RSS Feed

DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DENGAN MOCH. ALI (3)

Posted by Teguh Hindarto


DISKUSI SERI III

Moch Ali: QS. ash-Shaff [61]:6 yang menyatakan pengharapan Yeshua atas kedatangan seseorang yang ditunggu-tunggu kehadirannya, yang bernama Ahmad, justru diperkuat dengan ayat selanjutnya QS. ash-Shaf [61]:7-8. "Mereka berkehendak memadamkan Nur (the Light) ALLAH dengan ucapan-ucapan mereka, tetapi ALLAH bahkan menyempurnakan Nur (the Light)-Nya, sekalipun mereka yang mengingkarinya menjadi dengki." Ayat ke-8 ini mengidentifikasi personalitas Ahmad sebagai orang yang diramalkan kedatangannya oleh Yeshua itu sebagai Nur (the Light) of ALLAH
----------------
Shem Tov: Mengenai Qs 61:6 adalah klaim ekslusif Quran bahwa Isa menubuatkan kedatangan seorang rasul. Klaim ini tidak mendapatkan dukungan apapun dalam TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru. Bahkan injil-injil non kanonik pun tidak pernah menyitir pseudo prophecy tersebut.

Qs 61:6 tidak berbicara perihal konsep Mesias dalam Islam, karena sebagaimana saya telah buktikan bahwa Islam tidak mengenal konsep mengenai Mesias. Qs 61:6 hanya membicarakan perihal “seorang rasul yang akan datang” dan bukan Mesias, sebagaimana dikatakan:

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata.".

Anda mencoba dengan sekuat tenaga menghubungkan kata NUR dalam Qs 61:8 dengan hakikat Muhamad sebagai NUR berdasarkan pernyataan beberapa hadits. Sayang sekali Anda melakukan penafsiran yang lepas dari konteks Qs 61:8. Qs 61:8 tidak berbicara perihal HAKIKAT MUHAMAD yang adalah berasal dari NUR, melainkan ayat ini berbicara bahwa nubuatan Isa mengenai datangnya Ahmad diyakini sebagai NURULLAH (cahaya Allah)

Lebih jauh lagi Anda melakukan lompatan akrobatik yang menakjubkan dengan mengatakan, “...orang yang diramalkan kedatangannya oleh Yeshua itu sebagai Nur (the Light) of ALLAH”. Pada Qur’an ayat mana yang mengatakan bahwa Yesus/Isa menubuatkan perihal Muhamad sebagai Nur Allah” Qs 61:8 tidak mengidentifikasi hakikat Muhamad sebagai Nur Allah namun yang disebut Nur Allah adalah nubuatan Isa yang tertulis dalam Qs 61:6.

Moch Ali: Salah seorang sahabat Rasul SAW yang bernama Jabir bin Abdullah al-Anshari bertanya kepada beliau: "Ya Rasululah, sungguh kami ingin mengetahui. Beritahulah kami apa yang mula-mula diciptakan ALLAH sebelum segala sesuatu?" Rasulullah menunduk sejenak, air matanya membasahi pipinya, kemudian jawabnya: Wahai Jabir, sesungguhnya ALLAH sebelum menciptakan segala sesuatu, terlebih dahulu Dia menciptakan Nur (the Light) kenabianku dari Nur-Nya. Hadith ini ada dalam kitab-kitab hadith Sunni maupun Syiah. Ini membuktikan bahwa Muhammad SAW menyatakan secara langsung bahwa dirinya adalah Nur (the Light), yang tidak lain adalah 'Or (the Light) dalam literatur Yahudi. Bahkan QS. ash-Shaf [61]:6 menyatakan secara tersurat bahwa ALLAH menyebut Sang Nabi itu sebagai Nur (Sang Terang).
--------------
Shem Tov: Saya sudah menjelaskan bahwa kata NUR dalam Qs 61:8 tidak terkait dengan hakikat Muhamad. Perihal hadits di atas, mayoritas Islam menolak sanadnya. Silahkan Anda membaca kajian berikut:

Derajat Hadits Nur Muhammad Wahai saudaraku, semoga Allah menunjuki kita ke jalan-Nya, ketahuilah bahwasanya sanad (silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadits) merupakan bagian dari agama kita, yang dengannya Allah menjaga agama ini. `Abdullah bin Mubarak mengatakan: “Sanad merupakan bagian dari agama. Kalau tidak ada sanad, tentu orang akan seenaknya berkata (tentang agama ini).”

Syaikh Dr. Shadiq Muhammad Ibrahim (salah seorang yang telah melakukan penelitian terhadap hadits ini) mengatakan: “Semua kitab-kitab sufi yang terdapat di dalamnya hadits ini, tidak ada yang menyebutkan sanad dari hadits tersebut. Mereka hanya menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh `Aburrazzaq. Saya telah mencarihadits tersebut dalam kitab-kitab yang ditulis oleh `Abdurrazzaq dan saya tidak menemukan hadits tersebut.”

`Abdullah al-Ghamariy (seorang pakar hadits) mengatakan: “Hadits tersebut merupakan hadits maudhu` (palsu). … Bersamaan dengan itu, hadits tersebut juga tidak terdapat dalam kitab Mushannaf `Abdurrazzaq, Tafsir-nya, dan tidak juga dalam Jami`-nya. … Maka shahabat Jabir bin `Abdullah radhiyallahu `anhu (perawi hadits menurut mereka) berlepas diri dari menyampaikan hadits tersebut. Demikian juga `Abdurrazzaq, dia tidak pernah menulis hadits tersebut (dalam kitabnya). Orang yang pertama menyampaikan hadits ini adalah Ibnu Arabi. Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkannya.”

Konsekuensi yang Sesat dan Menyesatkan Keyakinan sesat yang timbul sebagai konsekuensi dari hadits di atas adalah sebagai berikut:

Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya Keyakinan ini tentu saja merupakan bentuk pengingkaran terhadap al-Qur`an yang dengan jelas menyatakan tentang kemanusiaan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Al-Israa`: 93) Dan manusia diciptakan dari tanah, bukan dari cahaya. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kalian dari tanah. Kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS. Ar-Ruum: 20)

Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam berasal dari cahaya Allah Ini merupakan perkataan tentang Allah tanpa dasar ilmu. Kita tidak bisa berbicara tentang Allah, kecuali melalui kabar dari-Nya, baik yang terdapat dalam al-Qur`an, maupun hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam. Allah Ta`alaberfirman yang artinya: “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakannya, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), Ini adalah dusta yang besar.” (QS. An-Nuur: 16)


Abu Ka’ab Prasetyo

http://muslim.or.id/aqidah/keyakinan-nur-muhammad-cikal-bakal-wihdatul-wujud.html.

Moch Ali : Ayat yang lain, QS. al-Maidah [5]:15 juga menjelaskan bahwa Muhammad SAW sebagai Nur (the Light). "Ho lae tu Bibliu! Sas elthe ho Allegiaphoros sas, ho opoios apokaluptai megalo meros tu periechomenou tu Bibliu, polla ek tōn opoiōn aichate apokrupsai kai paralaipsai. Sas elthe pragmati apo ton Allah ena Phōs kai ena Biblio saphes.” (To Iero Koranio. Kephalaio Al-Mainta [5]15). 
O People of the Scripture! Now hath Our messenger come unto you, expounding unto you much of that which ye used to hide in the Scripture, and forgiving much. Now hath come unto you Light from Allah and a plain Scripture. (the Table Spread/ al-Ma’idah [5]:15). 

Moulvi Moehammad Ali translated the verse as follows: De Familie Amran [3]: 80 “en toen God een verbond door de profeten maakte: Waarlijk, wat Ik u heb gegeven van het Boek en de wijsheid en er komt dan een apostel tot u, bevestigende datgene wat bij u is, gij moet in hem gelooven, en gij moet hem bijstaan. Hij zei: Bekrachtigt en aanvaardt gij Mijn overeenkomst in dezen? Zij zeiden: We bekrachtigen. Hij zie: Derhalve, getuig en ook Ik ben met u van de getuigen.” At the footnote, he comments: “Op zede plaats wordt de aanspraak aangevoerd, dat alle profeten de kamst van en Wereld-Profeet hadden voorspeld, die de waarheid van al de in de wereld vershenen profeten zou bevestigen. Vgl. Handelingen 3:21-22: “Welken de hemel moet ontvangen tot de tijden der wederoprichting aller dingen, die God gesproken heeft door den mond van al Zijne heilige profeten, sinds de wereld begon. Wan Mozes heeft tot de vaderen gezegd: De Heere, uw God, zal u eenen Profeet verwekken uit uwe broederen, gelijk mij: hem zult gij hooren, in alles, wat hij tot u spreken zal.” De heilige Profeet Moehammad is in deze twee opzichten eenig onder de profeten der wereld: zjin komst werd door alle anderen voorspeld en hij bevestigde deze waarheid door van zijn volgelingen te eishen in al de profeten te gelooven, die vóór hem waren gekomen.”

George Sale translated the verse Ali Imran [3]:81 as follows, “And remember when God accepted the covenant of the prophets, saying, This verily is the scripture and the wisdom which I have given you: hereafter shall an Apostle come unto you, confirming the truth of that scripture which is with you; ye shall surely believe on him, and ye shall assist him. God said, Are ye firmly resolved, and do ye accepted my covenant on this condition? They answered, We are firmly resolved: God said, Be ye therefore witnesses; and I also bear witness with you: and whosever turneth back after this, they are surely the transgressors.” In the footnote of the verse, Sales states, “some commentators interpret this of the children of Israel themselves, of whose race the prophets were. But others say the souls of all the prophets, even of those who were not then born, were present on mount Sinai when God gave the law of Moses, and that they enter into the covenant here mentioned with him. A story borrowed by Muhammad from the Talmudists, and therefore most probably his true meaning in this place.” E. H. Palmer (1840-1882 B.C.), an English Orientalist and Professor of Arabic at Cambridge University, U.K. even translated the verse Ali Imran [3]: 81 as follows: “And when Allah took the compact from the prophets this is surely what we have given you of the Book and wisdom. Then shall to you the Apostle confirming what is with you. Ye must believe in him and help him. He said, moreover, Are ye resolved and have ye taken my compact on that condition? They say, We are resolved.’ He said, ‘Then bear witness, for I am witness with you, but he who turns back after that, these are sinners. At the footnote of the verse, he says, “the legend, borrowed from Talmudic sources, is that Allah assembled all past, present, and future prophets on mount Sinai and entered into the compact mentioned in the text. Other, J.M. Rowell, M.A., who was well-known by scholars of the West as one of the early translators of the Scripture of Islam in the Protestant world, at the beginning of his note of the same verse, Ali Imran [3]:81, he then comments: “assembled on mount Sinai. Compare the Jewish legend, that all the prophets, even those who were not yet born, were present on mount Sinai when God gave the law to Moses. See Shemoth Rabba, parashah 28, according to which, not only the prophets but the rabbis of every generation, were present at the giving of the Law. However, their commentaries on the verse are really important information for me to trace the source of borrowing as the truth. Yet, I research the Jewish documents as George Sale, M.H. Palmer, and J.M. Rodwell mentioned it, I find the source of their quotation in the book of Abraham Geiger. In that book, there is a narrative Agadic text of the Talmud and the Midrash, by commentator Rabbi Shlomo Yitzhaki of Troyes who lived in the eleventh century , known as Rashi on the Shemoth Rabba, parashah 27-28 (Exodus 27-28), Abodah Zarah II.2, cf. two summaries of Jerusalem Targum. The corresponding Rabbinical statement may be translated as follows,

שְׁנֵי דְבָרִים שָׁאְלוּ יִשְׂרָאֵל מִלִּפְנֵי הַקָּ'בָּ'ה' שֶׁיִרְאוּ כְבוֹדוֹ וְיִשְׁמְעוּ קוֹלוֹ וְחָיוּ רוֹאִין אֶת כְּבוֹדוֹ וְשִׁמְעִין אֶת-קוֹלוֹ שֶׁנֶ הֵן הֶרְאָנוּ אֱלהֵינוּ אֶת כְבוֹדוֹ וְאֶת גָדְלוּ וּכְתִיב וְאֶת-קוֹלוֹ שָׁמַעְנוּ מִתּוֹך הָאִשׁ וְלוׁהָיָה בָּהֶם כחַ לַעְמוֹד כִוָּן שֶׁבָּאוּ לְסִינַי וְנִגְלָה לָהֶם פָּרְחָה נִשְׁמָתָם עֵל שֶׁדִּבֵּר עִמָּהֶם שֶׁנֶ נֵפְשִׁי יָצְאָה בְּדַבְּרוֹ אֲבָל הַתּוֹרָה בִּקְשָׁה עֲלֵיהֶם רַהֲמִים מִלִּפְנֵי הַקָּ'בָּ'ה' יֵשׁ מֶלֶךּ מֵשִּׂיא בִתּוֹ וְהרֵב אֵנְשִׁי בֵיְתוֹ כָל-הָעָוֹלָם כֻּלּוֹ שְׂמֵחִים וּבָנֶיךָ מֵתִים מִיֵּד הֳזְרָא נִשְׁמָתָן שֶׁנָ תּוֹרָת ה' תְּמִימָה מְשִׁיבָת נָפֶשׁ.


“The Israelites desired two things of God, that they might see His glory and hear His voice; and both were granted them as it is written in Deuteronomy 5:24 ‘Behold the Lord our God hath shewed us His glory and His greatness, and we have heard His voice out of the midst of the fire.’ Then they had no power to bear it, for when they came to Sinai and He appeared to them, their soul departed at His speech as it is written in Canticles 5:6 ‘My soul went forth when He spake.’ The Law (the Torah) however interceded with God for them saying, ‘Would a king marry his daughter and slay all his household?’ The whole world rejoices on account of my appearance, and shall thy children (the Israelites) die? At once their souls returned to them, therefore it is written in Psalms 19:8 ‘the Law of the Lord is perfect, restoring the soul.” 

DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DENGAN MOCH. ALI (2)

Posted by Teguh Hindarto


DISKUSI SERI II

Moch Ali: Rabbi Sa'adiah ben Yosef Ga'on memang bukan seorang Muslim, apalagi dianggap sebagai Muslim Arab. Tak ada seorang pun di kalangan Messianic Jewish Muslims mengklaim Rabbi Sa'adiah sebagai Muslim. Meskipun beliau bukan seorang Muslim Arab, tetapi Rabbi Sa'adiah adalah seorang rabbi Yahudi keturunan Arab (an Arab Jew) dan bertradisi Arab. Bahkan mengenalkan Judaism dalam wajah peradaban Arab, serta menulis the Jewish Kalam dalam bahasa Arab. Istilah 'kalam' justru menunjukkan bahwa Rabbi Sa'adiah sangat concern dengan teologi berlatar kultur Arab. Ia bahkan juga dikenal sebagai pendiri kesastraan Arab yang berlatar Yahudi. Rabbi Sa'adiah juga menulis buku-bukunya dalam bahasa Arab. Dalam karyanya, ia pun mengakui bahwa Muhammad SAW sebagai Mashiah ha-Shema'i le 'olam (Mesias yang seruannya diperdengarkan bagi alam semesta). Teks lengkap pengakuan Rabbi Sa'adiah Ga'on atas ke-Mesias-an Muhammad SAW berbunyi sbb:"Ve 'Or le 'aretz, miyayi ha miyayi, hagadol ha Shiluakh, Mashiah Ha Shema'i le 'olam, ve hodu 'alachem,.. [and the Light of the earth/dan Terang bagi dunia, Apostle the Great/ Sang Utusan Terbesar, the Messiah who his words will be presented to the universe/ Mesias yang seruannya dipersembahkan bagi alam semesta] "(Saadya Gaon, dalam Compilation of Excerpt Rabbinic, in Jewish Rabbinic Literature in Middle East,...hlm.27). Inilah pengakuan Rabbi Sa'adiah Gaon atas ke-Mesias-an Muhammad SAW.

QS. al-Shaff [61]:6 dan QS al-Baqarah [2]:129 menegaskan akan ke-MESIAS-an Nabi Muhammad SAW sebelum kelahiran historisnya sebagai manusia. Bahkan, para nabi diambil pernjanjian oleh ALLAH tentang kedatangan Muhammad SAW sebagai sosok Mesias yang ditunggu-tunggu itu, dan Rabbi Sa'adiah mengkonfirmasi pengharapan itu.

Pengakuan Rabbi Sa'adiah Ga'on sendiri sangat jelas tentang Muhammad SAW yang disebutnya sebagai Or le aretz (the Light of the earth), ha-Gadol ha Shiluakh (Apstle the Great), Mashiah ha Shema'i le 'olam (the Messiah who his words will be presented to the universe/ Mesias), dan sebagai Hodu 'aleykhem (the Guide One to them). Fakta ini bisa dicek dalam "(Saadya Gaon, dalam Compilation of Excerpt Rabbinic, in Jewish Rabbinic Literature in Middle East,...hlm.27). Fakta respektif Rabbi Sa'adi Ga'on terhadap the messiahship of Muhammad SAW ini juga senada dengan Rabbi Bachya. Berikut saya kutipkan pernyataan Rabbi Bachya dari Khamisya Khumsye Torah 'im Targum Onqelos, dan juga saya kutipkan dari buku saya 'Discovering Hebraic Root of Islamic Messiah'. In fact, in the Midrash Bereshit Rabbah, there is an ancient rabbinic text, spoken by Rabbi Bachya, citing from Rabbi Chananel. He said: ‘we see from the prophecy in this verse Genesis 17:20, sheneim ‘asar Nesīim (twelve Leaders), that 2337 years elapsed before the Arabs, Ishmael’s descendants, became goy gadol (a great nation) with the rise of Islam in 624 C.E., through this period, Ishmael hoped anxiously, until finally the promise was fulfilled and they dominated the world. We, descendants of Isaac, for whom the fulfillment of the promises made to us is delayed due to our sins should surely anticipate the fulfillment of God’s promises and not despair.’ Bagaimana menurut pendapat Pak Hindarto tentang pernyataan para rabbi berkaitan dengan the messiahship of Yeshua? Misalnya dalam Talmud, Yeshu'a disebut sebagai Talui (Dia Yang Tergantung). Apakah ini menunjukkan bahwa para rabbi mengakui klaim ke-MESIAS-an Yeshua? Mohon pencerahannya.
------------
Shem Tov: Terlepas dari klaim Saadya Gaon soal kenabian Muhamad, fokus tanggapan saya adalah ISLAM dan QURAN tidak mengenal konsep MESIAS dalam TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru.

Kita mulai dengan tiga istilah MASAKH dan MESHIAKH serta MOSHIA

משׁח (MASAKH) artinya PENGGURAPAN OLEH MINYAK

“Elisha harus kau urapi (mashakhu) menjadi nabi” (1 Raj 19:16)

משׁיח (MESIAKH) artinya YANG DIURAPI

“Inilah firman kepada orang yang Ku-urapi” (meshikhu, Yes 45:1)

מושׁיע (MOSHIA) artinya PENYELAMAT/JURUSLAMAT

“Ia akan mengirim Juruslamat (moshiah) kepada mereka” (Yes 19:21).

Latar belakang TaNaKh mengenai Mesias bergema kembali dalam naskah Perjanjian Baru dan mengerucut pada sosok bernama Yesus (Yahshua/Yahushua/Yeshua) yang disebut dengan Mesias.

Yesus menyadari keberadaan dirinya selaku Mesias ketika Dia mengutip Yesaya 61:1 perihal orang yang diurapi YHWH dan menghubungkan pada dirinya (Luk 4:18)

Ketika Petrus mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Tuhan, Yesus membenarkan pengakuan itu dan mengatakan bahwa itu adalah tuntunan Bapa Surgawi (Luk 16:16)

Penduduk Yerusalem banyak yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (Yoh 1:41; 4:25)

Pemberitaan para rasul berfokus bahwa Yesus adalah penggenap nubuatan Mesianik dalam TaNaKh (Yoh 20:31, Kis 5:42, Kis 17:3).

Membandingkan kajian di atas, maka sekarang saya menuntut bukti pada Mas Ali, bahwa konsep Mesias tertulis dalam Qur’an dan Hadits!

Apakah Muhamad pernah mengklaim bahwa dirinya adalah Mesias? Apakah Muhamad pernah mengutip satu ayat dalam TaNaKh yang membuktikan bahwa dirinya adalah Mesias (sebagaimana Yesus mengutip ayat-ayat profetik dalam TaNaKh)

Klaim Saadya Gaon tidak memiliki gema otoritatif apapun karena toch baik Muhamad, Qur’an dan Hadits TIDAK PERNAH MENGHUBUNGKAN Muhamad sebagai Mesias yang diharapkan dalam TaNaKh. Klaim Saadya Gaon setara dengan klaim Buhaira namun tidak otoritatif.

Anda menulis, “Teks lengkap pengakuan Rabbi Sa'adiah Ga'on atas ke-Mesias-an Muhammad SAW berbunyi sbb:"Ve 'Or le 'aretz, miyayi ha miyayi, hagadol ha Shiluakh, Mashiah Ha Shema'i le 'olam, ve hodu 'alachem,.. [and the Light of the earth/dan Terang bagi dunia, Apostle the Great/ Sang Utusan Terbesar, the Messiah who his words will be presented to the universe/ Mesias yang seruannya dipersembahkan bagi alam semesta] "(Saadya Gaon, dalam Compilation of Excerpt Rabbinic, in Jewish Rabbinic Literature in Middle East,...hlm.27). Inilah pengakuan Rabbi Sa'adiah Gaon atas ke-Mesias-an Muhammad SAW”. Sayangnya, kutipan pernyataan Saadya Gaon tadi tidak didasari pada rujukan TaNaKh yang jelas.

DISKUSI SHEM TOV (TEGUH HINDARTO) DENGAN MOCH. ALI (1)

Posted by Teguh Hindarto


PERIHAL KONSEP MENGENAI MESIAS DAN OR HA OLAM


Pengantar

Berikut ini adalah diskusi antara Shem Tov (Teguh Hindarto) dengan Moch. Ali. Diskusi bermula dengan status yang dibuat Moch Ali dengan judul:

Perdebatan Nama ALLAH (bahasa Arab) dan YAHWEH (bahasa Ibrani)

by Moch Ali on Wednesday, October 19, 2011 at 10:26am

Shalom 'aleykhem. As-salamu'alaykum.

Ikuti diskusi tentang nama ALLAH dan nama YAHWEH, antara Moch Ali van Nederlandsch Indie dari Islam Messianik dengan Sem Aldo Tulung, Aldo Ministry, dari Kristen Messianik. Part I. ALLAH = YAHWEH.

Fakta wacana keagamaan di Indonesia sekarang ini mengerucut pada dua kutub ekstrim: (1) Islam fundamentalis (Islam Wahabi as-Salafi) sangat anti nama YAHWEH, dan lebih Arab dari pada orang Arab sendiri. Bahkan berusaha menolak penggunaan nama YAHWEH dalam terjemahan Quran bahasa Ibrani karena menurut mereka, nama YAHWEH tidak tercantum dalam kitab suci Quran (2) Kristen Injili (Kristen Messianik) sangat anti nama ALLAH, dan lebih Yahudi dari pada orang Yahudi sendiri. Bahkan berusahan menolak penggunaan nama ALLAH dalam terjemahan Bible dalam bahasa Arab (al-Kitab al-Muqaddas) karena menurut mereka, nama ALLAH dianggap sebagai nama dewa bulan, nama berhala, sembahan bangsa pagan Arab. Komunitas studi Islam Messianik sebagai kumpulan orang-orang keturunan Yahudi yang memeluk Islam, berupaya menjembatani ketegangan wacana politisasi teologis kedua pemahaman kutub ekstrim tersebut. Bahkan, (i) kehadiran Islam Messianik (Messianic Jewish Moslems of Indonesia) lebih tepat sebagai upaya untuk menangkal dan menghadapi gerakan penginjilan kaum Kristen Messianik terhadap para keturunan Yahudi di Indonesia, (ii) menangkal gerakan evangelisasi kaum Kristen Ortodoks Syria yang sering menggunakan atribut dan simbol-simbol ke-Arab-an dalam mensosialisasikan ajaran Kristen di pesantren-pesantren Islam. Dengan demikian, tugas berat lembaga the Yeshiva Center for Enlightment yang digagas oleh the Messianic Jewish Muslim of Indonesia selain mengimbangi gerakan kristenisasi berwajah Arab dari kalangan Kristen Ortodoks Syiria, tetapi juga mengimbangi gerakan kristenisasi berwajah Ibrani dari kalangan Kristen Messianik. Simak dialog-nya.

http://www.facebook.com/echa.prihatin.ningsih/posts/271152982908092?notif_t=mentions_comment.

http://www.facebook.com/notes/moch-ali/perdebatan-nama-allah-bahasa-arab-dan-yahweh-bahasa-ibrani/285487854809697

Berdasarkan pernyataan di atas, Shem Tov (Teguh Hindarto) memberikan tanggapan. Dan terjadilah diskusi di bawah ini. Saat diskusi ini diposting, percakapan antara Shem Tov (Teguh Hindarto) dan Moch Ali masih berlangsung.

Agar memudahkan pembaca mengikuti diskusi ini, saya akan membuat diskusi ini dalam beberapa seri.


DISKUSI SERI 1

Shem Tov: Sdr. Moch Ali, jika Anda mengatakan bahwa "Kristen Mesianik" (sebuah istilah yang bagi saya "contradictio in terminis") hadir untuk melakukan evanggelisasi terhadap keturunan Yahudi. Saya luruskan. Silahkan Anda membaca buku yang sudah Anda pesan dari saya atau silahkan membaca kajian on line perihal apa dan bagaimana Messianic Judaism di link berikut:.

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/messianic-judaism-sacred-name-movement.html

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/messianic-judaism-sacred-name-movement_10.html

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/messianic-judaism-sacred-name-movement_1006.html.
Kehadiran Messianic Judaism di luar negeri lebih bersifat internal reconstruction terhadap root of faith mereka yang berakar pada Yudaisme. Messianic Judaism bukan diciptakan untuk pendekatan evanggelisasi. Misi dakwah tentu saja ada. Namun eksistensi mereka bukan didasarkan sebuah rencana untuk evanggelisasi belaka.

Istilah "Kristen Mesianik" dan "Islam Mesianik" adalah contradictio in terminis. Kata "Kristen" berasal dari bahasa Yunani "Christianoi". Kata "Mesianik" berasal dari kata Ibrani "Mashiakh". Dalam artikel berikut saya memberikan penamaan atas kajian-kajian yang merespon Messianic Judaism dengan sebutan "Kristen Semitik" (Semitic Christian) dan "Kristen yang berakar pada Yudaisme" (Judeo Christian) 

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html.

Apalagi dengan menggunakan istilah "Islam Mesianik". Ini lebih tidak betul lagi. Konsep Mesias hanya ada dalam TaNaKh dan literatur Yahudi. Kalaupun Islam memiliki konsep mengenai Imam Mahdi dan Hakim Yang Adil yang akan datang kelak di akhir zaman, itu lebih berbicara persoalan apokaliptik (penyingkapan peristiea akhir zaman) daripada berbicara perihal Mesias.

Anda mengatakan bahwa Gereja Orthodok Syria hadir sebagai salah satu bentuk evanggelisasi terhada Islam khususnya di Indonesia. Saya tegaskan, sekalipun Gereja Orthodox Syria memiliki misi evanggelisasi alias dakwah, namun menggeneralisir begitu saja eksistensi dan kehadiran mereka sebagai bentuk evanggelisasi, berarti mengingkari kenyataan historis bahwa Gereja Orthodox Syria sudah ada di wilayah Arabia jauh sebelum kehadiran agama Islam. Kehadiran Gereja Orthodox Syria di Indonesia, lebih kepada perkenalan kepada Kekristenan kepada ekspresi Kekristenan timur yang semitik.

Terkait persoalan nama Allah, saya ingin memberikan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah Anda terima atau alami dalam perdebatan.

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/meninjau-ulang-penggunaan-nama-dalam.html.

Moch Ali: Shalom 'alaykha be or ha-rachaman Adoneinu. Maaf Pak Teguh Hindarto, terima kasih atas partisipasi Anda dalam menanggapi catatan saya ini. Namun, ada hal yang mengagetkan saya setelah membaca buku-buku Anda yang saya beli tempo hari. Saya tak satu pun menemukan penggunaan nama ALLAH dalam karya-karya Anda tersebut, baik dalam konteks sebagai generic noun, apalagi dalam konteks sebagai proper name. Saya hanya menemukan penggunaan istilah Elohim atau Tuhan sebagai pengganti sebutan Allah sebagai generic noun. Dalam hal ini, saya berkesimpulan bahwa Forum Studia Mesianica bukan hanya menolak penggunaan istilah ALLAH sebagai sebutan (generic noun), tetapi juga menolak penggunaan nama ALLAH sebagai nama diri proper name of Elohe Yisrael. Itu artinya, ALLAH bukanlah sembahan Israel. Sementara itu, Kristen Ortodoks Syria, memang tidak menolak penggunaan sebutan ALLAH dalam Alkitab LAI sebagai generic noun, tapi yang ditolak hanya aspek gramatika kebahasaan bahasa Indonesia saja. Itulah sebabnya, sering kali terjadi ketegangan teologis akibat kesalahan berbahasa yang diperparah akibat politisasi teologis komunitas iman yang berbeda. Dogamatika Kristen menyatakan tiada allah selain TUHAN, karena semua allah bangsa non-Yahudi itu berhala. Sedangkan dogmatika Islam menyatakan tiada tuhan selain ALLAH. Jadi, allah dalam perspektif Kristen dianggap sebagai 'tuhan', sedangkan tuhan dalam perspektif Islam dianggap sebagai 'ilah', bukan ALLAH

----------
Shem Tov: Bukankah sejak awal kita bercakap-cakap seharusnya Mas Ali sudah bisa menebak arah pembicaraan kita. Bedanya, saya tidak anti terhadap mereka yang masih menggunakan nama Allah. Ini soal perspective belaka. Dalam tataran akademis masih bisa dimaklumi. Dalam tulisan saya sudah djelaskan bahwa Allah memang bukan Yahweh. Jika hendak mendiskusikan persoalan tersebut dapat di ruang tersendiri.

Moch Ali: Baiklah, meskipun Pak Hindarto tidak anti terhadap orang-orang Kristen yang masih menggunakan nama ALLAH sesuai Alkitab LAI karena alasan perspektif semata. Namun, pada saat yang sama, Forum Studia Mesianica tidak mengakui bahwa ALLAH adalah YAHWEH. Pengakuan ini secara tersurat menyatakan bahwa nama YAHWEH yang seharusnya muncul dalam Alkitab, dan bukan nama ALLAH karena ALLAH bukanlah YAHWEH, yakni YAHWEH sebagai tuhan yang menginspirasi Alkitab, dan bukan ALLAH yang menginspirasi Alkitab. Jadi, tindakan sebagian Kristen yang masih menggunakan nama ALLAH dan LAI yang juga masih melestarikan nama ALLAH tercantum dalam terjemahan Alkitab-nya, tentu merupakan kesalahan, karena ALLAH bukanlah YAHWEH yang menginspirasi Alkitab.
--------------
Shem Tov: Bukankah saya sudah pernah mengatakan bahwa sikap toleran, tidak meniadakan sikap pribadi yang berisikan sebuah keyakinan. Ketika saya mengucapkan selamat Iedul Fitri (sebagaimana saya selalu lakukan berkeliling kepada orang-orang yang tua di masyarakat), bukan berarti saya mengimani apa yang mereka imani bukan?.

Moch. Ali: Untuk mendiskusikan persoalan tersebut di ruang tersendiri, saya berharap Pak Hindarto bisa membaca argumentasi-argumentasi saya dalam dialog mengenai nama ALLAH dengan Sem Aldo Tulung, Aldo Ministry.
----------
Shem Tov: Soal perdebatan nama Allah, saya lebih menggunakan pendekatan bahasa dan sejarah daripada kesaksian arkeologis yang menyatakan Allah dihubungkan dengan nama dewa.

APAKAH KEKRISTENAN BERBEDA DENGAN YUDAISME?

Posted by Teguh Hindarto




Seseorang bertanya pada saya, apakah Kekristenan berbeda dengan Yudaisme? Saya menjawab bahwa Kekristenan modern dan Yudaisme modern memang berbeda dalam banyak hal. Berbeda dalam memahami Mesias, berbeda dalam konsep peribadahan, berbeda dalam pemahaman mengenai konsep kejatuhan dosa manusia.

Kekristenan sebagai anak kandung Yudaisme

Namun jika kita merujuk pada akar Kekristenan awal pada abad pertama, maka tidak dijumpai adanya perbedaan antara Kekristenan dan Yudaisme. Yesus Sang Mesias bukan seorang Kristen dan tidak mendirikan agama Kristen. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan Yudais sejati.

Bukti keyahudian dan keyudaismean Yesus sbb: Dia disunat pada hari kedelapan (Luk 2:21-24), menggunakan pakaian khas Yahudi dengan tsit-tsit di ujung bajunya (Mat 9:20 band. Bil 15:38), mengajar dengan gaya khas seorang rabi Yahudi yang sarat dengan perumpamaan, amsal, midrash yang dikemas dalam bentuk dialog dan diskusi. Beribadah sabat dan membaca gulungan Torah (Luk 4:16), melakukan ibadah harian tiga kali sehari atau tefilah sakharit, minkhah, maariv (Mat 14:23), melaksanakan tujuh hari raya (sheva moedim). Nama ketujuh Hari Raya tersebut adalah: Pesakh , Hag ha Matsah (Roti Tidak Beragi), Hag Sfirat ha Omer (Buah Sulung), Hag Shavuot (Pentakosta), Hag Rosh ha Shanah/Yom Truah (Tahun Baru/peniupan Sangkakala), Hag Yom Kippur (Pendamaian) dan Hag Yom Sukkot (Pondok Daun). Dari ketujuh Hari Raya tersebut, ada tiga Hari Raya besar yang diperingati setiap tahun dengan berkumpul di Yerusalem, yaitu Pesakh, Shavuot dan Sukkot (Ulangan 16:16-17). Kitab Perjanjian Baru mencatat tiga perayaan penting tersebut dihadiri oleh Yesus, baik saat Yesus mulai beranjak remaja maupun sudah mulai dewasa dan melakukan karya Mesianik-Nya. Yesus menghadiri Perayaan Pesakh bersama kedua orang tua-Nya (Luk 2:41-42). Yesus merayakan Sukkot bersama murid-murid-Nya (Yoh 7:1-13).

Hans Ucko mengulas secara kritis mengenai akar dan sumber Kekristenan sbb: “Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya ‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut mencerminkan sebentuk rasa sulit [bagi orang Kristen atas hubungannya yang terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini. Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu”[1]


JAWABAN ATAS SURAT TERBUKA JALAN IBROHIM

Posted by Teguh Hindarto


Terimakasih atas pernyataan dan ajakan yang Anda berikan dengan judul “Surat terbuka kepada Pendeta Messianik Yahudi – Pdt. Teguh Hindarto, MTH”

http://jalanibrahim.wordpress.com/2010/05/05/surat-terbuka-kepada-pendeta-messianik-yahudi-pdt-teguh-hindarto-mth/

dimana dalam surat terbuka Anda mengajak saya untuk masuk Islam. Sebelum saya memberikan jawaban, saya akan menanggapi beberapa pernyataan Anda yang tidak tepat.

Anda berkata:

Adapun keberadaan anda sebagai punggawa MESSIANIK JEWISH INDONESIA…
Anda berhadapan dengan sesama PEMUJA NABI IESHUA….

Anda berhadapan dengan PRINSIP UTAMA GEREJA-GEREJA MODERN yang SEPAKAT mengatakan NABI IESHUA adalah JELMAAN TUHAN di bumi…

Anda meyakini sang NABI bukan REINKARNASI TUHAN sementara mereka meyakini YESUS REINKARNASI TUHAN…

Anda juga berhadapan dengan kaum YAHUDI yang menghina YESUS sang Nabi sebagai MESIAS PALSU..

Di YAHUDI anda ditolak…di NASRANI anda juga ditolak…
YAHUDI tidak NASRANI bukan…

Tanggapan saya:

Anda keliru menyebut saya dengan “punggawa Messianik Jewish Indonesia”. Perlu Anda ketahui bahwa Messianic Judaism/Jewish adalah pergerakan spiritual diantara komunitas Yudaisme dan Yahudi yang dimulai sejak Abad XIX hingga sekarang, dimana mereka beriman bahwa Yahshua (Yeshua) adalah Mesias Yahudi yang dinantikan selama ini. Mereka tidak ingin menyebut dan diidentifikasi sebagai Kristen. Mereka memiliki tata ibadah yang berakar pada nilai-nilai Yudaisme. Gerakan ini semakin meluas berkat kemajuan teknologi informasi khususnya media internet, sehingga warna dan keragaman pemahaman dan ibadah mereka dapat diakses oleh siapapun di belahan dunia lain bahkan di Indonesia.

Kekristenan di belahan dunia lain bahkan di Indonesia ada yang menolak namun ada pula yang menyambut kehadiran dan kelahiran gerakan spiritual ini. Banyak komunitas Kekristenan di Eropa, Amerika bahkan di Asia merespon gerakan ini dengan menggunakan istilah “Back to the Hebraic Root of Christianity”. Beberapa komunitas Kristen langsung melepaskan diri dengan Kekristenan sementara ada yang tetap berada dalam koridor Kristen namun dengan mengaplikasikan gagasan Messianic Judaism. Baca selengkapnya artikel saya mengenai Messianic Judaism sbb:

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/messianic-judaism-sacred-name-movement.html

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/messianic-judaism-sacred-name-movement_10.html

http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/05/messianic-judaism-sacred-name-movement_1006.html


Saya termasuk golongan yang kedua. Saya tetap berada dalam koridor Kekristenan dan tidak pernah melepaskan diri dari Kekristenan. Untuk membedakan warna Kekristenan saya dengan denominasi lain (Orthodox, Katholik, Protestan, Pentakosta, Kharismatik, Baptis, Metodis, dll) saya lebih senang menyebut diri saya sebagai “Kristen Rekonstruksionis” atau “Kekristenan Semitik” atau “Judeochristianity”. Saya bukan Mesianik Yudaisme atau Mesianik Yahudi. Saya seorang Kristen namun dengan sebuah kesadaran baru karena selalu menempatkan diri sebagai orang yang ingin mengalami pencerahan baru dari Tuhan. Saya berada dalam titik kesadaran religius yang saya jalani sekarang ini, yaitu bentuk Kekristenan yang concern dengan pengkajian, penggalian tradisi berpikir dan tradisi ibadah yang berakar pada nilai-nilai Semitik-Yudaik sebagai akar Kekristenan.

MEMPERSIAPKAN KEDATANGAN KERAJAAN TUHAN

Posted by Teguh Hindarto


Wahyu 20:1-6 dan Wahyu 21:1-8



Apakah Hari Raya Pondok Daun itu?

Sukkot (Pondok Daun) adalah perayaan ketujuh dari tujuh hari raya yang ditetapkan YHWH di Sinai (Pesakh, ha Matsah, Sfirat ha Omer, Shavuot, Rosh ha Shanah, Yom Kippur, Sukkot). Sheva Moedim adalah nama untuk tujuh hari raya yang ditetapkan YHWH di Sinai (Im 23:1-44).

Perintah Melaksanakan Pondok Daun

Perintah untuk merayakan Sukkot dijelaskan dalam Imamat 23:34-44 sbb: "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi YHWH tujuh hari lamanya. Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada YHWH, dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada YHWH. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. Itulah hari-hari raya yang ditetapkan YHWH, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus untuk mempersembahkan korban api-apian kepada YHWH, yaitu korban bakaran dan korban sajian, korban sembelihan dan korban-korban curahan, setiap hari sebanyak yang ditetapkan untuk hari itu, belum termasuk hari-hari Sabat YHWH dan belum termasuk persembahan-persembahanmu atau segala korban nazarmu atau segala korban sukarelamu, yang kamu hendak persembahkan kepada YHWH. Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh. Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan YHWH, Tuhanmu, tujuh hari lamanya. Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya. Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun, supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah YHWH, Tuhanmu." Demikianlah Musa menyampaikan kepada orang Israel firman tentang hari-hari raya yang ditetapkan YHWH”

Karakteristik Perayaan Pondok Daun

Membaca perintah dalam Imamat 23:34-44 kita mendapatkan beberapa ciri dan karakter Perayaan Pondok Daun yaitu: (1) Pertemuan ibadah (2) Korban (3) Membangun pondok-pondok daun dan ranting (4) Pengumpulan buah-buahan (5) Tinggal dalam pondok-pondok (6) Sukacita dan nyanyi-nyanyian.

Barney Kasdan dalam bukunya berjudul God’s Appointed Times: A Practical Guide for Understanding and Celebrating the Biblical Holidays memberikan beberapa penjelasan mengenai Sukkot sehingga membantu bagi kita untuk menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Nama lain yang diberikan untuk Perayaan Sukkot adalah Zman Shimkhatenu (Waktu Sukacita), mengapa? Secara historis, Sukkot bagi orang Yahudi menunjuk dua hal yaitu pesta panen buah-buahan sebagaimana digambarkan dalam Imamat 23 dan yang kedua sebagai tanda peringatan bahwa YHWH berkemah bersama leluhur Yisrael di padang gurun selama empat puluh tahun. YHWH hadir di Kemah Suci (Mishkan) dan suku-suku Yisrael tinggal dalam kemah-kemah.

Rumah tangga-rumah tangga Yahudi tradisional biasanya merayakan Sukkot dengan membangun pondok kayu di depan rumah mereka. Kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang menarik bagi masing-masing keluarga khususnya anak-anak. Mereka bisa berpartisipasi dengan menghias pondok-pondok kayu tersebut dengan gambar, ayat-ayat firman, dll. Pondok kayu yang dibuatpun semi permanen dengan atap yang terbuat dari daun-daun atau ranting-ranting kering. Pada permulaan Sukkot yang jatuh pada Tgl 15 Tishri (dimulai Tgl 14 Tishri pukul 18.00) maka masing-masing keluarga akan membuka dengan makan bersama di rumah. Ada penyalaan lilin hari raya. Ada makan roti dan anggur. Ada pengucapan Kiddush yaitu birkat untuk anggur dan roti dan diiringi nyanyian hari raya[1].

BUKAN SEKEDAR NAMA YAHWEH

Posted by Teguh Hindarto


Panggilan Untuk Membarui Diri dan Mengikis Hasrat Fundamentalisme
 
Pendahuluan

Pengetahuan dan penyingkapan nama Yahweh di Indonesia sudah berusia kurang lebih 11 tahun sejak sekitar akhir 1990an. Semakin banyak pemimpin rohani, pendeta, jemaat yang menyadari bahwa nama Tuhan Pencipta langit dan bumi yang tertulis dalam Kitab TaNaKh atau yang lazim Kekristenan menyebutnya dengan Kitab Perjanjian Lama. 

Kebenaran tentang nama Yahweh tidak dapat disangkal lagi karena memang nama Yahweh tertulis sebanyak 6000-an kali dalam Kitab TaNaKh dan disalin dalam naskah Septuaginta dengan Kurios dan disalin dalam naskah Vulgata dengan Senior dan disalin dalam naskah berbahasa Inggris dengan Lord dan akhirnya disalin dalam bahasa Indonesia dengan Tuhan dengan huruf kapital semua (TUHAN) dalam terjemahan LAI.

Tulisan ini bukan hendak mengkaji apa dan bagaimana perihal nama Yahweh, karena kajian-kajian seperti telah sering kali saya ulas dalam banyak artikel dan buku serta blog pribadi saya.

Beberapa Kecenderungan Tidak Sehat

Yang hendak saya ulas kali ini adalah beberapa kecenderungan yang belum dapat hilang dari komunitas yang mengusung dan meyakini bahwa Yahweh adalah nama Tuhan dan bagaimana kita dapat meninggalkan berbagai kecenderungan yang tidak sehat itu agar menjadi sebuah komunitas yang berpengaruh di negeri ini. 

Beberapa kecenderungan itu al., Pertama, stagnasi materi. Apa yang dimaksudkan dengan stagnasi materi? Tidak adanya perkembangan pembahasan dan wawasan. Masih saja ada komunitas dan kelompok yang menulis dan menyampaikan hal yang sama yang sudah disampaikan sejak tahun 1990-an akhir yaitu membenturkan persoalan nama Allah dan Yahweh.

Saya sering memperhatikan dalam percakapan di dunia maya seperti Face Book atau forum-forum diskusi Kristen dimana persoalan nama Yahweh masih saja menjadi isu yang terus menerus diulang dan digemakan dengan cara yang itu-itu saja.

Bagi saya, cara-cara demikian adalah bentuk dari stagnasi materi alias kebekuan dan kebuntuan materi. Dengan mengulang-ulang isu yang sama kepada gereja-gereja dan kekristenan di Indonesia, cenderung menimbulkan kebosanan. Seolah-olah tidak ada pembicaraan lain selain persoalan nama Allah dan Yahweh. Saya ibaratkan kondisi ini seperti seorang bayi yang hanya mengetahui ucapan, “papa minum” atau “mama bobok”. Apa jadinya jika seorang bayi yang bertumbuh menjadi remaja dan kemudian dewasa namun hanya mampu mengucapkan kata-kata di atas? Demikianlah nasib komunitas dan pergerakan yang hanya memfokuskan pada persoalan nama Yahweh.

Mengapa saya katakan kondisi di atas dengan “stagnasi materi?” Karena sesungguhnya masih banyak yang harus dikaji dan didalami selain persoalan nama Yahweh dan Allah. Kalau saya ibaratkan nama Yahweh adalah pintu gerbang emas, kebanyakan orang berjingkrak-jingkrak dan menari-nari serta duduk-duduk di depan pintu gerbang emas itu. Setiap hari mereka selalu membicarakan keindahan pintu gerbang emas itu. Namun tidak ada satupun dari antara mereka yang membuka pintu gerbang emas yang sebenarnya berisikan istana yang berisikan aneka warna keindahan dan lika-liku jalan serta lorong yang harus dipecahkan untuk sampai ke singgasana. Demikianlah gambaran mereka yang terus menerus menyibukkan diri mereka dengan aktivitas persoalan nama Yahweh dan Allah.