Dalam Markus 6:3 dikatakan, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”. Kata yang diterjemahkan “tukang kayu” dalam teks bahasa Yunani ditulis “tektoon” (τέκτων). Saya membaca sebuah status di Facebook yang memperlihatkan video percakapan dimana ada sebuah keterangan guide di Israel yang nampaknya mahir dalam bahasa Indonesia yang menjelaskan dengan yakin bahwa istilah “tukang kayu” bagi Yesus tidak benar dikarenakan sejak Israel kuno hingga sekarang di Nazaret hanya ada rumah-rumah batu dan tidak ada tukang-tukang kayu ditemui. Anehnya, komentar tersebut lantas disambut dengan gembira oleh beberapa pendengar dan dishare ke media sosial dengan memberikan keterangan seolah-olah pernyataan tersebut adalah sebuah penyingkapan tanpa memeriksa lebih jauh melalui prosedur tafsir teks Kitab Suci yang meliputi analisis teks bahasa sumber dan analisis konteks.
Dalam artikelnya berjudul, "Bahasa Arab Bukan Warisan Peradaban Kristen: Inskripsi Yahudi Sephardi di Marocco (Maghrib)" (http://yeshivainstitute.net/bahasa-arab-bukan-warisan-peradaban-kristen/0), Menahem Eli atau Muhamad Ali membuat tafsiran terhadap sebuah kertas bertuliskan penggalan bahasa Ibrani dan Arab. Saya kutipkan pernyataannya sbb:
“Pak, bukankah Filsafat itu ilmu yang mengawang-awang?”, demikian
pertanyaan seseorang yang seorang pendidik, saat dia mengetahui saya mengikuti
sebuah kelas filsafat publik untuk empat kali pertemuan yang diselenggarakan
oleh salah satu organisasi filsafat di lingkungan fakultas filsafat di
Yogyakarta.
Dengan senyum getir saya berfikir, bagaimana Filsafat yang
diklaim sebagai Mater Scientiarum
(induk ilmu pengetahuan) akhirnya mendapat predikat buruk hanya sebagai “ilmu
yang mengawang-awang?” Pernyataan tersebut memang tidak bisa digeneralisasi
sebagai pendapat umum namun pernyataan tersebut mewakili pemahaman masyarakat
terhadap Filsafat. Mungkin dikarenakan diskursus filsafat dari abad ke abad
melibatkan berbagai smudra pemikiran spekulatif dan abstrak bahkan
mendekonstruksi pemikiran-pemikiran filsafat sebelumnya, maka Filsafat dengan
mudah dituding sebagai “ilmu yang mengawang-awang”.
MANIPULASI DIRI DAN PELECEHAN DUNIA SIBER SEBAGAI BENTUK EKSTRIM PRESENTASI DIRI
Posted by Teguh Hindarto
Secara umum, Media Sosial
(Social Media) didefinisikan sebagai bentuk komunikasi dan interaksi sosial
melalui media digital dan dilaksanakan secara on line melalui jaringan internet
yang melibatkan banyak aktor dan kepentingan dengan tema yang beragam.
Berdasarkan kegunaan dan kepentingannya, sosial media dapat dikelompokkan dalam
beberapa kategori seperti, Social Network
yang biasanya dipergunakan untuk bersosialisasi dan berinteraksi seperti Facebook, Linked In, Myspace. Social Game yang berisikan game on line
seperti Doof, Pogo. Share, yaitu
media sosial yang dipakai untuk membagi file, video, musik seperti You Tube, Slideshare. Discuss sebagai media diskusi seperti Whatsap, Skype, Google Talk. Media
sosial telah membentuk dunia tersendiri dan menciptakan berbagai konfigurasi kehidupan
sosial sebagaimana layaknya kehidupan sosial sehari-hari. Konfigurasi kehidupan
sosial apakah yang terbentuk di media sosial saat ini? Dari sekian banyak
konfigurasi kehidupan sosial yang terbentuk ada dua gejala menarik sekaligus
memprihatinkan yaitu Manipulasi Diri (Self Manipulation) dan Pelecehan Dunia
Siber (Cyber Bullyng).
Fenomena Dimas Kanjeng yang menghebohkan media cetak, media elektronik, media sosial akhir-akhir ini bukan semata-mata dikarenakan praktik magis dan klenik dibalik jubah agama melainkan keterlibatan sejumlah orang baik itu tokoh publik, intelektual rasional, aparat keamanan dengan kepangkatan yang tidak rendah. Hampir semua orang mempertanyakan, bagaimana mungkin sejumlah tokoh intelektual yang mengakrabi dunia rasional empiris dengan gelar akademis tinggi dan memperolehnya di sekolah-sekolah ternama di luar negeri dapat dengan mudah menjadi pengikut dan pembela ajaran dari seorang tokoh dengan kemampuan supranatural yang saat ini harus berurusan dengan hukum. Dihadapan kita seolah ditayangkan secara terbuka praktik klenik dan magis berbaju agama mulai mengalami rasionalisasi dan kelompok intelektual mengalami kemerosotan kewibawaan dan ketidakberdayaan melihat kemampuan supranatural yang didemonstrasikan di depan mereka – terlepas apakah demonstrasi kemampuan supranatural tersebut dituding praktik penipuan atau bukan, biarlah hukum yang kelak memutuskan. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa fenomena ini terus menerus terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?
Istilah "GPL", selain istilah-istilah seperti "Selfie", "Nongski", "OTW", akhir-akhir ini telah mengakrabi telinga dan pendengaran kita. Jika kita memesan makanan lantas kita berkata GPL yang merupakan akronim dari "Gak Pake Lama". Istilah GPL seolah telah menjadi norma sosial modern dimana kehidupan semakin cepat dan kita harus menyesuaikan dengan kecepatan tersebut agar tidak tertinggal dalam perubahan dan kemajuan.
Kita menjadi tergila-gila dengan kecepatan dan tidak nyaman hidup dalam dunia yang lambat. Ada makanan cepat saji (fast food), ada sekolah cepat jadi (ekstensi), ada jasa peminjaman cepat tanpa antri.
Tahun 2000-an telah menjadi titik balik perubahan sosial kebudayaan melalui revolusi teknologi. Kita mulai mengenal berbagai gadget modern mulai dari hand phone, lap top, note book, tablet. Kita mulai mengenal surat elektronik. Kita mulai mengenal jejaring sosial facebook, instagram, whatsap dll.
Dengan menggunakan
definisi deskriptif, istilah “Alun-alun” dalam konteks modern yaitu sebuah
ruang terbuka dan luas yang ditandai sejumlah elemen-elemen berikut yang ada
disekelilingnya yaitu keberadaan pohon beringin di tengah lapangan luas, gedung
pusat pemerintahan baik eksekutif dan legislatif serta tempat peribadatan
(masjid) di sekitar alun-alun. Alun-alun biasanya menjadi pusat kegiatan warga,
mulai dari aktifitas ekonomi baik di siang atau malam hari mulai dari pedagang
makanan hingga mainan anak-anak, aktifitas olah raga di pagi hari, upacara
nasional, pesta hiburan rakyat mulai dari kesenian tradisional hingga
pertunjukkan seni modern kontemporer. Tidak lupa tentunya sejumlah aktifitas
muda dan mudi yang memanfaatkan alun-alun dari mulai bercengkrama dengan
pasangannya hingga berselfie ria sebagai gaya hidup di erateknologi informasi.
Langganan:
Postingan (Atom)








