Pergeseran Ideologi
Paska Perang Dingin dan Konsekwensinya
Tahun 1993, Samuel Huntington
dalam bukunya yang terkenal The Clash of
Civilizations and The Remaking of World Order dan telah diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia dengan judul, Benturan
Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia diterbitkan
oleh Qalam. Buku tersebut menuai kontroversi baik dari masyarakat intelektual
baik internal maupun eksternal. DR. Latthifah Ibrahim Khadhar menulis buku
untuk menjawab analisis Huntington dengan judul, Ketika Barat Memfitnah Islam diterbitkan oleh Gema Insani Press.
Dengan keras DR. Latthifah Ibrahim Khadhar menuding, “Berangkat dari keyakinan Barat tentang keniscayaan adanya perseteruan—dan
bahwa keberadaannya tak terwujud kecuali dengan perseteruan dan benturan dengan
musuhnya—maka Barat pun membuat-buat perseteruan dan menciptakan musuh serta
membesar-besarkannya. Mereka akan terus berusaha hingga saat kekalahan Islam
dan kemenangan Barat terjadi. Mereka menolak timbulnya tandingan dan memperkuat
perasaan tinggi hati dengan kekuatan dan kekejaman”[1].
Apa yang membuat para pemikir
politik dan sosial serta agamawan begitu kontroversial dengan opini Huntington?
Huntington membuat analisis bahwa paska runtuhnya Komunisme, Barat dan Islam
menjadi dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Konflik antara Barat dan
Islam dilandasi oleh adanya perbedaan konsepsi keagamaan dan kesamaan misi
keagamaan yaitu bersifat dakwah atau misionaris sehingga berpotensi menimbulkan
konflik masa depan[2].
Huntington percaya bahwa sifat interaksi Islam dan Kristen baik Ortodox maupun
Barat selama 400 tahun seringkali penuh ketegangan[3].
Lebih spesifik lagi, Huntington menyatakan: “Bagi
Barat, yang menjadi ‘ganjalan’ utama bukanlah fundamentalisme Islam tapi Islam
itu sendiri, sebuah peradaban yang masyarakatnya berbeda dengan kebudayaan
mereka yang diyakini memiliki keunggulan dan terobsesi dengan inferioritas
mereka. Bagi Islam, yang menjadi persoalan bukan CIA atau Departemen Pertahanan
A.S., tapi Barat, sebuah peradaban yang berbeda dimana masyarakatnya meyakini
universalitas serta keluhuran kebudayaan mereka. Jika mereka mengalami
kemunduran, terdapat kekuatan yang mengharuskan mereka menyebarkan kebudayaan
mereka di seluruh dunia. Itulah sebab-sebab yang memicu terjadinya konflik
antara Barat dan Islam”[4].







