RSS Feed

MENGAPA NAMA YHWH TIDAK TERTULIS DALAM KITAB PERJANJIAN BARU BERBAHASA YUNANI?

Posted by Teguh Hindarto



Tanggapan Makalah DR Bambang Noorsena, S.H., M.A.

“Tidak Ada Dasar Mempertahankan Nama YHWH
Karena Tidak Ditemukan Dalam Manuskrip Asli Perjanjian Baru”



Dalam makalah yang disampaikan oleh DR. Bambang Noorsena di atas, sebenarnya lebih ditujukkan kepada kelompok Saksi Yehuwa, karena isi pemaparan lebih bersifat pernyataan Saksi Yehuwa yang ditanggapi khususnya terkait dengan penyematan dan penggunaan nama YHWH (Tetragrammaton – Empat Huruf) dalam Kitab Perjanjian Baru. Namun dikarenakan isi argumentasi dan sanggahannya berkaitan dengan prinsip-prinsip yang diyakini oleh kelompok Sacred Name dan kelompok Messianic Judaism serta Mazhab Yudeo Kristen di Indonesia – yaitu perlunya memulihkan nama Tuhan YHWH dalam Kitab TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru, maka kajian tersebut perlu mendapatkan perhatian serius.

Dalam makalahnya, DR. Bambang mengatakan, “Apakah daarnya mengembalikan nama YHWH tersebut? Sebab sekitar 15.000 manuskrip PB (Papyrus, Codex dan Lectiionaries) semua menerjemahkan YHWH menjadi Kurios (Tuhan)? Diantara naskah-naskah tersebut, beberapa manuskrip Injil Yohanes yang berasal dari tahun 125 M (P66, Papyrus Bodmer) yang hanya berjarak 35 tahun dari Rasul Yohanes yang meningal di Efesus tahun 90 M. Bahkan di antara surat-surat Paulus ada papyrus yang berasal dari tahun 85 M (P46), yang berjarak hanya 25 tahun dari kematian syahid Rasul di Roma tahun 67 M. Semua naskah kuno PB tersebut yang mengutip Perjanjian Lama tidak ada yang mempertahankan nama YHWH, semua menerjemahkannya menjadi Kurios (Tuhan). Ada yang menduga-duga bahwa naskah-naskah asli tertua PB dahulu memuat nama YHWH, tetapi kemudian dihilangkan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Klaim itu tidak benar. Sampai saat ini fragmen-fragmen PB tertua yang tertulis dalam papyrus juga menerjemahkan YHWH menjadi Kurios (Tuhan). Manuskrip-manuskrip papyrus tertua itu antara lain:

“BACK TO HEBRAIC ROOT” BUKAN “BACK TO JUDAISM”:

Posted by Teguh Hindarto

Peringatan dan Pembenahan
Terhadap Komunitas Back to Hebraic Root/Mesianik di Indonesia

Akhir-akhir ini terjadi sebuah kecenderungan konversi (kepindahan agama) dari komunitas Back to Hebraic Root (kembali ke akar Ibrani) dan Mesianik di Indonesia berpindah ke Yudaisme, khususnya di beberapa wilayah seputar Jakarta dan juga beberapa terjadi di Papua. Dalam tempo yang tidak terlalu lama, orang-orang yang pernah menghubungi saya baik per telepon ataupun media sosial serta tatap muka dan berbunga-bunga ingin menjadi murid dan belajar perihal apa dan bagaimana itu akar Ibrani Iman Kristen, tiba-tiba kedapatan sudah putus kontak dan ada yang tetap menjalin kontak lalu membuat berbagai pernyataan di media sosial Facebook yang mengutip pendapat-pendapat Ortodox Yudaisme dan menolak kemesiasan Yesus.

Melalui kehadiran seorang rabi dari Ortodox Yudaisme (yang menolak kemesiasan Yesus) yang gencar melakukan sejumlah seminar dan komunitas-komunitas kecil, kelompok-kelompok ini mulai percaya diri menegaskan eksistensi dirinya. Dalam sejumlah foto yang diunggah di beberapa media sosial kelompok-kelompok tersebut dapat terlihat sejumlah wajah yang setahu saya pernah aktif di komunitas Back to Hebraic Root (kembali ke akar Ibrani) dan Mesianik. 

Dari sejumlah penelusuran dan percakapan tidak langsung (per telepon atau melalui media sosial), ada sejumlah motovasi yang berbeda mengenai fenomena konversi ke Yudaisme dari kelompok-kelompok Mesianik al., ingin mengikuti jejak Yesus yang memelihara Torah, merasa telah menjadi korban ajaran pengajar-pengajar Mesianik, ada sejumlah kekacauan dalam Kitab Perjanjian Baru, adanya manipulasi ajaran Bapa Gereja terhadap Yudaisme dll.

Dari sejumlah percakapan tersebut saya mendapat sejumlah gambaran sbb: (1) Mereka yang melakukan konversi kepada Yudaisme, belum memahami apa dan bagaimana Mesianik Yudaisme bahkan akses pada literatur-literatur Mesianik Yudaisme pun begitu minim. (2) Mereka yang melakukan konversi kepada Yudaisme, keliru menafsirkan makna “kembali ke akar Ibrani” (back to Hebraic root) menjadi “kembali ke Yudaisme” (back to Judaism). (3) Mereka yang melakukan konversi kepada Yudaisme tidak bisa membedakan antara Mesianik Yudaisme dan Ortodox Yudaisme. Mirip seperti adegan dalam Film berjudul Alias yang diperankan oleh Jennifer Gardner yang kesasar masuk organisasi SD-6 yang dianggapnya menginduk kepada CIA. Padahal organisasi SD-6 adalah organisasi kontra CIA yang merupakan kepanjangan tangan dari Alliance of Twelve. (4) Mereka yang melakukan konversi ke Yudaisme kebanyakan belum pernah membaca dan berinteraksi langsung secara intelektual dengan literatur pemikir Messianic Judaism. Seberapa banyak dari mereka yang melakukan konversi telah membaca buku-buku sbb: God,Torah,Messiah karya DR Louis Golberg, Jewish New Testament dan Jewish New Testament Commentary karya DR David Stern, Torah Rediscover karya Ariel Berkowitz dll?

Oleh karena alasan-alasan di atas maka melalui buletin ini saya akan menguraikan secara singkat apa dan bagaimana Mesianik Yudaisme lalu bagaimana respon Kekristenan terhadap kehadiran Mesianik Yudaisme dan yang terakhir saya akan mengutip resensi buku karya DR. David Stern, tokoh Mesianik Yudaisme agar kita memiliki pemahaman yang benar mengenai apa dan bagiaman Mesianik Yudaisme tersebut.

MEMBACA FENOMENA PENDATARAN DUNIA

Posted by Teguh Hindarto





RESENSI DAN NOTASI BUKU, 
"THE WORLD IS FLAT: SEJARAH RINGKAS ABAD 21"

Penulis:

Thomas L. Friedman

Penerbit:

Dian Rakyat

Tahun:

2009

Tebal:

673

Alfin Tofler, seorang Futurolog di tahun 1970 mengatakan, “Tingginya kecepatan perubahan dapat diacak pada banyak faktor. Pertambahan penduduk, urbanisasi, pergeseran proporsi usia ua dan muda – semua mempunyai peranan sendiri-sendiri. Namun kemajuan teknologi jelas merupakan simpul yang kritis dalam jaringan sebab musabab; bahkan boleh jadi simpul yang menggerakkan seluruh jaringan. Oleh karena itu, suatu strategi yang tangguh dalam perjuangan mencegah kejutan masa depan secara massal, menghendaki pengaturan kemajuan teknologi itu secara sadar” (Kejutan Masa Depan, 1992:382). Beberapa puluh tahun kemudian, di tahun 1990, John Naisbitt dan Patricia Aburdane menuliskan, “Ketika kita berpikir tentang Abad ke-21, kita berpikir tentang teknologi perjalanan angkasa, bioteknologi, robot. Tetapi wajah masa depan lebih kompleks daripada teknologi yang kita gunakan untuk membayangkannya”(Megatrend 2000: Sepuluh Arah Baru Untuk Tahun 1990-an, 1990:6). Kedua futurolog itu sepakat bahwa telah terjadi perubahan yang begitu cepat akibat revolusi teknologi. Tofler mengingatkan dampak fisik dan psikologis serta strategi tangguh untuk mengantisipasi kejutan masa depan (future shock) sementara Naisbitt menggambarkan kompleksitas masa depan khususnya tahun 2000 yang akan disongsong melalui pembacaan trend yang terjadi di tahun 1990-an.

Namun kejutan masa depan Alfin Tofler dan kompleksitas masa depan John Naisbit sudah tiba di sini di tahun 2000-an dan sedang kita alami bersama-sama. Buku karya jurnalis The New York Times bernama Thomas L. Friedman dengan judul The World is Flat (Dunia itu Datar) mendeskripsikan kompleksitas kehidupan masa kini yang masih menjadi masa depan bagi Tofler dan Naisbit yang sebagian besar dihasilkan dari ledakan teknologi informasi yang luar biasa serta bagaimana beradaptasi di tengah dunia yang semakin terkoneksi satu sama lain oleh kekuatan teknologi yang diistilahkan oleg Friedman “dunia sedang didatarkan” (hal 7).

Apa yang dimaksudkan dengan “dunia sedang didatarkan?” Friedman tidak memberikan definisi akademis mengenai istilah tersebut namun memberikan sejumlah contoh dari berbagai peristiwa fenomenal yang dia alami di berbagai belahan dunia yang dia kunjungi dimana teknologi informasi telah mengubah pemetaan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik tiap-tiap negara sehingga dapat terkoneksi dengan begitu cepat secepat cahaya.

RAJA JAWA TANPA MAHKOTA (DE ONGEKROONDE VAN JAVA)

Posted by Teguh Hindarto



Ulasan Film dan Catatan Kritis Film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”

Di era teknologi informasi dan kebangkitan film Indonesia, salah satu metode untuk menarik minat siswa didik dalam menyukai dan menghargai sejarah bangsanya adalah dengan menonton film-film bertemakan sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang turut membentuk warna dan dasar negara republik yang beragam etnis dan budaya serta agama ini. Dengan menonton film, kebekuan dan kemonotonan bentuk-bentuk komunikasi dalam menyampaikan mata pelajaran sejarah dapat diminimalisir. Menonton film sejarah merupakan dinamisasi metodologi penyampaian materi sejarah. Sayangnya, belum banyak guru-guru yang memanfaatkan hadirnya film-film bertemakan sejarah untuk ditonton bersama dan didiskusikan keesokkan harinya usai film tersebut dinikmati.

Film karya sutradara Garin Nugroho dengan judul, Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) adalah salah satu film yang layak untuk ditonton oleh banyak kalangan, khususnya para pendidik, guru sejarah dan siswa didik, setelah sebelumnya sineas-sineas muda Indonesia melahirkan film-film bertemakan tokoh sejarah seperti,Gie (Riri Reza, 2005) dan Soekarno: Indonesia Merdeka (Hanung Bramantyo, 2014)[1]. Garin Nugroho pernah menggarap tema film yang sama (sejarah) sebelumnya melalui tokoh Katolik nasionalis bernama Soegija (2005).

Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, berlangsung selama tiga jam yang cukup menyita perhatian. Kisah dimulai dalam beberapa fase standar dimulai dari fase kelahiran Tjokroaminoto (Reza Rahardian) pada tanggal 16 Agustus 1883 yang merupakan keturunan Wedana Kleco bernama Raden Mas Tjokro Amiseno, di Madiun. Sebagaimana kebiasan tokoh-tokoh historis yang melegenda, kelahirannya dihubungkan dengan meletusnya Gunung Krakatau – seagaimana kelahiran Soekarno dihubungkan dengan meletusnya Gunung Kelud. Lalu fase berikutnya bergerak saat Tjokroaminoto telah bertumbuh dewasa dan memiliki seorang istri bernama Soeharsikin (Puteri Ayunda) dan memulai karir pertamanya sebagai pangreh pradja di kesatuan pegawai administratif bumiputera di Ngawi namun pada tahun 1907, ia keluar dari pekerjaannya sehingga menimbulkan kemurkaan sang ayah mertua. Kisah bergeser ke tahun 1912 dimana Tjokroaminoto mendirikan organisasi baru bernama Sarekat Islam (SI) didirikan untuk menggantikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Samanhudi pada tahun 1905. Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Semenjak Tjokroaminoto mendirikan Sarikat Islam, kegiatan organisasi bukan hanya menitik beratkan persoalan ekonomi melainkan sosial dan politik. Fase berikutnya dari aktifitas Tjokroaminoto yang dipotret dalam film ini adalah kesuksesan Cokroaminoto memimpin pergerakkan Sarikat Islam melalui vergadering SI pertama pada 13 Januari 1913 di Surabaya. dan Kongres resmi perdana SI pada 25 Maret 1913 di Surakarta di mana Tjokroaminoto terpilih menjadi wakil ketua CSI mendampingi Hadji Samanhoedi. Terekam dalam adegan film aktifitas jurnalisme SI melalui penerbitan koran Oetoesan Hindia bersama Hasan Ali Surati (Alex Komang), seorang keturunan India, yang memegang keuangan surat kabar tersebut. Selain akifitas jurnalisme, berbagai aktifitas pendirian cabang-cabang SI di berbagai daerah serta pidato-pidato politik Cokroaminoto yang memukau ditampilkan serta tindakan keberpihakkannya terhadap kaum kromo (rakyat jelata). Aktifitas dan sepak terjang Tjokroaminoto menimbulkan sejumlah gelar baik yang ditampilkan dalam film ini (Jang Oetama) maupun yang tidak ditampilkan dalam film ini (Singa Podium dan Raja Jawa Tanpa Mahkota).

PENGARUH PEMIKIRAN KARL MARX DAN IDEOLOGI SOSIALISME TERHADAP PARA PENDIRI BANGSA DAN PARTAI-PARTAI POLITIK

Posted by Teguh Hindarto



Hantu komunis yang dihembuskan sejak rezim Orde Baru berdiri, bukan hanya menciptakan paranoid di masyarakat namun menciptakan sebuah stigmatisasi yang menjauhkan pemahaman masyarakat untuk mengetahui apa dan bagaimana ideologi komunis di Indonesia secara obyektif. Pemahaman obyektif yang dimaksudkan adalah bukan sekedar melekatkan istilah bahaya laten komunisme yang telah melakukan penculikan dan pembantaian tujuh jenderal pada 30 September 1965 serta berniat melakukan makar terhadap negara namun menelaah akar kemunculan ideologi komunisme, perkembangannya di Indonesia, tokoh dan pemikiran komunisme, peran historis di era revolusi dan paska kemerdekaan Indonesia hingga pembubaran ideologi komunisme di Indonesia oleh rezim Orde Baru serta dampak pelarangan ideologi komunis dan partai komunis yang berupa konflik sosial horisontal yang berwujud pembunuhan massal atas nama ideologi.

Istilah komunisme hanyalah salah satu cabang pemikiran radikal dari sosialisme. Untuk memahami istilah komunisme sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa dan bagaimana sosialisme itu. Berbicara mengenai sosialisme dan pemikiran Karl Marx, fakta historis mengatakan bahwa para sudah sejak masa revolusi fisik dan paska kemerdekaan, ideologi sosialisme dan pemikiran Karl Marx diakrabi oleh para pendiri bangsa (founding fathers) dan parta-partai nasionalis maupun agama. Jeanne S. Mintz mengatakan, “Revolusi Indonesia diperjuangkan di atas dasar prinsip-prinsip nasionalise yang amat diwarnai sosialisme. Baik pemimpin maupun organisasi-organisasi sosial politik besar di masa revolusi pada umumnya adalah kelompok sayap kiri”[1]. Hal senada dikatakan Peter Kasenda, “Sebenarnya sejumlah pemimpin Indonesia telah bersentuhan dengan sebuah partai sosialis yang berkembang di negeri kincir angin”[2]. Sebelum lebih jauh menelisik pengaruh ideologi sosialisme dan pemikiran Karl Marx terhadap para pendiri bangsa (founding fathers) dan parta-partai nasionalis maupun agama, kita akan menelaah secara singkat mengenai definisi dan konsepsi sosialisme.

Encylopaedia Britannica mendefinisikan sosialisme sbb: “Social and economic doctrine that calls for public rather than private ownership or control of property and natural resources. According to the socialist view, individuals do not live or work in isolation but live in cooperation with one another. Furthermore, everything that people produce is in some sense a social product, and everyone who contributes to the production of a good is entitled to a share in it. Society as a whole, therefore, should own or at least control property for the benefit of all its members”[3] (Ajaran sosial dan ekonomi yang menyerukan kepemilikan atau kontrol properti dan sumber daya alam oleh publik tinimbang pribadi. Menurut pandangan kaum sosialis, individu tidak tinggal atau bekerja di ruang tertutup namun hidup dalam kerjasama antara satu sama lain. Selain itu, segala sesuatu yang dihasilkan masyarakat memiliki arti sebagai produk sosial dan semua orang yang memberikan kontribusi untuk produksi barang tersebut berhak untuk bagian di dalamnya. Oleh karenanya, masyarakat secara keseluruhan, harus memiliki atau setidaknya mengendalikan properti untuk kepentingan semua anggotanya). Melengkapi definisi di atas, kita tambahkan penjelasan Joseph A. Schumpeter sbb: “Melalui masyarakat sosialis, kami akan membentuk pola kelembagaan yang mengatur kontrol atas sarana-sarana produksi dan produksi itu sendiri adalah tetap dengan otoritas pusat – atau, sebagaimana yang kami katakan sebagai masalah prinsip, urusan ekonomi masyarakat adalah milik publik dan bukan pada ranah swasta. Sosialisme disebut sebagai cendekiawan Proteus (dalam mitologi Yunani satu dewa profetik yang melayani Poseidon, mampu mengubah bentuknya jika diinginkan)”[4]. Dari kedua definisi di atas kita dapat mendeskripsikan bahwa sosialisme adalah sistem ekonomi dimana kontrol terhadap gerak perekonomian ada di tangan publik (negara), masyarakat dibandingkan individu (pengusaha, pemilik modal). Bahkan Schumpeter menyebutnya sebagai cendekiawan Proteus yang melayani Poseidon yang bermakna bahwa sosialisme bersifat melayani masyarakat.

YESUS SANG FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA:

Posted by Teguh Hindarto


Pemahaman Mengenai Hakikat Yesus 
Dan Implikasi Teologis dan Sosiologisnya

Tiap-tiap jatuh bulan Desember, bagi dunia Kristen pada umumnya, baik di Eropa, Amerika dan Asia khususnya di Indonesia toko-toko Kristen dan umat Kristen mulai sibuk menyiapkan Christmass atau Natal yaitu kelahiran Yesus Sang Mesias. Sekalipun saya tidak mengakui kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember[1] namun saya tetap memberikan apresiasi dan ruang bagi semua denominasi Kristen untuk merayakan apa yang mereka yakini dengan sedikit memberikan kritik dan masukkan secara terbatas[2]. Terlepas dari semua perbedaan tersebut, namun masing-masing pihak yang berbeda tentu mengimani teks yang sama yang menjadi sumber perayaan selain Matius 1:21 tentunya Yohanes 1:14.

Saya akan mengupas aspek lain dari Yohanes 1:14 perihal Yesus sebagai perwujudan Sang Firman yang menjadi manusia dan segala implikasinya baik di ranah teologis maupun ranah sosiologis.

Firman Yang Menjadi Manusia: Implikasi Teologis

Yohanes 1: 1 dibuka dengan kalimat, εν αρχη ην ο λογος (en arkhe en ho Logos – Greek New Testament)  Apa arti pernyataan tersebut? Istilah Logos dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yohanes, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo[3].

Heraklitus (500 SM) mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal. Anaxagoras (400 SM) beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia. Philo (20 SM-20 Ms) seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal Tuhan yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia. 

BONEKA ANNABELLE DAN KEWASPADAAN TERHADAP AKTIFITAS ROH JAHAT

Posted by Teguh Hindarto

 
Resensi Film “Annabelle” dan Tinjauan Kritis


Awal Oktober ini, dunia film diramaikan oleh tayangan film luar negeri bertemakan “something horrible” (sesuatu yang menakutkan) dengan judul, “Annabelle”. Film yang disutradarai oleh James Wan dan diproduksi oleh direktur utamanya John R. Leonetti merupakan “spin off” (penggalan atau sub seri) dari film horor sebelumnya yang meraih sukses yaitu “The Conjuring” (2013).

Jika penikmat film telah melihat film “The Conjuring” maka ada adegan awal dimana tokoh yang akan terlibat dalam penanganan kasus demonik yaitu Edward "Ed" Warren Miney  dan Lorraine Rita Warren yang berprofesi sebagai demonologist dan investigator gejala-gejala paranormal sedang mewawancarai sekumpulan muda-mudi yang dihantui oleh kehadiran boneka “Annabelle” di apartemen mereka. Nah, film “Annabelle” merupakan prekuel atau bagian dari film sebelumnya yang kemudian dikembangkan menjadi kisah utama film yang saat ini beredar.

Bagi saya sebagai penikmat film bertemakan petualangan, sains, sejarah, detektif serta horor, mengulas film-film bertemakan “something horrible” khususnya film-film Barat sangat mengasyikkan tinimbang mengulas film-film horor lokal. Selain dikarenakan faktor efek visual yang sempurna juga dikarenakan alur penceritaan yang tidak mudah ditebak serta melibatkan berbagai kegiatan investigasi latar belakang berbagai peristiwa seram yang muncul.

Di Indonesia dimana masyarakatnya masih memiliki kecenderungan “mystic society”[1], film-film bertemakan hororisme, gaib, misteri tentu saja akan dengan mudah dan cepat diminati para penontonnya. Dan film-film sejenis ini akan menginspirasi sejumlah film-film horor lokal dengan mengombinasikan dari kisah-kisah “urban legend” setempat.

Memberikan ulasan sejumlah film bertemakan aktifitas roh-roh jahat khususnya film Barat, bukan semata-mata ketertarikan namun sekaligus keterlibatan saya sebagai praktisi demonologi sejak akhir-akhir masa kuliah hingga sekarang ini ditengah-tengah aktifitas pekerjaan keagamaan. Film “Annabelle” yang diangkat dari kisah nyata boneka yang dirasuki kekuatan jahat pada tahun 1970-an mengingatkan saya untuk pertama kalinya menangani sebuah kasus pada tahun 90-an di Yogyakarta, menjelang akhir kuliah saya. Bedanya yang saya hadapi bersama rekan-rekan saya bukan boneka melainkan seorang anak yang berasal dari Nias yang diangkat menjadi bagian anggota keluarga. Anak yang tidak jelas latar belakangnya ini kerap membuat masalah-masalah yang bersifat demonik al., menghilangkan tas, uang namun beberapa hari kemudian tas dan uang akan ditemukan di tempat terpisah. Pada kesempatan lainnya dia akan meneror saya dengan mimpi buruk seolah-olah dia hendak mencekik saya padahal secara fisik dia tidur di lantai persis di bawah kaki saya. Pernah dia menghilang berhari-hari dan tiba-tiba ditemukan di ruang antara genting dan atap plafon rumah dengan tangan seperti simbol “baphomet”. Puncaknya saat kami mendoakan dan menanggai kasus anak tersebut dia menghilang entah kemana. Sampai hari ini saya tidak pernah mendengar atau bertemu dengan anak tersebut.

Baiklah, kita akan memulai melakukan sinopsis dan mengulas film dan kisah nyata dibalik film tersebut.

Sinopsis

Film “Annabelle” dimulai dengan adegan yang sama dengan pembuka dari film “The Conjuring” yang berlatar belakang tahun 1970-an, di mana dua wanita muda dan seorang pemuda memberitahu Ed dan Lorraine Warren tentang pengalaman mereka mengenai boneka bernama Annabelle yang mereka percayai berhantu. 

Pada tahun 1969, John (Ward Horton) dan Mia Gordon (Annabelle Wallis) sedang hamil anak pertama mereka. John memberinya boneka yang Mia telah berusaha untuk menemukannya. Mia menyukainya dan meletakkannya dengan seluruh koleksi boneka yang ada padanya. Pada malam hari, Mia mendengar pembunuhan yang terjadi pada tetangga sebelah rumah mereka yaitu keluarga Higgins dan diserang oleh seorang wanita yang memegang boneka dan teman laki-lakinya. John dan polisi tiba dan membunuh lelaki yang hendak menyerang Mia sementara wanita pembunuh yang masuk ke rumah John dan Mia membunuh dirinya sendiri. Perempuan yang bunuh diri tersebut meninggalkan simbol berdarah yang tergambar di dinding dan setetes darahnya jatuh pada wajah boneka dalam pelukannya. Sebuah laporan berita keesokkan harinya menunjukkan bahwa para penyerang adalah Annabelle Higgins dan pacarnya. Mereka telah membunuh orang tuanya dan dikatakan telah menjadi bagian dari sebuah sekte pemuja Setan.