kitab Ibrani

Banyak teolog Kristen meragukan kepenulisan rasul Paul sebagai penulis Kitab Ibrani, mengingat struktur bahasa, isi pembahasan dan bahasa Yunani yang lebih baik susunannya. Namun jika kita membaca kesaksian Bapa Gereja (Church Fathers) salah satunya bernama Klement dari Alexandria (200 Ms) yang dikutip oleh sejarawan Eusebeius dalam karyanya Historiae Eclesiastica - History of the Church, beliau mengatakan sbb: “That the letter is Paul’s and that is written to Hebrews in the Hebrew language and translated (into Greek) by Luke”[1] (surat ini buatan Paul dan ditulis dalam bahasa Ibrani kepada orang-orang Ibrani dan diterjemahkan oleh Lukas). Sementara Bapa Gereja Origenes (280 Ms) menyatakan agak berbeda demikian, “The thought are those of the emmisary, but the language and composition that of one who recalled from memory and as it were, made notes of what was said by his master”[2] (pemikirannya merupakan pemikiran rasuli namun susunan bahasa dan komposisi merupakan hasil dari mereka yang menyimpan kenangan rasuli dan membuat catatan dari apa yang pernah diucapkan gurunya). Jika Klement dengan tanpa keraguan menyatakan rasul Paul penulisnya, maka Origenes menyangsikan kepengarangan rasul Paul melainkan salah satu murid rasul Paul yang menerjemahkan pemahaman rasul Paul.

Premis Dasar Kitab Ibrani

Jika kita mebaca Kitab Ibrani secara keseluruhan nampaklah pada kita sebuah benang merah dimana seluruh sistem hukum korban umat Israel yang berpusat pada peranan Imam Besar (kohen ha gadol) sebagaimana diamarkan dalam Torah, merupakan sebuah  bayangan dari karya mesianis yang dikerjakan oleh Yesus. Fokus karya Yesus sebagai penggenapan bayangan dalam Torah dapat kita simak dalam Ibrani 8,9,10. Ibrani 8 berbicara mengenai kedudukan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Ibrani 9 berbicara mengenai kedudukan Yesus sebagai Pengantara Perjanjian Baru. Ibrani 10 berbicara mengenai pengorbanan darah Yesus sebagai wujud sejati hukum korban dalam Torah.

Ibrani 8:1-2 dimulai dengan pernyataan, “Inti segala yang kita bicarakan itu ialah: kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga, dan yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia”. Imam Besar berdasarkan peraturan Torah bertugas mempersembahkan korban umat Israel setiap tahunnya dalam perayaan Yom Kipur sebagai korban penebusan atas berbagai pelanggaran umat Israel selama satu tahun. Yesus Sang Mesias adalah Imam Besar yang melakukan karya keimamatan yang lebih besar daripada Imam Besar dalam Torah. Mengapa? Jawabannya ada dalam Ibrani 9:11-12 yang mengatakan demikian, “Tetapi Mesias telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, -- artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, -- dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal”. Yesus datang sebagai Imam Besar “untuk hal-hal yang baik yang akan datang” yaitu “Dia telah masuk sekali dan untuk selamanya ke dalam tempat kudus YHWH dengan membawa darahnya sendiri”. Apa artinya? Yesus mengorbankan dirinya sendiri sebagaimana ditegaskan kembali dalam Ibrani 9:27-28, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Mesias hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”.

Oleh karenanya Yesus dikatakan sebagai “Pengantara dari suatu perjanjian yang baru” (Yun: diathekes kaines mesites estin, Arm: metsa’ya de’diyatiqiya khadata, Ibr: melits hu laberit hakhadasha, Ing: mediator of new covenant) (Ibr 9:15).

Berbagai hukum korban dalam Torah memang tidak sempurna karena mereka tidak dapat menghapuskan dosa yang sesungguhnya sebagaimana dikatakan Ibrani 10:2-4 sbb: “Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa”.

Berbeda dengan korban-korban hewan dalam Torah yang dipersembahkan setiap tahun khususnya saat perayaan Yom Kippur maka persembahan sejati dan sekali untuk selamanya telah dilakukan dengan sempurna oleh Sang Mesias sekali dan untuk selamanya. Perubahan dari berulang kali dan setiap tahun dikontraskan dengan sekali dan untuk selamanya menyiratkan kesempurnaan dan keunggulan Sang Mesias dalam menghapus dosa manusia sebagaimana dikatakan dalam ayat 10-12 dan 14 sbb: “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Sang Mesias. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Tuhan...Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”.

Meluruskan Kesalahpahaman Arti Kematian Yesus
Terhadap Kedudukan Torah

Apakah dengan demikian kematian Yesus Sang Mesias telah membatalkan fungsi dan kedudukan Torah? Tidak! Yesus Sang Mesias berkata dalam Matius 5:17 sbb: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan Torah atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”.

Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya telah membuat hukum korban kehilangan relavansinya sehingga baik umat Yahudi maupun non Yahudi yang sudah menerima Yesus sebagai Mesias tidak lagi memerlukan hukum korban hewan sebagaimana dikatakan dalam Ibrani 10:18 sbb: “Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa”. Kehilangan relevansi bukan berarti dibatalkan. Dibatalkan bermakna digugurkan. Jika demikian maka memberikan gambaran seolah Tuhan berubah-ubah pikiran. Jika Tuhan berubah-ubah pikiran maka Tuhan adalah Tuhan yang peragu. Dan itu mustahil ada pada diri Tuhan.

Jika kematian Yesus tidak membatalkan Torah, lalu mengapa dalam Ibrani 7:18-19 dikatakan,”Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu?” demikian pula dalam Ibrani 8:13 dikatakan, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya?”

Mengenai Ibrani 7:18-19 bukan berbicara mengenai pembatalan Torah tetapi perubahan sistem keimamatan paska kedatangan Yesus dan penghancuran Bait Suci di Yerusalem tahun 70 Ms. Kata Yunani Athetesis (pembatalan)  merupakan penekanan ulang pada apa yang dinyatakan pada ayat 12 tentang nomou Methatesis (perubahan Torah). Perubahan yang dimaksudkan bukan Torah itu sendiri melainkan sistem keimamatan dari Imamat Lewi yang ditandai dengan korban hewan, menjadi Imamat Melkitsedeq yang ditandai dengan persembahan rohani.

Mengenai Ibrani 8:13, ayat ini pun menegaskan mengenai perubahan sistem keimamatan Lewi kepada sistem keimamatan Melkitsedek. DR. David Stern menjelaskan:  “Konteks perikop hendak menunjukkan bahwa penulis Ibrani berbicara mengenai sistem keimamatan dan korban, bukan mengenai aspek lain. Apa yang sesungguhnya terjadi adalah ambang kemusnahan sistem keimamatan yang lama dan bukan Perjanjian Lama”[3]

Makna Kematian Yesus

Kematian Yesus di kayu salib berdasarkan perspektif Kitab Ibrani memiliki makna soteriologis sbb (yang berhubungan dengan keselamatan manusia): Pertama, Yesus telah menggantikan fungsi korban dalam Torah menjadikan dirinya sendiri sebagai korban bagi Tuhan Yahweh untuk selama-lama-Nya. Kematian-Nya telah menghapuskan dosa manusia yang berujung pada kematian kekal.

EKSISTENSI DAN HISTORITAS KEBANGKITAN YESUS DARI KEMATIAN

Posted by Teguh Hindarto


Tanggapan Terhadap DR. Ioanes Rahmat

Ioanes Rakhmat dalam artikelnya berjudul Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus yang dimuat KOMPAS  pada 5 April 2007 berusaha mengekspos dan memberikan relavansi teologis terhadap penemuan yang di duga merupakan makam Yesus di Talpiot (sebelah selatan Kota Lama Yerusalem) Temuan dan komentar-komentar berkaitan dengan temuan ini semakin meramaiakan kegandrungan orang pada hal-hal yang sensasional yang yang berkaitan dengan historitas Yesus. Sebelumnya telah beredar buku-buku provokatif dan sensasional seperti “The Da Vinci Code” dan “The Gospel of Judas”.

Dari beberapa artikel yang ditulis Ioanes Rakhmat, ada tiga pemikiran dasar yang dapat disimpulkan.

Pertama, Kebangkitan Yesus dari kematian adalah metafor belaka dan bukan realita yang sebenarnya, sebagaimana di katakan, “Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi, maka kebangkian dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis PB (Perjanjian Baru, red) sendiri pasti memahami keduannya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi”[1]

Kedua, bahasa penulisan Kitab Suci adalah bahasa iman dan bukan bahasa ilmiah historis, sebagaimana tersirat dari pernyataan, “Yang ditemukan dalam Alkitab bukanlah mukjizat-mukjizat tetapi kisah-kisah tentang mukjizat…kisa-kisah tentang mukjizat Yesus ditulis bukan oleh para saksi mata. Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis secara rasional ilmiah dengan mengajukan antara lain pertanyaan berikut: dalam konteks sosial kultural historis dan religius apa kisah itu ditulis; faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah itu; untuk kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah pararel yang dapat ditemukan dlam dunia Greko Romawi; apa tujuan penulisan kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia Greko-Romawi;….”[2]

Ketiga, dukungan positip terhadap penelitian penemuan makam Talpiot sebagaimana dia nyatakan, “Usaha membuktikan makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth sama sekali bukanlah usaha demirakulisasi, melainkan usaha bidang kajian prosopographis untuk menemukan kecocokkan sejarah antara bukti material arkeologis dan keterangan-keterangan di dalam teks-teks kuno;…jangan mereka dikecam atas nama teologi Kristen apapun ”[3]

Pemikiran bahwa kebangkitan Yesus dari kematian adalah metafor, sebenarnya bukan konsekwensi logis dari hasil temuan makam Talpiot, yang apabila di kemudian hari ternyata terbukti benar sebagai makam keluarga Yesus, sebagaimana dugaan Ioanes Rakhmat. Jauh sebelumnya, cara berpikir yang menyatakan bahwa kebangkitan adalah metafor belaka, merupakan kerangka berpikir sarjana Liberal yang tidak memberi ruang bagi aspek metefisik dalam melakukan pendekatan terhadap teks-teks Kitab Suci. Jauh-jauh hari,penggagas “Teori Demythologisasi”, yaitu Rudolph Bultman pernah menyatakan pemikirannya mengenai hakikat kebangkitan sbb, “Namun bagaimana dengan kebangkitan Mesias? Bukankah ini sepenuhnya mitos? Dalam beberapa kasus, kebangkitan bukanlah peristiwa historis yang harus dimengerti secara demikian. Dapatkah berbicara mengenai kebangkitan Mesias dengan sesuatu yang selain hanya merupakan ekspresi rangkaian dari peristiwa salib?

Dapatkah mengatakan sesuatu selain Yesus mati dikayu salib, bukan sebagai kematian manusia belaka namun sebagai penghakiman Tuhan yang membebaskan dunia, penghakiman sebagaimana perampok yang kehilangan kekuatannya? Tidakkah lebih tepat kebenaran ini diekspresikan dengan pernyataan bahwa seseorang yang disalibkan tidak mati melainkan telah bangkit? Kenyataannya, salib dan kebangkitan adalah satu kesatuan seperti peristiwa kosmis, sebagaimana digambarkan oleh Rasul Paul, “Yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm 4:25)… Salib dan kebangkitan adalah suatu kesatuan dalam mana secara bersamaan mereka adalah satu peristiwa kosmis melalui mana dunia dihakimi dan kemungkinan kehidupan yang sejati diciptakan. Namun demikian kebangkitan tidak dapat dipandang sebagai muzizat yang sebenarnya yang mana seseorang merasa aman sehingga meyakinkan orang yang meragukan bahwa salib sesungguhnya adalah memiliki peristiwa kosmis eskatologis…Tentu saja tidak ditolak bahwa kebangkitan Yesus terkadang dipandang oleh Perjanjian Baru sebagai muzizat yang sebenarnya…namun tidak diragukan bahwa perumusan kemudian dari Paul tetap  tidak dapat diketahui…Para saksi yang dianggap menjadi saksi bagi Injil Pau, bukanlah fakta mengenai kebangkitan “[4]

Dari kutipan di atas, sangat tidak dapat disangkal bahwa proses berpikir Ioanes Rakhmat berangkat dari pendekatan liberal yang menampik aspek metafisik sebagai bagian dari sejarah penulisan dalam Kitab Suci.

Persoalannya adalah, sejauh manakah validitas pernyataan Ioanes Rakhmat yang mengusung teolog-teolog liberal terdahulu yang menyatakan bahwa kebangkitan adalah metafora? Untuk menjawab hal ini, tentu saja sangat bergantung pada metodologi kita dalam menafsirkan teks-teks dalam Kitab Suci. Rasul Paul mengatakan dalam 1 Korintus 15: 3-8 sbb, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Mesias telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefa dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya”.

Dari kutipan ayat di atas kita mendapati empat kata penting, dalam teks Greek, yaitu apethanen (telah mati), etaphe (telah dikuburkan), egegertai (telah bangkit) dan kata oupthe (menampakkan diri) sebanyak dua kali. Jika kata apethanen (telah mati), etaphe  (telah dikuburkan) serta oupthe (menampakkan diri) bersifat riil, lalu apa alasannya mengatakan bahwa kataegegertai [telah bangkit] harus dimaknai sebagai metafor?

Penolakkan fakta bahwa kebangkitan dari kematian adalah realitas historis, lebih didorong oleh sisa-sisa pemikiran teolog liberal Abad XIX yang menolak bahwa fenomena metafisik sebagai hal empirik. Meminjam istilah Deshi Ramadhani, demirakulisasi ”[5]

Yang menarik pada kasus Lazarus yang mati kemudian dibangkitkan dari kematian oleh  Yesus, justru Yesus menggunakan bahasa metafor yang kemudian diberi penjelasan oleh penulis Injil Yohanes. Hal ini nampak dari pernyataan dalam Yohanes 11:11 dan 13 sbb, “Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya….Tetapi  maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. Namun ketika Dia membangkitkan Lazarus dari kematian, Dia benar-benar membangkitkan Lazarus dari kematian”

Tidak ada komentar dari penulis Kitab Yohanes bahwa kebangkitan yang dialami Lazarus adalah metafor. Dengan penjelasan di atas, kita mendapati kenyataan bahwa penulis Kitab  Injil dapat membedakan mana ungkapan yang metafor dan mana yang literal.

BENARKAH RASUL PAUL PENDUSTA DAN MEMBATALKAN TORAH?

Posted by Teguh Hindarto


INTRODUKSI

Rasul Paul adalah tokoh rasul yang kontroversial dan hampir sebagian besar surat-suratnya menjadi fundasi bagi ajaran Gereja Kristen paska kebangkitan Yesus dari kewafatan. DR. C. Groenen OFM mengatakan, “Dari semua tokoh yang tampil dalam Perjanjian Baru dan berperan pada umat Kristen semula Pauluslah yang terbaik kita kenal (menurut ukuran ilmu sejarah). Tokoh itu sebenarnya dikenal dengan lebih baik daripada Yesus sendiri. Selebihnya dalam sejarah Kekristenan selanjutnya Pauluslah yang paling berpengaruh disamping Yesus, paling tidak pada Kekristenan barat sesudah reformasi. Dan baik pengetahuan kita tentang Paulus maupun pengaruhnya berasal dari surat-suratnya yang disimpan oleh umat Kristen sampai dengan hari ini”[1]. Sekalipun saya tidak sepenuhnya dapat menerima pendapat Groenen, namun dari aspek pengaruh dan peletak fundasi teologi Kristen, nampak peran besar rasul Paul melalui sejumlah surat yang disebarluaskan untuk membangun keimanan jemaat Mesias sehingga akhirnya masuk dalam daftar kanon Kitab Perjanjian Baru.

Kita akan melihat sejumlah latar belakang yang berpengaruh dalam seluruh tulisannya, khususnya latar belakang kebangsaan dan pendidikannnya.

Kebangsaan Rasul Paul

Bahwa Paul adalah seorang Yahudi, sungguh amat jelas. Dia menunjuk bahwa dirinya sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani” (Fil 3:5 dalam naskah Greek New Testament ditulis Ebraios ek Ebraioun dan dalam naskah Peshitta Aramaik ditulis, Ebraiya bar Ebraiya dan dalam Hebrew New Testament ditulis, Ivri ben Ivri. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan dengan Ibrani asli) Sebuah frase yang telah dipahami dalam banyak cara. Beberapa orang menduga bahwa Paul menekankan garis darah asli, yang bermakna bahwa baik ibunya dan ayahnya memiliki garis keturunan yang dapat dilacak. Yang lain mengidentifikasikan Paul sebagai seseorang yang menampakkan semangat terhadap Torah.

Apakah sesungguhnya yang dimaksud oleh Paul, ketika dia menyebut dirinya sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani?” marilah kita melihat lebih dekat mengenai susunan data diri singkat Paul dalam Filipi 3:5, untuk melihat petunjuk yang memungkinkan membuka pemahaman tentangnya. Pertama-tama kita melihat bahwa frase “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, merupakan kata terakhir dalam daftar dari empat kata yang berkaitan sbb: “Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Yishrael, suku Benyamin, orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”

J.B. Lightfoot mencatat secara menarik, bahwa daftar tersebut merupakan susunan mendaki[2]. Dengan mengatakan, “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, pada bagian akhir, berfungsi sebagai kesimpulan yang menarik perhatian kepada susunan daftar secara keseluruhan. Komponen yang satu dengan yang lain dihubungkan kepada komponen yang terdahulu. Fakta bahwa telah disunatkan pada hari kedelapan, menunjukkan bahwa orang tuanya adalah orang yang mentaati perintah Torah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka adalah seorang yang mengikut agama Yudaisme, semenjak kaum proselit (orang non Yahudi yang mengikut agama Yudaisme) juga menyunatkan anak-anak mereka. Kemudian Paul menambahkan, “dari Bangsa Yishrael”, yang mana dia hendak menegaskan garis keturunan dari orang tua asli, bukan seorang proselit. Meskipun dari kaum Yishrael, dapat saja mereka berasal dari suku yang tidak taat, sehingga Paul menyatakan diri sebagai, “dari suku Benyamin”. Meskipun mereka yang garis keturunannya tidak tertuduh dan diterima dari suku yang ternama, namun terkadang tergoda oleh pengaruh Helenis (cat. penerjemah: faham Yunanisasi disegala bidang, baik kebudayaan, kehidupan sosial, politik dan keagamaan) di lingkungan tempat tinggal mereka, kemudian meniru baik bahasa maupun kebiasaan dari kebudayaan orang-orang Yunani Romawi. Dengan Paul menjelaskan sebagai “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, dia menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga yang mempertahankan bahasa dan kebudayaan Ibrani, salah seorang yang tidak menerima pengaruh Helenis pada saat itu[3].

Dengan demikian, patut diduga bahwa frasa “orang Ibrani dari orang-orang Ibrani”, digunakan oleh Paul untuk mengidentifikasikan dirinya dan keluarganya sebagai seorang yang bergaya hidup Yahudi dengan taat, seseorang yang tetap mempertahankan bahasa Ibrani atau Aramaik sebagai bahasa ibu, dimana Torah memainkan peranan penting dalam iman dan kehidupan secara umum[4].

Pendidikan Rasul Paul

Di dalam Kisah Rasul 22:3 ditegaskan bahwa rasul Paul,  “dibesarkan di kota ini”, yaitu di Yerusalem dan “telah dididik di bawah kaki Gamaliel”. Kalimat ini menunjukkan ekspresi umum di Israel kuno bagi para murid “yang duduk di bawah kaki” Sang Guru, sebuah frase yang menggambarkan baik pelajaran yang diterima secara realita badani namun juga berhubungan dengan sikap hormat terhadap guru yang mengajar. Kita baca dalam misnah Avot 1:4 sbb: “Yose ben Yoezer berkata: Biarlah rumahmu menjadi rumah pertemuan bagi kaum bijaksana dan merendahkan dirinya untuk ditutupi oleh debu kakinya dan minum dalam kata-kata dengan rasa haus”

Gambaran ditutupi oleh debu kaki kaum bijaksana, menggambarkan seseorang yang duduk di lantai sementara mereka yang mengajar, duduk di kursi. Ketika Paul menunjukan bahwa dia “telah dididik di bawah kaki Gamaliel”, dia sedang mempergunakan istilah umum bagi hubungan di antara pengajar dan pelajar di dalam komunitas Yahudi pada Abad I Ms[5].

Apa yang menjadi makna sesungguhnya, ketika Paul menyatakan dirinya telah “dibesarkan di kota ini”, yaitu Yerusalem? Kata kerja yang diterjemahkan dengan “dibesarkan” (ανατεθραμμενος, anatrepomenos), dapat bermakna “pertumbuhan” baik secara fisik maupun kerohanian. Dalam Injil, kata-kata tersebut menggambarkan anak yang sedang tumbuh52 dan kata itu nampaknya masuk akal dipergunakan dalam menerangkan proses kedewasaan Paul. Demikianlah menurut perkataan Paul, bahwa dirinya tidak bertumbuh dewasa di Tarsus, meskipun kota ini adalah tempat kelahirannya. Sebaliknya, dia bertumbuh dewasa di Yerusalem, dididik oleh Gamaliel yang terkemuka.

Berapa lama kita perkirakan ketika Paul memutuskan tinggal di Yerusalem? Berdasarkan Misnah Avot 5:21, pembacaan Kitab Suci dimulai pada usia lima tahun, sementara pada usia sepuluh tahun dipersiapkan untuk mempelajari Torah Lisan (Misnah)[6].

James L. Crenshaw, dalam buku Education in Ancient Israel mengatakan bahwa pendidikan Paul sebagai anak muda dimulai dengan pelajaran alef-bet dalam bahasa Ibrani, menggunakan Torah sebagai yang utama, baik untuk huruf maupun membaca. Dia juga nampaknya telah diawali dengan Shema dan kemudian berkembang untuk memahami liturgi, yaitu doa-doa yang kemudian dikenal dengan sebutan Shemonei Esrei (Delapan Belas Berkat), bersama pula dengan berkat-berkat yang diucapkan saat makan[7]

Dia akan menghafal doa-doa ini sebagaimana bagian-bagian lain dari Torah, belajar membaca dan menuliskan huruf Ibrani dan Aramaik. Jika dia belajar di ruang kelas, maka patut diduga tidak akan lebih dari 25 siswa. Entahkah di ruangan kelas atau pada kaki pengajarnya, Sha’ul muda telah mempelajari keahlian dasar yang diperlukan untuk membaca dan mempelajari Torah dan mengikuti jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Torah Lisan. Torah Lisan, sebelum ditetapkan sebagai Misnah, termasuk dunianya para kaum bijaksana. Untuk mempelajari Torah Lisan, diperlukan seorang pembimbing, seseorang yang dipercaya sebagai Khakam “orang bijak” atau kaum bijaksana dan kita mengetahui bahwa bagi Paul, orang tersebut adalah Gamaliel.[8]

Nama Gamaliel telah dikenal dengan baik dalam sejarah kaum bijaksana Yahudi. Kakeknya bernama Hillel, adalah pemimpin Sanhendrin bersama saingannya yaitu Shammai. Hillel dan Shamai merupakan Zugot atau ‘pasangan” yang melengkapi kepemimpinan ganda yang diperlukan oleh Sanhendrin. Setelah Shammai dan Hillel, Sanhedrin hanya dipimpin oleh kaum bijaksana secara tunggal yang disebut dengan Nasi  (pemimpin). Ketika Hillel wafat, kedudukan Nasi Sanhedrin dilimpahkan epada Simeon, anaknya.

Tim Hegg dalam buku The Letter Writer mengulas beberapa pengaruh besar Gamaliel terhadap rasul Paul sbb: Pertama, Gamaliel dikenal karena sikap lunaknya terhadap beberapa hukum dalam rangka menyediakan hak-hak rakyat yang kurang beruntung. Contoh, dikarenakan zaman itu merupakan suatu keadaan yang tidak menyenagkan bagi kaum Yahudi, dan laki-laki dikarenakan kehilangan nyawanya oleh pedang orang-orang Romawi, maka jumlah para janda di kalangan Yahudi bertambah dengan cepat. Gamaliel menetapkan bahwa perceraian yang sah bagi kaum wanita yang suaminya dianggap hilang di medan perang, hanya memerlukan satu saksi saja, daripada dua saksi sebagaimana yang ditetapkan secara tradisional (Misnah Yevamot 16:7). Dengan perubahan ini, maka “birokrasi” telah dikurangi bagi kaum janda untuk menikah lagi dan menerima perlindungan dari suami barunya.

Dengan nada yang sama, Gamaliel memperbanyak jarak yang dapat di tempuh pada hari Sabat dan mengijinkan kebebasan yang luas bagi para bidan dan para pelayan publik lainnya dalam melaksanakan kewajibannya pada hari Sabat (Mishnah Shekalim 3.6). Dia juga memperkenalkan aturan-aturan lain mengenai perceraian yang bertujuan meringankan beban hukum dan melindungi kaum yang lemah dan tidak terpelajar(Berakhot Ketubot 10b). Salah satu contoh, dia menetapkan persetujuannya terhadap seorang wanita yang mengakui keperawanannya meskipun suaminya mempertanyakan pernyataan istrinya. Di atas semuanya, ketetapan Sanhedrinnya ditandai dengan keringanan secara umum dari beban halakhah untuk melindungi kebutuhan nyata komunitasnya.

Kedua, Talmud menyimpan tiga “surat rasuli” yang dikirim Gamaliel kepada “saudara kita di Galilea Atas dan di Galilea Bawah”, dan “saudara kita di Selatan Atas dan di Selatan Bawah” dan “saudara kita di pembuangan Babilon, di pembuangan Media dan di tempat pembuangan Bangsa Israel lainnya”. “Surat-surat  rasuli” tersebut ditujukan kepada Yohanan, yang duduk di kalangan kaum Bijaksana, yang berlokasi di Bukit Bait Suci (Berakhot Sanhedrin 11b; Tosefta, San 2:6;y. Sanhedrin 1:2, 18 d) dan terdiri dari peringatan-peringatan mengenai waktu untuk mengumpulkan persepuluhan dan informasi mengenai lompatan tahun. Metode surat-surat  di atas menjelaskan mengapa Paul mengadopsi “surat-surat rasuli”  tersebut, sebagai rasul Yesus.

Ketiga, dalam Kitab Para rasul, kita mendapatkan gambaran mengenai Gamaliel sebagai seorang yang toleran terhadap para pengikut Yesus. Ketika Lukas melaporkan bagi kita mengenai keputusan Sanhedrin mengenai pelarangan pewartaan kepada publik mengenai Kemesiasan Yesus, dia juga terlibat dalam peristiwa di mana Petrus dan rasul-rasul ditangkap dan dibawa ke hadapan sidang. Ketika kelompok tersebut hendak dibinasakan, Gamaliel melarang dengan mengatakan: “Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Tuhan kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Tuhan." Dan nasihat tersebut diikuti semua orang (Kis Ras 5:38-39).

Keempat, sebuah catatan penting mengenai siswa-siswa Rabban Gamaliel, tercatat dalam Talmud. Setelah mendiskusikan mengenai alasan mengapa seorang ayah melarang anaknya untuk megajarkan bahasa Yunani, pertanyaan yang berkaitan disampaikan sbb: “Apakah filsafat Yunani di larang? Sesungguhnya Rabi Yahudah menyatakan bahwa Samuel berkata atas nama Rabban Simeon ben Gamaliel, mengenai makna yang dituliskan ini: Apakah mataku merusak jiwaku apakah disebabkan oleh karena anak-anak perempuan di kotaku? Ada ribuan murid-murid di rumah ayahku; lima ratus orang belajar Torah dan lima ratus orang belajar kebijaksanaan Yunani dan di sini masih tersisa hanya aku dan anak dari saudara ayahku di Asia! Itu berbeda dengan rumah tangga Rabban Gamaliel dikarenakan mereka berhubungan dengan dengan pemerintahan” (Berakhot Sotah 49b)

Jika frasa “rumah tangga Rabban Gamaliel” menunjuk kepada rumah tangga Gamaliel, yang lebih tua yaitu guru dari rasul Paul, maka kita memperoleh petunjuk mengenai Paul yang nampak begitu menguasai filsafat Yunani. Meskipun ada pernyataan argumen yang mengecilkan pelajaran Yunani dan filsafat Yunani, namun patut diketahui bahwa mereka yang bekerja pada pemerintahan Romawi diperlukan kelancaran dalam bahasa Yunani dan diperlukan untuk memahami untuk mengerti pandangan dunia kebudayaan Yunani. Paul terindikasi sebagai orang yang terdidil dalam tulisan-tulisan Filsafat Yunani.

Sebagai contoh, dalam Kisah Rasul 17, ketika Paul terlibat pembicaraan dengan para ahli filsafat di Arepagus, ini adalah bukti bahwa dia sangat menyadari filsafat Stoa dan Epikuros bahkan dia juga mengutip ahli filsafat lokal bernama Aratus (Kisa 17:28). Dalam suratnya kepad Titus (1:12) dia mengutip ahli Filsafat Kreta bernama Epimenides dan sekali lagi dalam 1 Korintus 15:33, dia mengutip filsuf Meander seorang penulis Athena mengenai filsafat dan etik.

Banyak orang menduga bahwa Paul mengembangkan pengetahuan filsafat dan kebudayaan Yunani, disebabkan dia telah mempelajarinya di kota Tarsus yang terkenal sebagai universitas yang baik dalam hal itu.  Tarsus juga termasuk pusat kehidupan intelektual selama Abad 1 Ms. Menurut seorang ahli geographi bernama Strabo: “…orang Tarsus pada Abad 1 Ms adalah siswa-siswa yang tekun dalam hal filsafat, seni yang bebas dan keseluruhan ensiklopedia mengenai pelajaran; sungguh tepat bahwa derajatnya melampaui baik Athena dan Alexandria sebagai pusat kebudayaan dan belajar…”[9]

Tim Hegg melanjutkan penjelasannya, “Jika laporan mengenai Rabban gamaliel yang mengajar siswa-siswanya pelajaran bahasa dan filsafat Yunani dapat dipercayai, maka ada kemungkinan bahwa Paul telah belajar tulisan-tulisan Yunani di bawah pengawasan pembimbingnya! Bahwa Gamaliel adalah seorang Nasi (pemimpin) Sanhedrin, sesungguhnya menempatkan dia dalam kondisi kerja dengan pemerintahan Romawi dan itu memerlukan bagi dia dan siswa-siswanya, memiliki pengetahuan dan bahasa Yunani.[10]. Sejauh mana akurasi data bahwa rasul Paul sangat paham dan mempelajari filsafat Yunani, masih menjadi perdebatan. Kiranya data yang disampaikan Tim Hegg di atas dapat memberikan sedikit alternatif jawaban dan gambaran walaupun belum seutuhnya.

Melihat status pendidikan rasul Paul di atas, maka kita bisa mengukur bahwa rasul Paul sangat terdidik dalam penguasaan bahasa Ibrani/Aramaik dan Torah serta berbagai keilmuan lainnya. Tidak mengherankan bahwa beliau cukup produktif membuat dan mengirimkan berbagai surat penggembalaan kepada jemaat-jemaat yang dia dirikan.

Surat-suratnya dalam dan terkadang tidak mudah dimengerti. Rasul Petrus memberikan peringatan sbb: "...seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain" (2 Petrus 3:15-16).

Oleh karena itu kita akan mengupas secara singkat dua persoalan yang kerap dituduhkan kepada rasul Paul yaitu sebagai “pendusta” dan “perombak Torah”. Benarkah kedua tuduhan tersebut? Kita akan mengkajinya satu persatu.


BENARKAH RASUL PAUL PENDUSTA?

Kajian  Terhadap 2 Korintus 12:16 dan Filipi 1:18 serta Roma 3:7


Mengenai 2 Korintus 12:16

Kita harus baca secara utuh dari ayat 14 sbb: “Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya. Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi? Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi--kamu katakan--dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya”