RSS Feed

BUKAN SEKEDAR POSTER & PENCITRAAN: MENJADI WAKIL RAKYAT YANG FUNGSIONIL DAN KOMPETEN

Posted by Teguh Hindarto




Tanggal 9 April 2014 seluruh rakyat Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum yaitu memilih calon anggota Legislatif dan tanggal 9 Juli 2014 untuk memilih calon Presiden dan Wakil Presiden. Sejumlah persiapan telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik partai politik, komisi pemilihan maupun pemerintah baik pusat maupun daerah.

Sejumlah ruas jalan protokol baik di kota maupun di desa, di tikungan-tikungan jalan kembali marak dipenuhi berbagai atribut partai dan foto-foto calon legislatif baik pusat maupun daerah. Semua menampilkan “panggung depan” (front region – meminjam istilah Sosiolog Erfing Goffman) dengan berbagai gesture (sikap tubuh) yang dikemas dengan polesan make up dan kecanggihan teknologi pemotretan disertai berbagai jargon dan semboyan disertakan untuk mengajak masyarakat memilih dirinya. Sumbo Tinarbuko mendefinisikan poster sbb:

“Poster merupakan salah satu media komunikasi visual berbentuk dua dimensional. Kehadirannya bertujuan menyampaikan suatu pesan, keinginan, mengumumkan sesuatu agar diketahui masyarakat dan mengingatkan mereka tentang hal-hal yang dianggap penting”[1]

MEMBACA ANOMALI POLITIK MENJELANG PEMILIHAN UMUM: PERILAKU PERDUKUNAN DI KANCAH POLITIK

Posted by Teguh Hindarto




Menarik mengamati panggung politik Indonesia khususnya menjelang pemilihan umum. Fenomena perdukunan politik sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan setiap menjelang pemilihan umum. Demikian pula menjelang pemilihan umum 2014 ini, berbagai media melaporkan bagaimana sejumlah dukun politik mengalami peningkatan pesanan dari berbagai pejabat dan politisi, dari level lurah sampai pejabat eksekutif, legislatif bahkan yudikatif[1].

Anomali Politik

Fenomena pemilihan legislatif, eksekutif, yudikatif dengan melibatkan jasa paranormal dan dukun politik nampaknya khas Indonesia dan tidak ditemui di negara-negara penjunjung demokrasi seperti Amerika atau Eropa. Jika tahun lalu saya memberikan istilah “Anomali Sosial”[2] terkait berbagai perilaku irasional di masyarakat kita, maka fenomena perdukunan menjelang pemilihan umum saya istilahkan dengan “Anomali Politik”. Mengapa saya katakan anomali politik? Karena jika pemilihan umum mensyaratkan kemampuan personal dan mesin politik pengusung untuk menaikkan elektabilitas seseorang secara rasional, maka perilaku anomali politik justru menekankan pada peranan-peranan kekuatan gaib untuk menaikkan eletabilitas dan keterpilihan dirinya menduduki jabatan publik.

Nampaknya Indonesia belum menuntaskan fase-fase pertumbuhan dirinya, sehingga fase-fase yang seharusnya sudah ditinggalkan jauh justru masih tetap dipertahankan. Beberapa ahli kebudayaan seperti Prof. C.A. van Peurseun pernah menuliskan tahapan dan fase pertumbuhan kebudayaan manusia menjadi “tahap mistis, tahap ontologis, tahap fungsionil”. Beliau menjelaskan ketiga tahapan tersebut sbb:

“Yang dimaksudkan dengan tahap mistis ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif…Yang dimaksudkan dengan tahap kedua atau ontologis ialah sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Ia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakikat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu)…Tahap ketiga atau fungsionil ialah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern. Ia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mistis), ia tidak lagi dengan kepala dingin ambil jarak terhadap obyek penyelidikannya (sikap ontologis)”[3]

PEMILU, PARTAI POLITIK DAN PARTISIPASI POLITIK

Posted by Teguh Hindarto






Beberapa bulan lagi, Bangsa Indonesia akan melaksanakan hajatan politik berupa pemilihan umum yang jatuh pada tanggal 9 April 2014. Semua pihak yang terlibat di dalamnya baik partai politik maupun konstituen tentu memfokuskan diri melakukan berbagai strategi melakukan pemenangan suara.

Pemilu 2014 kali ini diikuti oleh 12 partai politik karena 15 partai politik lainnya tidak memenuhi electoral treshold. Kesepuluh partai tersebut al., Nasdem, PKB, PKS, PDIP, Golkar, Gerindra, Partai Demokrat, PAN, PPP, PBB, PKPI serta Partai Hanura.

Setiap hajatan politik melibatkan tiga hal mendasar yaitu Pemilu, Parpol serta Partisipasi Politik. Oleh karenanya kita perlu memahami secara ringkas ketiga hal mendasar tersebut agar kita memiliki wawasan politik sebelum kita terlibat dan melakukan partisipasi politik melalui pemilihan umum. Seperti kata Muhamad Natsir, “Kalau memang saudara-saudara merasa tidak perlu ikut berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara-saudara jangan buta politik. Kalau saudara-saudara buta politik, saudara-saudara akan dimakan oleh politik” (Kompas, 6 Januari 2014). Agar kita tidak “dimakan” politik alias menjadi korban dan obyek politik kekuasaan tertentu, maka kita harus memiliki wawasan politik.

Pemilihan Umum

Pemilihan umum memiliki fungsi al., (1) Sarana legitimasi politik. (2) Mekanisme terjadinya sirkulasi kekuasaan (3) Pencipta representasi politik (4) Implementasi kedaulatan rakyat (5) Sosialisasi dan pendidikan politik rakyat[1] Pemilu dikatakan sarana legitimasi politik dikarenakan partai pemenang pemilihan umum akan menjadi penguasa dan menentukan berbagai kebijakkan publik. Agar dapat menetapkan kebijakkan publik maka harus mendapatkan legitimasi politik. Pemilu dikatakan mekanisme terjadinya sirkulasi kekuasaan karena setiap partai pemenang pemilu tidak akan selamanya menang dan menduduki jabatan politik dan menetapkan sejumlah kewenangan politis. Harus ada pergantian politis untuk menjamin kesegaran udara politik dan memberikan kesempatan partai lainnya meraih kekuasaan. Pemilu dikatakan pencipta representasi politik dikarenakan kemenangan partai politik melalui pemilu membuktikan keberpihakkan masyarakat sehingga suara partai pemenang pemili menjadi representasi suara rakyat yang memilih. Pemilu dikatakan implementasi kedaulatan rakyat dikarenakan rakyat memberikan pilihan dan menyuarakan kehendaknya sehingga kemenangan partai politik tertentu dan terpilihnya individu tertentu dalam jabatan politik ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai program yang dikehendaki masyarakat. Pemilu dikatakan bentuk sosialisasi dan pendidikan politik karena melalui pemilu masyarakat belajar menentukan pilihannya secara pribadi dan bertanggung jawab terhadap partai dan individu yang akan mewakili suaranya. Masyarakat secara tidak langsung belajar mekanisme kekuasaan melalui jalur representatif yaitu pemilihan umum.

SOEKARNO: INDONESIA MERDEKA (Ulasan Film dan Catatan Kritis)

Posted by Teguh Hindarto



Film terbaru besutan Hanung Bramantyo berjudul Soekarno: Indonesia Meredeka, kembali menuai kontroversi sekaligus mendapatkan sambutan dari penikmat film[1]. Beberapa media on line melaporkan mengenai animo masyarakat mengenai film baru ini, sehingga sejumlah bioskop kebanjiran penonton[2]. Tidak tanggung-tanggung, Wakil Gubernur Ahok memuji kepiawaian Hanung dalam menyajikan film bertema historis ini[3]. 

Sebelum tutup tahun 2013, saya menyempatkan menonton film ini di Yogyakarta sebanyak dua kali dan hari kedua penuh dengan penonton yang sangat antusias menonton film ini. Film ini mampu menguras emosi patriotisme dan kebangsaan sehingga membuat saya menangis haru mengikuti alur kisah dan momentum-momentum emosional yang dikemas oleh Hanung. Bahkan saat pidato-pidato politik Sukarno dikumandangkan, seolah-olah mendorong saya untuk mengatakan, “Saya ingin ada di sana jika dilahirkan pada zaman itu dan terlibat dalam pergerakan besar ini”.

Di sisi lain, film ini menuai kontroversi di sana sini. Gelombang protes dan demonstrasi terjadi di beberapa kota. Ada yang menggugat dan menuding Hanung menyebarkan gagasan Liberalisme dan Anti Poligami[4]. Ada yang keberatan dengan adegan Sukarno merangkul Fatmawati yang dituding seperti perilaku seorang germo[5]. Ada yang memprotes mengenai kebiasaan kencing Sukarno di penjara[6]. Ada yang mengecam karena film ini mendistorsi ketokohan Sukarno seolah seorang playboy diantara dua wanita[7]. Ada yang keberatan dikarenakan Aryo Bimo selaku pemeran utama tidak layak memerankan tokoh utama yaitu Sukarno[8].

STIGMA TERHADAP YAHUDI DALAM SASTRA INDONESIA

Posted by Teguh Hindarto


RESENSI DAN NOTASI NOVEL, "ANAK BETAWI DIBURU INTEL YAHUDI"

Penulis:

Ridwan Saidi

Penerbit:

Masup Jakarta

Tahun:

2008

Tebal:

291


Nama Yahudi biasanya dihubungkan dengan sentimen-sentimen keagamaan yang bertebaran dalam banyak buku-buku di Indonesia, baik yang bersifat karya terjemahan maupun kajian mandiri. Sebut saja beberapa judul terjemahan Kenapa Kita Tidak Berdamai Saja Dengan Yahudi, karya Muhsin Anbataani (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), Yahudi Menggenggam Dunia, karya William G. Carr (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1993), Adapun buku karya non terjemahan al., Jejak Freemason & Zionis Di Indonesia, karya Herry Nurdi (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2005). Kali ini, nama Yahudi dan berbagai labeling yang melekat pada dirinya dikemas dalam sebuah kisah fiksi berlatar belakang sejarah dengan judul, Anak Betawi Diburu Intel Yahudi. Bisa jadi novel karya Ridwan Saidi mengilhami novel berikutnya yang diterbitkan tahun 2011 yaitu The Jacatra Secret: Misteri Satanic Symbols di Jakarta garapan Rizki Ridyasmara (http://teguhhindarto.blogspot.com/2013/05/resensi-jacatra-secret-misteri-satanic.html)

BELAJAR DI BAWAH KAKI SANG RABI

Posted by Teguh Hindarto



Menelaah Gesture Maria ( Lukas 10:38-42)

Di salah satu program televisi swasta di Indonesia ada sebuah judul program “Gesture”. Program ini biasanya mengulas persoalan bahasa tubuh seseorang dalam berbagai interaksi sosialnya dan politik dan yang menjadi subyek pembahasan adalah para tokoh publik (public figure). 

Demikian pula kita mendapatkan sebuah gestureyang khas yang kita temui dalam Lukas 10:39, “Maria ini duduk dekat kaki Tuan (Kurios) dan terus mendengarkan perkataan-Nya”. Apa makna “duduk dekat kaki Tuan?”. Sebelum kita mengkaji gesture Maria, kita akan mengkaji terlebih dahulu kedudukan Yesus sebagai Rabi menurut kesaksian Kitab Perjanjian Baru.

Yesus Sang Rabi

Yesus memiliki banyak gelar diantaranya, “Sang Firman” (Yoh 1:14; 19:14), “Anak Tuhan” (Mat 16:16), “Mesias” (Mat 8:30), “Anak Domba Tuhan” (Yoh 1:29), “Anak Manusia” (Mat 9:6), “Tuan/Junjungan Agung” (Fil 2:11, Kis 2:36)[1], “Gembala Yang Baik” (Yoh 10:11),”Pintu (Yoh 10:9), “Jalan” (Yoh 14:6),dll.

Dari sekian banyak gelar Yesus, ada satu gelarnya yang menarik untuk dikaji yaitu “Rabi”. Dalam Kitab Perjanjian Baru, julukan dalam bahasa Ibrani “Rabi” muncul tujuh belas kali (Mat 23:7,8, Mrk 9:5, Yoh 3:2) dan “Rabuni” sebanyak dua kali (Mrk 10:51, Yoh 20:16) serta dalam bahasa Yunani  bentuk Nominatif  “Didaskalos” sebanyak lima belas kali (Mat 17:24, Mrk 14:14, Luk  22:1, Yoh 13:13) dan bentuk Vokatif (kata seru) “Didaskale” sebanyak 31 kali (Mat 8:19, Mat 12:38, Mrk 9:17, Luk 3:12, Yoh 8:4).

IPA=CERDAS, IPS=TIDAK CERDAS? MENINJAU ULANG DAN MEMPERLUAS MAKNA KECERDASAN

Posted by Teguh Hindarto




Saat saya masuk Sekolah Menengah Atas (akhir Tahun 80-an), saya pernah mengalami keputusasaan yang luar biasa. Bukan karena gagal mendapatkan wanita yang diidam-idamkan atau gagal naik ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Pokok persoalannya adalah dikarena saya terkejut dan tidak bisa menerima hasil Tes Psikologi di kelas I sebagai pemetaan kecerdasan untuk mempersiapkan diri ke penjurusan di kelas berikutnya. Dalam Tes Psikologi tersebut disebutkan bahwa kemampuan “daya bayang ruang” saya kurang namun kemampuan “verbal dan bahasa” menonjol.

Saya tidak bisa menerima hasil tes tersebut dikarenakan sejak Sekolah Menengah Pertama, saya memiliki kegemaran pada Ilmu Fisika (meski Ilmu Matematika dan Ilmu Kimia saya lemah) dan selalu mendapatkan nilai-nilai yang bagus untuk mata pelajaran tersebut. Dan saya memiliki banyak harapan dengan minat di bidang Fisika tersebut, setelah saya menanjak pada jenjang Sekolah Menengah Atas. Tentu saja hasil Tes Psikologi tersebut meruntuhkan seluruh harapan saya dan membuat saya putus asa serta merasa diri bodoh.

Mengapa? Itu bermakna bahwa saya tidak bisa masuk penjurusan A1 (Fisika) dan A2 (Kimia) dan hanya bisa masuk penjurusan A3 (Sosiologi) dan A4 (Bahasa). Dan saya berpandangan sebagaimana pandangan pada umum masyarakat pada waktu itu dan masih terwarisi sebagian besar pada masyarakat kita bahwa Mata Pelajaran IPA adalah representasi anak yang cerdas dan Mata Pelajaran IPS serta Bahasa adalah representasi anak yang tidak cerdas.

Pandangan stereotype di atas masih berkembang biak dalam struktur masyarakat kebanyakan, sekalipun telah terjadi perpindahan rezim (dari Orde Baru ke Orde Reformasi) dan telah menghasilkan banyak regulasi dan reformasi di bidang pendidikan di Indonesia.